Jpeg

Sampul muka buku “Magnet Baitullah – Tiga Syarat Utama Memakmurkan Masjid” karya Thamrin Dahlan alias Pak Tede. (Foto: Gapey Sandy)

 

Judul buku: Magnet Baitullah. Tiga Syarat Utama Memakmurkan Masjid.

Penulis: H Thamrin Dahlan MSi

Halaman: vii + 198 halaman

Penerbit: Leutika Prio, Yogyakarta

Cetakan pertama: Februari 2016

ISBN: 978-602-371-171-0

= = = = = = = = = =

“Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir”.

= = = = = = = = = =

Pengarang novel, James Whitfield Ellison, menuturkan kalimat penuh makna itu. Saya sendiri menggarisbawahinya, tanda setuju. Terutama pada kalimat ‘Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir’.

Banyak orang—utamanya penulis—yang mengamini apa kata James Whitfield Ellison, sang pengarang novel ternama, diantaranya Finding Forrester, Akeelah and the Bee, Master Prim dan masih banyak lagi. Salah satunya, penulis beken yang juga Kompasianer, Much Khoiri. Menurut Khoiri, syarat utama menjadi seorang penulis yang baik adalah menulis, menulis dan menulis. Bahkan, Khoiri yang menulis buku ‘Rahasia TOP Menulis’ (Elex Media Komputindo, 2014) ini berani mengatakan: ‘Write or Die’!

Itu, sedikit tentang dorongan orang untuk menulis.

Lantas apa yang sebaiknya ditulis?

Akhir tahun ’80-an, saya banyak memperoleh pembelajaran dari para aktivis senior Pers Kampus. Salah satu yang paling saya ingat adalah: ‘Tulislah apa-apa yang dekat dengan dirimu’. Ujaran para senior itu ampuh. Terbukti, sakti mandraguna.

Mengapa?

Karena, kalau apa yang ditulis merupakan sesuatu yang dekat dengan si penulis, maka dalam setiap pilihan kata dan kalimatnya pasti akan ada jiwa (soul). Menulis yang disertai dengan penjiwaan, sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik, dibandingkan dengan tulisan yang tanpa ruh.

Lalu apa maksudnya, menulis sesuatu yang dekat dengan si penulis. Dekat itu bisa berupa jarak. Saya pernah menulis bagaimana lahan jalur pipa gas akhirnya dipagar besi, setelah sebelumnya banyak diserobot oleh warga untuk dijadikan lapak berdagang mie ayam, soto ayam, bakso, dan masih banyak lagi. Obyek sekaligus subyek tulisan saya dekat. Dekat secara fisik. Menyoal tentang lingkungan sekitar rumah sendiri.

Dekat, juga bisa berupa emosi dan perasaan. Seseorang yang menulis puisi karena cintanya baru saja diterima sang kekasih, pasti akan penuh dengan bunga-bunga kebahagiaan. Kalimat puisinya akan mengalir indah. Begitu juga sebaliknya. Penulis yang misalnya, baru saja ditinggal wafat sang ibunda, tentu akan menulis tentang sosok ibunda dengan penuh haru, menyayat hati dan deraan ratap kesedihan.

Nah, dalam buku yang saya resensi ini, Thamrin Dahlan—akrab disapa Pak Tede—, membuktikan sekali lagi, betapa seorang penulis itu memang harus menulis sesuatu yang dekat dengan dirinya terlebih dahulu.

Buku berjudul ‘Magnet Baitullah – Tiga Syarat Utama Memakmurkan Masjid’ setebal 198 halaman yang ditulisnya, sungguh menjadi bukti tak terbantahkan, betapa aliran tulisan-tulisan tentang sesuatu yang teramat dekat, merupakan lahan subur untuk digarap sebagai suguhan tulisan. Sekaligus mendokumentasikan rekaman kejadian tanpa rekaan.

