JEP 008

Selamat Datang di Lobang Jepang. (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu obyek wisata andalan di Bukittinggi, Sumatera Barat yang saya dan rombongan Komunitas WEGI (We Green Industry) kunjungi, pada Maret 2016 kemarin adalah Lobang Jepang. Ini adalah tempat dimana tentara Jepang melakukan pertahanan. Karenanya, ia menjadi saksi bisu sejarah pendudukan Jepang, pada sekitar 1942 – 1945.

Dari Padang, menuju ke lokasi ini adalah sekitar dua jam. Lobang Jepang berada di Bukit Sianok, yang termasuk dalam kawasan obyek wisata “Taman Panorama dan Lobang Jepang” di Jalan Panorama, Bukittinggi. Akses masuk ke Lobang Jepang adalah melalui pintu masuk Taman Panorama. Tiket masuknya Rp 8.000 untuk hari libur, dan Rp 5.000 pada hari biasa.

JEP 001

PT Semen Padang menunjukkan komitmennya untuk melestarikan obyek wisata sekaligus obyek peninggalan sejarah. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 002

Pintu masuk utama ke Taman Wisata Panorama dan Lobang Jepang melalui Jalan Panorama. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 003

Saksikan keindahan guratan alam Panorama Ngarai Sianok. (Foto: Gapey Sandy)

Katanya, sempat dibuka juga pintu masuk ke Lobang Jepang melalui sisi samping Istana Bung Hatta, dan arah Jalan Ngarai Sianok. Tapi kini, kedua akses masuk ini sudah tak difungsikan lagi!

Ada beberapa peraturan yang harus diketahui sebelum masuk ke Lobang Jepang. Aturan ini ditempel petugas di kaca loket tiket masuk. Yaitu:

  • Jam buka loket tiket masuk (07.30 – 18.00 wib).
  • Jam buka Lobang Jepang (07.30 – 18.30 wib).
  • Bagi pengunjung Lobang Jepang yang berpasangan agar menjaga kesopanan selama berada di dalam Lobang Jepang.
  • Jasa tour guide tidak termasuk dalam pembayaran tarif retribusi obyek wisata.
  • Tour guide yang resmi mengenakan kokarde dan berada dibawah naungan HPI atau Himpunan Pramuwisata Indonesia. (Kokarde adalah pita atau bunga tertentu yang disematkan di dada sebagai penanda/pengenal khusus).
JEP 005

Prasasti dan patung dua tentara Jepang sebelum menuju ke Lobang Jepang. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 006

Rombongan Komunitas WEGI V bersiap memasuki Lobang Jepang. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 007

Beginilah mulut Lobang Jepang. (Foto: Gapey Sandy)

Lobang Jepang berukuran panjang 1,5 kilometer. Tapi, yang dapat diakses oleh pengunjung hanya 750 meter saja. Meski hanya separuhnya, pengunjung akan tetap dapat merasakan bagaimana sensasi bergidik selama berada di kedalaman lobang yang berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi sekitar dua meter.

Jangan berpikiran bahwa ketika berada di dalam Lobang Jepang suasananya akan gelap, pengap dan membuat sesak nafas. Justru sebaliknya, aliran udara seperti tersirkulasi dengan baik, tidak sumpek, tidak pengap apalagi panas. Cuma memang, kalau ada pengunjung yang tidak tertib alias merokok, maka seisi lobang akan seperti beraroma asap rokok.

JEP 0010

Pelajari denah Lobang Jepang sebelum blusukan ke dalam lobang yang cukup mendebarkan. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 009

Foto bersama dulu rombongan WEGI V 2016. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0011

Mulai menuruni anak tangga. Perhatikan pegangan tangan di tengah anak tangga yang sekaligus ‘membelah’ akses jalan menjadi dua. (Foto: Gapey Sandy)

Untuk urusan merokok di dalam Lobang Jepang ini, hendaknya pengelola tegas. Cabut izin tour guide apabila justru mereka yang merokok, atau kenakan sanksi denda yang berat kepada pengunjung yang terbukti merokok selama berada di dalam Lobang Jepang.

Sebenarnya, tak ada kesan horor selama berada di dalam Lobang Jepang yang diameter lorongnya berukuran 3 x 4 meter ini. Karena sepanjang lorong ‘toh sudah diberi penerangan yang cukup. Belum lagi, lantai pijak selama berada di dalam lobang yang sudah dilapisi paving block. Sejumlah dinding dan langit-langit bahkan sudah dilapisi semen keras. Tapi, pada beberapa bahagian lorong ada yang dibiarkan seperti bersekat-sekat dan ‘telanjang’ tanpa lapisan semen. Kesannya, jadi masih asli seperti layaknya masa lalu.

JEP 0012

Terus semakin turun ke bawah permukaan tanah. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0014

Ruang Amunisi. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0013.jpg

“Juragan” WEGI yang satu ini paling aktif pose sana-sini di Lobang Jepang. (Foto: Gapey Sandy)

Oh ya, ketika memasuki Lobang Jepang, kita akan menuruni banyak anak tangga yang lumayan curam. Tapi untungnya ada pegangan tangan yang terbuat dari besi chrome di tengah-tengahnya. Eh, konon ada 132 anak tangga yang harus kita turuni. Banyak amat? Yaiyalah, karena diperkirakan kedalam Lobang Jepang ini saja mencapai 40 meter dari permukaan tanah.

