sp 3

Penanaman pepohonan langka di area reklamasi Semen Padang. (Foto: semenpadang.co.id)

Pabrik, apapun itu, pasti punya korelasi erat dengan lingkungan hidup. Mudah mencari benang merahnya. Sebut saja limbah pabrik. Apa dan bagaimana pengelolaannya, serta kemana pembuangannya, pasti punya banyak pengaruh terhadap kelestarian alam. Disinilah butuh kesadaran dan kearifan.

Tak terkecuali, pabrik semen.

Contoh kasus terjadi pada November 2015 kemarin. Dalam sebuah proses persidangan, majelis hakim urung meneruskan izin pembangunan pabrik semen dan penambangan batu gamping serta lempung. Putusan yang banyak dianggap arif bijaksana oleh sebagian kalangan pecinta lingkungan ini menyusul gugatan warga, atas turunnya SK Bupati Pati No.660.1/4767/2014 tentang izin pembangunan dan penambangan tadi.

Apa saja yang menjadi dasar pertimbangan majelis hakim sehingga malah mengabulkan gugatan warga? Dari empat faktor yang dikemukakan, dua diantaranya terkait dengan pertimbangan lingkungan hidup. Pertama, lokasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dinilai berdekatan dengan kawasan bentang alam karst Sukolilo, sehingga akan mengganggu kawasan batu gamping yang mengalami karstifikasi tersebut. Dan kedua, fungsi ruang harus mampu mempertahankan kelestarian lingkungan.

sp 4

Hijaunya kawasan pabrik Semen Padang. (Foto: semenpadang.co.id)

Seolah tak peduli dengan estimasi, bahwa pembangunan pabrik semen dan penambangan batu gamping di Kabupaten Pati, Jawa Tengah itu kelak konon bakal mampu menyerap 1.650 tenaga kerja pada saat mendirikan konstruksi, dan ketika sudah beroperasi disebut-sebut bakal sanggup menyerap hingga 3.000 tenaga kerja, majelis hakim tetap membatu pada pendiriannya.

Memang, kawasan karst Sukolilo di Pegunungan Kendeng Utara di wilayah Kabupaten Pati, Grobogan, dan Blora, Jawa Tengah, sejak 16 Mei 2014 lalu, resmi dinyatakan sebagai kawasan lindung geologi. Sekaligus, merupakan bagian dari kawasan lindung nasional. Penetapannya melalui Keputusan Menteri ESDM No.2641 K/40/MEM.2014 tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo.

Lha, memang seberapa penting sih kawasan karst itu?

Begini alasannya. Penetapan sebagai cagar budaya geologi ini diputuskan karena pertimbangan kawasan ini memiliki komponen geologi yang unit, dan berfungsi sebagai pengatur alami air tanah. Makanya, ia menyimpan nilai ilmiah yang patut dilestarikan, juga dilindungi kelestariannya. Sampai disini jelas dong bagaimana urgensi kawasan karst yang terdiri dari batuan kapur namun berpori sehingga air di permukaan tanah selalu ‘terhisap’ ke dalam tanah atau mengalami perembesan.

sp 5

Pabrik Semen Padang. (Foto: semenpadang.co.id)

Hampir selalu begitu kondisinya. Antara pabrik semen dan lingkungan hidup, isunya seperti ‘Tom & Jerry’. Sering tak pernah akur.

Semen Padang Peduli Lingkungan

Tapi, bukan berarti tidak ada kabar baik dari pabrik semen dalam konteks lingkungan hidup. Pertengahan Januari kemarin misalnya. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya, PT Semen Padang berhasil membebaskan seluas 53 hektar sawah dari dampak kekeringan. Lahan tersebut berada di tiga kelurahan, masing-masing Tarantang, Barinting, dan Koto Lalang, Kota Padang.

Seperti diinformasikan situs resminya, PT Semen Padang menghadirkan alat-alat berat seperti excavator untuk memperbaiki tali bandar dan membuat pengairan sawah bisa kembali berlangsung normal. Tali Bandar ini sempat rusak akibat terjangan banjir dan tanah longsor pada 11 November tahun lalu.

