Archives for posts with tag: tangsel
KR 4

Hasil foto peserta lomba fotografi segera dipamerkan. (Foto: Gapey Sandy)

Siapa lagi yang mau memajukan Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kalau bukan warga masyarakatnya sendiri. Pikiran inilah yang salah satunya melandasi niat Panitia Festival Industri Kreatif Keranggan menyelenggarakan Lomba Fotografi.

Mengambil tema ‘Sungai Cisadane dan Local Pride’, panitia mencatat 50 peserta antusias mengikuti lomba pada Rabu, 6 Desember kemarin. Sedangkan festivalnya, berlangsung pada 5 — 7 Desember di lokasi Ecowisata Keranggan yang kini terus dikembangkan Pemkot Tangsel.

Keranggan adalah 1 dari 6 kelurahan yang ada di Kecamatan Setu, Tangsel. Lainnya adalah Kelurahan Setu, Muncul, Babakan, Bakti Jaya dan Kademangan. Dari 6 kelurahan ini, luas Keranggan termasuk yang paling kecil, 1,70 km2. Terluas, Kelurahan Setu dengan 3,64 km2.

Biarpun wilayahnya sempit tapi Keranggan justru jadi pionir untuk geliat membangun ekonomi kerakyatan. Usaha Kecil Menengah (UKM) menjamur bak cendawan di musim hujan. Mulai dari pengolahan Kacang Sangrai, Opak Singkong, Keripik Pisang, kue kering Kembang Goyang dan masih banyak lagi.

Tulisan soal bisnis Kacang Sangrai dan Keripik Pisang produksi UKM Keranggan, sudah pernah saya tulis di Kompasiana. Posisi Keranggan sendiri, kalau dari arah Pamulang, terus saja menuju ke Muncul, dan ketika sampai di perempatan Kampus ITI Serpong, masih lurus lagi ke Jalan Muncul lalu Jalan JLS menuju ke Cisauk – Tangerang.

Nah, kaitannya dengan lomba fotografi, sentra-sentra produksi UKM ini jualah yang menjadi target bidikan lensa-lensa kamera milik para peserta. Sesudah jam makan siang, para peserta yang berkumpul di Saung Cisadane — sisi kiri jembatan yang melintasi Sungai Cisadane dan menuju wilayah Cisauk, Tangerang — mulai bergerak menuju lokasi hunting foto.

Para peserta lomba fotografi membidik jepretan kreatif di bibir Sungai Cisadane, Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Para peserta lomba fotografi membidik jepretan kreatif di bibir Sungai Cisadane, Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Oh ya, by the way … saya menjadi 1 dari 3 juri lomba fotografi yang ditunjuk panitia. Dua rekan juri lainnya adalah Nico Freida, fotografer profesional yang juga traveler. Lalu, Kevin Gunadjaja, anak muda yang sudah menjalankan usaha studio foto.

Panitia rupanya sudah membuat plotting secara ketat. Dengan berjalan kaki sekitar 300 meter dari Saung Cisadane, rupanya peserta diarahkan untuk memotret kegiatan warga di sisi sebelah Utara jembatan yang melintasi Sungai Cisadane.

Obyek foto yang dijumpai adalah warga yang sedang mengayuh perahu getek bambu, sejumlah anak yang riang gembira mandi di sungai, juga warga yang terlihat sibuk menjala ikan.

Mengapa Sungai Cisadane?

Ya, karena daya tarik Keranggan, salah satunya adalah karena wilayahnya berbatasan langsung dengan sungai yang sumber airnya berasal dari Gunung Pangrango di Jawa Barat ini. Tak ayal, Sungai Cisadane menyatu dengan kehidupan masyarakat Kelurahan Keranggan. Selain terkenal dengan hasil perikanannya yang lumayan ada, daerah aliran sungai ini jua yang sekarang sedang nge-hits untuk ditampilkan sebagai bahagian dari pengembangan Ecowisata Keranggan.

Para peserta pun berjajar di sepanjang bibir sungai yang dipenuhi bebatuan koral aneka ukuran. Mereka seru-seruan menjepret apa saja yang menjadi daya tarik bidikan lensa kameranya.

Hasil karya peserta Lomba Fotografi disaksikan masyarakat Keranggan dan sekitarnya. (Foto: Gapey Sandy)

Hasil karya peserta Lomba Fotografi disaksikan masyarakat Keranggan dan sekitarnya. (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu karya bidikan kamera peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu karya bidikan kamera peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

Opak Singkong Keranggan

Puas menghabiskan durasi waktu yang disediakan panitia, para peserta kemudian diarahkan menuju lokasi hunting foto kedua. Enggak jauh-jauh amat sih, masih dalam satu area, yaitu pusat produksi Opak. Sudah tahu Opak ‘kan? Seperti kerupuk yang sangat tipis dan kaku. Terbuat dari bahan dasar singkong.

Di sini, ada 8 ibu rumah tangga yang sehari-harinya membuat Opak. Mereka bekerja sendiri-sendiri. Artinya, tempat tinggal mereka menjadi home industry. Yup, industri rumahan yang memproduksi Opak. Tetapi, karena ada 8 rumah yang memproduksi Opak, maka jadilah kawasan ini mirip jadi semacam sentra produksi Opak.

Dari hasil wawancara dengan salah seorang ibu yang sedang menjemur Opak, rupanya home industry Opak ini belum begitu lama berdirinya. Baru sekitar 3 – 5 tahun belakangan. Ya, mungkin saja, mereka membuat Opak sudak sejak puluhan tahun lalu, tapi untuk menjadi serius seperti sentra produksi, baru beberapa tahun belakangan saja.

“Kira-kira sejak sekitar 4 tahun lalu, kita mulai rame-rame buat Opak,” ujar Rasi’ah, nenek usia 75 tahun itu kepada saya.

Rasi'ah, nenek pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Rasi’ah, nenek pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Penyangrai kacang kulit di Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Penyangrai kacang kulit di Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut Rasi’ah, dalam sehari ia biasa mengolah 15 kg Singkong untuk dijadikan Opak. “Paling-paling, Opak yang bisa dihasilkan mencapai 400 sampai 500 lembar. Lembaran Opak mentah dari bahan baku Singkong ini kemudian dicetak sehingga ukurannya sama dan standar. Cetakannya cuma dari tutup toples plastik aja,” jelasnya sambil bilang bahwa cukup 2 jam saja proses penjemuran berlangsung.

Tangan terampil Rasi’ah nampak asyik membolak-balik Opak yang sedang dijemur beralaskan mirip pagar bambu. Warna Opak mentah ini agak keputihan. Ya, maklum aja, ‘kan berbahan dasar Singkong. Diameter lingkarannya sekitar sejengkal. Ketipisannya? Wah, ukuran millimeter deh kayaknya.

“Untuk membuat Opak, enggak pake bumbu macem-macem. Cukup Singkong sama garam aja,” tukas Rasi’ah membeberkan resep sederhananya.

Eh, ngomong-ngomong berapa harga Opak yang dijual Rasi’ah?

Murah bingit. Untuk 100 Opak, harga yang dipatok “cuma” Rp 20 ribu. Jadi, kalau Rasi’ah bisa bikin 500 Opak, maka ia akan mengantongi duit Rp 100 ribu. Kalau dalam sebulan Rasi’ah terus produksi Opak, tentu saja tinggal mengalikan Rp 100 ribu dengan 30 hari, sehingga totalnya Rp 3 juta.

“Komunitas” ibu-ibu pembuat Opak Singkong ini boleh jadi enggak ada matinya, karena bahan dasar Singkong termasuk yang masih gampang dicari. Meskipun, kadang-kadang ya rada seret juga menemukan “si ketela pohon” ini.

Salah seorang peserta Lomba Fotografi diantara pepohonan mencari posisi bidikan tepat. (Foto: Gapey Sandy)

Salah seorang peserta Lomba Fotografi diantara pepohonan mencari posisi bidikan tepat. (Foto: Gapey Sandy)

Sebagian ibu-ibu pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Sebagian ibu-ibu pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah memotret di Sungai Cisadane dan sentra produksi Opak Singkong, panitia meminta para peserta kembali ke pos semula, Saung Cisadane. Karena, ada 1 bus yang sudah menunggu untuk mengangkut semua peserta menuju ke plotting lokasi hunting foto berikutnya. Hmmm, apa itu?

Ya, tidak salah lagi. Inilah yang sekaligus menjadi primadona Keranggan, apalagi kalau bukan sentra produksi Kacang Sangrai!

