DUA KOMPSIANER. Dian Kelana (kiri) dan Gapey Sandy (kanan) ketika menerima penghargaan khusus Nominee MH Thamrin Award 2015 dari PWI DKI Jakarta di Balai Agung, Balaikota, Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2015. (Foto: Lisdiana Sari)

DUA KOMPASIANER. Dian Kelana (kiri) dan Gapey Sandy (kanan) ketika menerima penghargaan khusus Nominee MH Thamrin Award 2015 dari PWI DKI Jakarta di Balai Agung, Balaikota, Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2015. (Foto: Lisdiana Sari)

Kompasiana boleh berbangga, dua Kompasianer-nya yaitu Dian Kelana dan Gapey Sandy berhasil meraih penghargaan khusus Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin 2015 untuk kategori Blogger dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi DKI Jakarta. Penyerahan penghargaan khusus Nominee MH. Thamrin Award ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI DKI Jakarta, Kamsul Hasan, pada Kamis 27 Agustus 2015 di Balai Agung, BalaiKota, Jalan Medan Merdeka Selatan No.8-9 Jakarta Pusat.

Hingga tahun ini, PWI Jaya sudah 41 kali menyelenggarakan acara Anugerah Jurnalistik Mohammah Hoesni Thamrin sebagai wujud penghargaan bergengsi wartawan DKI Jakarta. Turut hadir di acara ini, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama beserta jajarannya, mantan Ketua Dewan Kehormatan PWI periode 2008-2013 Tarman Azzam, Kepala Stasiun LPP RRI Jakarta Herman Zuhdi, Ketua PWI Jaya Endang Werdiningsih, dan undangan lainnya.

Ketua Panitia Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin ke-41 Tahun 2015, Kesit B Handoyo dalam laporannya menyatakan, bila pada tahun-tahun sebelumnya terdapat delapan kategori karya jurnalistik terbaik yakni Karikatur, Tajuk Rencana, Artikel Layanan Publik, Artikel Umum, Artikel Online, Foto, Radio, dan Televisi, maka pada tahun ini panitia sepakat menambah tiga kategori baru (Olahraga, Infotainment, dan Blogger). Karya-karya jurnalistik terbaik ini dikumpulkan oleh para peserta sejak periode 1 Juni 2014 hingga 31 Mei 2015. Khusus untuk kategori blogger, deadline pengumpulan naskah jatuh pada 31 Juni 2015.

Sebelum acara dimulai, berpose dengan latarbelakang backdrop panggung. (Foto: Lisdiana Sari)

Sebelum acara dimulai, berpose dengan latarbelakang backdrop panggung. (Foto: Lisdiana Sari)

Suguhan Tari Topeng khas Betawi membuka acara sekaligus memberi simbol sambutan yang ramah kepada para tamu undangan. (Foto: Lisdiana Sari)

Suguhan Tari Topeng khas Betawi membuka acara sekaligus memberi simbol sambutan yang ramah kepada para tamu undangan. (Foto: Lisdiana Sari)

“Jadi untuk tahun ini, ada 11 kategori karya-karya jurnalistik terbaik. Tapi, untuk tiga kategori baru yakni Olahraga, Infotainment dan Blogger, kami masih memberikan apresiasi dalam bentuk penghargaan khusus. Alasannya, walaupun cukup banyak peserta yang mengirim karyanya, tapi dewan juri menilai ada beberapa kriteria yang belum memenuhi syarat,” ujar mantan jurnalis Mingguan Tribun Olahraga, Harian Terbit, Sinar Harapan yang kini menjabat Pemimpin Redaksi portal berita televisi internet, wartatv.com.

Sementara itu, Ketua PWI DKI Jakarta, Endang Werdiningsih dalam sambutannya menuturkan, patut diketahui bersama bahwa didalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat sesuai hati nurani, serta hak memperoleh informasi merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang hakiki.

“Hal ini diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, memajukan kesejahteraan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pers Nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya, berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional. Sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari mana pun,” urai jurnalis yang bergabung dengan Majalah Kartini selama 20 tahun ini.

Ketua Panitia Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 Kesit B Handoyo. (Foto: beritajakarta.com)

Ketua Panitia Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 Kesit B Handoyo. (Foto: beritajakarta.com)

Ketua PWI DKI Jakarta, Endang Werdiningsih tengah memberi sambutan. (Foto: Lisdiana Sari)

Ketua PWI DKI Jakarta, Endang Werdiningsih tengah memberi sambutan. (Foto: Lisdiana Sari)

Endang juga mengatakan, patut disadari bahwa kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum. Meski demikian, pers sebagai mitra sejajar dengan masyarakat dan Pemerintah termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam menjalankan tugas dan fungsinya melakukan kontrol sosial tetap berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan UU Pers No.40/1999.

