Presiden Joko Widodo menetapkan kawasan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT). Deklarasi berlangsung meriah di lapangan Doro Ncanga, Desa Doro Peti, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (11 April 2015). Kegiatan Presiden ini termasuk rangkaian peringatan Dua Abad Letusan Tambora yang terjadi pada April 1815.

Bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Pariwisata, Gubernur NTB, dan Bupati Dompu, Presiden menandatangani surat resmi perihal peningkatan status TNGT tersebut. Tak cuma itu, di hadapan ribuan masyarakat yang hadir, Presiden yang juga didampingi Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, menginstruksikan kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Daerah Dompu serta Bima, untuk menjadikan momentum peringatan letusan Tambora sebagai agenda tahunan yang wajib dimeriahkan.

“Saya sudah bisikin ke Menteri Pariwisata, agar setiap tahun ada Festival Tambora. Akan dibiayai dari Pemerintah Pusat, biar semua tahu di mana itu Dompu, Bima, NTB, dan juga Indonesia,” urai Joko Widodo seraya berpesan agar TNGT dijaga dan dirawat, jangan sampai rusak.

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo ketika berada di Doro Peti, Sumbawa, NTB, mendeklarasikan Taman Nasional Gunung Tambora. (Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi)

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo ketika berada di Doro Peti, Sumbawa, NTB, mendeklarasikan Taman Nasional Gunung Tambora. (Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi)

Perhatian Pemerintah terhadap kawasan sekitar Gunung Tambora sebenarnya menambah daftar panjang keterlambatan terhadap upaya pelestarian warisan budaya Tambora. Logikanya, bagaimana mungkin setelah 200 tahun letusan Tambora, “negara” baru hadir dan mendeklarasikan TNGT? Padahal, “orang luar” sudah lebih dulu memberi perhatian bahkan terjun langsung melakukan penelitian di lapangan.

Pertanyaan miris terkait peran negara ini tidak ‘asbun’, asal bunyi. Maklum, sejak tiga sampai empat dasawarsa terakhir, benda-benda berharga yang berasal dari dua kerajaan, Tambora dan Pekat, sudah berhasil ditemukan dan ramai-ramai dimiliki masyarakat. Dua kerajaan ini memang lenyap terkubur seketika, menyusul letusan dahsyat Gunung Tambora yang ukuran daya eksplosif secara vulkanologi atau Volcanic Explosivity Index (VEI) mencapai angka 7. Sebagai perbandingan, letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, hanya memiliki angka VEI 6. Padahal, letusan Krakatau kekuatannya sama dengan 30.000 kali ledakan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang.

Baca tulisan [Dua Abad Letusan Tambora] Menghimpun Peradaban Pompeii dari Timur, yang menjadi Headline Kompasiana edisi Jumat, 10 April 2015.

Fakta tentang maraknya penggalian liar yang dilakukan masyarakat di lereng Tambora, merupakan salah satu yang diungkap Buku Seri Ekspedisi Cincin Api Kompas – TAMBORA MENGGUNCANG DUNIA. Kehadiran buku yang baru diterbitkan 2015 ini oleh Penerbit Buku Kompas ini tak ayal menambah khasanah pengetahuan publik terhadap dua abad letusan Tambora. Buku setebal 80 halaman yang ditulis oleh Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, dan Khaerul Anwar ini terdiri dari enam tulisan feature pendek, yang dikemas secara populer, informatif, edukatif, dan reportase yang faktual.

Penerbitan buku ini momentumnya pas dengan peringatan dua abad letusan Tambora. (Foto: Gapey Sandy)

Penerbitan buku ini momentumnya pas dengan peringatan dua abad letusan Tambora. (Foto: Gapey Sandy)

Cerita tentang awal mula penemuan benda-benda berharga warisan masyarakat dan kerajaan yang terkubur di lereng Tambora misalnya, dapat dijumpai pada bab berjudul Pompeii dari Timur. Disitu disebutkan, jejak berharga penemuan artefak warisan budaya masyarakat sekitar Tambora ditemukan secara kebetulan oleh para pekerja perusahaan kayu PT Veneer Products Indonesia. Perusahaan kayu ini beroperasi di lereng Tambora sejak 1972 karena tegiur dengan Pohon Klanggo (Duabanga moluccana) yang tumbuh lebat.

