pembicara

Kiri ke kanan: Andreas Aditya (Co Founder Nebengers.com), Gandhy Inderayana Sastrayana (Digital & Online Communication Marketing Head Danamon), Iskandar Zulkarnaen (Asisten Manajer Kompasiana.com), dengan moderator Liviana Cherlisa (anchor Kompas TV). (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu karakter konsumen Indonesia, menurut survei Majalah Marketing, adalah gemar bersosialisasi. Kegemaran ini semakin dipicu dengan menggunakan aplikasi media sosial. Sederhananya begini, coba tengok di smartphone kita masing-masing, setidaknya pasti ada aplikasi Facebook, Twitter, Line, bahkan WhatsApp! Dari beberapa aplikasi itu, tidak sedikit dari kita yang tergabung dalam lebih dari satu grup. Sebut saja misalnya, tergabung sekaligus dalam grup WhatsApp! alumni SD, SMP dan SMA. Itu minimalnya. Belum lagi, grup alumni universitas, Family Group, dan rekan-rekan kerja. Sayangnya, enggak ada grup para mantan, hahahaaa

Masih juga belum cukup, kadang kita bergabung lagi dengan “sosialita” lain. Misalnya, dengan komunitas blogging bagi seorang blogger, kelompok fotografi bagi penyuka potret-memotret, grup traveling bagi traveler, komunitas vlogger bagi penggemar vlogging, pecinta kuliner, biker, hijaber, otomotif, fashion, beauty dan segambreng lagi komunitas lain. Intinya, karakter masyarakat kita itu hampir semuanya senang berkumpul. Berkerumun. Membentuk komunitas!

Tak pelak, keberadaan komunitas yang notabene terdapat “kerumunan didalamnya” menjadi pasar yang sexy bagi para pemasar. Persis! Karena dengan menjangkau komunitas maka secara otomatis pemasar sudah langsung berada ditengah-tengah kerumunan pangsa pasarnya. Efektif? Jelas! Karena menurut survei tadi juga, karakter khas lainnya dari konsumen Indonesia, like it or not, yaitu suka ikut-ikutan, menjadi follower yang senang mencari referensi dari orang lain. Maka itu, bila pemasar berhasil “menyusup” diantara kerumunan didalam komunitas, kemudian berhasil pula meng-influence “pentolan” atau “selebriti” komunitasnya, bisa dipastikan para member bakal mudah “mengekor”. Gotcha!

mu-teropongbisnis-com

Komunitas penggemar Manchester United sumringah diterbitkan Kartu Debit Mastercard oleh Bank Danamon. (Foto: teropongbisnis.com)

Beraneka ragam komunitas yang tumbuh pesat di Indonesia, jumlahnya semakin menjadi-jadi dengan perantara media sosial. Ya, bisa dipahami. Orang tak perlu keluar rumah dan terjebak kemacetan hanya untuk “bergosip” dengan sesama rekan grup atau komunitas. Cukup japri, atau saling bersahutan komentar melalui dunia chatting yang ada di ujung jari menggunakan smartphone.

Bisa dibilang, sejak 2009, jumlah komunitas semakin meraksasa sebagai imbas dari penggunaan perangkat komunikasi berbasis teknologi digital yang semakin membuat nyaman dan memudahkan penggunanya. Maksudnya, ya tentu saja media-media sosial tadi. Nyaris untuk saat ini, siapa saja yang tidak memiliki akun di media sosial, dipastikan bakal kudet atawa kurang update, dan jauh dari kekinian. Pokoknya, ketinggalan zaman.

Tidak cuma sebatas pertemuan melalui jalur online dan tanpa fisik, malah kongkow-kongkow, nongkrong bareng, maupun nangkring bareng (seperti istilah yang dipopulerkan Kompasiana) juga tetap dilakukan banyak orang. Ini menggarisbawahi temuan riset tadi bahwa karakter khas konsumen Indonesia memang senang bersosialisasi. Bukti lain yang membenarkannya adalah semisal layanan gerai 7-Eleven di Indonesia yang berbeda dengan service di negara asalnya, Amerika Serikat, sana. Gerai-gerai swalayan ini di Indonesia, menambahkan layanan dengan menyediakan meja dan kursi untuk pelanggannya ber-kongkow ria, nongki, nongkrong bareng menghabiskan waktu meski hanya bincang ngalor-ngidul kurang keruan.

d-10-apjii

Sumber: APJII.

d-1

Sumber: We Are Social.

