nu alex suban FB

Pernikahan Nury Sybli dan Aam Amrullah Wijaya, 4 Februari 2016 di Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Alex Suban)

Nury Sybli tertegun. Berita tentang pernikahannya dengan Aam Amrullah Wijaya di Keraton Kaibon, Kota Serang, pada Kamis, 4 Februari 2016 kemarin, rupanya ditulis media dengan nada nyinyir. Judul berita di salah satu media online lokal itu berbunyi: Pernikahan di Kaibon Preseden Buruk. Isinya? Cuma mengutip pendapat Direktur Bantenologi IAIN Sultan Maulana Hasanudin Serang Banten yang mengatakan, bahwa penggunaan Keraton Kaibon untuk resepsi pernikahan, merupakan preseden buruk bagi kelestarian benda cagar budaya.

Membaca sekilas berita tersebut, Nury menghela nafas panjang. Perempuan yang sejak 2001 lalu sudah berprofesi sebagai jurnalis ini sejatinya tahu benar, bagaimana seharusnya berita dibuat. Bahkan, kalaupun berita tersebut akhirnya dipublikasikan, untuk kepentingan pihak dan alasan tertentu.

“Berita tersebut, menulis jabatan narasumbernya saja salah. Seharusnya, jabatan narasumber yang dimaksud adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Karena salah tulis, maka tidak relevan lagi. Asal tahu saja, pejabat Direktur Bantenologi yang benar adalah Dr Helmi Faizi Bahrul Ulum MHum. Pak Helmi ini adalah putra mantan Rektor IAIN Serang. Masih termasuk juga dalam silsilah keluarga kami, teman ketika di Pondok Pesantren Darunnajah, juga pernah sama-sama satu fakultas di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat,” tutur Nury ketika dijumpai penulis di salah satu resto yang ada di bilangan Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

nu alex suban3 FB

Pelaksanaan pernikahan Nury Sybli dan Aam Amrullah Wijaya, 4 Februari 2016 di Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Alex Suban)

Nury menambahkan, dari sisi jurnalistik berita tadi juga punya empat kelemahan. “Pertama, tidak cover both sides story. Kedua, tidak melakukan peliputan di lapangan. Ketiga, unsur berita berupa pendidikan, informasi, edukasi, inspiratif tidak terpenuhi, atau hanya sekadar hasutan. Keempat, berita yang digunakan adalah copy paste dan foto-foto pernikahannya pun hanya mencomot dari Facebook. Padahal, jujur saja, para jurnalis terutama para juru foto senior saya undang dan banyak hadir dalam pernikahan kita di Keraton Kaibon. Sebut saja misalnya, redaktur foto media nasional, seperti dari Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Warta Kota, Koran Sindo, Tempo dan sebagainya. Ada juga Wapemred dari Liputan6.com,” ungkap Nury yang memang asli orang Banten.

Melaksanakan Wasiat Almarhumah Ibu

Kepada penulis dan sejumlah blogger Tangsel Plus, Nury menceritakan bagaimana rentetan kisah hingga akhirnya ia melepas masa lajang dan menikah dengan Aam, sapaan pria jangkung berkumis tipis yang kini menjadi suami terkasih.

“Saya itu menikah, ibaratnya secara mendadak. Ibu saya meninggal pada awal Desember 2015 kemarin. Padahal, dua hari sebelum ibu meninggal dunia, calon suami baru saja meminta restu untuk menikahi saya. Pesan Ibu waktu menerima lamaran pernikahan itu adalah, laksanakan pernikahan tersebut, langsung pada minggu itu juga. Tapi, sayangnya hal itu belum sempat terwujud,” ujarnya.

nu alex suban2 FB

Pernikahan Nury Sybli dan Aam Amrullah Wijaya, 4 Februari 2016 di Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Alex Suban)

Karena menyusul wafatnya sang ibunda, pernikahan Nury dan Aam tidak serta-merta lantas dilaksanakan. Perlu waktu dan persiapan dalam melaksanakannya. Termasuk, mencari tanggal yang tepat untuk penyelenggaraan.

“Kepada para sesepuh keluarga, saya dan calon suami diberi petunjuk untuk melaksanakan pernikahan pada tanggal 4 Februari 2016. Selain itu, pesan wasiat ibu saya adalah laksanakan pernikahan di Banten,” tutur Nury.