Suatu sore di tahun 1979, buldoser perata jalan melindas keramik, gerabah, senjata, perhiasan emas dan permata, serta aneka barang berharga lainnya. Temuan ini segera menyedot warga untuk berburu harta di pinggir sungai itu. “Tiba-tiba ratusan orang datang dan menggali di sini,” kisah Suparno, Kepala Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Bima di Oi Bura. “Banyak yang menemukan barang-barang dari emas dan perak, bahkan ada yang menemukan tengkorak manusia.” Sebagian temuan itu disimpan warga hingga kini dan sebagian dijual kepada kolektor yang datang berbondong. (hal. 18)

Singkat cerita, kala itu, kehebohan aktivitas penggalian harta karun ini berhasil dikendalikan aparat keamanan setempat. Seiring kisah itu, dengan cerdik, buku ini menyisipkan kalimat: “Namun, pemerintah masih menutup mata. Tak ada tim arkeolog ataupun pejabat pemerintah yang datang ke Oi Bura untuk menelisik lebih jauh”.

Harta karun masyarakat Tambora memang menyilaukan mata. Ini juga yang membuat Haraldur Sigurdsson, ahli gunung api dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat tertarik menelitinya. Tahun 1986, ia menyimak tentang temuan bersejarah itu. Lalu pada 2004, ia kembali datang ke Tambora didampingi peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Igan S Sutawidjaya. Mereka melakukan penggalian, dan pada kedalaman 3 meter, melewati lapisan piroklastik, batuan apung, abu, dan tanah lempung, ditemukanlah jejak peradaban yang terkubur.

Bab tulisan berjudul Pompeii dari Timur dalam Buku Tambora Mengguncang Dunia. (Foto: Gapey Sandy)

Bab tulisan berjudul Pompeii dari Timur dalam Buku Tambora Mengguncang Dunia. (Foto: Gapey Sandy)

Temuannya antara lain balok kayu bekas rumah yang gosong terarangkan, tembikar, keramik, peralatan rumah tangga, gabah dan kopi yang nyari shangus, perhiasana dari perunggu, juga dua kerangka manusia. Satu kerangka ditemukan persis di depan rumah dalam posisi tertelungkup. “Dia seperti hendak berlari ke luar. Namun, tiba-tiba awan panas menyapu,” tulis Sigurdsson dalam laporannya pada 2007. (hal.19)

Temuan Sigurdsson inilah yang akhirnya semakin membuka mata para vulkanolog dan arkeolog, Tak hanya itu, jejak peradaban ini juga membelalakkan mata dunia. Sejumlah situs asing, pada kurun 2006 lalu, ramai memberitakan hal ini. Misalnya, media sekelas bbc.co.uk yang menulis judul artikel: ‘Pompeii of the East’ Discovered atau Pompeii dari Timur Telah Ditemukan. Begitu juga dengan situs abc.net.au yang menulis dengan judul ’Pompeii of The East’ Found in Indonesia. Situs nationalgeographic.com memuat tulisan berjudul ‘Lost Kingdom’ Discovered on Volcanic Island in Indonesia. Tak mau ketinggalan, jurnalis John Noble Wilford dalam situs The New York Times menulis Under an 1815 Volcano Eruption, Remains of a ‘Lost Kingdom’.

Mengapa dunia menyebut Pompeii dari Timur? Sebenarnya ini hanya mencerminkan perbandingan saja, antara letusan Tambora yang mengubur peradaban sejarah masyarakat dan istana dua kerajaan sekaligus di lereng Tambora, dengan letusan Vesuvius—pada 24 Agustus tahun 79—yang mengubur dua Kota Romawi yaitu Pompeii dan Herculaneum. Jejak peradaban Pompeii akhirnya baru ditemukan pada 1748, menyusul penemuan Herculaneum sepuluh tahun sebelumnya. Temuan hasil penggalian sedalam 4 sampai 6 meter ini kemudian menjadi gambaran Romawi dalam skala kecil, dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia (world heritage site).