Bukti lain, bahwa masyarakat Indonesia suka bersosialisasi, kurang suka ber-sendiri-an? Mobil jenis Multi Purpose Vehicle (MPV) lebih laris di Indonesia ketimbang di negara-negara tetangga. Kenapa? Karena fungsinya menguatkan karakter khas konsumen Indonesia yang suka bepergian rame-rame. Beda dengan di Thailand, dimana mobil jenis kabin ganda lebih laku sebagai pendukungan transportasi berbisnis masyarakat di Negeri Gajah Putih ini. Beda lagi dengan di Malaysia, karena justru mobil tipe city car yang tidak berkapasitas besar malah mendominasi penjualan di pasar mobil.

Nah, paham ya, begitulah betapa sexy pasar komunitas di Indonesia! Apalagi yang sebarannya ada di lingkar platform media-media sosial.

Gemuk-nya pasar komunitas di media sosial juga bisa dibeslah dari kalkulasi angka. Hasil sigi lembaga pemasaran dan digital public relation yakni We Are Social yang berkantor pusat di Singapura memaparkan, sepanjang Q4 (kuartal keempat) 2015 kemarin, pengguna internet di Indonesia mencapai tingkat 34 persen bila dibandingkan dengan jumlah total populasi penduduk yang mencapai 251 juta jiwa. Menariknya, pertumbuhan penggunaan telepon seluler di Indonesia mencapai 281 juta, atau justru melebihi jumlah total populasi penduduknya.

d-2

Sumber: We Are Social.

d-4

Sumber: We Are Social.

Masih menurut We Are Social, hingga November 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 255,5 juta jiwa, dimana terdapat user internet aktif sebanyak 88,1 juta jiwa, user aktif media sosial diperkirakan mencapai total 79 juta jiwa. Pengguna media sosial aktif yang mengoperasikannya secara mobile menggunakan telepon seluler mencapai 67 juta jiwa. Secara keseluruhan, jumlah user layanan mobile seluler di sini menyundul angka 318,5 juta jiwa.

Sementara itu, untuk penetrasi media sosial, Indonesia berada persis dibawah tingkat rata-rata atau 31 persen. Kalah bila dibandingkan dengan Vietnam (47 persen) dan Filipina (40 persen). Khusus menyigi aplikasi Facebook, lembaga ini menyebutkan, jumlah pengguna aplikasi yang dibangun oleh Mark Zuckerberg ini untuk seantero Asia Tenggara mencapai 230 juta jiwa, dengan 200 juta diantaranya mengakses melalui telepon seluler.

Memang, angka ini sekadar taksiran yang berlandaskan metode penelitian juga perhitungan seksama. Karena, kalau mengacu pada estimasi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) disebutkan, bahwa pada 2015, pengguna internet di negeri ini mencapai 139 juta jiwa. Atau, naik 32 juta jiwa kalau dibandingkan tahun 2014 yang sebanyak 107 juta jiwa. (lihat tabel)

d-9

Sumber: We Are Social.

d-6

Sumber: We Are Social.

Tak ayal, komunitas-komunitas di media sosial jelas menjadi pasar yang sangat potensial. Karena, yakin saja, kuantitasnya bakal terus menggelembung seiring penggunaan internet di Indonesia yang diyakini akan terus bertumbuh. Salah satu fakta yang dapat memperkuat sinyalemen ini adalah kenyataan bahwa, meskipun penetrasi media sosial di Indonesia masih kalah dibandingkan Vietnam dan Filipina, tetapi pengguna Facebook di Indonesia malah menempati peringkat ketiga di dunia, sesudah Amerika Serikat dan India. Wow … luar biasa, bukan?

Komunitas, Memudahkan Sosialisasi   

Menyadari betapa suburnya lahan komunitas ini, industri perbankan tak mau ketinggalan untuk “bercocok tanam didalamnya”. Kini, perbankan seakan berlomba meninggalkan cara-cara lama dan praktik kuno layanan perbankan yang kaku, formal dan cenderung satu arah — pola komunikasinya — yakni (hanya) dari pihak perbankan kepada nasabahnya saja. Bank-bank, seolah berlomba untuk tidak ketinggalan menangkap peluang melalui komunitas di banyak platform media sosial. Dan, PT Bank Danamon Tbk menjadi salah satu bank yang tanggap akan hal tersebut.

