Ilustrasi sakit vertigo. (Foto: medisian.blogspot.com)

Ilustrasi sakit vertigo. (Foto: medisian.blogspot.com)

Serangan penyakitnya mengejutkan. Terjadi beberapa bulan yang lewat. Saya yang semula merasa sehat-sehat saja, tiba-tiba mengalami pusing yang sangat hebat. Mata terbuka sedikit, semakin pusing. Kepala bergeser sedikit, tambah pusing. Muntah tak berkesudahan. Seakan isi perut hendak semua dikeluarkan. Berdiri tak mampu, jalan pun tak sanggup. Dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat, saya terpaksa berbekal ember. Ya itu tadi, muntah tak berkesudahan. Kepala yang pusing, serasa berputar. Tak ada daya lagi. Begitulah derita sakit yang pernah saya alami. Membuat saya harus terpaksa betah menjalani rawat inap dengan tangan tertancap jarum infus. Dokter menyatakan, saya terserang Vertigo.

Pemicunya? Terjadi kekentalan darah yang menyebabkan aliran darah menuju ke otak terganggu. Itu juga mengapa dokter memberikan sejumlah obat yang diantaranya ada yang berfungsi untuk mengencerkan darah.

Saya yang merasakan tak terperikan ini, cukup terhentak juga. Bagaimana mungkin, efek kekentalan darah dapat berakibat sedemikian parah, sebegitu sakit. Tapi, percaya atau tidak, saya sendiri sudah mengalaminya. Terkapar dan dipapar Vertigo, akibat kekentalan darah seperti itu. Bersyukur, setelah tiga hari menjalani opname, dokter memperbolehkan saya pulang. Bekalnya tentu banyak, selain obat-obatan yang harus rutin diminum, saya juga dinasehati tiga hal penting, yaitu mengubah gaya hidup dengan rutin berolahraga (bukan sekadar banyak berolahraga), menjaga asupan makanan, dan banyak minum. Cuma tiga hal? Iya. Alasannya bisa saya pahami, karena toh hasil laboratorium waktu itu menunjukkan kadar kolesterol diatas normal. Sedangkan banyak minum, dimaksudkan untuk mengencerkan darah.

Jreng!

Mendengar nasehat dokter bahwa diantaranya saya harus banyak minum, rasanya cukup membuat kuping ini serasa dijewer. Lho, kenapa? Saya akui, selama ini, saya termasuk yang kurang minum. Begini penjelasannya. Pekerjaan saya menuntut lebih banyak untuk berkutat didalam ruangan saja. Kondisi ruangan yang sejuk dan berpendingin, tentu membuat saya serasa tidak pernah merasa kehausan. Akibatnya, saya jadi kurang minum. Satu gelas teh manis yang biasa disuguhkan office boy, ya kadang tidak terminum sampai habis. Adapun kalau makan siang, saya justru punya kesukaan untuk mengonsumsi kopi. Jelas tidak sebanding antara porsi makanan yang saya habiskan, lalu tegukan air minumnya hanya sebatas segelas kopi susu itu saja.

Kebiasaan ini lama berlangsung. Tanpa saya sadari, gaya hidup juga pola makan dan minum yang demikian merugikan organ-organ yang ada didalam tubuh. Termasuk, darah yang mengental itu tadi. Akibatnya fatal, aliran darah ke otak mengalami gangguan, dan Vertigo pun lambat laun datang menyerang. Vertigo attack!

Ketika harus menjalani opname akibat vertigo dan kekentalan darah. (Foto: Gapey Sandy)

Ketika harus menjalani opname akibat vertigo dan kekentalan darah. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah pulang dari rumah sakit, setiba di rumah. Sebenarnya refleks motorik dan memory untuk mengingat sesuatu masih terasa mengalami gangguan. Selama beberapa hari saya menjadi seperti manusia yang lambat bergerak, juga lambat berpikir. Misalnya, untuk mengambil gelas di dapur, terkadang sesudah sampai di dapur, saya justru lupa untuk mengambil gelas itu. Ada juga kejadian lucu. Ketika dua tangan saya masing-masing memegang tisu kotor di sebelah kiri, dan uang receh di tangan kanan. Maksud hati, ingin membuang tisu kotor ke tempat sampah, tapi apa yang terjadi, saya justru membuang uang receh yang ada di tangan kanan. Waktu itu, saya sempat geli juga manakala sadar bahwa saya membuang uang receh. Bukannya gelisah apalagi marah, saya malah geli sendiri manakala menyadari bahwa saya seperti orang yang sudah alami kepikunan.

