003 ok

Penulis berpose di depan Masjid Agung Nurul Bahar, Tidore Selatan. Masjid ini pernah menjadi saksi bisu konflik kemanusiaan di Maluku Utara. Foto diambil pada tahun 2000, ketika penulis bertugas meliput langsung ke lapangan konflik kemanusiaan tersebut. (Foto: Gapey Sandy)

Saya tertegun melihat lagi gambar-gambar yang dicetak di atas kertas foto itu. Semuanya foto yang dijepret pada tahun 2000. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tidore untuk kali pertama. Lawatan ke pulau rempah-rempah ini bukan sembarang kunjungan apalagi perjalanan wisata. Bukan. Ketika itu, saya menjadi salah seorang jurnalis yang diterjunkan langsung ke lokasi konflik kemanusiaan dimana ketika itu terjadi pertikaian horizontal di Maluku Utara. Oh ya, ketika datang di Tidore, saya melakukan penerbangan udara dari Jakarta menuju Manado (Sulawesi Utara) lalu menumpang pesawat kecil ke Ternate. Dari Ternate, barulah menumpang perahu bermotor ke Halmahera Utara juga ke Tidore.

Saya masih menjadi penyiar sekaligus jurnalis di Radio Republik Indonesia (RRI) Programa 2 Jakarta, ketika peristiwa kelam itu terjadi pada 17 tahun silam. Diantara foto yang menjadi saksi mata bersejarah itu adalah ketika saya tengah berdiri dengan latarbelakang Masjid Agung Nurul Bahar di Kelurahan Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.

Masjid Nurul Bahar ketika itu menjadi saksi atas hilir-mudiknya sekelompok warga yang terlibat konflik horizontal teramat memprihatinkan. Secara umum, saya menggambarkan Tidore cenderung sepi dan mencekam. Jejak-jejak pertikaian dan dampak kerusakan yang ditimbulkannya cukup terlihat di sejumlah titik. Tetapi boleh dibilang, tingkat destruktifnya tidak sehebat seperti yang sempat saya saksikan juga di Ternate dan Halmahera Utara.

005 ok

Sekelompok massa nampak melintas menuju pelabuhan terdekat, dekat Masjid Nurul Bahar, Tidore Selatan. Foto diambil pada tahun 2000, ketika penulis meliput konflik kemanusiaan di Maluku Utara. (Foto: Gapey Sandy)

Di Ternate misalnya, kerusakan cukup merata. Mulai dari bangunan Keraton Ternate, gedung kantor partai politik, sejumlah tempat ibadah, bangunan untuk pendidikan berbasis keagamaan, juga rumah-rumah penduduk. Pertikaian horizontal yang mencuatkan istilah ‘Acan dan Obet’ ini memang luar biasa dampaknya. Pada banyak lokasi, wilayahnya nyaris seolah tak berpenghuni. Rumah-rumah dibiarkan kosong begitu saja, entah kemana pemiliknya lari mengungsi dan menyelamatkan diri. Sedangkan rumah-rumah dan bangunan yang hancur porak-poranda dengan keadaan separuhnya bekas terbakar, seringkali pula dijumpai di situ tulisan-tulisan bernada amuk massa yang kental.

Sebagai jurnalis yang berasal dari Pulau Jawa, tentu saja saya sedikit memiliki perbedaan tampilan fisik dengan masyarakat setempat yang berkaitan erat dengan faktor keamanan. Makanya tak aneh pada beberapa kali kesempatan, saya banyak menerima nasehat dari sejumlah pemuka warga di sana.

Nasehat-nasehat itu misalnya berbunyi, “Jangan pergi sendirian untuk melakukan liputan. Harap meminta pendampingan rekan”. Hal ini dikarenakan mereka khawatir saya dianggap sebagai salah satu anggota kelompok dari seteru yang tengah dihadapi. Maklum, kedua mata saya agak sedikit lebih sipit, dan kulit lebih kuning langsat. Makanya, tak aneh kalau sempat ada juga yang menasehati agar saya mengenakan tutup kepala bila bepergian. “Kenakan peci atau tutup kepala kalau sedang menelusuri perjalanan”. Begitu antara lain pesan para tetua di sana.

