LOUISE 1

Saya suka dengan apa yang pernah dikatakan John Emmerling tentang inovasi. Innovation and Branding Consultant asal Amerika Serikat ini mengatakan: “Innovation is creativity with a job to do”. Kalimat ini buat saya sungguh sangat menggugah.

Berbagai kreativitas yang melahirkan inovasi memang mengagumkan. Sebut saja misalnya, penggunaan minyak goreng daur ulang sebagai bahan bakar pesawat terbang. Ini bukan main hebatnya. Amerika Serikat, China, Kanada, Belanda juga Perancis sedang giat menyempurnakan inovasi ramah lingkungan ini. Bahkan tahun lalu, China sukses menerbangkan pesawat tipe Boeing 737 milik Hainan Airlines, yang terbang dari Shanghai ke Beijing, dengan menggunakan bahan bakar minyak goreng bekas!

Inovasi berbasis kreativitas lainnya? Nah, enggak usah jauh-jauh. Baru-baru ini, Yuke Fadhillah Kirana, siswi SMA Kharisma Bangsa di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, berhasil menciptakan plastik kresek berbahan baku limbah kulit udang.

“Kulit udang mengandung bahan polimer, namanya zat kitin, kayak di udang, di kepiting, kulitnya namanya kitin, kitin itu punya polimer alami. Kalau plastik itu polimer sintesis,” ungkap Yuke yang menggapai sukses melalui serangkaian riset dan bimbingan para ahli.

Pendek kata, begitulah inovasi. Selalu menakjubkan, tanpa kita pernah paham apa dan bagaimana kerja keras yang sudah dilakukan sang innovator.

Jpeg

Durian Bars produksi Delicia Cake Pontianak. (foto: Gapey Sandy)

Di bidang kuliner, salah seorang yang semakin layak ditempatkan sebagai innovator, tiada lain Louise Wulandari. Pemilik bendera bisnis Delicia Cake Pontianak di Kalimantan Barat ini sukses mengembangkan kreativitasnya dalam mencipta aneka kue. Tidak saja kue-kue yang diproduksinya lezat tiada tara, tapi juga konsep pemasaran online-nya pun bertuah. Tak salah, kalau ibu dua anak ini pernah dinobatkan sebagai Marketeer Of The Year Pontianak 2014 dari lembaga bergengsi MarkPlus dan Majalah Marketeers.

Untuk urusan resep pemasaran online, dua tahun lalu saya pernah mewawancarai Louise dan menuliskannya di Kompasiana. Silakan dibaca: Kompasianer Ini Berbagi Kiat Sukses Bisnis Online.

Tinggal sekarang, kita tengok salah satu kue produksi Delicia Cake yang memang selalu delicious! Louise menjulukinya dengan Durian Bars. “Seperti nastar tapi isinya selai duren,” ujarnya suatu kali.

Ya, inilah inovasi berbasis kreativitas ala Louise. Nastar yang biasanya bundar, dibuatnya kotak. “Aku buat berbentuk kotak, seukuran 3 cm x 3 cm,” tukasnya. Inilah pembaharuan yang dilakukan Delicia Cake. Hey, jangan salah loch, salah satu unsur inovasi adalah melakukan pembaharuan. Selain, mensyaratkan adanya ciri khusus dan kemanfaatan bagi sang innovator dan masyarakat luas.

Pembaharuan lain yang dilakukan Louise adalah melakukan hal anti mainstream. Ia menggeser selai nanas yang selama ini sudah terlalu akrab dengan nastar. Sebagai gantinya, sesuai julukan kuenya, ia menggunakan selai durian. Simsalabim, maka jadilah Durian Bars.

Saya bersyukur, termasuk yang pernah icip-icip Durian Bars Delicia Cake.

2016609185138-1

Durian Bars dengan isi selai durian Pontianak asli. (foto: Gapey Sandy)

Sebelum lebih jauh ke soal rasa, perlu juga diceritakan betapa panganan yang saya cicipi ini, meski sudah melintasi perjalanan darat dan udara dengan rute Pontianak – Tangerang Selatan, tetap utuh. Tidak buyar, apalagi hancur berantakan.

Packaging pengiriman Durian Bars ke luar kota, luar pulau, sebelum masuk ke box, toples dibalut bubble wrap. Jadi dengan pengiriman yang normal, Durian Bars aman. Diluar box kita minta pihak ekspedisi untuk tempel logo Fragile sebagai double safety,” ujar Louise menggaransi paket Durian Bars kirimannya.

Itulah jurus sekaligus rahasia, mengapa paket Durian Bars meski sudah menempuh jarak waktu 1 jam 25 menit menggunakan pesawat terbang rute Pontianak – Jakarta, dan lanjut perjalanan darat ke rumah saya di Tangerang Selatan, kondisinya tetap perfecto, sempurna!

Di bulan suci Ramadhan ini, Durian Bars menjadi santapan buka puasa saya bersama keluarga. Ketika malam hari, usai shalat tarawih, Durian Bars jadi camilan. Lebih enak lagi ketika makan sahur, saat kedua bola mata masih kriyip-kriyip lantaran kantuk, Durian Bars justru sudah hinggap di bibir. Hahahahaaaa … seru!

LOUISE 11.jpg

Packaging yang sempurna menjadikan Durian Bars siap kirim ke tujuan mana saja. (foto: Gapey Sandy)

Bagaimana rasanya? Waduh … jangan tanya deh. Taste duriannya begitu kental penuh aroma. Itu juga yang selalu membuat jari-jemari saya yang lentik ini … uuupppsssss, selalu ingin mencomot Durian Bars, lagi dan lagi.

Pokoknya, rasa Durian Bars itu tidak ada duanya. Apalagi, kue produksi Delicia Cake Pontianak ini memang mempergunakan durian asli Pontianak. Eehhhh … jangan main-main, durian Pontianak terkenal legitnya loch. Mengapa? Karena itulah durian asli habitat hutan, dan merupakan durian jatuhan yang sudah pasti masak (bukan dipetik). Inilah potensi lokal yang turut terangkat melalui inovasi berbasis kreatif Durian Bars.

Di Pontianak, ibukota Kalbar yang akrab disebut Kota Khatulistiwa, sejumlah ruas jalan banyak dijumpai penjaja durian. Mulai dari Jalan Teuku Umar, Jalan Jendral Urip Sumoharjo, Jalan Gajahmada, Jalan Hasanudin, Jalan Rais A Rahman, Jalan Khatulistiwa Siantan, Jalan Sungai Jawi dan lainnya.

Begitulah …

Durian Bars bukan asal nastar.

Durian Bars juga bukan sekadar durian.

Durian Bars lebih dari itu.

Durian Bars adalah inovasi lokal berbasis kreativitas.

Durian Bars-nya … lagi dooong.

 

Iklan