Di usianya yang tahun ini menginjak 60 tahun, Danamon cekatan melakukan reformasi, adaptasi maupun transformasi. Perubahan signifikan ini diselaraskan dengan perkembangan zaman yang diwarnai dengan begitu implementatifnya penggunaan teknologi digital juga media sosial. Wujudnya? Bank Danamon menggancang tekad untuk menjangkau komunitas melalui media sosial.

Menurut Toni Darusman, Chief Marketing Officer Danamon, keberadaan komunitas dapat dimanfaatkan bank untuk mensosialisasikan produk maupun layanan Danamon. “Karena buat kami, komunitas adalah salah satu wadah untuk bisa mensosialisasikan produk Danamon. Karena di komunitas banyak anggotanya, juga ada transaksi keuangan, sehingga bisa lebih cepat bagi Danamon memperkenalkan bank ini kepada khalayak,” ujarnya ketika membuka acara Kompasiana Nangkring Bareng Bank Danamon yang bertajuk Mantap Melaju Menjangkau Komunitas Melalui Media Sosial, yang diadakan di Gedung Menara Bank Danamon lantai 22, Jakarta, pada Sabtu, 1 Oktober.

toni-darusman

Toni Darusman, Chief Marketing Officer Bank Danamon. (Foto: Gapey Sandy)

Mengapa mengincar komunitas? Indonesia itu, jawab Toni, negara yang sangat sosial masyarakatnya dengan berkomunitas dan melakukan kegiatan bersama-sama. Berbagai macam komunitas ini pasti punya kesamaan, seperti hobi, bahkan gadget dan sebagainya. “Maka itu, kami ingin bisa menjadi salah satu tools bagi komunitas. Atau, dalam dunia perbankan, kami menargetkan Danamon menjadi bank yang bisa melayani komunitas, di mana saja berada dan kapan pun juga,” tutur pria berkacamata yang mengenakan t-shirt berkerah warna oranye ini.

Bagi Danamon, usia 60 tahun bukan berarti sudah berakhir masa pengabdian dan pelayanannya. “Malah justru sebaliknya, makin penuh semangat,” tukas Toni. “Apalagi sekarang ini, generasi muda sudah bertipe milenials. Karakteristik, kebutuhan dan  interaksinya sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka akrab menggunakan gadget, memanfaatkan media sosial dan adaptif dengan teknologi digital dan sebagainya. Nah, disinilah Danamon harus ada bersama mereka dan juga relevan. Apalagi, sebagai bank, Danamon  tentu harus credible, dapat dipercaya. Tetapi, bukan berarti juga bank itu harus berlaku secara kaku dan formal, melainkan musti relevan untuk pasar anak muda. Contohnya, kita sudah meluncurkan layanan aplikasi D-Mobile, sebuah layanan aplikasi mobile banking yang memudahkan nasabah melakukan aneka transaksi seperti transfer dana, pembelian dan pembayaran dari gawai. Karena itulah, sekali lagi, kami ingin Danamon menjadi pilihan utama dari pasar anak-anak muda sekarang ini.”

“Bermain” di pasar komunitas tidak selamanya menjanjikan. Karena, bisa saja, apabila terjadi sesuatu hal mengecewakan terkait layanan bank misalnya, maka pola informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut atau getok tular akan semakin memperparah nama baik dan image bank itu sendiri. Kekecewaan bisa saja muncul, misalnya karena sistem keamanan bank yang tidak aman sehingga mengakibatkan pembobolan dan merugikan konsumen.

toni-darusman-1

Toni Darusman, Chief Marketing Officer Bank Danamon. (Foto: Gapey Sandy)

“Dalam kaitan keamanan bank, kami menghimbau kepada para nasabah termasuk setiap anggota komunitas, untuk senantiasa menjaga informasi pribadi. Jangan men-share PIN, username dan lainnya. Juga harus terus melakukan kehati-hatian dalam bertransaksi dan melakukan akses di dunia digital. Sebenarnya, dunia digital perbankan sangat membantu dan memudahkan. Sistem keamanan perbankan itu sudah sangat ketat, dan kami selalu memberikan dan memastikan bahwa sistem di Danamon pun sudah aman,” jamin Toni.

Harus Mendengar dan Bangun Cerita Bersama

Sementara itu, Gandhy Inderayana Sastratenaya, Digital & Online Communication Marketing Head Danamon yang menjadi salah seorang pembicara menandaskan, teknologi digital dan menjamurnya penggunaan media sosial membawa banyak perubahan karakter, bahkan terhadap perbankan. Makanya, bank harus mengubah mindset-nya seirama dengan perkembangan multimedia tersebut. Tak bisa lagi, bank itu melayani nasabahnya dengan kaku dan formal.

