BOSF Serge-1-1024x768.jpg

Seekor orangutan dalam program karantina dan rehabilitasi di BOSF. (Foto: Dok. BOSF)

[WAWANCARA] Saat ini, orangutan Sumatera dan Borneo semakin terancam punah. World Conservation Union (Daftar Merah IUCN 2007 / IUCN Red List 2007) mengklasifikasikan orangutan Borneo sebagai spesies yang terancam punah (endangered). Sedangkan orangutan Sumatera justru lebih parah karena sangat terancam punah (critically endangered).

Kedua spesies ini juga tercantum dalam Lampiran I Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES). Dengan begitu, baik di Indonesia maupun Malaysia, orangutan terlindungi secara hukum. Tapi, hukum dan peraturan saja jelas tidak cukup untuk melindunginya.

Konservasi orangutan memerlukan upaya yang komprehensif dan terintegrasi oleh seluruh pemangku kepentingan — baik di lapangan dan di arena politik. Hal ini untuk memastikan keberhasilannya.

Satu pihak yang terjun langsung dan berada di garda terdepan dalam upaya pelestarian orangutan Kalimantan adalah Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) atau biasa disebut juga Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Sejak 1991, organisasi non-profit Indonesia ini mendedikasikan dirinya guna melakukan konservasi orangutan Kalimantan (pongo pygmaeus) beserta habitatnya.

Banyak program yang dilaksanakan BOSF, antara lain: Program Reintroduksi Orangutan di Kalimantan Timur (di Samboja Lestari atau sekitar 38 kilometer dari Balikpapan), dan di Kalimantan Tengah tepatnya di Arboretum Nyaru Menteng atau sekitar 30 kilometer dari Palangka Raya; Program Konservasi Mawas; dan Program Restorasi Habitat Orangutan Indonesia.

Menjalankan fungsi sebagai pusat rehabilitasi orangutan, BOSF tentu berusaha mempersiapkan kembali orangutan kembali ke habitatnya yakni di hutan lepas Kalimantan, sebagai penjaga alam. Tugas ini menjadi bertambah berat manakala hutan-hutan di Kalimantan banyak yang digunduli, atau pun malah terbakar. Setelah menjalani masa rehabilitasi, orangutan akan dilepasliarkan kembali ke hutan.

Nah, bagaimana lika-liku BOSF menangani pusat rehabilitasi binatang yang terkenal sangat karismatik ini? Berikut, wawancara saya dengan Chief Executive Officer BOSF, Dr Ir Jamartin Sihite.

IMG_9063 copy.jpg900

CEO BOSF, Jamartin Sihite. (Foto: Dok. BOSF)

* * * [WAWANCARA] * * *

Berapa personil relawan yang kini bergabung dengan BOSF. Termasuk yang ada di Kalimantan? Bagaimana perekrutan, dan bila ada yang ingin bergabung dengan BOSF bagaimana prosedurnya?

Kami tidak memiliki jumlah relawan tetap. Dalam menerima relawan, kami mengutamakan mereka yang memiliki latar belakang khusus, yaitu kedokteran hewan, animal welfare, dan enrichment. Untuk bergabung dengan BOSF, peminat dipersilakan mengikuti kabar terbaru dari BOSF di berbagai media sosial seperti Facebook (BOS Foundation), instagram (@bosfoundation), atau laman kami, http://orangutan.or.id. BOSF selalu mengiklankan lowongan kerja di jalur media-media sosial kami.

Di dunia internasional, BOSF tergabung dengan organisasi induk apa? Bagaimana struktur dan keterikatannya?

BOSF murni LSM Indonesia yang secara struktural mandiri. Kami tidak berada di bawah organisasi apapun, namun BOSF membuka diri terhadap kerja sama yang mendukung konservasi orangutan dan habitatnya.

Relawan di Kalimantan, bagaimana “membiayai” kebutuhan mereka dan operasionalisasinya?