Adapun temuan hasil ekskavasi situs Pompeii tersebut berupa puing bangunan majelis rakyat, pemandian umum, vila, jalanan batu, hotel, keramik bergambar, pasar, restoran dan sejumlah lukisan. Saat ini, bekas reruntuhan bangunan dan artefak korban letusan gunung berapi yang direkonstruksi menjadi salah satu lokasi wisata yang menyedot hingga 2,5 juta pengunjung per tahun. Di Pompeii, pengunjung bisa belajar tentang banyak hal, mulai dari soal geologi, arkeologi, hingga sejarah kehidupan masa lalu. (hal.61)

Perbandingan letusan Gunung Api. Tambora berada nomor dua dari kiri. Gunung Tambora nomor dua dari kiri. (Foto: supervolcano.com)

Perbandingan letusan Gunung Api. Tambora berada nomor dua dari kiri. Gunung Tambora nomor dua dari kiri. (Foto: supervolcano.com)

Buku Tambora Mengguncang Dunia juga menurunkan tulisan satu halaman berjudul Pelajaran dari Pompeii. Intinya, mengingatkan semua pihak, bahwa sebenarnya letusan Tambora yang berlipat ganda kekuatannya dibandingkan Gunung Vesuvius—termasuk dampak erupsinya yang mengglobal—, layak memahkotai Gunung Tambora di Sumbawa sebagai salah satu warisan dunia juga. Apalagi, penggalian arkeologi yang terus dilakukan semakin banyak menemukan temuan-temuan jejak peradaban bersejarah yang terkubur letusan gunung ini 200 tahun lampau.

Selain mengulas serba-serbi Gunung Tambora, mulai dari sebelum meletus, kronologi letusan, kekuatan letusan, efek mengglobal yang ditimbulkan, hal-hal yang mengiringi atau terdampak letusan, hingga tulisan penutup yang diberi judul Perjalanan – Menghilang di Tambora, Terlena di Satonda, buku ini juga menukil hikayat tentang kerakusan manusia ‘memangsa’ Pohon Sappan (Sepang) dan Klanggo. Kedua jenis pepohonan ini banyak tumbuh di Sumbawa. Tapi sayang, karena eksploitasi besar-besaran pada 300 tahun silam, kedua pohon ini semakin mengalami kepunahan. Tulisan terkait hal ini dapat ditemukan pada tulisan bernuansa sejarah bisnis pada masa kolonial, yakni Sappan Hancur oleh Manusia. (hal. 58)

Dari sisi pembelajaran sejarah, buku ini semakin kaya karena memuat tulisan berjudul Kesaksian Pribumib (hal. 22), yang isinya memuat legenda rakyat terkait letusan Tambora, mulai dari Kisah Sultan Durhaka, Syair Kerajaan Bima, dan Rekaman Kolonial. Diantara rekaman kolonial tersebut adalah tulisan mengenai kondisi di Makassar, menyusul letusan Gunung Tambora. Tertanggal 12-15 April 1815, rekaman atau catatan tersebut adalah seperti berikut:

“Tanggal 12-15 April udara masih tipis dan berdebu, sinar matahari pun masih terhalang. Dengan sedikit dan terkadang tidak ada angin sama sekali. Pagi hari tanggal 15 April, kami berlayar dari Makassar dengan sedikit angin. Di atas laut terapung batu-batu apung, dan air pun tertutup debu. Di sepanjang pantai, pasir terlihat bercampur dengan batu-batu berwarna hitam, pohon-pohon tumbang. Perahu sangat sulit menembus Teluk Bima karena laut benar-benar tertutup”.

Bagi para calon pendaki Gunung Tambora, meski ketinggian gunung api ini sudah hilang separuhnya (dari 4.200 mdpl menjadi 2.730 mdpl) akibat letusan tahun 1815, tetapi bukan berarti menjadi sepele untuk didaki. Apalagi, dengan kaldera yang terbentuk mencapai diameter 8 km, dengan tinggi dasar kawah mencapai 1.300 mdpl, Gunung Tambora masih sangat menantang nyali, skill dan adrenalin. Tulisan feature menarik tentang kisah perjalanan Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mendaki Gunung Tambora dari dua jalur pendakian yang berbeda—Doro Peti dan Desa Pancasila (Kebun Kopi)—, menjadi pamungkas buku ini dengan segala efek menegangkannya.