Bus mulai bergerak. Di atas bus, para peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Summarecon, Serpong ini, mulai sibuk mempersiapkan kembali “senjata”-nya: kamera. Termasuk Shania, mahasiswi UMN Fakultas Teknik & Informatika semester I. Sungguh, melihat Shania, saya seperti melihat tampilan member AKB48, heheheheee … Mungil, unyu-unyu dengan rambutnya yang pirang dan diikat ekor kuda.

“Seru banget deh lomba fotografi ini. Selain membangkitkan minat, bakat dan passion kita-kita, juga melatih praktik hunting foto. Apalagi, aku sendiri punya tugas kuliah untuk menyerahkan hasil hunting foto berupa story telling yang harus di-upload ke Instagram. Jadinya, ya memang harus sering-sering pergi kemana ‘gitu, untuk hunting foto,” ujarnya didampingi Ricky Yantho, juga mahasiswa UMN.

Ricky dan Shania, peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

eserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

Spanduk Lomba Fotografi di Ecowisata Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Spanduk Lomba Fotografi di Ecowisata Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Shania tak menampik bahwa lomba fotografi ini muatan untuk mengangkat potensi lokal kedaerahan begitu kental sekali. Artinya, memang sesuai tema yang digancang panitia. “Lomba fotografi ini bisa membantu mengembangkan potensi Kelurahan Keranggan. Bagus ‘kan. Positif untuk mengangkat Keranggan berikut potensinya yang ada,” kata Shania yang kepada saya juga mengaku bahwa baru-baru ini saja tertarik fotografi. “Palingan awalnya ya untuk foto Instagrammable.”

Kacang Sangrai Keranggan

Jarak lokasi sentra produksi Kacang Sangrai dengan Saung Cisadane tidak begitu jauh, ya sekitar 1 — 2 km. Di lokasi ini, para peserta langsung menuju “dapur” produksi penyangraian. Secara bergiliran mereka masuk ke “dapur” dan melihat sendiri ada seorang pekerja yang sedang menyangrai. Media sangrainya seperti wajan yang mirip kuali. Bahan bakarnya pakai kayu bakar lho. Jadi, ya bisa dibayangkan, para peserta langsung terpapar hawa cukup panas selama di area “dapur”.

Tapi, meski bercucuran keringat dan menahan hawa panas, kamera-kamera terus bekerja mengambil gambar. Maklum, berasa epic banget deh bisa melihat langsung proses penyangraian yang mungkin selama ini belum pernah mereka bayangkan gimana praktiknya. Wkwkwkkkk … maklum ‘kids jaman now’.

Salah satu foto terbaik karya peserta Lomba Fotografi. yang dijepret di daour penyangraian kacang. (Foto: Dok. Panitia Lomba Fotografi)

Salah satu foto terbaik karya peserta Lomba Fotografi. yang dijepret di daour penyangraian kacang. (Foto: Dok. Panitia Lomba Fotografi)

Peserta sibuk memotret di daour penyangraian kacang. (Foto: Gapey Sandy)

Peserta sibuk memotret di daour penyangraian kacang. (Foto: Gapey Sandy)

Di luar “dapur” penyangraian, para peserta masih bisa memfoto pasangan suami istri, Na’ih (65) dan Mamnu’ah (60) yang sedang memilah-milih kacang hasil penyangraian untuk siap dikemas.

Ketika saya tanya, berapa banyak kacang kulit yang biasa diproses, Na’ih menjawab dengan jawaban yang bikin saya kaget. “Biasanya, selama 1 sampai 2 minggu, kita proses 6 ton kacang kulit. Sekarang, kacang sudah makin sulit diperoleh dari lokasi di sekitar kawasan sini. Jadi, kita pesan kacang dari Cilegon, Jonggol, Sumedang dan lain-lain. Untuk setiap 6 ton kacang kulit ini, kita biasa beli seharga Rp 90 juta,” ujarnya.

Menurut Na’ih lagi, dari sebanyak 6 ton kacang kulit tadi, ia kemudian menjualnya dalam hitungan liter, bukan kilogram. “Untuk Kacang Sangrai kering, dijual Rp 8 ribu per liter. Sedangkan yang basah, Rp 9 ribu per liter. Ongkos lain yang harus dikeluarkan adalah untuk kayu bakar dan pekerja penyangraian. Harga kayu bakar untuk 1 bak mobil terbuka jenis Cary seharga Rp 300 — Rp 500 ribu. Sedangkan untuk ukuran angkut 1 truk, harga kayu bakarnya Rp 1.250.000,” jelas Na’ih sembari menyebut upah pekerja penyangrai adalah Rp 50 ribu untuk menyangrai sebanyak 1 kuintal kacang kulit dengan durasi sekitar 1 jam.

Na’ih dan Mamnu’ah kompak menjawab sekitar tahun 2005 sebagai start awal membuka usaha Kacang Sangrai ini. “Sekarang, anak saya yang mengendalikan usaha ini,” ujar Na’ih.

Shania, peserta Lomba Fotografi sibuk membidik. (Foto: Gapey Sandy)

Shania, peserta Lomba Fotografi sibuk membidik. (Foto: Gapey Sandy)

Karya terbaik peserta Lomba Fotografi di sentra produksi Kacang Sangrai. (Foto: Dok. Panitia Lomba)

Karya terbaik peserta Lomba Fotografi di sentra produksi Kacang Sangrai. (Foto: Dok. Panitia Lomba)

Lewat waktu Ashar, karya-karya foto dikumpulkan. Mereka masing-masing menyetorkan 3 foto terbaik. Sehingga total, ada 150 karya foto. Dari jumlah sebanyak ini, langsung diseleksi pakai sistem gugur dengan acuan kesesuaian tema, menjadi 50 karya foto saja. Setelah itu, tim juri menyeleksi 3 foto paling the best sebagai juara 1, 2 dan 3.

Empat Kawasan Industri Tangsel

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangsel, Maya Mardiana dalam sambutannya mengiringi lomba fotografi dan aneka lomba lainnya mengatakan, ada empat kawasan industri yang kini terus dikembangkan Pemkot Tangsel.

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany sempat hadir melihat-lihat pameran hasil lokal Keranggan di lokasi Festival Industri Kreatif Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Yudi/Indag)

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany sempat hadir melihat-lihat pameran hasil lokal Keranggan di lokasi Festival Industri Kreatif Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Yudi/Indag)

Kadis Indag Tangsel, Maya Mardiana, nomor dua dari kiri. (Foto: Gapey Sandy)

Kadis Indag Tangsel, Maya Mardiana, nomor dua dari kiri. (Foto: Gapey Sandy)

“Empat kawasan industri di Tangsel adalah industri tempe di Kedaung — Ciputat, industri konveksi di Jurangmangu, industri kuliner – kreatif – ecowisata di Keranggan — Setu, dan industri kerajinan pernik di Ciputat Timur. Karena itu, perlu ada kolaborasi yang baik dari semua pihak, seperti akademisi, kalangan bisnis, community dan Pemerintah sebagai fasilitator. Sehingga kolaborasi ini akan membawa hasil dan berdampak positif bagi masyarakat. Kalau Keranggan ingin terus mengembangkan ecowisata, maka kawasan ini harus eye catching. Caranya, selalu kedepankan kreativitas dan karya produktif terbaik,” tutur Maya dari atas panggung utama.

Semoga Keranggan semakin terus maju. Keranggan semakin jadi teladan.

 

  • Tulisan ini juga sudah dimuat & menjadi HEADLINE di Kompasiana, 8 Desember 2017.
Iklan
TK 020

Tomyam Kelapa, kuliner ala Thailand yang menggugah selera. (Foto: Gapey Sandy)

Rasa pedas dan asamnya begitu dominan. Kuah Tomyam yang disajikan dalam batok kelapa berwarna oranye kemerahan, pertanda pasta “sayur asam” ala Thailand ini memang menggoyang lidah. Rempah-rempah yang jadi bumbu sajian Tomyam Kelapa, seperti daun jeruk, bawang bombai, dan daun ketumbar pun timbul tenggelam bersama potongan seafood.

Di House of Tomyam yang berlokasi di Jalan Sulawesi Raya No.19 atau di area parkir lapangan tenis Kompleks Villa Bintaro Indah, Jombang, Ciputat, Kota Tangsel ini, selain menu Tomyam Kelapa Seafood, pembeli juga dapat memilih varian lain. Misalnya, Tomyam Kelapa Daging, Ekor, Iga, Campur, Ikan, Udang, Cumi, Ayam, dan Sayur.