Mengomentari upaya PT Semen Padang—yang beroperasi sejak pertengahan Desember 2015 hingga 13 Januari 2016—ini, Camat Lubukkilangan, Syafwan mengatakan, bantuan alat berat untuk memperbaiki tali bandar amat sangat membantu masyarakat. “Petani kembali bisa turun ke sawah untuk menanami sawah-sawahnya dengan tanaman padi. Sebelumnya, akibat banjir dan longsor mengakibatkan sawah menjadi kekeringan. Sejak itu, petani hanya menanam jagung dan mentimun saja,” ungkapnya.

sp 6

Kiprah Lembaga Amil Zakat Semen Padang. (Foto: semenpadang.co.id)

Mengusung tema ‘Basinergi Mambangun Nagari’, program CSR dari PT Semen Padang terbagi menjadi empat pilar, yaitu: Semen Padang Campin Nagari, Semen Padang Pandai Nagari, Semen Padang Paduli Nagari, dan Semen Padang Elok Nagari. Komitmen yang digenggam erat dari visi program CSR ini adalah ‘Memberdayakan masyarakat dengan mengoptimalkan sumber daya dalam peningkatan citra dan nilai perusahaan secara berkelanjutan yang berwawasan lingkungan’.

Menurut Direktur Utama PT Semen Padang, Benny Wendry dalam wawancara khusus dengan Republika edisi 7 Desember 2015, pihaknya sangat memperhatikan tanggung-jawab sosial korporasi. Program CSR ini menjangkau ring I, ring II, dan ring III. “Ring I adalah wilayah yang bersentuhan langsung dengan pabrik. Misalnya, Kecamatan Lubuk Kilang, Pauh, Lubuk Alang dan Teluk Bayur. Termasuk ring I juga wilayah yang ada fasilitas packing plant Semen Padang, seperti Malahayati (Aceh), Dumai dan Lampung. Ring II adalah Kota Padang. Ring III adalah wilayah Sumatra Barat,” ujarnya.

Kegiatan CSR ini, lanjutnya, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itu, ada yang namanya Forum Anak Nagari. Melalui forum itulah, tiap-tiap nagari menyampaikan kebutuhan masing-masing dan merumuskan apa yang harus dilakukan. “CSR yang dilakukan Semen Padang meliputi beberapa bidang sesuai kebutuhan masyarakat tadi. Ada bidang ekonomi––terutama bantuan modal usaha, beasiswa––SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi, Pendidikan dan Latihan, bantuan untuk rumah ibadah, sarana dan prasarana umum, pelestarian alam, peningkatan kesehatan, atau bencana alam,” tutur Benny seraya menyebut, bahwa pada 2015, korporat menganggarkan Dana Bina Lingkungan Rp 10 miliar. Kami juga menganggarkan Rp 8,16 miliar Dana Pinjaman untuk 326 unit binaan yang ada di 18 kota/kabupaten se-Sumatra Barat.

sp 8

Sejumlah produk Semen Padang. (Foto: semenpadang.co.id)

Bahkan baru-baru ini, tepatnya 15 Februari kemarin, PT Semen Padang kembali melakukan gerakan untuk semakin menghijaukan area yang ada di lingkungan perusahaan. Caranya, dengan melakukan penanaman pohon-pohon langka di lahan reklamasi (lapangan golf). Tanaman langka tersebut misalnya Pohon Gerenuk, Garahan, Indarung, Majapahit, dan Keben.

Menurut Direktur Utama PT Semen Padang, Benny Wendry, upaya penghijauan ini akan terus dilakukan tidak hanya di area perusahaan tapi juga lingkungan masyarakat. “Ini sebagai bukti perwujudan komitmen Semen Padang untuk menciptakan lingkungan perusahaan yang green dan ramah lingkungan,” jelasnya seperti dikutip semenpadang.co.id.

