PG 9

Istano Basa Pagaruyung, Batusangkar, Sumbar. (Foto: Gapey Sandy)

Pertengahan Maret 2016 kemarin, saya berkunjung ke Istano Basa Pagaruyung. Perjalanan bersama komunitas WEGI (We Green Industry) membawa saya masuk ke istana yang (sebenarnya kini) tinggal replika. Sesaat tiba di istana. Bus besar yang membawa rombongan kami harus parkir di seberangnya

Di lokasi parkir ini ada warung kopi, mie instan, warung nasi, dan kios maupun lapak pedagang kakilima yang menjajakan souvenir khas lokal. Ada juga fasilitas toilet dan kamar mandi. Rombongan kemudian menyeberang jalan. Sebelum naik tangga batu. Di sebelah kiri gapura bertuliskan “Istano Basa Pagaruyung” dengan dua tiang besar yang ujungnya terdapat maket rumah gadang, ada loket pembelian karcis untuk pengunjung.

Jpeg

Gerbang Istano Basa Pagaruyung, Batusangkar, Sumbar. (Foto: Gapey Sandy)

PG 2.jpg

Replika Istano Basa Pagaruyung yang megah. (Foto: Gapey Sandy)

PG 13.jpg

Pengunjung bisa menyewa pakaian adat dan bebas berfoto. (Foto: Gapey Sandy)

Sebenarnya, mulai dari turun dari bus, kemegahan istana sudah nampak. Ukurannya yang super jumbo dengan ukiran dan warna pada kayu dinding rumah gadang, dari kejauhan sudah mengesankan eksotisme tersendiri, apalagi dengan atap yang meruncing pada setiap kedua sisinya. Semakin dekat, pemandangan kemegahan itu kian nampak. Joss!

Ada tiga tangga batu yang harus diundaki pengunjung menuju jalan ke arah teras dan pintu masuk istana. Undakan batu pertama ketika masuk gapura, lalu enam undakan batu setelah kotak amal tadi, dan berikutnya tangga batu lagi. Barulah kemudian jalan melandai menuju tangga kayu yang menjadi pintu masuk istana. Ada juga umbul-umbul tiga warna yang sama seperti warna bendera Jerman: hitam – merah – kuning.

Di kanan dan kiri istana adalah lapangan rumput. Pemandangan di sebelah kanan cukup unik. Karena, ada bangunan rumah gadang kecil. Fungsinya, kalau disebutkan tentu sebagai tempat untuk menyimpan padi dan bahan makanan. Di dekatnya ada patung seekor kerbau gemuk abu-abu kehitaman dengan tanduk panjang melengkung, kokoh nan runcing.

PG 7.jpg

Lepas alas kaki, simpan di plastik yang telah disediakan. Naik tangga menuju pintu masuk utama. (Foto: Gapey Sandy)

PG 8.jpg

Jendela-jendela besar Istano Basa Pagaruyung. (Foto: Gapey Sandy)

PG 12.jpg

Dari jendela istana melihat ke arah pegunungan. (Foto: Gapey Sandy)

Okelah, sekarang kita masuk ke Istano Basa Pagaruyung, yuk …

Semakin mendekat ke istana, kekaguman dan rasa takjub melihat begitu megah serta besarnya istana semakin menjadi-jadi. Enggak sabar rasanya, kepingin buru-buru lihat bagaimana isi di dalamnya. Ketika mencapai tangga kayu untuk masuk ke istana, pengunjung diwajibkan membuka sandal maupun sepatu. Silakan dititipkan kepada dua petugas yang berjaga di sisi bawah tangga, karena mereka selalu menyediakan tas plastik sebagai tempat menyimpan sandal dan sepatu pengunjung. Bolehlah pakai kaos kaki.

Eh tapi, kalau kita pakai kaos kaki, maka akan terasa licin ketika menapaki tangga kayu untuk naik (dan turun) ke lantai dua dan tiga. Nah, daripada licin dan membahayakan diri sendiri, lebih baik buka sajalah kaos kakinya.

