Archives for the month of: Agustus, 2015
DUA KOMPSIANER. Dian Kelana (kiri) dan Gapey Sandy (kanan) ketika menerima penghargaan khusus Nominee MH Thamrin Award 2015 dari PWI DKI Jakarta di Balai Agung, Balaikota, Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2015. (Foto: Lisdiana Sari)

DUA KOMPASIANER. Dian Kelana (kiri) dan Gapey Sandy (kanan) ketika menerima penghargaan khusus Nominee MH Thamrin Award 2015 dari PWI DKI Jakarta di Balai Agung, Balaikota, Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2015. (Foto: Lisdiana Sari)

Kompasiana boleh berbangga, dua Kompasianer-nya yaitu Dian Kelana dan Gapey Sandy berhasil meraih penghargaan khusus Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin 2015 untuk kategori Blogger dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi DKI Jakarta. Penyerahan penghargaan khusus Nominee MH. Thamrin Award ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI DKI Jakarta, Kamsul Hasan, pada Kamis 27 Agustus 2015 di Balai Agung, BalaiKota, Jalan Medan Merdeka Selatan No.8-9 Jakarta Pusat.

Hingga tahun ini, PWI Jaya sudah 41 kali menyelenggarakan acara Anugerah Jurnalistik Mohammah Hoesni Thamrin sebagai wujud penghargaan bergengsi wartawan DKI Jakarta. Turut hadir di acara ini, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama beserta jajarannya, mantan Ketua Dewan Kehormatan PWI periode 2008-2013 Tarman Azzam, Kepala Stasiun LPP RRI Jakarta Herman Zuhdi, Ketua PWI Jaya Endang Werdiningsih, dan undangan lainnya.

Ketua Panitia Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin ke-41 Tahun 2015, Kesit B Handoyo dalam laporannya menyatakan, bila pada tahun-tahun sebelumnya terdapat delapan kategori karya jurnalistik terbaik yakni Karikatur, Tajuk Rencana, Artikel Layanan Publik, Artikel Umum, Artikel Online, Foto, Radio, dan Televisi, maka pada tahun ini panitia sepakat menambah tiga kategori baru (Olahraga, Infotainment, dan Blogger). Karya-karya jurnalistik terbaik ini dikumpulkan oleh para peserta sejak periode 1 Juni 2014 hingga 31 Mei 2015. Khusus untuk kategori blogger, deadline pengumpulan naskah jatuh pada 31 Juni 2015.

Sebelum acara dimulai, berpose dengan latarbelakang backdrop panggung. (Foto: Lisdiana Sari)

Sebelum acara dimulai, berpose dengan latarbelakang backdrop panggung. (Foto: Lisdiana Sari)

Suguhan Tari Topeng khas Betawi membuka acara sekaligus memberi simbol sambutan yang ramah kepada para tamu undangan. (Foto: Lisdiana Sari)

Suguhan Tari Topeng khas Betawi membuka acara sekaligus memberi simbol sambutan yang ramah kepada para tamu undangan. (Foto: Lisdiana Sari)

“Jadi untuk tahun ini, ada 11 kategori karya-karya jurnalistik terbaik. Tapi, untuk tiga kategori baru yakni Olahraga, Infotainment dan Blogger, kami masih memberikan apresiasi dalam bentuk penghargaan khusus. Alasannya, walaupun cukup banyak peserta yang mengirim karyanya, tapi dewan juri menilai ada beberapa kriteria yang belum memenuhi syarat,” ujar mantan jurnalis Mingguan Tribun Olahraga, Harian Terbit, Sinar Harapan yang kini menjabat Pemimpin Redaksi portal berita televisi internet, wartatv.com.

Sementara itu, Ketua PWI DKI Jakarta, Endang Werdiningsih dalam sambutannya menuturkan, patut diketahui bersama bahwa didalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat sesuai hati nurani, serta hak memperoleh informasi merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang hakiki.

“Hal ini diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, memajukan kesejahteraan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pers Nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya, berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional. Sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari mana pun,” urai jurnalis yang bergabung dengan Majalah Kartini selama 20 tahun ini.

Ketua Panitia Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 Kesit B Handoyo. (Foto: beritajakarta.com)

Ketua Panitia Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 Kesit B Handoyo. (Foto: beritajakarta.com)

Ketua PWI DKI Jakarta, Endang Werdiningsih tengah memberi sambutan. (Foto: Lisdiana Sari)

Ketua PWI DKI Jakarta, Endang Werdiningsih tengah memberi sambutan. (Foto: Lisdiana Sari)

Endang juga mengatakan, patut disadari bahwa kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum. Meski demikian, pers sebagai mitra sejajar dengan masyarakat dan Pemerintah termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam menjalankan tugas dan fungsinya melakukan kontrol sosial tetap berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan UU Pers No.40/1999.

“Pemberian penghargaan atas karya jurnalistik MH. Thamrin ini, sekaligus untuk membuktikan hasil kerja para wartawan telah memenuhi ketentuan normatif tersebut. Sehingga wartawan dalam melaksanakan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selalu berlandaskan kepentingan umum, bukan atas dasar kepentingan pribadi,” jelas Endang yang kini mengelola majalah wanita Puan Pertiwi.

—– Link Video-nya —–

TONTON Video Malam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yang diselenggarakan PWI DKI Jakarta di youtube ini.

——————————-

Ahok Akan Terus Lawan Wartawan Rasis

Sementara itu, dalam sambutannya, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengungkapkan perilaku wartawan yang seringkali hanya mencari-cari kesalahan instansi dan pejabat dinas yang berada dalam naungannya. “Wartawan itu ada yang cenderung mencari kelemahan, kesalahan dari SKPD yang ada di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Makanya saya dari dulu, sejak jadi Bupati, saya sering diliput oleh wartawan tanpa surat kabar atau “WTS”, entah seminggu sekali, atau sebulan sekali, saya paling demen (senang – red) diliput oleh mereka. Karena, mereka ini seringkali justru mencari-cari kesalahan seluruh dinas dan pejabat yang ada dibawah naungan saya. Jadi saya mendapatkan auditor gratis. Saya mendapat pengawas gratis,” tutur gubernur yang akrab disapa Ahok ini seraya disambut gelak tawa hadirin.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama hadir pada Malam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 di Balai Agung, Balaikota, DKI Jakarta. (Foto: beritajakarta.com)

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama hadir pada Malam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 di Balai Agung, Balaikota, DKI Jakarta. (Foto: beritajakarta.com)

Dalam sambutannya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menyentil insan pers yang dinilai kurang rajin membaca sejarah tentang Kota Jakarta. (Foto: Lisdiana Sari)

Dalam sambutannya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menyentil insan pers yang dinilai kurang rajin membaca sejarah tentang Kota Jakarta. (Foto: Lisdiana Sari)

Selain itu, Ahok juga menyampaikan rasa terima kasih kepada insan pers yang telah banyak memberitakan berbagai aktivitas dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Baik yang pemberitaannya tendensius, maupun yang dilatarbelakangi oleh “pesanan” dari “belakang” atau dari politisi. Saya bisa baca, yang mana berita yang bermuatan “pesanan” maupun yang memancing saya marah untuk supaya dapat angle penulisan berita. Saya sengaja saja, saya suka. Kenapa? Bagi saya, black campaign itu pada dasarnya adalah campaign juga. Dari dulu, saya enggak pernah takut dengan media, karena saya selalu percaya bahwa yang namanya emas, sekalipun dibakar akan tetap menjadi emas. Tapi, kalau yang namanya bangkai, biar disembunyikan akan tetap tercium baunya. Kita tidak bisa melakukan pencitraan terus-menerus. Kalau kita melakukan pencitraan yang tidak berasal dari hati nurani, hasrat dan pikiran kita, maka pasti akan selalu ada masalah. Makanya, kami sangat beruntung dapat hidup di era pers yang merdeka,” tutur Ahok disambut tepuk tangan gemuruh tamu undangan.

