Jpeg

Syafrizaldi, atlet Binaraga senior Indonesia. Menyantap menu pesanan kedua yakni Sop Buntut, setelah sebelumnya menu pertama sebanyak 20 tusuk Sate Sapi sudah dilahapnya. (Foto: Gapey Sandy)

Ketika menu pesanannya, yaitu 20 tusuk Sate Sapi diserahkan pelayan restoran, Syafrizaldi langsung menyantapnya. Tanpa menunggu lama, satu persatu sate ludes dilahap, menyisakan tusuk demi tusuk bambu dipinggir piringnya. Uniknya, ia sama sekali tidak menyantap bumbu kacang satenya. “Kalau makan sate, ya cuma dagingnya saja. Tanpa bumbu kacangnya,” ujar atlet binaraga peraih medali emas untuk kelas Master usia 50 – 59 tahun pada World Body Building Physique Federation (WBPF) ke-7, 24 – 30 November kemarin, di Bangkok, Thailand.

Sesudah melahap sate sapi dalam hitungan menit, Syafrizaldi bertanya kepada pelayan yang kebetulan melintas. “Ada Sop Buntut? Pesan ya, pakai nasi,” kata atlet yang juga meraih medali perunggu pada kejuaraan dunia WBPF yang sama untuk kelas 75 kg.

Saya yang duduk tepat di sebelah Syafrizaldi hanya bisa tersenyum menyaksikan lengan tangannya yang menggelembung dengan otot menyembul keluar, sibuk memegang sendok dan garpu. “Ya begini ini, kalau saya sebagai atlet binaraga tidak sedang dalam latihan untuk turun bertanding. Kami jadi agak longgar menyantap makanan-makanan surga dunia seperti ini,” ujarnya seraya tertawa berderai.

OK 4 - fb stafrizaldi

Syafrizaldi ketika unjuk kebolehan dan unjuk prestasi di WBPF ke-7 di Bangkok, Thailand, akhir November 2015 kemarin. (Foto: FB Rizal ThinkBig)

Santapan makanan ‘surga dunia’? Ya, bagi Syafrizaldi, Sate Sapi dan Sop Buntut adalah menu favorit yang tidak boleh disia-siakan begitu saja. Maklum, saat sedang tidak berlatih dan bertanding, ia boleh menyantap menu beraneka ragam.

“Tapi, kalau sedang menjalani pemusatan latihan dan segera akan bertanding, saya harus melakukan diet ketat. Makan daging sapi hanya yang warnanya merah saja. Makan satu telur bebek setiap makan. Kenapa telur bebek? Karena saya alergi kalau makan telur ayam. Yang jelas makanan yang harus menjadi pantangan adalah tidak boleh menyantap gula, garam dan minyak. Contoh, makan roti gandum, ya harus yang tawar, tidak boleh pakai selai. Makan daging ya tidak boleh digoreng, juga tidak boleh pakai garam,” jelasnya sembari terus mengunyah.

Usai makan, Syafrizaldi lantas menikmati minuman dinginnya. Segelas Es Kacang Merah dengan Susu Coklat. Minuman manis dan segar yang seharusnya ia hindari, manakala dirinya harus fokus berlatih dan siap berlaga dalam satu kejuaraan.

Tidak hanya otot badannya yang besar, nama Syafrizaldi adalah juga nama besar di blantika Men’s Bodybuilding. Di tanah air, ia termasuk atlet senior. Rekornya pun, rasanya sulit tertandingi. Maklum, ia sudah delapan kali jadi jawara di Pekan Olahraga Nasional (PON).

