SP 04

Penulis di bekas Pabrik Semen Indarung I, Indarung, Sumbar. (Dokpri. Gapey Sandy)

Pabrik Semen Padang Indarung I banyak jadi saksi bisu sejarah pergolakan sosial, politik juga militer di negeri ini. Maklum, Indarung I beroperasi sejak 1910. Kini, pabriknya sudah tutup. Sudah lama. Kondisi bangunan, besi dan bajanya berkarat, berlumut dan lapuk termakan usia.

Eitssss … tapi jangan salah, justru bekas pabrik ini sedang diupayakan menjadi obyek wisata pusaka industri (industrial heritage). Keren!

Indarung I ada di kompleks Pabrik Semen Padang di Indarung, atau sekitar 21 kilometer dari Bandara Minangkabau, Sumatera Barat. Perjalanan normal naik mobil, cuma 45 menit dari bandara menuju pabrik.

Di Indarung I, pemandangan umum yang terlihat cuma rangka-rangka besi tua. Masih kelihatan kokoh pada sebagian perangkat berukuran ‘raksasa’ meski karat, lumut dan tetumbuhan suplir tak bisa berbohong akan rentanya bekas pabrik semen pertama di Indonesia — bahkan Asia Tenggara — pada masa Hindia Belanda ini.

Bagaimana potret kondisi sisa bekas bangunan dan pabrik Indarung I? Lihat foto-foto yang saya jepret berikut ini:

SP 01

Di lokasi bekas Pabrik Semen Indarung I. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

SP 02

Kondisi bekas Pabrik Semen Indarung I. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

SP 07

Cerobong uapnya pun sudah ditumbuhi tumbuhan liar. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

SP 05

Lumut dan karat di bekas Pabrik Semen Indarung I. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

Di masa jayanya, hasil produksi pabrik semen Indarung I digunakan untuk membangun berbagai proyek mercusuar nasional. Misalnya, sejumlah proyek pada awal ‘60-an seperti: Monumen Nasional (Monas), Jembatan Semanggi, Gedung DPR/MPR Senayan dan Hotel Indonesia. Lalu, Jembatan Ampera yang melintasi Sungai Musi di Palembang, pada ’70-an.

Selain itu, hasil bubuk semen yang diproduksi kilang semen di Indarung ini juga berhasil membentuk proyek monumental seperti PLTA Sigura-gura (Sumatera Utara), PLTA Batang Agam, Maninjau, Singkarak dan Koto Panjang di Sumatera Barat serta Riau. Tak ketinggalan, bangunan menara Bursa Efek Indonesia (BEI), Menara Jamsostek dan puluhan gedung pencakar langit di kawasan elite Sudirman Central Business District (SCBD) di Jakarta.

Jangankan proyek fisik domestik. Hasil semen dari wilayah Bukit Indarung ini juga sudah teruji di luar negeri. Sebut saja misalnya, bangunan gedung World Trade Center (WTC) di Singapura, puluhan bangunan, irigasi dan dermaga di Bangladesh, bahkan dipergunakan juga untuk proyek bangunan di Jerman maupun Amerika Serikat. Luar biasa memang, semen produksi “Minangkabau” Indonesia ini!

Kira-kira bagaimana gambaran Pabrik Semen Indarung I ini pada masa awal berdiri dan kejayaannya? Berikut, sejumlah foto kuno yang dikirimkan kepada penulis dari pihak Humas PT Semen Padang:

OK COMINOR 1910

OK PERLATAN PABRIK 1910

OK KILN 1910 2

OK SAAT PENERIMAAN UPAH 1913

Suasana pengambilan upah pekerja di pabrik semen. (Foto: Humas PT Semen Padang)

Dari referensi yang penulis peroleh, eksistensi Semen Padang berawal dari penemuan batu-batu menarik oleh seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman yaitu Carl Christophus Lau, pada 1906. Batu-batu ini kemudian dikirim ke Belanda untuk melewati uji penelitian. Hasilnya? Mencengangkan! Batu-batu tersebut ternyata mengandung kapur dan silika, dua bahan baku utama untuk membuat semen.

Carl Christophus Lau mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk pendirian pabrik semen di Indarung. Permohonannya disetujui lebih kurang tujuh bulan kemudian. Ia kemudian menggandeng sejumlah perusahaan untuk bermitra, yakni Firma Gebroeders Veth, Fa.Dunlop, dan Fa.Varman & Soon, pada 18 Maret 1910. Sejak itu, berdirilah pabrik yang bernama NV Nederlmidschhidische Portland Cement Maatschappij (NY NIPCM) dengan akta notaris Johannes Pieder Smidth di Amsterdam.

Kehadiran perusahaan ini menjadi tonggak sejarah berdirinya industri semen di Indonesia, karena merupakan industri besar pertama di Indonesia yang terdaftar di bawah Departemen Pertanian, Industri, dan Perdagangan di Hindia Belanda.

Pabrik semen di Indarung ini menjadi tonggak sejarah industri besar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Legalitas perusahaan semen itu berdasarkan “Koninklijke Bewilliging”,  pada 8 April 1910, No 20.  Pabrik ini berkantor pusat di Prins Hendrikade 123, Amsterdam dan kantor cabangnya di Padang, Sumbar.

Pembangunan klin — dapur atau tungku untuk mengolah semen — pertama di pabrik semen Indarung selesai pada 1911, dengan kapasitas produksi 76,5 ton sehari. Klin kedua dibangun setahun kemudian, dengan kapasitas sama.