Tapi, Ahok memperingatkan, apabila ada pers yang rasis, maka tidak pantas disebut sebagai pers Indonesia. “Ini harus sangat jelas. Kalau Anda para jurnalis ini berlaku primordialisme, maka Anda tidak pantas disebut sebagai pers Indonesia. Karena seluruh organisasi di negara ini pada dasarnya Pancasila dan UUD ’45. Ini yang membuat saya selalu melakukan perlawanan, apabila para insan pers menulis beritanya secara rasis, maka saya akan terus melawannya sampai mati. Sangat tegas, karena negara ini didirikan dengan darah dan nyawa para pejuang. Pancasila disusun, dipertahankan, dan pada setiap 1 Oktober kita peringati bersama sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ini bukan sebuah hal yang murah,” urai gubernur kelahiran Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966 ini.

Untuk itu, Ahok menghimbau kepada pers untuk menulis pemberitaan yang berimbang. “Jangan tendensius, atau hanya sekadar “dibeli” oleh oknum partai demi mencari kekayaan. Saya kira, pers pasti memiliki idealisme, bukan untuk mencari uang. Kalau politisi masuk ke politik hanya mencari uang, PNS masuk juga hanya uang mencari uang, lalu pers juga bekerja untuk mencari uang, maka negara ini akan hancur,” kata suami dari Veronica ini.

Ketika pengumuman penghargaan khusus kategori BLOGGER. (Foto: Lisdiana Sari)

Ketika pengumuman penghargaan khusus kategori BLOGGER. (Foto: Lisdiana Sari)

Karya tulisan Gapey Sandy pada blog KOMPASIANA ketika diumumkan meraih Nominee. (Foto: Lisdiana Sari)

Karya tulisan Gapey Sandy pada blog KOMPASIANA ketika diumumkan meraih Nominee. (Foto: Lisdiana Sari)

Karya tulisan Dian Kelana pada blog KOMPASIANA ketika diumumkan meraih Nominee. (Foto: Lisdiana Sari)

Karya tulisan Dian Kelana pada blog KOMPASIANA ketika diumumkan meraih Nominee. (Foto: Lisdiana Sari)

Pada kesempatan ini Ahok juga menyinggung tentang kasus Kampung Pulo. “Media massa suka salah juga, dengan menyebut bahwa saya membongkar rumah-rumah di Kampung Pulo. Padahal, saya tidak pernah membongkar rumah-rumah di Kampung Pulo. Jangan salah. Karena, yang saya bongkar adalah rumah liar di bantaran Kali Ciliwung, yang lokasinya ada di sebelah Kampung Pulo. Sekali lagi, yang saya bongkar adalah rumah yang dibangun di atas bantaran Kali Ciliwung, hasil pengurukan sampah. Akibatnya, lebar Kali Ciliwung yang dulungan 20 meter, kini tinggal menjadi 5 meter saja. Kata siapa harusnya 20 meter? Itu kata Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Pusat, dan mendasarkan pada kajian Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu. Tapi pemberitaan di media massa justru saya diberitakan membongkar dan menggusur Kampung Pulo, lha ini dari mana sumbernya? Jadi mohon maaf nih, kadang-kadang saya menilai insan pers sekarang jadi kurang rajin membaca sejarah. Saking malas baca sejarah, tapi nanyanya ke sejarawan seperti JJ Rizal,” urai Ahok disambut gelak tawa.

“Terima kasih, Kompasiana”

Mengomentari keberhasilannya meraih penghargaan khusus Nominee Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin ke-41 Tahun 2015 ini, Gapey Sandy kepada penulis menghaturkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, dan juga terima kasih kepada Kompasiana.

Alhamdulillah, rasanya senang sekali bisa menerima anugerah ini. Terima kasih kepada semua rekan-rekan blogger, utamanya para Kompasiner, semoga tetap semangat menulis dan terus berkarya. Menulis sesuai hati nurani dan membawa kebaikan untuk semua. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Kompasiana, terutama yang saya hormati para admin Kompasiana, atas interaksi yang ciamik selama ini,” ujar pria berkacamata yang malam itu mengenakan kemeja batik biru lengan panjang ini.

Tampilan Nominee MH Thamrin Award 2015 untuk Kategori BLOGGER yang diperoleh Gapey Sandy. (Foto: Lisdiana Sari)

Tampilan Nominee MH Thamrin Award 2015 untuk Kategori BLOGGER yang diperoleh Gapey Sandy. (Foto: Lisdiana Sari)

Tiga kategori baru dalam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yaitu kategori Blogger, Olahraga, dan Infotainment. Dian Kelana (paling kiri), Gapey Sandy (nomor dua dari kiri), dan Kamsul Hasan (nomor empat dari kiri). (Foto: beritajakarta.com)

Tiga kategori baru dalam Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yaitu kategori Blogger, Olahraga, dan Infotainment. Dian Kelana (paling kiri), Gapey Sandy (nomor dua dari kiri), dan Kamsul Hasan (nomor empat dari kiri). (Foto: beritajakarta.com)

Hal senada disampaikan Dian Kelana. Menurut “Ayah Dian Kelana” (begitu ia akrab disapa), tanpa ada Kompasiana, dirinya tak mungkin dapat memperoleh anugerah jurnalistik bergengsi untuk kategori blogger ini. “Karena, pihak panitia mensyaratkan bahwa kita ini, para blogger, wajib menulis karyanya hanya pada media blog yang berbadan hukum. Pokoknya, saya mengucapkan Alhamdulillah, dan terima kasih tak terhingga untuk Kompasiana,” ujar Dian Kelana, Kompasianer yang juga pernah menerbitkan buku karya fiksi berjudul Seorang Balita Di Tengah Pergolakan PRRI.

Oh iya, untuk Anda yang ingin membaca karya tulisan Dian Kelana yang berhasil meraih penghargaan khusus Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin 2015, silakan klik judul tulisan tersebut: Masalah e-Ticket, TransJakarta Harus Belajar pada Kereta Api Indonesia.

Sedangkan tulisan Gapey Sandy yang juga berhasil meraih penghargaan khusus yang sama dari PWI DKI Jakarta, adalah: Menanti Nyanyi Ceria Pepohonan di Jakarta.

Sekali lagi, selamat untuk Kompasianer Dian Kelana dan Gapey Sandy.

Selamat juga tentunya, untuk Kompasiana.

– ooo O ooo –

Senyum cerah Abang dan None Jakarte menyambut para tamu. (Foto: Lisdiana Sari)

Senyum cerah Abang dan None Jakarte menyambut para tamu. (Foto: Lisdiana Sari)

ooo O ooo

Berikut adalah KARYA-KARYA JURNALISTIK TERBAIK yang meraih Nominee Anugerah Jurnalistik MH. Thamrin ke-41 Tahun 2015 dari PWI DKI Jakarta:

Kategori KARIKATUR:

* “+Jakarta+Banjir+Macet+” (KOMPAS / Rahardi Handining)

* Sabotase (HARIAN TERBIT / Joko Luwarso)

* Tsunami Transportasi (KOMPAS / Jitet Kustana)

Kategori TAJUK RENCANA:

* Menerawang Jakarta (KOMPAS)

* Titik Nadir Pelayanan TransJakarta (SINAR HARAPAN)

* Mengatasi Kemacetan Ibukota (REPUBLIKA)

Kategori ARTIKEL LAYANAN PUBLIK:

* Angkutan yang tak Aman (REPUBLIKA)

* Wujudkan Transportasi Massal (KOMPAS)

* Ketika Trotoar Makin Tak Aman (KOMPAS)

Kategori ARTIKEL UMUM:

* Rumah Layak Impian Rakyat Kecil Ibukota (KOMPAS)

* Matinya Pabrik Batik Terakhir di Setiabudi (REPUBLIKA)

* Banyak Anggaran Tak Rasional (KORAN SINDO)

Gapey Sandy dan Dian Kelana. (Foto: Lisdiana Sari)

Gapey Sandy dan Dian Kelana. (Foto: Lisdiana Sari)

Kategori ARTIKEL ONLINE

* Jakarta Banjir, Salah Siapa? (ANTARA News)

* Jalan-jalan ke Museum di Kota Tua (viva.co.id)

* Pelayanan Kesehatan, Medley Keluhan Tanpa Akhir (CNN Indonesia)

Kategori FOTO:

* Ciliwung Meluap (Immanuel Antonius / Media Indonesia)

* Playin’ In The Rain (P.J. LEO / The Jakarta Post)