Artefak peninggalan bersejarah Pompeii dari Timur yang terkubur dan berhasil ditemukan dalam proses ekskavasi. (Foto: newswise.com)

Artefak peninggalan bersejarah Pompeii dari Timur yang terkubur dan berhasil ditemukan dalam proses ekskavasi. (Foto: newswise.com)

Kenapa tegang? Anda harus membacanya sendiri, bagaimana tim ekspedisi ini dalam pendakiannya harus berjuang menghadapi jelatang atau dalam bahasa lokalnya meladi, yaitu tanaman yang daun dan batangnya berbisa. Juga, terjalnya jalan mendaki dan kegalapan yang nyaris sempurna (demi mengejar sampai ke puncak, sebelum waktu matahari terbit), lengkap dengan udara menipis bercampur belerang serta debu, pada lokasi ketinggian tubir kaldera, sehingga membuat nafas semakin terasa sesak. Belum lagi, cerita tentang seorang anggota tim yang mengalami keseleo kaki namun tetap semangat mendaki hingga puncak. Temukan juga cerita tentang pengalaman tim ekspedisi ketika mulai mengalami krisis air minum, portir yang cukup rewel, dan ada juga yang mengalami tersesat ketika meniti jalur pulang. Pokoknya, buku yang menurut sang editornya, Ahmad Arif, dimaksudkan sebagai bagian dari laporan Ekspedisi Cincin Api Kompas yang dilakukan pada 2011-2012 ini benar-benar seru abis!

Buku dengan perwajahan sampul yang memuat foto pemandangan kaldera Tambora ini patut menjadi bacaan prioritas, bahkan rasanya wajib dimiliki oleh setiap perpustakaan sekolah. Bukan saja untuk semakin mengabarkan peringatan dua abad letusan Gunung Tambora saja, tapi juga, menyemai cinta warisan budaya negeri sendiri. Agar jangan sampai, “orang luar” terpesona dengan Situs Purbakala Tambora, sementara “anak bangsa sendiri”, sama sekali tidak memahaminya. Hendaknya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjembatani agar content buku ini bisa tune in dengan materi kurikulum sekolah, terutama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Toh, buku yang full color ini juga tidak membosankan untuk dibaca, karena memuat banyak foto-foto indah nan luar biasa sepanjang cerita Gunung Tambora dan sekitarnya, termasuk keindahan Danau Satonda yang memiliki air asin.

Untuk itu, akan lebih baik lagi, apabila Pemerintah tidak berhenti pada sekadar mendeklarasikan TNGT dan melaksanakan Festival Tambora sebagai pesta seremonial tahunan saja, tapi juga, menyelamatkan artefak yang sudah ditemukan, yang akan segera ditemukan seiring dilakukannya ekskavasi, dan menghimpun seluruh temuan jejak peradaban Pompeii dari Timur dalam satu museum kebanggaan. Jangan sampai ada lagi cerita, artefak-artefak bersejarah Tambora, apapun bentuknya, berpindah-kepemilikan ke tangan kolektor.

Sedikit masukan untuk buku ini adalah beberapa kalimat yang menjadi lead dan menumpuk di cover depan juga belakang, membuat tampilan desain menjadi kurang artistik. Padahal foto cover sudah teramat cantik dan maksimal. Selain itu, perpindahan dari tulisan pendek satu ke tulisan berikutnya, hendaknya dapat lebih di-lay-out secara apik, sehingga pembaca tidak bingung, tulisan yang tengah dibacanya berasal dari sambungan tulisan sebelumnya yang mana.