Relawan diminta untuk membiayai kebutuhan sehari-hari mereka sendiri. BOSF sebagai lembaga nirlaba tidak memiliki dana khusus untuk membiayai kebutuhan di luar kebutuhan utama kami, yaitu: biaya penyelamatan, rehabilitasi, dan kesehatan orangutan, serta dana operasional harian.

BOSF kejora 11-1024x736

Kondisi orangutan bernama ‘Kejora’, ketika pertama kali diselamatkan. (Foto: Dok. BOSF)

BOSF kejora

Kondisi ‘Kejora’ sesudah menjalani masa karantina. (Foto: Dok. BOSF)

Apa saja misalnya, cost yang harus dibiayai untuk mereka yang ada di lapangan? Berapa besar budget operasionalnya per tahun?

Dana operasional untuk kegiatan di lapangan sangat besar, dari pembiayaan kegiatan penyelamatan, pengadaan buah harian untuk pakan orangutan, pemeliharaan infrastruktur, biaya perawatan dan tindakan medis, logistik untuk tim pemantauan pasca pelepasliaran di hutan, kegiatan pemberdayaan komunitas, dan masih banyak lagi.

Alokasi dana operasional per tahun kami selalu meningkat per tahunnya, karena jumlah orangutan yang kami rehabilitasi selalu berubah, dan proyek-proyek yang kami laksanakan pun tidak tetap tergantung kebutuhan, seperti misalnya akibat kebakaran tahun lalu, BOSF harus melaksanakan restorasi lahan akibat Karhutla (kebakaran hutan dan lahan).

Secara kasar, kebutuhan dana kami tergantung dengan jenis program yang dilakukan. Untuk rehabilitasi orangutan saja, biaya yang dibutuhkan untuk seekor orangutan kurang lebih 35 juta per tahun. Komponen ini memang membutuhkan dana sangat besar. Jadi besarnya biaya operasional di lapangan khusus untuk program rehabilitasi orangutan, pada dasarnya sangat ditentukan berapa banyak orangutan yang ada di pusat rehabilitasi kami saat ini.

BOSF FOTO-3-FOTO-BAYI-YAYANG-CLOSE-UP-by-Luy-1001x1024.jpg

Bayi Yayang dalam memeluk induknya. So cute! (Foto: Dok. BOSF)

Berapa lokasi rumah orangutan yang dikelola BOSF di Kalimantan, dan di Kalimantan mana saja itu? Berapa luas lahannya?

Kami menyebut rumah orangutan ini sebagai pusat rehabilitasi orangutan. Kami punya dua, yaitu di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah Nyaru Menteng sebesar 380 hektar, dan di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur Samboja Lestari sebesar 1.800 hektar.

Di luar itu, kami juga mengelola lahan Kawasan Konservasi Mawas di Kalimantan Tengah seluas 309.000 hektar yang menampung sekitar 3.000 orangutan liar (populasi kedua terbesar di Kalimantan), Hutan Lindung Bukit Batikap di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah seluas 35.000 hektar sebagai tempat pelepasliaran 167 orangutan sejak tahun 2012 lalu; Hutan Kehje Sewen di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kertanagara seluas 86.400 hektar sebagai tempat pelepasliaran 45 orangutan sejak tahun 2012 lalu. Secara total kami mengelola lahan seluas lebih dari 430.000 hektar di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Pada 2016 ini, kami juga mulai mengelola lahan di beberapa wilayah baru, karena kami masih memiliki hampir 700 orangutan di pusat rehabilitasi kami.

BOSF Serge-2-1024x768.jpg

Relawan BOSF dengan seekor orangutan dalam pelukan. (Foto: Dok. BOSF)

Program-program apa saja yang dilakukan untuk orangutan selama di lokasi rumah orangutan ini sebelum dilepasliarkan?

Kami memulai dengan proses penyelamatan (rescue). Sebagian besar orangutan yang kami selamatkan adalah orangutan yang sangat muda ataupun bayi yang telah kehilangan induknya dengan segala kondisi. Ada yang sehat, ada pula yang sakit atau cacat. Bayi orangutan yang sakit atau cacat seperti ini kami karantina terlebih dulu untuk dipulihkan kondisinya.