* Tukang Ojek Kuasai Jalan (Fernando Toga Mandalo / Pos Kota)

Kategori RADIO:

* Memandikan Tugu Bersejarah (KBR68H)

* Guru Sejarah Keliling (Smart FM)

* Hilangnya Suara Sepeda Motor (RRI)

Kategori TELEVISI:

* Episode Jakarta (NET. TV)

* Potret Buram Fasilitas Publik Jakarta (TRANS 7)

* Silat Golok Seliweran (TV ONE)

KATEGORI BLOGGER:

* Menanti Nyanyi Ceria Pepohonan di Jakarta (KOMPASIANA / Gapey Sandy)

* Masalah e-Ticket, TransJakarta Harus Belajar Pada Kereta Api Indonesia (KOMPASIANA / Dian Kelana)

Gapey Sandy berpose di lobby luar Balai Agung, Balaikota, DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat usai acara Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yang diselenggarakan PWI DKI Jakarta. (Foto: Lisdiana Sari)

Gapey Sandy berpose di lobby luar Balai Agung, Balaikota, DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat usai acara Anugerah Jurnalistik MH Thamrin ke-41 Tahun 2015 yang diselenggarakan PWI DKI Jakarta. (Foto: Lisdiana Sari)

Kategori OLAHRAGA:

* Gairah Sepakbola dari Srengseng (REPUBLIKA)

* Bertahan Walau Harus Berjuang Sendiri (REPUBLIKA)

* Mereka Sudah Diputus Kontrak (REPUBLIKA)

Kategori INFOTAINMENT:

* Jakarta Kebanjiran, Sejumlah Selebriti Kerepotan (Indigo Production)

* Jaja Miharja dan Budaya Betawi (Shandika Widya Cinema)

– ooo O ooo –

Menjadi HEADLINE di Kompasiana.

Menjadi HEADLINE di Kompasiana.

[ TULISAN Kompasianer LISDIANA SARI yang dipublikasikan dan menjadi HEADLINE di KOMPASIANA, pada Jumat, 28 Agustus 2015 ]

Iklan
Salah satu stand kerajinan tangan yang merupakan produk kreatif di ajang Inacraft dan mendapat dukungan dari BNI. (Foto: inn.co.id)

Salah satu stand kerajinan tangan yang merupakan produk kreatif di ajang Inacraft dan mendapat dukungan dari BNI. (Foto: inn.co.id)

Namanya, Mujiono. Sudah sejak sembilan tahun lalu, ia menjadi pengusaha Batik Lasem. Lewat ketekunannya, pemilik showroom Samudra Art yang berlokasi Desa Karasgede ini kian menapak jalan sukses.

Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Di Kecamatan Lasem—yang biasa dijuluki ‘Tiongkok kecil’, lantaran dahulu menjadi lokasi awal pendaratan masyarakat Tionghoa di Jawa—ini, batik memang jadi salah satu ikon unggulan, selain buah jambu, mangga, garam dan terasi. Meski begitu, Lasem juga kondang sebagai ‘Kota Santri’. Sedangkan kelebihan Batik Lasem, adalah ciri khasnya yang merupakan batik pesisir dengan selalu menampilkan kekayaan warna-warni yang cerah juga berani.

“Saya menjadi pengusaha Batik Lasem, bukan berdasarkan garis keturunan. Kedua orangtua saya tidak berkecimpung dalam pembuatan dan pemasaran batik. Mungkin, hanya Nenek saya saja yang sempat menekuni usaha batik,” ujar Mujiono ketika penulis wawancarai melalui telepon, Selasa, 4 Agustus 2015, kemarin.

Dari sisi produksi, ungkap Mujiono, dalam satu bulan, Samudra Art rata-rata mampu menghasilkan 500 helai kain Batik Lasem. “Sementara ini, pasar kami masih difokuskan untuk memenuhi permintaan domestik,” ujarnya.

Produk kreatif unggulan berupa Batik Tulis Lasem yang semakin naik pamornya setelah BNI membangun Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem di Rembang, Jawa Tengah. (Foto: rembangkab.go.id)

Produk kreatif unggulan berupa Batik Tulis Lasem yang semakin naik pamornya setelah BNI membangun Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem di Rembang, Jawa Tengah. (Foto: rembangkab.go.id)

Dari cerita Mujiono tentang usaha batik yang pernah digeluti sang Nenek, membuktikan bahwa industri rumahan Batik Lasem sejatinya sudah ada sejak lama. Kendalanya, karena para pelaku industri ini cenderung ‘berpencar-pencar’ atau tidak berada dalam ‘satu wadah’. Nah, bersyukur kondisi seperti demikian tidak berlangsung lama. Adalah PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI), yang kemudian mewujudkan kepedulian sejatinya terhadap keberlangsungan usaha dan masa depan para pelaku UKM yang memproduksi batik. Ya, BNI membuktikan sumbangsih nyatanya dengan membangun Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem.

Tak ayal, Kampoeng BNI Batik Lasem menjadi semacam mercusuar bagi produk kain batik khas Lasem, Rembang. Sekaligus, wadah bagi komunitas pengrajin batik yang merupakan para mitra binaan BNI. Memang, BNI mendorong beberapa Kampoeng BNI yang telah dibina untuk berkembang menjadi desa wisata, dengan memberikan capacity building tentang bagaimana konsep desa wisata, pengembangan potensi wisata, pemasaran, dan pengelolaan manajemennya.

Di Kecamatan Lasem, terdapat beberapa lokasi desa wisata batik, misalnya, ada di Karasgede, dan yang baru diresmikan pada 26 Februari 2015 kemarin, yaitu Kampoeng Batik Lasem di Desa Babagan. Sedangkan di Kecamatan Pancur, Kampoeng Batik Lasem ada di Desa Wisata Batik Karaskepoh, Tuyuhan, dan Pancur.

Menurut Mujiono, rintisan Kampoeng Batik Lasem sudah berlangsung sejak lima tahun lalu. Khusus untuk yang berlokasi di Desa Babagan, malah baru diresmikan pada bulan Februari kemarin. “Embrionya ada di Desa Karasgede, Lasem. Seingat saya, Kampoeng BNI Batik Lasem ini rintisannya sudah sejak tahun 2010, lalu peresmiannya untuk yang di Desa Babagan, baru pada tahun ini. Kalau untuk pencairan dana pinjaman yang merupakan realisasi dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dari BNI, mulai dilakukan pada tahun 2012. Pada tahun ini, tahap pertama pengucuran dana pinjaman dari PKBL ini sudah selesai, karena memang berlangsung selama tiga tahun. Nah, belum lama ini, tahap kedua pencairan dana PKBL dari BNI ini mulai dicairkan kembali,” tuturnya.

Ketika peresmian Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem, belum lama ini. (Foto: rembangkab.go.id)

Ketika peresmian Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem, belum lama ini. (Foto: rembangkab.go.id)

Mujiono sendiri termasuk pelaku UKM pengrajin Batik Lasem yang memperoleh dana pinjaman PKBL dari BNI. Pada tahap pertama, tiga tahun lewat, ia menerima Rp 170 juta. Sedangkan untuk tahap kedua, karena penilaian positif atas pembayaran angsuran dana pinjamannya, Mujiono kemudian memperoleh kenaikan dana pinjaman PKBL, menjadi Rp 230 juta. “Bunganya hanya 0,5% per bulan, atau 6% per tahun, selama tiga tahun masa cicilan. Awalnya, sebelum memperoleh dana pinjaman PKBL dari BNI ini, kami terlebih dahulu disarankan untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB),” ujarnya penuh syukur.

Selain memperoleh dana pinjaman lunak berbunga rendah, Mujiono mengaku sempat memperoleh pelatihan manajemen dari BNI. “Pada awal-awal pendirian Kampoeng BNI Batik Lasem, saya pernah memperoleh pelatihan manajemen dan usaha oleh pihak BNI. Selain itu, saya juga diundang untuk ikut aktif dalam ajang Inacraft pada tahun 2011. Inacraft adalah pameran kerajinan terbesar di Indonesia yang dilaksanakan setiap tahun dan biasanya dilaksanakan di Jakarta, pada setiap bulan April,” jelas Mujiono.