Laman situs luar negeri yang menurunkan artikel tentang penemuan peradaban Pompeii dari Timur. (Foto: bbc.co.uk)

Laman situs luar negeri yang menurunkan artikel tentang penemuan peradaban Pompeii dari Timur. (Foto: bbc.co.uk)

Satu lagi, bagus juga rasanya apabila kondisi perkembangan paling aktual terkait dua abad letusan Tambora semakin diaktualisasi dalam buku ini, mulai dari rencana pengembangan TNGT, pemanfaatan acara tahunan Festival Tambora yang dapat lebih menggaungkankan letusan Tambora ke fora internasional, hingga prospek wisata sejarah dan ekologi yang ditawarkan Tambora.

Presiden Joko Widodo menetapkan kawasan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT). Deklarasi berlangsung meriah di lapangan Doro Ncanga, Desa Doro Peti, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (11 April 2015). Kegiatan Presiden ini termasuk rangkaian peringatan Dua Abad Letusan Tambora yang terjadi pada April 1815.

Bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Pariwisata, Gubernur NTB, dan Bupati Dompu, Presiden menandatangani surat resmi perihal peningkatan status TNGT tersebut. Tak cuma itu, di hadapan ribuan masyarakat yang hadir, Presiden yang juga didampingi Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, menginstruksikan kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Daerah Dompu serta Bima, untuk menjadikan momentum peringatan letusan Tambora sebagai agenda tahunan yang wajib dimeriahkan.

“Saya sudah bisikin ke Menteri Pariwisata, agar setiap tahun ada Festival Tambora. Akan dibiayai dari Pemerintah Pusat, biar semua tahu di mana itu Dompu, Bima, NTB, dan juga Indonesia,” urai Joko Widodo seraya berpesan agar TNGT dijaga dan dirawat, jangan sampai rusak.

Perhatian Pemerintah terhadap kawasan sekitar Gunung Tambora sebenarnya menambah daftar panjang keterlambatan terhadap upaya pelestarian warisan budaya Tambora. Logikanya, bagaimana mungkin setelah 200 tahun letusan Tambora, “negara” baru hadir dan mendeklarasikan TNGT? Padahal, “orang luar” sudah lebih dulu memberi perhatian bahkan terjun langsung melakukan penelitian di lapangan.

Kuda menjadi alat transportasi andalan masyarakat sekitar Gunung Tambora, Sumbawa, NTB. (Foto: Gapey Sandy)

Kuda menjadi alat transportasi andalan masyarakat sekitar Gunung Tambora, Sumbawa, NTB. (Foto: Gapey Sandy)

Pertanyaan miris terkait peran negara ini tidak ‘asbun’, asal bunyi. Maklum, sejak tiga sampai empat dasawarsa terakhir, benda-benda berharga yang berasal dari dua kerajaan, Tambora dan Pekat, sudah berhasil ditemukan dan ramai-ramai dimiliki masyarakat. Dua kerajaan ini memang lenyap terkubur seketika, menyusul letusan dahsyat Gunung Tambora yang ukuran daya eksplosif secara vulkanologi atau Volcanic Explosivity Index (VEI) mencapai angka 7. Sebagai perbandingan, letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, hanya memiliki angka VEI 6. Padahal, letusan Krakatau kekuatannya sama dengan 30.000 kali ledakan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang.

Baca tulisan [Dua Abad Letusan Tambora] Menghimpun Peradaban Pompeii dari Timur, yang menjadi Headline Kompasiana edisi Jumat, 10 April 2015.

Fakta tentang maraknya penggalian liar yang dilakukan masyarakat di lereng Tambora, merupakan salah satu yang diungkap Buku Seri Ekspedisi Cincin Api Kompas – TAMBORA MENGGUNCANG DUNIA. Kehadiran buku yang baru diterbitkan 2015 ini oleh Penerbit Buku Kompas ini tak ayal menambah khasanah pengetahuan publik terhadap dua abad letusan Tambora. Buku setebal 80 halaman yang ditulis oleh Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, dan Khaerul Anwar ini terdiri dari enam tulisan feature pendek, yang dikemas secara populer, informatif, edukatif, dan reportase yang faktual.

