Salah satu stand kerajinan tangan yang merupakan produk kreatif di ajang Inacraft dan mendapat dukungan dari BNI. (Foto: inn.co.id)

Salah satu stand kerajinan tangan yang merupakan produk kreatif di ajang Inacraft dan mendapat dukungan dari BNI. (Foto: inn.co.id)

Namanya, Mujiono. Sudah sejak sembilan tahun lalu, ia menjadi pengusaha Batik Lasem. Lewat ketekunannya, pemilik showroom Samudra Art yang berlokasi Desa Karasgede ini kian menapak jalan sukses.

Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Di Kecamatan Lasem—yang biasa dijuluki ‘Tiongkok kecil’, lantaran dahulu menjadi lokasi awal pendaratan masyarakat Tionghoa di Jawa—ini, batik memang jadi salah satu ikon unggulan, selain buah jambu, mangga, garam dan terasi. Meski begitu, Lasem juga kondang sebagai ‘Kota Santri’. Sedangkan kelebihan Batik Lasem, adalah ciri khasnya yang merupakan batik pesisir dengan selalu menampilkan kekayaan warna-warni yang cerah juga berani.

“Saya menjadi pengusaha Batik Lasem, bukan berdasarkan garis keturunan. Kedua orangtua saya tidak berkecimpung dalam pembuatan dan pemasaran batik. Mungkin, hanya Nenek saya saja yang sempat menekuni usaha batik,” ujar Mujiono ketika penulis wawancarai melalui telepon, Selasa, 4 Agustus 2015, kemarin.

Dari sisi produksi, ungkap Mujiono, dalam satu bulan, Samudra Art rata-rata mampu menghasilkan 500 helai kain Batik Lasem. “Sementara ini, pasar kami masih difokuskan untuk memenuhi permintaan domestik,” ujarnya.

Produk kreatif unggulan berupa Batik Tulis Lasem yang semakin naik pamornya setelah BNI membangun Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem di Rembang, Jawa Tengah. (Foto: rembangkab.go.id)

Produk kreatif unggulan berupa Batik Tulis Lasem yang semakin naik pamornya setelah BNI membangun Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem di Rembang, Jawa Tengah. (Foto: rembangkab.go.id)

Dari cerita Mujiono tentang usaha batik yang pernah digeluti sang Nenek, membuktikan bahwa industri rumahan Batik Lasem sejatinya sudah ada sejak lama. Kendalanya, karena para pelaku industri ini cenderung ‘berpencar-pencar’ atau tidak berada dalam ‘satu wadah’. Nah, bersyukur kondisi seperti demikian tidak berlangsung lama. Adalah PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI), yang kemudian mewujudkan kepedulian sejatinya terhadap keberlangsungan usaha dan masa depan para pelaku UKM yang memproduksi batik. Ya, BNI membuktikan sumbangsih nyatanya dengan membangun Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem.

Tak ayal, Kampoeng BNI Batik Lasem menjadi semacam mercusuar bagi produk kain batik khas Lasem, Rembang. Sekaligus, wadah bagi komunitas pengrajin batik yang merupakan para mitra binaan BNI. Memang, BNI mendorong beberapa Kampoeng BNI yang telah dibina untuk berkembang menjadi desa wisata, dengan memberikan capacity building tentang bagaimana konsep desa wisata, pengembangan potensi wisata, pemasaran, dan pengelolaan manajemennya.

Di Kecamatan Lasem, terdapat beberapa lokasi desa wisata batik, misalnya, ada di Karasgede, dan yang baru diresmikan pada 26 Februari 2015 kemarin, yaitu Kampoeng Batik Lasem di Desa Babagan. Sedangkan di Kecamatan Pancur, Kampoeng Batik Lasem ada di Desa Wisata Batik Karaskepoh, Tuyuhan, dan Pancur.

Menurut Mujiono, rintisan Kampoeng Batik Lasem sudah berlangsung sejak lima tahun lalu. Khusus untuk yang berlokasi di Desa Babagan, malah baru diresmikan pada bulan Februari kemarin. “Embrionya ada di Desa Karasgede, Lasem. Seingat saya, Kampoeng BNI Batik Lasem ini rintisannya sudah sejak tahun 2010, lalu peresmiannya untuk yang di Desa Babagan, baru pada tahun ini. Kalau untuk pencairan dana pinjaman yang merupakan realisasi dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dari BNI, mulai dilakukan pada tahun 2012. Pada tahun ini, tahap pertama pengucuran dana pinjaman dari PKBL ini sudah selesai, karena memang berlangsung selama tiga tahun. Nah, belum lama ini, tahap kedua pencairan dana PKBL dari BNI ini mulai dicairkan kembali,” tuturnya.