OK 5 - fb.jpg

Syafrizaldi, atlet Binaraga senior Indonesia. (Foto: FB Rizal ThinkBig)

Syafrizaldi mulai menggeluti cabang olahraga ‘berotot’ ini sejak 1986. Ketekunannya berlatih dan menjajal banyak kompetisi, membuat ‘Bang Haji Rizal’, sapaan akrabnya, sukses meraih juara ke-3 pada Asian Games ke-XV di Doha, Qatar, pada 2006. Sejak itu, ia terus menjadi bintang. Prestasinya terus mengalir. Pada 2007, ia menjadi peringkat ke-4 dunia di ajang Kejuaraan Dunia Binaraga di Korea Selatan. Setahun kemudian, 2008, Syafrizaldi meraih posisi nomor wahid pada Asian Beach Games.

Prestasi Syafrizaldi terus moncer. Pada 2010 hingga 2012, satu persatu ia mengoleksi lagi penghargaan. Mulai dari menjadi yang terbaik pada Asian Beach Games di Oman, peringkat ke-IV Dunia Mr Universe India, dan Juara I PON 2012 di Riau. Dibalik kemilau prestasinya ini, ternyata Syafrizaldi justru nyaris menjadi petinju. Malah, pernah satu sasana bersama legenda tinju Elyas Pical. “Ibu saya tidak tega melihat saya menjadi petinju. Mana ada ibu yang tega melihat anaknya bertinju? Makanya, saya kemudian pilih cabang olahraga Binaraga ini,” ungkap suami dari Sumarni. “Menjadi atlet binaraga itu seperti layaknya pria normal. Saya punya seorang istri dan tiga anak, Mariofaceb A S, Viradessy Arisandi, dan Fairuz Imtiyaz Arizal”.

Sosok Syafrizaldi sangat ramah. Meski tubuhnya kekar berotot dan seolah kaku, tapi senyum hampir tak pernah lepas dari wajahnya. Sembari terus bercerita, ia kemudian mengeluarkan smartphone-nya. Syafrizaldi membuka laman facebook. Akun miliknya Rizal ThinkBig ternyata banyak sekali permintaan pertemanan. Sebagian besar lelaki, dan hanya beberapa saja yang nampak perempuan yang memohon pertemanan. “Akun facebook saya ada dua. Namanya sama, Rizal ThinkBig. Tapi yang satu adalah fan page, dan satu lagi, personal,” jelasnya.

 

OK 99

Syafrizaldi (kiri) ketika melaksanakan pemusatan latihan. (Foto: FB Rizal ThinkBig)

Syafrizaldi menuturkan hal tersebut di sela acara “Atlet Binaraga Jumpa Blogger”, Kamis 3 Desember 2015 di fX Sudirman Mall, Senayan, Jakarta. Hadir pula dua atlet binaraga yang juga ikut berlaga pada WBPF ke-7 di Bangkok, yakni Hendra Oktafia Fanggi Sain (asal Banten) yang berhasil menempati urutan 11 untuk kategori Men’s Bodybuilding 85 kg. Lalu ada juga Doddy Syahputra (asal DKI Jakarta) yang meraih posisi ke-7 pada kategori Men’s Athletic Physique up to 170 cm. Selain itu, hadir mantan Pembina Prestasi Pengurus Besar Persatuan Angkat besi, Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI) periode 2010 – 2015 sekaligus Manajer Tim Binaraga Indonesia pada WBPF ke-7 di Bangkok yakni Kemalsyah Nasution SH. Juga, Budiarto selaku mantan Pengurus Bidang Pertandingan Olahraga PB PABBSI periode 2010-2015.

Usulan Menceraikan Angkat Besi, Angkat Berat dan Binaraga

Kesuksesan tim atlet dan official Binaraga Indonesia di Bangkok, Thailand, memang terasa membanggakan. Betapa tidak, dengan persiapan yang cukup mendadak, dan lawan yang dihadapi teramat sangat hebat, tapi bendera Merah Putih dapat berkibar di ajang yang mendunia dan bergengsi tersebut.

