Pemanfaatan air sungai di Sungai Ciliwung, Jakarta. (Foto: grebegairindo.blogspot.com)

Pemanfaatan air sungai di Sungai Ciliwung, Jakarta. (Foto: grebegairindo.blogspot.com)

Terima kasih, air!

Kamu yang selama ini membuat tenggorokanku tidak haus.

Kamu juga yang menjadi sumber kehidupan tanaman.

Tanpamu dunia ini tiada artinya.

Manfaatmu banyak sekali.

Karena kamu aku bisa membuat teh hangat.

Karena kamu juga aku bisa menyantap makanan berkuah.

Karena itu, kamu perlu dijaga dan dilestarikan.

Itulah petikan puisi yang ditulis Farel Aranta, siswa kelas 2 SDN SetiaDarma 01, Bekasi, Jawa Barat, yang dimuat Media Indonesia edisi Minggu, 26 April 2015. Luar biasa bukan? Menggunakan gaya bahasa berpuisinya sendiri, Farel sudah menyadari betapa pentingnya menjaga dan melestarikan air.

Selain mengajak untuk melestarikan air, Farel — yang menuliskan pusinya dengan judul Terima kasih, Air! — juga meluapkan kegalauan hatinya. Terbaca pada bait puisi berikutnya.

Tapi apa?

Manusia kini mengotori sungai dengan sampah.

Dan pabrik mengotorimu dengan limbah,

Tak hanya di sungai dan selokan, tempat lainnya pun menjadi korban.

Kuingin, kamu terus bersih dan lestari.

Bila Farel yang masih kelas 2 SD saja sudah sadar akan pentingnya air untuk kehidupan, dan urgensi menjaga kelestariannya, lantas bagaimana dengan kita? Upaya menjaga kelestarian air musti menjadi kesadaran bersama. Maklum, krisis air sudah bukan isapan jempol belaka. Jangankan di daerah-daerah, bahkan di Jakarta saja tanpa disadari banyak pihak, krisis air semakin hari makin terasa. Salah satu indikasinya, mudah saja. Apa yang disampaikan Farel tentang sampah yang memenuhi sungai, hingga pabrik yang membuang limbah ke sungai, sudah bukan cerita baru. Semua itu mengancam kelestarian air sebagai bagian dari ekosistem yang penting.

Menurut Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Mohammad Hasan, kebutuhan air di Jakarta sampai dengan 2030, diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan domestik. Kebutuhan domestik ini mencakup kebutuhan rumah tangga dan air minum. Saat ini, sebanyak 80 persen dari air baku yang ada, banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan irigasi. Seiring berjalannya waktu dan ledakan jumlah penduduk, ketersediaan air baku terus menyusut. Belum lagi pencemaran sungai dan limbah polutan yang mencemari sungai sangat beresiko tinggi, bila dikonsumsi manusia. Faktanya, karena keterbatasan pasokan air baku yang bersih, warga di sekitar bantaran sungai masih banyak yang memanfaatkan air tersebut untuk air baku termasuk untuk dikonsumsi.

Penggalian dan pengurukan/penimbunan lahan perairan di batas paling Selatan wilayah Situ Cileduk atau Situ Tujuh Muara di Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan oleh developer swasta. Foto diambil Jumat sore, 12 Desember 2014. (Foto: Gapey Sandy)

Penggalian dan pengurukan/penimbunan lahan perairan di batas paling Selatan wilayah Situ Cileduk atau Situ Tujuh Muara di Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan oleh developer swasta. Foto diambil Jumat sore, 12 Desember 2014. (Foto: Gapey Sandy)

Sementara itu, data dari Bappenas menyatakan, terdapat 12 kabupaten/kota yang mengalami defisit air bahkan sejak 2003 lalu. Jumlah ini diyakini bakal meningkat bila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Di Pulau Jawa, pada 2003 ada sekitar 77 persen kabupaten/kota yang mengalami defisit air, dan diperkirakan terus meningkat jadi 78,4 persen pada 2025. Ini artinya, Jawa akan mengalami defisit air sepanjang tahun.

