2016_12_20_-_banner_blog_peserta

Blog Writing Competition Gamatechno

Bentuknya hanya seperti tiang biasa. Tingginya sekitar tiga meter. Paling atas adalah lampu sirene berwarna merah yang bisa menyala otomatis. Pada tiang tersebut ada tulisan besar-besar: EMERGENCY. Pada penampang tiang yang warnanya merah ini, ada satu tombol. Di bawah tombol berukuran sebesar biji karambol itu ada tulisan ‘Tombol Darurat : Untuk Meminta Bantuan’. Paling bawah lagi, ada panel yang juga dilengkapi tombol dengan ukuran lebih kecil, dan terdapat tulisan ‘Tombol Komunikasi : Hanya Untuk Berbicara’.

Ya, itulah layanan PANIC BUTTON yang disediakan pengembang properti Alam Sutera di kawasan Serpong, Tangerang. Tombol Darurat ini tersedia tidak hanya satu tiang, tapi ada banyak sekali jumlahnya, tersebar di banyak titik lahan residensial dan komersial. Siapa saja yang membutuhkan bantuan dapat menuju ke tiang emergency tersebut, lalu menekan tombol darurat, dan setelah itu tekan tombol komunikasi untuk berbicara melalui microphone yang tersedia di panel intercom tersebut.

Mau tahu berapa lama petugas akan datang sesudah kita menekan panic button tersebut? Mereka akan segera datang dan sigap memberi bantuan, antara lima sampai 10 menit saja sesudah kita menekan tombol darurat. Sungguh, sebuah layanan reaksi cepat yang cerdas. Maklum, Alam Sutera ini punya lahan seluas lebih dari 800 hektar. Bisa dibayangkan betapa luas wilayahnya, sehingga terasa urgent sekali bukan, layanan panic button yang dipasang pada setiap jarak 500 meter ini.

gt-ok8

Salah satu Panic Button ada di sebelah halte shuttle bus Sutera Loop di Mall Alam Sutera. (Foto: Gapey Sandy)

Eh, enggak cuma panic button, loch. Perumahan ini juga melengkapi fasilitas layanannya dengan memasang ratusan CCTV (Closed Circuit Television), kamera pengintai yang dapat merekam gambar dan suara. Jumlah persisnya “baru” ada 126 CCTV. Semuanya selalu dalam kondisi ‘on’ setiap saat, 7 x 24 jam secara real time tanpa henti. Dengan sebegitu banyak CCTV, jangan harap siapa saja yang membuang sampah, melakukan tindak kriminal, berlaku ugal-ugalan maupun kebut-kebutan mengemudi kendaraan di Alam Sutera bisa lolos. Semua terpantau!

Lha terus siapa yang memantau sebegitu banyak CCTV? Dimana pemantauannya? Bagaimana pemantauannya?

Pihak pengembang mempunyai satu unit kerja yang diberi nama Command Center, sebuah ruangan pengendali yang tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Di sini, seluruh jaringan PANIC BUTTON dan CCTV terkoneksi menjadi satu. Para petugas keamanan duduk menghadap ratusan layar monitor yang tersambung dengan CCTV di lapangan. Jadi, semua yang ada di area kawasan Alam Sutera dan termonitor CCTV, dapat langsung disaksikan sendiri oleh petugas secara “live” atau langsung.

Begitu juga ketika ada siapa saja yang menekan Panic Button di salah satu titik misalnya, maka dengan serta merta, layar monitor akan memberitahu secara langsung dan otomatis, pada titik lokasi mana ‘Tombol Darurat’ ditekan. Dengan begitu, staf di Command Center akan langsung menindaklanjuti panggilan emergency tersebut kepada seluruh petugas terdekat, agar segera datang ke “tekape”.

gt-ok7

Ada Tombol Darurat dan Tombol Komunikasi di panel Panic Button. (Foto: Gapey Sandy)

Begitulah layanan keamanan modern yang memadukan antara kerja manusia dengan piranti teknologi yang smart. Jangan tanya bagaimana semua itu bisa disediakan sampai sebegitu canggih, karena di seluruh area Alam Sutera, toh kita juga tidak bisa menemukan kabel-kabel CCTV maupun kabel yang sambung-menyambung antar Panic Button dengan Command Center terpasang awut-awutan. Pemasangannya begitu rapi, bahkan tak kelihatan sama sekali sambungan kabel-kabel yang malang melintang di atas kepala. Semua terpasang di bawah tanah.

