Archives for the month of: Juni, 2016
BOSF Serge-1-1024x768.jpg

Seekor orangutan dalam program karantina dan rehabilitasi di BOSF. (Foto: Dok. BOSF)

[WAWANCARA] Saat ini, orangutan Sumatera dan Borneo semakin terancam punah. World Conservation Union (Daftar Merah IUCN 2007 / IUCN Red List 2007) mengklasifikasikan orangutan Borneo sebagai spesies yang terancam punah (endangered). Sedangkan orangutan Sumatera justru lebih parah karena sangat terancam punah (critically endangered).

Kedua spesies ini juga tercantum dalam Lampiran I Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES). Dengan begitu, baik di Indonesia maupun Malaysia, orangutan terlindungi secara hukum. Tapi, hukum dan peraturan saja jelas tidak cukup untuk melindunginya.

Konservasi orangutan memerlukan upaya yang komprehensif dan terintegrasi oleh seluruh pemangku kepentingan — baik di lapangan dan di arena politik. Hal ini untuk memastikan keberhasilannya.

Satu pihak yang terjun langsung dan berada di garda terdepan dalam upaya pelestarian orangutan Kalimantan adalah Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) atau biasa disebut juga Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Sejak 1991, organisasi non-profit Indonesia ini mendedikasikan dirinya guna melakukan konservasi orangutan Kalimantan (pongo pygmaeus) beserta habitatnya.

Banyak program yang dilaksanakan BOSF, antara lain: Program Reintroduksi Orangutan di Kalimantan Timur (di Samboja Lestari atau sekitar 38 kilometer dari Balikpapan), dan di Kalimantan Tengah tepatnya di Arboretum Nyaru Menteng atau sekitar 30 kilometer dari Palangka Raya; Program Konservasi Mawas; dan Program Restorasi Habitat Orangutan Indonesia.

Menjalankan fungsi sebagai pusat rehabilitasi orangutan, BOSF tentu berusaha mempersiapkan kembali orangutan kembali ke habitatnya yakni di hutan lepas Kalimantan, sebagai penjaga alam. Tugas ini menjadi bertambah berat manakala hutan-hutan di Kalimantan banyak yang digunduli, atau pun malah terbakar. Setelah menjalani masa rehabilitasi, orangutan akan dilepasliarkan kembali ke hutan.

Nah, bagaimana lika-liku BOSF menangani pusat rehabilitasi binatang yang terkenal sangat karismatik ini? Berikut, wawancara saya dengan Chief Executive Officer BOSF, Dr Ir Jamartin Sihite.

IMG_9063 copy.jpg900

CEO BOSF, Jamartin Sihite. (Foto: Dok. BOSF)

* * * [WAWANCARA] * * *

Berapa personil relawan yang kini bergabung dengan BOSF. Termasuk yang ada di Kalimantan? Bagaimana perekrutan, dan bila ada yang ingin bergabung dengan BOSF bagaimana prosedurnya?

Kami tidak memiliki jumlah relawan tetap. Dalam menerima relawan, kami mengutamakan mereka yang memiliki latar belakang khusus, yaitu kedokteran hewan, animal welfare, dan enrichment. Untuk bergabung dengan BOSF, peminat dipersilakan mengikuti kabar terbaru dari BOSF di berbagai media sosial seperti Facebook (BOS Foundation), instagram (@bosfoundation), atau laman kami, http://orangutan.or.id. BOSF selalu mengiklankan lowongan kerja di jalur media-media sosial kami.

Di dunia internasional, BOSF tergabung dengan organisasi induk apa? Bagaimana struktur dan keterikatannya?

BOSF murni LSM Indonesia yang secara struktural mandiri. Kami tidak berada di bawah organisasi apapun, namun BOSF membuka diri terhadap kerja sama yang mendukung konservasi orangutan dan habitatnya.

Relawan di Kalimantan, bagaimana “membiayai” kebutuhan mereka dan operasionalisasinya?

Relawan diminta untuk membiayai kebutuhan sehari-hari mereka sendiri. BOSF sebagai lembaga nirlaba tidak memiliki dana khusus untuk membiayai kebutuhan di luar kebutuhan utama kami, yaitu: biaya penyelamatan, rehabilitasi, dan kesehatan orangutan, serta dana operasional harian.

BOSF kejora 11-1024x736

Kondisi orangutan bernama ‘Kejora’, ketika pertama kali diselamatkan. (Foto: Dok. BOSF)

BOSF kejora

Kondisi ‘Kejora’ sesudah menjalani masa karantina. (Foto: Dok. BOSF)

Apa saja misalnya, cost yang harus dibiayai untuk mereka yang ada di lapangan? Berapa besar budget operasionalnya per tahun?

Dana operasional untuk kegiatan di lapangan sangat besar, dari pembiayaan kegiatan penyelamatan, pengadaan buah harian untuk pakan orangutan, pemeliharaan infrastruktur, biaya perawatan dan tindakan medis, logistik untuk tim pemantauan pasca pelepasliaran di hutan, kegiatan pemberdayaan komunitas, dan masih banyak lagi.

Alokasi dana operasional per tahun kami selalu meningkat per tahunnya, karena jumlah orangutan yang kami rehabilitasi selalu berubah, dan proyek-proyek yang kami laksanakan pun tidak tetap tergantung kebutuhan, seperti misalnya akibat kebakaran tahun lalu, BOSF harus melaksanakan restorasi lahan akibat Karhutla (kebakaran hutan dan lahan).