Setelah kondisi orangutan dinyatakan sehat dan mampu, mereka akan bergabung dengan orangutan sehat lainnya di Sekolah Hutan sebagai bagian dari proses rehabilitasi. Di sini secara bertahap mereka akan mempelajari berbagai keahlian untuk bertahan hidup di hutan, dibantu oleh babysitter dan teknisi.

Sekolah Hutan sendiri terdiri dari beberapa kelompok umur, karena waktu yang dibutuhkan orangutan untuk bisa mandiri di alam liar sekitar tujuh sampai delapan tahun. Karena kami berusaha mengikuti pola ini, kami pun mendidik mereka selama kurun waktu itu. Lulus dari Sekolah Hutan, mereka akan masuk ke tahap lanjut untuk hidup di pulau pra-pelepasliaran. Di pulau ini mereka harus bersaing atau hidup bersama dengan orangutan lain. Kami menganggap tahap ini seperti layaknya “universitas” untuk orangutan.

Sejumlah orangutan yang paling siap akan dilepasliarkan (release) ke hutan. Areal hutannya sudah kami pilih dan jaga. Orangutan yang dilepasliarkan akan dijaga dan dipantau setiap hari oleh tim khusus. Hasil pemantauan ini menunjukkan seberapa berhasilnya para orangutan bertahan hidup di alam liar. Sejauh ini, kami telah memiliki lima kelahiran alami di hutan Kalimantan Timur dan Tengah. Kami berharap generasi ini akan membentuk populasi orangutan yang sepenuhnya liar.

BOSF NM-3-1024x736

Relawan BOSF tengah memberi minum susu melalui botol kepada bayi orangutan. (Foto: Dok. BOSF)

Berapa lama mereka dirumahkan sebelum dilepasliarkan? Mengapa lama sekali perumahannya?

Orangutan membutuhkan waktu tujuh sampai delapan tahun untuk menjalani masa rehabilitasi. Masa ini sesuai dengan masa pendidikan mereka di alam liar. Setiap anak orangutan akan hidup bersama dan belajar dari induknya sampai ia berusia tujuh tahun, baru secara perlahan ia akan hidup mandiri. Selama tujuh tahun ini, ia akan belajar bagaimana hidup mandiri di hutan dari sang induk.

Bagaimana menyatakan bahwa orangutan yang dimaksud sudah siap untuk dilepasliarkan kembali? Apa saja parameternya?

Parameter orangutan sudah siap dilepasliarkan adalah: pertama, ia tidak hanya menguasai semua skill yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di hutan, namun juga menerapkannya. Skill atau kemampuan ini adalah; memanjat pohon, membuat sarang, mencari pakan alami, dan mengenali predator (termasuk manusia). Kedua, secara usia dia juga harus sudah cukup umur. Ketiga, secara perilaku, ia telah mandiri dan liar, sehingga tidak membutuhkan keberadaan manusia. Keempat, ia dinyatakan sehat dan bebas dari penyakit menular seperti TBC atau Hepatitis.

BOSF Release-7-SL-Des2015-13-1024x680

Proses pelepasliaran orangutan oleh relawan BOSF. (Foto: Dok. BOSF)

BOSF aNGELY-1024x724

‘Angely’ yang kini sudah dilepasliarkan. (Foto: Dok. BOSF)

Disebut-sebut ada penanaman semacam chip di bagian tubuh orangutan, sebelum dilepasliarkan. Bagaimana proses penanaman chip itu dan bagaimana teknologi chip ini berfungsi serta efektivitasnya?

Chip ini mengirimkan sinyal pada frekuensi tertentu. Setiap chip mengirimkan frekuensi yang sedikit berbeda, sehingga petugas yang memegang radio receiver bisa membedakan individu orangutan berdasarkan frekuensi ini. Sinyal chip ini bisa ditangkap sampai jarak lima kilometer jauhnya di wilayah yang terbuka, namun di hutan yang berbukit dan padat dengan pohon, jarak terjauh yang bisa dicapai oleh sinyal ini hanya sekitar satu kilometer. Baterai chip dapat berfungsi hingga 2 tahun, sehingga kami dapat mengikuti dan mencatat kemajuan yang signifikan dari setiap orangutan.