Mengetahui bagaimana layanan Panic Button dan CCTV ini terpasang, tak berlebihan bila pihak pengelola menyebut bahwa, konsep pembangunan properti yang bersebelahan dengan jalan tol Jakarta-Merak ini sejak awal sudah menerapkan konsep Kota Cerdas, bahkan jauh sebelum istilah Smart City Indonesia makin “naik daun”. Maklum, Alam Sutera dikembangkan sejak 1994.

Nyata benar bagaimana pemanfaatan Teknologi Informasi yang diterapkan pihak pengelola properti, mampu menjadikan proyek yang dikembangkannya menjadi berkonsep Smart City.

Contoh lain atas pemanfaatan Teknologi Informasi pada Smart City adalah seperti yang dilakukan Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel). Melalui aplikasi online yang dinamakan “Smart Tangsel”, warga berkesempatan untuk menyampaikan langsung segala hal mengenai kejadian, peristiwa dan serba-serbi kewilayahan termasuk permasalahan kota.

gt-ok5

Tes menekan Tombol Darurat dan Tombol Komunikasi untuk mengetahui seberapa petugas keamanan akan segera datang. (Foto: Gapey Sandy)

Siapa saja, khususnya warga Tangsel dapat mengunduh aplikasi “Smart Tangsel” melalui telepon pintar. Kemudian, untuk pelaporan informasi dari warga, bisa dilakukan melalui tiga langkah mudah, pertama, capture yakni foto dan adukan temuan warga kota tentang kerusakan fasilitas, kemacetan dan penyakit masyarakat lainnya secara mudah. Kedua, submit atau ketik langsung keluhan warga kota untuk Pemkot Tangsel. Ketiga, share yaitu bagikan keluhan warga kota ke berbagai media sosial yang dimiliki.

Aplikasi ini terbukti menjadi penerapan teknologi informasi paling kekinian bagi warga kota untuk melaporkan segala hal kepada Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany (beserta jajarannya). Mari kita lihat beberapa contoh laporan warga tersebut.Warga kota dengan username irna irna umpamanya menulis dan mengunggah foto tentang genangan air di bunderan Pamulang. “Genangan air setiap kali hujan agak besar sehingga hanya tersisa satu jalur dan tidak pernah ada penanganan selama bertahun-tahun, tidak ada rasa care dari pihak terkait untuk mengatasinya,” tulisnya dengan nada kesal. Adapun foto yang diunggah irna irna sudah tentu kondisi genangan air tersebut.

Sementara itu, username dengan nama Imron Masfuri mengunggah foto tumpukan sampah yang berserakan di Jalan Swadaya, Kampung Parakan RT 4 RW 8 Pondok Benda, Pamulang, padahal di situ terpampang tulisan ‘Dilarang Buang Sampah Di Sini’. Ia menambahkan keterangan pada foto tersebut: “Sampah menumpuk sangat banyak, menyebabkan banyak lalat, nyamuk, bau tak sedap, dan berbagai penyakir. Mohon instansi terkait menangani sampah tersebut dan memberi sosialisasi tentang pembuangan sampah dan penangannya. Terima kasih. Sifat sangat urgent.”

gt-ok6

Hanya dalam tempo kurang dari 10 menit, petugas sudah berdatangan di lokasi warga yang melakukan tes menekan Tombol Darurat dan Tombol Komunikasi. (Foto: Gapey Sandy)

Beda lagi dengan pemilik akun bernama Budi Ariefin. Ia meng-upload foto kemacetan di perempatan Japos, Jurangmangu Barat. “Hal yang sungguh sudah biasa terjadi di Jurangmangu Barat, Pondok Aren adalah kemacetan di daerah yang dinamakan Prapatan, terutama pada pagi dan sore hari.”

Contoh lain, warga Tangsel bernama Ina Tanaya yang melaporkan banyaknya sampah dibuang sembarangan di sepanjang sungai yang ada di Jalan Parkit Raya sektor 2 Bintaro, Ciputat Timur. “Sungai sepanjang Parkit Raya sektor 2 Bintaro penuh tanaman liar dan sampah, potensi banjir jika tak dibersihkan,” tulisnya seraya mengunggah foto kondisi sebagian area sungai yang dimaksud.