Kondisi yang nyaris sama terjadi di Pulau Dewata. Krisis air yang dialami Bali, salah satunya diakibatkan eksploitasi SDA. Menurut Koordinator Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, Wayan Gendo Suardana, penggunaan air di Bali saat ini telah melampaui kapasitas siklus hidrologi. Akibatnya, secara kuantitas volume dan kualitas air, Bali telah mengalami krisis air. Mengutip data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat, ada 200 lebih atau 60 persen Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengering, dan itu menjadi potensi kelestarian air permukaan. Bahkan, di Kuta dan Suwung, telah terjadi intrusi, satu kilometer di daerah Sanur sampai ke Suwung, dan delapan meter di daerah Kuta, intrusi tersebut terjadi. Dengan kata lain, terjadi penggunaan air bawah tanah yang sifatnya eksploitatif. (KIPRAH Vol. 55, Kementerian PU)

Apa yang terjadi di Bali, sebenarnya sudah diprediksi jauh-jauh hari. Penelitian Kementerian Lingkungan Hidup pada 1997 menyebutkan, Bali akan mengalami krisis air pada 2013, sebanyak 27 miliar liter. Sedangkan ahli hidrologi lingkungan Univesitas Udayana, Wayan Sunartha memperkuat prediksi tersebut dengan menyatakan bahwa, pada 2015 ini Bali mengalami defisit air sebesar 26,7 miliar meter kubik.

Sungai dan Situ Tercemar

Bagaimana contoh penelusuran kondisi pencemaran yang terjadi pada sejumlah sungai? Mari bergeser sedikit dari Jakarta, menuju Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Data terbaru dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) yang disampaikan Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian, Budi Hermanto menunjukkan, tiga sungai yang melintas di Tangsel — yakni Sungai Cisadane, Sungai Angke dan Sungai Pesanggrahan — sudah dalam kondisi tercemar berat!

Pada 2014 kemarin, tiga sungai yang melintas di Kota Tangsel yaitu Sungai Cisadane, Sungai Angke, dan Sungai Pesanggrahan dalam kondisi tercemar berat. (Sumber: BLHD Tangsel)

Pada 2014 kemarin, tiga sungai yang melintas di Kota Tangsel yaitu Sungai Cisadane, Sungai Angke, dan Sungai Pesanggrahan dalam kondisi tercemar berat. (Sumber: BLHD Tangsel)

Data pemantauan yang diambil pada masing-masing empat titik pantau, menunjukkan peningkatan pencemaran pada 2014 dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk analisis air sungai, dilakukan perhitungan dengan metode STORET yang berdasarkan baku mutu kelas II sesuai PP No.82 tahun 2001. Hasil analisis STORET kelas II menghasilkan kesimpulan bahwa, seluruh sungai dalam kondisi tercemar berat dengan skor STORET lebih besar dari sama dengan minus 30 dengan titik cemar tertinggi yaitu di Sungai Cisadane bagian (lokasi pantau) Cisauk, dengan skor mencapai minus 116.

Kenyataan miris juga terjadi pada situ-situ yang ada di Tangsel. Hasil banding pemantauan pencemaran pada 2013 dan 2014 menunjukkan, sembilan situ yang ada sudah tercemar! Situ Parigi, Situ Sasak Tinggi, Situ Rawa Kutuk, Situ Bungur, Situ Rompong dan Situ Kuru sudah tercemar berat untuk lokasi inlet maupun outlet (aliran air masuk ke situ, dan keluar dari situ). Sedangkan Situ Ciledug tercemar berat untuk inlet, dan outlet-nya tercemar sedang. Hanya Situ atau Bendungan Gintung saja yang inlet dan outlet-nya tercemar sedang. Analisis air situ ini dilakukan perhitungan dengan metode STORET berdasarkan baku mutu kelas III sesuai PP No. 82 tahun 2001. Secara umum dapat pula dijelaskan bahwa, kondisi situ yang ada di Tangsel semakin kehilangan empat fungsinya, yaitu fungsi lahan, resapan, daya serap, dan fungsinya yang berubah jadi permukiman.

Kenyataan fungsi situ yang berubah menjadi permukiman memang tak dapat disangkal. Hingga detik ini, silang sengketa mengenai penguasaan lahan situ berlanjut pada pengurukan. Akibatnya, lahan situ menjadi semakin menciut. Ini terjadi pada Situ Ciledug di Pamulang, Tangsel, dimana terjadi pengurukan lahan situ oleh pengembang yang bernafsu membangun perumahan. [Baca telusuran penulis di Situ Ciledug atau Situ Tujuh Muara, di sini dan di sini]. Kejadiannya berlangsung sejak tahun lalu, dan kini menurut Kepala BLHD Tangsel, Rahmat Salam, pihak Pemkot Tangsel telah melimpahkan kasusnya kepada pihak Pengacara Negara untuk memperjuangkan dugaan pengurukan dan pengrusakan situ tersebut.