Secara kasar, kebutuhan dana kami tergantung dengan jenis program yang dilakukan. Untuk rehabilitasi orangutan saja, biaya yang dibutuhkan untuk seekor orangutan kurang lebih 35 juta per tahun. Komponen ini memang membutuhkan dana sangat besar. Jadi besarnya biaya operasional di lapangan khusus untuk program rehabilitasi orangutan, pada dasarnya sangat ditentukan berapa banyak orangutan yang ada di pusat rehabilitasi kami saat ini.

BOSF FOTO-3-FOTO-BAYI-YAYANG-CLOSE-UP-by-Luy-1001x1024.jpg

Bayi Yayang dalam memeluk induknya. So cute! (Foto: Dok. BOSF)

Berapa lokasi rumah orangutan yang dikelola BOSF di Kalimantan, dan di Kalimantan mana saja itu? Berapa luas lahannya?

Kami menyebut rumah orangutan ini sebagai pusat rehabilitasi orangutan. Kami punya dua, yaitu di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah Nyaru Menteng sebesar 380 hektar, dan di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur Samboja Lestari sebesar 1.800 hektar.

Di luar itu, kami juga mengelola lahan Kawasan Konservasi Mawas di Kalimantan Tengah seluas 309.000 hektar yang menampung sekitar 3.000 orangutan liar (populasi kedua terbesar di Kalimantan), Hutan Lindung Bukit Batikap di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah seluas 35.000 hektar sebagai tempat pelepasliaran 167 orangutan sejak tahun 2012 lalu; Hutan Kehje Sewen di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kertanagara seluas 86.400 hektar sebagai tempat pelepasliaran 45 orangutan sejak tahun 2012 lalu. Secara total kami mengelola lahan seluas lebih dari 430.000 hektar di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Pada 2016 ini, kami juga mulai mengelola lahan di beberapa wilayah baru, karena kami masih memiliki hampir 700 orangutan di pusat rehabilitasi kami.

BOSF Serge-2-1024x768.jpg

Relawan BOSF dengan seekor orangutan dalam pelukan. (Foto: Dok. BOSF)

Program-program apa saja yang dilakukan untuk orangutan selama di lokasi rumah orangutan ini sebelum dilepasliarkan?

Kami memulai dengan proses penyelamatan (rescue). Sebagian besar orangutan yang kami selamatkan adalah orangutan yang sangat muda ataupun bayi yang telah kehilangan induknya dengan segala kondisi. Ada yang sehat, ada pula yang sakit atau cacat. Bayi orangutan yang sakit atau cacat seperti ini kami karantina terlebih dulu untuk dipulihkan kondisinya.

Setelah kondisi orangutan dinyatakan sehat dan mampu, mereka akan bergabung dengan orangutan sehat lainnya di Sekolah Hutan sebagai bagian dari proses rehabilitasi. Di sini secara bertahap mereka akan mempelajari berbagai keahlian untuk bertahan hidup di hutan, dibantu oleh babysitter dan teknisi.

Sekolah Hutan sendiri terdiri dari beberapa kelompok umur, karena waktu yang dibutuhkan orangutan untuk bisa mandiri di alam liar sekitar tujuh sampai delapan tahun. Karena kami berusaha mengikuti pola ini, kami pun mendidik mereka selama kurun waktu itu. Lulus dari Sekolah Hutan, mereka akan masuk ke tahap lanjut untuk hidup di pulau pra-pelepasliaran. Di pulau ini mereka harus bersaing atau hidup bersama dengan orangutan lain. Kami menganggap tahap ini seperti layaknya “universitas” untuk orangutan.

Sejumlah orangutan yang paling siap akan dilepasliarkan (release) ke hutan. Areal hutannya sudah kami pilih dan jaga. Orangutan yang dilepasliarkan akan dijaga dan dipantau setiap hari oleh tim khusus. Hasil pemantauan ini menunjukkan seberapa berhasilnya para orangutan bertahan hidup di alam liar. Sejauh ini, kami telah memiliki lima kelahiran alami di hutan Kalimantan Timur dan Tengah. Kami berharap generasi ini akan membentuk populasi orangutan yang sepenuhnya liar.

BOSF NM-3-1024x736

Relawan BOSF tengah memberi minum susu melalui botol kepada bayi orangutan. (Foto: Dok. BOSF)

Berapa lama mereka dirumahkan sebelum dilepasliarkan? Mengapa lama sekali perumahannya?

Orangutan membutuhkan waktu tujuh sampai delapan tahun untuk menjalani masa rehabilitasi. Masa ini sesuai dengan masa pendidikan mereka di alam liar. Setiap anak orangutan akan hidup bersama dan belajar dari induknya sampai ia berusia tujuh tahun, baru secara perlahan ia akan hidup mandiri. Selama tujuh tahun ini, ia akan belajar bagaimana hidup mandiri di hutan dari sang induk.

Bagaimana menyatakan bahwa orangutan yang dimaksud sudah siap untuk dilepasliarkan kembali? Apa saja parameternya?

Parameter orangutan sudah siap dilepasliarkan adalah: pertama, ia tidak hanya menguasai semua skill yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di hutan, namun juga menerapkannya. Skill atau kemampuan ini adalah; memanjat pohon, membuat sarang, mencari pakan alami, dan mengenali predator (termasuk manusia). Kedua, secara usia dia juga harus sudah cukup umur. Ketiga, secara perilaku, ia telah mandiri dan liar, sehingga tidak membutuhkan keberadaan manusia. Keempat, ia dinyatakan sehat dan bebas dari penyakit menular seperti TBC atau Hepatitis.