Thamrin Dahlan membagi empat bagian bukunya. Bagian pertama diberi judul ‘Memakmurkan Baitullah’ yang terdiri dari 10 tulisan. Kedua, berjudul ‘Kegiatan Memakmurkan Masjid-Masjid’, yang menampilkan sembilan tulisan pendek. Bagian ketiga bertajuk ‘Memperingati Hari-Hari Besar Islam’, dengan delapan tulisan ringkas. Dan terakhir, bab keempat diberi judul ‘Sisi Humaniora Masjid Jami An-Nur’ yang berisikan 13 tulisan.

Semua tulisan yang disajikan dalam gaya bahasa tutur nan ringan ini merupakan kumpulan tulisan Thamrin Dahlan sejak enam tahun lalu. “Rangkaian reportase kegiatan masjid dimulai sejak 2010 meliputi segala sesuatu peristiwa yang terjadi baik berupa taklim dan memperingati hari-hari besar Islam maupun tentang sisi humaniora Masjid Jami An-Nur,” tulis Pak Tede dalam Kata Pengantar.

Masjid Jami An-Nur berlokasi di Asrama Polisi Komseko, RW 05, Kelurahan Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jalan Raya Bogor Km 21, Jakarta Timur. Di baitullah inilah, Thamrin Dahlan bertindak selaku khadimul masjid, pelayan ‘rumah Allah’.

etet2.jpg

Selain memuat berbagai tulisan dengan format liputan jurnalistik, buku yang dicetak menggunakan kertas HVS ini juga memuat hikmah dari kisah-kisah yang dinukil dari Al Qur’an. Misalnya, yang termuat pada bagian kedua, dimana terdapat tulisan berjudul ‘Pesan Moral Semut untuk Manusia’. Pada tulisan di halaman 84 – 85 ini, Thamrin Dahlan menyisipkan pesan moral dari cerita sekawanan semut-semut yang mengeluh dan khawatir, terinjak oleh pasukan berkuda pimpinan Nabi Sulaiman as.

Menyimak keluhan para semut, Nabi Sulaiman as langsung memerintahkan seluruh pasukannya untuk berhati-hati dalam memacu kudanya, agar jangan sampai merusak sarang dan menginjak para semut.

Pada tulisan ini, Thamrin Dahlan menulis, kisah ini merupakan cuplikan dari ayat Al Qur’an Surat An-Naml ayat 18, yang artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak terinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.

Menurut Pak Tede, pesan moral Nabi Sulaiman ini juga ditujukan kepada para penguasa, “Jangan menginjak rakyat kecil”. Makna hakiki nan terkandung dari pesan semut kepada manusia adalah agar dikau makhluk jangan sombong karena besar tubuhmu. Jangan kamu takabur dengan sosok fisik sempurna nan gagah dan jangan pula kalian berbangga diri dengan kehebatanmu. Kami walaupun makhluk kecil jangan dianggap enteng. (hal. 85)

Buku ini dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja untuk menulis, menulis, dan menulis. Tak perlu menunggu dan berpikir. Tetapkan untuk segera menulis. Tulis hal-hal yang dekat dengan diri kita. Tulis hal-hal yang kita kuasai. Tulis dengan gaya bahasa kita sendiri. Tulis dengan penuh seluruh curahan jiwa. Tulis dengan rasa, tapi ingat jangan sampai semua prasyarat itu malah menjadi membebani. Teruslah menulis …

Karena, seorang Thamrin Dahlan telah membuktikan itu semua. Malahan ini sudah buku ketiga yang diterbitkannya. Buku ini menjadi teladan, dan sebaiknya dimiliki oleh setiap perpustakaan mushola maupun masjid. Sosok Thamrin Dahlan dengan tulisan-tulisannya memang telah mengajarkan keteladanan. Juga, inspirasi untuk menulis. Termasuk, tentu saja, menulis buku!

TD oke

Thamrin Dahlan

Akhirnya, ini pesan penulis Helvy Tiana Rosa. Saya kutipkan untuk lebih memacu kita untuk selalu menulis, dan membaca buku:

“Aku, kamu, buku, itu getar yang menjalar di halaman waktu”.

 

Iklan