“Pemberian penghargaan atas karya jurnalistik MH. Thamrin ini, sekaligus untuk membuktikan hasil kerja para wartawan telah memenuhi ketentuan normatif tersebut. Sehingga wartawan dalam melaksanakan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selalu berlandaskan kepentingan umum, bukan atas dasar kepentingan pribadi,” jelas Endang yang kini mengelola majalah wanita Puan Pertiwi.

—– Link Video-nya —–

TONTON Video Malam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yang diselenggarakan PWI DKI Jakarta di youtube ini.

——————————-

Ahok Akan Terus Lawan Wartawan Rasis

Sementara itu, dalam sambutannya, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengungkapkan perilaku wartawan yang seringkali hanya mencari-cari kesalahan instansi dan pejabat dinas yang berada dalam naungannya. “Wartawan itu ada yang cenderung mencari kelemahan, kesalahan dari SKPD yang ada di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Makanya saya dari dulu, sejak jadi Bupati, saya sering diliput oleh wartawan tanpa surat kabar atau “WTS”, entah seminggu sekali, atau sebulan sekali, saya paling demen (senang – red) diliput oleh mereka. Karena, mereka ini seringkali justru mencari-cari kesalahan seluruh dinas dan pejabat yang ada dibawah naungan saya. Jadi saya mendapatkan auditor gratis. Saya mendapat pengawas gratis,” tutur gubernur yang akrab disapa Ahok ini seraya disambut gelak tawa hadirin.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama hadir pada Malam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 di Balai Agung, Balaikota, DKI Jakarta. (Foto: beritajakarta.com)

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama hadir pada Malam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 di Balai Agung, Balaikota, DKI Jakarta. (Foto: beritajakarta.com)

Dalam sambutannya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menyentil insan pers yang dinilai kurang rajin membaca sejarah tentang Kota Jakarta. (Foto: Lisdiana Sari)

Dalam sambutannya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menyentil insan pers yang dinilai kurang rajin membaca sejarah tentang Kota Jakarta. (Foto: Lisdiana Sari)

Selain itu, Ahok juga menyampaikan rasa terima kasih kepada insan pers yang telah banyak memberitakan berbagai aktivitas dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Baik yang pemberitaannya tendensius, maupun yang dilatarbelakangi oleh “pesanan” dari “belakang” atau dari politisi. Saya bisa baca, yang mana berita yang bermuatan “pesanan” maupun yang memancing saya marah untuk supaya dapat angle penulisan berita. Saya sengaja saja, saya suka. Kenapa? Bagi saya, black campaign itu pada dasarnya adalah campaign juga. Dari dulu, saya enggak pernah takut dengan media, karena saya selalu percaya bahwa yang namanya emas, sekalipun dibakar akan tetap menjadi emas. Tapi, kalau yang namanya bangkai, biar disembunyikan akan tetap tercium baunya. Kita tidak bisa melakukan pencitraan terus-menerus. Kalau kita melakukan pencitraan yang tidak berasal dari hati nurani, hasrat dan pikiran kita, maka pasti akan selalu ada masalah. Makanya, kami sangat beruntung dapat hidup di era pers yang merdeka,” tutur Ahok disambut tepuk tangan gemuruh tamu undangan.

Tapi, Ahok memperingatkan, apabila ada pers yang rasis, maka tidak pantas disebut sebagai pers Indonesia. “Ini harus sangat jelas. Kalau Anda para jurnalis ini berlaku primordialisme, maka Anda tidak pantas disebut sebagai pers Indonesia. Karena seluruh organisasi di negara ini pada dasarnya Pancasila dan UUD ’45. Ini yang membuat saya selalu melakukan perlawanan, apabila para insan pers menulis beritanya secara rasis, maka saya akan terus melawannya sampai mati. Sangat tegas, karena negara ini didirikan dengan darah dan nyawa para pejuang. Pancasila disusun, dipertahankan, dan pada setiap 1 Oktober kita peringati bersama sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ini bukan sebuah hal yang murah,” urai gubernur kelahiran Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966 ini.

Untuk itu, Ahok menghimbau kepada pers untuk menulis pemberitaan yang berimbang. “Jangan tendensius, atau hanya sekadar “dibeli” oleh oknum partai demi mencari kekayaan. Saya kira, pers pasti memiliki idealisme, bukan untuk mencari uang. Kalau politisi masuk ke politik hanya mencari uang, PNS masuk juga hanya uang mencari uang, lalu pers juga bekerja untuk mencari uang, maka negara ini akan hancur,” kata suami dari Veronica ini.