Oh iya, selain disajikan dalam wadah batok kelapa, pelanggan juga dapat memesan Tomyam Mangkok. Sesuai namanya, wadahnya ya pakai mangkok, tidak lagi batok kelapa. Varian menunya tetap sama seperti Tomyam Kelapa.

“Selain menu Tomyam dengan berbagai varian, sajian andalan kami lainnya adalah Kwetiau Kungpao. Pelanggan kami suka dengan Kwetiau ini karena tidak seperti yang lainnya, disini Kwetiaunya digoreng lebih dulu. Varian menunya pun macam-macam, ada Kwetiau Kungpao Spesial, Daging, Seafood, Udang, Cumi, Ayam, Bakso, Sosis, dan Kwetiau Kungpao Sayur,” tutur Bahaudin (34), pemilik House of Tomyam.

TK 023

Tomyam Kelapa, sekali coba pasti ketagihan. (Foto: Gapey Sandy)

Nah, Kwetiau Goreng biasa pun tersedia juga di kedai yang persis berada di dekat gerbang perumahan Villa Bintaro Indah ini. Varian Kwetiau Gorengnya sama dengan Kwetiau Kungpao. Ada juga menu Nasi Goreng dengan macam-macam pilihan, mulai dari Spesial, Seafood, Udang, Cumi, Daging, Sosis, Ayam, Bakso, dan Nasi Goreng Telur.

Bukan cuma Tomyam saja yang disajikan dalam batok kelapa, bahkan menu andalan lain seperti Bakso dan Mie Ayam pun bisa disantap pengunjung menggunakan batok kelapa. Unik, tapi tak mengurangi kelezatannya sama sekali. Malah, ada sensasi tambahan dari sekadar makan di mangkok biasa. “Pengunjung juga menikmati sensasi mengerok daging kelapa yang masih menebal di batok kelapanya. Jadi, selain air kelapanya dijadikan bahan baku masakan, batok kelapa plus daging kelapanya juga siap disantap. Ini sensasi tambahannya,” kata pengusaha muda yang masih lajang ini.

Berguru ke Negeri Jiran

Perkenalan Baha — sapaan akrab Bahaudin — dengan Tomyam, bermula ketika ia bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ia menjadi staf perusahaan ekspedisi atau jasa kurir pengiriman barang.

“Waktu bekerja di luar negeri itu, kami para karyawan, setiap hari Jumat selalu memperoleh jatah makan gratis di rumah makan Thailand. Nah, kebetulan menunya adalah Tomyam Kelapa. Waktu itu, menu ini begitu unik dan memikat hati saya. Apalagi memang, Tomyam Kelapa boleh dibilang masih jarang dan sulit sekali ditemukan. Itulah awal kisah saya kenal Tomyam Kelapa,” ujar Baha yang asli dari Cilacap, Jawa Tengah dan kini menetap di Tangsel.

TK 003

House of Tomyam di Villa Bintaro Indah, Jombang, Ciputat, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Pendek kata, Baha benar-benar kepincut sajian kuliner Tomyam Kelapa. Bahkan sesudah ia kembali ke tanah air dan bekerja di perusahaan ekspedisi juga, pikirannya masih menerawang jauh ke Malaysia. Ia ingin sekali menguasai cara pembuatan Tomyam Kelapa.

Ketika ada kesempatan untuk balik ke Malaysia lagi, Baha pun tidak sia-siakan waktu. Ia “berguru” pada chef di rumah makan ala Thailand itu. Ia secara khusus mendalami segala hal mengenai Tomyam Kelapa, mulai dari bumbu, resep rahasia, sampai ke cara pembuatannya. “Semua hal yang ingin saya ketahui selalu diberitahu oleh chef di sana. Mereka tidak pelit berbagi ilmu memasak Tomyam Kelapa. Karena toh mereka pikir, saya bukan calon pesaing mereka. Apalagi, saya berkewarganegaraan Indonesia. Jadinya, saya senang bisa diajarkan cara membuat Tomyam Kelapa sampai sedetil-detilnya,” urai Baha seraya menyebut bahwa pada 18 Maret 2017 nanti, House of Tomyam akan genap berusia dua tahun.

Sekembalinya ke tanah air lagi, Baha mulai menekuni usaha kulinernya. Melalui bantuan permodalan dari pemilik perusahaan ekspedisi tempatnya bekerja, Baha mulai membuka House of Tomyam. Ia menjajakan Tomyam Kelapa, kuliner yang semaking nge-hits di Kota Tangsel dan sekitarnya.

“Tapi, tentu saja ada sedikit perubahan yang saya lakukan terhadap olahan masakan Tomyam Kelapa ini. Kalau di restoran ala Thailand itu, dua rasa yang sangat dominan, sudah pasti adalah pedas dan asam. Nah, di House of Tomyam ini, saya agak sedikit saja mengurangi dominasi rasa keduanya. Tetapi jangan khawatir, cita rasanya secara umum tetap lezat tak terkira,” ujar pria ramah senyum ini.

TK 022

Pengunjung menikmati suasana di House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

Rempah-rempah yang dipergunakan tetap sama, mulai dari daun jeruk, bawang bombai, daun ketumbar dan sebagainya. Bahkan, Baha pun mengimpor secara khusus pasta Tomyam yang dipergunakannya.

“Mengapa saya impor? Saya mencari pasta Tomyam di Indonesia, yang bisa sejenis dan secita rasa seperti yang ada di restoran ala Thailand di Malaysia sana, hampir tidak ada. Kalaupun ada, harganya begitu mahal padahal ukurannya hanya sedikit saja. Harga pasta Tomyam impor ini, Rp 1,5 juta per tiga kilogram. Inilah juga yang menjadi alasan bahwa menu Tomyam di sini, begitu amat sangat bercitarasa tinggi,” tegasnya berani jamin.

Menurut Baha, secara bisnis, House of Tomyam belum berhasil balik modal, Break Even Point (BEP). Semua masih berjalan sesuai standar dan biasa-biasa saja. “Saya pikir, secara global para pengusaha, termasuk teman-teman saya yang juga berkecimpung didunia usaha pun mengalami nasib yang sama. Bisnis kami fluktuatif, naik dan turun. Itu biasa ‘toh,” jelasnya.

Meski demikian Baha bersyukur, ada aplikasi ojek online yang dapat melayani pelanggan Tomyam Kelapa. “Kami sudah ada di layanan GoFood dan GrabFood. Jujur saja, pelanggan yang memesan pembelian secara online, lebih banyak dibandingkan dengan yang datang langsung ke sini. Saya bersyukur sekali. Bahkan, ada pelanggan yang memesan dari kawasan sekitar kampus UI Depok sana, dan frekwensi pesanannya sampai sembilan kali,” tukas Baha penuh syukur.

TK 018

Bahaudin (34) sang pemilik House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

Karena melayani pesanan melalui ojek aplikasi online inilah, Baha dengan begitu tangkas menyediakan layanan pengantaran secara begitu rapi dan cermat. Pelanggan yang memesan Tomyam Kelapa, maka batok kelapanya akan dibungkus dengan plastik secara wrapping, atau mirip seperti kita me-wrapping koper atau tas di bandara.

“Layanan pengemasan ini begitu cermat kami lakukan, sehingga Tomyam Kelapa pernah dibuktikan sendiri bisa tahan sehari semalam. Pelanggan kami ada yang membawa ke Bandung, tanpa dibekukan, dan ternyata dalam sehari semalam masih baik untuk dikonsumsi. Hal ini karena Tomyam Kelapa hanya menggunakan air kelapa, tapi tidak sama sekali menggunakan santan kelapa. Selain itu, ada yang bilang, batok kelapanya ini juga yang membuat jadi awet. Karena toh, kami juga tidak sama sekali memakai bahan pengawet apapun,” ujarnya.

Berharap Bantuan Pembinaan Wirausaha

Siapa sangka, dibalik sosok Bahaudin yang sederhana dan santun, ia pekerja keras dan selalu punya hasrat menggebu untuk mereguk berbagai pelatihan wirausaha. Belakangan ini misalnya, ia kerap tak bisa diganggu bila sudah hari Minggu. “Saya lagi ada kesibukan workshop, Mas. Temanya, Smart Business Map. Jadi, kalau teman-teman blogger dan Kompasianer mau ke House of Tomyam, bisa hari Sabtunya saja ya,” ujar Baha suatu hari di penghujung Februari kemarin.

