TK 020

Tomyam Kelapa, kuliner ala Thailand yang menggugah selera. (Foto: Gapey Sandy)

Rasa pedas dan asamnya begitu dominan. Kuah Tomyam yang disajikan dalam batok kelapa berwarna oranye kemerahan, pertanda pasta “sayur asam” ala Thailand ini memang menggoyang lidah. Rempah-rempah yang jadi bumbu sajian Tomyam Kelapa, seperti daun jeruk, bawang bombai, dan daun ketumbar pun timbul tenggelam bersama potongan seafood.

Di House of Tomyam yang berlokasi di Jalan Sulawesi Raya No.19 atau di area parkir lapangan tenis Kompleks Villa Bintaro Indah, Jombang, Ciputat, Kota Tangsel ini, selain menu Tomyam Kelapa Seafood, pembeli juga dapat memilih varian lain. Misalnya, Tomyam Kelapa Daging, Ekor, Iga, Campur, Ikan, Udang, Cumi, Ayam, dan Sayur.

Oh iya, selain disajikan dalam wadah batok kelapa, pelanggan juga dapat memesan Tomyam Mangkok. Sesuai namanya, wadahnya ya pakai mangkok, tidak lagi batok kelapa. Varian menunya tetap sama seperti Tomyam Kelapa.

“Selain menu Tomyam dengan berbagai varian, sajian andalan kami lainnya adalah Kwetiau Kungpao. Pelanggan kami suka dengan Kwetiau ini karena tidak seperti yang lainnya, disini Kwetiaunya digoreng lebih dulu. Varian menunya pun macam-macam, ada Kwetiau Kungpao Spesial, Daging, Seafood, Udang, Cumi, Ayam, Bakso, Sosis, dan Kwetiau Kungpao Sayur,” tutur Bahaudin (34), pemilik House of Tomyam.

TK 023

Tomyam Kelapa, sekali coba pasti ketagihan. (Foto: Gapey Sandy)

Nah, Kwetiau Goreng biasa pun tersedia juga di kedai yang persis berada di dekat gerbang perumahan Villa Bintaro Indah ini. Varian Kwetiau Gorengnya sama dengan Kwetiau Kungpao. Ada juga menu Nasi Goreng dengan macam-macam pilihan, mulai dari Spesial, Seafood, Udang, Cumi, Daging, Sosis, Ayam, Bakso, dan Nasi Goreng Telur.

Bukan cuma Tomyam saja yang disajikan dalam batok kelapa, bahkan menu andalan lain seperti Bakso dan Mie Ayam pun bisa disantap pengunjung menggunakan batok kelapa. Unik, tapi tak mengurangi kelezatannya sama sekali. Malah, ada sensasi tambahan dari sekadar makan di mangkok biasa. “Pengunjung juga menikmati sensasi mengerok daging kelapa yang masih menebal di batok kelapanya. Jadi, selain air kelapanya dijadikan bahan baku masakan, batok kelapa plus daging kelapanya juga siap disantap. Ini sensasi tambahannya,” kata pengusaha muda yang masih lajang ini.

Berguru ke Negeri Jiran

Perkenalan Baha — sapaan akrab Bahaudin — dengan Tomyam, bermula ketika ia bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ia menjadi staf perusahaan ekspedisi atau jasa kurir pengiriman barang.

“Waktu bekerja di luar negeri itu, kami para karyawan, setiap hari Jumat selalu memperoleh jatah makan gratis di rumah makan Thailand. Nah, kebetulan menunya adalah Tomyam Kelapa. Waktu itu, menu ini begitu unik dan memikat hati saya. Apalagi memang, Tomyam Kelapa boleh dibilang masih jarang dan sulit sekali ditemukan. Itulah awal kisah saya kenal Tomyam Kelapa,” ujar Baha yang asli dari Cilacap, Jawa Tengah dan kini menetap di Tangsel.