Ketika pengumuman penghargaan khusus kategori BLOGGER. (Foto: Lisdiana Sari)

Ketika pengumuman penghargaan khusus kategori BLOGGER. (Foto: Lisdiana Sari)

Karya tulisan Gapey Sandy pada blog KOMPASIANA ketika diumumkan meraih Nominee. (Foto: Lisdiana Sari)

Karya tulisan Gapey Sandy pada blog KOMPASIANA ketika diumumkan meraih Nominee. (Foto: Lisdiana Sari)

Karya tulisan Dian Kelana pada blog KOMPASIANA ketika diumumkan meraih Nominee. (Foto: Lisdiana Sari)

Karya tulisan Dian Kelana pada blog KOMPASIANA ketika diumumkan meraih Nominee. (Foto: Lisdiana Sari)

Pada kesempatan ini Ahok juga menyinggung tentang kasus Kampung Pulo. “Media massa suka salah juga, dengan menyebut bahwa saya membongkar rumah-rumah di Kampung Pulo. Padahal, saya tidak pernah membongkar rumah-rumah di Kampung Pulo. Jangan salah. Karena, yang saya bongkar adalah rumah liar di bantaran Kali Ciliwung, yang lokasinya ada di sebelah Kampung Pulo. Sekali lagi, yang saya bongkar adalah rumah yang dibangun di atas bantaran Kali Ciliwung, hasil pengurukan sampah. Akibatnya, lebar Kali Ciliwung yang dulungan 20 meter, kini tinggal menjadi 5 meter saja. Kata siapa harusnya 20 meter? Itu kata Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Pusat, dan mendasarkan pada kajian Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu. Tapi pemberitaan di media massa justru saya diberitakan membongkar dan menggusur Kampung Pulo, lha ini dari mana sumbernya? Jadi mohon maaf nih, kadang-kadang saya menilai insan pers sekarang jadi kurang rajin membaca sejarah. Saking malas baca sejarah, tapi nanyanya ke sejarawan seperti JJ Rizal,” urai Ahok disambut gelak tawa.

“Terima kasih, Kompasiana”

Mengomentari keberhasilannya meraih penghargaan khusus Nominee Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin ke-41 Tahun 2015 ini, Gapey Sandy kepada penulis menghaturkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, dan juga terima kasih kepada Kompasiana.

Alhamdulillah, rasanya senang sekali bisa menerima anugerah ini. Terima kasih kepada semua rekan-rekan blogger, utamanya para Kompasiner, semoga tetap semangat menulis dan terus berkarya. Menulis sesuai hati nurani dan membawa kebaikan untuk semua. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Kompasiana, terutama yang saya hormati para admin Kompasiana, atas interaksi yang ciamik selama ini,” ujar pria berkacamata yang malam itu mengenakan kemeja batik biru lengan panjang ini.

Tampilan Nominee MH Thamrin Award 2015 untuk Kategori BLOGGER yang diperoleh Gapey Sandy. (Foto: Lisdiana Sari)

Tampilan Nominee MH Thamrin Award 2015 untuk Kategori BLOGGER yang diperoleh Gapey Sandy. (Foto: Lisdiana Sari)

Tiga kategori baru dalam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yaitu kategori Blogger, Olahraga, dan Infotainment. Dian Kelana (paling kiri), Gapey Sandy (nomor dua dari kiri), dan Kamsul Hasan (nomor empat dari kiri). (Foto: beritajakarta.com)

Tiga kategori baru dalam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yaitu kategori Blogger, Olahraga, dan Infotainment. Dian Kelana (paling kiri), Gapey Sandy (nomor dua dari kiri), dan Kamsul Hasan (nomor empat dari kiri). (Foto: beritajakarta.com)

Hal senada disampaikan Dian Kelana. Menurut “Ayah Dian Kelana” (begitu ia akrab disapa), tanpa ada Kompasiana, dirinya tak mungkin dapat memperoleh anugerah jurnalistik bergengsi untuk kategori blogger ini. “Karena, pihak panitia mensyaratkan bahwa kita ini, para blogger, wajib menulis karyanya hanya pada media blog yang berbadan hukum. Pokoknya, saya mengucapkan Alhamdulillah, dan terima kasih tak terhingga untuk Kompasiana,” ujar Dian Kelana, Kompasianer yang juga pernah menerbitkan buku karya fiksi berjudul Seorang Balita Di Tengah Pergolakan PRRI.

Oh iya, untuk Anda yang ingin membaca karya tulisan Dian Kelana yang berhasil meraih penghargaan khusus Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin 2015, silakan klik judul tulisan tersebut: Masalah e-Ticket, TransJakarta Harus Belajar pada Kereta Api Indonesia.