“Persepsi yang terbentuk selama ini adalah dunia perbankan itu kaku dan formal, tetapi karena trend sudah berubah, maka kini persepsi tersebut harus diubah. Istilahnya, kalau dulu kita meyakini bahwa dunia itu bulat, maka kini tidak lagi, karena dunia saat ini sudah datar atau flat. Maknanya adalah, secara digital bila ada kejadian sesuatu di belahan bumi mana pun, maka seluruh orang akan dengan cepat mengetahuinya. Contoh, peristiwa penembakan warga sipil di Paris, Perancis, yang berubah menjadi isu dunia hanya dalam hitungan detik. Semua moment adalah milik dunia berkat perkembangan teknologi digital dan media sosial yang begitu cepat,” papar Gandhy.

gandhy-indrayana-sastratenaya

Gandhy Inderayana Sastratenaya, Digital & Online Communication Marketing Head. (Foto: Gapey Sandy)

Ia mengingatkan, Danamon jangan mau bernasib seperti dinosaurus yang tidak adaptif dengan perubahan zaman. Sehingga akibatnya punah dan tinggal cerita kenangan. “Industri perbankan dan Danamon terutama, harus melakukan transformasi dan adaptasi. Kalau dulu orang menyimpan uang di bank, maka kini sudah tidak lagi. Karena, pengelola aplikasi ojek online misalnya, juga bisa menerima penyimpanan uang, pembayaran uang dan sebagainya. Artinya, mereka sudah punya “dompet” sendiri-sendiri. Implikasinya, kini bank is not the only one yang punya kemampuan untuk mengelola keuangan. Kalau Danamon tidak mampu beradaptasi maka bisa saja bernasib memprihatinkan seperti dinosaurus yang tak mampu beradaptasi dengan segala perubahan,” tuturnya.

Diantara upaya melakukan perubahan konstruktif dan adaptif adalah bank harus banyak mendengar apa yang menjadi kebutuhan para (calon) nasabahnya. “Sekarang saatnya bank itu mendengar. Danamon masuk ke media sosialnya bertujuan untuk mendengar teman-teman semua sehingga kami bisa memahami lebih baik, apa yang diinginkan oleh teman-teman. Dulu, bank yang merasa paling tahu bahwa produk yang cocok untuk A adalah “ini”, dan tabungan yang tepat untuk si B adalah “itu”. Sehingga produk bank yang ada menjadi terbatas. Kini, semua itu harus diubah. Bank yang justru harus lebih banyak mendengar dan memenuhi kebutuhan sesuai harapan nasabahnya. Misalnya, akun media sosial @HelloDanamon yang merupakan layanan service dan product. Laporkan, semudah nge-tweet di Twitter, selama 24 jam seminggu penuh. Sehingga bank itu sekarang sudah tidak boleh “tidur”. Kami siap untuk mendampingi teman-teman semua. Selain itu, kami sadar bahwa masalah kecepatan layanan, begitu dibutuhkan untuk saat ini,” jelas Gandhy.

Setelah wajib mendengar, imbuhnya lagi, bank juga harus bersama-sama membangun sebuah cerita bersama, dalam hal ini antara Bank Danamon dengan komunitas. “Netizen itu seperti layaknya citizen, pasti mereka akan berkumpul. Nah, bagaimana cara kami bisa masuk dan bersosialisasi lebih cepat adalah melalui komunitas. Strategi masuk ke komunitas adalah blueprint yang tengah saya bangun dengan divisi Digital & Online Communication. Yang menjadi sasaran adalah interest daripada komunitas tersebut. Karena, komunitas itu berkumpul akibat interest yang sama. Nah, untuk itu kami akan jajaki mana layanan dan produk yang bisa kami berikan sesuai dengan interest dari komunitas tersebut,” tutur Gandhy dalam wawancara eksklusif bersama penulis.

d-11

Sumber: Twitter @HelloDanamon.

Terus-terang saja, divisi Digital & Online Communication Danamon baru dibentuk pada 2016 ini. Pembentukannya demi menjawab bahwa Danamon serius ingin menjangkau komunitas melalui media sosial. “Di usia 60 tahun Bank Danamon, kami melakukan banyak transformasi. Salah satunya dengan membangun divisi Digital & Online Communication pada 2016 ini. Sebagai jawaban bahwa Danamon memang serius untuk mengelola digital communication-nya. Bagi kami, sosial media adalah aset yang harus dikelola dengan baik,” ungkap Gandhy seraya menuturkan enam akun media sosial resmi yang dikelola Danamon.