TK 003

House of Tomyam di Villa Bintaro Indah, Jombang, Ciputat, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Pendek kata, Baha benar-benar kepincut sajian kuliner Tomyam Kelapa. Bahkan sesudah ia kembali ke tanah air dan bekerja di perusahaan ekspedisi juga, pikirannya masih menerawang jauh ke Malaysia. Ia ingin sekali menguasai cara pembuatan Tomyam Kelapa.

Ketika ada kesempatan untuk balik ke Malaysia lagi, Baha pun tidak sia-siakan waktu. Ia “berguru” pada chef di rumah makan ala Thailand itu. Ia secara khusus mendalami segala hal mengenai Tomyam Kelapa, mulai dari bumbu, resep rahasia, sampai ke cara pembuatannya. “Semua hal yang ingin saya ketahui selalu diberitahu oleh chef di sana. Mereka tidak pelit berbagi ilmu memasak Tomyam Kelapa. Karena toh mereka pikir, saya bukan calon pesaing mereka. Apalagi, saya berkewarganegaraan Indonesia. Jadinya, saya senang bisa diajarkan cara membuat Tomyam Kelapa sampai sedetil-detilnya,” urai Baha seraya menyebut bahwa pada 18 Maret 2017 nanti, House of Tomyam akan genap berusia dua tahun.

Sekembalinya ke tanah air lagi, Baha mulai menekuni usaha kulinernya. Melalui bantuan permodalan dari pemilik perusahaan ekspedisi tempatnya bekerja, Baha mulai membuka House of Tomyam. Ia menjajakan Tomyam Kelapa, kuliner yang semaking nge-hits di Kota Tangsel dan sekitarnya.

“Tapi, tentu saja ada sedikit perubahan yang saya lakukan terhadap olahan masakan Tomyam Kelapa ini. Kalau di restoran ala Thailand itu, dua rasa yang sangat dominan, sudah pasti adalah pedas dan asam. Nah, di House of Tomyam ini, saya agak sedikit saja mengurangi dominasi rasa keduanya. Tetapi jangan khawatir, cita rasanya secara umum tetap lezat tak terkira,” ujar pria ramah senyum ini.

TK 022

Pengunjung menikmati suasana di House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

Rempah-rempah yang dipergunakan tetap sama, mulai dari daun jeruk, bawang bombai, daun ketumbar dan sebagainya. Bahkan, Baha pun mengimpor secara khusus pasta Tomyam yang dipergunakannya.

“Mengapa saya impor? Saya mencari pasta Tomyam di Indonesia, yang bisa sejenis dan secita rasa seperti yang ada di restoran ala Thailand di Malaysia sana, hampir tidak ada. Kalaupun ada, harganya begitu mahal padahal ukurannya hanya sedikit saja. Harga pasta Tomyam impor ini, Rp 1,5 juta per tiga kilogram. Inilah juga yang menjadi alasan bahwa menu Tomyam di sini, begitu amat sangat bercitarasa tinggi,” tegasnya berani jamin.

Menurut Baha, secara bisnis, House of Tomyam belum berhasil balik modal, Break Even Point (BEP). Semua masih berjalan sesuai standar dan biasa-biasa saja. “Saya pikir, secara global para pengusaha, termasuk teman-teman saya yang juga berkecimpung didunia usaha pun mengalami nasib yang sama. Bisnis kami fluktuatif, naik dan turun. Itu biasa ‘toh,” jelasnya.

Meski demikian Baha bersyukur, ada aplikasi ojek online yang dapat melayani pelanggan Tomyam Kelapa. “Kami sudah ada di layanan GoFood dan GrabFood. Jujur saja, pelanggan yang memesan pembelian secara online, lebih banyak dibandingkan dengan yang datang langsung ke sini. Saya bersyukur sekali. Bahkan, ada pelanggan yang memesan dari kawasan sekitar kampus UI Depok sana, dan frekwensi pesanannya sampai sembilan kali,” tukas Baha penuh syukur.

TK 018

Bahaudin (34) sang pemilik House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

Karena melayani pesanan melalui ojek aplikasi online inilah, Baha dengan begitu tangkas menyediakan layanan pengantaran secara begitu rapi dan cermat. Pelanggan yang memesan Tomyam Kelapa, maka batok kelapanya akan dibungkus dengan plastik secara wrapping, atau mirip seperti kita me-wrapping koper atau tas di bandara.