“Pada ajang WBPF kemarin di Bangkok, kami berangkat secara tim yang terdiri dari 12 atlet dan 2 ofisial. Kami mengikutsertakan atlet untuk 12 kategori lomba, dari total 37 kategori lomba. Alhamdulillah, Syafrizaldi meraih medali emas atau juara dunia untuk kelas Master usia diatas 50 tahun. Kelas Master ini bebas, artinya siapa saja boleh ikut bertanding. Sepanjang usianya terpenuhi. Jadi, ketika bertanding, ada lawan yang tubuhnya lebih besar, malah ada juga yang lebih kecil dari Syafrizaldi. Dewan juri memberi penilaian pada simetrisasi dan kualitas otot. Selain emas, Syafrizaldi juga meraih perunggu untuk lomba kelas 75 kg,” tutur Kemalsyah Nasution seraya menambahkan dari 12 atlet yang turut serta, ada 11 atlet yang berhasil lolos ke babak semi final.

OK 1 Kemalsyah N

Kemalsyah Nasution. Mantan Pembina Prestasi PB PABBSI periode 2010 – 2015 dan Manajer Tim Binaraga Indonesia pada ajang WBPF ke-7 di Bangkok, Thailand, akhir November 2015 kemarin. (Foto: Gapey Sandy)

Sebenarnya, dibalik kesuksesan tim atlet dan official Binaraga Indonesia di Bangkok, Thailand, ada kisah getir yang harus mereka alami. Cerita lama memang, tapi mirisnya selalu terulang. Apalagi kalau bukan soal pendanaan. Menurut Kemalsyah, kepergian tim binaraga ke Bangkok, awalnya dengan menggunakan dana pribadi masing-masing. “Semua biaya keberangkatan tidak sedikit pun dibiayai oleh PB PABBSI. Kita mengawali dengan biaya swadaya, tapi kemudian persiapan kita disimak oleh Kemenpora yang pada last minute hendak berangkat ke Thailand, kita dipanggil oleh Menpora. Intinya, kami disarankan untuk membuat proposal agar bantuan pendanaan dapat diberikan. Alhamdulillah, Kemenpora mau membantu,” urai Kemalsyah yang juga pernah menjadi atlet binaraga.

Segala bantuan dari Kemenpora ketika last minute keberangkatan tim atlet Binaraga Indonesia ke ajang internasional, menurut Kemalsyah, masih membuktikan masih ada itikad baik untuk meningkatkan prestasi atlet nasional. “Artinya, saya sudah mulai melihat ada titik terang. Dalam arti, selama kita mau memperjuangkan kemajuan atlet, sebenarnya Pemerintah itu bersedia mendengarkan. Karena sudah jelas, agenda dan anggaran dananya memang ada. Hanya mungkin selama ini tidak ada yang berani ‘teriak’ saja. Kalau ada yang ‘teriak’ mungkin tidak terlalu lantang. Makanya, buat kita, apa yang sudah kita lakukaan saat ini justru merupakan awal. Bagi kita, masih banyak lagi strategi pengembangan yang akan dikerjakan. Untuk itu, kami tidak akan bergantung terus kepada PB PABBSI. Bahkan saya punya pemikiran bahwa kedepannya ini dengan kita kasih contoh seperti ini, saya jadi kepingin tahu, seperti apa PB PABBSI di masa mendatang. Kalau tidak kunjung ada perombakan dengan pemikiran yang segar dan maju, ya kita lupakan saja. Kita buat federasi yang baru. Menurut saya, itu justru menjadi salah satu jalan yang lebih baik,” papar pengusaha property yang rajin berpuasa sunah saban Senin dan Kamis ini.

Alasan yang disampaikan Kemalsyah pun masuk akal. PB PABBSI ‘seolah’ seperti kerepotan menyandang urusan tiga cabang olahraga sekaligus. “Kenapa saya berpikiran seperti ini? Karena, saya memahami betapa beratnya kepengurusan PB PABBSI ini lantaran harus menaungi tiga cabang olahraga, yaitu Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga. Mereka selalu mengatakan, bahwa yang berprestasi adalah Angkat Besi. Nah, kalau begitu, kenapa enggak sebaiknya tiga cabang olahraga ini dipisah saja? Suruh mandiri saja semuanya,” ujarnya.