Ketika mulai memasuki istana, di lantai satu ini kita akan langsung diminta untuk mengisi buku tamu. Ada dua petugas yang menjaga. Mereka ramah, meski kurang atraktif untuk memberi penjelasan tentang ini dan itu seputar “jeroannya” istana. Ya maklumlah, mereka bukan guide wisata toh? Tapi mustinya, kerja staf penerima tamu, harus “bawel” plus informatif. Yo wes lah

PG 33

Sinar matahari sore menelusup masuk ke istana. (Foto: Gapey Sandy)

PG 31

Suasana di dalam istana, lantai satu. (Foto: Gapey Sandy)

PG 32

Salah satu replika keris pusaka yang dipamerkam. (Foto: Gapey Sandy)

Di lantai satu ini, ruangan dalamnya begitu luas, lapang dan memanjang, serta begitu tinggi atap atasnya. Warna-warni cerah begitu mendominasi kain-kain hiasan, begitu juga dengan pernak-pernik keemasan. Yah, namanya juga (replika) istana. Berdasarkan banner besar yang berisi informasi ruangan, di lantai satu sisi paling kiri dinamakan “anjuang perak”. Fungsinya sebagai tempat Bundo Kanduang (Ibu Suri) mengadakan rapat yang bersifat kewanitaan pada langgam (tingkat) pertama, lalu sebagai tempat beristirahat pada langgam kedua, dan sebagai tempat tidur Ibu Suri pada langgam terakhir atau ketiga.

Lalu ada juga bahagian khusus di tengah-tengah lantai satu ini yang diberi nama “singgasana” (sebagai tempat Kedudukan Bundo Kanduang). Persisnya, letak singgasana ini sejajar dengan pintu masuk. Di sini terpajang foto Raja Pagaruyung terakhir yakni Sultan Alam Bagagarsyah. Menariknya, singgasana ini dilingkari dengan tirai yang terjuntai di sisi kiri, kanan, dan depan. Di sini biasanya Bundo Kanduang duduk sambil melihat-lihat siapa yang datang, atau yang belum datang apabila ada rapat dan mengatur segala sesuatu di atas rumah.

Bagaimana dengan sisi kanan di lantai satu ini? Bahagian ruang ini dinamakan “Anjuang Rajo Babandiang”. Berada di bagian kanan atau pangkal rumah (istana), dan punya tiga langgam atau tingkat. Fungsi anjuang ini adalah sebagai tempat sidang (langgam pertama), tempat beristirahat (langgam kedua), dan tempat tidur raja serta permaisuri pada langgam ketiga.

Jpeg

Salah satu sudut istana. (Foto: Gapey Sandy)

PG 14.jpg

Selasar menuju dapur dan ruangan untuk 12 dayang-dayang. (Foto: Gapey Sandy)

PG 16.jpg

Dapur dan perangkatnya. (Foto: Gapey Sandy)

Di space Anjuang Rajo Babandiang ini ada dua boneka seukuran manusia yang dipakaikan busana adat Minangkabau berwarna hitam-hitam dengan pernak-pernik keemasan. Di dada kiri boneka lelaki ada tulisan penjelasan bahwa inilah contoh pakaian adat untuk ‘Datuak’ atau ‘Penghulu’ yang tugasnya menjadi niniak mamak dalam nagari.

Oh ya, selain tiga bagian istana pada lantai satu ini, terdapat juga sejumlah lemari kaca yang berisi replika benda-benda kerajaan peninggalan masa lampau. Meski hampir semuanya adalah replika, tapi tidak meninggalkan kesan antik alias penuh riwayat juga hikayat. Misalnya, ada replika “Keris Geliga Tunggal Alam”. Ini adalah benda pusaka Istana Pagaruyung yang selalu jadi bekal Tuanku Abang Raja Manti Putih Larat ke Rantau Kala-Kala Kuning Tanah Kucing Serawak pada akhir abad XVIII.