Dari chip ini bagaimana pemantauan pergerakan orangutan ketika di habitatnya kembali bisa disimpulkan setelah dilepasliarkan?

Tim PRM (Post-Release Monitoring) berpatroli setiap hari dan melakukan pencatatan teliti saat menemukan satu individu orangutan. Orangutan yang baru dilepasliarkan akan diikuti terus-menerus selama 1 bulan secara ketat dan tim mencatat pergerakan orangutan setiap dua menit sepanjang hari. Orangutan yang telah lama dilepasliarkan dan ditemukan saat patroli, akan dicatat pergerakannya setiap dua menit selama dua jam penuh.

Dari pencatatan data yang sangat banyak ini, kami dapat menyimpulkan bagaimana perilaku setiap individu orangutan, kondisi kesehatannya, dan kemungkinannya bertahan hidup di hutan.

BOSF patroli-yayang-by-rusda-1024x868

Pencarian sinyal chip dari orangutan yang sudah dilepasliarkan dengan menggunakan radio receiver. (Foto: Dok. BOSF)

Sejak 1991, berapa orangutan yang sudah dilepasliarkan?

Kami telah melepaskan dan memindahkan orangutan ke wilayah hutan yang aman sebanyak sekitar 600-an individu sejak 1991 sampai dengan 2002. Namun sejak itu kami tidak memiliki lagi lahan hutan khusus yang bisa kami manfaatkan untuk pelepasliaran orangutan. Baru sejak tahun 2012 kami mulai kembali bisa melepasliarkan orangutan baik di Kalimantan Timur maupun Tengah. Sejak 2012, di Kalimantan Tengah BOSF telah melepasliarkan 167 orangutan, dan di Kalimantan Timur 45.

Bagaimana keterlibatan para pendonor terhadap orangutan yang dibantu donasinya? Mereka (para pendonor) bisa memberi nama bayi-bayi orangutan itu?

BOSF memiliki banyak aktivitas/program dalam rangka pelestarian orangutan dan habitatnya. Oleh karena itu, bentuk keterlibatan para donor tersebut bergantung dengan jenis program yang didukung. Misalnya saja dukungan untuk pembiayan pelepasliaran orangutan, maka kami akan turut mengundang perwakilan para donor untuk menyaksikan secara langsung proses tersebut sesuai dengan kesepakatan.

Selain itu kami juga akan mengirimkan pelaporan secara transparan atas program-program yang telah dikerjakan kepada para pendonor. Mengenai penamaan orangutan, hal ini merupakan salah satu fundraising tools kami dalam program pembiayaan rehabilitasi orangutan dan dilakukan dalam kerjasama secara ekslusif.

BOSF sayang-by-handoko-1024x768

Kembali ke alam dan habitat aslinya. Orangutan menjadi penjaga hutan. (Foto: Dok. BOSF)

Pengalaman unik setelah proses pelepasliaran adakah, misalnya si orangutan tidak mau dilepasliarkan, atau justru ada yang kembali lagi?

Pengalaman paling menyenangkan adalah ketika kami berhasil menemukan orangutan yang kami lepasliarkan beranak. Sejauh ini ada lima kelahiran alami di hutan dari para orangutan yang kami lepasliarkan. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik, mengingat tujuan pelepasliaran memang untuk membentuk populasi orangutan liar di habitat aslinya.

Ada satu orangutan yang kami lepasliar bersama anaknya Desember 2013 lalu, namanya Yayang. Saat ini ia bahkan telah memiliki bayi kedua, kami namakan Louise. Sementara anaknya yang pertama, Sayang, telah hidup mandiri, namun sesekali mereka masih menyempatkan bertemu, dan kesempatan seperti ini di mana induk dan kedua anaknya berkumpul, sungguh sebuah momen yang spesial.

* * * * * * *

PS: Wawancara ini sudah dimuat sebelumnya di Kompasiana edisi Senin, 27 Juni 2016.

Iklan