Pada awalnya,  sumber energi listrik yang digunakan untuk mengoperasikan pabrik ini berasal dari pembangkit listrik Rasak Bungo, yang memanfaatkan air Sungai Lubuk Paraku. Sementara bahan bakar pabrik menggunakan batubara Ombilin. Batu bara didatangkan dengan kereta api dari Sawahlunto ke Bukit Putus, tak jauh dari Teluk Bayur.

Begitulah kisah awal berdirinya ”Pabrik Semen Padang Indarung I”.

Untuk bernostalgia dengan masa-masa Belanda dulu, ada saja cara yang dilakukan di ”tekape”, seperti berbusana ala Meneer dan Noni Belanda di lokasi pabrik.

Begini gaya mereka:

Jpeg

Pengunjung bergaya Meneer dan Noni Belanda di bekas Pabrik Semen Indarung I. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

Jpeg

Berpose gaya Noni Belanda di masa lampau. Lokasi: Bekas Pabrik Semen Indarung I. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

Jpeg

Bergaya Meneer dan Noni Belanda di bekas Pabrik Semen Indarung I. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

Eehhhhh  … asal tahu aja ya, justru dengan kondisi bekas pabrik semen yang ‘mengenaskan’ itu, produser film serial James Bond 007, kabarnya telah berhasrat untuk mempertimbangkan bekas pabrik yang sarat besi tua ini sebagai salah satu lokasi shooting aksi laganya. Wuidihhh … kebayang, Mister James Bond duel baku pistol dengan sang lawan. Mereka saling mindik-mindik, merunduk, dan berlarian sambil menembak … darr … derr … dorr … diantara rangka besi-besi tua bekas pabrik semen ini. Keren! Semoga sajalah, adegan fiksi heroik sang agen rahasia 007 asal Inggris ini terwujud.

Andai shooting film James Bond di bekas pabrik semen Indarung I ini terlaksana, sungguh sebuah hal yang menggembirakan. Mengapa? Bekas pabrik semen ini akan terkenal ke seantero jagat. Perhatian orang akan banyak tumpah ke sini. Sehingga, rencana untuk menjadikan bekas pabrik semen Indarung I sebagai ‘Industrial Heritage’ atau Pusaka Industri pertama di Indonesia, akan semakin mulus jadi kenyataan.

Wacana untuk menyulap bekas pabrik semen Indarung I menjadi Industrial Heritage sudah dimulai sejak 2009. Waktu itu, 128 arsitek yang tergabung dalam MAAN atau Modern Asian Architecture Network, menyumbangkan ide untuk menggarap Indarung I sebagai museum semen pertama di Asia. Wuiiihhhh, kece  ..!

Sejumlah konsep yang ditawarkan misalnya menjadikan bekas pabrik semen bersejarah ini sebagai taman sejarah, mengembangkan sisa-sisa bangunannya menjadi fungsi-fungsinya masa lalu, menata ulang landscape sesuai dengan asas heritage pusaka peninggalan sejarah masa lalu.

Apapun ide yang disampaikan, kiranya lebih berharga ketimbang sempat ada harapan untuk menjual semua rangka besi-besi dan baja tua bekas pabrik Indarung I ini ke pihak pemulung. Haddeeeuuuhhhhh … jangan sampai ide kayak begini nongol lagi yak.

SP 03.jpg

Kondisi bekas Pabrik Semen Indarung I. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

SP 08

Terbayang ya, kalau serial James Bond 007 shooting di sini. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

SP 22

Semoga terwujud, serial James Bond 007 shooting di bekas Pabrik Semen Indarung I ini. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

Keinginan yang terus hidup untuk menjadikan Indarung I sebagai Industrial Heritage adalah sebuah amanah, wasiat sekaligus tantangan “Ibu Pertiwi”. Mengapa? Karena, Indarung I adalah saksi bisu perjalanan bangsa. Keberadaannya tak lepas dari pergolakan politik termasuk agresi militer. Sejarah ini terbaca dari masa ke masa.

Bayangkan! Dalam kurun 100 tahun, berkali musim berganti, dinamika pabrik semen Indarung I terjadi. Didirikan oleh pengusaha Belanda, 18 Maret 1910. Lalu diambil alih Jepang (1942-1945). Dioperasikan oleh karyawan Bangsa Indonesia setelah Proklamasi (1945-1947). Eh, kemudian diambil lagi oleh Belanda semasa Revolusi (1947). Tahun 1959, Pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi besar-besaran terhadap perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia. Sejak itu Semen Padang menjadi milik bangsa Indonesia.

Tak ada kata yang layak disampaikan kecuali kita menanti realisasi menjadikan bekas Pabrik Semen Padang Indarung I ini sebagai obyek wisata edukasi. Berwisata sekaligus mereguk wawasan ilmu pengetahuan. Edukasi Sejarah terkait pabrik semen masa Hindia Belanda, dan Edukasi Teknologi yang berhubungan dengan serba-serbi tentang bebatuan alam, pembuatan semen dan sebagainya.

Semoga harapan ini terwujud. Sehingga kita semua akan kembali bangga karena punya satu destinasi wisata unggulan terbaru yakni Wisata Industrial Heritage, dari balik rangka besi-besi tua dan sisa bangunan pabrik semen Indarung I yang penuh memoar sejarah.

SP 19

Bekas Pabrik Semen Indarung I. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

SP 06

Ditumbuhi tanaman liar. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

SP 20

Berlumut dan berkarat. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

Jangan sampai anak cucu kita, buta akan sejarah, bahwa sejak masa lalu sebenarnya produksi semen nasional telah sanggup digjaya hingga ke mancanegara.

Bukankah bangsa yang besar, tak akan pernah lupakan sejarah?

  • Tulisan ini dimuat juga di Kompasiana, 4 April 2016.
Iklan