Di restorannya, Baha memang selalu welcome bila blogger datang berkunjung. “Buat saya, kalau mereka mau menulis review tentang Tomyam Kelapa, saya sangat berterimakasih dan saya anggap itu sebagai bonus,” tukasnya seraya menyebut nama sejumlah blogger papan atas yang pernah berkunjung di House of Tomyam.

TK 015

House of Tomyam siap menerima pesanan ONLINE juga OFFLINE. (Foto: Gapey Sandy)

TK 007

Menu best seller lainnya, Kwetiau Kungpao. (Foto: Gapey Sandy)

Keakraban Baha dengan dunia blogging memang begitu melekat. Baha ini seorang blogger. Ia rajin mengunggah tulisan-tulisan bernasnya di blog pribadi yang ia kelola sendiri. Ini dia link blog milik Baha:  http://www.omsober.wordpress.com

Melalui blognya itu pula, Baha rajin bertukar pandangan mengenai bisnis! Salah satunya, ia menulis tentang Playing Field sebagai ilmu dasar bisnis di Smart Business Map. “Dulu ketika masih jadi karyawan di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang, bisnis menurut saya ‘tuh mudah saja. Eh enggak tahunya setelah keluar dari perusahaan pengiriman barang dan menjalani bisnis itu sendiri, ternyata susah sekali. Kenapa susah? Jawabannya jelas karena belum tahu caranya,” tulis Baha dalam blognya.

Karena terdorong rasa ingin tahu bagaimana caranya menjalankan bisnis itulah, lanjut Baha, dirinya semangat sekali untuk mengikuti satu workshop di Yogyakarta, 18 – 19 Februari 2017. “Setelah mengikuti workshop itu, saya benar-benar terbuka arah dan tujuan, kemana dan dimana saya harus menjalankan bisnis yang saya tengah tekuni ini. Untuk mengenal bisnis yang saya tekuni ini, saya harus tahu dulu fundamental dalam berbisnis. Fundamental dari bisnis itu yaitu Playing field, Market landscape dan Operational profitability.,” jelasnya.

Baha pun menjelaskan salah satunya, yaitu tentang Playing Field yang gampangannya adalah merupakan medan bisnis atau tempat bisnis atau area bisnis yang tengah dikelola. Dalam Playing Field ada lima point yang harus diketahui dan dijawab, sehingga permasalahan bisnis yang dihadapi dapat dicarikan solusinya sesuai harapan.

TK 009

Proses pembuatan Tomyam Kelapa. (Foto: Gapey Sandy)

Kelima point tersebut adalah, pertama, What’s the problem? (Apa masalahnya?). “Kita itu harus tahu masalah apa yang akan coba kita kasih solusinya. Misal, lapar, haus, ngantuk dan lain-lain. Ini adalah masalah atau kebutuhan yang harus terpenuhi, jika tidak terpenuhi makan jadilah masalah. Di sinilah dibutuhkan solusi. Solusi lapar ya makan, solusi haus yang minum, solusi ngantuk ya ngopi atau tidur saja sekalian, pasti akan hilang masalahnya. Tetapi apakah solusi yang kita berikan itu sesuai dan pas dengan yang mempunyai masalah tersebut? Misalnya lagi nih, Tomyam Kelapa adalah solusi orang lapar tapi belum tentu orang mau diberi atau membeli Tomyam Kelapa karena berbagai alasan,” ujarnya.

Kedua, Who has the problem? (Siapa yang punya masalah), “Artinya kita bisa kaji yang punya masalah itu siapa, umurnya berapa, tinggalnya dimana, minatnya yang gimana, perilakunya gimana dan aspek-aspek lain dari yang punya masalah tersebut. Misal jualan Tomyam Kelapa di desa yang tertinggal (maaf). Ini jelas tidak pas, yang ada malah jadi tontonan saja,” tuturnya.

Ketiga, What’s Is Solution artinya solusi apa yang akan diberikan. “Misal, masih Tomyam Kelapa biar gambarannya mudah dengan  satu kasus. Tomyam Kelapa adalah solusi buat orang yang lapar. Tapi tidak semua orang yang lapar dikasih solusi Tomyam Kelapa, karena menu ini pas untuk orang yang di perkotaan, usianya antara 23 – 45, penyuka makanan asal Thailand, makanan asam, pedas dan unsur-unsur lainnya,” terangnya.

Keempat, How Big The Market. “Di point ini, berkaitan dengan pangsa pasar kita, yang artinya potensi pasar produk yang kita miliki. Misal pasar yang akan kita geluti sudah ada kompetitor yang bermain apa belum?. jika sudah ada berapa besar persentase peluang market kita di area tersebut,” urainya.

TK 014

Menu baru di House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

TK 021

Sensasi lain yang ditawarkan Tomyam Kelapa adalah mengerok daging kelapanya juga. (Foto: Gapey Sandy)

Kelima, Whats Factor Will Impact The Business. “Faktor-faktor yang akan berdampak pada bisnis atau usaha kita juga harus diperhatikan. Jangan sampai bisnis atau usaha yang sudah kita tekuni bertahun-tahun dan sudah mulai maju terus ada faktor-faktor yang tidak diperhatikan dan menghancurkan bisnis kita dalam sekejap. Misalnya, di bisnis makanan seperti Tomyam Kelapa, izin halal, izin SIUP, brand, supplier kelapanya, lauk pauknya, teknologi atau peralatan yang mendukung biar tidak kalah dengan kompetitor dan berbagai faktor lainnya,” kata Baha lagi.

Menurutnya lagi, lima point yang ada di Playing Field ini harus dijawab dan diperhatikan sebelum menjalankan bisnis. “Atau kita yang sudah menjalankan bisnis atau bidang usaha tetapi ternyata belum memperhatikan faktor-faktor dasar dalam suatu bisnis. Maka kita harus bener-bener setting ulang bisnis kita agar bisnis atau usaha kita sesuai harapan,” tuturnya.

Akhirnya, sebagai wirausaha muda  yang tengah menggeluti bisnis kuliner, Baha juga berharap Pemkot Tangsel bersedia memberikan bantuan pembinaan, perizinan, permodalan dan lainnya. “Sebagai contoh, saya mengalami sendiri, bagaimana perjuangan selama sepuluh bulan demi mengurus sertifikat halal dari LPPOM MUI Provinsi Banten. Saya ambil sendiri sertifikatnya ke Serang sana. Harapannya, segala hal terkait administrasi dan perizinan dapat mudah juga cepat,” asa Baha.

Jadi, kapan kamu mau mampir ke Tomyam Kelapa?

Para pelaku pembunuhan wartawati media online Nur Baety Rofiq. Para pelaku masih berusia muda. (Foto: kompas.com)

Para pelaku pembunuhan wartawati media online Nur Baety Rofiq. Para pelaku masih berusia muda. (Foto: kompas.com)

Kita shock dan terkesiap! Empat pelaku pembunuhan wartawati media online Nur Baety Rafiq (44) di Bojong Gede, Depok, pada Juli ini, ternyata masih berusia muda. Dua diantaranya, baru berusia 20 tahun. Nafsu angkara menguasai harta milik korban dilakukan, demi menjawab desakan kebutuhan ekonomi dan kesejahteraan. Apalagi, momentumnya mau lebaran. Pikir sesat mereka, uang harus di tangan. Meski harus menghilangkan nyawa korban.

Sebelumnya, pada April, seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) berusia 14 tahun, kabarnya telah menjadi korban penyekapan dan pemerkosaan. Pelakunya? Sepuluh anak muda. Diantara pelaku, ada yang berusia 22 tahun. Kasus yang terjadi di Kenagarian Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat ini, kontan menyedot perhatian sekaligus empati publik.

Kedua kasus kriminalitas tersebut tidak saling berhubungan satu sama lain. Tapi, irisannya sama, yakni kejahatan yang dilakukan anak muda dengan pemicu yang berbeda. Benang merah dari kedua kasus ini adalah ada potret kurang berhasilnya pembinaan keluarga—dan unsur lainnya, seperti lingkungan—, dalam membentuk watak serta kepribadian anak-anak muda yang notabene para pelaku kejahatan.

Mengapa kegagalan pembinaan anak-anak dalam institusi keluarga patut menjadi sorotan?