Bersyukur, kondisi menyiksa seperti ini lambat laun pulih.

Kini, saya mulai rajin minum air putih. Yang praktis, tentu saja tinggal menyiapkan produk Danone AQUA galon di rumah, dan menyimpan beberapa botol AQUA lagi di mobil, juga di laci meja kantor. Pendek kata, saya tidak mau lagi kecolongan terkena serangan Vertigo, hanya gara-gara darah mengental akibat asupan minum air putih yang tidak cukup.

Selain itu, saya mulai mengurangi untuk mengonsumsi teh dan kopi. Karena ternyata, berdasarkan referensi yang saya baca, keduanya termasuk jenis minuman ber-diuretik. Agak sulit menjelaskannya secara detil, tapi faktanya begini. Bila kita sering-sering minum teh dan kopi, maka urusan BAK alias Buang Air Kecil akan juga menjadi sering. Akibatnya, cairan yang ada didalam tubuh jadi cepat berkurang. Padahal, dengan cairan didalam tubuh yang cepat terkuras, dapat berakibat fatal pada kesehatan.

Soal kopi ini, saya teringat pengalaman salah seorang kawan. Sebutlah namanya Dzulfikar. Waktu itu, kita sama-sama dalam sebuah kunjungan kerja di Denpasar, Bali. Diantara anggota rombongan kami, ada Syukri yang berasal dari Gayo, Aceh Tengah. Saking semangat berbagi, Syukri membawa serta oleh-oleh berupa kopi Gayo untuk saya dan Dzulfikar. Karena tidak terbiasa minum kopi tanpa gula, Dzulfikar harus beradaptasi lebih dahulu. Meski lama-kelamaan bisa, tapi apa yang kemudian terjadi pada Dzulfikar? Ternyata ia merasakan sendiri, bagaimana hebatnya efek kopi terhadap dirinya. Ia jadi sering BAK dan urine yang dikeluarkan jumlahnya tidak sedikit.

ika tidak segera mengganti cairan yang hilang, tubuh akan mengalami dehidrasi. (Foto: m.liputan6.com)

Jika tidak segera mengganti cairan yang hilang dengan minum air putih, maka tubuh akan mengalami dehidrasi. (Foto: m.liputan6.com)

Begitulah fakta reaksi yang dialami Dzulfikar gegara minum kopi. Bukan hoax, tapi pengalaman Dzulfikar mengenai hal ini dapat dibaca dalam tulisannya yang jujur berjudul Kopi Nikmat Mengundang Musibah Sesaat.

Cukupi Hidrasi, Jangan Kurangi

Sebenarnya berapa sih kecukupan air untuk tubuh kita? Untuk saya yang berusia 44 tahun, maka Angka Kecukupan Air (AKA) adalah 2,4 liter per hari. By the way, AKA ini untuk pria dengan rentang usia 30 – 49 tahun. Artinya, kalau banyak yang mengatakan bahwa 2 liter air sama dengan 8 gelas. Maka itu sama saja, AKA untuk saya adalah sekitar 10 gelas. Anggaplah begitu. Atau, minimal ya 8 gelas itu tadi.

Kalau idealnya untuk usia saya harus minum 10 gelas air putih, maka strateginya bisa saya buat begini. Bangun tidur minum 1 gelas air putih, usai sarapan dan sebelum berangkat ke kantor 1 gelas, sampai di kantor 1 gelas, jelang siang 1 gelas, dan ketika makan siang 1 gelas lagi. Nah ini saja sudah 5 gelas air putih. Lalu, jelang sore ketika ada waktu istirahat sejenak untuk shalat Ashar, minum 1 gelas air putih lagi. Artinya, ketika di kantor saja, saya sudah menghabiskan 6 gelas air putih.

Tambah 4 gelas lagi adalah, ketika di perjalanan pulang kantor yang serba macet 1 gelas, dan sampai di rumah 1 gelas lagi, ketika makan malam 1 gelas, hingga jelang malam minum (terakhir) 1 gelas air putih lagi. Done! Semuanya bisa kan terpenuhi total 10 gelas air putih. Ingat ya, minimalnya minum 8 gelas air putih.