Ada banyak ruangan-ruangan di dalam Lobang Jepang. Mulai dari ruang penyimpanan amunisi, ruang sidang, ruang penjara, ruang dapur, ruang pengintaian pada bagian atas, dengan lubang kecil tepat di bawahnya. Kata tour guide yang mendampingi rombongan, lubang kecil inilah yang biasa dijadikan sebagai tempat untuk membuang mayat para tahanan yang mati akibat siksaan bertubi-tubi selama dalam penjara. Terus, mayatnya gimana? Ya, lewat lubang kecil itu mayat dibuang dan langsung mengarah ke Sungai Sianok. Artinya, mayat dibuang dan dihanyutkan ke sungai. Wuiihhhh … sadis lo’ Nippon!

JEP 0015

Kalau sendirian masuk ke Lobang Jepang ini, kayaknya ngeri juga bro … hahahahaaa. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0016

Cukup luas juga ya diameter lorongnya. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0017

Aduh, jangan corat-coret dong. (Foto: Gapey Sandy)

Ada banyak lorong-lorong lain yang beberapa sudah diberi pintu teralis dan kerangkeng besi. Di dalam lorong ada meja dan kursi-kursi yang sengaja dipersiapkan. Kata petugas tour guide, rencananya di lorong itu akan dibuat semacam cafe. Hah? Bikin cafe di Lobang Jepang? Atuh, bisa pesan kopi sama teh manis hangat nih.

Akses keluar dari Lobang Jepang adalah lorong yang menyembul di sisi yang mengarah ke Ngarai Sianok. Nah, jangan berpikir bahwa petualangan sudah selesai. Karena, untuk kembali ke Taman Panorama — tempat dimana tadi pengunjung mulai masuk Lobang Jepang — harus menaiki banyak anak tangga. Hah! Bikin capek! Belum lagi, pemandangan tak sedap berupa sampah-sampah yang dibuang sembarangan pada beberapa bahagian anak tangga. Duuhhhh ... rasanya, kebersihan harus lebih diperhatikan pada sisi ini.

JEP 0018

Inilah ruang Barak Militer Tentara Jepang. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0019

Lapisan semen pada bagian langit-langit sempat rusak sebagai dampak ketika Sumatera Barat dilanda gempa bumi. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0020

Masih dibiarkan bersekat-sekat dan seperti tanah merah. Bentuk lorongnya agak kotak, bukan lagi setengah lingkaran di bahagian tertentu. (Foto: Gapey Sandy)

Selain itu, ketika di dalam Lobang Jepang, ulah tangan-tangan jahil — vandalis sejati — sangat merusak pemandangan. Banyak tulisan-tulisan yang sengaja digores pada dinding-dinding lorong Lobang Jepang. Haddeeuuuuhhhhh … kalau Lobang Jepang-nya kotor, rusak dan jorok, siapa pula yang sudi datang lagi berkunjung ke sini. MIKIR!!!!

Berikut adalah foto-foto selama blusukan di Lobang Jepang!

JEP 0021

Ruang penjara bersebelahan dengan dapur. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0022

Ruangan ini yang paling seram! Lubang di bawah sebelah kiri adalah untuk membuang mayat. Dijejalkan dan langsung terbuang mengarah ke Sungai Sianok. Lubang atas disebut pintu pengintaian. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0023.jpg

Ada ruang Museum Saintifik. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0024

Pintu Penyergapan. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0026.jpg

Begitu keluar dari Lobang Jepang. Ya begini ini mulut pintu keluarnya. Sebelum-sebelumnya, ini juga jadi pintu masuk. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0027.jpg

Begitu keluar dari Lobang Jepang, mau balik ke Taman Panorama, harus naik bukit dengan anak-anak tangga yang tinggi dan banyak. Haddeeuuuhhhh … enggak ada ESKALATOR yak? (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0028.jpg

Kebersihan sangat memprihatinkan. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0039

Semangat naik tangga. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0029.jpg

Terus mendaki anak tangga. Ngos-ngosan bro! (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0030.jpg

Ayoooo … nanjak teruuusss. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0031

Sampai di atas, harus melewati Taman Pemakaman Umum dengan sisi jalan sebelah kanan yang LONGSOR. Waduh BAHAYA!!! (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0033

LONGSOR nih, butuh perbaikan segera. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0032.jpg

Para monkey memberi sambutan! Duh, imutnaaaaa ... (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0035

Pemandangan Ngarai Sianok yang sanggup melepas penat. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0034

Pemandangan Ngarai Sianok yang elok. (Foto: Gapey Sandy)

JEP 0036

Banyak yang menjual souvenir lukisan. Bisa tulis nama pengunjung di lukisan yang dibeli. (Foto: Gapey Sandy)

KAPAU 7 copy

Salah satu lukisan yang dijual. (Foto: Gapey Sandy)

Duh, kapan lagi ya bisa ke sini … ?

Semoga!

Iklan