fre1

Ilustrasi Menulis. (foto: openmoves.com)

 

Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) pada 31 Mei 2016 kemarin, cukup rame juga di media sosial. Status dan unggahan dengan menyisipkan tagar #Suarakan Kebenaran, #HTTS2016, dan #WorldNoTobaccoDay bermunculan di lini masa. Facebook dan Twitter kebanjiran tagar itu.

Rasanya, kemarin semua orang jadi peduli kesehatan. Mereka saling mengingatkan betapa bahayanya merokok. Terlebih, menyelamatkan generasi muda dari ketagihan mencandu rokok.

Gegap-gempita HTTS, tak luput dari peran penulis blog (blogger). Mereka menuliskan World No Tobacco Day melalui rupa-rupa tulisan. Ada opini. Tak ketinggalan, reportase.

Khusus reportase, pelaksanaan talkshow Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2016 yang digelar Ditjen P2P Kemenkes RI di Gedung D Lantai 4 Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta, Selasa (24/5/2016), menjadi event yang paling banyak menyedot animo para blogger.

Kabarnya, ada juga talkshow bertajuk “Jangan Bunuh Dirimu Dengan Candu Rokok” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada (31/5/2016). Ini sekaligus jadi puncak acara kegiatan HTTS 2016

Saya menikmati betul, membaca tulisan-tulisan blogger yang tidak sampai sepuluh jumlahnya. Semuanya sarat informasi juga kaya manfaat. Sekalipun sumbernya sama, yaitu dari paparan sejumlah narasumber ketika talkshow Kemenkes RI tadi.

Tidak hanya membaca info penting seputar World No Tobacco Day, saya juga mengulik tulisan blogger-blogger itu. Bukan bermaksud menjustifikasi atau memberi penilaian atas tulisan-tulisan itu. No way! Tapi, cuma untuk mencermati gaya dan sajian reportase para blogger manakala meliput event yang sama.

Tanpa harus menyebut tulisan siapa dan link-nya mana, hasil cermatan saya menunjukkan ada lima gaya tulisan blogger dalam menuangkan tulisan reportase:

PERTAMA, Tulisan Reportase Gaya Makalah.

Tulisan yang diunggah, umumnya diawali paparan singkat mengenai acara talkshow HTTS 2016. Eh, saking singkatnya, ada juga blogger yang tidak menuliskan judul [tiap-tiap] materi yang disampaikan para pembicara. Jangankan judul paparan atau makalah yang disampaikan, bahkan ada tulisan blog yang sama sekali tidak menyebutkan siapa-siapa saja narasumber yang berbicara.

Memang sih, ada beberapa foto yang disisipkan dalam tulisan blog tersebut, tapi, itu pun tanpa diberi keterangan lengkap. Tiada caption foto. Apalagi, dituliskan siapa saja nama sosok-sosok yang termuat dalam foto.

Selebihnya, tulisan blog ini pun hanya mengutip sejumlah point dalam paparan atau makalah yang disampaikan narasumber talkshow.

KEDUA, Tulisan Reportase Gaya Menyimak.

Dalam blog-nya, reportase talkshow HTTS 2016 yang ditulisnya cukup rapi. Pakemnya dilaksanakan. Blogger ini menuturkan talkshow HTTS 2016 dengan rumus baku ‘5W + 1H’. Terserah mau mendahulukan yang mana, yang pasti unsur berita itu memuat WHAT – WHERE – WHEN – WHY – WHO – HOW.

Beda dengan ‘Gaya Makalah’, tulisan blog ‘Gaya Menyimak’ ini menuliskan siapa-siapa saja pembicara atau narasumber talkshow yang hadir. Tak cuma nama lengkap, tapi juga jabatannya.

Bisa juga, ‘Gaya Menyimak’ ini disebut sebagai ‘Gaya Memantau’, atau ‘Gaya Pelapor’.

KETIGA, Tulisan Reportase Gaya Foto Berbicara.

Ya, ini gaya menuangkan hasil reportase yang paling mudah. Tulisannya sedikit, tapi foto yang diunggahnya banyak. Kadangkala, tulisannya tidak mengandung unsur lengkap ‘5W + 1H’. Isi tulisannya pun sekadar cuplikan beberapa point dari makalah atau slide show narasumber.

Fotonya banyak. Bahkan, ada tiga foto berbeda yang kemudian “dijembreng” berurutan dari atas ke bawah. Masih untung kalau ada keterangan fotonya. Beberapa foto, seringkali sekadar diunggah tanpa caption.

Makanya, untuk mudah diingat, saya sebut saja tulisan blog reportase ini sebagai ‘Gaya Foto Berbicara’. Atau, ‘Gaya Pamer Hasil Motret’.

Apa sah? Ya itu ‘mah normatif. Sepanjang ‘5W + 1H’ – nya termaktub dan pembaca tidak menjadi bingung, serta memperoleh informasi bermanfaat, maka boleh-boleh saja.

KEEMPAT, Tulisan Reportase Tanpa Wawancara.

Yang namanya peliputan berita, ada tiga unsur yang dikandungnya: Reportase, Wawancara, dan Riset Kepustakaan. Hasil liputan talkshow HTTS 2016 yang dituliskan blogger tidak ada yang diimbuhi Wawancara. Apalagi Riset Kepustakaan.

Tulisan hasil peliputan berita yang dilakukan blogger kental sekali dengan ‘Gaya Menyimak’. Tidak ada yang melengkapi tulisannya dengan Wawancara bersama narasumber. Apalagi, menambahkan dengan hasil Riset Kepustakaan. Ambil alasan sederhana saja, mungkin apa yang ada di makalah maupun slide show para narasumber sudah mencukupi untuk menjadi bahan tulisan blog-nya. That’s it! As simple as that.

Padahal, konon ada selebriti yang hadir. Rasanya, pembaca ingin menyimak lebih jauh, bagaimana selebriti ini, misalnya, pernah kecanduan rokok. Atau, bagaimana kisah sukses mereka total berhenti merokok.

Semua cerita menarik ini mustinya bisa digali dari Wawancara, atau juga Riset Kepustakaan.

KELIMA, Tulisan Reportase Lengkap Dengan Wawancara.

Untuk gaya tulisan reportase yang seperti ini, sampai sore hari ini, dan sampai saya mengunggahnya, belum ada tulisan blog terkait liputan HTTS 2016 yang dilengkapi Wawancara. Duuuh, padahal sejumlah narasumber [penting dan menarik] ada di depan mata.

Sekali lagi, tanpa bermaksud menjustifikasi apalagi ngasih nilai, silakan temukan sendiri jawabannya, gaya tulisan peliputan atau reportase mana, yang kiranya paling baik.

Please, specify your own preferred. Which is the best?

 

=========

* Menanti hujan di Tangerang Selatan, 2 Juni 2016

Iklan