BOSF Release-7-SL-Des2015-13-1024x680

Proses pelepasliaran orangutan oleh relawan BOSF. (Foto: Dok. BOSF)

BOSF aNGELY-1024x724

‘Angely’ yang kini sudah dilepasliarkan. (Foto: Dok. BOSF)

Disebut-sebut ada penanaman semacam chip di bagian tubuh orangutan, sebelum dilepasliarkan. Bagaimana proses penanaman chip itu dan bagaimana teknologi chip ini berfungsi serta efektivitasnya?

Chip ini mengirimkan sinyal pada frekuensi tertentu. Setiap chip mengirimkan frekuensi yang sedikit berbeda, sehingga petugas yang memegang radio receiver bisa membedakan individu orangutan berdasarkan frekuensi ini. Sinyal chip ini bisa ditangkap sampai jarak lima kilometer jauhnya di wilayah yang terbuka, namun di hutan yang berbukit dan padat dengan pohon, jarak terjauh yang bisa dicapai oleh sinyal ini hanya sekitar satu kilometer. Baterai chip dapat berfungsi hingga 2 tahun, sehingga kami dapat mengikuti dan mencatat kemajuan yang signifikan dari setiap orangutan.

Dari chip ini bagaimana pemantauan pergerakan orangutan ketika di habitatnya kembali bisa disimpulkan setelah dilepasliarkan?

Tim PRM (Post-Release Monitoring) berpatroli setiap hari dan melakukan pencatatan teliti saat menemukan satu individu orangutan. Orangutan yang baru dilepasliarkan akan diikuti terus-menerus selama 1 bulan secara ketat dan tim mencatat pergerakan orangutan setiap dua menit sepanjang hari. Orangutan yang telah lama dilepasliarkan dan ditemukan saat patroli, akan dicatat pergerakannya setiap dua menit selama dua jam penuh.

Dari pencatatan data yang sangat banyak ini, kami dapat menyimpulkan bagaimana perilaku setiap individu orangutan, kondisi kesehatannya, dan kemungkinannya bertahan hidup di hutan.

BOSF patroli-yayang-by-rusda-1024x868

Pencarian sinyal chip dari orangutan yang sudah dilepasliarkan dengan menggunakan radio receiver. (Foto: Dok. BOSF)

Sejak 1991, berapa orangutan yang sudah dilepasliarkan?

Kami telah melepaskan dan memindahkan orangutan ke wilayah hutan yang aman sebanyak sekitar 600-an individu sejak 1991 sampai dengan 2002. Namun sejak itu kami tidak memiliki lagi lahan hutan khusus yang bisa kami manfaatkan untuk pelepasliaran orangutan. Baru sejak tahun 2012 kami mulai kembali bisa melepasliarkan orangutan baik di Kalimantan Timur maupun Tengah. Sejak 2012, di Kalimantan Tengah BOSF telah melepasliarkan 167 orangutan, dan di Kalimantan Timur 45.

Bagaimana keterlibatan para pendonor terhadap orangutan yang dibantu donasinya? Mereka (para pendonor) bisa memberi nama bayi-bayi orangutan itu?

BOSF memiliki banyak aktivitas/program dalam rangka pelestarian orangutan dan habitatnya. Oleh karena itu, bentuk keterlibatan para donor tersebut bergantung dengan jenis program yang didukung. Misalnya saja dukungan untuk pembiayan pelepasliaran orangutan, maka kami akan turut mengundang perwakilan para donor untuk menyaksikan secara langsung proses tersebut sesuai dengan kesepakatan.

Selain itu kami juga akan mengirimkan pelaporan secara transparan atas program-program yang telah dikerjakan kepada para pendonor. Mengenai penamaan orangutan, hal ini merupakan salah satu fundraising tools kami dalam program pembiayaan rehabilitasi orangutan dan dilakukan dalam kerjasama secara ekslusif.

BOSF sayang-by-handoko-1024x768

Kembali ke alam dan habitat aslinya. Orangutan menjadi penjaga hutan. (Foto: Dok. BOSF)

Pengalaman unik setelah proses pelepasliaran adakah, misalnya si orangutan tidak mau dilepasliarkan, atau justru ada yang kembali lagi?

Pengalaman paling menyenangkan adalah ketika kami berhasil menemukan orangutan yang kami lepasliarkan beranak. Sejauh ini ada lima kelahiran alami di hutan dari para orangutan yang kami lepasliarkan. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik, mengingat tujuan pelepasliaran memang untuk membentuk populasi orangutan liar di habitat aslinya.

Ada satu orangutan yang kami lepasliar bersama anaknya Desember 2013 lalu, namanya Yayang. Saat ini ia bahkan telah memiliki bayi kedua, kami namakan Louise. Sementara anaknya yang pertama, Sayang, telah hidup mandiri, namun sesekali mereka masih menyempatkan bertemu, dan kesempatan seperti ini di mana induk dan kedua anaknya berkumpul, sungguh sebuah momen yang spesial.

* * * * * * *

PS: Wawancara ini sudah dimuat sebelumnya di Kompasiana edisi Senin, 27 Juni 2016.