Apa yang disampaikan Benny Wendry bukan tak terbukti. Karena sebenarnya, sudah beberapa kali pula PT Semen Padang melakukan gerakan penghijauan di berbagai titik lokasi, mulai dari kawasan Masjid Raya Sumbar, Pantai Padang, Kampus Universitas Andalas, Kampus Universitas Bung Hatta di Aie Pacah, di Lubuk Paraku, Sintinjau Laut dan sebagainya.

sp 9

Sejumlah produk Semen Padang. (Foto: semenpadang.co.id)

Oh ya, apa yang sudah dilakukan PT Semen Padang dengan menanam pohon-pohon langka di lahan reklamasi tadi, nampaknya akan segera dapat disaksikan secara langsung hasilnya. Karena, dalam rangka memeriahkan HUT ke-106 tahun PT Semen Padang, akan diselenggarakan acara bertajuk Wisata Heritage dan Industri Semen Pertama dan Terhijau di Indonesia. Acara ini hasil kolaborasi PT Semen Padang, PT Semen Indonesia, Komunitas WEGI pada Sabtu, 19 Maret 2016. Diantara agenda acaranya adalah berkunjug ke Batik Tanah Like Ayesa Collection, Museum Bank Indonesia, PLTA Rasak Bungo PT Semen Padang yang dibangun pada 1908, Tambang Batu Kapur PT Semen Padang, Industrial Heritage Pabrik Indarung I yang didirikan pada 1910, WHRPG (Waste Heat Recovery Power Generation) yang merupakan pembangkit listrik dengan memanfaatkan gas buang pabrik yang pertama di Indonesia, dan, ya itu tadi, melihat langsung Taman Reklamasi Semen Padang (Lapangan Golf).

Duh, menarik sekali! Semoga saya bisa ikutan, dan membuktikan berbagai program penghijauan yang telah dilakukan PT Semen Padang, berikut manfaat yang dirasakan masyarakat.

Tekad Meraih Proper Hijau

Kiprah luar biasa dari PT Semen Padang untuk turut melestarikan alam, tak hanya menjadi bukti keseriusan perusahaan untuk mengimplementasikan komitmennya yang senantiasa berwawasan lingkungan, tapi juga, tekad PT Semen Padang untuk segera menanggalkan Proper Biru dan berganti Hijau. Dalam pengertian Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PROPER adalah kependekan dari Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan.

sp 7

Selama Januari 2016 Semen Padang meraih nihil angka kecelakaan. (Foto: semenpadang.co.id)

Proper menjadi salah satu upaya Kemenneg LH dan Kehutanan guna mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui instrument informasi. Hal ini diwujudkan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan guna mendorong perusahaan menaati peraturan perundangan-undangan melalui insentif dan disinsentif reputasi, dan mendorong perusahaan yang sudah baik kinerja lingkungannya untuk menerapkan produksi bersih atau clear production.

Tingkatan proper itu sendiri terdiri dari empat mulai dari top level yaitu Emas, Hijau, Biru, dan urutan paling buncit adalah Proper Merah.

Pada tahun kemarin, Menneg LH dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, bahkan sempat menyambangi pabrik dan wisma Semen Padang di Indarung. Tepatnya pada 9 April 2015. Kehadiran sosok pembantu Presiden ini ternyata menggembirakan, karena Ibu Menteri memberi penilaian sangat positif, bahkan sejak memasuki pintu gerbang kawasan pabrik. “Begitu saya masuk. Saya lihat pabrik, saya tanya berapa laba, net-nya per tahun, saya jadi tahu skalanya. Lingkungannya baik, kita tahu prestasi Semen Padang. Kita tahu ini adalah industri pelopor yang sudah mapan, dan mantap,” katanya seperti dimuat situs resmi korporat.