Ketika peresmian Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem, belum lama ini. (Foto: rembangkab.go.id)

Ketika peresmian Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem, belum lama ini. (Foto: rembangkab.go.id)

Mujiono sendiri termasuk pelaku UKM pengrajin Batik Lasem yang memperoleh dana pinjaman PKBL dari BNI. Pada tahap pertama, tiga tahun lewat, ia menerima Rp 170 juta. Sedangkan untuk tahap kedua, karena penilaian positif atas pembayaran angsuran dana pinjamannya, Mujiono kemudian memperoleh kenaikan dana pinjaman PKBL, menjadi Rp 230 juta. “Bunganya hanya 0,5% per bulan, atau 6% per tahun, selama tiga tahun masa cicilan. Awalnya, sebelum memperoleh dana pinjaman PKBL dari BNI ini, kami terlebih dahulu disarankan untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB),” ujarnya penuh syukur.

Selain memperoleh dana pinjaman lunak berbunga rendah, Mujiono mengaku sempat memperoleh pelatihan manajemen dari BNI. “Pada awal-awal pendirian Kampoeng BNI Batik Lasem, saya pernah memperoleh pelatihan manajemen dan usaha oleh pihak BNI. Selain itu, saya juga diundang untuk ikut aktif dalam ajang Inacraft pada tahun 2011. Inacraft adalah pameran kerajinan terbesar di Indonesia yang dilaksanakan setiap tahun dan biasanya dilaksanakan di Jakarta, pada setiap bulan April,” jelas Mujiono.

Akhirnya, Mujiono menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kiprah dan kepedulian BNI melalui PKBL-nya, sehingga telah berhasil memajukan industri kreatif Batik Lasem, Rembang ini. “Waaah, kalau dibilang bantuan BNI itu sejauhmana membantunya, ya jelas sangat membantu sekali. Jadi, BNI termasuk bisa mengangkat pamor Batik Lasem karena hadirnya Kampoeng BNI Batik Lasem ini,” aku Mujiono seraya berharap ada pengaturan yang baik dalam pengelolaan showroom yang sengaja dibangun BNI di Kampoeng BNI Batik Lasem, juga rutinitas keikutsertaan dalam ajang Inacraft.

Berdasarkan laporan tentang Corporate Sosial Responsibility (CSR) terkait Program Kemitraan, lama bni.co.id menyebutkan, pada tahun 2014 kemarin, jumlah mitra binaan BNI yang tergabung dalam Kampoeng BNI Batik Lasem adalah 101 mitra binaan. Sedangkan Dana Bantuan Kredit yang telah tersalurkan mencapai Rp 2,1 miliar. Adapun Dana Bantuan Sarana Umum yang juga sudah dikucurkan senilai Rp 598 juta.

Keindahan Kain Songket Pandai Sikek di Sumatera Barat, yang sekaligus memiliki potensi ekonomi luar biasa. (Foto: bisnisukm.com)

Keindahan Kain Songket Pandai Sikek di Sumatera Barat, yang sekaligus memiliki potensi ekonomi luar biasa. (Foto: bisnisukm.com)

Kehadiran BNI yang memberikan manfaat bagi pengembangan UKM untuk industri kreatif juga dirasakan oleh Wati. Pemilik Rumah Kerajinan Songket Pandai Sikek yang beralamat di Jalan Baruah Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat ini mengatakan, kehadiran BNI membawa manfaat nyata khususnya bagi kemajuan produk Songket. “Kami ini kakak beradik. Kakak saya pemilik Rumah Songket Pandai Sikek, sedangkan saya memiliki Rumah Kerajinan Songket Pandai Sikek. Sebenarnya, kedua usaha ini sama saja, karena memang sama-sama terkait dengan Kain Songket,” ujarnya ketika diwawancarai penulis melalui telepon.

Menurut Wati, usaha keluarganya yang berbasiskan industri rumahan Kain Songket sangat terbantu dengan pencairan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BNI. “Kami menjadi mitra binaan BNI. Lima tahun lalu, kami memperoleh KUR sebesar Rp 200 juta. Nah, sekarang ini kami sudah memperoleh lagi untuk tahap kedua, dengan nilai yang sama. KUR ini fasilitas kredit sampai dengan Rp 500 juta yang diberikan untuk usaha produktif dalam bentuk kredit modal kerja dan kredit investasi dengan jangka waktu kredit maksimal sampai dengan 5 tahun,” ujar Wati dengan logat Sumatera Barat yang kental.