Dari kiri ke kanan. Wardah Fajri (Moderator/Kompasiana). Suyono Hadinoto, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, dan Abidinsyah Siregar. (Foto: Gapey Sandy)

Dari kiri ke kanan. Wardah Fajri (Moderator/Kompasiana). Suyono Hadinoto, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, dan Abidinsyah Siregar. (Foto: Gapey Sandy)

Dalam acara Kompasiana Nangkring Bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bertema ‘Membangun Keluarga, Membangun Bangsa Sebagai Wujud Revolusi Mental’, pada 8 Juli 2015 di Hotel Santika Serpong, BSD, Tangerang Selatan (Tangsel), DR Abidinsyah Siregar DHSM M.Kes selaku Deputi Bidang Advokasi, Penggerakkan dan Informasi BKKBN menyampaikan paparannya terkait Kerangka Konsep Pembangunan Keluarga.

Secara global, menurut Abidinsyah, data Bank Dunia yang dilansir pada 2013 menunjukkan, lebih dari 400 juta anak hidup dalam kemiskinan. Kondisi ini semakin miris dengan temuan UNICEF sepanjang 2014 kemarin yang mengungkapkan, angka kematian bayi mencapai 30 per 1000 kelahiran, sedangkan angka kematian anak usia dibawah 5 tahun mencapai 37 per 1000 kelahiran. Ironisnya lagi, 7 ribu anak meninggal dunia setiap hari karena penyebab yang seharusnya dapat dicegah, dimana separuhnya adalah akibat kurang gizi.

Sementara itu, mengutip hasil sigi yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 2014, Abidinsyah mengemukakan, ternyata jumlah remaja (10 – 24 tahun) mencapai 25% atau (1,8 miliar) dari total seluruh penduduk dunia. Dari jumlah tersebut, 50% diantara remaja tersebut pengguna internet, dan tidak memiliki pekerjaan. Adapun 85% dari para remaja ini tinggal di negara dengan indeks kesejahteraan yang relatif rendah.

Lantas, bagaimana dengan isu kependudukan dengan skala nasional?

Dua tahun lalu, Bappenas menyodorkan data kependudukan. Jumlah penduduk Indonesia pada 2015 ini, diperkirakan 255,5 juta jiwa. Proyeksinya, jumlah balita dan anak sebanyak 47,4 juta jiwa. Adapun jumlah remaja, menyundul angka 66 juta jiwa, atau 7% dari jumlah total penduduk. Kontribusi proporsi penduduk usia produktif ini sudah pasti membawa potensi Bonus Demografi. Potensi ini diperkuat dengan data yang menyatakan, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) sejumlah 21,7 juta jiwa.

Perkembangan isu global terkait kependudukan. (Sumber: Makalah BKKBN)

Perkembangan isu global terkait kependudukan. (Sumber: Makalah BKKBN)

Hasil penelitian CSIS pada tahun 2014, terkait kependudukan. (Sumber: Makalah BKKBN)

Hasil penelitian CSIS pada tahun 2014, terkait kependudukan. (Sumber: Makalah BKKBN)

Proyeksi jumlah penduduk lansia pada 2010 adalah sebanyak 18,1 juta jiwa. Angka ini akan meningkat tajam hingga 167,2% pada 2035 menjadi 48,2 juta jiwa. Pada 2010 itu pula, Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah penduduk lansia terbanyak di dunia, sekaligus sudah mendekati aging population. Usia harapan hidup secara nasional juga naik dari 70,6 tahun (2010) menjadi 72 tahun (2014). Seiring dengan itu, persentase penduduk miskin Indonesia pada 2014 mencapai 11,25% atau 28,28 juta jiwa.

Paparan aktual seputar masalah kependudukan yang disampaikan Abidinsyah kemudian bermuara pada Kerangka Konsep Pembangunan Keluarga. Ada tiga flowchart yang dimunculkan, yakni INPUT yang merupakan masalah kependudukan itu sendiri, mulai dari kuantitas, kualitas, hingga masalah keluarga, misalnya pernikahan/perceraian dini, kemiskinan, stunting, Narkoba/NAPZA, seks bebas, hingga aborsi.

Lalu ada PROSES, yang tak lain adalah pola pembinaan keluarga masa depan itu sendiri. Didalamnya terdapat kolaborasi harmonis antara Pemerintah dengan masyarakat. Mulai dari penyelenggaraan pendidikan formal/informal, optimalisasi fungsi dan siklus keluarga, lalu ada juga pendidikan berbasis masyarakat.

Masih didalam PROSES, terdapat sejumlah program kegiatan yang dilaksanakan oleh BKKBN, mulai dari Bina Keluarga Balita (BKB); GenRe alias Generasi Berencana; Lansia Tangguh; Bina Keluarga Lansia (BKL); serta, pemberdayaan ekonomi keluarga melalui kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS).

Dari INPUT yang kemudian mengalami PROSES, akhirnya terwujud OUTPUT atau hasil yang diharapkan. Ada misi didalamnya yaitu menciptakan Keluarga Berkualitas (kualitas anak, remaja, Lansia, dan kesejahteraan keluarga), sedangkan visinya adalah Keluarga Kecil yang Berketahanan dan Sejahtera.

Tabel Kerangka Konsep Pembangunan Keluarga. (Sumber: Makalah BKKBN)

Tabel Kerangka Konsep Pembangunan Keluarga. (Sumber: Makalah BKKBN)

“Keluarga adalah unit terkecil di lingkungan. Tapi yang kita tuju adalah keluarga berkualitas. Dan ketika disebut berkualitas, maka bertambah definisinya menjadi yang dibentuk berdasarkan ikatan yang sah, baik secara agama, hukum maupun adat. Jadi, tidak cukup hanya berhenti pada kata ‘keluarga’, tapi harus ‘keluarga yang berkualitas’. Nah, keluarga yang kita ingin wujudkan adalah keluarga yang menjadi lingkungan pertama dan utama bagi keluarga itu dalam pembinaan tumbuh kembang anak-anak, menanamkan nilai-nilai moral dan kepribadian. Keluarga ini juga menjadi tempat belajar bagi anak, apalagi di sana ada ibu yang akan menjadi ‘gurunya’. Guru utama bagi seorang anak manusia adalah orangtuanya, terutama sang ibu, untuk mengenal kehidupan lingkungan maupun sosial,” urai alumnus International Diplome in Health Service Management di Perth Australia, dan meraih gelar S2 Kebijakan Kesehatan di Universitas Sumatera Utara (USU) dengan Cum Laude ini.

Ia menambahkan, keluarga berkualitas akan menjadi benteng dari berbagai tantangan kehidupan yang negatif. Sebaliknya, bila keluarga gagal. Maka faktor lingkungan yang akan memainkan peran sekaligus mempengaruhi seseorang. Baik atau buruk, terpulang kepada faktor lingkungan itu sendiri. Ironisnya, sebuah studi membuktikan, faktor lingkungan jauh lebih besar perannya dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang, daripada faktor keluarga. Tak pelak, kasus pembunuhan wartawati online, dan penyekapan sekaligus pemerkosaan seorang siswi MTs, menjadi fakta tak terbantahkan tentang kegagalan menciptakan keluarga berkualitas, dan dahsyatnya faktor pengaruh lingkungan yang buruk, telah menyeret para remaja bertindak melanggar hukum.

“Hanya keluarga kecil yang berketahanan dan sejahtera yang mampu menepis semua tantangan dari luar. Jadi, bukan siapa-siapa, tapi keluarga. Saat ini, tantangan tidak lagi menunggu di luar rumah, karena tantangan saat ini sudah masuk atau justru kita ajak masuk ke dalam rumah, yaitu internet. Meskipun sebenarnya ini tergantung dari ketahanan anak-anak dalam memanfaatkan teknologi informasi termasuk internet secara positif. Disinilah peran keluarga atau orangtua sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak. Faktor keluarga menjadi teramat menentukan untuk menghadapi banyaknya tantangan yang dihadapi anak-anak. Kalau peran keluarga ini gagal, maka faktor lingkungan dari luar akan memainkan perannya, dan sebuah hasil studi membuktikan bahwa faktor lingkungan ternyata jauh lebih besar perannya dalam membentuk watak dan kepribadian seorang anak, dibandingkan dengan apa yang bisa dilakukan oleh ayah maupun ibunya sendiri. Tapi, kalau sejak anak-anak masih kecil sudah dibentengi dengan pola pembinaan yang baik dari kedua orangtuanya maka anak-anak kelak akan mudah menepis berbagai tantangan negatif yang datang dari luar. Disinilah, kata kuncinya yaitu membangun keluarga berkualitas,” tutur pria kelahiran Banda Aceh, 25 Mei 1957 ini.