Iklan

LOUISE 1

Saya suka dengan apa yang pernah dikatakan John Emmerling tentang inovasi. Innovation and Branding Consultant asal Amerika Serikat ini mengatakan: “Innovation is creativity with a job to do”. Kalimat ini buat saya sungguh sangat menggugah.

Berbagai kreativitas yang melahirkan inovasi memang mengagumkan. Sebut saja misalnya, penggunaan minyak goreng daur ulang sebagai bahan bakar pesawat terbang. Ini bukan main hebatnya. Amerika Serikat, China, Kanada, Belanda juga Perancis sedang giat menyempurnakan inovasi ramah lingkungan ini. Bahkan tahun lalu, China sukses menerbangkan pesawat tipe Boeing 737 milik Hainan Airlines, yang terbang dari Shanghai ke Beijing, dengan menggunakan bahan bakar minyak goreng bekas!

Inovasi berbasis kreativitas lainnya? Nah, enggak usah jauh-jauh. Baru-baru ini, Yuke Fadhillah Kirana, siswi SMA Kharisma Bangsa di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, berhasil menciptakan plastik kresek berbahan baku limbah kulit udang.

“Kulit udang mengandung bahan polimer, namanya zat kitin, kayak di udang, di kepiting, kulitnya namanya kitin, kitin itu punya polimer alami. Kalau plastik itu polimer sintesis,” ungkap Yuke yang menggapai sukses melalui serangkaian riset dan bimbingan para ahli.

Pendek kata, begitulah inovasi. Selalu menakjubkan, tanpa kita pernah paham apa dan bagaimana kerja keras yang sudah dilakukan sang innovator.

Jpeg

Durian Bars produksi Delicia Cake Pontianak. (foto: Gapey Sandy)

Di bidang kuliner, salah seorang yang semakin layak ditempatkan sebagai innovator, tiada lain Louise Wulandari. Pemilik bendera bisnis Delicia Cake Pontianak di Kalimantan Barat ini sukses mengembangkan kreativitasnya dalam mencipta aneka kue. Tidak saja kue-kue yang diproduksinya lezat tiada tara, tapi juga konsep pemasaran online-nya pun bertuah. Tak salah, kalau ibu dua anak ini pernah dinobatkan sebagai Marketeer Of The Year Pontianak 2014 dari lembaga bergengsi MarkPlus dan Majalah Marketeers.

Untuk urusan resep pemasaran online, dua tahun lalu saya pernah mewawancarai Louise dan menuliskannya di Kompasiana. Silakan dibaca: Kompasianer Ini Berbagi Kiat Sukses Bisnis Online.

Tinggal sekarang, kita tengok salah satu kue produksi Delicia Cake yang memang selalu delicious! Louise menjulukinya dengan Durian Bars. “Seperti nastar tapi isinya selai duren,” ujarnya suatu kali.

Ya, inilah inovasi berbasis kreativitas ala Louise. Nastar yang biasanya bundar, dibuatnya kotak. “Aku buat berbentuk kotak, seukuran 3 cm x 3 cm,” tukasnya. Inilah pembaharuan yang dilakukan Delicia Cake. Hey, jangan salah loch, salah satu unsur inovasi adalah melakukan pembaharuan. Selain, mensyaratkan adanya ciri khusus dan kemanfaatan bagi sang innovator dan masyarakat luas.

Pembaharuan lain yang dilakukan Louise adalah melakukan hal anti mainstream. Ia menggeser selai nanas yang selama ini sudah terlalu akrab dengan nastar. Sebagai gantinya, sesuai julukan kuenya, ia menggunakan selai durian. Simsalabim, maka jadilah Durian Bars.

Saya bersyukur, termasuk yang pernah icip-icip Durian Bars Delicia Cake.

2016609185138-1

Durian Bars dengan isi selai durian Pontianak asli. (foto: Gapey Sandy)

Sebelum lebih jauh ke soal rasa, perlu juga diceritakan betapa panganan yang saya cicipi ini, meski sudah melintasi perjalanan darat dan udara dengan rute Pontianak – Tangerang Selatan, tetap utuh. Tidak buyar, apalagi hancur berantakan.

Packaging pengiriman Durian Bars ke luar kota, luar pulau, sebelum masuk ke box, toples dibalut bubble wrap. Jadi dengan pengiriman yang normal, Durian Bars aman. Diluar box kita minta pihak ekspedisi untuk tempel logo Fragile sebagai double safety,” ujar Louise menggaransi paket Durian Bars kirimannya.

Itulah jurus sekaligus rahasia, mengapa paket Durian Bars meski sudah menempuh jarak waktu 1 jam 25 menit menggunakan pesawat terbang rute Pontianak – Jakarta, dan lanjut perjalanan darat ke rumah saya di Tangerang Selatan, kondisinya tetap perfecto, sempurna!

Di bulan suci Ramadhan ini, Durian Bars menjadi santapan buka puasa saya bersama keluarga. Ketika malam hari, usai shalat tarawih, Durian Bars jadi camilan. Lebih enak lagi ketika makan sahur, saat kedua bola mata masih kriyip-kriyip lantaran kantuk, Durian Bars justru sudah hinggap di bibir. Hahahahaaaa … seru!