Wati mengungkapkan, sebagai mitra binaan BNI dirinya tergabung dalam Kampoeng BNI Tenun Pandai Sikek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. “Showroom yang saya miliki, selain ada di Pandai Sikek, juga satu lagi ada di arah Bukittinggi. Pokoknya, banyak manfaat positif yang saya dan kakak saya rasakan dengan menjadi mitra binaan BNI. Selain memperoleh dana pinjaman lunak, ada juga pelatihan manajemen, dan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan atau disponsori oleh BNI. Tambah lagi, apabila ada acara-acara tertentu, manajemen BNI selalu membawa tamu-tamunya berkunjung ke showroom Kain Songket milik kita,” jelasnya seraya bersyukur.

Wati menambahkan, dalam satu bulan, usaha rumahannya mampu memproduksi puluhan setel Kain Songket, yang biasanya selalu didominasi dengan warna keemasan atau gold. “Dalam satu bulan, kami mampu memproduksi 35 helai Kain Songket. Kami belum menggarap pasar ekspor, karena Kain Songket ini kan tradisional sekali. Meskipun ada juga sih pesanan dari sejumlah pembeli di Malaysia,” ujar Wati.

Salah seorang pengrajin pembuat Kain Songket di Desa Pandai Sikek, Sumatera Barat. (Foto: pesona.co.id)

Salah seorang pengrajin pembuat Kain Songket di Desa Pandai Sikek, Sumatera Barat. (Foto: pesona.co.id)

Kiprah Nyata BNI Berbagi

Dari cuplikan wawancara penulis di atas, nyata sekali betapa kehadiran BNI benar-benar memberi arti bagi kemajuan pelaku Usaha Kecil Menengah. Apalagi, sebagai institusi perbankan nasional, BNI memang fokus terhadap kesejahteraan masyarakat dengan semangat mengabdi pada tujuan utama BNI yakni berkarya.

Bertitik-tolak pada Peraturan Menteri BUMN No. 05/MB/2007 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), BNI telah melaksanakan banyak sekali program PKBL yang mengedepankan tema ‘Bersama Membangun Negeri’ atau BNI ‘Berbagi’ di seluruh Indonesia. Tentunya dengan melibatkan dan bergandengan tangan dengan berbagai pihak eksternal, pegawai BNI dan institusi terkait. Melalui program-program tersebut, BNI berusaha untuk meningkatkan dampak positif dan manfaat keberadaan BNI di tengah masyarakat demi memacu pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan lingkungan yang menuju masa depan lebih baik.

Khusus mengenai Program Kemitraan, sejauh ini memang difokuskan pada bidang industri kerajinan kreatif dan pangan, melalui program Kampoeng BNI di seluruh pelosok Indonesia. Besar harapan BNI, bahwa program-program tersebut dapat mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di suatu kawasan pedesaan, melalui pinjaman lunak program kemitraan, maupun bantuan dalam rangka penguatan kapasitas, bagi seluruh masyarakat di daerah yang bersangkutan.

Motivasi tersebut diwujudkan salah satunya melalui pembangunan Kampoeng BNI. Inilah konsep yang bertujuan menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial, terutama pada usaha mikro, kecil dan koperasi, dengan harapan kelompok usaha ini mampu berperan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih mumpuni. Peran strategi ini dilaksanakan melalui berbagai program Corporate Community Responsibility (CCR) yang salah satunya melanjutkan PKBL.

Kampoeng BNI tahun 2014 dalam angka. (Sumber: bni.co.id)

Kampoeng BNI tahun 2014 dalam angka. (Sumber: bni.co.id)

Dengan Kampoeng BNI, BNI—yang pada 5 Juli 2015 kemarin berusia 69 tahun—terus menajamkan fokus pada pengembangan industri kreatif, dengan pola pemberdayaan ekonomi masyarakat kawasan pedesaan melalui penyaluran kredit Program Kemitraan, yang mengelola potensi sumber daya maupun kearifan lokal sekaligus melakukan pembinaan yang berkelanjutan.

Mengapa demikian? Karena, program Kampoeng BNI ini tak sekadar menyalurkan pembiayaan usaha belaka, tapi juga memberikan pelatihan peningkatan kapasitas, seperti pelatihan menenun sesuai dengan harapan pasar global, pelatihan pembukuan sederhana, pelatihan pemasaran efektif dan pelatihan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra binaan.

