7890b

Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia ketika mendarat dan stand by di Bandar Udara El Tari, Kupang, NTT, Minggu, 27 Desember 2015. (Foto: Gapey Sandy)

Ini kesempatan langka. Pengalaman berharga. Meskipun, semoga bukan yang pertama dan terakhir. Apa sih? Naik Pesawat Kepresidenan atau yang biasa disebut ‘AIR FORCE ONE’ Indonesia.

Ya, sepanjang 26 – 28 Desember kemarin, saya bersama salah seorang admin Kompasiana mengikuti kunjungan kerja (kunker) Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah agenda peliputan yang lain dari biasanya, karena untuk pertama kalinya dalam sejarah di Indonesia, ada BLOGGER yang meliput kunker Presiden. Paling tidak, itu yang dikatakan Iskandar Zulkarnaen, admin Kompasiana yang saya maksud. Benar atau tidak pernyataan Mas Is—sapaan akrabnya—, wallahu a’lam.

Keberangkatan kami berdua dimulai pada Sabtu, 26 Desember 2015. Pihak Biro Pers Istana Kepresidenan mengarahkan kami untuk terbang menggunakan Garuda Indonesia dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, langsung menuju ke Bandar Udara El Tari, Kupang, NTT. Artinya, tidak bareng-bareng dengan rombongan kepresidenan yang menaiki Pesawat Kepresidenan dan berangkat melalui Solo, pada Minggu, 27 Desember 2015.

Sempat sedikit kecewa juga, karena kami berdua tidak diarahkan ke Solo terlebih dahulu. Meskipun ada penjelasan dari pihak Biro Pers Istana Kepresidenan bahwa tiket pesawat dari Jakarta ke Solo, sulit diperoleh. Maklum, momentum libur akhir tahun yang merupakan peak season setiap maskapai penerbangan. Dampaknya, kami tidak dapat langsung mengikuti agenda pertama pada kunker hari pertama yaitu peresmian terminal penumpang pesawat di Bandar Udara Komodo (yang sebelumnya bernama Bandar Udara Mutiara II) yang ada di Labuan Bajo, tepatnya di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

ok 1fff

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo menerima penyambutan di Bandar Udara El Tari, Kupang, NTT, pada Minggu, 27 Desember 2015. (Foto: Gapey Sandy)

Menjelang sore hari, sekitar 15.30 wita, Pesawat Kepresidenan mendarat di Bandar Udara El Tari, Kupang, dan kami berdua termasuk rombongan yang menyambut kehadiran Presiden dan Ibu Negara beserta rombongan.

Agenda kunker berikutnya pun langsung dilaksanakan. Dari El Tari, rombongan kepresidenan menuju proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 5 MW di Desa Oelpuah, Kupang Tengah, atau sekitar satu jam dari bandara. Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said meresmikan proyek PLTS terbesar se-Indonesia dan merupakan karya anak bangsa ini.

Dari sini, kunker dilanjutkan dengan pertemuan dengan sejumlah Pemimpin Redaksi media massa lokal di salah satu ruangan tertutup di tempat Presiden dan Ibu Negara menginap, yaitu di Hotel Sotis, Kupang. Saya dan Mas Is, termasuk yang di-plotting oleh Biro Pers Istana Kepresidenan untuk mengikuti pertemuan ini. Usai pertemuan, agenda Presiden berikutnya adalah menerima lawatan sejumlah relawan.

Kunker Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo memang sangat padat. Jadwalnya selalu berpacu dengan waktu. Tengok saja bagaimana kunker hari kedua (Senin, 28 Desember 2015), yang sekaligus merupakan hari terakhir. Nyaris tiada waktu sela. Sejak PAGI rombongan kepresidenan sudah terbang ke Kabupaten Belu (yang jaraknya sekitar 279 km dari Kupang) dengan menggunakan pesawat CN-295 milik TNI AU. Pada SIANG hari, di Belu, Presiden meninjau pembangunan Pos Lintas Batas Negara Terpadu (PLBN) Motaain. Sekaligus melihat langsung pos perbatasan dengan Timor Leste itu. Setelah itu langsung terbang kembali ke Kupang. Menjelang SORE, menghadiri perayaan Natal Bersama Nasional, dan bakti sosial bersama relawan. Hampir MALAM, kembali ke Bandar Udara Halim Perdana Kusuma di Jakarta.