Mengingat wasiat sudah menyebutkan bahwa pernikahan harus dilaksanakan di Banten, Nury pun mulai mencari-cari lokasi yang bakal menjadi perhelatan suci tersebut. “Mengingat pesan wasiat almarhumah ibu untuk melaksanakan pernikahan di Banten, maka saya dan calon suami berpikir ekstra keras untuk memilih lokasinya. Sayangnya, Banten itu kurang memiliki lokasi pernikahan yang mumpuni. Maka dari hasil penelusuran dan usaha, tercetuslah lokasi pernikahan yaitu di Keraton Kaibon. Apalagi, sepengetahuan saya, Keraton Kaibon ini juga sudah beberapa kali menjadi lokasi pemotretan pre wedding oleh calon pasangan pengantin,” jelas Nury yang kini berprofesi sebagai konsultan media.

nu 3

Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah menentukan Keraton Kaibon sebagai lokasi bakal pelaksanaan akad nikahnya, Nury kemudian mengatur strategi guna menyusun dan memenuhi segala unsur perizinannya. “Saya kemudian mulai berusaha untuk memperoleh izin menyelenggarakan pernikahan di Keraton Kaibon. Atas bantuan kakak saya, izin melaksanakan pernikahan di Keraton Kaibon kemudian saya ketahui, yang ternyata kewenangannya berada dibawah kendali dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang,” kata Nury yang juga banyak aktif melakukan bakti sosial kepada dhuafa ini.

Sambil mengurus administrasi pernikahan di KUA setempat, katanya lagi, dirinya juga melakukan survei ke Keraton Kaibon. “Waktu saya survei, kondisinya memprihatinkan. Di area tersebut banyak kambing yang sedang makan rumput dan sengaja digembalakan di situ. Selain itu, di sekeliling pagar besi yang melingkari Keraton Kaibon juga dijadikan sebagai tempat untuk menjemur pakaian oleh warga sekitar,” prihatin Nury.

Melihat kondisi mengenaskan di area Keraton Kaibon tersebut, tekad Nury justru semakin bulat untuk melaksanakan pernikahan di cagar budaya ini.

nu 2

Papan Informasi di Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

“Apapun caranya, saya ingin melaksanakan akad nikah di keraton ini, tapi dengan proses perizinan birokrasi yang benar dan sesuai aturan. Mulailah saya datang ke RT, RW, Lurah dan ke Kantor Kecamatan. Juga, sowan kepada sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, termasuk diantaranya Wakil Walikota Serang yang merupakan teman dari almarhum Abah (Ayah – red) saya, dan ke Rektor sekaligus salah satu Guru Besar IAIN Sultan Maulana Hasanudin, Serang. Pokoknya, semua saya lakukan sambil ‘Bismillah’. Saya yakin, kalau niatnya baik, pasti Allah akan memudahkan. Tentu, secara formil saya juga meminta izin melaksanakan pernikahan di Keraton Kaibon, yaitu ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang. Alhamdulillah, pada saat hari pernikahan, Walikota Serang pun hadir di Keraton Kaibon. Ada juga artis Ratna Listy, yang mengenakan kebaya putih,” urai Nury.

Nury beralasan, pelaksanaan akad nikah di Keraton Kaibon sengaja dipilih untuk sekaligus lebih mengangkat pamor cagar budaya Banten ke forum nasional dan dunia. “Yang paling penting adalah keinginan kuat saya untuk mengangkat Banten, mengangkat cagar budaya yang ada di Banten yakni Keraton Kaibon. Bagaimana mungkin orang akan tahu dan datang ke keraton ini, kalau tidak ada yang pernah mengangkatnya ke forum yang lebih luas atau kepada dunia. Nah, dengan sudah mengangkat cagar budaya yang ada di Banten, saya berharap orang akan menjaga dan melestarikannya. Saya berpikir keras bagaimana caranya supaya Keraton Kaibon yang sangat keren ini dapat dikenal orang. Apalagi, ketika saya googling tentang Keraton Kaibon, yang ketemu hanya melulu sumber rujukan dari Wikipedia,” katanya dengan nada kesal.

nu 4

Kondisi sisa reruntuhan Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

nu 5

Kondisi air tergenang pada kawasan sisa reruntuhan Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

Sejarah Keraton Kaibon

Keraton Kaibon terletak di Kampung Kroya, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Ini merupakan kompleks bangunan bekas kediaman raja Kesultanan Banten Sultan Syafiudin (1809 – 1813). Di keraton ini tinggal Ibu Ratu Asyiah, ibunda Sultan Syafiudin.

Sesudah Kesultanan Banten dihapus oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1816, kompleks Keraton Kaibon kemudian dijadikan pusat pemerintahan Bupati Banten pertama yakni Aria Adi Santika sebagai ganti dari pemerintahan Kesultanan Banten.