Cerita tentang awal mula penemuan benda-benda berharga warisan masyarakat dan kerajaan yang terkubur di lereng Tambora misalnya, dapat dijumpai pada bab berjudul Pompeii dari Timur. Disitu disebutkan, jejak berharga penemuan artefak warisan budaya masyarakat sekitar Tambora ditemukan secara kebetulan oleh para pekerja perusahaan kayu PT Veneer Products Indonesia. Perusahaan kayu ini beroperasi di lereng Tambora sejak 1972 karena tegiur dengan Pohon Klanggo (Duabanga moluccana) yang tumbuh lebat.

Suatu sore di tahun 1979, buldoser perata jalan melindas keramik, gerabah, senjata, perhiasan emas dan permata, serta aneka barang berharga lainnya. Temuan ini segera menyedot warga untuk berburu harta di pinggir sungai itu. “Tiba-tiba ratusan orang datang dan menggali di sini,” kisah Suparno, Kepala Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Bima di Oi Bura. “Banyak yang menemukan barang-barang dari emas dan perak, bahkan ada yang menemukan tengkorak manusia.” Sebagian temuan itu disimpan warga hingga kini dan sebagian dijual kepada kolektor yang datang berbondong. (hal. 18)

Singkat cerita, kala itu, kehebohan aktivitas penggalian harta karun ini berhasil dikendalikan aparat keamanan setempat. Seiring kisah itu, dengan cerdik, buku ini menyisipkan kalimat: “Namun, pemerintah masih menutup mata. Tak ada tim arkeolog ataupun pejabat pemerintah yang datang ke Oi Bura untuk menelisik lebih jauh”.

Harta karun masyarakat Tambora memang menyilaukan mata. Ini juga yang membuat Haraldur Sigurdsson, ahli gunung api dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat tertarik menelitinya. Tahun 1986, ia menyimak tentang temuan bersejarah itu. Lalu pada 2004, ia kembali datang ke Tambora didampingi peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Igan S Sutawidjaya. Mereka melakukan penggalian, dan pada kedalaman 3 meter, melewati lapisan piroklastik, batuan apung, abu, dan tanah lempung, ditemukanlah jejak peradaban yang terkubur.

Temuannya antara lain balok kayu bekas rumah yang gosong terarangkan, tembikar, keramik, peralatan rumah tangga, gabah dan kopi yang nyari shangus, perhiasana dari perunggu, juga dua kerangka manusia. Satu kerangka ditemukan persis di depan rumah dalam posisi tertelungkup. “Dia seperti hendak berlari ke luar. Namun, tiba-tiba awan panas menyapu,” tulis Sigurdsson dalam laporannya pada 2007. (hal.19)

Temuan Sigurdsson inilah yang akhirnya semakin membuka mata para vulkanolog dan arkeolog, Tak hanya itu, jejak peradaban ini juga membelalakkan mata dunia. Sejumlah situs asing, pada kurun 2006 lalu, ramai memberitakan hal ini. Misalnya, media sekelas bbc.co.uk yang menulis judul artikel: ‘Pompeii of the East’ Discovered atau Pompeii dari Timur Telah Ditemukan. Begitu juga dengan situs abc.net.au yang menulis dengan judul ’Pompeii of The East’ Found in Indonesia. Situs nationalgeographic.com memuat tulisan berjudul ‘Lost Kingdom’ Discovered on Volcanic Island in Indonesia. Tak mau ketinggalan, jurnalis John Noble Wilford dalam situs The New York Times menulis Under an 1815 Volcano Eruption, Remains of a ‘Lost Kingdom’.

Mengapa dunia menyebut Pompeii dari Timur? Sebenarnya ini hanya mencerminkan perbandingan saja, antara letusan Tambora yang mengubur peradaban sejarah masyarakat dan istana dua kerajaan sekaligus di lereng Tambora, dengan letusan Vesuvius—pada 24 Agustus tahun 79—yang mengubur dua Kota Romawi yaitu Pompeii dan Herculaneum. Jejak peradaban Pompeii akhirnya baru ditemukan pada 1748, menyusul penemuan Herculaneum sepuluh tahun sebelumnya. Temuan hasil penggalian sedalam 4 sampai 6 meter ini kemudian menjadi gambaran Romawi dalam skala kecil, dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia (world heritage site).