“Layanan pengemasan ini begitu cermat kami lakukan, sehingga Tomyam Kelapa pernah dibuktikan sendiri bisa tahan sehari semalam. Pelanggan kami ada yang membawa ke Bandung, tanpa dibekukan, dan ternyata dalam sehari semalam masih baik untuk dikonsumsi. Hal ini karena Tomyam Kelapa hanya menggunakan air kelapa, tapi tidak sama sekali menggunakan santan kelapa. Selain itu, ada yang bilang, batok kelapanya ini juga yang membuat jadi awet. Karena toh, kami juga tidak sama sekali memakai bahan pengawet apapun,” ujarnya.

Berharap Bantuan Pembinaan Wirausaha

Siapa sangka, dibalik sosok Bahaudin yang sederhana dan santun, ia pekerja keras dan selalu punya hasrat menggebu untuk mereguk berbagai pelatihan wirausaha. Belakangan ini misalnya, ia kerap tak bisa diganggu bila sudah hari Minggu. “Saya lagi ada kesibukan workshop, Mas. Temanya, Smart Business Map. Jadi, kalau teman-teman blogger dan Kompasianer mau ke House of Tomyam, bisa hari Sabtunya saja ya,” ujar Baha suatu hari di penghujung Februari kemarin.

Di restorannya, Baha memang selalu welcome bila blogger datang berkunjung. “Buat saya, kalau mereka mau menulis review tentang Tomyam Kelapa, saya sangat berterimakasih dan saya anggap itu sebagai bonus,” tukasnya seraya menyebut nama sejumlah blogger papan atas yang pernah berkunjung di House of Tomyam.

TK 015

House of Tomyam siap menerima pesanan ONLINE juga OFFLINE. (Foto: Gapey Sandy)

TK 007

Menu best seller lainnya, Kwetiau Kungpao. (Foto: Gapey Sandy)

Keakraban Baha dengan dunia blogging memang begitu melekat. Baha ini seorang blogger. Ia rajin mengunggah tulisan-tulisan bernasnya di blog pribadi yang ia kelola sendiri. Ini dia link blog milik Baha:  http://www.omsober.wordpress.com

Melalui blognya itu pula, Baha rajin bertukar pandangan mengenai bisnis! Salah satunya, ia menulis tentang Playing Field sebagai ilmu dasar bisnis di Smart Business Map. “Dulu ketika masih jadi karyawan di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang, bisnis menurut saya ‘tuh mudah saja. Eh enggak tahunya setelah keluar dari perusahaan pengiriman barang dan menjalani bisnis itu sendiri, ternyata susah sekali. Kenapa susah? Jawabannya jelas karena belum tahu caranya,” tulis Baha dalam blognya.

Karena terdorong rasa ingin tahu bagaimana caranya menjalankan bisnis itulah, lanjut Baha, dirinya semangat sekali untuk mengikuti satu workshop di Yogyakarta, 18 – 19 Februari 2017. “Setelah mengikuti workshop itu, saya benar-benar terbuka arah dan tujuan, kemana dan dimana saya harus menjalankan bisnis yang saya tengah tekuni ini. Untuk mengenal bisnis yang saya tekuni ini, saya harus tahu dulu fundamental dalam berbisnis. Fundamental dari bisnis itu yaitu Playing field, Market landscape dan Operational profitability.,” jelasnya.

Baha pun menjelaskan salah satunya, yaitu tentang Playing Field yang gampangannya adalah merupakan medan bisnis atau tempat bisnis atau area bisnis yang tengah dikelola. Dalam Playing Field ada lima point yang harus diketahui dan dijawab, sehingga permasalahan bisnis yang dihadapi dapat dicarikan solusinya sesuai harapan.