Ada kenong atau gong kecil berwarna keemasan yang dinamakan “Canang Pamanggia”, fungsinya untuk memanggil masyarakat guna bekerja gotong-royong. Keris asli “Sampono Ganjo Erah” dan “Ponding Parisai Pusek” juga ada. Inilai pusaka Istana Pagaruyung Raja Adat Buo Pangian. Keris ini diyakini sudah ada sejak awal abad XVIII.

PG 17.jpg

Pemandangan dari jendela menatap runcingan rumah gadang dan bukit batu. (Foto: Gapey Sandy)

PG 22.jpg

Pemandangan dari jendela Istano Basa Pagaruyung. (Foto: Gapey Sandy)

PG 23.jpg

Pemandangan pebukitan dari jendela Istano Basa Pagaruyung. (Foto: Gapey Sandy)

Selain itu, ada juga replika “Keris Tunggal Kilau Malam”. Ini juga benda pusaka Istana Pagaruyung bekal Raja Lenggang Dirajakan ke Rembau Seri Menanti pada tahun 1808. Sejumlah replika masih ada lagi, seperti misalnya “Saluak Deta Dandan Tak Sudah”. Ini adalah mahkota tutup kepala Raja Alam Melayu Minangkabau di Pagaruyung selepas tahun 1550 abad XVI dibawa ke Rembau Seri Menanti Negeri Sembilan oleh Si Alang Bujang Mahmud Tuanku Raja Malewar tahun 1773 abad XVIII. Juga ada replika kopiah yang diperkaya dengan ukir sulaman benang emas dari Sungayang “Tikam Tindik” Sarang Olang abad XVIII.

Puas beringsut dari sisi kiri, tangah (tengah) dan kanan, jangan dulu bergegas naik ke lantai dua. Pergilah dulu ke balik singgasana, ada jalan keluar di dekat tangga kayu. Jalan ini menuju ke selasar, yang menghubungkan antara bangunan inti istana dengan dapur. Pemandangan di kanan dan kiri selasar cukup apik. Sudut-sudut ‘rumah gadang’ besar ini bisa kita tatap seksama. Talang batas pada atap ijuk yang mulai ditumbuhi suplir dan tanaman khas daerah lembab. Serta, kesejukan hawa perbukitan yang menjulang tinggi persis di belakang istana. Selasar menuju dapur ini cukup lebar. Kalau lurus kita akan keluar pintu belakang, dan turun menggunakan tangga kayu.

Sedangkan dapur ada di kanan selasar. Dapurnya luas sekali. Dari replika peralatan memasak yang ada, semuanya terbuat dari tanah liat. Diletakkan di atas semacam ‘dipan’ yang sengaja ditumpahkan pasir halus. Nah, di atas ‘dipan’ dengan pasir halus inilah, pekerja istana mengolah masakan. Menggunakan kayu bakar, tetapi karena ada alas pasir halus, maka pembakaran ini pun ‘aman’. Mungkin begitulah kira-kira. Di atas dipan pembakaran itu, digantung tas-tas anyaman daun pandan. Ada juga digantung sejumlah tempat cairan atau minyak, yang bentuknya seperti wadah arak pada film-film laga Mandarin.

PG 19.jpg

Salah satu jendela dan pemandangan di luarnya. (Foto: Gapey Sandy)

PG 21.jpg

Lumbung padi di sisi kanan istana, disaksikan dari jendela. (Foto: Gapey Sandy)

PG 10.jpg

Lumbung padi di sebelah istana. (Foto: Gapey Sandy)

Di sudut dapur, ada sejumlah perlengkapan untuk mengolah bahan makanan mentah. Syukurlah, ada di tempel tulisan informasi. Terbaca misalnya, “katidiang” yang menjadi alat untuk meletakkan padi atau beras. Ada “ayak bareh” sebagai wadah pemisah beras dan padi waktu menumbuk padi. Terlihat juga alat dari bambu berbentuk seperti kerucut untuk menangkap ikan di sungai.