Sedangkan Teguh Priyatno melaporkan topik Pelayanan Masyarakat, dalam hal ini menyangkut ancaman banjir. “Gorong-gorong jalan raya yang dialirkan ke arah Kompleks Pondok Benda Indah yang datarannya lebih rendah, sementara saluran air di bawah tidak mencukupi, jadi bisa menyebabkan banjir,” pesannya.

gt-ok2

Seluruh keberadaan kamera CCTV dan Panic Button yang ada di seantero Alam Sutera terhubung secara sentral dengan Command Center ini. (Foto: Gapey Sandy)

Segala hal yang disampaikan warga Tangsel melalui aplikasi ini menjadi sarana efektif dalam rangka memperpendek jalur birokrasi, mempercepat informasi, dan memudahkan komunikasi, antara warga dengan Ibu Walikotanya.

Bayangkan, bila tidak ada aplikasi Smart Tangsel yang cerdas seperti ini. Akan bagaimana cara warga Tangsel melaporkan segala hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya kepada jajaran Pemkot? Menurut pengelola aplikasi, Smart Tangsel adalah singkatan dari Selektif Mencermati Realita Tangerang Selatan.

Alhasil, Smart Tangsel—yang terkoneksi dengan web portal resmi Pemkot Tangsel, tangerangselatankota.go.id—menjadi sebuah bukti pemanfaatan teknologi terkini yang sarat manfaat. Dalam hal ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang penerapan dan aksesibilitasnya begitu memudahkan proses pembangunan kota. Hal ini disebebkan karena mampu memunculkan dan mengidentifikasi segala permasalahan di seantero kota, sehingga dapat cepat ditangani aparat dan instansi terkait. Dengan begitu, pada perkembangan selanjutnya mampu menjadikan wilayah Tangsel sebagai kota layak huni. Hal ini amat disadari Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, yang dalam banyak kesempatan, senantiasa mengingatkan pentingnya memanfaatkan teknologi. Bahkan, menurutnya, salah satu indikasi Kota Cerdas atau Smart City ialah keberhasilan pemangku kebijakan menerapkan teknologi dalam pengelolaan wilayahnya. Pun demikian, mantan Putri Pariwisata dan Putri Favorit pada Pemilihan Putri Indonesia 1996 ini menegaskan, teknologi bukan segala-galanya dalam konsep Smart City.

gt-ok3

Seluruh kejadian apa saja yang ada di Alam Sutera dapat dipantau langsung dari monitor pemantau kamera CCTV dan terkoneksi juga dengan Panic Button. (Foto: Gapey Sandy)

“Teknologi bukan segala-galanya dalam konsep Kota Cerdas. Teknologi hanya membantu para pemangku kepentingan pada level pemerintahan untuk mewujudkan konsep Kota Cerdas, khususnya mewujudkan kota yang layak huni. Kota Cerdas adalah konsep kota yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengidentifikasi masalah-masalah perkotaan dengan cepat. Paling penting dari itu semua adalah, bagaimana teknologi mampu memperpendek jalur komunikasi antara Pemerintah dan masyarakat. Kota Tangsel, kini tengah berupaya ekstra keras mewujudkan konsep Kota Cerdas itu melalui berbagai penerapan kemajuan teknologi,” ujar Walikota Airin.

Selain Smart Tangsel, saat ini Pemkot Tangsel melalui Dinas Kawasan Permukiman dan Pertanahannya tengah mengembangkan aplikasi online lain yang dapat memudahkan pengontrolan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU). Dengan aplikasi ini, apabila ada PJU yang rusak atau padam, maka warga tinggal melaporkannya melalui aplikasi yang harus diunduh terlebih dahulu. Mantap ‘to?

Oh ya, jauh hari sebelumnya Pemkot telah melakukan koordinasi untuk menerapkan pemanfaatan teknologi demi melayani publik. Berbagai terobosan dan inovasi layanan publik sudah diluncurkan. Misalnya, sistem anggaran elektronik (e-Budgeting) SIMRAL atau Sistem Informasi Manajemen Perencanaan, Penganggaran, dan Pelaporan Keuangan Daerah Terpadu yang dikembangkan bersama PTIK BPPT. Seperti dikutip bppt.go.id, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material, Hammam Riza menjelaskan, SIMRAL merupakan wujud inovasi Teknologi dan Informasi untuk membangun tertib administrasi dan terjaganya konsistensi data pembangunan daerah.

gt-ok4

Seperti inilah kondisi di Alam Sutera Command Center. Semua terpantau melalui layar monitor secara langsung selama 7 x 24 jam tanpa henti. (Foto: Gapey Sandy)

Dengan SIMRAL, pengelolaan program dan kegiatan pembangunan serta pengelolaan keuangan daerah dapat dipertanggungjawabkan juga transparan, sehingga tidak ada usulan rencana program dan kegiatan pembangunan daerah yang tidak diketahui asal-usulnya, maupun tidak diketahui siapa yang bertanggung-jawab terhadap usulan program kegiatan pembangunan daerah tersebut.