LOUISE 11.jpg

Packaging yang sempurna menjadikan Durian Bars siap kirim ke tujuan mana saja. (foto: Gapey Sandy)

Bagaimana rasanya? Waduh … jangan tanya deh. Taste duriannya begitu kental penuh aroma. Itu juga yang selalu membuat jari-jemari saya yang lentik ini … uuupppsssss, selalu ingin mencomot Durian Bars, lagi dan lagi.

Pokoknya, rasa Durian Bars itu tidak ada duanya. Apalagi, kue produksi Delicia Cake Pontianak ini memang mempergunakan durian asli Pontianak. Eehhhh … jangan main-main, durian Pontianak terkenal legitnya loch. Mengapa? Karena itulah durian asli habitat hutan, dan merupakan durian jatuhan yang sudah pasti masak (bukan dipetik). Inilah potensi lokal yang turut terangkat melalui inovasi berbasis kreatif Durian Bars.

Di Pontianak, ibukota Kalbar yang akrab disebut Kota Khatulistiwa, sejumlah ruas jalan banyak dijumpai penjaja durian. Mulai dari Jalan Teuku Umar, Jalan Jendral Urip Sumoharjo, Jalan Gajahmada, Jalan Hasanudin, Jalan Rais A Rahman, Jalan Khatulistiwa Siantan, Jalan Sungai Jawi dan lainnya.

Begitulah …

Durian Bars bukan asal nastar.

Durian Bars juga bukan sekadar durian.

Durian Bars lebih dari itu.

Durian Bars adalah inovasi lokal berbasis kreativitas.

Durian Bars-nya … lagi dooong.

 

BLOG DOWN 1 - White-House-Down-Image-2 - fatmovieguy com

Adegan ketika Emily Cale (diperankan Joey King) tengah menjadi VLOGGER dengan mem-videokan wawancaranya dengan Presiden Amerika Serikat, James Sawyer (diperankan aktor Jamie Foxx) dalam film White House Down. (Foto:  fatmovieguy.com)

 

Film ‘White House Down’ memberi pelajaran buat para blogger. Memang bukan ajaran baru sih. Tapi setidaknya, blogger musti mulai bersiap meneladaninya. Nah, supaya tahu apa sih yang harus dipahami dan dilaksanakan, ya sebaiknya segera tonton dulu ajalah filmnya. Toh, film ini kan termasuk sudah lawas.

Dalam film yang mengisahkan pengkhianatan seorang agen senior Secret Service dengan menyewa sejumlah paramiliter sebagai teroris, untuk menghancurkan Gedung Putih, sekaligus menghabisi nyawa Presiden Amerika Serikat, James Sawyer (aktor Jamie Foxx) ini, terselip kisah heroik anak perempuan bernama Emily Cale (yang diperankan Joey King). Usia Emily baru seumuran Anak Baru Gede (ABG), tapi passion-nya pada masalah politik luar biasa. Ia juga aktif di media sosial termasuk web-blogging, terutama video blogging.

Ketika kemelut aksi teror di Gedung Putih terjadi, Emily bersama ayahnya John Cale (diperankan aktor Channing Tatum) kebetulan sedang mengikuti tur kunjungan di gedung tempat tinggal Presiden Amerika Serikat beserta keluarga selama masa jabatan dinasnya. Emily yang belia ini sempat sendirian terjebak dalam situasi chaos. Sementara sang ayah sibuk pasang badan melindungi nyawa Presiden Amerika Serikat.

Uniknya, sebelum chaos akibat dar – der – dor aksi teroris, Emily sempat berdialog dengan ayahnya. Sang ayah bertanya, bagaimana perkembangan terakhir aktivitas Emily menekuni dunia blog, atau sebagai BLOGGER. Jawaban Emily waktu itu cukup menghenyakkan. Kira-kira, ia menjawab begini: “Sekarang ini, sudah tidak dipergunakan lagi istilah blog”.

Sayang, belum sampai kepada penjelasan mengapa istilah blog sudah tidak populer lagi, dialog terpenggal dengan fragmen adegan yang lain. Disini saya merasa kepo, penasaran, apa yang dimaksud Emily, bahwa istilah blog sudah tidak lagi dipakai orang. Rasa penasaran saya sama dengan John Cale, yang dalam dialog itu sempat balik bertanya. “Memangnya ada apa dengan istilah blog? Padahal saya baru mulai mempelajari bagaimana cara nge-blog,” heran John.

Begitulah. Emily, seorang gadis usia belasan, sudah menegaskan, bahwa blog bakal menjadi sesuatu yang usang. Setidaknya, pesan “senjakala blog” disampaikan melalui film yang berdurasi 2 jam 17 menit ini. Adalah Emily yang menjadi messenger alias sang pembawa pesan.

BLOG DOWN 2 - httpsid.pinterest.comsonypicsindiawhite-house-down

Aktor Jamie Foxx dalam film “White House Down” menjadi Presiden Amerika Serikat dan sedang diwawancarai oleh VLOGGER, Emily Cale. (Foto: httpsid.pinterest.comsonypicsindiawhite-house-down)

 

Jadi, akankah blog perlahan mati? Bakal terjadikah senjakala blog? Sama dong nasib blog itu seperti media cetak yang berguguran?

Dalam film yang sebenarnya sudah dirilis sejak tiga tahun lalu ini, Emily sekaligus memberikan jawabannya. Bukan jawaban secara teori, tapi praktik. Rupanya, Emily menjalankan aktivitas nge-blog bukan dengan cara menulis, tapi memanfaatkan channel blog dalam bentuk yang lain, yaitu video blogging. Dengan kata lain, Emily bukan lagi menjadi blogger (penulis blog), tapi sudah beralih sebagai vlogger (video blogger).