Untuk pria yang kelompok umur 16-18 tahun, AKA-nya adalah 2,2 liter per hari. Sedangkan kelompok umur 19-29 tahun adalah yang tertinggi AKA-nya dengan 2,5 liter per hari. Untuk pria kelompok umur 50-64 tahun, AKA-nya 2,3 liter per hari.

Bagaimana dengan wanita? Menurut AKA Untuk Orang Indonesia yang bersumber dari Proboprastowo SM, Dwiriani OM, kelompok wanita usia 16-18 tahun perlu 2,1 liter per hari, usia 19-29, 30-49 dan 50-64 tahun, sama-sama butuh 2,0 liter per hari.

Tabel Angka Kecukupan Air bagi Orang Indonesia. (Sumber: Proboprastowo SM, Dwiriani OM)

Tabel Angka Kecukupan Air bagi Orang Indonesia. (Sumber: Proboprastowo SM, Dwiriani OM)

Nah, bila kecukupan air ini tidak terpenuhi, ‘alarm’ yang ada pada tubuh akan mulai memberi sinyal. Menurut Thomson Janice, Manore Mellinda, dan Vaughan Linda, dampak kekurangan air dapat dikategorikan berdasarkan persentase. Untuk yang paling ringan, kehilangan air 1% hingga 2%, tanda-tanda yang ditimbulkan adalah rasa haus yang kuat, kehilangan cita rasa, dan perasaan tidak nyaman. Sedangkan kehilangan air tubuh antara 3% – 5%, akan menimbulkan mulut kering, pengeluaran urine berkurang, bekerja dan konsentrasi lebih sulit, kulit merasa panas, gemetar berlebihan, tidak sabar, mengantuk, muntah, dan mengalami ketidakstabilan emosi. (Lihat tabel: Persentase Kehilangan Air Tubuh dengan Tanda dan Gejalanya)

Sayangnya, belum banyak orang peduli akan kecukupan asupan air. Data yang diungkap The Indonesian Hydration Regional Study (THIRST) menyebutkan, sebanyak 46,1% subyek yang diteliti mengalami kurang air atau hipovolemia (kondisi kekurangan cairan) ringan. Kondisi ini lebih tinggi dialami remaja (49,5%) dibandingkan pada orang dewasa (42,5%).

THIRST juga menyatakan, prevalensi hipovolemia ringan pada daerah dataran rendah yang panas lebih tinggi bila dibandingkan dengan di dataran tinggi yang sejuk. Lebih ironis lagi, 6 dari setiap 10 subyek yang diteliti (sekitar 60%) tidak mengetahui bahwa diperlukan minum lebih banyak bagi ibu hamil, ibu menyusui, orang yang berkeringat, dan orang yang berada dalam lingkungan atau ruang dingin.

Selain itu, hanya ada sekitar separuh dari subyek orang dewasa dan remaja yang mengetahui kebutuhan air minum sekitar 2 liter dalam satu hari. Adapun faktor pemicu hipovolemia ringan ini adalah ketidaktahuan dan kesulitan akses secara fisik maupun ekonomi dalam memperoleh air minum. Oh ya, THIRST melakukan pemeriksaan berat jenis urine (urine specific gravity) ini terhadap 1.200 sampel yang tersebar dari Jakarta, Lembang, Surabaya, Malang, Makasar hingga Malinau.

Tabel Persentase Kehilangan Air Tubuh dengan Tanda dan Gejalanya. (Sumber: Thomson Janice, Manore Mellinda, dan Vaughan Linda)

Tabel Persentase Kehilangan Air Tubuh dengan Tanda dan Gejalanya. (Sumber: Thomson Janice, Manore Mellinda, dan Vaughan Linda)

Kurang dipahaminya urgensi kecukupan air dalam tubuh memang sangat memprihatinkan. Lantaran fungsi air yang tidak bisa dianggap sebelah mata atau sepele, yaitu sebagai: (1) pembentuk sel dan cairan tubuh. Sebesar 70% – 85% sel dalam tubuh manusia terbuat dari air. Kecuali pada sel lemak. Jadi, bila tubuh kekurangan air, maka sel-sel baru tidak akan terbentuk, padahal sel-sel yang lama segera mati; (2) pengatur suhu tubuh. Air yang masuk dalam tubuh akan digunakan untuk segala kegiatan kerja organ dalam. Salah satunya, air juga bisa menghasilkan panas maupun menyerapnya. Setelah itu, air juga bisa mengantarkan panas ke seluruh tubuh. Ini dilakukan agar suhu tubuh tetap stabil; (3) pelarut; (4) pelumas dan bantalan; (5) media transportasi. Disini, air sering digunakan oleh sistem pencernaan untuk mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh; (6) media eliminasi toksin dan produk sisa metobolisme. Sejumlah hasil penelitian mengungkapkan, pemenuhan kebutuhan air dalam tubuh dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit dan membuat hidup lebih sehat serta nyaman.