* * *

OK 700

Pesawat Kepresidenan RI di Bandar Udara El Tari, Kupang, NTT. (Foto: Gapey Sandy)

Sesuai jadwal, rombongan kepresidenan kembali ke Jakarta dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan. Pesawat berwarna badan biru muda dan putih, dengan garis pita bendera Merah Putih yang memanjang, memang dijadwalkan akan take off dari Bandar Udara El Tari, Kupang, pada jam 17.15 wita. Begitu terburu waktu, bahkan ketika turun dari kendaraan masing-masing, semua rombongan kepresidenan termasuk wartawan dan BLOGGER KOMPASIANA yang meliput kunker langsung melewati terminal tunggu bandara, dan menuju tangga pesawat.

Jelas beda dong, tangga yang dinaiki Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo langsung menuju pintu depan pesawat, sementara rombongan lain harus naik tangga dan masuk lewat pintu belakang. Wheeeewwwww … inilah pengalaman pertama naik “AIR FORCE ONE” INDONESIA. Ketika langkah kaki satu per satu menaiki tangga, rasanya semakin ingin buru-buru masuk ke Pesawat Kepresidenan. Tidak sabar rasanya, pingin tahu bagaimana suasana di dalamnya itu loh, cyyiiiinnn.

Menurut penjelasan salah seorang staf Biro Pers Kepresidenan, ruang kabin Pesawat Kepresidenan ini terbagi tiga. Paling depan adalah ruang khusus untuk Presiden dan Ibu Negara, lalu bagian tengah untuk para menteri dan staf kepresidenan, sedangkan di bagian belakang adalah untuk anggota rombongan lain termasuk para jajaran Paspamres. Kabin bagian belakang ini saja yang bisa nikmati, maklum jatah kursinya ya di bagian belakang … hahahahaaa.

Jpeg

Lambang Bintang dan Padi Kapas di monitor touch screen Pesawat Kepresidenan RI. (Foto: Gapey Sandy)

 

Ruang bagasi barang di atas tempat duduk, sama persis dengan pesawat-pesawat komersial pada umumnya. Saya buru-buru memasukkan satu tas ransel berisi pakaian dan MacBook, dan satu tas kamera ke bagasi di atas kepala itu. Lalu mencari-cari kursi mana yang seharusnya saya tempati. Rupanya, setiap kursi sudah ada namanya yang ditempelkan di bahagian sandaran kepala. Termasuk, kursi untuk staf Paspampres juga tertera namanya.

Satu baris kursi, ditempati tiga penumpang. Mas Is, memilih duduk dekat jendela, bertukar tempat dengan saya. Saya duduk di tengah. Di sisi kanan, duduk seorang anggota Paspampres berkemeja batik lengan panjang dengan warna dominan merah hati. Tak lama duduk, pramugari sudah membagikan sapu tangan berbahan handuk yang basah, untuk membersihkan wajah dan tangan. Segar rasanya. Disusul kemudian makanan ringan, dan aneka minuman pilihan.