Ya, inilah penjelasan yang dimaksud Emily kepada sang ayah, John Cale. Betapa semakin hari, orang tidak akan lagi mempergunakan kata atau istilah blog secara an sich. Tapi sudah berganti menjadi vlogger.

Dari nge-blog jadi nge-vlog? Kelihatannya sih sederhana. Tapi dibalik itu, ternyata kontras sekali bedanya. Nge-blog mengandalkan kemampuan menulis. Sedangkan nge-vlog, bukan merangkai kata, tapi kemampuan merekam aneka video. Video kejadian, video produk, video pemandangan hingga video sosok. Terkait dengan video sosok, biasanya vlogger juga harus sudah memiliki kemampuan untuk menembus narasumber dan melakukan (rekaman video) wawancara.

Di film ini, Emily memberi contoh konkret! Ketika rombongan masyarakat peserta tur Gedung Putih tengah berkeliling ruangan, tiba-tiba Presiden Amerika Serikat bersama para staf dan pengawalnya muncul. Semua orang terpana, terpesona, termasuk Emily yang memang mengidolakan Presiden Amerika Serikat yang berkulit hitam ini. Maklumlah kalau hampir semua terpukau, ketemu presiden gitu loch!

Tapi, Emily segera mengusir lebay. Ia sadar posisi dan perannya sebagai VLOGGER. Lekas jemari kecil Emily mengeluarkan smartphone-nya. Sejurus kemudian ia sudah meminta izin kepada Presiden Amerika Serikat untuk dilakukan rekaman video wawancara, untuk video blogging-nya di YouTube.

Sambil jemarinya terus menggenggam smartphone dan merekam video, Emily mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Ketika rekaman video wawancara ala door stop selesai, Presiden Amerika Serikat masih memberi “bonus” dengan menyampaikan pesan khusus kepada para pengikut (subscribers) akun YouTube milik Emily. “Saya Presiden Amerika Serikat, James Sawyer, saksikan terus informasi dan laporan Emily Cale melalui blog video-nya ini,” begitu kata sang “USA – 1” ini.

Pelajaran lain dari Emily melalui film bergenre action thriller ini adalah ketika ia dengan insting jurnalistik dan keberanian luar biasa, merekam aksi para teroris di dalam Gedung Putih. Secara sembunyi-sembunyi, Emily berhasil merekam wajah demi wajah pelaku teror. Hingga suatu ketika, naas aksi curi-curi rekam video ini ketahuan. Tapi untunglah, sebelum Emily tertangkap dan dijadikan salah satu sandera, gadis ini sempat mengunggah video rekamannya sebagai blog video di channel YouTube.

Wowwww … atas dasar ‘kerja jurnalistik’ dan ‘keberanian’ Emily merekam aksi para teroris ini, seluruh dunia menjadi gempar. Bahkan dalam film itu, dikisahkan blog video yang diunggah Emily, dalam tempo singkat mampu menembus 700 juta viewers!

Blog video ini bahkan menjadi sumber utama dalam pemberitaan media-media massa mainstream, termasuk channel televisi berita. Dari sini, karya vlogger Emily menjadi viral. Bahkan, menjadi sumber bagi para penegak hukum di Amerika Serikat untuk mengidentifikasi profil teroris satu per satu.

BLOG DOWN 3 - watchesinmovies.info

Emily Cale dalam film ‘White House Down’ ketika sebagai VLOGGER — dengan insting jurnalisme dan keberanian luar biasa — merekam video aksi pelaku terorisme di Gedung Putih dan mengunggahnya di channel YouTube. (Foto: watchesinmovie.info)

 

Okelah, semua itu cuma adegan pilem. Tapi setidaknya beberapa pelajaran dapat ditarik dari ‘White House Down’ ini.

Pertama, sudah saatnya aktivitas nge-blog diubah menjadi nge-vlog! Mengapa? Alasan sederhananya adalah, orang semakin tidak punya hasrat lagi untuk membaca tulisan yang panjang di blog. Analisa ini memang butuh survei dan pembuktian di lapangan. Tapi percayalah, dengan menyimak tulisan-tulisan pendek media online, rasanya alasan sederhana tadi bolehlah diterima akal. Intinya, patut kita aware, bahwa — karena beberapa alasan — orang akan semakin enggan membaca tulisan di blog. Bisa jadi karena alasan waktu, jaringan internet, kecepatan, kepraktisan, dan sebagainya.

Jangan lupa loch, aplikasi LINE melalui fitur LINE CAST bahkan sudah mencuri perhatian dengan menayangkan rekaman video wawancara eksklusif. Misalnya, pada 12 Mei 2016 lalu menampilkan Kombes Pol Khrisna Murti selaku Direskrimum Polda Metro Jaya. Saya termasuk yang menikmati wawancara ringan (tapi mendalam) tersebut melalui gadget. Kualitas tayangannya bagus, pengambilan gambar, editing dan run down acaranya sempurna! Sedangkan pada edisi 19 Mei 2016, LINE CAST menampilkan rekaman video dialog dengan super motivator, Mario Teguh. Keren bro’!

