bat-1

Busana modis dan gaul dengan sentuhan batik etnik Kota Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Pakai batik? Siapa takut!

Ya, sekarang ini memakai batik bukan lagi sesuatu yang dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Malah sebaliknya, berbusana batik itu kekinian dan membanggakan karena menjunjung tinggi kekayaan budaya Nusantara.

Sebagai karyawan, pastlilah kita bangga dengan kebijakan yang menerapkan seluruh pekerja mengenakan batik pada setiap Jumat. Tak terkecuali, anak-anak sekolah yang juga memiliki seragam batik dan umumnya dikenakan tiap Kamis.

Saya sendiri termasuk yang betahan pakai batik. Buat saya, batik tidak cuma menjadi dress code ketika kondangan atau menghadiri pesta pernikahan saja, tapi juga pada beberapa kesempatan lain. Misalnya, ketika melakukan tugas peliputan lapangan yang formal maupun semi formal, atau menghadiri pertemuan bersama orang-orang yang lebih dihormati.

Ingatan saya jadi melayang ketika menghadiri udangan makan siang bersama Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara. Ketika itu, Sabtu 12 Desember 2015, saya bersama 100 blogger lainnya menikmati sensasi makan sop buntut olahan dapur Istana Negara. Semua memakai batik. Warna-warni. Kita para pria, necis dengan batik lengan panjang. Sementara yang wanita, beragam desain busananya tetapi tetap menampilkan motif batik.

bat-3

Mengenakan batik. Ketika bertugas mengikuti kunjungan kerja Kepresidenan di Kupang, NTT. (Foto: Sekretariat Kepresidenan)

setkabcoid

Berbatik ria ketika dijamu makan siang oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta. (Foto: setkab.co.id)

Kesempatan berbatik ria bersama Presiden Jokowi pun sempat terulang lagi. Kala itu, Presiden mengundang saya bersama seorang rekan untuk meliput kunjungan kerja Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta rombongan ke Nusa Tenggara Timur. Ikut agenda blusukan selama dua hari (27 – 28 Desember 2015), saya tetap nyaman menggunakan kemeja batik kemana saja rombongan kepresidenan berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara cekatan.

Uniknya, pada dua kesempatan berfoto dan bertatap muka langsung dengan Presiden Joko Widodo, beliau senantiasa tampil dengan ‘baju kebesarannya’ yaitu kemeja putih, yang di bagian ujung lengan agak digulung sedikit. Ya mau bagaimana lagi, itu pilihan Pak Jokowi yang memang sosoknya begitu humble juga sederhana. ‘Baju kebesarannya’ itu justru menyiratkan bahwa sebagai seorang pemimpin negara, beliau  akan selalu dalam keadaan siap dan sigap bekerja.

Oh ya, koleksi kemeja batik saya tidak melulu berlengan panjang. Beberapa punya lengan pendek. Biasanya, ini menjadi andalan saya kalau terjun ke lapangan yang  risikonya butuh gerak mobile mengejar-ngejar narasumber maupun tokoh penting untuk diwawancarai.

Intinya, saya mau bilang, berbusana batik itu nyaman, menyenangkan dan membanggakan. Selain, bisa klop dan simple untuk acara formal maupun informal. Batik? Pokoknya, gue banget! Eh, lagipula kalau mau dipikirin serius, Batik Indonesia itu ‘kan sudah memperoleh pengesahan dari UNESCO yang memasukannya kedalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Istilahnya dalam bahasa Inggris: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pengakuan dunia internasional ini diinskripsikan pada 30 September 2009, dan dikukuhkan pada 2 Oktober 2009. Itulah alasan kenapa kita memperingati Hari Batik Nasional acapkali 2 Oktober.

bat-15

Presiden Joko Widodo berbusana batik di Kupang, NTT. (Foto: Gapey Sandy)

bat-4

Abdi dalem Keraton Yogyakarta yang jadi jurukunci Pesanggrahan Ambarrukmo mengenakan kain batik. (Foto: Gapey Sandy)

Sebagai pecinta batik, saya meyakini bahwa ada tiga kriteria batik yaitu tradisional, etnik kreatif, dan gaul. Mari kita sedikit ulas. Pertama, batik tradisional. Ini merupakan batik yang khas Nusantara dan umumnya menjadi kekayaan budaya yang sudah melintasi banyak generasi turun-temurun. Ambil contoh, seperti yang pernah saya jumpai ketika dipamerkan di Museum Ambarrukmo, Yogyakarta. Sejumlah motif batik klasik yang begitu melegenda di wilayah setempat tersedia semua. Mulai dari motif batik Udan Liris yang pada masa lalu hanya boleh dikenakan oleh raja beserta keluarganya saja.