Adapun temuan hasil ekskavasi situs Pompeii tersebut berupa puing bangunan majelis rakyat, pemandian umum, vila, jalanan batu, hotel, keramik bergambar, pasar, restoran dan sejumlah lukisan. Saat ini, bekas reruntuhan bangunan dan artefak korban letusan gunung berapi yang direkonstruksi menjadi salah satu lokasi wisata yang menyedot hingga 2,5 juta pengunjung per tahun. Di Pompeii, pengunjung bisa belajar tentang banyak hal, mulai dari soal geologi, arkeologi, hingga sejarah kehidupan masa lalu. (hal.61)

Buku Tambora Mengguncang Dunia juga menurunkan tulisan satu halaman berjudul Pelajaran dari Pompeii. Intinya, mengingatkan semua pihak, bahwa sebenarnya letusan Tambora yang berlipat ganda kekuatannya dibandingkan Gunung Vesuvius—termasuk dampak erupsinya yang mengglobal—, layak memahkotai Gunung Tambora di Sumbawa sebagai salah satu warisan dunia juga. Apalagi, penggalian arkeologi yang terus dilakukan semakin banyak menemukan temuan-temuan jejak peradaban bersejarah yang terkubur letusan gunung ini 200 tahun lampau.

Selain mengulas serba-serbi Gunung Tambora, mulai dari sebelum meletus, kronologi letusan, kekuatan letusan, efek mengglobal yang ditimbulkan, hal-hal yang mengiringi atau terdampak letusan, hingga tulisan penutup yang diberi judul Perjalanan – Menghilang di Tambora, Terlena di Satonda, buku ini juga menukil hikayat tentang kerakusan manusia ‘memangsa’ Pohon Sappan (Sepang) dan Klanggo. Kedua jenis pepohonan ini banyak tumbuh di Sumbawa. Tapi sayang, karena eksploitasi besar-besaran pada 300 tahun silam, kedua pohon ini semakin mengalami kepunahan. Tulisan terkait hal ini dapat ditemukan pada tulisan bernuansa sejarah bisnis pada masa kolonial, yakni Sappan Hancur oleh Manusia. (hal. 58)

Bab tulisan berjudul Letusan Paling Mematikan. (Foto: Gapey Sandy)

Bab tulisan berjudul Letusan Paling Mematikan. (Foto: Gapey Sandy)

Dari sisi pembelajaran sejarah, buku ini semakin kaya karena memuat tulisan berjudul Kesaksian Pribumib (hal. 22), yang isinya memuat legenda rakyat terkait letusan Tambora, mulai dari Kisah Sultan Durhaka, Syair Kerajaan Bima, dan Rekaman Kolonial. Diantara rekaman kolonial tersebut adalah tulisan mengenai kondisi di Makassar, menyusul letusan Gunung Tambora. Tertanggal 12-15 April 1815, rekaman atau catatan tersebut adalah seperti berikut:

“Tanggal 12-15 April udara masih tipis dan berdebu, sinar matahari pun masih terhalang. Dengan sedikit dan terkadang tidak ada angin sama sekali. Pagi hari tanggal 15 April, kami berlayar dari Makassar dengan sedikit angin. Di atas laut terapung batu-batu apung, dan air pun tertutup debu. Di sepanjang pantai, pasir terlihat bercampur dengan batu-batu berwarna hitam, pohon-pohon tumbang. Perahu sangat sulit menembus Teluk Bima karena laut benar-benar tertutup”.

Bagi para calon pendaki Gunung Tambora, meski ketinggian gunung api ini sudah hilang separuhnya (dari 4.200 mdpl menjadi 2.730 mdpl) akibat letusan tahun 1815, tetapi bukan berarti menjadi sepele untuk didaki. Apalagi, dengan kaldera yang terbentuk mencapai diameter 8 km, dengan tinggi dasar kawah mencapai 1.300 mdpl, Gunung Tambora masih sangat menantang nyali, skill dan adrenalin. Tulisan feature menarik tentang kisah perjalanan Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mendaki Gunung Tambora dari dua jalur pendakian yang berbeda—Doro Peti dan Desa Pancasila (Kebun Kopi)—, menjadi pamungkas buku ini dengan segala efek menegangkannya.