007 ok

Menggunakan perahu dengan motor tempel ini saya dari Ternate sempat menjelajah hingga ke Halmahera Utara dan Tidore. Foto diambil pada tahun 2000. (Foto: Gapey Sandy)

Masih ada lagi. Ketika saya berkesempatan dapat melakukan perjalanan bersama salah satu kelompok di sana, ada diantaranya yang bertanya secara serius. “Datang ke sini dan berada bersama kami, lalu senjata apakah yang dibawa?” Sungguh, saya cukup ngenes mendengar pertanyaan ini. Maklum, sebagai jurnalis yang sekalipun berada di wilayah konflik, bukan senjata tajam apalagi senjata otomatis yang dibawa, melainkan hanya sekadar alat peliputan, kamera, pulpen, buku, dan juga alat rekam suara saja. Selebihnya, berpasrah pada Ilahi dengan tetap melakukan pekerjaan peliputan dengan semangat Jurnalisme Damai.

Sesungguhnya saya punya foto-foto yang menampakkan kerusakan dari sisa-sisa bangunan runtuh akibat amuk massa beruansa SARA. Tetapi, dalam kondisi aman dan damai yang sudah tercipta saat ini, tak elok rasanya kalau saya unggah foto-foto tersebut. Malah membuka luka lama menyakitkan yang tak patut diungkit kembali, bukan? Pertikaian kemanusiaan di Maluku dan Maluku Utara yang terjadi pada rentang waktu antara 1999 – 2002 ini sejatinya menjadi pembelajaran berharga untuk semakin merekatkan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemerintah Pusat sendiri mengupayakan penyelesaian konflik kemanusiaan dengan begitu serius. Meski eskalasi pertikaian dari hari ke hari terus semakin membesar. Hingga akhirnya, pada Juni 2000, di seluruh wilayah Maluku dinyatakan sebagai Darurat Sipil. Ribuan personil tentara dan kepolisian pun diterjunkan untuk menghentikan konflik.

008 ok

Tahun 2000, ketika penulis melakukan tugas jurnalistik meliput konflik kemanusiaan. Foto di pos pembantu syahbandar Sidangoli, Halmahera Utara. (Foto: Gapey Sandy)

Pada Februari 2002, melalui mediasi tak kenal lelah yang disponsori Menko Kesra HM Jusuf Kalla dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, semua pihak bertikai akhirnya sepakat melakukan dialog agama dan kemanusiaan bertajuk “Forum Baku Bae” yang kemudian berujung pada kesepakatan perjanjian damai Malino II.

Perjanjian damai atau islah ini memunculkan sejumlah sebutan yang sanggup menebalkan semangat persatuan dan kesatuan, seperti pendekatan adat istiadat setempat yakni Pella Gandong, juga istilah “Damai Itu Indah”, “Semua Katong Basudara” dan “Ale Rasa Beta Rasa”.

Sementara itu, menurut pengamat politik Tamrin Amal Tomagola, kalau mengenai konflik kemanusiaan yang terjadi di Maluku Utara, cenderung menurun secara cepat eskalasinya sebagai dampak positif dari lembaga adat yang masih kuat merekatkan masyarakat. Termasuk di Tidore, tentunya.

Tidore saat ini

Tidore saat ini, bukan Tidore yang bermuram dan tercekam ketika 17 tahun silam saya kunjungi. Saya yakin dan percaya, Kota Tidore Kepulauan yang berdasarkan data BPS (2015) terbagi menjadi delapan kecamatan, dan punya luas lahan 1.550,37 km2 serta penduduk berjumlah 96.979 jiwa, pasti kini semakin mempesona dengan segala daya tarik kepulauannya nan eksotis.

visit.tidoreisland 1

Indahnya Kota Tidore Kepulauan. (Foto: visit.tidoreisland)

Dari situs resmi pemerintah kota setempat, disebutkan ada banyak sekali obyek wisata yang dapat disusuri bila kita berkunjung ke Tidore. Potensi pariwisata ini mulai dari wisata pantai dan air terjun, seperti misalnya Pantai Pulau Maitara sesuai namanya pasti berlokasi di Pulau Maitara (berada diantara Pulau Tidore dan Pulau Ternate). Jarak tempuh dari Pelabuhan Rum, Tidore hanya 5 menit dengan menumpang perahu bermotor. Lantaran pulaunya yang memang menjanjikan pemandangan indah, membuatnya menjadi ikon untuk uang kertas Seribu Rupiah. Pemandangan seperti yang ada di uang kertas ini bisa dilihat kalau kita berada di Desa Fitu. Sebagian besar lingkar kawasan Pulau Maitara didominasi pantai berpasir putih, dan perairannya memiliki kekayaan alam bawah laut lengkap dengan jenis-jenis ikan beranekaragam serta bebatuan karang alami.