Akhirnya, Mujiono menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kiprah dan kepedulian BNI melalui PKBL-nya, sehingga telah berhasil memajukan industri kreatif Batik Lasem, Rembang ini. “Waaah, kalau dibilang bantuan BNI itu sejauhmana membantunya, ya jelas sangat membantu sekali. Jadi, BNI termasuk bisa mengangkat pamor Batik Lasem karena hadirnya Kampoeng BNI Batik Lasem ini,” aku Mujiono seraya berharap ada pengaturan yang baik dalam pengelolaan showroom yang sengaja dibangun BNI di Kampoeng BNI Batik Lasem, juga rutinitas keikutsertaan dalam ajang Inacraft.

Berdasarkan laporan tentang Corporate Sosial Responsibility (CSR) terkait Program Kemitraan, lama bni.co.id menyebutkan, pada tahun 2014 kemarin, jumlah mitra binaan BNI yang tergabung dalam Kampoeng BNI Batik Lasem adalah 101 mitra binaan. Sedangkan Dana Bantuan Kredit yang telah tersalurkan mencapai Rp 2,1 miliar. Adapun Dana Bantuan Sarana Umum yang juga sudah dikucurkan senilai Rp 598 juta.

Keindahan Kain Songket Pandai Sikek di Sumatera Barat, yang sekaligus memiliki potensi ekonomi luar biasa. (Foto: bisnisukm.com)

Keindahan Kain Songket Pandai Sikek di Sumatera Barat, yang sekaligus memiliki potensi ekonomi luar biasa. (Foto: bisnisukm.com)

Kehadiran BNI yang memberikan manfaat bagi pengembangan UKM untuk industri kreatif juga dirasakan oleh Wati. Pemilik Rumah Kerajinan Songket Pandai Sikek yang beralamat di Jalan Baruah Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat ini mengatakan, kehadiran BNI membawa manfaat nyata khususnya bagi kemajuan produk Songket. “Kami ini kakak beradik. Kakak saya pemilik Rumah Songket Pandai Sikek, sedangkan saya memiliki Rumah Kerajinan Songket Pandai Sikek. Sebenarnya, kedua usaha ini sama saja, karena memang sama-sama terkait dengan Kain Songket,” ujarnya ketika diwawancarai penulis melalui telepon.

Menurut Wati, usaha keluarganya yang berbasiskan industri rumahan Kain Songket sangat terbantu dengan pencairan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BNI. “Kami menjadi mitra binaan BNI. Lima tahun lalu, kami memperoleh KUR sebesar Rp 200 juta. Nah, sekarang ini kami sudah memperoleh lagi untuk tahap kedua, dengan nilai yang sama. KUR ini fasilitas kredit sampai dengan Rp 500 juta yang diberikan untuk usaha produktif dalam bentuk kredit modal kerja dan kredit investasi dengan jangka waktu kredit maksimal sampai dengan 5 tahun,” ujar Wati dengan logat Sumatera Barat yang kental.

Wati mengungkapkan, sebagai mitra binaan BNI dirinya tergabung dalam Kampoeng BNI Tenun Pandai Sikek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. “Showroom yang saya miliki, selain ada di Pandai Sikek, juga satu lagi ada di arah Bukittinggi. Pokoknya, banyak manfaat positif yang saya dan kakak saya rasakan dengan menjadi mitra binaan BNI. Selain memperoleh dana pinjaman lunak, ada juga pelatihan manajemen, dan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan atau disponsori oleh BNI. Tambah lagi, apabila ada acara-acara tertentu, manajemen BNI selalu membawa tamu-tamunya berkunjung ke showroom Kain Songket milik kita,” jelasnya seraya bersyukur.

Wati menambahkan, dalam satu bulan, usaha rumahannya mampu memproduksi puluhan setel Kain Songket, yang biasanya selalu didominasi dengan warna keemasan atau gold. “Dalam satu bulan, kami mampu memproduksi 35 helai Kain Songket. Kami belum menggarap pasar ekspor, karena Kain Songket ini kan tradisional sekali. Meskipun ada juga sih pesanan dari sejumlah pembeli di Malaysia,” ujar Wati.

Salah seorang pengrajin pembuat Kain Songket di Desa Pandai Sikek, Sumatera Barat. (Foto: pesona.co.id)

Salah seorang pengrajin pembuat Kain Songket di Desa Pandai Sikek, Sumatera Barat. (Foto: pesona.co.id)

Kiprah Nyata BNI Berbagi

Dari cuplikan wawancara penulis di atas, nyata sekali betapa kehadiran BNI benar-benar memberi arti bagi kemajuan pelaku Usaha Kecil Menengah. Apalagi, sebagai institusi perbankan nasional, BNI memang fokus terhadap kesejahteraan masyarakat dengan semangat mengabdi pada tujuan utama BNI yakni berkarya.

Bertitik-tolak pada Peraturan Menteri BUMN No. 05/MB/2007 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), BNI telah melaksanakan banyak sekali program PKBL yang mengedepankan tema ‘Bersama Membangun Negeri’ atau BNI ‘Berbagi’ di seluruh Indonesia. Tentunya dengan melibatkan dan bergandengan tangan dengan berbagai pihak eksternal, pegawai BNI dan institusi terkait. Melalui program-program tersebut, BNI berusaha untuk meningkatkan dampak positif dan manfaat keberadaan BNI di tengah masyarakat demi memacu pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan lingkungan yang menuju masa depan lebih baik.

Khusus mengenai Program Kemitraan, sejauh ini memang difokuskan pada bidang industri kerajinan kreatif dan pangan, melalui program Kampoeng BNI di seluruh pelosok Indonesia. Besar harapan BNI, bahwa program-program tersebut dapat mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di suatu kawasan pedesaan, melalui pinjaman lunak program kemitraan, maupun bantuan dalam rangka penguatan kapasitas, bagi seluruh masyarakat di daerah yang bersangkutan.

Motivasi tersebut diwujudkan salah satunya melalui pembangunan Kampoeng BNI. Inilah konsep yang bertujuan menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial, terutama pada usaha mikro, kecil dan koperasi, dengan harapan kelompok usaha ini mampu berperan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih mumpuni. Peran strategi ini dilaksanakan melalui berbagai program Corporate Community Responsibility (CCR) yang salah satunya melanjutkan PKBL.

Kampoeng BNI tahun 2014 dalam angka. (Sumber: bni.co.id)

Kampoeng BNI tahun 2014 dalam angka. (Sumber: bni.co.id)

Dengan Kampoeng BNI, BNI—yang pada 5 Juli 2015 kemarin berusia 69 tahun—terus menajamkan fokus pada pengembangan industri kreatif, dengan pola pemberdayaan ekonomi masyarakat kawasan pedesaan melalui penyaluran kredit Program Kemitraan, yang mengelola potensi sumber daya maupun kearifan lokal sekaligus melakukan pembinaan yang berkelanjutan.

Mengapa demikian? Karena, program Kampoeng BNI ini tak sekadar menyalurkan pembiayaan usaha belaka, tapi juga memberikan pelatihan peningkatan kapasitas, seperti pelatihan menenun sesuai dengan harapan pasar global, pelatihan pembukuan sederhana, pelatihan pemasaran efektif dan pelatihan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra binaan.

Sejak tahun 2007, BNI sudah mengembangkan 28 Kampoeng BNI di Indonesia. Dimana tiap Kampoeng senantiasa memaksimalkan penonjolan ciri khas masing-masing. Pada tahun 2014, BNI menambah empat lagi, yakni Kampoeng BNI Batik Tulis Wiradesa (Pekalongan), Kampoeng BNI Batik Tulis Lasem (Rembang), Kampoeng BNI Imogiri (Bantul), dan Kampoeng BNI Kain Sasirangan (Banjarmasin). Adapun total dana yang telah tersalurkan tercatat sebesar Rp 18,28 miliar.

