sukma indah

Foto: Sukma Indah Permana – detiknews

Cinta butuh perjuangan.

Cinta perlu pengorbanan.

Bukan omong-kosong.

Ternyata, memang begitu …

Jagat media barusan terharu. Publik terpana. Pernikahan dua anak manusia dihelat di sebuah rumah sakit. Di Yogyakarta sana.

Sang mempelai pria berseri wajah. Lengkap dengan jas hitam. Necis. Peci hitamnya makin membuat gagah. Tapi ia berbaring di velbed dengan selimut biru yang menutup hingga pinggang. Di sampingnya, tiang cairan infus tegak berdiri. Tetes demi tetes cairan obat terus menelusup ke tubuhnya lewat lubang jarum infus di tangannya.

Mempelai perempuan tampil bak bidadari. Mengenakan gaun pengantin kuning keemasan. Wajahnya tersenyum, meski sesekali terisak. Ia tegar. Bahkan sedikit menyorongkan tubuhnya, ketika mempelai pria yang terlentang tak berdaya itu memasukkan cincin kawin di jemari manisnya.

Para hadirin mematung.

Mata nanar, memendam haru.

Menjaga tangis tak meledak.

Pernikahan ini sewajarnya biasa saja. Ada salah satu mempelai yang sedang opname kemudian tetap melangsungkan janji suci, sehidup semati. Nah, yang tidak biasa adalah, mempelai pria ternyata baru saja menjalani amputasi kaki. Menyusul kecelakaan yang menimpanya.

Bagi sang mempelai perempuan. Kabar amputasi kaki sang lelaki pujaan hati, bak petir kala siang bolong. Tak terbendung luka dan duka ketika itu. Sementara, resepsi pernikahan sudah digancang. Dirancang matang. Akibatnya, mudah kita berempati. Air mata terkuras. Perasaan teraduk-aduk. Itu pasti.

Mempelai prianya sendiri, sekuat mungkin pasrah menerima takdir.

Kaki teramputasi.

Mungkin juga, calon istri sama halnya. Pergi. Meninggalkan ikatan janji. Melupakan mimpi ikrar pernikahan.

Tapi … aaahhh, siapa sangka. Jalinan cinta, untaian cerita suka maupun duka, yang sudah sama-sama dijalani, semakin menguatkan hasrat hati. Keduanya tetap menikah. Sederhana namun sakral. Di bangsal. Balai pengobatan dengan hiasan pernak-pernik pernikahan yang minim dan asal. Asal terlihat tidak seperti di rumah sakit.

Ketika menyaksikan pernikahan yang berulang-ulang disiarkan televisi, saya hanya bisa bergumam: “Maha Suci Allah. Luar biasa”.

Saya meyakinkan diri sendiri bahwa sungguh hebat mempelai perempuan yang satu ini. Berani mengambil keputusan sulit. Keputusan yang musti ia tanggung selama hayatnya. Insya Alloh.

Kelapangan hati mempelai perempuan itu yang membuat saya nelangsa. Ia mengagungkan ketulusan hati. Mengagungkan keikhlasan pilihannya. Menikahi sang pujaan yang tak lagi sempurna secara fisik.

Sungguh, luar biasa mata batin sang mempelai wanita. Mampu menerima kekurangsempurnaan fisik pria, yang kini menjadi suaminya.

Saya bergidik!

Teriring ucapan selamat menempuh hidup baru untuk:

Mas Windu Cahyo Saputro & Mbak Yuniar Dias Sutisna.

Betapa bukti cinta kalian di salah satu sudut rumah sakit di Yogyakarta sana, telah menyuguhkan teladan. Teladan akan kuatnya jalinan percintaan.

* * * * *

fault 3

Ketika menuliskan ini semua, jujur saja, saya sambil mendengarkan lagu. Lagu ‘Aku lelakimu’ yang ditariksuarakan Virzha. Penyanyi berambut gonjes dengan tampilan macho, dan bersuara serak-serak bak si Oom Rod Steward.

Lagu ini juga menceritakan cinta. Cinta yang butuh perjuangan. Cinta yang juga perlu pengorbanan. Dan, itu bukan hoax.  Karena, ya memang begitu adanya.

Ceritanya, lagu ini menceritakan kisah cinta yang berawal suka. Kemudian berubah duka, ketika, takdir menentukan sang wanita harus mengalami KEBUTAAN. Disinilah cinta teruji. Inilah epik dimana cinta butuh perjuangan, perlu pengorbanan.

Keputusan yang diambil bak cerita di negeri dongeng.

Sang pria mengikhlaskan kedua matanya untuk dijadikan donor bagi sang wanita. Semua dilakukan tanpa sepengetahuan sang wanita. Karena sesaat operasi donor dilakukan, sang pria merasa harus pergi untuk merelakan kebahagiaan dan penglihatan bagi sang wanita pujaan hatinya.

Dalam kegembiraan bahwa sang wanita sudah mampu melihat dunia lagi, ia tetap kesepian karena sang pria pergi tanpa kabar-kabari. Entah harus mencari kemana lagi?

Barulah, satu tahun kemudian, pertemuan tanpa sengaja terjadi.

Sang wanita bertemu sang pria.

Bahagia? Tidak juga!

Meski ada tawa bahagia, tapi sang wanita tetap duka lara.

Saat itu ia sadar. Sang prialah yang telah mendonorkan kedua bola matanya.

Sementara kini, sang pria. Terdiam. Karena kondisinya … tak mampu lagi melihat wajah sang wanita pujaannya. Ia buta.

* * * * *

Sepotong lirik lagu ‘Aku lelakimu’, ini dia:

Akulah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Akulah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti

* * * * *

fault 2

Cerita lain soal cinta yang butuh perjuangan dan perlu pengorbanan, juga pernah saya saksikan dalam film. Yah, namanya juga cerita film. Rada-rada tak masuk akal.

Filmnya sendiri diangkat dari novel besutan John Green. Judulnya: The Fault in Our Stars. Aaahhh … tentu sudah banyak yang nonton yaaa.

Film ini mengangkat kisah cinta dua anak muda, Hazel yang menderita KANKER PARU-PARU, dan Gus penderita KANKER TULANG.

Dalam ‘balutan’ sakit, Hazel dan Gus saling berjuang. Cinta keduanya sama-sama penuh pengorbanan.

Hazel, selalu pergi kemana-mana dengan menenteng tabung oksigen. Sementara Gus, menahan derita teramat sangat lantaran penyakitnya. Tapi keduanya bahagia. Cinta bersemi, hari ke hari, hingga akhirnya maut memisahkan.

Gus lebih dulu pergi untuk selamanya.

Ia mati.

Meski tetap menghidupkan cinta abadi untuk Hazel.

Cinta keduanya butuh perjuangan.

Cinta asmara keduanya penuh pengorbanan.

Cinta sejoli ini kuat.

Tak goyah meski apa saja kondisinya.

Selamat .., untuk mereka yang mereguk cinta luhur.

Cinta tulus.

Cinta ikhlas.

Cinta yang mampu menundukkan segala aral, pun ujiannya.

 

Iklan