SIMRAL sangat praktis dan modern, terutama untuk mencatat dan mengolah hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), baik tingkat Kelurahan maupun Kecamatan. Dengan begitu, seluruh data perencanaan pembangunan yang berupa usulan kegiatan pembangunan dari hasil Musrenbang ini, dapat diakses masyarakat luas dengan menggunakan sistem e-Musrenbang.

SIMRAL juga telah digunakan Pemkot Tangsel untuk mencatat dan mengolah data anggaran pembangunan sejak Tahun Anggaran 2015 lalu, berikut penatausahaan keuangannya. Pengolahan data anggaran pembangunan atau RKA (Rencana Kerja dan Anggaran) ini acapkali dikenal dengan sebutan e-Budgeting, yang merupakan salah satu modul dari SIMRAL.

gtokok

Inilah aplikasi online Smart Tangsel yang dapat menjadi sarana informasi dan komunikasi dari warga kepada Pemkot Tangsel. (Foto: screenshot Smart Tangsel)

Begitu komprehensif manfaat SIMRAL yang mengintegrasikan antara data perencanaan pembangunan yang terdiri dari pencatatan dan pengolahan data Musrenbang Kelurahan/Desa, Musrenbang Kecamatan, forum SKPD, Musrenbang Kota, serta data RKPD, Renja SKPD, dengan penganggaran PPAS, RKA, DPA dan Anggaran Kas, serta penatausahaan atau pengelolaan keuangan sampai akuntansi dan pelaporan pertanggungjawaban.

Gebrakan Walikota Airin agar jajarannya mencari terobosan dan inovasi TIK terus bergulir. Bahkan sejak dua tahun belakangan, penerapan TIK sudah dilakukan untuk melayani sejumlah perizinan. Contohnya, Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Terpadu (Sisyandu), Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Terpadu Satu Atap (SIM PTSA), digitalisasi arsip, dashboard system, Sistem Pengawasan dan Pengendalian (Siwaspada), serta yang baru digulirkan yaitu Sistem Informasi Manajemen Perizinan Online (Simponie). Sebagai gambaran saja, dengan sistem Simponie, waktu penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dapat selesai hanya dalam satu hari. Sebelumnya, mau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan? Dua minggu!

Pemkot Tangsel juga sudah meluncurkan program aplikasi e-SPTPD, sebuah sistem online untuk memudahkan para pembayar pajak mengurus pajak daerah non Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), yakni berupa pajak Restoran, Hotel, Parkir, Reklame dan Air Tanah. Jelas, e-SPTPD merupakan upaya peningkatan pelayanan terhadap wajib pajak berbasis web, sekaligus merealisasikan Tangsel sebagai Smart City.

gtokok1

Contoh-contoh laporan yang diunggah warga melalui aplikasi online Smart Tangsel. (Foto: screenshot Smart Tangsel)

Apa yang disampaikan dan dibuktikan Walikota Airin untuk menjadikan Tangsel sebagai kota yang layak huni, senada dengan paparan praktisi telekomunikasi Indra Utoyo. Menurutnya, makna Smart City adalah satu, kota yang aman dari segala ancaman criminal dan potensi bencana. Dua, kota yang menyenangkan untuk hidup, bekerja dan dikunjungi. Tiga, kota yang berkelanjutan yakni tidak hanya untuk menarik orang luar, tetapi juga mempertahankan warganya untuk waktu yang lama. Empat, menjadi tempat bekerja yang efisien, mudah disinggahi, dan luwes untuk dikembangkan.

Guna merealisasikan makna tersebut, pengelola Smart City harus mampu menciptakan delapan komponen yakni Smart Citizen, Smart Healthcare, Smart Mobility, Smart Energy, Smart Building, Smart Security, Smart Government, dan Smart Infrastructure. (InfoKomputer, Mei 2015) Delapan komponen ini kesannya menjadi terlalu sempurna untuk diwujudkan. Apalagi, tidak ada alasan untuk menafikkan salah satu komponen, karena semua saling melengkapi alias tak terpisahkan.