Sedangkan tulisan Gapey Sandy yang juga berhasil meraih penghargaan khusus yang sama dari PWI DKI Jakarta, adalah: Menanti Nyanyi Ceria Pepohonan di Jakarta.

Sekali lagi, selamat untuk Kompasianer Dian Kelana dan Gapey Sandy.

Selamat juga tentunya, untuk Kompasiana.

– ooo O ooo –

Senyum cerah Abang dan None Jakarte menyambut para tamu. (Foto: Lisdiana Sari)

Senyum cerah Abang dan None Jakarte menyambut para tamu. (Foto: Lisdiana Sari)

ooo O ooo

Berikut adalah KARYA-KARYA JURNALISTIK TERBAIK yang meraih Nominee Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin ke-41 Tahun 2015 dari PWI DKI Jakarta:

Kategori KARIKATUR:

* “+Jakarta+Banjir+Macet+” (KOMPAS / Rahardi Handining)

* Sabotase (HARIAN TERBIT / Joko Luwarso)

* Tsunami Transportasi (KOMPAS / Jitet Kustana)

Kategori TAJUK RENCANA:

* Menerawang Jakarta (KOMPAS)

* Titik Nadir Pelayanan TransJakarta (SINAR HARAPAN)

* Mengatasi Kemacetan Ibukota (REPUBLIKA)

Kategori ARTIKEL LAYANAN PUBLIK:

* Angkutan yang tak Aman (REPUBLIKA)

* Wujudkan Transportasi Massal (KOMPAS)

* Ketika Trotoar Makin Tak Aman (KOMPAS)

Kategori ARTIKEL UMUM:

* Rumah Layak Impian Rakyat Kecil Ibukota (KOMPAS)

* Matinya Pabrik Batik Terakhir di Setiabudi (REPUBLIKA)

* Banyak Anggaran Tak Rasional (KORAN SINDO)

Gapey Sandy dan Dian Kelana. (Foto: Lisdiana Sari)

Gapey Sandy dan Dian Kelana. (Foto: Lisdiana Sari)

Kategori ARTIKEL ONLINE

* Jakarta Banjir, Salah Siapa? (ANTARA News)

* Jalan-jalan ke Museum di Kota Tua (viva.co.id)

* Pelayanan Kesehatan, Medley Keluhan Tanpa Akhir (CNN Indonesia)

Kategori FOTO:

* Ciliwung Meluap (Immanuel Antonius / Media Indonesia)

* Playin’ In The Rain (P.J. LEO / The Jakarta Post)

* Tukang Ojek Kuasai Jalan (Fernando Toga Mandalo / Pos Kota)

Kategori RADIO:

* Memandikan Tugu Bersejarah (KBR68H)

* Guru Sejarah Keliling (Smart FM)

* Hilangnya Suara Sepeda Motor (RRI)

Kategori TELEVISI:

* Episode Jakarta (NET. TV)

* Potret Buram Fasilitas Publik Jakarta (TRANS 7)

* Silat Golok Seliweran (TV ONE)

KATEGORI BLOGGER:

* Menanti Nyanyi Ceria Pepohonan di Jakarta (KOMPASIANA / Gapey Sandy)

* Masalah e-Ticket, TransJakarta Harus Belajar Pada Kereta Api Indonesia (KOMPASIANA / Dian Kelana)

Gapey Sandy berpose di lobby luar Balai Agung, Balaikota, DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat usai acara Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yang diselenggarakan PWI DKI Jakarta. (Foto: Lisdiana Sari)

Gapey Sandy berpose di lobby luar Balai Agung, Balaikota, DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat usai acara Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yang diselenggarakan PWI DKI Jakarta. (Foto: Lisdiana Sari)

Kategori OLAHRAGA:

* Gairah Sepakbola dari Srengseng (REPUBLIKA)

* Bertahan Walau Harus Berjuang Sendiri (REPUBLIKA)

* Mereka Sudah Diputus Kontrak (REPUBLIKA)

Kategori INFOTAINMENT:

* Jakarta Kebanjiran, Sejumlah Selebriti Kerepotan (Indigo Production)

* Jaja Miharja dan Budaya Betawi (Shandika Widya Cinema)

– ooo O ooo –

Menjadi HEADLINE di Kompasiana.

Menjadi HEADLINE di Kompasiana.

[ TULISAN Kompasianer LISDIANA SARI yang dipublikasikan dan menjadi HEADLINE di KOMPASIANA, pada Jumat, 28 Agustus 2015 ]

Iklan