Pantai Ake Sahu (Air Panas) terletak di Kecamatan Tidore Timur (kurang lebih 15 menit dari pusat kota). Pantai ini punya sumber mata air panas yang mengalir dari celah bebatuan. Lokasinya yang indah juga sangat tepat untuk rekreasi air, dayung dan renang.

Pantai Cobo yang jaraknya sekitar 25 km dari pusat kota. Pantai ini punya panorama hamparan pasir yang sangat luas, cocok untuk rekreasi, berenang dan ski air.

Pantai Rum ada di Kecamatan Tidore Utara (19 km dari pusat kota). Memiliki karakteristik air laut yang bersih, bebatuan kecil, berpasir halus dengan luas keselurhan 8 hektar. Untuk mengunjungi Wisata Pantai Rum bisa menggunakan sarana transportasi umum yang tersedia di terminal Pelabuhan Rum dengan jarak tempuh hanya 5 menit saja.

visit.tidoreisland 2

Eksotisme Tidore menjanjikan keunggulan pariwisata yang tiada tanding. (Foto: visit.tidoreisland)

Air Terjun Luku Celeng dengan sumber mata air di dataran tinggi Kelurahan Kalaodi (jarak tempuh sekitar 1,5 km jalan kaki dari kantor kelurahan).

Air Terjun Goheba ada di Kelurahan Kalaodi Kecamatan Tidore Timur. Obyek wisata ini merupakan sebuah aliran sungai yang dikelilingi bebatuan indah dengan pepohonan menghijau.

Sedangkan Air Terjun Sigela berada di Desa Sigela Kecamatan Oba. Wisatawan yang hendak ke sini harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam dari Pelabuhan Sofifi. Dikelilingi pepohonan rimbun dan air yang mengalir ke beberapa sungai di Desa Sigela. Musti dicatat, lokasi air terjun ini berjarak sekitar 1 km dari jalan raya.

Bisa juga wisata ke Pulau Filonga atau Failonga, di timur laut Tidore. Menurut kabarpulau.com, pulau ini cuma punya luas 1,1 km2. Tapi, eksotismenya luar biasa sekali. Pantai pasir putih yang halus dan terlindung bebatuan karang raksasa alami dari deburan ombak. Cocok untuk panjat tebing, mandi sinar matahari, memancing, snorkeling, diving, dan kalau beruntung dapat bertemu blacktip shark, hiu dengan ujung sirip berwarna hitam. Adanya ikan hiu menandakan rantai makanan masih terjaga dan wajib terus dilestarikan.

visit.tidoreisland 3

Pulau Failonga yang menjanjikan kesempurnaan wisata, mulai dari memanjat tebing karang, memancing, pasir putih nan halus, snorkeling, diving hingga mandi sinar matahari dan memasak ikan laut segar bersama nelayan. (Foto: visit.tidoreisland)

Wisata Sejarah

Selain wisata pantai dan air terjun, Tidore juga menyimpan banyak kekayaan historis yang dapat disaksikan wisatawan melalui obyek-obyek wisata sejarah. Diantaranya, Kedaton Kesultanan Tidore yang merupakan tempat tinggal para sultan beserta keluarganya. Letaknya ada di Kelurahan Soasio Kecamatan Tidore. Kedaton-kedaton yang dibangun umumnya terbuat dari bambu dan beratap ilalang yang mudah hancur. Kedaton yang bisa bertahan cukup lama adalah Kedaton Kie yang dihancurkan pada tahun 1912 akibat konflik internal keluarga istana, tapi kini sudah direstorasi dan berdiri megah.

Masjid Kesultanan ada di Kelurahan Soasio Kecamatan Tidore. Didirikan pada 1700 M dan sudah mengalami beberapa kali renovasi.

Museum Sonyinge Malige merupakan museum yang didalamnya tersimpan aneka koleksi peninggalan Kesultanan Tidore, diantaranya Al Qur’an tulisan tangan Qalem Mansur pada 1657.