Juga, motif batik Barong Seling Nitik yang mencerminkan keberagaman tetapi bersanding menjadi satu sehingga menampilkan kekuatan sekaligus keindahan. Sedangkan motif batik Parang Parikesit mengandung arti pari yang berarti padi, dan kesit yang artinya bersih atau suci.

Sementara motif batik Semen Sidomukti mempunyai makna sido yang artinya jadi, dan mukti yang tak lain bermakna mulia. Artinya, siapa saja yang mengenakan motif batik ini diharapkan bakal menjadi sosok yang mulia. Biasanya, motif ini dipakai pada saat ijab kabul dan panggih pasangan pengantin.

Yang menarik, ada motif batik klasik yang dinamakan Gringsing Sudara Werti. Maknanya cukup mendalam. Gringsing diambil dari kata gering (sakit) dan sing (tidak). Jadi, bagi pengguna motif batik ini ‘diminta-minta’ untuk tidak mengalami kondisi sakit. Bagas waras, sehat selalu. Sudara Werti sendiri adalah seorang prajurit wanita perkasa yang sanggup menundukkan setiap musuhnya pada legenda kisah Wayang Menak.

bat-6

Motif batik Gringsing Sudara Werti. (Foto: Gapey Sandy)

bat-5

Pola batik Semen Sidomukti. (Foto: Gapey Sandy)

Ada juga pattern batik yang diberi tajuk Semen Wahyu Tumurun. Motif ini melambangkan harapan turunnya wahyu (anugerah). Maknanya sudah pasti berarti siapa saja yang mengenakan batik motif ini akan senantiasa mendapat anugerah, atau kejatuhan wahyu (kedunungan wahyu), sehingga dijauhkan dari segala godaan, rintangan dan halangan hidup.

Nah, paparan pattern batik ini baru dari legenda wilayah Yogyakarta saja. Indonesia yang terdiri dari ribuan suku dan adat, pasti juga memiliki legenda motif batik yang sama. Minimal, motif yang dipertahankan secara turun temurun itu memiliki makna dan arti filosofis tersendiri. Setuju? Harus dong!

Kedua, batik etnik kreatif. Sebenarnya motif batik ini hampir mirip dengan batik tradisional atau klasik. Tapi, etnik yang menjunjung tinggi motif kedaerahan ini umumnya baru ditampilkan atau ditetapkan. Meskipun, motif batik yang ditampilkan dan ditetapkan itu berasal dari ikon budaya setempat, maupun kekayaan alam juga tradisi lokal kewilayahan.

Enggak pusing membayangkannya. Begini, saya beberapa kali meliput kegiatan para pengrajin batik etnik tersebut. Bisa saya tampilkan di sini, misalnya Batik Etnik Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Motif batik kota ini begitu unik karena memadukan tiga unsur budaya yang memang hidup dan kental di lapisan masyarakat, yaitu unsur budaya Sunda (Jawa Barat), Betawi, dan China. Maklum, Kota Tangsel adalah kota otonom yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Secara demografi, Tangsel berbatasan wilayah dengan Sawangan (Depok), Kabupaten Tangerang, juga Jakarta Selatan. [Tonton VLOG-nya di sini].

nelty-3-batik-syari

Batik etnik Tangsel dengan desain baju syar’i. (Foto: Gapey Sandy)

nelty-kacang-sangrai-copy

Motif batik etnik Tangsel dengan pattern Kacang Sangrai. (Foto: Gapey Sandy)

Tapi, bukan berarti para pengrajin batik etnik di Tangsel kurang inovatif. Mereka justru mengangkat sejumlah ikon lokal yang ada. Sebut saja misalnya, motif batik Bendungan Situ Gintung, bahkan motif Kacang Sangrai pun ada. Lho, kok Kacang Sangrai? Ya, karena di salah satu kecamatan (Kecamatan Setu) yang ada di Tangsel, menjadi penghasil Kacang Sangrai terbesar dan berkualitas terbaik.

