Foto #1: Suasana di Rumah Tempe Indonesia, Bogor. (Foto: Gapey Sandy)

Foto #1: Suasana di Rumah Tempe Indonesia, Bogor. (Foto: Gapey Sandy)

Rumah Tempe Indonesia (RTI), lokasinya searah dengan Lapangan Udara Atang Senjaya di Jalan Raya Semplak, Kemang, Bogor, Jawa Barat. Kalau dari arah Parung, tinggal lurus menuju arah Selatan, lalu ke Jalan Raya Cilendek No.27. Adanya di sebelah kiri, patokannya swalayan Indomaret. Memang agak sedikit masuk gang, tapi dari pinggir jalan raya sudah akan terlihat gedung megah, bertuliskan KOPTI Bogor. KOPTI singkatan dari Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia. Nah, persis disamping Gedung KOPTI Bogor inilah RTI berdiri.

Dari luar, RTI seperti gedung kantor pada umumnya. Berpintu kaca dan terkesan formal. Tapi begitu saya masuk, semua bayangan itu sirna. Masuk ke dalam RTI, suasananya justru berubah mirip dapur. Hah, dapur? Ya, dapur pembuatan tempe!

Saya saksikan, ada 11 orang-orang muda yang bekerja. Di ruangan sisi paling kiri yang agak menjorok ke bawah, ada tiga pekerja yang merendam, merebus, meniriskan, dan mengupas kulit kacang kedelai. Drum atau dandang-dandang berukuran besar terbuat dari stainless steel menjadi piranti proses produksi yang paling menonjol. Ada pula mesin pengupas kulit kacang kedelai. Kesibukan di space ruang ini begitu terasa. Lantai menjadi basah bahkan sedikit tergenang air. Maklum, namanya juga proses perendaman, perebusan dan penirisan kacang kedelai.

Inilah Rumah Tempe Indonesia di Bogor. (Foto: Gapey Sandy)

Proses perendaman, pencucian, perebusan, penirisan dan pemecahan kulit kacang kedelai dilakukan secara higienis dengan peralatan standar yang terjaga kebersihan dan kesehatannya. (Foto: Gapey Sandy)

Agak lebih tinggi sedikit dari ruang perebusan dan penirisan kacang kedelai, adalah ruang peragian. Kacang kedelai yang sudah tiris, ditumpahkan ke meja panjang yang cekung dan diberi alas kain putih bersih. Karena masih terasa panas dengan sedikit-sedikit asap yang mengepul, kacang kedelai diangin-anginkan menggunakan kipas angin. Setelah dingin, mulailah proses peragian. Seperti menggunakan ayakan, ragi ditaburkan merata ke limpahan kacang kedelai. Lalu diaduk sampai merata.

Selesai peragian, mulailah pencetakan. Kacang kedelai dimasukkan ke plastik kemasan kemudian ditimbang, lalu di-laminating menggunakan mesin. Setelah itu, dibentuk dengan cara ditekan menggunakan semacam bilah kayu sehingga membentuk empat persegi panjang yang tebal. Lantas ditempatkan pada rak bersusun tingkat yang tertutup rapat dengan suhu ruang yang terukur. Inilah proses fermentasi hingga menjadi tempe. Setelah menjadi tempe, kemudian ditempatkan di rak tingkat bersusun lagi di sisi ruang bagian depan. Sampai disini, tempe-tempe sudah siap menjumpai para calon pembelinya.

Pembangunan RTI diinisiasi oleh Mercy Corps, Forum Tempe Indonesia, dan Primkopti Kabupaten Bogor. Tujuannya, menjawab kebutuhan masyarakat akan tempat produksi tempe yang ideal, higienis, ramah lingkungan, dan menghasilkan tempe berkualitas. Selain itu, RTI yang diresmikan pada 6 Juni 2012 ini juga menjadi tempat pendidikan, pelatihan dan penelitian.

Proses peragian dan diaduk hingga rata. (Foto: Gapey Sandy)

Proses memasukkan kacang kedelai yang sudah diragi ke dalam plastik kemasan dengan timbangan yang tepat dan sesuai presisi. (Foto: Gapey Sandy)

“RTI juga tempat pembelajaran, bukan hanya produksi. Kita ingin jadi rujukan atau role model yang ditiru pengrajin tempe. Karena, bicara industri tempe, rata-rata proses produksinya belum higienis, peralatannya belum standar, dan proses produksinya beraneka ragam, sehingga tidak ada yang betul-betul menghasilkan tempe berkualitas. Ini terjadi karena kebanyakan mereka mengikuti kebiasaan orangtua, atau sebelumnya pernah bekerja di pengrajin tempe, sehingga begitulah yang kemudian mereka terapkan,” ujar Muhammad Ridha, Kepala Bagian Pemasaran RTI kepada penulis.