Pada 1832, Keraton Kaibon dibongkar dan hanya menyisakan pondasi, beberapa bagian tembok, dan gapura-gapura saja. Berdasarkan gapura atau pintu gerbangnya, Keraton Kaibon menunjukkan ciri bangunan dengan gaya tradisional. Pintu gerbang pertama merupakan jalan masuk berbentuk bentar menunjukkan halaman yang akan dilalui bersifat profan, berikutnya memasuki halaman kedua ditandai dengan pintu gerbang paduraksa yang menujukkan nilai sakral.

nu 6

Sisa reruntuhan Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

nu 9

Sisa reruntuhan Keraton Kaibon, Serang, Banten. Lantainya terus hancur. (Foto: Gapey Sandy)

Pada 1998, Keraton Kaibon ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Mendikbud No.139/M/1998 dan Keputusan Bupati Serang No.430/Kep 459-Huk/2006. Karena  termasuk cagar budaya, maka keraton ini dilindungi oleh UU No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Pemanfaatan untuk Kepentingan Agama dan Sosial        

Mengingat vitalnya Keraton Kaibon, Nury juga tidak semena-mena asal melangsungkan akad nikah begitu saja. Segala tetek bengek hingga sampai masalah detil, begitu ia perhatikan. Misalnya, jangan sampai melakukan pemakuan pada dinding sisa keraton. Jangan merusak. Jangan meninggalkan sampah dan sebagainya.

“Saya menggaransi, tidak ada satu sampah pun yang ditinggalkan pasca acara pernikahan yang berlangsung dua jam itu. Dan saya percaya, pada petugas catering bahwa pengelolaan mereka sangat profesional. Karena, semua vendor yang terlibat sudah kami beri ketentuan apa yang harus dilakukan. Jadi jika ada informasi di media sosial mengenai adanya sampah sisa makanan, saya pastikan itu adalah sebagai sebuah bentuk hasutan,” tegas Nury yang didampingi Aam.

nu 11

Sisa tembok Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

nu 10

Sisa tembok ruangan Keraton Kaibon, Serang, Banten. Digenangi air. (Foto: Gapey Sandy)

Nury sendiri meyakini, pemanfaatan Keraton Kaibon sebagai lokasi akad nikah tidak menyalahi aturan. “Tidak ada pasal dari UU yang secara tegas mengatur pelarangan pemanfaatan cagar budaya untuk pernikahan. Nah, yang pasti, kalau dilakukan tanpa izin, maka itu baru melanggar karena semena-mena. Sementara saya melakukan pernikahan di Keraton Kaibon itu dengan mengikuti perizinan yang berlaku sesuai prosedur. UU Cagar Budaya pada Pasal 85 menyebutkan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan setiap orang dapat memanfaatkan Cagar Budaya untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan pariwisata. Dalam rangka itu, Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pemanfaatan dan promosi Cagar Budaya yang dilakukan oleh setiap orang,” terangnya.

Menurut Nury, akad nikah adalah prosesi menjalankan perintah agama. Karenanya, memanfaatkan Keraton Kaibon sebagai lokasi akad nikah yang berarti melaksanakan kepentingan agama, adalah tidak bertentangan dengan UU Cagar Budaya utamanya dalam konteks pemanfaatan.

“Jelas toh, akad nikah itu kan adalah sebuah perintah agama atau kepentingan agama, makanya pemanfaatan Keraton Kaibon ini sesuai aturan UU Cagar Budaya yang berlaku. Acara pernikahan yang dilakukan di Keraton Kaibon sudah sesuai dengan Pasal 85 dari UU tentang Cagar Budaya yang mengatur soal pemanfaatan peninggalan cagar budaya. Lagipula, tidak ada satupun pasal dalam undang-undang yang melarang pernikahan diadakan dalam Peninggalan Cagar Budaya,” terang Nury.

nu 13

Bagaimana mau jadi obyek wisata favorit? Pagar besi Keraton Kaibon, Serang, Banten jadi tempat menjemur baju. (Foto: Gapey Sandy)

nu 8

Bagaimana mau jadi obyek wisata andalan? Pemukiman warga dengan jamban nangkring, persis di sebelah Keraton Kaibon, (Foto: Gapey Sandy)

Nury menambahkan, agar pihak-pihak yang mengkritisi pemanfaatan Keraton Kaibon untuk pelaksanaan akad nikah untuk membaca bab XI yang mengatur tentang ketentuan pidana UU Cagar Budaya, yakni di pasal 101 hingga 115, dimana tidak ada satu pun pasal yang melarang pernikahan di Cagar Budaya.

“Itulah mengapa kami melakukannya di Keraton Kaibon, dan semua ini justru agar Banten maju, pariwisata dan kekayaan Banten dikenal, dihargai dan dipelihara. Secara rundown, pernikahan yang kami laksanakan sangat sederhana. Mulai dari kedatangan keluarga calon mempelai pria, kemudian disambut oleh perwakilan keluarga calon mempelai wanita, dan itu dilakukan tanpa ada prosesi pengalungan bunga segala macam. Saya benar-benar ingin yang sederhana, Islami, tapi tidak menghilangkan kultur,” tutur Nury.