Lagi-lagi, apa yang diutarakan Indra Utoyo senafas dengan hasil penelitian yang dikerjakan bersama antara Kompas dengan ITB Maturity Model bertajuk konsep Smart City. Penelitian tersebut diantaranya menyimpulkan, bahwa ada tiga alat atau tools perangkingan guna mewujudkan Smart City. Seluruhnya bermuara pada kemampuan untuk menerapkan Information and Communication Technologies (ICT) sebagai payung besar teknologi dimana mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi.

smart-city-001

Alat atau Tools perangkingan Smart City. (Sumber: Kompas – ITB Maturity Model)

Dari muara ICT inilah Smart City dikembangkan melalui tiga konsep, pertama: Smart Economy yang didalamnya meliputi urusan pusat bisnis, pendidikan, industri, dan sumber daya. Kedua: Smart Environment dimana mencakup energi, lingkungan, dan tata ruang. Sedangkan konsep ketiga adalah Smart Society yang meliputi masalah keamanan, kesehatan, layanan publik atau pemerintahan, transportasi, juga interaksi sosial digital.

Selain apa yang sudah dilakukan Tangsel, contoh model aplikasi Smart City Indonesia juga dapat kita sebut seperti misalnya, kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang telah lama melengkapi armada bus-bus TransJakarta dengan tracking system. Sistem ini mampu mendeteksi pergerakan bus demi bus, yang kemudian ditampilkan pada situs Smart City Jakarta, smartcity.jakarta.go.id. Tampilan ini dapat diakses oleh setiap pengguna TransJakarta, sehingga mempermudah untuk membaca posisi bus yang dinanti-nantinya. Selain posisi, tracking system juga dapat menjadi indikasi kecepatan bus yang artinya menjabarkan pula kondisi kemacetan arus lalu-lintas di ibukota.

Memang sih, soal moda trasnportasi ini belum secanggih seperti yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Paris di Perancis. Karena di sana, pada 23 Januari kemarin, bahkan sudah diujicobakan dua unit bus angkutan umum tanpa pengemudi (driverless). Sama seperti angkutan umum lainnya, bus ini membawa penumpang tapi tanpa ada supir, apalagi kondektur. Bus ini melaju di jalur khusus sekitar jembatan yang menghubungkan dua stasiun kereta di Lyon dan Austerlitz, timur pusat kota.

gt 003.jpg

Melakukan tapping ongkos bus TransJakarta. Salah satu wujud nyata dari Smart City adalah semakin sedikit menggunakan uang tunai, melainkan menggunakan uang plastik atau less cash. (Foto: transjakarta.co.id)

Biarpun tanpa pengemudi, tapi bus yang swakemudi ini memanfaatkan penggunaan teknologi canggih, seperti kombinasi laser dan kamera untuk mendeteksi benda-benda maupun orang-orang di sekitar kendaraan. Keren banget!

Yang juga menarik untuk disimak adalah kebijakan Pemkot Surabaya dalam menerapkan konsep Smart City. Tak hanya sukses menerapkan teknologi ICT demi melayani publik secara bertanggung-jawab dan transparan, tapi juga sudah banyak layanan yang memudahkan hajat publik karena ketepatan mengaplikasikan teknologi informasi. Tak tanggung-tanggung, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini bahkan berani menegaskan bahwa pihaknya selangkah lebih maju dalam menerapkan konsep Smart City.

“Sementara di Jakarta masih ribut e-budgeting, Surabay sudah menggunakannya sejak tahun 2002. Waktu e-procurement di Indonesia belum ada yang pakai, di Surabaya sudah dipakai juga sejak 2002,” jelasnya seperti dikutip InfoKomputer edisi Mei 2015.

gt-004

Tampilan laman milik Disdukcapil Pemkot Surabaya. (Sumber: lampid.surabaya.go.id)

Memang, seperti dikutip laman Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, e-government Pemkot Surabaya dikelompokkan menjadi dua, yakni pengelolaan keuangan daerah, dan pelayanan masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah meliputi e-budgeting, e-procurement, e-delivery, e-controlling, dan e-performance.

Sedangkan yang bertalian dengan pelayanan masyarakat atau e-sapawarga, antara lain mencakup e-perizinan, e-musrenbang, e-health, dan pengaduan elektronik melalui Media Center.