Hingga kini, visi dan misi RTI sudah tercapai. “RTI dimanfaatkan oleh pengrajin dari Bogor dan Jawa Barat, bahkan pengrajin dari Aceh, Batam, Kalimantan dan wilayah lain sering berkunjung untuk mengikuti kelas pelatihan,” tutur Ridha.

Selain pengrajin yang memperoleh manfaat, ujarnya lagi, Pemerintah juga dapat manfaat, karena RTI juga memproduksi peralatan khusus untuk pengrajin. “Saat ini, bicara produksi tempe, banyak pengrajin yang memanfaatkan peralatan bekas, misalnya drum bekas oli yang sudah berkarat dan lainnya. Karena memang, belum ada peralatan standar dan khusus untuk mendukung proses produksi tempe. Nah, RTI membuat dan menjual peralatan tersebut, yang diantaranya mempergunakan bahan stainless steel dan sebagainya. Setidaknya sudah ada 16 provinsi/kabupaten yang memanfaatkan desain peralatan standar buatan RTI. Artinya, kalau Pemerintah menggulirkan bantuan sarana prasarana kepada masyarakat pengrajin tempe, tidak usah kesulitan spek mesin dan peralatan yang sesuai prosedur produksi tempe,” urai Ridha.

Proses laminating kemasan. (Foto: Gapey Sandy)

Muhammad Ridha, Kabag Pemasaran RTI (kiri) memantau proses pressing untuk membentuk kemasan tempe persegi panjang. (Foto: Gapey Sandy)

Adapun dari sisi konsumen, imbuhnya, jelas memperoleh keuntungan karena memiliki pilihan, dimana produk tempe RTI sudah masuk ke pasar. Konsumen juga bisa mendapatkan edukasi tentang bagaimana nutrisi, manfaat tempe dan sebagainya, termasuk melalui informasi yang termuat dalam situs RTI.

Kapasitas Produksi, Bahan Baku dan Produk

Produksi tempe RTI memang belum besar, rata-rata sekitar 200 kg per hari. “Alhamdulillah, saat ini, tepatnya hari ini (Selasa, 13 Oktober 2015 – red), kita sedang melaksanakan ekspor ke Korea Selatan. Untuk pengiriman perdana ini kita kirim sebanyak 3 ton. Kita kirim dulu ke gudang frozen, karena ekspornya dalam bentuk tempe beku. Jadi, tidak hanya merambah pasar dalam negeri, tempe produksi RTI juga berhasil tembus ekspor ke Korea Selatan. Ini dikarenakan dengan proses produksi tempe yang benar dan higienis, maka pasar tempe jadi makin terbuka,” jelas Ridha.

Ditambahkan, ekspor bukan hal mudah, proses penjajakannya cukup lama. “Kita harus mencari mitra yang tepat. Kualitas adalah persyaratan yang diminta oleh importir dari Korea Selatan itu. Bersyukur, kita sudah terjamin mutunya dengan lulus sertifikasi HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point), memiliki izin P-IRT (Pangan-Industri Rumah Tangga) dan sertifikat halal dari LP-POM MUI Provinsi Jawa Barat,” jelasnya.

Proses fermentasi dengan kebersihan dan suhu ruangan yang terjaga. (Foto: Gapey Sandy)

Ridha menjelaskan, pengrajin tahu dan tempe yang tergabung dalam Kopti Wilayah Jawa Barat ada sekitar 45 – 50 ribu pengrajin. “Ini yang ter-record Kopti Jawa Barat, karena banyak juga yang bukan anggota Kopti. Dari jumlah itu, untuk pengrajin yang ada di Kabupaten Bogor atau Kota Bogor saja, sudah sekitar 80% yang mengadopsi cara produksi tempe secara higienis seperti di RTI. Kita paham, sulit buat pengrajin untuk mengganti seluruh peralatan produksinya menjadi standar sepertiyang digunakan RTI. Tapi, setidaknya sudah banyak yang mulai mengganti peralatannya, seperti item untuk merebus kacang kedelai, yang dulu mempergunakan drum bekas, kini sudah diganti dengan drum atau dandang stainless steel. Ini sudah perubahan yang baik,” ungkapnya.

Berapa modal yang dibutuhkan untuk mengganti seluruh peralatan produksi tempe menjadi standar seperti yang digunakan RTI? “Ditaksir bisa mencapai sekitar Rp 20 – Rp 30 juta, tergantung kapasitas produksinya,” jawab Ridha.