DR Abidinsyah Siregar DHSM M.Kes, Deputi Bidang Advokasi, Penggerakkan dan Informasi BKKBN ketika menyampaikan paparannya. (Foto: Gapey Sandy)

DR Abidinsyah Siregar DHSM M.Kes, Deputi Bidang Advokasi, Penggerakkan dan Informasi BKKBN ketika menyampaikan paparannya. (Foto: Gapey Sandy)

Dengan keluarga berkualitas, lanjutnya lagi, akan mampu menunaikan delapan fungsi keluarga. Pertama, fungsi keagamaan. Artinya, setiap keluarga Indonesia punya keyakinannya sendiri, bisa merupakan agama, atau keyakinan lainnya yang diakui oleh hukum nasional kita. Kedua, fungsi sosial budaya. Bagaimana seseorang melakukan kontak sosial dengan lingkungan masyarakat yang ada di sekitar.

Ketiga, fungsi cinta dan kasih sayang. Keempat, fungsi perlindungan. Kelima, fungsi reproduksi yang bisa berkembang, sehingga setiap ayah, setiap ibu, yang berumah-tangga, melahirkan anak, dimana anak-anak yang dilahirkan akan menggantikan satu ayah, dan satu ibu. Makanya, konsep yang selama ini sudah sangat terkenal adalah: Dua Anak Cukup! “Kenapa? Karena, dengan dua anak cukup, maka generasi keluarga akan dapat dipertahankan terus sepanjang zaman. Selain itu, ada kepastian dari keluarga yang bersangkutan untuk membuat dua anak mereka itu menjadi berhasil dalam hidupnya,” ujar suami dari Haslinda Daulay, SE,Msi ini.

Fungsi keenam, fungsi sosialisasi dan pendidikan. Artinya, pendidikan harus terjamin. Ketujuh, fungsi ekonomi. Terakhir, kedelapan, fungsi lingkungan.

Keluarga Berencana dan Bonus Demografi

Keuntungan pelaksanaan program KB pada masa lalu, selain menurunkan angka kelahiran dan menjaga keseimbangan jumlah penduduk, adalah adanya Bonus Demografi.

Inilah delapan fungsi keluarga. (Sumber: Makalah BKKBN)

Inilah delapan fungsi keluarga. (Sumber: Makalah BKKBN)

Bonus Demografi artinya masa dimana angka beban ketergantungan antara penduduk usia produktif dengan penduduk usia tidak atau nonproduktif mengalami penurunan sehingga mencapai angka dibawah 50. Artinya, setiap penduduk usia kerja menanggung sedikit penduduk usia nonproduktif. Tetapi, untuk mendapatkan Bonus Demografi ini, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) harus ditingkatkan secara maksimal melalui pendidikan, pelayanan kesehatan dan penyediaan lapangan kerja.

Data proyeksi penduduk menunjukkan bahwa Bonus Demografi di Indonesia diperkirakan terjadi pada 2020 hingga 2035. Sedangkan pada 2020 – 2030, Indonesia mengalami window of opportunity. Setelah tahun 2030, Indonesia kemudian akan menghadapi peningkatan pesat pada kelompok penduduk usia lanjut (65+), sehingga meningkatkan kembali rasio ketergantungan.

Tidak selamanya Bonus Demografi itu membawa berkah. Ia justru bisa berubah menjadi “Bencana Demografi”, manakala penduduk usia produktif tersebut tidak memiliki pendidikan yang memadai, tidak memperoleh keterampilan yang cukup apalagi mumpuni. Nah, ketika kondisi demikian terjadi maka penduduk usia produktif akan menjadi pengangguran dan sudah barang tentu bakal ada konsekuensinya. Antara lain, kejahatan maupun angka kriminalitas yang melibatkan anak-anak usia muda.

Berdasarkan Sensus Penduduk (SP), jumlah penduduk Indonesia mengalami kenaikan menjadi dua kali lipat selama hampir 40 tahun, dari sekitar 118 juta jiwa pada 1971 menjadi 237 juta jiwa pada 2010. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia dalam rentang waktu 1971 – 1980 yang mencapai 2,33 persen mengalami penurunan hingga menjadi 1,45 persen dalam kurun 1990 – 2000. Sedangkan pada periode 2000 – 2010, laju pertumbuhan penduduk mengalami kenaikan menjadi 1,49 persen.

Tabel Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia. (Sumber: BKKBN)

Tabel Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia. (Sumber: BKKBN)

Pengendalian dan pengelolaan kuantitas penduduk dilakukan melalui pengaturan kehamilan dan kelahiran. Dari aspek ini, dapat dikatakan Indonesia telah cukup berhasil dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui keberhasilan program Keluarga Berencana selama empat dekade terakhir. Tingkat kelahiran turun dari rata-rata 5,6 pada tahun 70-an menjadi 2,6 pada tahun 2012. Dampaknya, laju pertumbuhan penduduk (LPP) turun dari 2,32 pada kurun waktu 1971 – 1980 menjadi 1,49 pada tahun 2010. Tapi, meskipun LPP menurun, jumlah penduduk terus meningkat sebagai dampak dari demographic momentum.

“Akibatnya, saat ini Indonesia dalam masa bahaya, terkait LPP. Karena, sepuluh tahun terakhir ini, upaya kita untuk menurunkan LPP menjadi dibawah 2,6 adalah tidak berhasil. Tetap bertahan di 2,6 sehingga rata-rata orang Indonesia punya anak yang jumlahnya tiga, bahkan lebih. Bukan dua anak. Padahal, kalau anaknya berjumlah tiga orang, berarti kita menyediakan satu paket lagi untuk setiap keluarga Indonesia. Sementara kalau anaknya berjumlah dua, maka itu menjadi ideal. Jadi, saat ini LPP kita sudah dalam tahap krusial. Hanya saja, hal ini sepertinya mengalami kemandekan, sehingga kita perlu mencari cara lain yang harus dilakukan untuk mengerem LPP, selain KB, tapi juga mindset, kesejahteraan, pendidikan menyeluruh dan jaminan kesehatan,” jelas Abidinsyah dalam wawancara eksklusif dengan penulis usai acara.

Sementara itu, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional periode 2004 – 2014 menunjukkan peningkatan proporsi penduduk usia produktif (15 – 64 tahun) dan diikuti dengan penurunan proporsi penduduk usia nonproduktif (0-14 tahun dan 65 tahun keatas) akan menyebabkan penurunan rasio ketergantungan. Diperkirakan, jumlah penduduk usia produktif akan semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang. Dengan catatan, faktor kesehatan dan kualitas SDM mendukung terjadinya hal tersebut.

Indonesia punya Bonus Demografi. Hendaknya dapat dimanfaatkan dan tidak malah berubah menjadi Bencana Demografi. (Sumber: Makalah BKKBN)

Indonesia punya Bonus Demografi. Hendaknya dapat dimanfaatkan dan tidak malah berubah menjadi Bencana Demografi. (Sumber: Makalah BKKBN)

Selain itu, jumlah penduduk usia produktif yang bekerja semakin meningkat, tapi masih ada sejumlah penduduk usia produktif yang masih jadi pengangguran. Dengan proyeksi-proyeksi tersebut, Indonesia pada tahun-tahun mendatang dipercaya akan mendapatkan keuntungan dari kondisi Bonus Demografi.

Pada rentang 2020 – 2030, BKKBN memperkirakan, Indonesia akan memiliki jumlah penduduk dengan usia produktif yang harus dimaksimalkan agar dapat mengurangi kebutuhan dari penduduk usia nonproduktif.

Para ahli memperhitungkan, pada 2025, akibat cairnya es di kutub lantaran perubahan iklim (climate change) sebagai rentetan pemanasan global (global warming), maka yang paling menderita adalah negara-negara yang berada di garis khatulistiwa. Alasannya, air laut akan naik. Dampaknya, untuk Indonesia saja, diperkirakan bakal kehilangan sebanyak 2000 pulau akibat tenggelam. Dengan begitu, otomatis batas wilayah Indonesia akan juga hilang, alias menyempit. Sementara, jumlah penduduknya itu sendiri sudah banyak, maka makin sesaklah hidup di Indonesia.