Dukungan dari Keturunan Kesultanan Banten

Sementara itu, Ketua Kenadziran Kesultanan Banten, Drs Tubagus Ismetullah Al’Abbas ketika dimintai pendapatnya terkait pemanfaatan cagar budaya untuk kepentingan pelaksanaan akad nikah justru berkomentar positif. Apalagi, Banten memiliki dua keraton yakni Surosowan dan Kaibon. Sehingga bila masih tetap dihargai oleh masyarakat, hal ini dapat membuktikan sebuah kemuliaan, dan bermanfaat bagi pamor cagar budaya yang dimiliki Banten.

nu 15

Ketua Kenadziran Kesultanan Banten, Drs Tubagus Ismetullah Al’Abbas. (FotoL Gapey Sandy)

”Banten punya dua keraton yaitu Keraton Surosowan dan Kaibon. ‘Kaibon’ sendiri bermakna ‘Keibuan’. Dulu itu, sultannya yakni Sultan Syafiudin masih usia belum baligh, masih kecil. Kemudian, sementara dibimbing oleh ibunya yang merupakan Ratu. Dulu, masih ada makam jabang bayinya. Tapi sekarang, konon sudah dipindahkan. Sejak dulu, Keraton Kaibon hanya menyisakan reruntuhan saja. Keraton Kaibon dihancurkan oleh kolonial Belanda,” kata Tubagus Ismetullah.

Menyusul pernikahan Nury dan Aam di Keraton Kaibon pada 4 Februari kemarin, kata Tubagus Ismetullah yang merupakan generasi ke-12 dari Sultan Banten ini, diakui memang sempat terjadi polemik dan ramai di media massa.

“Padahal, kita di sini tidak pernah ada ramai-ramai seperti itu. Malahan secara pribadi, saya mengatakan bahwa sangat bahagia. Ada masyarakat yang menggunakan Keraton Kaibon. Walaupun keratonnya sudah dalam keadaan runtuh tapi masih disenangi. Ini merupakan satu kebahagiaan buat saya sebagai salah satu keturunan Sultan Banten,” tegasnya.

nu 14

Nury Sybli dan Tubagus Ismetullah Al’Abbas. (Foto: Gapey Sandy)

Kalaupun ada UU tentang Cagar Budaya yang melindungi keberadaan Keraton Kaibon, tapi jangan salah, katanya lagi, bahwa pemanfaatan oleh masyarakat juga boleh kok dilakukan selama mengikuti aturan dan prosedur yang berlaku. “Buat saya, kalau bisa saya tafsirkan, sebenarnya bahwa inilah suatu kemuliaan. Keraton Kaibon yang sudah runtuh saja, ada masyarakat yang masih mencintai dan mau mengadakan akad nikah di situ. Coba lihat, betapa mulia dan membahagiakannya. Ini kekaguman sekaligus kebahagiaan buat saya secara pribadi,” terangnya ketika dijumpai penulis di kediamannya yang tak jauh dari Masjid Agung Serang.

Tetapi, lanjut Tubagus Ismetullah yang mengenakan kemeja Batik Keraton Banten ini, kepada teman-teman lain pengkritisi pernikahan di Keraton Kaibon, pihaknya juga menganggap bahwa itu sebagai hak masyarakat.

“Hanya saja, saya berpesan kepada mereka yang mengkritisi itu, dengan bahasa lokal ‘Ulah rosa-rosa teuing!’. Akad nikah yang dilakukan di Keraton Kaibon itu kan demi kebaikan, bukan untuk maksiat. Itu kan juga sunnah Rasulullah saw, perintah agama, jadi kenapa malah dibuat ramai? Dampak manfaat dari akad nikah yang dilangsungkan kemarin itu akhirnya positif, karena banyak orang menjadi semakin paham, akan keberadaan dan begitu berharganya Keraton Kaibon,” tuturnya dengan nada serius.

nu 16

Sisa reruntuhan Keraton Kaibon di Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

nu 12

Ada pemotretan pre-wedding di Keraton Kaibon, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

Maka itu, ke depan, pesan Tubagus Ismetullah, pihak yang berwenang terhadap cagar budaya harus segera membangun dua replika keraton, Surosowan dan Kaibon. “Yang namanya dua replika keraton ya boleh-boleh saja untuk mengadakan kegiatan masyarakat, mulai dari diskusi, kajian budaya, festival, akad nikah dan sebagainya. Lalu bangun pula, di sekitarnya, area wisata, mulai dari penginapan, lahan parkir, tempat kuliner dan lainnya. Kalau ada investor yang bersedia membangunnya, kami siapkan lahannya di sini. Hasilnya kan bisa berdampak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,” pungkas Tubagus Ismetullah sembari mempersilakan penulis menyantap pisang goreng dan teh manis hangat.

o o o O o o o

 

Iklan