Tak bisa dipungkiri, kacang kedelai yang banyak diserap pengrajin tempe dan tahu masih didominasi impor, terutama dari Amerika Serikat. RTI pun demikian. “Bahan baku yang digunakan di RTI tidak sepenuhnya impor, karena kita juga memakai kacang kedelai lokal organik. Produksi tempe RTI ada tiga tipe, yaitu: produk tempe super yang sudah pasti dibuat secara higienis dan ramah lingkungan dengan bahan baku kacang kedelai impor reguler GMO pilihan. Produk tempe premium dengan bahan baku kacang kedelai food grade non-GMO atau non-genetically modified. Dan, produk tempe organik yang berbahan baku kacang kedelai lokal organik dari petani organik dampingan di Komunitas Organik Indonesia (KOI),” jelas Ridha.

Selesai proses fermentasi, tinggal proses dianginkan dan kemudian siap dipasarkan. (Foto: Gapey Sandy)

RTI mengimpor kacang kedelai diantaranya dari Amerika Serikat. Ridha mengakui, fluktuasi kurs mata uang memang berpengaruh, tapi untuk saat ini harga pasar berjangka kacang kedelai mengalami penurunan. “Diakui, secara kurs memang terdampak bila dengan kenaikan dolar. Akibatnya harga kedelai di ritel alami kenaikan, tapi tak terlalu signifikan, hanya berkisar Rp 300 per kg. Atau, dari Rp 6.900 per kg menjadi Rp 7.200 per kg. Tapi, sekarang harga kedelai impor ini sudah turun lagi ke angka Rp 7.000-an per kg, lantaran dolar mulai jinak,” tuturnya.

Menurut Ridha, rata-rata pengrajin mengimpor kedelai jenis regular. “Sedangkan RTI, menggunakan kedelai impor jenis Identified Preservation (IP) Soy Bean, yang harganya dua kali lipat dari jenis regular, atau Rp 14.000 per kg. Karena, kita menjual tempe kepada segmen masyarakat menengah ke atas, sehingga kedelai yang dipergunakan adalah yang diatas rata-rata dari kualitas kedelai para pengrajin lainnya.” ujar pria berkacamata ini.

Tempe yang dijual oleh RTI, kata Ridha, sengaja tidak dijual ke pasar-pasar tradisional, karena tidak ingin ‘bertabrakan’ dengan pengrajin yang merupakan para anggota KOPTI itu sendiri. “Makanya, tempe RTI masuk ke supermarket dengan produk tempe premium dan produk yang menggunakan IP Soy Bean. Untuk yang premium ini harganya Rp 18 – 20.000 per kg. Kalau produk tempe yang menggunakan kedelai IP Soy Bean harganya Rp 35 – 40.000 per kg. Sebagai gambaran, untuk kedelai jenis IP Soy Bean yang kita beli ini dapat diketahui siapa yang menanam, bagaimana kualitasnya, dan bagaimana penanganannya sampai tiba di Indonesia,” urainya.

Tempe sudah siap dipasarkan. (Foto: Gapey Sandy)

Dengan kedelai yang masih impor dari Amerika Serikat, lantas bagaimana mewujudkan seruan kemandirian pangan bangsa terkait Hari Pangan Sedunia?

“Begini. RTI ini milik KOPTI yang tak lain adalah konsumen atau user kedelai. Sebenarnya, kalau ditanyakan mana yang lebih diinginkan, antara kedelai impor atau lokal, maka dari sisi konsumen, jawabannya adalah bukan darimana berasal, tapi apakah kualitas kedelainya memenuhi requirement atau tidak? Kebutuhan kedelai yang dibutuhkan pengrajin tahu dengan tempe itu agak berbeda karakteristiknya,” jawab Ridha.

Dari sisi konsumen, tegasnya lagi, tidak penting berasal darimana kedelai itu, tapi faktor yang jadi pertimbangan adalah soal ketersediaannya. “Boleh jadi, hari ini kita membuat tempe dari kedelai jenis A, tapi jangan sampai, minggu depan kedelai jenis A tidak ada di pasaran, lalu kita ubah dengan bahan baku kedelai jenis B. Bisa saja dilakukan, tapi akhirnya mengubah kualitas produk tempe. Ini yang jadi concern kita. Kalau ada kedelai lokal yang tersedia di pasaran dengan harga kompetitif, maka kita akan senang sekali menyerapnya. Tapi masalahnya, kita tidak pernah memperoleh kedelai lokal dengan kontinyuitas yang terjamin. Selain itu, kualitas kedelai juga tak terjamin. Biasanya, pengiriman pertama kita peroleh kedelai berkualitas, tapi pengiriman berikutnya menurun kualitasnya,” keluh Ridha.