TK 009

Proses pembuatan Tomyam Kelapa. (Foto: Gapey Sandy)

Kelima point tersebut adalah, pertama, What’s the problem? (Apa masalahnya?). “Kita itu harus tahu masalah apa yang akan coba kita kasih solusinya. Misal, lapar, haus, ngantuk dan lain-lain. Ini adalah masalah atau kebutuhan yang harus terpenuhi, jika tidak terpenuhi makan jadilah masalah. Di sinilah dibutuhkan solusi. Solusi lapar ya makan, solusi haus yang minum, solusi ngantuk ya ngopi atau tidur saja sekalian, pasti akan hilang masalahnya. Tetapi apakah solusi yang kita berikan itu sesuai dan pas dengan yang mempunyai masalah tersebut? Misalnya lagi nih, Tomyam Kelapa adalah solusi orang lapar tapi belum tentu orang mau diberi atau membeli Tomyam Kelapa karena berbagai alasan,” ujarnya.

Kedua, Who has the problem? (Siapa yang punya masalah), “Artinya kita bisa kaji yang punya masalah itu siapa, umurnya berapa, tinggalnya dimana, minatnya yang gimana, perilakunya gimana dan aspek-aspek lain dari yang punya masalah tersebut. Misal jualan Tomyam Kelapa di desa yang tertinggal (maaf). Ini jelas tidak pas, yang ada malah jadi tontonan saja,” tuturnya.

Ketiga, What’s Is Solution artinya solusi apa yang akan diberikan. “Misal, masih Tomyam Kelapa biar gambarannya mudah dengan  satu kasus. Tomyam Kelapa adalah solusi buat orang yang lapar. Tapi tidak semua orang yang lapar dikasih solusi Tomyam Kelapa, karena menu ini pas untuk orang yang di perkotaan, usianya antara 23 – 45, penyuka makanan asal Thailand, makanan asam, pedas dan unsur-unsur lainnya,” terangnya.

Keempat, How Big The Market. “Di point ini, berkaitan dengan pangsa pasar kita, yang artinya potensi pasar produk yang kita miliki. Misal pasar yang akan kita geluti sudah ada kompetitor yang bermain apa belum?. jika sudah ada berapa besar persentase peluang market kita di area tersebut,” urainya.

TK 014

Menu baru di House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

TK 021

Sensasi lain yang ditawarkan Tomyam Kelapa adalah mengerok daging kelapanya juga. (Foto: Gapey Sandy)

Kelima, Whats Factor Will Impact The Business. “Faktor-faktor yang akan berdampak pada bisnis atau usaha kita juga harus diperhatikan. Jangan sampai bisnis atau usaha yang sudah kita tekuni bertahun-tahun dan sudah mulai maju terus ada faktor-faktor yang tidak diperhatikan dan menghancurkan bisnis kita dalam sekejap. Misalnya, di bisnis makanan seperti Tomyam Kelapa, izin halal, izin SIUP, brand, supplier kelapanya, lauk pauknya, teknologi atau peralatan yang mendukung biar tidak kalah dengan kompetitor dan berbagai faktor lainnya,” kata Baha lagi.

Menurutnya lagi, lima point yang ada di Playing Field ini harus dijawab dan diperhatikan sebelum menjalankan bisnis. “Atau kita yang sudah menjalankan bisnis atau bidang usaha tetapi ternyata belum memperhatikan faktor-faktor dasar dalam suatu bisnis. Maka kita harus bener-bener setting ulang bisnis kita agar bisnis atau usaha kita sesuai harapan,” tuturnya.

Akhirnya, sebagai wirausaha muda  yang tengah menggeluti bisnis kuliner, Baha juga berharap Pemkot Tangsel bersedia memberikan bantuan pembinaan, perizinan, permodalan dan lainnya. “Sebagai contoh, saya mengalami sendiri, bagaimana perjuangan selama sepuluh bulan demi mengurus sertifikat halal dari LPPOM MUI Provinsi Banten. Saya ambil sendiri sertifikatnya ke Serang sana. Harapannya, segala hal terkait administrasi dan perizinan dapat mudah juga cepat,” asa Baha.

Jadi, kapan kamu mau mampir ke Tomyam Kelapa?

Iklan