Dalam kesempatan itu, Menneg LH dan Kehutanan menyatakan, untuk meraih proper pada prinsipnya adalah bagaimana perusahaan bisa melakukan efisiensi input dan outputnya. “Penilaian proper itu didasarkan pada peningkatan efisiensi kinerja perusahaan. Juga output-nya. Perusahaan punya limbah, pengelolaannya bagaimana, dijadikan bahan baku apa. Untuk industri pengguna sumber daya alam, yang diperhatikan adalah Green Investing. Industri yang selain efisien, juga harus berwawasan lingkungan, dan mampu mengurangi karbon yang terlepas,” terang Siti Nurbaya Bakar.

sp 2

Menneg LH dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar ketika menyempatkan hadir di Semen Padang. (Foto: semenpadang.co.id)

Pernyataan Menneg LH dan Kehutanan tersebut tentu saja mejadi arahan sekaligus modal berharga bagi PT Semen Padang untuk meraih Proper Hijau.

Kebijakan yang integratif tentu menjadi prasyarat mutlak dalam meraih cita-cita perusahaan. Apalagi, dalam konteks yang krusial semisal lingkungan hidup. Itu pula yang pernah dijelaskan Nandang Sudrajat dalam bukunya Teori dan Praktik Pertambangan Indonesia terbitan Pustaka Yustisia, 2013.

Antara lain, Nandang mengemukakan betapa pentingnya mendorong lahirnya konsep integratif yang konsisten, antara perencanaan tambang dengan konsep pengelolaan lingkungan. Mulai dari: Dilakukan sejak tahap konstruksi pada pekerjaan persiapan. Selama berlangsungnya proses eksploitasi. Pada tahap pengolahan serta pemurnian bahan galian. Sampai dengan konsep model pengelolaan dan reklamasi lahan pasca tambang. Konsep inilah yang kemudian diperkenalkan sebagai good and green practice mining.

Meraih Rentetan Prestasi Ciamik

Saat ini, kapasitas produksi Semen Padang 7,5 juta ton per tahun, termasuk cement mill di Dumai. Sementara, pada kuartal keempat tahun ini, Pabrik Semen Padang Indarung VI sudah beroperasi dengan tambahan kapasitas tiga juta ton per tahun. Dengan beroperasinya Pabrik Indarung VI, yang menelan investasi Rp 3,84 triliun, maka kapasitas produksi Semen Padang pada 2016 akan mencapai 10,5 juta ton per tahun.

sp 1

Menneg LH dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar berpose bersama pimpinan dan staf Semen Padang. (Foto: semenpadang.co.id)

Seraya terus meningkatkan kapasitas produksinya, PT Semen Padang juga terus menuai prestasi demi prestasi. Malah, tak hanya pada tingkat nasional, tapi juga regional. Pada 27 Agustus 2015 misalnya, PT Semen Padang berhasil meraih akreditasi ‘A’ (sangat baik) untuk penyelenggaraan kearsipan tingkat nasional.

Pada Februari 2015, perusahaan meraih penghargaan ‘Superbrands’ dari Superbrands. Disusul kemudian, pada 5 September 2015, PT Semen Padang meraih predikat Bronze untuk kategori Strategic Marketing and Tactical Marketing pada ajang BUMN Marketeers Awards 2015.

Sebelumnya, pada 2014, PT Semen Padang berhasil menjadi Juara Nomor Wahid berupa Penghargaan Efisiensi Energi Nasional Tahun (PEEN) 2014 dan meraih level Emerging Industry Leader pada Indonesian Indonesian Quality Award (IQA).

PT Semen Padang juga pernah berhasil meraih penghargaan Rintisan Teknologi, penghargaan Industri Hijau dari Menteri Perindustrian, peringkat III Annual Report Award 2013, dan ASEAN Energy Award 2014.

sp 10

Jangan lupakan juga prestasi tim sepakbola Semen Padang yang semakin mengkilap. (Foto: semenpadang.co.id)

Sukses meraih Good Performance pada ajang Indonesian Quality Award (IQA) tahun 2012 dan 2013, pada 2014, PT Semen Padang kemudian naik peringkat ke level Emerging Industry Leader dan mendapat penghargaan Gold untuk kenaikan skor tertinggi. Di tingkat regional, PT Semen Padang berhasil merebut ASEAN Energy Award 2014.

Waduh, semakin berharap bisa melakukan reportase langsung ke PT Semen Padang, nih … !

o o o O o o o

Iklan