Apakah tidak mungkin melakukan program petani binaan untuk menanam kacang kedelai oleh KOPTI? Lagi-lagi Ridha memaparkan kondisi memprihatinkan.

“Misalnya, untuk wilayah Bogor saja kita ini menyerap 200 ton kedelai per bulan. Andaikata produktivitas petani hanya 1,2 ton per hektar, bisa dihitung berapa luas lahan dan jumlah petani yang harus menanam kedelai untuk Bogor saja. Itulah masalahnya. Lahan dan jumlah petani kita sudah tidak cukup. Petani kita, mungkin lebih senang menanam jagung, singkong, komoditas lain yang harga jual hasil panennya lebih menguntungkan dibandingkan dengan menanam kedelai. Kalau pun disubsidi sebesar Rp 7.000 per kg sehingga sama dengan harga kedelai impor, tetap saja para petani masih merasa rugi,” terangnya.

Tempe Premium produk RTI yang diekspor ke Korea Selatan. (Foto: Gapey Sandy)

Persoalan ketersediaan kacang kedelai lokal lainnya adalah bibit. “Bibit saja kita enggak punya yang baik. Bibit kedelai milik petani adalah bibit yang diambil dari sisa hasil panen sebelumnya. Begitu terus, sehingga terjadi penurunan kualitas bibit kedelai itu sendiri. Di pasaran tidak ada petani kedelai yang memperoleh bibit kedelai unggulan. Lalu, dari sisi lahan. Untuk menanam kedelai, lahan petani kita bersaing dengan komoditas tanam lainnya. Padahal, kalau kita bicara akses pasar, apakah petani kita terkendala? Tidak. Pasar, selama kedelai itu ada, dan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pengrajin tempe dan tahu, maka pasti akan diserap pasar. Cuma masalahnya adalah supply. Demand tidak ada masalah, karena kebutuhan kedelai nasional sekarang ini pun 2,4 – 2,5 juta ton per tahun,” urai Ridha prihatin.

Ke depan, RTI tetap akan melakukan dan memancing para pengrajin untuk melakukan inovasi produksi tempe. “Tidak banyak anak-anak muda yang mau meneruskan usaha orangtuanya menjadi pengrajin tempe. Sekarang, banyak pengrajin tempe yang rata-rata usianya sudah diatas 60 tahun. Sehingga mungkin, 10 tahun lagi, sekitar 30% usaha pengrajin tempe akan tutup karena tidak ada regenerasi usaha. RTI sedang merangsang minat anak-anak muda untuk meneruskan usaha orangtuanya sebagai pengrajin tempe, tapi dengan cara-cara pengolahan yang lebih baik. Misalnya, menggunakan teknologi, memperhatikan higienitas, ramah lingkungan dan peralatan standar yang aman dan sehat,” serunya.

Kacang kedelai impor asal Amerika Serikat yang dipergunakan sebagai bahan baku tempe. (Foto: Gapey Sandy)

Bicara potensi bisnis tempe—dengan catatan proses produksinya benar, higienis dan ramah lingkungan—, prediksi Ridha, kalau seorang pengrajin memiliki kapasitas produksi 50 kg kedelai per hari, maka bisa diperkirakan bakal meraih keuntungan bersih minimum Rp 4 – 5 juta per bulan.

“Tapi saran saya, untuk pengrajin baru, cobalah menguji daya serap pasar lebih dulu. Saya anjurkan untuk tidak langsung memproduksi tempe dengan 50 kg kedelai per hari. Mulailah dari 5 kg per hari, lalu tes pasar ke lingkungan sekitar. Apabila responnya bagus, bulan berikutnya naikkan kapasitas produksi jadi 10 kg kedelai, dan sampai kepada 50 kg kedelai. Bila sudah tercapai, persiapkan investasi peralatan standar untuk proses produksi yang baik, dengan nilai investasi mencapai Rp 20 – 30 juta,” ajaknya.

Menukilkan kisah keberhasilan RTI memang selaras dengan momentum peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) XXXV, 16 Oktober 2015 yang bertemakan ‘Pemberdayaan Petani Sebagai Penggerak Ekonomi Menuju Kedaulatan Pangan’.

Tempe goreng yang selalu dirindu. (Foto: pecintaanakyatim.com)

Sayangnya, fakta bahwa kacang kedelai impor masih mendominasi industri tempe dan tahu Indonesia cukup membuat kening berkerut juga. Kapan (lagi) kita bisa swasembada kacang kedelai? Bukankah Indonesia negara agraris?

Selamat Hari Pangan Sedunia!

-oooOooo-

Iklan