Daftar sejumlah Kampoeng BNI. (Sumber: bni.co.id)

Daftar sejumlah Kampoeng BNI. (Sumber: bni.co.id)

Bagaimana program Kampoeng BNI pada tahun 2015 ini? Sudah menjadi agenda rutin, pada April kemarin, para mitra binaan BNI diundang untuk turut serta pada ajang Inacraft atau Jakarta International Handicrfat Trade Fair yang dilaksanakan 8 – 12 April 2015. Mereka yang berkesempatan hadir dan unjuk kemampuan, antara lain mitra binaan dari Kampoeng BNI Wiradesa (Pekalongan), Kampoeng BNI Tapis (Lampung), Kampoeng BNI Songket (Palembang), Kampoeng BNI Tenun (Sumba), Kampoeng BNI Desa Wisata (Borobudur), Kampoeng BNI Imogiri (Bantul), Kampoeng BNI Kain Sasirangan (Banjarmasin), dan Kampoeng BNI Seni Lukis Kamasan (Bali).

Usai mengikuti pergelaran Inacraft, BNI kemudian mengundang sepuluh Kampoeng BNI, untuk memperoleh motivasi dan mengikuti pelatihan tentang manajemen Desa Wisata melalui capacity building dan benchmarking. Lokasinya, bertempat di Kampoeng BNI Wisata Borobudur di Desa Wanurejo, Magelang, pada 24 – 27 Mei 2015.

Kesepuluh Kampoeng BNI yang mengikuti pelatihan tersebut yaitu, Kampoeng BNI Tenun Pandai Sikek (Sumatera Barat), Kampoeng BNI Songket Palembang (Sumatera Selatan), Kampoeng BNI Batik Wiradesa Pekalongan (JawaTengah), Kampoeng BNI Mete Imogiri Bantul (Yogyakarta), Kampoeng BNI Batik Lasem (Jawa Tengah), Kampoeng BNI Sasirangan Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Kampoeng BNI Kamasan (Bali), Kampoeng BNI Inggris Pare Kediri (Jawa Timur), Kampoeng BNI Toraja (Sulawesi Selatan), dan Kampoeng BNI Tapis (Lampung).

Daftar sejumlah Kampoeng BNI. (Sumber: bni.co.id)

Daftar sejumlah Kampoeng BNI. (Sumber: bni.co.id)

Menurut Corporate Secretary BNI, Tribuana Tunggadewi, untuk memaksimalkan workshop tersebut, setiap Kampoeng BNI tidak hanya diwakili oleh pimpinan Sentra Kredit Kecil BNI yang menanganinya, melainkan juga mengundang mitra binaan Kampoeng BNI tersebut.

“Dipilihnya Kampoeng BNI Wisata Borobudur sebagai lokasi pembentukan capacity building dan benchmarking ini dimaksudkan untuk belajar langsung, mengenai pengelolaan daerah wisata dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki,” ujarTribuana seraya menegaskan kembali, bahwa konsep Kampoeng BNI dibangun atas prinsip Community Development, dimana satu cluster mengangkat produk potensial berdasarkan kearifan lokal setempat.

Ya, di usianya yang sudah 69 tahun, BNI semakin menampilkan prestasi dan semangat berbagi. Hal ini sejalan dengan motto peringatan hari jadi BNI, yang untuk tahun ini memilih tema ’69 Tahun BNI : Berprestasi dan Berbagi Untuk Negeri’.

Wujud kepedulian BNI dalam Bersama Membangun Negeri selalu hadir secara nyata, seperti contoh dalam setiap pengembangan produk kreatif di Festival Kamasan, Bali. (Foto: klungkungkab.desa.id)

Wujud kepedulian BNI dalam Bersama Membangun Negeri selalu hadir secara nyata, seperti contoh dalam setiap pengembangan produk kreatif di Festival Kamasan, Bali. (Foto: klungkungkab.desa.id)

Selamat dan Sukses. Dirgahayu BNI ke-69 Tahun!

Supiyah (54) salah seorang pelaku UMKM di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel, yang memproduksi kue-kue kering. (Foto: Gapey Sandy)

Supiyah (54) salah seorang pelaku UMKM di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel, yang memproduksi kue-kue kering. (Foto: Gapey Sandy)

Senyum menghiasi wajah Supiyah. Perempuan 54 tahun ini sebelumnya membalas salam dengan santun, seiring kehadiran saya di rumahnya, di bilangan Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Jumat sore, 24 Juli 2015 kemarin.

Ibu beranak lima dan telah memiliki enam cucu ini ingat betul, bahwa kehadiran saya sudah kedua kalinya. Kali pertama, ketika pada 2013, saya berkunjung untuk melihat langsung proses pembuatan kue-kue kecil yang dibuatnya. Ya, Supiyah adalah pembuat kue kering rumahan. Dibantu anak dan menantunya, Ibu Supiyah memproduksi aneka kue kering seperti Kembang Goyang, Keripik Pisang dan Keripik Singkong.

Dua tahun lalu, ketika saya menemuinya untuk sebuah reportase, ia tengah sibuk menggoreng, menimbang dan memasukkan keripik pisang buatannya ke dalam plastik kiloan. Kemasannya polos, tanpa label produk. Di bahagian ujung atas disematkan kertas karton bertuliskan produk makanan, dengan logo huruf ‘S’ yang dibingkai kotak sebagai trade mark-nya. Kemasan plastik kemudian hanya di-jepret menggunakan stapler. Sangat sederhana, tanpa perlu mempergunakan mesin laminating perekat kemasan plastik yang lebih uptodate.

Kue kering Kembang Goyang produksi Supiyah bersama keluarga. (Foto: Gapey Sandy)

Kue kering Kembang Goyang produksi Supiyah bersama keluarga. (Foto: Gapey Sandy)

Bersama anak dan menantu, Supiyah memproduksi kue-kue kering di rumahnya. (Foto: Gapey Sandy)

Bersama anak dan menantu, Supiyah memproduksi kue-kue kering di rumahnya. (Foto: Gapey Sandy)

Tapi asal tahu saja, produksi Keripik Pisang yang diolah secara manual, home made dan home industry ini, setiap minggunya mampu menghabiskan 10 tandan pisang. “Tapi, itu juga tergantung dari bagaimana stok bahan baku, terutama pisang, yang ada di pasaran. Karena, tidak sembarang pisang bisa dibuat keripik. Bagusnya, kalau pakai Pisang Nangka,” jelas Ibu Supiyah waktu itu.

Sosok Supiyah merupakan salah satu dari sekian banyak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten. Denyut nadi UMKM di wilayah ini memang terasa sekali. Salah satunya karena kehadiran Koperasi Serba Usaha (KSU) Cipta Boga yang melakukan pembinaan UMKM tanpa kenal lelah. Tak heran, kedekatan para pelaku UMKM dengan jajaran pengurus KSU Cipta Boga bahkan sudah seperti laiknya keluarga. Ada rasa saling percaya, asah, asih dan asuh.

Kepada penulis, Ketua KSU Cipta Boga, Alwani S.Pd menjelaskan, koperasinya berdiri pada 2010. Ketika pertama kali menegaskan kepedulian untuk mengangkat harkat dan martabat pelaku UMKM di lingkungan sekitar, segala halangan dan rintangan sempat menghantui. Bahkan, pada 2011, Alwani sempat menggadaikan ijasah Sarjana S1 yang baru diraihnya dari Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jawa Barat.

Alwani, Ketua Koperasi Serba Usaha Cipta Boga di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel, menjaga komitmen dan membuktikan sebagai pendamping dan pembina pelaku UMKM di Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Alwani, Ketua Koperasi Serba Usaha Cipta Boga di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel, menjaga komitmen dan membuktikan sebagai pendamping dan pembina pelaku UMKM di Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

“Saya sempat menggadaikan ijasah S1 yang baru saja saya terima dari kampus, seharga Rp 30 juta. Uangnya saya pergunakan untuk sebagai modal pendanaan kegiatan operasi KSU Cipta Boga ini, termasuk saya belanjakan juga untuk membeli bahan baku berbagai keperluan yang senantiasa dibutuhkan oleh para anggota koperasi. Pemenuhan kebutuhan bahan baku menjadi penting sekali, karena para anggota koperasi ini kebanyakan adalah para pelaku usaha home industry di sini,” urai Alwani.

Alwani menyebutkan, jumlah anggota KSU Cipta Boga saat ini mencapai 150 orang, yang mayoritas membutuhkan bantuan dan peran serta aktif pihak koperasi untuk memenuhi stok kebutuhan bahan baku. Hal ini sama saja dengan menyuruh Alwani beserta seluruh jajaran KSU Cipta Boga untuk pontang-panting mencari upaya untuk pemenuhan beraneka macam bahan baku, mulai dari pisang nangka, kacang tanah kulit, ubi ungu, singkong, sampai sembilan bahan pokok (sembako) lainnya termasuk minyak goreng dan gas.