Eh uniknya, di dapur ini kok ada booth jualan. Jualannya minyak gosok untuk berbagai keluhan derita, mulai dari kembung, kelelahan, salah urat, rematik dan sebagainya. Pengunjung yang lelah juga bisa pakai, gratis! Lumayanlah, kalau kaki pegal-pegal, bisa dioles minyak gosok yang disebut-sebut sebagai produk khas di Istana Pagaruyung. Dari penjelasan yang ada, “dapua” atau dapur memang terletak di bagian belakang rumah gadang. Dapur ini punya dua ruangan. Sisi sebelah kanan, seperti yang sudah ditulis, ada tempat memasak yang dilengkapi perkakas dapur serba tradisional. Sedangkan pada sisi sebelah kiri, berfungsi sebagai tempat para dayang yang berjumlah 12 orang.

Dapur Istano Basa Pagaruyung dibuat terpisah dengan bangunan utama dan dihubungkan dengan selasar. Sayang seribu sayang… ruangan tempat 12 dayang-dayang itu tertutup dan terkunci rapat. Aduh mak! Padahal saya kepingin lihat dayang-dayangnya, eh … maksudnya lihat ruangannya deng … heheheheee, gaswaaattttt!

PG 24.jpg

Tanaman liar nampak tumbuh subur di talang air ujung atap istana. (Foto: Gapey Sandy)

PG 15.jpg

Pemandangan sudut istana dari selasar menuju dapur. (Foto: Gapey Sandy)

Naik ke Lantai Dua Tangga kayu menuju ke lantai dua ada di tengah lantai satu, atau dekat jalan menuju selasar. Enggak begitu tinggi, tapi karena beberapa anak tangga kayu berderit ketika diinjak maka rasanya jadi memang seperti harus ekstra hati-hati. Di lantai dua, suasananya lumayan lapang dan memanjang, mirip seperti di lantai satu tapi lebih kecil ukuran luasnya. Tapi, tidak begitu banyak piranti yang ada. Karena memang, lantai dua ini dinamakan “anjungan paranginan” dan dimaksudkan sebagai tempat bercengkerama para puteri raja yang belum menikah (berkeluarga atau gadis pingitan).

Di sisi kiri ada kamar peristirahatan puteri raja dengan tirai yang memanjang dari atap hingga lantai, menjadi semacam kelambu. Lagi-lagi, hiasan kainnya didominasi warna kuning keemasan. Bergantungan pula beberapa lampu antik.

Di sisi kanan, mepet dinding kayu, ada kursi kayu antik, lengkap dengan meja dengan keramik bundar. Paling sudut dekat jendela, ada kotak kuno penuh ukiran yang diperuntukkan menyimpan perkakas Putri Raja. Ada tiang utama yang diantaranya dipasang cermin untuk berdandan puteri raja, dengan bingkai dari kayu.

Udara sejuk terasa di lantai dua ini. Maklum, lantai ini cukup tinggi. Dan lagi, jendela-jendela istana yang dibuka benar-benar menyajikan pemandangan luar biasa indah, selain kesejukan sirkulasi udara.

Jpeg

Jangan merokok di area istana. Semua piranti yang ada mudah terbakar! (Foto: Gapey Sandy)

PG 3.jpg

Patuhi aturan kala berwisata. (Foto: Gapey Sandy)

PG 29.jpg

Dari sisi samping kanan. Ada toilet dan mushola untuk pengunjung juga. (Foto: Gapey Sandy)

PG 26.jpg

Kalau menjelang Maghrib, istana ditutup. Jendela pun ditutup. (Foto: Gapey Sandy)

PG 30.jpg

Komunitas WEGI V, 2016. (Foto: Gapey Sandy)

PG 27

Siluet lumbung padi Istano Basa Pagaruyung kala mentari tenggelam. (Foto: Gapey Sandy)

PG 28.jpg

Another siluet. (Foto: Gapey Sandy)

Selamat berwisata … Cinta negeri sendiri.

Hey … hey hey …

Baca naskah selengkapnya, di sini: Patuhi Aturan Wisata di Istano Basa Pagaruyung

Baca sambil nyanyi lagu SANSARO – Minang Jazz yang ciamik.

Iklan