Ini memperkuat tudingan bahwa semakin hari, orang makin malas membaca (termasuk blog)! Orang tuh maunya simple. Sambil duduk di meja makan, sambil goleran di kasur, sambil angkat kaki dan ngopi, lalu nonton VIDEO. Menyaksikan VIDEO BLOGGING. Menonton hasil kerja VLOGGER!

Kedua, nge-blog dan nge-vlog punya dasar pekerjaan yang berbeda. Nge-blog itu menulis (dan terkadang memotret). Sementara nge-vlog adalah merekam video dan menyuguhkannya secara menarik. Untuk menjadi sesuatu yang membuat orang tertarik, nge-vlog harus memiliki kemampuan dasar speaking yang baik, kepiawaian announcing yang mumpuni, bisa membuat naskah pengantar video, kecakapan mengedit video, penampilan yang ciamik ‘n chic, dan naluri atau insting jurnalisme yang tinggi. Jurnalisme bisa dipelajari. Jangan keburu, blogger maupun vlogger itu alergi untuk mempelajari jurnalistik.

Ketiga, seperti juga yang dijalankan Emily, sebagai vlogger kemampuan mewawancarai narasumber harus handal. Caranya? Ya, tentu saja dengan menguasai masalah yang akan ditanyakan kepada narasumbernya. Passion Emily dalam bidang politik, membuat Presiden Amerika Serikat memuji apa yang disampaikan Emily sebagai pertanyaan yang berbobot! Nah, susahnya (maaf), kebanyakan blogger saat ini belum melakukan praktik wawancara dengan narasumber sebagai salah satu kerja reportasenya.

Bertebaran tulisan tentang bagaimana menjadi VLOGGER — yang pakemnya, hanya menayangkan video maksimal berdurasi tiga menit. Misalnya, sejumlah tulisan ini:

Membuat Vlog dengan Handphone

Yuk Mulai Vlogging

Ingin Menjadi Vlogger Sukses? Ini Kiat Khusus Yang Harus Anda Lakukan

Ini Angle yang Tepat Saat Menjadi Vlogger

Tips Menjadi Vlogger Sukses di Bulan Ramadhan yang Mesti Kamu Tahu

Blogging Seru: Haruskah Menjadi Vlogger?

Rahasia Sukses Vlogger YouTube yang Bisa Kaya Hanya Dengan Menjadi Diri Sendiri

Panduan Cara Membuat Vlog di Youtube

Oh ya, selain semakin hari orang kian malas membaca (blog), sudah mulai bermunculan juga keluhan terhadap dunia blog. Apa itu? Ya, klasik tuh masalahnya. Kebanyakan blog (hanya) berisi iklan semata, review produk dan jasa ini-itu, alias sekadar seperti rubrik advertorial atau pariwara di majalah maupun suratkabar. Padahal, di media-media massa itu, jujur saja, tidak sedikit orang yang akan langsung skip, emoh membaca advertorial. Kecuali, yang ditampilkan secara menarik dan content-nya benar-benar dibutuhkan pembaca.

Jadi ada baiknya sih, jangan terlalu “over dosis” mengisi blog dengan menuruti (nilai) komersil belaka. Karena nilai idealis blog itu, sejatinya banyak dinanti dan diminati publik. Mereka menunggu unggahan tulisan blog yang menarik, inspiratif, kaya manfaat, cerdas dan aktual. Entah itu bentuknya Opini, Kolom, Feature, Reportase, hasil Wawancara maupun yang rada agak sulit, Investigative Reporting.

BLOG DOWN 6 - loymachedo com

Film White House Down yang menyisipkan pesan profesi VLOGGER atau Video Blogger. (Foto: loymachedo.com)

 

Gimana? Tinggalkan nge-BLOG dan siap nge-VLOG?

Tapi … heheheeee, tulisan ini pun masih panjang, dan ditulis di BLOG juga toh.

 

= = = = = = = = = = =

* Dini hari Sabtu, 11 Juni 2016, sambil dengerin KOTAK BAND. (Nunggu pembukaan UEFA EURO 2016: Perancis vs Romania : Nunggu sahur juga deng!). 

fre1

Ilustrasi Menulis. (foto: openmoves.com)

 

Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) pada 31 Mei 2016 kemarin, cukup rame juga di media sosial. Status dan unggahan dengan menyisipkan tagar #Suarakan Kebenaran, #HTTS2016, dan #WorldNoTobaccoDay bermunculan di lini masa. Facebook dan Twitter kebanjiran tagar itu.

Rasanya, kemarin semua orang jadi peduli kesehatan. Mereka saling mengingatkan betapa bahayanya merokok. Terlebih, menyelamatkan generasi muda dari ketagihan mencandu rokok.

Gegap-gempita HTTS, tak luput dari peran penulis blog (blogger). Mereka menuliskan World No Tobacco Day melalui rupa-rupa tulisan. Ada opini. Tak ketinggalan, reportase.

Khusus reportase, pelaksanaan talkshow Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2016 yang digelar Ditjen P2P Kemenkes RI di Gedung D Lantai 4 Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta, Selasa (24/5/2016), menjadi event yang paling banyak menyedot animo para blogger.

Kabarnya, ada juga talkshow bertajuk “Jangan Bunuh Dirimu Dengan Candu Rokok” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada (31/5/2016). Ini sekaligus jadi puncak acara kegiatan HTTS 2016

Saya menikmati betul, membaca tulisan-tulisan blogger yang tidak sampai sepuluh jumlahnya. Semuanya sarat informasi juga kaya manfaat. Sekalipun sumbernya sama, yaitu dari paparan sejumlah narasumber ketika talkshow Kemenkes RI tadi.