Ada juga pattern batik yang menggambarkan bunga Anggrek van Douglas. Ini bertalian dengan rencana dan keinginan Kota Tangsel untuk menjadikan bunga berwarna ungu ini sebagai lambang kota. Maklum, di kota ini banyak ditemui lahan perkebunan Anggrek, yang produksinya cukup berlimpah bahkan masuk ke sejumlah pasar bunga di ibukota. Dijumpai juga motif Golok Jawara, yang maknanya mengindikasikan begitu kuatnya unsur kewilayah Tangsel yang memang termasuk Provinsi Banten. Bukankah provinsi ini terkenal dengan kedigjayaan para jawara berikut golok sebagai senjata utamanya?

Bagaimana  dengan Batik Etnik Banten sendiri?

Wah, ini menarik. Saya pernah mewawancarai sosok Uke Kurniawan, yang pernah didaulat sebagai Guru Batik Nusantara oleh pihak Swiss German University. Menurut Uke, motif batik Banten umumnya tidak menggambarkan hewan atau binatang. Karena dari sisi syariat agama, masih banyak warga Banten yang belum dapat menerima hal itu.

Uke sendiri sudah mematenkan ratusan motif batik Banten, hasil penelitian dan kajian yang begitu mendalam, termasuk dengan menggandeng arkeolog dan kalangan akademisi terkait. Beberapa motif tersebut adalah pattern Madhe Mundu yakni nama tempat tata kota bangunan ruang istana siang keraton. Motif Kapurban yang secara filosofis merupakan nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Purba dalam penyebaran Agama Islam. Motif Surasaji yang artinya kejayaan pemerintahan kesultanan Banten hingga Sultan memperoleh gelar yang gagah berani.

bat-7

Sejumlah filosofi Batik Banten karya Uke Kurniawan di Griya Batik Banten di Cipocok Jaya, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

BAT 8.jpg

Motif Batik Banten diantaranya Kaibonan, Balekambang dan Pamaranggen. (Foto: Gapey Sandy)

Lalu, motif Pasulaman yang merupakan nama tempat dimana pengrajin sulaman berada di lingkungan Kesultanan Banten. Motif Kebalen yang bermakna nama tata ruang kota kesultanan Banten, tempat perkampungan masyarakat asal Bali. Ada juga pattern Tambakbaya yang secara filosofis berarti nama tata ruang istana bangunan ruang tempat penjagaan malam keraton. Motif Kawah Kawis yang artinya nama tempat vulkanisnya Gunung Krakatau membentuk lubang pada bebatuan karang menjadi kawah karang yang besar dan unik.

Pattern batik Paseban yang filosofinya berarti nama tata ruang kerja Kesultanan Banten tempat menghadap Sultan. Motif Pasepen yang bermakna nama tempat tata ruang istana tempat Sultan Maulana Hasanuddin melakukan meditasi di Kesultanan Banten. Atau, pattern Pasewakan yang secara filosofis bermakna nama tempat upacara sarasehan yang dilakukan oleh para raja atau sultan setiap Hari Senin di lingkungan istana.

bat-11

Batik etnik Rudi Habibie dan makna filosofisnya. (Foto: Gapey Sandy)

BAT 12.jpg

Batik etnik Rudi Habibie dengan filosofi maknanya. (Foto: Gapey Sandy)

Selain Uke, ada juga pengrajin batik etnik Banten lainnya. Sebut saja misalnya, seperti yang dikembangkan oleh pengelola Galeri Batik Keraton Banten. Galeri ini tentu mengeksplorasi motif keraton pada setiap pattern batiknya. Antara lain, motif Pilin Berganda. Ini merupakan ornamen yang diantaranya terdapat pada ukiran kayu untuk mimbar khutbah di Masjid Agung Banten. Ada juga motif Kipas yang dinukil dari ukiran masjid kuno yang ada di wilayah Caringin.

Eh, asal tahu saja, malah ada loch batik etnik yang diciptakan secara khusus untuk sosok seorang tokoh. Ini pernah saya jumpai ketika Pameran Habibie beberapa waktu lalu di Museum Nasional, Jakarta. Wastra Carita mempersembahkan sejumlah motif batik yang kemudian diberi nama Batik Rudy Habibie. Ada beberapa pattern didalamnya yang sarat filosofi. Mulai dari ‘Merengkuh Mega Mendung, Membiaskan Pelangi Inspirasi’ yang artinya begitu mendalam cinta Habibie pada Tuhan, dan negaranyalah yang mengilhami Rudy untuk menyuguhkan kinerja terbaik dan menginspirasi banyak orang. Filosofi lainnya yaitu ‘Parang Yang Pantang Untuk Karam’ sebagai perwakilan karakter Rudy yang tak pernah menyerah bagaikan ombak laut yang tak pernah berhenti beriak.