“Sedapat mungkin, kita coba memenuhi kebutuhan bahan baku bagi para pelaku industri rumahan ini. Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya nasih UMKM yang dijalankan oleh Ibu Supiyah misalnya, apabila beliau tidak dapat memperoleh bahan baku berupa pisang nangka, maupun singkong? Bisa-bisa roda produksi tidak berputar,” tukas Alwani yang kini melanjutkan S2 di Fakultas Hukum Universitas Pamulang, Kota Tangsel ini.

Kacang tanah kulit yang dijemur terlebih dahulu sebelum disangrai. (Foto: Gapey Sandy)

Kacang tanah kulit yang dijemur terlebih dahulu sebelum disangrai. (Foto: Gapey Sandy)

Proses penyangraian Kacang Tanah Kulit menggunakan sedikit pasir sebagai media penghantar panas. Bahan bakarnya berupa kayu bakar. (Foto: Gapey Sandy)

Proses penyangraian Kacang Tanah Kulit menggunakan sedikit pasir sebagai media penghantar panas. Bahan bakarnya berupa kayu bakar. (Foto: Gapey Sandy)

Selain Supiyah, masih banyak pelaku UMKM lainnya yang menjadi anggota KSU Cipta Boga. Ma’mun salah satunya. Ia merupakan pelaku UMKN yang memproduksi kacang sangrai atau kacang tanah kulit yang proses pematangannya disangrai. Terhitung, sudah 11 tahun Ma’mun meneruskan usaha keluarga yang dirintis kedua orangtuanya.

Berapa banyak Ma’mun sanggup memproduksi kacang sangrai? Jangan kaget, karena jawabannya adalah 4 hingga 5 ton kacang sangrai hanya dalam satu minggu. Atau, sama juga dengan maksimal 20 ton kacang sangrai per bulan!

“Kalau bahan baku kacang tanah kulit sedang sulit didapatkan, paling minim saya cuma sanggup memproduksi 3 ton kacang sangrai per minggu,” ujar Ma’mun yang mempekerjakan sembilan karyawan.

“Ada 4 pekerja yang melakukan penyangraian, 3 orang yang menampi kacang sangrai matang, dan 2 pekerja lainnya yang melakukan pengemasan. Tapi, sebenarnya saya banyak mempekerjakan warga juga di sekitar sini, untuk melakukan pengemasan kacang sangrai yang sudah matang di rumah mereka masing-masing. Biasanya, ada yang membawa 3 sampai 4 karung besar kacang sangrai, untuk kemudian mereka kemas di rumahnya. Nanti kalau sudah selesai, dikembalikan lagi ke sini, sembari saya beri upah pengerjaan pengemasan itu,” tuturnya.

Gelondongan kayu bakar yang dipergunakan untuk menyangrai Kacang Tanah Kulit. (Foto: Gapey Sandy)

Gelondongan kayu bakar yang dipergunakan untuk menyangrai Kacang Tanah Kulit. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah melalui proses sangrai, Kacang Tanah Kulit yang sudah matang masih tetap menjalani proses seleksi dengan dipilah dan dipilih. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah melalui proses sangrai, Kacang Tanah Kulit yang sudah matang masih tetap menjalani proses seleksi dengan dipilah dan dipilih. (Foto: Gapey Sandy)

Berapa nilai ekonomi yang dihasilkan dari penjualan kacang sangrai ini? “Dalam 1 minggu, biasanya produksi kacang sangrai saya mencapai 4 sampai 5 ton. Hasil omzet penjualannya, dalam seminggu bisa mencapai antara Rp 50 juta sampai Rp 70 juta,” ungkap Ma’mun.

Uang sebanyak itu, masih harus ‘diputar’ lagi untuk berbagai keperluan. Mulai dari pembelian bahan baku kacang tanah kulit, kayu bakar gelondongan, upah pekerja tetap termasuk upah warga yang bekerja secara lepas, pengadaan plastik kemasan, dan sejumlah pengeluaran rutin lainnya. Mari kita ambil contoh, cost yang harus dikeluarkan Ma’mun. Dua tahun yang lalu, untuk harga kayu gelondongan yang dipergunakan sebagai bahan bakar adalah Rp 1,2 juta per truk. Sedangkan harga kacang tanah kulitnya, waktu itu Rp 12.000 per kilogram. Artinya, kalau Ma’mun belanja 4 ton kacang tanah kulit, maka ia harus merogoh kocek Rp 54 juta. Belum lagi, ia masih harus membayar upah para pekerja dan melunasi pembiayaan lainnya.

Supiyah dan Ma’mun adalah dua sosok pelaku UMKM yang menjadi binaan KSU Cipta Boga. Mau tidak mau, antara pelaku UMKM dan koperasi terlibat sinergi positif yang saling menguntungkan. Antara lain, pihak koperasi yang dapat membantu pemasaran produk industri rumahan para pelaku UMKM. Contoh, kue kering Kembang Goyang, keripik pisang dan keripik singkong yang diproduksi Supiyah, bila dibantu pemasarannya melalui KSU Cipta Boga, tentu akan dikemas dalam bentuk yang berbeda bila Supiyah menjual langsung kepada para pelanggannya. Kemasan yang berbeda tersebut, sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga selain lebih menarik tampilannya, merek dagang tersendiri pun juga dicantumkan. Begitu pula dengan kacang sangrai produksi Ma’mun. Kemasan yang berbeda ini penting, karena seringkali KSU Cipta Boga memiliki kesempatan untuk melakukan pameran di banyak tempat dengan menampilkan aneka produk dari para pelaku UMKM yang menjadi binaannya.

Galeri UMKM di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel. (Foto: Alwani/KSU Cipta Boga)

Galeri UMKM di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel. (Foto: Alwani/KSU Cipta Boga)

Tampak dalam, Galeri UMKM di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Tampak dalam, Galeri UMKM di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Ketika tulisan ini dibuat, KSU Cipta Boga tengah sibuk mempersiapkan diri untuk terlibat aktif dengan mengisi stand di ajang Pameran dan Gelar Dagang yang menjadi salah satu mata kegiatan utama pada peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-XXII yang pada tahun ini, Kota Tangsel bertindak selaku tuan rumahnya.

Terkait masalah merek dagang pada kemasan produk, Alwani menjelaskan bahwa nama yang disepakati sebagai mereknya adalah Ma’Kita yang artinya Makanan Kita Semua. “Atau, bisa juga diartikan bahwa Ma’Kita itu berarti makanan yang dibuat atau diolah oleh orangtua atau Emak (Ibu) kita sendiri. Nama ini penting, karena harus membawa penegasan bahwa semangat yang kita lakukan adalah memang benar-benar untuk memberdayakan usaha dan perekonomian warga masyarakat sekitar,” jelasnya.

Alwani mengatakan, dukungan Pemkot Tangsel melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait kepada para pelaku UMKM juga sangat baik. Bahkan, sikap Pemkot Tangsel jelas dengan telah menyatakan bahwa Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu sebagai Kampung Pariwisata Industri atau Kampung Ekowisata Industri. Lebih dari itu, Keranggan juga disebut-sebut sebagai proyek percontohan bagi wilayah lain se-Tangsel terkait pengembangan industri rumahan.

Alwani berpose di dekat rak penjualan dan display aneka jenis produk yang dibuat oleh para pelaku UMKM Kota Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Alwani berpose di dekat rak penjualan dan display aneka jenis produk yang dibuat oleh para pelaku UMKM Kota Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Produksi Abon Cabe Kering dipasarkan pula di Galeri UMKM yang ada di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Produksi Abon Cabe Kering dipasarkan pula di Galeri UMKM yang ada di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu wujud nyata Pemkot Tangsel adalah, dengan mendirikan Galeri UMKM pada tahun 2015 ini, yang berlokasi di Jalan Lingkar Selatan (JLS) Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Peresmian Galeri UMKM dilakukan oleh Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany. Sehari-harinya, galeri yang menampung dan memasarkan beraneka ragam produk hasil buatan para pelaku UMKM di wilayah sekitar dan Tangsel pada umumnya ini, dikelola oleh KSU Cipta Boga.