Cukup bangga rasanya melihat bagaimana kota demi kota di Indonesia saling mengujicoba dan mengalihkan program layanan konvensional yang sudah ketinggalan zaman menjadi layanan berbasis digital elektronik berbasis ICT. Semua demi mewujudkan Kota Cerdas. Ya, Smart City Indonesia. Bisa dibayangkan bila semua sudah menerapkan konsep Smart City, lalu dilakukan koneksi yang apik antar wilayah sehingga menjadi kesatuan yang utuh, dan berwujud menjadi Indonesia yang Smart Country.

gt-001

PT Gamatechno Indonesia ketika menerima sertifikat Manajemen Mutu ISO 9001:2015 di Yogyakarta, 30 Agustus 2016. (Foto: gamatechno.com)

Untuk menuju ke arah Smart Country jelas perlu perjuangan dan komitmen bersama. Utamanya, seperti yang pernah disampaikan Kepala UPT Jakarta Smart City, Alberto Ali, bahwa untuk mewujudkan Smart City dibutuhkan tiga pilar yang harus berkolaborasi, yaitu Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat.

Kalau sedari tadi kita sudah membahas bagaimana pilar Pemerintah dan Masyarakat saling mendukung guna mewujudkan Kota Cerdas di wilayahnya masing-masing, maka pilar berikut yakni Swasta, juga tidak boleh dilupakan.

Salah satu perusahaan swasta yang pionir dan dapat diandalkan guna mengembangkan produk maupun solusi teknologi informasi itu adalah PT Gamatechno Indonesia. Perusahaan ini berfokus pada pengembangan produk dan solusi teknologi informasi untuk segmen perguruan tinggi, lembaga pemerintah, perusahaan penyedia jasa transportasi dan logistik, serta industri lifestyle.

gt-002

Sertifikat Manajemen Mutu 9001:2015 yang diterima PT Gamatechno Indonesia. (Foto: gamatechno.com)

Layanan yang berfokus pada empat segmen utama tersebut selanjutnya didefinisikan sebagai gtSmartCity Solution, yaitu solusi berbasis sistem dan teknologi informasi guna mewujudkan sebuah Kota Cerdas dengan ciri less paper, less time, less cash dan less complexity untuk meningkatkan tatanan hidup masyarakat.

Untuk segmen perguruan tinggi, produk unggulan Gamatechno adalah gtCampus Suite yaitu sistem informasi terintegrasi untuk perguruan tinggi yang terdiri atas berbagai software modular yang dirancang sesuai dengan proses bisnis perguruan tinggi mulai dari pengelolaan penerimaan calon mahasiswa, pengelolaan perkuliahan mahasiswa hingga lulus, pengelolaan aset kampus yang meliputi aset sumber daya manusia, keuangan dan aset barang, perpustakaan, penelitian dan beasiswa hingga dashboard sistem untuk pimpinan kampus.

Untuk segmen lembaga pemerintah, beberapa produk unggulan Gamatechno antara lain: gtPerizinan (sistem pengelolaan pelayanan perizinan terpadu), gtAspirasi (sistem pengelolaan aspirasi masyarakat), serta aplikasi gtGroupware (sistem kolaborasi dan arsip perkantoran). Selain produk-produk tersebut, Gamatechno juga melayani pengembangan portal website lembaga dengan konsep citizen centric, serta pengembangan berbagai aplikasi berbasis web lainnya sesuai dengan kebutuhan lembaga.

ugm-1

Ilustrasi Smart City. (Sumber: ugm.ac.id)

ugm-2

Ilustrasi Smart City. (Sumber: ugm.ac.id)

Untuk segmen transportasi dan logistik, Gamatechno mengembangkan sejumlah produk unggulan bagi perusahaan atau organisasi yang bergerak dibidang layanan transportasi dan logistik, yaitu gtFleets (sistem informasi pengelolaan armada), gtSmartTicket System (sistem tiket elektronik berbasis smartcard), serta aplikasi mTransport (aplikasi mobile untuk informasi dan layanan transportasi publik).

Pada segmen lifestyle, Gamatechno mengembangkan produk-produk aplikasi back-end dan front-end untuk beberapa sub industri diantaranya taman hiburan dan wisata, pusat belanja dan entertainment, microfinance, dan industri kesehatan. Beberapa portofolio produk untuk segmen lifestyle ini antara lain eoviz.com (small & medium enterprises resource planning system on cloud), mEvent (aplikasi mobile informasi event), serta mCatalog (aplikasi mobile informasi katalog produk).

Akhirnya, banyak jalan untuk mewujudkan Smart City. Merengkuh status Kota Cerdas harus dimulai sejak dini. Karena kalau tidak, maka daya saing kota dan seisinya akan ketinggalan dan tergilas persaingan. (*)

Iklan