Monumen Peringatan Kedatangan Bangsa Spanyol. Adalah Juan Sebastian de Elcano beserta awak kapal Trinidad dan Viktoria yang merapat di Tidore pada 8 November 1521. Monumen dibuat oleh Kedutaan Besar Spanyol pada 30 Maret 1993 di Kelurahan Rum.

Dermaga Kesultanan pada zaman kejayaan Kesultanan Tidore, dermaga ini diperuntukan untuk armada kesultanan. Dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Syaifuddin (Jou Kota) setelah perpindahan ibukota kesultanan dari Toloa ke Limau Timore Soasio. Dermaga ini juga merupakan tempat untuk menerima tamu kesultanan dan digunakan sultan jika bepergian dengan Perahu Kora-Kora.

visit.tidoreisland 4

Salah satu obyek wisata sejarah, benteng bekas peninggalan penjajah. (Foto: Gapey Sandy)

Benteng Toreh terletak di Kelurahan Soasio Kecamatan Tidore. Dibangun oleh Portugis yang di ketinggian sekitar 50 meter dari permukaan laut, terbuat dari batu gunung yang direkat dengan campuran kapur dan pasir. Letaknya 50 meter dari Keraton Kesultanan Tidore.

Benteng Tahula adalah benteng peninggalan Bangsa Portugis. Terdapat pada Kelurahan Soasio dan berada jarak sekitar 100 meter dari Keraton Kesultanan Tidore. Benteng ini berada pada ketinggian 50 meter diatas permukaan laut.

Budaya Tidore

Budaya Tidore juga layak mendapat prioritas untuk disaksikan manakala wisatawan datang berkunjung. Sebut saja misalnya Lufu Kie yang merupakan perjalanan laut ritual adat “Hongi Taumoy se Malofo” Kesultanan Tidore. Ini menjadi bentuk rasa syukur Sri Sultan Se Bobato atas terciptanya keamanan, kedamaian, ketenteraman kehidupan warga masyarakat dengan cara mengelilingi Pulau Tidore sembari diikuti ritual ziarah ke makam para Waliyullah.

Tari Soya-Soya adalah tarian yang menceritakan kisah peperangan yang dilakoni para pria. Selalu diiringi Tifa dan Gong. Biasanya dilakukan ketika Upacara Adat saat melepas dan menyambut pasukan yang pergi maupun kembali dari medan tempur.

Taji Besi atau Ratib. Ini adalah semacam pengajian yang berisi puja-puji kepada para Nabi, Rasul, dan Imam. Diiringi tetabuhan Rebana, sebagai bentuk doa kepada yang Maha Kuasa.

visit.tidoreisland 7

Kekayaan laut dan perikanan Tidore begitu potensial untuk dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. (Foto: visit.tidoreisland)

Salai Jin merupakan ritual prosesi pengobatan tradisional dengan perantara jin, dan intinya menjadi ungkapan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa atas izinnya guna membantu penyembuhan atas suatu penyakit. Instrumen musik pada ritual ini menggunakan Rebabu dan Tifa.

Paji Dama Nyili-nyili atau Obor Negeri-negeri. Ini merupakan simbol semangat sejarah perjuangan Sultan Nuku bersama pasukannya yang bertempur pada 12 April 1797. Paji Dama Nyili-nyili selalu menjadi bahagian dari acara peringatan Hari Ulang Tahun Tidore.

Ada lagi yang begitu unik lagi mencengangkan, yaitu atraksi Bambu Gila “Baramasuwen” yang merupakan atraksi budaya dengan menggunakan bambu sepanjang kira-kira 4 ruas, sabut kelapa, kemenyan dan bara api. Pada zaman dulu kala, atraksi seperti ini lazim digunakan untuk mengangkat material berat yang ketika ada proses pembangunan.