Ketika penulis berkunjung ke Galeri UMKM, berbagai produk nampak memenuhi display dan rak-rak penjualan. Untuk produk pangan unggulan terdapat berbagai jenis, mulai dari keripik yang diolah dari Pisang, Singkong, Ubi Ungu, maupun Gadung. Ada juga Keripik Bawang, dan Keripik Balado. Kerupuk juga bermacam-macam, dari Kerupuk Kulit, Kerupuk Beras, hingga Kerupuk Tulang Ikan Lele.

Selain itu ada juga Rengginang, Ranggeneng, Kembang Goyang, Kacang Sangrai, Opak, Enyek, Lempeyek, Abon Ikan Lele, Abon Cabe Kering, Telor Asin, Kue Nastar, Kue Akar Kelapa, dan masih banyak lagi. Tak hanya panganan, ada pula perfume yang merupakan produk warga Tangsel meski sudah mengalami proses pabrikan, juga aneka produk kerajinan yang sangat kreatif seperti tas dan dompet yang dibuat dari limbah plastik.

Kue Kering Akar Kelapa, salah satu produk unggulan pelaku UMKM Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Kue Kering Akar Kelapa, salah satu produk unggulan pelaku UMKM Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Abon Lele, salah satu produk unggulan pelaku UMKM Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Abon Lele, salah satu produk unggulan pelaku UMKM Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Geliat UMKM Tangsel Bersama Dukungan BNI

Menyaksikan sendiri aneka ragam produk yang dihasilkan pelaku UMKM Tangsel — dan tersusun rapi di rak-rak penjualan Galeri UMKM —, bangga rasanya hati ini menjadi warga Kota Tangsel. Apalagi, seperti diakui Alwani, dari waktu ke waktu, produk yang dihasilkan juga semakin bertambah, baik jenis, kualitas maupun kuantitasnya. Salah satu faktor yang mendukung kemajuan ini adalah berkat kehadiran PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI).

Pada April 2015 kemarin misalnya, BNI telah mengucurkan dana pinjaman tanpa syarat agunan. Pada tahap awal, terdapat sembilan anggota KSU Cipta Boga yang menerimanya. Total dana pinjaman tanpa agunan yang digelontorkan ini adalah senilai Rp 130 juta, dimana kepada tujuh anggota koperasi diberikan masing-masing Rp 10 juta, sedangkan dua anggota lainnya menerima Rp 30 juta. “Melalui bank, mereka memperoleh pinjaman besar, sehingga pengembangan usaha dan perluasan produk para pelaku UMKM menjadi lebih mudah serta sangat terbantu. Dan, pada praktiknya, hal itu terbukti,” ujar Alwani ketika ditemui penulis di Sekretariat Galeri UMKM.

Ya, harapan terbesar dari pengucuran dana pinjaman tanpa syarat agunan dari BNI kepada para pelaku UMKM di Kota Tangsel memang terwujud. Hal ini juga tidak terlepas kaitannya dari dukungan dinas terkait. Seperti yang kala itu disampaikan Warman Syanudin selalu Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Tangsel.

Kue kering Kembang Goyang, produksi Supiyah ketika sudah dipasarkan melalui Galeri UMKM. (Foto: Gapey Sandy)

Kue kering Kembang Goyang, produksi Supiyah ketika sudah dipasarkan melalui Galeri UMKM. (Foto: Gapey Sandy)

Kerupuk Kulit, produk unggulan yang juga laris, hasil produksi pelaku UMKM Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Kerupuk Kulit, produk unggulan yang juga laris, hasil produksi pelaku UMKM Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

“Pemberian bantuan kredit oleh Bank BNI sangat membantu pengembangan UKM. Uang pinjaman tersebut bisa digunakan dalam peningkatan produksi anggota koperasi. Saya harap, uang pinjaman ini jangan digunakan untuk hal-hal yang komsumtif. Harus diolah guna memperluas pasar dan memperbanyak produksi,” harapnya sembari menyebut ada 57 produk yang terdata di sentra KSU Cipta Boga.

Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tangsel, Ferry Payacun juga menyatakan hal senada. Ia mengatakan, pihaknya akan senantiasa mendorong terciptanya kerjasama apik antara pelaku usaha dan pihak swasta maupun perbankan. Pemerintah, dalam hal ini, memberikan fasilitas dalm bentuk meyakinkan fakta dan data kepada pihak perbankan. “Jadi, kami, pemerintah ini merupakan fasilitator untuk melakukan perlindungan kepada masyarakat guna memperoleh pinjaman ke pihak perbankan dengan tentu saja mengedepankan kelayakan usahanya,” ujar Ferry.

Dari pihak BNI sendiri, ketika itu hadir Wakil Pemimpin Sentra Kedit Kecil (SKC) BNI Tangerang, Sastra Sitepu, yang menjelaskan, bahwa pencairan pinjaman ini merupakan bahagian dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BNI. “Kami men-support kegiatan Usaha Kecil Menengah di Tangsel ini. Melalui PKBL BNI ini, murni tidak menggunakan syarat anggunan,” jelas Sastra yang juga menilai bahwa Tangsel memiliki perputaran ekonomi sangat pesat bila dibandingkan Kabupaten/Kota lain antar sesama Tangerang. “Karena itu, bila kerjasama perdana ini berjalan baik, maka selanjutnya akan diperbanyak lagi nilai pinjaman dan jumlah anggota koperasi yang menerimanya”.

Kue kering Biji Ketapang, salah satu produk unggulan pelaku UMKM Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Kue kering Biji Ketapang, salah satu produk unggulan pelaku UMKM Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Kacang Sangrai ini merupakan oleh-oleh khas Tangsel, hasil produksi pelaku UMKM setempat. (Foto: Gapey Sandy)

Kacang Sangrai ini merupakan oleh-oleh khas Tangsel, hasil produksi pelaku UMKM setempat. (Foto: Gapey Sandy)

PKBL merupakan Program Pembinaan Usaha Kecil dan pemberdayaan kondisi lingkungan yang dilakukan BUMN, melalui pemanfaatan dana dari sebagian labanya. Persyaratan yang ditetapkan Pemerintah, jumlah penyisihan laba untuk pendanaan program tersebut, maksimal sebesar 2% dari laba bersih untuk Program Kemitraan (PK), dan maksimal 2% dari laba bersih untuk Program Bina Lingkungan (PBL).

Tidak salah bila dikatakan bahwa, PKBL adalah salah satu bentuk dari implementasi Corporate Social Responsibility (CSR). Meskipun pada praktiknya, PKBL cenderung lebih banyak berfokus pada pemberian pinjaman berupa mikro-kredit pada pengusaha kecil yang kelayakan usahanya dinilai potensial. Hal ini, tentu saja menjadi kail bagi para pengusaha kecil untuk dapat lebih berkembang, sehingga berhasil menggali keuntungan bagi usahanya, sekaligus mampu mengembalikan pinjaman yang diberikan sesuai ketentuan.

“Kepedulian BNI terhadap pelaku UMKM di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel ini patut diapresiasi. PKBL tahap awal yang dilaksanakan BNI ini terbukti mampu mengembangkan perputaran roda usaha lebih cepat dan lebih banyak lagi. Semoga pada tahap berikutnya, dana PKBL dari BNI dapat lebih ditingkatkan. Termasuk kerja keras dari KSU Cipta Boga yang langsung membina para pelaku UMKM di sekitar wilayah tersebut, dengan dukungan dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, juga Dinas Peridustrian dan Perdagangan Tangsel,” harap Ali Samson Pane, Ketua Forum CSR Kota Tangsel ketika diwawancarai penulis, akhir Juli kemarin.