“Karena itu, kesadaran bersama perlu tumbuh dari seluruh rakyat Indonesia bahwa, cita-cita setiap kita akan dapat terwujud ketika kita mulai dari yang kecil. Melangkah, kalau rasanya sudah memungkinkan maka ayo kita tambah tanggung-jawab kita. Bentuknya apa? Bisa berupa menambah biaya untuk anak, atau bisa juga menambah anak tetapi biaya tidak bertambah. Nah, lalu melangkah lagi. Hitung lagi, apakah uang yang kita miliki sudah bisa untuk dibagi kepada tiga anak, atau tidak? Kalau uang yang dimiliki dipaksa untuk dibagi tiga, bisa jadi yang dua anak akan bernasib tidak dapat melanjutkan sekolah, maka kalau begitu, pilihannya adalah cukup memiliki dua anak saja, tapi dengan catatan semuanya bisa menjadi orang-orang yang berhasil dan sukses. Inilah yang namanya tanggung-jawab,” tutur Abidinsyah yang mengawali karir sebagai Dokter Puskesmas di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara ini.

Tabel Tantangan Pembangunan Keluarga Masa Mendatang. (Sumber: Makalah BKKBN)

Tabel Tantangan Pembangunan Keluarga Masa Mendatang. (Sumber: Makalah BKKBN)

Ia mengingatkan, betapa beratnya kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya. “Tanggung-jawab orangtua tidak hanya melahirkan anak, tapi juga memastikan bahwa mereka akan menjadi anak-anak yang sakinah mawaddah warahmah, yang dengan doa dari anak-anak kita yang saleh dan salehah ini, maka nantinya insya Allah kita akan sampai ke surga. Sementara dengan doa kita saja, kita ini belum tentu bisa masuk surga,” terangnya.

Abidinsyah menyampaikan solusi, demi menghindari Bonus Demografi berubah menjadi Bencana Demografi. Yaitu, harus ada kesadaran bersama, untuk kembali melakukan pembatasan jumlah kelahiran anak.

“Harus ada kesadaran bersama, bahwa Indonesia ini adalah Negara Kesatuan, Negara Keluarga, Negara Budaya yang berasaskan Pancasila, dan kita sudah sepakat meski berbeda-beda tetapi tetap satu dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Maka ke-Ika-an itu harus nyata di masyarakat kita. Apa ke-Ika-an itu? Tak lain adalah kerelaan kita untuk merasakan kebahagiaan bersama. Kita lihat, dimana-mana, ada yang tidak beruntung, ada yang kurang beruntung, ada yang sangat papa, ada dhuafa, ini kan seharusnya tidak terjadi pada negara dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Ke-bhinneka-annya okey, inilah yang nyata terlihat, tapi ke-Ika-an itu adalah tujuan mulianya. Kita berawal dari ke-bhinneka-an, tapi sesungguhnya kita menuju ke satu Ika-an, yakni rasa senasib sepenanggungan. Kalau sudah seperti itu, mari kita jawab, kebutuhan negeri ini apa, ketika kemampuan ekonomi kita terbatas dan terus terbatas, maka yang bisa kita lakukan sekarang adalah batasi kelahiran,” papar mantan Sekretaris Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) ini.

Menurut Abidinsyah lagi, membatasi kelahiran anak berimplikasi pada target menjadikan keluarga berkualitas, sekaligus mencetak generasi emas, dan berpartisipasi aktif didalam pembangunan bangsa.

Kondisi Nasional terkait kependudukan. (Sumber: Makalah BKKBN)

Kondisi Nasional terkait kependudukan. (Sumber: Makalah BKKBN)

Lagi, kondisi Nasional terkait kependudukan. (Sumber: Makalah BKKBN)

Lagi, kondisi Nasional terkait kependudukan. (Sumber: Makalah BKKBN)

“Membatasi kelahiran bisa dilakukan oleh semua orang, bisa dilakukan semua keluarga. Tanpa harus kaya, sekolah atau tidak sekolah, juga tidak ada hubungannya dengan pengetahuan, teknologi, dan sebagainya. Hanya bermodalkan kesadaran, bermodalkan kebersamaan, maka dia sudah bisa ikut serta didalam pembangunan. Hal yang demikian tidak harus bertentangan dengan keyakinan keagamaan. Allah SWT tidak akan membuat kita berdosa karena kita tidak memiliki anak banyak, tapi Allah SWT akan meminta pertanggung-jawaban dari apa yang kita buat. Itu jelas. Nah, kalau kita membiarkan anak kita terlantar, bagaimana itu pertanggungjawabannya? Makanya, siapa yang akan membuat kita bisa masuk ke surga atau tidak ke surga, ya bukan kita, tapi anak-anak kita. Subhanallah,” urai mantan Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer Depkes RI ini.

Akhirnya, saat ini perlu digugah kembali kesadaran untuk mengikuti program Keluarga Berencana, yang nyatanya relatif mulai kurang diperhatikan. “Indonesia hanya bisa maju kalau penduduknya terkendali dan pertumbuhan ekonominya lebih cepat daripada pertumbuhan penduduk,” tukas Abidinsyah yang kini tinggal di bilangan Halim, Jakarta Timur.

Tangsel, Tuan Rumah Harganas XXII

Sementara itu, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany SH MH yang juga menjadi pembicara, menyampaikan kesiapan Kota Tangsel sebagai tuan rumah pelaksanaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-XXII. Harganas tahun ini mengusung tema: ‘Harganas Merupakan Momentum Upaya Membangun Karakter Bangsa Mewujudkan Indonesia Sejahtera’ . Adapun motto-nya, ‘Keluarga Berkarakter, Indonesia Sejahtera’.

“Tahun lalu, saya memberanikan diri dan mengajukan diri kepada Gubernur Provinsi Banten, untuk supaya Kota Tangsel bisa menjadi tuan rumah pelaksanaan Harganas yang ke-XXII. Ini menjadi moment yang sangat penting karena akan hadir, seluruh kawan-kawan dari Kabupaten/Kota se-Indonesia, juga Bapak Presiden maupun Wakil Presiden. Di usia Tangsel yang ketujuh ini, kami siap dan percaya diri karena semua fasilitas sudah siap dan tersedia untuk menyelenggarakan event dengan skala nasional,” tegas Airin.

Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany ketika menyaksikan langsung pemasangan logo terbaru pada unit mobil perpustakaan keliling milik Perpustakaan Daerah Kota Tangsel. Perpustakaan Daerah Kota Tangsel sudah tentu akan ambil bagian pada pelaksanaan Harganas XXII pada tahun ini. (Foto: Gapey Sandy)

Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany ketika menyaksikan langsung pemasangan logo terbaru pada unit mobil perpustakaan keliling milik Perpustakaan Daerah Kota Tangsel. Perpustakaan Daerah Kota Tangsel sudah tentu akan ambil bagian pada pelaksanaan Harganas XXII pada tahun ini. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut ibu dua anak ini, kegiatan Harganas bertujuan meningkatkan komitmen Pemerintah dan Pemerintah Daerah tentang pentingnya membangun pembangunan keluarga serta mengingatkan keluarga mengenai peran dan fungsi keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang berketahanan dan sejahtera.

Dalam paparannya Airin menjelaskan, kegiatan Harganas XXII sudah mulai dilaksanakan sejak Selasa (28 Juli 2015), dengan kegiatan berupa persiapan dan pengamanan. Dilanjutkan pada Rabu (29 Juli 2015) pagi, yang akan diisi antara lain dengan pemecahan rekor MURI 22 ribu pembacaan ikrar remaja penundaan usia perkawinan di Lapangan SmartFren, TerasKota, BSD; dilanjutkan dengan Seminar Peduli Kesehatan Ibu di Puspiptek, Serpong; Seminar Nasional Pembangunan Keluarga sebagai Implementasi Pembangunan Karakter Bangsa di Hotel Atria, Gading Serpong; dan sore harinya dilaksanakan Temu Kader terkait Harganas.

Pada Kamis (30 Juli 2015), rencananya akan dimulai dengan kegiatan Pembukaan Pameran dan Gelar Produk UPPKS, Pembangunan, dan Pasar Rakyat; Pameran Batu Mulia Nusantara; Festival Anggrek; Bakti Sosial Pelayanan Keluarga Berencana; Festival Palang Pintu; Kuliner; dan Jazz, serta masih banyak lagi. Semua terkonsentrasi di Lapangan Sunburst, BSD City.