Tidak hanya membaca info penting seputar World No Tobacco Day, saya juga mengulik tulisan blogger-blogger itu. Bukan bermaksud menjustifikasi atau memberi penilaian atas tulisan-tulisan itu. No way! Tapi, cuma untuk mencermati gaya dan sajian reportase para blogger manakala meliput event yang sama.

Tanpa harus menyebut tulisan siapa dan link-nya mana, hasil cermatan saya menunjukkan ada lima gaya tulisan blogger dalam menuangkan tulisan reportase:

PERTAMA, Tulisan Reportase Gaya Makalah.

Tulisan yang diunggah, umumnya diawali paparan singkat mengenai acara talkshow HTTS 2016. Eh, saking singkatnya, ada juga blogger yang tidak menuliskan judul [tiap-tiap] materi yang disampaikan para pembicara. Jangankan judul paparan atau makalah yang disampaikan, bahkan ada tulisan blog yang sama sekali tidak menyebutkan siapa-siapa saja narasumber yang berbicara.

Memang sih, ada beberapa foto yang disisipkan dalam tulisan blog tersebut, tapi, itu pun tanpa diberi keterangan lengkap. Tiada caption foto. Apalagi, dituliskan siapa saja nama sosok-sosok yang termuat dalam foto.

Selebihnya, tulisan blog ini pun hanya mengutip sejumlah point dalam paparan atau makalah yang disampaikan narasumber talkshow.

KEDUA, Tulisan Reportase Gaya Menyimak.

Dalam blog-nya, reportase talkshow HTTS 2016 yang ditulisnya cukup rapi. Pakemnya dilaksanakan. Blogger ini menuturkan talkshow HTTS 2016 dengan rumus baku ‘5W + 1H’. Terserah mau mendahulukan yang mana, yang pasti unsur berita itu memuat WHAT – WHERE – WHEN – WHY – WHO – HOW.

Beda dengan ‘Gaya Makalah’, tulisan blog ‘Gaya Menyimak’ ini menuliskan siapa-siapa saja pembicara atau narasumber talkshow yang hadir. Tak cuma nama lengkap, tapi juga jabatannya.

Bisa juga, ‘Gaya Menyimak’ ini disebut sebagai ‘Gaya Memantau’, atau ‘Gaya Pelapor’.

KETIGA, Tulisan Reportase Gaya Foto Berbicara.

Ya, ini gaya menuangkan hasil reportase yang paling mudah. Tulisannya sedikit, tapi foto yang diunggahnya banyak. Kadangkala, tulisannya tidak mengandung unsur lengkap ‘5W + 1H’. Isi tulisannya pun sekadar cuplikan beberapa point dari makalah atau slide show narasumber.

Fotonya banyak. Bahkan, ada tiga foto berbeda yang kemudian “dijembreng” berurutan dari atas ke bawah. Masih untung kalau ada keterangan fotonya. Beberapa foto, seringkali sekadar diunggah tanpa caption.

Makanya, untuk mudah diingat, saya sebut saja tulisan blog reportase ini sebagai ‘Gaya Foto Berbicara’. Atau, ‘Gaya Pamer Hasil Motret’.

Apa sah? Ya itu ‘mah normatif. Sepanjang ‘5W + 1H’ – nya termaktub dan pembaca tidak menjadi bingung, serta memperoleh informasi bermanfaat, maka boleh-boleh saja.

KEEMPAT, Tulisan Reportase Tanpa Wawancara.

Yang namanya peliputan berita, ada tiga unsur yang dikandungnya: Reportase, Wawancara, dan Riset Kepustakaan. Hasil liputan talkshow HTTS 2016 yang dituliskan blogger tidak ada yang diimbuhi Wawancara. Apalagi Riset Kepustakaan.

Tulisan hasil peliputan berita yang dilakukan blogger kental sekali dengan ‘Gaya Menyimak’. Tidak ada yang melengkapi tulisannya dengan Wawancara bersama narasumber. Apalagi, menambahkan dengan hasil Riset Kepustakaan. Ambil alasan sederhana saja, mungkin apa yang ada di makalah maupun slide show para narasumber sudah mencukupi untuk menjadi bahan tulisan blog-nya. That’s it! As simple as that.

Padahal, konon ada selebriti yang hadir. Rasanya, pembaca ingin menyimak lebih jauh, bagaimana selebriti ini, misalnya, pernah kecanduan rokok. Atau, bagaimana kisah sukses mereka total berhenti merokok.

Semua cerita menarik ini mustinya bisa digali dari Wawancara, atau juga Riset Kepustakaan.

KELIMA, Tulisan Reportase Lengkap Dengan Wawancara.

Untuk gaya tulisan reportase yang seperti ini, sampai sore hari ini, dan sampai saya mengunggahnya, belum ada tulisan blog terkait liputan HTTS 2016 yang dilengkapi Wawancara. Duuuh, padahal sejumlah narasumber [penting dan menarik] ada di depan mata.

Sekali lagi, tanpa bermaksud menjustifikasi apalagi ngasih nilai, silakan temukan sendiri jawabannya, gaya tulisan peliputan atau reportase mana, yang kiranya paling baik.

Please, specify your own preferred. Which is the best?

 

=========

* Menanti hujan di Tangerang Selatan, 2 Juni 2016