Negeri Bertabur Kearifan dan Tradisi Leluhur

Selain terkenal sebagai pulau rempah-rempah, Tidore juga disebut sebagai “Negeri Seribu Kearifan”. Adalah Sultan Tidore H Husain Sjah yang menyatakan hal tersebut, ketika membuka secara resmi lomba blog bertajuk “Tidore Untuk Indonesia” yang dilaksanakan oleh Ngofa Tidore Tour & Travel Team di Fola Barakati Food and Art, Cibubur, 12 Februari lalu. Lomba blog ini sengaja didedikasikan untuk memperingati Hari Jadi Tidore ke-909 pada tahun ini.

visit.tidoreisland 5

Sultan Tidore Husain Syah. (Foto: visit.tidoreisland)

“Tidore adalah Negeri Seribu Kearifan. Kearifan dan pengalaman panjang Tidore yang sukses mengelola kesultanan, sebagai sebuah negara berdaulat pada masa lalu, di tengah percaturan global yang dinamis dan kompleks juga tekanan kolonial Eropa, menjadikan Tidore mampu menjaga martabat dan eksistensinya. Sejatinya, hal ini dapat menjadi inspirasi bangsa Indonesia dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi,” ujar Yang Mulia Sultan Tidore.

Menurut Husain Sjah lagi, masyarakat Tidore harus lebih eksis, tampil percaya diri dan berperan dalam kancah nasional maupun internasional. “Jika potensi SDM daerah dapat berkiprah seperti yang diharapkan maka bangsa Indonesia juga akan mampu tampil sebagai bangsa besar yang diperhitungkan dalam pergaulan antarbangsa serta percaturan global,” tutur Sultan.

Kuliner Khas Tidore

Jujur, saya sendiri ketika berada di Tidore, kurang mencicipi sajian kuliner lokal. Maklum, 17 tahun lalu, suasana belum kondusif untuk mengenal apalagi menjelajah lebih jauh Tidore beserta segenap pesona kebudayaan, kuliner, apalagi potensi kepariwisataannya. Kalau sekadar mencicipi panganan utama, sagu yang bentuknya dibuat semacam roti tawar kering, saya sempat menemukan bahkan menjadikannya buah tangan ketika kembali pulang ke Jakarta. Selain, sajian serba pisang yang banyak juga saya nikmati.

Kini, sagu berwujud “roti tawar kering” itu malah sudah memiliki beberapa varian, ada yang berwarna coklat, pink, dan kuning kecoklatan. Sungguh, inovasi panganan yang kreatif dan menggiurkan!

visit.tidoreisland 6

Tidore kaya akan rempah-rempah, hasil pertanian juga perkebunan. (Foto: visit.tidoreisland)

Dalam tulisannya, budayawan Maluku Utara, Sofyan Daud menjelaskan tentang sejumlah kuliner Tidore. Diantaranya disebutkan misalnya, Sagu Lempeng (Hula Keta) yang terbuat dari tepung Sagu (Hula Garo) atau dari Tepung Singkong (Hula Daso). Sagu lempeng yang baru selesai dipanggang selama beberapa hari biasanya masih bertekstur lembek sehingga disebut “Sagu Lombo”. Sagu Lombo paling tepat disantap dengan Gohu Ikan — mirip Sashimi tetapi disayat lebih kecil, dengan bumbu seperti bawang merah, cabe, jeruk sambal, ditambahi sedikit minyak goreng sehingga tak berbau anyir.

Agar Sagu Lempeng tahan lama, maka harus dijemur atau dipanggang demi mengurangi kadar air. Sagu Lempeng kering bisa bertahan lama. Dalam catatan Bangsa Inggris diceritakan, Sir Francis Drake saat kembali dari kunjungannya ke Ternate, diberikan Sagu kering oleh Sultan Babullah sebagai perbekalan selama pelayaran. Para pelaut Inggris tersebut mengakui sagu kering dapat bertahan paling sedikit 10 tahun. (Des Alwi, 2005:383).

Ada juga yang namanya, Popeda (ada yang menyebutnya Papeda). Inilah makanan yang diolah dari Tepung Sagu (Hula), makanan pokok orang Maluku dan Maluku Utara yang begitu kondang. Bahkan kini, restoran atau cafe di kota-kota besar di Indonesia banyak juga yang sudah menyajikannya.

TIDORE 2

Hasil estimasi Luas Tidore Kepulauan dan Jumlah Penduduk. (Sumber: BPS Kota Tidore Kepulauan)

Selain Popeda, ada juga Tela Gule (jagung giling) yang menjadi pengganti nasi. Tela Gule biasa disantap dengan lauk berkuah santan, seperti Sayur Lilin atau Terong yang dimasak menggunakan santan kelapa.

Sebagai kota penghasil rempah-rempah terutama cengkeh, pala dan lainnya, banyak kuliner Tidore memiliki citarasa rempah begitu kuat. Bumbu Asam Pidis dan Masa Kering Kayu adalah dua contoh menu dengan banyak bumbu rempahnya. Selain itu karena kota pulau ini dikelilingi lautan, maka aneka makanan laut (seafood) banyak tersedia dengan begitu segarnya.