Untuk Jumat (31 Juli 2015), ada acara Senam Keluarga Indonesia dan Gerak Jalan 5.000 peserta di Lapangan Cilenggang, Serpong; lalu pada sore harinya Pawai Budaya Nusantara di Lokasi Car Free Day, BSD City; dan Gala Dinner/Welcome Dinner di malam harinya.

Pada Sabtu (1 Agustus 2015), merupakan acara puncak peringan Harganas XXII, yang dijadwalkan akan dihadiri Presiden RI Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Widodo. “Acara puncak Harganas ke-XXII akan dilaksanakan pada 1 Agustus, di Lapangan Sunburst, BSD City, Tangsel. Di sana, akan ada panggung utama yang diisi dengan berbagai kegiatan termasuk pameran. Rangkaian acaranya, mulai dari seminar kesehatan, pemecahan rekor MURI 22 ribu pembacaan ikrar remaja penundaan usia perkawinan, pameran gelar dagang, pemberian sembako kepada 6.813 keluarga prasejahtera, pemberian hadiah sepuluh program PKK, kesenian Palang Pintu yang merupakan ciri khas Tangsel, penampilan Lenong, festival kuliner, pergelaran musik jazz, senam sehat dan gerak jalan bersama 5.000 peserta, pawai budaya nusantara, gala dinner dan welcome dinner bersama Dik Doank. Sedangkan acara puncak Harganas antara lain akan diisi dengan pembagian Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Sejahtera, juga pemberian hadiah-hadiah lainnya. Penutupan Harganas dilaksanakan pada 1 Agustus, dengan pameran gelar dagang juga hiburan,” ujar ibu dua anak, Ghifari dan Ghefira ini.

Airin menjelaskan, berbagai kegiatan sosialisasi yang telah dilakukan jajarannya bersama seluruh elemen masyarakat. “Diantaranya, melakukan kerjasama dengan BKKBN dan DPR RI, untuk menyelenggarakan diskusi mengenai pernikahan usia dini di Kampus Institut Ilmu Qur’an (IIQ), Ciputat. Pernikahan usia dini ini sangat mengganggu karena dapat memulai sesuatu yang tidak baik. Tetapi, apabila calon ayah dan calon ibu sudah dalam usia matang, maka hasilnya akan menjadi keluarga yang lebih baik. Selain itu, kami juga telah melakukan sosialisasi pentingnya keluarga kecil sejahtera, kami juga menerjunkan tim yang bekerja di lapangan bersama masyarakat dan swasta, kami melakukan juga gerakan-gerakan dalam rangka untuk mengurangi angka kelahiran,” urai Airin seraya menyebutkan, bahwa ada 5.000 kader Posyandu se-Tangsel yang merangkap kader Pos KB, dan intinya membantu Pemerintah dalam hal mewujudkan Program Keluarga Berencana.

Salah satu bentuk publikasi dan sosialisasi untuk sukseskan Harganas ke-XXII di Kota Tangsel. Terpasang spanduk berukuran besar di bunderan Pamulang, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu bentuk publikasi dan sosialisasi untuk sukseskan Harganas ke-XXII di Kota Tangsel. Terpasang spanduk berukuran besar di bunderan Pamulang, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Airin menambahkan, jumlah penduduk Tangsel saat ini, meningkat dari 1,2 juta menjadi 1,4 juta jiwa. Angka ini merupakan jumlah penduduk yang tertinggi se-Provinsi Banten. “Tapi setelah kita teliti, peningkatan jumlah penduduk ini bukan karena angka kelahiran, melainkan akibat arus urbanisasi. Apalagi, setelah musim Lebaran seperti saat ini, tentu akan lebih banyak lagi orang dari daerah datang ke Tangsel,” tutur walikota kelahiran Banjar, 28 Agustus 1976 ini.

Sekadar informasi, di usianya yang ketujuh, Kota Tangsel telah banyak meraih prestasi. Beberapa diantaranya, terkait masalah (administrasi) kependudukan. Misalnya, pada tahun 2013, Tangsel didaulat menjadi satu dari tiga Kota terbaik di Indonesia dalam hal pengurusan Akta Kelahiran oleh Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI), penetapan Kota Tangsel sebagai Kota Layak Anak (KLA) tingkat Pratama dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2013, bahkan Walikota Airin Rachmi Diany telah meraih penghargaan Manggala Karya Kencana dari Pemerintah Pusat melalui Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada Harganas ke-XX di Sulawesi Tenggara tahun 2013 lalu. Lainnya lagi, Walikota Airin Rachmi Diany yang meraih penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) 2014, kategori Madya yang secara simbolis diberikan langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise.

Turut berbicara, Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Pusat, Suyono Hadinoto MSc. Menurutnya, Harganas menjadi satu upaya untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya sebuah keluarga. Karena, keluarga adalah institusi terkecil yang menjadi tempat internalisasi atas delapan fungsi keluarga yang bisa disemaikan dalam sebuah keluarga. Sekali lagi, keluarga adalah institusi terkecil, tapi sekaligus merupakan institusi terpenting, karena dari keluarga bermuara semua kepribadian, kebudayaan, perilaku dan moral seseorang.

Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Pusat, Suyono Hadinoto MSc, ketika menyampaikan paparannya. (Foto: Gapey Sandy)

Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Pusat, Suyono Hadinoto MSc, ketika menyampaikan paparannya. (Foto: Gapey Sandy)

“Ketika kita bicara tentang Revolusi Mental dan pembangunan SDM, maka hal itu akan sangat jauh dari yang diharapkan jika kita tidak memperhatikan pembangunan keluarga. Selain itu, keluarga juga menjadi hal yang penting dalam menciptakan human security terutama di Jakarta. Ironisnya, setelah saya analisa lebih jauh hingga ke lapangan, menurunnya human security di ibukota terjadi karena anak-anak yang broken home, dimana jumlah mereka cukup tinggi yaitu 80 persen. Bahkan, tidak sedikit anak-anak yang ketika ditanya “Kamu siapa?”. Mereka hanya menyebut namanya, tanpa tahu siapa pula ayah dan ibunya. Inilah produk dari keluarga yang broken home, yang ujungnya berimbas pada menurunnya human security di kota-kota besar,” urai Suyono.

Ketika banyak pihak menyuarakan pentingnya revolusi mental, menurut Suyono, wujudnya bisa berupa perubahan perilaku yang serba kurang peduli dan individualis kepada kegotong-royongan dan perilaku peduli pada orang lain. “Tapi, bagaimana seseorang itu peduli dengan orang lain, peduli pada keluarga lain, apabila diri dan keluarganya sendiri saja masih bermasalah. Artinya, revolusi mental harus berlandaskan keluarga kecil berketahanan dan sejahtera,” tuturnya mantap.

Penyerahan kumpulan tulisan Kompasianer Tangsel

Di sela acara, ada penyerahan “bingkisan” untuk Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, berupa kumpulan sebanyak 45 tulisan Kompasianer Tangsel, yang diberi titel ‘Mata Pena’ Untuk Tangsel Lebih Baik. Kliping setebal 322 halaman ini adalah karya tulisan 11 Kompasianer yang bermukim di Kota Tangsel dan sekitarnya. Adalah Kompasianer Ngesti Setyo Moerni yang menyampaikan langsung kumpulan tulisan dengan beragam tema seputar Kota Tangsel ini, langsung kepada Walikota Airin. Tepuk tangan para hadirin pun membahana, sebagai bentuk apresiasi bagi ide cerdas Kompasianer Tangsel.

Kompasianer Ngesti Setyo Moerni menyerahkan kliping kumpulan 45 tulisan Kompasianer Tangsel, kepada Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany. (Foto: Gapey Sandy)

Kompasianer Ngesti Setyo Moerni menyerahkan kliping kumpulan 45 tulisan Kompasianer Tangsel, kepada Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany. (Foto: Gapey Sandy)

Bagi Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, media sosial blog sekaliber Kompasiana, bukan sesuatu yang asing lagi. Maklum, Walikota Airin sebenarnya adalah juga seorang Kompasianer. Tercatat, ia bergabung dengan Kompasiana sejak 9 Februari 2010.

Sukseskan pelaksanaan Harganas XXII di Kota Tangsel … !

o o o o O o o o o

* Artikel ini dimuat di KOMPASIANA edisi24 Juli 2015, untuk diikutsertakan pada Lomba Blog Harganas XXII tahun 2015 bersama BKKBN.