Kenapa tegang? Anda harus membacanya sendiri, bagaimana tim ekspedisi ini dalam pendakiannya harus berjuang menghadapi jelatang atau dalam bahasa lokalnya meladi, yaitu tanaman yang daun dan batangnya berbisa. Juga, terjalnya jalan mendaki dan kegalapan yang nyaris sempurna (demi mengejar sampai ke puncak, sebelum waktu matahari terbit), lengkap dengan udara menipis bercampur belerang serta debu, pada lokasi ketinggian tubir kaldera, sehingga membuat nafas semakin terasa sesak. Belum lagi, cerita tentang seorang anggota tim yang mengalami keseleo kaki namun tetap semangat mendaki hingga puncak. Temukan juga cerita tentang pengalaman tim ekspedisi ketika mulai mengalami krisis air minum, portir yang cukup rewel, dan ada juga yang mengalami tersesat ketika meniti jalur pulang. Pokoknya, buku yang menurut sang editornya, Ahmad Arif, dimaksudkan sebagai bagian dari laporan Ekspedisi Cincin Api Kompas yang dilakukan pada 2011-2012 ini benar-benar seru abis!

Buku dengan perwajahan sampul yang memuat foto pemandangan kaldera Tambora ini patut menjadi bacaan prioritas, bahkan rasanya wajib dimiliki oleh setiap perpustakaan sekolah. Bukan saja untuk semakin mengabarkan peringatan dua abad letusan Gunung Tambora saja, tapi juga, menyemai cinta warisan budaya negeri sendiri. Agar jangan sampai, “orang luar” terpesona dengan Situs Purbakala Tambora, sementara “anak bangsa sendiri”, sama sekali tidak memahaminya. Hendaknya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjembatani agar content buku ini bisa tune in dengan materi kurikulum sekolah, terutama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Toh, buku yang full color ini juga tidak membosankan untuk dibaca, karena memuat banyak foto-foto indah nan luar biasa sepanjang cerita Gunung Tambora dan sekitarnya, termasuk keindahan Danau Satonda yang memiliki air asin.

Untuk itu, akan lebih baik lagi, apabila Pemerintah tidak berhenti pada sekadar mendeklarasikan TNGT dan melaksanakan Festival Tambora sebagai pesta seremonial tahunan saja, tapi juga, menyelamatkan artefak yang sudah ditemukan, yang akan segera ditemukan seiring dilakukannya ekskavasi, dan menghimpun seluruh temuan jejak peradaban Pompeii dari Timur dalam satu museum kebanggaan. Jangan sampai ada lagi cerita, artefak-artefak bersejarah Tambora, apapun bentuknya, berpindah-kepemilikan ke tangan kolektor.

Sedikit masukan untuk buku ini adalah beberapa kalimat yang menjadi lead dan menumpuk di cover depan juga belakang, membuat tampilan desain menjadi kurang artistik. Padahal foto cover sudah teramat cantik dan maksimal. Selain itu, perpindahan dari tulisan pendek satu ke tulisan berikutnya, hendaknya dapat lebih di-lay-out secara apik, sehingga pembaca tidak bingung, tulisan yang tengah dibacanya berasal dari sambungan tulisan sebelumnya yang mana.

Satu lagi, bagus juga rasanya apabila kondisi perkembangan paling aktual terkait dua abad letusan Tambora semakin diaktualisasi dalam buku ini, mulai dari rencana pengembangan TNGT, pemanfaatan acara tahunan Festival Tambora yang dapat lebih menggaungkankan letusan Tambora ke fora internasional, hingga prospek wisata sejarah dan ekologi yang ditawarkan Tambora.

* * * * *

Cover depan Buku Tambora Mengguncang Dunia

Cover depan Buku Tambora Mengguncang Dunia

Judul Buku: Tambora Mengguncang Dunia

Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, Khaerul Anwar

Editor: Ahmad Arif

Litbang: Rustiono

Grafis: Gunawan

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tahun: 2015

Halaman: 80 halaman

Ukuran: 17 cm x 24,8 cm

ISBN: 978-979-709-925-1

Iklan