Dalam bukunya The Secret of Water – Sejuta Manfaat Untuk Hidup Lebih Sehat, Hasti Dewi menyebutkan ada 12 masalah yang dapat muncul apabila tubuh kekurangan asupan air putih. Mulai dari mengalami dehidrasi; lemah dan lesu; kulit menjadi kering; kulit mengalami penuaan dini; sakit kepala; sembelit; edema atau kondisi dimana tubuh mengalami pembengkakan karena penumpukan cairan akibat sirkulasi cairan dalam tubuh buruk; batu ginjal; hipertensi. Air putih merupakan salah satu unsur yang digunakan untuk menjaga tekanan dalam darah. Manakala tubuh kekurangan air putih, maka darah akan mengental. Ketika darah mengental, maka tekanannya pun sudah tidak bisa dikendalikan lagi; obesitas. Kekurangan air putih bisa menyebabkan obesitas, pasalnya, air putih biasanya juga digunakan tubuh dalam proses pembakaran, mengubah lemak menjadi energi. Nah, ketika seseorang kekurangan asupan air putih, maka lembak tidak bisa dibakar ; serangan jantung; dan stroke.

Kekurangan asupan air putih menjadikan masalah obesitas. (Foto: hdindonesia.com)

Kekurangan asupan air putih ternyata juga dapat menjadikan masalah obesitas. (Foto: hdindonesia.com)

Cukupi Hidrasi Saat Puasa Dengan Pola 2+4+2

Setelah mengetahui bagaimana vitalnya mencukupi kebutuhan asupan air putih, lantas bagaimana kiatnya bila tengah menjalani puasa selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadhan?

Bersyukur penulis mulai rutin untuk melaksanakannya. Yaitu, dengan pola terbaik guna mencukupi kebutuhan air di bulan puasa. Polanya, tak lain dan tak bukan, adalah 2+4+2. Artinya, minum air putih 2 gelas saat berbuka puasa, ditambah 4 gelas saat malam hari hingga menjelang tidur, dan 2 gelas lagi ketika sahur.

Hal ini perlu diatur sedemikian rupa, karena selama bulan puasa, kesempatan untuk minum air dibatasi hanya pada malam hari saja, tepatnya sejak matahari terbenam hingga terbit fajar. Bila kita kurang peduli, bisa saja mengalami dehidrasi ringan.

Oh ya, jangan lupa untuk meminimalkan asupan kopi dan teh, karena seperti sudah disebutkan pada awal tulisan ini, kedua jenis minuman ini adalah jenis ber-diuretik yang dapat meningkatkan pengeluaran air kemih, juga mudah merangsang rasa haus.

Puasa sehat dengan pola minum air putih 2+4+2. (Foto: looks.co.id)

Puasa sehat dengan pola minum air putih 2+4+2. (Foto: looks.co.id)

Jangan lupa untuk memantau sendiri urine pada setiap pagi hari. Khawatir kita mengalami dehidrasi ringan. Tanda seseorang mengalami dehidrasi ringan yaitu warna urine kuning pekat dan jumlahnya sedikit. Bila hal ini terjadi, maka tingkatkan asupan air putih pada malam berikutnya, agar pada pagi keesokan harinya, urine berwarna lebih bening.

Akhirnya, jangan menunggu haus untuk mencukupi kebutuhan hidrasi. Sedangkan di bulan puasa, minum secara teratur dengan cukup setiap jam dapat diganti dengan komposisi mengonsumsi minum air putih yang tepat, yakni dengan pola 2+4+2. Bersyukur, kampanye dan sosialisasi pola 2+4+2 digencarkan produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sekaliber Danone AQUA. Sehingga efeknya, sangat sarat manfaat dan positif bagi asupan air putih serta berujung pada meningkatnya kesehatan seluruh lapisan masyarakat.

Terima kasih #AQUA242.

#AdaAQUA?

Iklan