Jpeg

Ukiran di Mimbar Khutbah Masjid Agung Banten menjadi motif Batik Keraton Banten. (Foto: Gapey Sandy)

BAT 9.jpg

Motif Batik Keraton Banten yang dinukil dari ukiran pada mimbar khutbah yang ada di dalam Masjid Agung Banten. (Foto: Gapey Sandy)

Tak hanya itu, ada lagi filosofi batik ‘Manunggalnya cinta sejati dalam keabadian dan kesetiaan Sang Gurdho Angsa’, yang bermakna melambangkan kisah cinta Rudy dan Ainun yang bersatu dalam jiwa, cinta, mewujudkan hal yang terbaik untuk keluarga juga bangsa. Sedangkan batik berfilosofi ‘Bunga Wijayakusuma, Kemenangan Keluhuran Budi Pekerti’ berarti Wijayakusuma sebagai lambang wahyu, sesuatu yang langka yakni karunia Tuhan kepada Habibie.

Begitulah batik etnik kreatif. Hasil perancangan yang tidak sembarangan. Karya kreatif yang tetap mengacu pada kekayaan budaya bangsa. Sungguh luar biasa! Bangga dong, kita selalu berbatik ria.

Ketiga, batik gaul. Sesuai namanya, motif dan desain busana batik yang dikenakan mampu membuat sang user tampil kece, keren dan gaul abis. Saya sendiri sempat beberapa kali menjumpai beberapa kawan yang mengenakan batik dengan motif ukiran tradisional bersanding dengan motif kekinian. Apa misalnya? Ya, lihat saja, sekarang banyak kok dijumpai batik dengan embel-embel motif logo klub sepakbola internasional, mulai dari klub Barcelona, Real Madrid, Chelsea, Manchester United, Bayern Muenchen, Juventus dan masih banyak lagi. Batik-batik ini tentu saja digemari oleh mereka yang menjadi fans dari klub-klub sepakbola dunia yang tajir itu.

Itu cuma salah satu contoh kehadiran batik gaul yang biasanya membuat si pemakai begitu nyaman dengan gaya formal tapi casual. Santai juga gaul. Untuk melihat bagaimana batik gaul begitu kaya corak, motif, desain dan warna-warni yang menawan hati, silakan baca ulasan Inspirasi Batik Gaul, Kamu Tetap Bisa Berpenampilan Santai dan Gaul atau klik link ini: http://trivia.id/post/inspirasi-batik-gaul-kamu-tetap-bisa-berpenampilan-santai-dan-gaul

Saya pernah hadir dalam exhibition Batik Etnik Tangsel bertajuk The Everlasting Heritage belum lama ini di salah satu hotel yang ada di Bintaro. Ternyata, sejumlah busana batik etnik yang dipamerkan dan dikenakan para model, desainnya begitu gaul dan sangat chic! Meskipun memakai motif batik etnik Pesona Gunung Krakatau tetapi karena desain busananya young and trendy maka pemakainya terlihat modern, anggun lagi ciamik.

nelty-6

Batik etnik Tangsel dengan desain yang modis dan gaul. (Foto: Gapey Sandy)

BAT 14.jpg

Batik motif Pesona Krakatau bahagian dari Batik Etnik Tangsel dengan desain busana yang gaul. (Foto: Gapey Sandy)

nelty-10

Batik etnik Tangsel dengan tampilan desain busana modis muda dan bergaya. (Foto: Gapey Sandy)

Akhirnya, mari tetap dan terus mencintai batik. Kekayaan budaya bangsa yang satu ini tidak akan pernah kehabisan ide dan stock untuk dikenakan dengan padu padan tubuh juga aktivitas kita. Mencintai batik adalah mencintai prosesnya yang panjang, mulai dari mola, ngiseni (proses pemberian isian pada ornamen utama), mbatik, nembok (pemberian malam untuk warna) dan nglorod (menghilangkan lilin dengan air mendidih sebelum dijemur).

Mengutip apa yang dikatakan columnist Indy Hardono dalam salah satu buah penanya, batik itu adalah jiwa, dimana ada nafas doa pada setiap tarikan canting. Batik juga nation building yang harapannya mampu mengubah cara pandang, pikiran, karakter, sikap dan perilaku yang berorientasi pada keunggulan. Keunggulan manusia Indonesia sejati, tentu saja.

Semangat berbatik. Tabik!

Iklan