Beberapa kuliner khas seperti Nasi Jaha (pulut yang dimasak di dalam bambu), Dalampa (mirip lemper), Andara, Kale-kale, Cucur, Kui Bilolo (Kue keong), Lapis Tidore, Roti Coe, Lapis Bendera dan lain-lain, menjadi pendamping yang pas untuk menyeruput teh maupun kopi pada pagi atau sore hari.

Ada lagi, Gule-gule Tamelo (bubur kacang hijau), Gule-gule tela (bubur jagung), Cingkarong (jagung muda yang dicincang halus, dicampuri dengan kelapa cukur atau parut dan gula), antara lain sarapan favorit. Gule-gule Tamelo bahkan menjadi menu utama dalam perjamuan adat.

TIDORE 6

Produksi Komoditas Pertanian dan Perkebunan Kota Tidore Kepulauan. (Sumber: BPS Kota Tidore Kepulauan)

Untuk minuman, Kofi Dabe, kopi dengan citarasa rempah, Ake Gura atau Aer Guraka (Air Jahe) pasti disukai banyak wisatawan. Kemudian Sarabati, minuman spesial yang lazim dijumpai dalam ritual Taji Besi (Debus) bisa juga untuk dinikmati.

Uuuppppsss, jangan lupakan juga Ikan Tore (Ikan Roa). Biasanya, proses penyajiannya dilakukan dengan cara diasap. Ada juga yang sudah dibuat menjadi abon kering, maupun Sambal Ikan Roa.

Ayo, Visit Tidore Island

Begitulah, dari sisi wisata, budaya dan kuliner, Tidore memiliki segalanya. Sehingga menjadi wajib rasanya bagi seluruh anak bangsa untuk segera berkunjung ke Tidore, Visit Tidore Island. Tak usah bingung mencari penyelenggara wisata terpercaya untuk membawa kita mengeksplorasi Tidore. Ngofa Tidore Tour and Travel Team adalah salah satunya yang sudah menyiapkan paket perjalanan wisata selama enam hari, dalam waktu dekat akan dilaksanakan pada 8 – 13 April 2017. Kemana saja wisatawan bakal diajak bertamasya dengan paket yang diberi label “Enjoy The Wonderful Tidore” ini?

Berikut, destinasi lengkapnya: Hari pertama: Gurabunga Highland, Ngosi Highland, Crazy Bamboo, Pasar Tradisional, dan Benteng Toreh. Hari kedua: Lufu Kie, Benteng Tahula, Kedaton, Traditional House, Masjid Sultan, dan Makam Sultan Nuku. Hari ketiga: Snorkeling di Pulau Failonga, Memancing, Snorkeling di SoaSio. Hari keempat: Pantai Cobo, Snorkeling di Tanjung Kondo, Hotspring di Akosahu, dan Paji Dama Nyili-nyili. Hari kelima: Kota Panji, Merayakan Hari Jadi Tidore ke-909, City Tour Ternate. Hari keenam: Kembali ke Jakarta.

visit.tidoreisland

Paket wisata Enjoy The Wonderful Tidore yang ditawarkan Ngofa Tidore Tour & Travel Team. (Sumber: visit.tidoreisland)

Tidore dan Semangat Kemandirian

Di usianya yang ke-909 tahun ini, Pemkot Tidore Kepulauan bertekad untuk semakin menajamkan visinya yakni “Terwujudnya Kemandirian Kota Tidore Kepulauan Sebagai Kota Jasa Berbasis Agro-Marine”. Semangat mewujudkan visi ini tentu berlandaskan semangat perjuangan penuh heroik seperti yang pernah dibuktikan Sultan Nuku ketika masa perjuangan dulu.

Kini, Tidore tetap berjuang guna menciptakan kehidupan masyarakat yang adil makmur juga sejahtera. Untuk menggapainya, segenap potensi kewilayahan tentu harus dimaksimalkan. Potensi ekonomi misalnya, Tidore terkenal memiliki sektor pertanian dan perkebunan yang cukup andal bahkan menjadi mata pencaharian terbesar penduduknya.