OK 2

Suasana akrab pada acara ‘Atlet Binaraga Jumpa Blogger’ pada Kamis, 3 Desember 2015 di fX Mall, Senayan, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Kemalsyah juga mempertanyakan, bagaimana pembinaan prestasi para atlet, seandainya mereka yang jumlahnya ribuan ini tidak diikutsertakan pada ajang seperti Pekan Olahraga Nasiobal (PON), misalnya. “Jadi, saya berpikir begini. Atlet Pelatda yang menuju PON, semua yang terpilih total, maksimal adalah 48 orang. Lha terus, ribuan atlet lainnya yang ada tidak ikut PON disuruh ngapain, kalau patokannya hanya pada 48 orang itu saja. Bukankah ini sia-sia. Sementara industri olahraga terus semakin melebar. Untuk itu, sebagai mantan atlet sekaligus pengurus, saya hanya berpikir untuk bagaimana caranya kesejahteraan dan prestasi atlet meningkat. Saya juga berharap agar Pemerintah sudah harus betul-betul fokus untuk memajukan olahraga. Bukankah pada masa Bung Karno dulu dibangun Gelora Senayan? Makanya saya berpikiran lebih baik meng-copy paste gedung Gelora Senayan untuk dibangun di setiap provinsi, agar supaya fasilitas olahraga bisa merata. Jadi, atletnya berkembangnya sama. Nah, kalau sekarang ini yang terjadi justru ‘jual-beli’ atlet. Kenapa? Wajarlah, karena sarana dan prasarana olahraga di setiap provinsi tidak merata,” ujar pria penggemar Motor Gede ini.

Bahkan saat ini, imbuh Kemalsyah, pemikiran yang juga miris adalah, kondisi atlet yang harus berjuang mencari uang demi menafkahi keluarga termasuk pendidikan anak-anaknya. “Waduh, seharusnya ini adalah tugas Pemerintah untuk mempersiapkan kesejahteraan tersendiri bagi para atlet. Atlet itu hanya siap untuk latihan dan tanding. Terbukti, saat ini sekarang kita tersaingi prestasinya oleh atlet-atlet China. Padahal semasa zaman Bung Karno, mereka itu tidak ada apa-apanya. Begitu juga dengan Malaysia. Apa yang saya sampaikan ini, ingin saya kembalikan kepada Pemerintah untuk juga berpikiran terhadap hal yang sama, kalau ingin memajukan olahraga. Apalagi, justru dengan olahraga maka persatuan dan kesatuan bangsa bisa terciptakan,” tutur Kemalsyah.

OK 7

Membanggakan. Syafrizaldi ketiga dengan bangga mengibarkan bendera Merah Putih usai meraih Juara I pada WBPF ke-7 di Bangkok, Thailand. Jangan sia-siakan perjuangan para atlet. (Foto: FB Rizal ThinkBig)

Pemerintah harusnya memikirkan bagaimana nasib para atlet yang sudah berprestasi dan mengharumkan nama baik bangsa, lanjut Kemal, sapaan akrabnya. “Jangan sampai terjadi atlet-atlet yang sudah berprestasi lalu diterlantarkan nasibnya. Malah sampai menjual semua medali dan piala yang pernah diraih. Coba pikirkan, bagaimana kelak nasib binaragawan Syafrizaldi ini nanti pada masa lima tahun kedepan. Apa yang menjamin kesejahteraannya? Padahal, ia kini sudah berkali-kali mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia,” gemas Kemalsyah.

Akhirnya, semua kembali kepada Pemerintah dalam hal ini Kemenpora. Akankah dapat seiring sejalan mengembangkan prestasi atlet di kancah nasional maupun internasional, sambil memperhatikan kesejahteraan hidup pata atletnya. Dua hal yang tidak dapat dipandang remeh, apalagi dipisahkan.

Salam olahraga!

Iklan