Ketika acara pemberian dana pinjaman PKBL dari BNI kepada pelaku UMKM yang merupakan anggota KSU Cipta Boga di Galeri UMKM, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel. (Foto: Alwani/KSU Cipta Boga)

Ketika acara pemberian dana pinjaman PKBL dari BNI kepada pelaku UMKM yang merupakan anggota KSU Cipta Boga di Galeri UMKM, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel. (Foto: Alwani/KSU Cipta Boga)

Acara pencairan dana pinjaman PKBL dari BNI kepada pelaku UMKM yang merupakan anggota KSU Cipta Boga di Galeri UMKM Tangsel. (Foto: Alwani/KSU Cipta Boga)

Acara pencairan dana pinjaman PKBL dari BNI kepada pelaku UMKM yang merupakan anggota KSU Cipta Boga di Galeri UMKM Tangsel. (Foto: Alwani/KSU Cipta Boga)

Harapan agar pada tahap berikutnya BNI lebih banyak lagi banyak lagi mengucurkan dana PKBL memang begitu tinggi. Betapa tidak, KSU Cipta Boga memiliki data bahwa ada sekitar 200 pelaku UMKM di Kota Tangsel, terutama di sekitar Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Bila pada April kemarin yang menerima dana PKBL BNI baru sembilan pelaku UMKM, tentu kedepannya jumlah tersebut dapat lebih ditingkatkan lagi. Apalagi, kesembilan pelaku UMKM penerima dana PKBL ini masih didominasi pada sektor produksi kuliner atau produksi panganan.

“KSU Cipta Boga ini hanya memfasilitasi para pelaku UMKM produktif untuk dapat memperoleh dana pinjaman. Kami telah bekerja keras menunjukkan komitmen dan keseriusan dalam rangka mendampingi, membina dan mengembangkan UMKM, sebagai salah satu yang juga dinilai kelayakannya oleh pihak perbankan. Alhamdulillah, dalam dua tahun terakhir kami berhasil membuktikan hal tersebut, sampai dana akhirnya dana PKBL BNI diberikan,” bangga Alwani sembari berharap para pelaku UMKM dapat menepati angsuran pengembalian pinjaman termasuk bunga sebesar 0,5% per bulan atau 6% per tahun.

Dana PKBL BNI dan Berkah Ramadhan

Bagi Alwani, yang sehari-hari tak pernah lepas kegiatannya dari pendampingan dan pembinaan pelaku UMKM, kucuran dana pinjaman dari PKBL yang diselenggarakan BNI tepat pada bulan April, membawa berkah tersendiri. Tidak hanya bagi KSU Cipta Boga dan Galeri UMKM yang dikelolanya, tapi juga bagi sembilan pelaku UMKM yang menerima dana pinjaman tersebut.

Alwani, Ketua KSU Cipta Boga membenarkan, tahap awal pengucuran dana pinjaman PKBL dari BNI, telah berhasil meningkatkan kapasitas produksi dari pelaku UMKM Tangsel yang telah menerimanya. (Foto: Gapey Sandy)

Alwani, Ketua KSU Cipta Boga membenarkan, tahap awal pengucuran dana pinjaman PKBL dari BNI, telah berhasil meningkatkan kapasitas produksi dari pelaku UMKM Tangsel yang telah menerimanya. (Foto: Gapey Sandy)

Ambil contoh, apa yang telah dilakukan Supiyah. Begitu dana pinjaman sebesar Rp 10 juta cair, Supiyah lantas memancang tekad untuk menargetkan produksi usahanya lebih berlipat ganda pada satu-dua bulan kedepan. Mengapa? Karena, itu bertepatan dengan hadirnya bulan suci Ramadhan. Biasanya, pada bulan suci, kue Kembang Goyang dan Keripik Pisang buatan Supiyah bakal laris manis di-borong para pembeli.

“Menghadapi bulan puasa kemarin ini, Alhamdulillah, saya sudah punya stok sembako. Uangnya dari mana? Ya, dari hasil mendapatkan dana pinjaman dari BNI itu. Saya juga beli bahan baku untuk persiapan membuat kue. Pokoknya, saya mah merasa bersyukur kepada Allah SWT karena memperoleh dana pinjaman dari BNI yang nilainya Rp 10 juta itu. Artinya, usaha produksi kue-kue kering yang saya lakukan bersama anak-anak dan menantu, dapat terbantu,” tutur Supiyah.

Mau tahu, berapa jumlah produksi kue kering yang dibuat Supiyah selama bulan suci Ramadhan kemarin? Jangan kaget! Kepada penulis, Supiyah mengaku berhasil memproduksi sekitar 400 kilogram kue kering Kembang Goyang. Sedangkan untuk Keripik Pisang, ia sanggup memproduksi hingga 100 kilogram.

Alwani di kebun Anggrek yang dikelola KSU Cipta Boga. (Foto: Gapey Sandy)

Alwani di kebun Anggrek yang dikelola KSU Cipta Boga. (Foto: Gapey Sandy)

KSU Cipta Boga juga mendampingi dan membina pembudidaya Anggrek. Bunga Anggrek jenis Van Douglas digadang-gadang menjadi ikon Kota Tangsel. (Foto: Alwani/KSU Cipta Boga)

KSU Cipta Boga juga mendampingi dan membina para pembudidaya Tanaman Anggrek. (Foto: Alwani/KSU Cipta Boga)

“Waktu bulan puasa kemarin, saya berhasil membuat sampai 400 kilogram Kembang Goyang. Sedangkan untuk Keripik Pisang, yang saya buat dari Pisang Nangka, jumlahnya sampai 100 kilogram. Semuanya laku terjual! Alhamdulillah. Bahkan ada pembeli yang sengaja datang dari Sumatera, lalu membeli dalam jumlah besar untuk mereka jual kembali di sana. Sayangnya, untuk Keripik Singkong, saya tidak memproduksinya. Karena, selain jumlah tenaga kami yang terbatas, dan kemampuan produksi yang juga terbatas, bahan bakunya atau singkongnya itu sendiri suka agak sulit diperoleh,” terang Supiyah dengan nada penuh syukur.

Atas capaian usaha dan produksi kue kering buatannya yang meningkat, Supiyah tak luput mengucapkan rasa terima kasih kepada BNI atas dana pinjaman yang telah diperolehnya. “Saya terima kasih dan bersyukur atas dana pinjaman dari BNI itu. Uang Rp 10 juta sangat bermanfaat bagi kelangsungan usaha dimana ujung-ujungnya ya berhasil membawa dampak pada kesejahteraan keluarga kami juga. Doakan saya dan keluarga ya, agar dapat terus menepati komitmen melunasi cicilan pinjaman sesuai kesepakatan. Kalau enggak bisa melunasi pinjaman, waduh, bagaimana nanti nasib saya jadinya,” harap Supiyah sembari mempersilakan penulis mencicipi buah Sukun goreng sore itu.

Supiyah dan para pelaku UMKM penerima dana pinjaman dari PKBL yang dilaksanakan BNI tentu memiliki cita-cita yang luas, meskipun terbilang sederhana. Yaitu, mereka dapat meneruskan usaha atau industri rumahan yang telah digeluti, sekaligus mengembangkannya. Terhadap dukungan dan kepedulian BNI melalui dana PKBL, para pelaku UMKM ini tidak muluk-muluk, mereka hanya berharap dapat melunasi angsuran pinjamannya. “Mudah-mudahan saya bisa melunasinya. Dan pada saatnya nanti, bisa mendapatkan dana pinjaman yang lebih besar lagi,” seru Supiyah penuh optimis.

BNI selalu menyuguhkan layanan terbaik dan profesional. (Foto: antaranews.com)

BNI selalu menyuguhkan layanan terbaik dan profesional. (Foto: antaranews.com)

Logo peringatan hari jadi ke 69 tahun BNI. (Foto: bni.co.id)

Logo peringatan hari jadi ke 69 tahun BNI. (Foto: bni.co.id)

Ya, optimisme pelaku UMKM di Kota Tangsel memang kentara sekali, salah satunya berkat dukungan dan kepedulian dari Bank Nasional Indonesia, bank tertua yang didirikan di republik ini, semenjak Indonesia merdeka. Di usianya yang sudah mencapai 69 tahun, tepat pada 5 Juli 2015 kemarin, BNI telah semakin membuktikan diri sebagai bank yang terbaik. Bank yang concern pada kemajuan pelaku usaha UMKM, sekaligus menjadi tumpuan harapan negara Indonesia tercinta. Semua ini sesuai dengan motto peringatan hari jadinya pada tahun ini, yaitu: 69 Tahun BNI : Berprestasi & Berbagi Untuk Negeri.

Dirgahayu ke-69 Tahun BNI.