Selain itu, potensi sektor peternakan, juga kelautan dan perikanan, terbukti cukup mampu menggerakkan roda perekonomian. Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Tidore Kepulauan menunjukkan bahwa, sumber daya kelautan dan perikanan sangat melimpah sehingga diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

TIDORE 8

Gedung Pusat Pemerintahan Kota Tidore Kepulauan. (Foto: Situs resmi Pemkot Tidore Kepulauan)

Sumber daya kelautan yang ada antara lain terumbu karang yang tersebar di wilayah pesisir, utamanya pulau-pulau kecil seperti Pulau Filongan, Pulau Mare, Pulau Raja dan masih banyak lagi. Tipe terumbu karang yang ada terdiri dari tipe terumbu karang tepi (fringing reef), terumbu karang penghalang (barrier reef) dan terumbu karang cacing (atol). Ada juga komunitas ikan karang yang dikelompokan ke dalam kelompok ikan indikator, ikan target dan ikan mayor. Sumber daya kelautan lainnya adalah hutan mangrove yang tersebar di seluruh kecamatan.

Usaha perikanan di Kota Tidore Kepulauan terdiri dari perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Berdasarkan data Diretorat Jendral Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dirilis dalam profil Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Tidore Kepulauan  menujukan bahwa, produk ikan yang terdapat di Tidore dan sekitarnya antara lain Ikan Cakalang,  Ikan Layang, Ikan Madidihang,  Ikan Teri, Ikan Tongkol, Ikan Selar dan masih banyak lagi.

Tidore juga memiliki kekayaan lain yang dapat dimanfaatkan seluas-luasnya demi kesejahteraan masyarakat, yaitu kehutanan yang memiliki banyak pohon dengan jenis kayu berkualitas dan memiliki nilai ekonomi tinggi seperti rotan, damar, kulit lawang dan lainnya.

media indonesia com

Pesona Tidore di lembar uang kertas seribu rupiah. (Foto: mediaindonesia.com)

Jangan lupa, wilayah Maluku Utara terkenal dengan batu-batu mulia yang begitu mahal harganya. Makanya, sektor berikut yang mampu menjadikan Tidore semakin maju pesat adalah sektor pertambangan dan energi. Potensi bahan galian mineral bergitu menjanjikan, seperti mineral non logam (pasir pantai, tanah urug (timbunan), batu apung, pasir batu, dan pasir gali yang tersebar di Kecamatan Tidore Timur, Kecamatan Tidore, Kecamatan Oba Utara, Kecamatan Oba Tengah dan Kecamatan Oba Selatan); juga mineral batuan yang penyebarannya terdapat di Kecamatan Tidore, Kecamatan Tidore Utara, Kecamatan Tidore Selatan, Kecamatan Oba Utara, Kecamatan Oba Tengah, Keca­matan Oba dan Kecamatan Oba Selatan. Ada juga kandungan emas yang dikategorikan sebagai logam — data Badan Geologi Departemen ESDM yang pernah melaksana­kan survei pemetaan wilayah menunjukan bahwa, potensi bahan galian emas berada di sekitar wilayah Kecamatan Oba Tengah karena memiliki kadar yang tinggi dan potensi cadangan yang cukup besar.

Dua sektor terakhir adalah industri dan perdagangan. Untuk sektor industri, didominasi oleh industri kecil dengan tenaga kerja antara 5 sampai 9 pekerja, dan industri rumah tangga dengan tenaga kerja sekitar 1 sampai dengan 4 pekerja. Pada 2011, jumlah unit usaha industri kecil adalah 772 orang dengan total tenaga kerja 2.728 orang, sedangkan pada 2012 mengalami peningkatan unit usaha industri kecil menjadi 804 orang namun tenaga kerja mengalami penurunan menjadi 2.335 orang. Sementara perdagangan, entah itu barang maupun jasa, merupakan sektor penting bagi perkembangan kota, sehingga diharapkan dapat lebih ditingkatkan peranannya.

Akhirnya, Tidore dengan segala pesona eksotisnya memang harus menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Utamanya saya pribadi, sangat berharap bisa melakukan napak tilas perjalanan blusukan ke sana pada 17 tahun silam. Apalagi ini menyambut Hari Jadi Tidore, maka rasanya harapan untuk bisa kembali lagi ke sana dan menemukan Tidore yang penuh semangat kedamaian amat membuncah.

Aku cinta Tidore!

banner