Sejak tahun 2007, BNI sudah mengembangkan 28 Kampoeng BNI di Indonesia. Dimana tiap Kampoeng senantiasa memaksimalkan penonjolan ciri khas masing-masing. Pada tahun 2014, BNI menambah empat lagi, yakni Kampoeng BNI Batik Tulis Wiradesa (Pekalongan), Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem (Rembang), Kampoeng BNI Imogiri (Bantul), dan Kampoeng BNI Kain Sasirangan (Banjarmasin). Adapun total dana yang telah tersalurkan tercatat sebesar Rp 18,28 miliar.

Daftar sejumlah Kampoeng BNI. (Sumber: bni.co.id)

Daftar sejumlah Kampoeng BNI. (Sumber: bni.co.id)

Bagaimana program Kampoeng BNI pada tahun 2015 ini? Sudah menjadi agenda rutin, pada April kemarin, para mitra binaan BNI diundang untuk turut serta pada ajang Inacraft atau Jakarta International Handicrfat Trade Fair yang dilaksanakan 8 – 12 April 2015. Mereka yang berkesempatan hadir dan unjuk kemampuan, antara lain mitra binaan dari Kampoeng BNI Wiradesa (Pekalongan), Kampoeng BNI Tapis (Lampung), Kampoeng BNI Songket (Palembang), Kampoeng BNI Tenun (Sumba), Kampoeng BNI Desa Wisata (Borobudur), Kampoeng BNI Imogiri (Bantul), Kampoeng BNI Kain Sasirangan (Banjarmasin), dan Kampoeng BNI Seni Lukis Kamasan (Bali).

Usai mengikuti pergelaran Inacraft, BNI kemudian mengundang sepuluh Kampoeng BNI, untuk memperoleh motivasi dan mengikuti pelatihan tentang manajemen Desa Wisata melalui capacity building dan benchmarking. Lokasinya, bertempat di Kampoeng BNI Wisata Borobudur di Desa Wanurejo, Magelang, pada 24 – 27 Mei 2015.

Kesepuluh Kampoeng BNI yang mengikuti pelatihan tersebut yaitu, Kampoeng BNI Tenun Pandai Sikek (Sumatera Barat), Kampoeng BNI Songket Palembang (Sumatera Selatan), Kampoeng BNI Batik Wiradesa Pekalongan (JawaTengah), Kampoeng BNI Mete Imogiri Bantul (Yogyakarta), Kampoeng BNI Batik Lasem (Jawa Tengah), Kampoeng BNI Sasirangan Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Kampoeng BNI Kamasan (Bali), Kampoeng BNI Inggris Pare Kediri (Jawa Timur), Kampoeng BNI Toraja (Sulawesi Selatan), dan Kampoeng BNI Tapis (Lampung).

Daftar sejumlah Kampoeng BNI. (Sumber: bni.co.id)

Daftar sejumlah Kampoeng BNI. (Sumber: bni.co.id)

Menurut Corporate Secretary BNI, Tribuana Tunggadewi, untuk memaksimalkan workshop tersebut, setiap Kampoeng BNI tidak hanya diwakili oleh pimpinan Sentra Kredit Kecil BNI yang menanganinya, melainkan juga mengundang mitra binaan Kampoeng BNI tersebut.

“Dipilihnya Kampoeng BNI Wisata Borobudur sebagai lokasi pembentukan capacity building dan benchmarking ini dimaksudkan untuk belajar langsung, mengenai pengelolaan daerah wisata dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki,” ujarTribuana seraya menegaskan kembali, bahwa konsep Kampoeng BNI dibangun atas prinsip Community Development, dimana satu cluster mengangkat produk potensial berdasarkan kearifan lokal setempat.

Ya, di usianya yang sudah 69 tahun, BNI semakin menampilkan prestasi dan semangat berbagi. Hal ini sejalan dengan motto peringatan hari jadi BNI, yang untuk tahun ini memilih tema ’69 Tahun BNI : Berprestasi dan Berbagi Untuk Negeri’.

Wujud kepedulian BNI dalam Bersama Membangun Negeri selalu hadir secara nyata, seperti contoh dalam setiap pengembangan produk kreatif di Festival Kamasan, Bali. (Foto: klungkungkab.desa.id)

Wujud kepedulian BNI dalam Bersama Membangun Negeri selalu hadir secara nyata, seperti contoh dalam setiap pengembangan produk kreatif di Festival Kamasan, Bali. (Foto: klungkungkab.desa.id)

Selamat dan Sukses. Dirgahayu BNI ke-69 Tahun!

Iklan