Perjalanan menuju Jakarta menggunakan Pesawat Kepresidenan ini menghabiskan waktu 2,5 jam. Sepanjang perjalanan, seluruh penumpang diladeni santap malam oleh pramgari. “Bapak, menu makannya mau nasi dengan ikan, atau nasi dengan daging sapi?” tanya pramugari. Tanpa perlu pikir panjang, kita bertiga ternyata pilihannya sama, nasi dengan lauk ikan. Saya membayangkan, cita rasa menunya pasti akan sama yummy-nya dengan ketika 100 Kompasianer dijamu makan siang oleh Presiden Joko Widodo pada Sabtu, 12 Desember 2015 lalu. Ternyata, tebakan saya tidak salah. Segera saja seporsi nasi dengan menu ikan ditambah lagi capcay seafood segera ludes tanpa sisa. Karena sudah kenyang, saya tidak menyentuh sama sekali roti tawar bulat yang sudah disiapkan dua selai.

P - jadi 1.jpg

Tampilan kamera pada monitor touch screen Pesawat Kepresidenan RI. (Foto: Gapey Sandy)

Secara umum, suasana di dalam Pesawat Kepresidenan sama dengan pesawat komersial biasa. Eh, tapi ini pada kabin bagian belakang loh, enggak tahu juga kalau di bagian tengah dan depannya sana. Hanya saja memang fitur-fitur berlambang kenegaraan begitu mencolok. Mulai dari jepitan sabuk pengaman yang berwarna kuning keemasan dan berlambangkan Burung Garuda, brosur petunjuk keselamatan yang juga bercirikan lambang kenegaraan, televisi pada sandaran kepala yang dominan berwarna biru muda pada layarnya, lengkap dengan lambang Sekretariat Kepresidenan, lalu layanan pada entertainment yang handal.

Ambil contoh, headphone yang disediakan sangat stereo dan berkualitas bagus, pilihan hiburan musik dan film yang sangat variatif. Juga, dilengkapi kamera (CCTV) yang dipasang pada bagian ekor pesawat sebelah atas, sehingga tayangan pesawat berjalan di landas pacu, dan ketika melayang terbang di angkasa, dapat dilihat melalui televisi. Saya melirik ke kiri, Mas Isjet rupanya asyik memilih-milih film yang akan ditontonnya. Tapi begitu film setengah main, Mas Isjet justru tertidur pulas. Mungkin dia kenyang dan lelah. Sedangkan ketika saya melirik ke kanan, rupanya staf Paspamres di sebelah saya, justru asyik memilih untuk menikmati alunan album musik Slank. Wuuuiiihhh … seleranya mantap, satu aliran nih kesukaan musiknya, ‘Ndan!

Fitur lain adalah informasi yang ditayangkan tentang peta dan perbedaan waktu yang berlaku di dunia, pemetaan rute terbang dari Kupang menuju Jakarta, dan informasi tentang kecepatan terbang, suhu udara di luar, dan sebagainya. Harap dicatat, tidak ada peragaan pemasangan sabuk pengaman, pemasangan pelampung, masker bernafas dan lainnya, seperti yang biasa diperagakan para pramugari di pesawat komersial. Semua langsung tayang melalui video saja. Pokoknya, semua fitur ini sangat menyenangkan dan informatif.

Jpeg

Lambang Burung Garuda pada kepala ikat sabuk pengaman yang berwarna chrome keemasan di Pesawat Kepresidenan RI. (Foto: Gapey Sandy)

Sesuai waktu tempuh penerbangan yakni 2,5 jam, Pesawat Kepresidenan mendarat di Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Begitu pesawat mendarat, seluruh Paspampres yang duduk satu kabin dengan wartawan dan BLOGGER KOMPASIANA peliput kunker Presiden, langsung berdiri dan bersiap untuk segera turun dari pesawat. Ya, tugas sudah menanti mereka, menjaga keamanan dan keselamatan dari ‘orang nomor satu’ di Indonesia.

Selamat sampai di tujuan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Selamat mempersiapkan agenda kerja berikutnya. Kepada seluruh staf Paspamres. Kebanggaan sudah barang tentu tersemat untuk seluruh ‘Pasukan’. Siap!

* * *

Baca juga rangkaian tulisan saya selama mengikuti kunker ini yang sudah dimuat di KOMPASIANA:

Iklan