.

Enam akun media sosial Danamon yang sudah terstruktur itu adalah:

  • @Danamon yang difokuskan untuk masyarakat yang ingin mendapatkan kabar terbaru mengenai akses informasi seputar korporasi, edukasi perbankan, kegiatan sosial dan lowongan pekerjaan.
  • @myDanamon yang menyediakan layanan khusus bagi siapa saja yang ingin selalu up to date dengan memperoleh referensi tentang gaya hidup terkini bersama Danamon, juga kiat cerdas mengelola keuangan personal.
  • @HelloDanamon merupakan layanan customer service 24 jam untuk menyuguhkan informasi, solusi atas produk maupun layanan Danamon.
  • @KartuDanamon adalah untuk mereka yang membutuhkan informasi kartu debit dan kartu kredit Danamon Visa, Mastercard, dan Amex.
  • Adapun dua akun media sosial lagi yaitu business banking, yakni @DanamonBiz dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan solusi, informasi cerdas dan wawasan dunia bisnis.
  • Dan, @DanamonDSP yang dikelola secara profesional untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan inspirasi dan tips dalam memulai serta mengelola usaha mikro.

.

Menurut Ganhdy, berinteraksi dengan komunitas tidak saja dilakukan melalui enam akun Danamon di media sosial itu, tapi juga tetap perlu interaksi tatap muka dan temu secara fisik dengan segenap komunitas. “Ini ‘kan manusiawi. Misalnya, dengan cara melakukan gelar acara Nangkring Bareng seperti yang dilakukan bersama Kompasiana. Selain itu, kami tak perlu khawatir untuk melayani beragam komunitas dengan beraneka strata. Karena, Danamon sudah memiliki semua produk yang kiranya dapat memenuhi kebutuhan segenap komunitas,” terangnya.

D 13.jpg

Sumber: Twitter @DanamonBiz.

Masyarakat, ujar Gandhy, pasti punya strata berbeda-beda. Sama juga dengan komunitas. Nah, Danamon memiliki semua produk yang dapat memenuhi kebutuhan mereka semua, mulai dari produk mikro sampai korporasi. “Makanya, aneka ragam strata masyarakat ini tidak menjadi masalah bagi Danamon karena memang sudah memiliki produk sesuai dengan banyak strata, tinggal masalahnya kami melakukan komunikasi bersama komunitas,” tuturnya sambil menegaskan tekad untuk menjadikan Danamon sebagai the most preferred bank untuk nasabah. “Kami ingin terpilih bukan karena nasabah terpaksa, atau kondisi yang mengakibatkan pilihan itu, tetapi nasabah secara sadar memilih kami, dengan alasan ingin menjadikan Danamon sebagai bagian dari cerita sang nasabah.”

Jangan Pasang Target Terlalu “Sadis”

Mengomentari strategi pemasaran Danamon yang di usia 60 tahun mengincar pasar komunitas, Iskandar Zulkarnaen selaku Assistant Manager Kompasiana berpesan, jangan terlalu terburu-buru acapkali Danamon menjangkau komunitas melalui media sosial.

“Pilihan strategi marketing yang diambil Danamon dengan menjangkau komunitas merupakan pilihan yang berani bagi sebuah bank mendeklarasikan diri masuk ke komunitas. Meskipun pilihan ini sudah didahului dengan mengidentifikasi dunia komunitas sekaligus mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi, sehingga malah menganggap hal demikian sebagai tantangan. Jangan terlalu ingin cepat-cepat, harus pelan-pelan dan sabar ketika masuk di komunitas. Saya juga ingatkan agar jangan terlalu memasang target yang “sadis”, harus melihat dulu apa yang sebetulnya bisa dan tidak bisa dilakukan oleh komunitas. Karena, tidak semua komunitas bisa dimasuki oleh Danamon,” pesan Isjet, sapaan akrabnya.

iskandar-zulkarnaen

Iskandar Zulkarnaen, Asisten Manajer Kompasiana. (Foto: Gapey Sandy)

Apa sih keunggulan komunitas bagi pemasaran industri perbankan?

Keunggulannya, kata Isjet, komunitas mampu menjadi pembela dari bank yang bersangkutan apabila menghadapi keluhan, complain atau serangan nama baik dari pihak pesaing maupun dari nasabah yang kecewa. Para member komunitas ini akan membela nama baik bank tersebut dengan bahasa yang lebih personal dan sama sekali jauh dari istilah ataupun diksi perbankan yang kaku.

“Selain itu, keuntungan perbankan dengan menjangkau komunitas adalah menempatkan posisi perbankan tersebut pada track yang benar yakni pada para calon nasabahnya sendiri. Kalau masuk ke komunitas, tanpa harus jualan, perbankan ini sudah membuka diri pada seluruh anggota komunitas, dengan memperlihatkan keunggulan, keramahan, keamanan, produk serta layanan perbankannya,” tutur Isjet.

Jangan Jadikan Komunitas Sekadar Komoditi

Kesiapan segenap komunitas yang siapa tahu bakal “dipersunting” Danamon, jelas menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola atau admin komunitas tersebut. Ibarat gadis yang hendak dinikahi pria pujaannya, tentu ia harus lebih dahulu berbenah diri juga bersolek. Pengelola Kompasiana(dot)com dan komunitas Nebengers(dot)com, termasuk yang membuka tangan lebar-lebar bila Danamon mengincar kerjasama saling menguntungkan, win-win solution.

Disadari atau tidak, komunitas juga butuh semaian ide dan inspirasi untuk tetap terus bertumbuh. Maka dari itu, kata Andreas Aditya, Co-Founder Nebengers[dot]com, seandainya Danamon merangkul komunitas, maka ini dapat menjadi angin segar yang memang sejak lama ditunggu-tunggu. Tapi, harapannya adalah kerjasama ini harus terhindarkan untuk menjadi komunitas hanya sebagai komoditi belaka.

andreas-aditya

Andreas Aditya, Co Founder Nebengers.com. (Foto: Gapey Sandy)

“Komunitas butuh bertumbuh. Komunitas butuh partner yang tidak serta-merta hanya menjadikan komunitas sebagai “komoditi” tetapi juga mampu memberdayakan. Artinya, Danamon dapat berperan sebagai “ayah” atau “orangtua” yang men-support komunitas, bukan dalam bentuk pemberian uang atau materi belaka, melainkan support dari sisi inspirasi, ide dan lainnya. Hal ini dapat terlihat pada enam akun media sosial resmi yang dimiliki Danamon,” tandas Beng-Beng, panggilan akrabnya.

Ia melanjutkan, berkomunitas itu berkumpul sesuai dengan interest dan passion para anggota. Hal ini dapat menjadi jembatan bagi perbankan untuk masuk ke dalamnya, dan menjadi cara untuk men-support komunitas, bukan sebagai “komoditi” tapi justru mitra kerja untuk sama-sama berkembang. “Meskipun, tak bisa dipungkiri, bahwa komunitas juga kadangkala “naik dan turun” dinamika kelanggengannya,” kata Beng-Beng yang juga menjelaskan bahwa komunitas Nebengers berdiri sejak 2013. “Kini sudah ada sekitar 59.000 member yang tergabung dalam aplikasi online. Mereka semua ada di lima kota, Jakarta, Solo, Bandung, Jogjakarta dan Surabaya. Insya Allah, akan terus bertambah lagi jumlahnya di masa mendatang.”

Oh ya, sekilas saja, Danamon baru-baru ini berhasil menyabet penghargaan. Misalnya, penghargaan MarkPlus WOW Service Excellence Award 2015 kategori Conventional Bank (Buku III) untuk cabang Medan, Aceh, Pontianak, Makassar dan Jayapura. Juga, penghargaan dalam acara tahunan “US Dollar Payments – Straight Through Processing Excellence Award 2015” di Jakarta. Penghargaan diberikan oleh bank korespondensi Deutsche Bank, Citibank, dan Standard Chartered Bank sebagai apresiasi pada Danamon berkat pencapaian STP Rate untuk US Dollar Payments pada periode tahun sebelumnya.

So, begitulah. Jangankan industri perbankan, sekarang ini siapa sih yang tidak tergiur dengan pasar komunitas yang tambur di media sosial? Ini juga barangkali, alasan yang membuat tim sukses salah satu pasangan peserta Pilkada DKI Jakarta, konon siap mengguyur cuan senilai Rp 4 miliar untuk “membeli pengaruh” di media sosial.

* * * * *

Tonton Video Blogging (VLOG) reportase Kompasiana Nangkring Bareng Bank Danamon.

Tulisan ini sudah diunggah lebih dahulu ke Kompasiana.

Iklan