Memang, tidak tanggung-tanggung, pihak pengembang yang berdalih memiliki sertifikat kepemilikan lahan kini telah menguruk rata dengan tanah merah sebagian lokasi situ pada sisi paling ujung di kawasan Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Tangsel. Atas pengurukan tersebut, sanksi pidana bisa saja diberlakukan dengan mengacu pada Pasal 52 UU No.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang berbunyi, “Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air juncto Pasal 94 ayat (1)”.

Belum selesai dugaan kasus pengurukan lahan situ oleh pengembang ini, berlangsung pula pengurukan pada lokasi yang lain, masih pada situ yang sama, Situ Ciledug. Menurut Ganespa, forum aktivis peduli lingkungan setempat, pengurukan dilakukan untuk dipergunakan membangun sebuah pusat perbelanjaan khusus material bangunan berikut pernak-perniknya.

Pada 2014 kemarin, sembilan situ yang ada di Kota Tangsel dalam kondisi tercemar sedang sampai berat. (Sumber: BLHD Tangsel)

Pada 2014 kemarin, sembilan situ yang ada di Kota Tangsel dalam kondisi tercemar sedang sampai berat. (Sumber: BLHD Tangsel)

Kondisi memprihatinkan terjadi juga di Situ Kuru atau Situ Legoso, yang berlokasi tak jauh dari Universitas Islam Negeri ‘Syarif Hidayatullah’, di Ciputat, Tangsel. [Baca telusuran penulis mengenai kondisi Situ Kuru atau Situ Legoso, di sini]. Di situ ini, lahannya sudah nyaris tak berbentuk situ lagi. Hanya ada tanah urukan, dan pencaplokan lahan situ oleh warga masyarakat. Termasuk, adanya rumah yang dibangun menjorok ke atas permukaan air Situ Kuru atau Situ Legoso. Tak ada lagi garis batas sempadan situ. Sebagian besar sudah menjadi hunian dan lokasi pembuangan sampah warga sekitar.

Selain pencemaran sungai dan situ yang ada di seantero Tangsel, kini kondisi kota yang baru berusia enam tahun dan merupakan hasil pemekaran Kabupaten Tangerang ini semakin parah karena ancaman limbah industri. Menurut BLHD Tangsel, telah terjadi pergeseran isu-isu seputar lingkungan dalam skala nasional. Mulai dari isu lama yakni pencemaran air, pencemaran udara, loss of biodiversity, kerusakan hutan, kerusakan pantai dan lautan, urbanisasi yang terkait sampah juga air limbah, serta bencana lingkungan, menjadi ke isu anyar yaitu e-waste atau limbah elektrik dan elektronik, limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang didalamnya termasuk medical waste, dan isu global dalam hal ini perubahan iklim.

“Parahnya, limbah di Kota Tangsel, mayoritas adalah limbah B3. Rinciannya, 90 persen adalah limbah rumah tangga, dan 10 persen itu limbah industri, mulai dari rumah sakit, klinik, sarana pelayanan kesehatan dan sebagainya. Meski hanya 10 persen, tapi potensi kerusakan limbah industri itu jauh lebih besar bila dibandingkan dengan yang 90 persen limbah dari rumah tangga,” ujar Budi Hermanto ketika berbicara pada Pelatihan Pengawasan Pengendalian Pencemaran Berbasis Masyarakat di BSD City, 27 April kemarin.

Upaya Melestarikan Air

Meski banyak cerita tak sedap mengenai pencemaran air di Tangsel, tetapi bukan berarti tidak ada hal-hal positif dan inspiratif yang dilakukan masyarakat untuk melestarikan air. Misalnya saja, seperti yang dilakukan di Pengolahan Air Besih (PAB) atau Water Treatment Facility milik Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Jalan Raya Puspiptek, Serpong, Tangsel. Lokasi PAB agak jauh dari akses pintu masuk Puspiptek, termasuk harus melintasi jalan beraspal yang kanan-kirinya masih berupa ‘hutan’ menghijau. Disebut ‘hutan’ karena memang, 60 persen dari total lahan kawasan Puspiptek Serpong adalah lahan terbuka hijau.

Berawal dari penyedotan air Sungai Cisadane yang dialirkan ke bak pengendapan kotoran kasar, termasuk lumpur. (Foto: Gapey Sandy)

Berawal dari penyedotan air Sungai Cisadane yang dialirkan ke bak pengendapan kotoran kasar, termasuk lumpur. (Foto: Gapey Sandy)

Penulis menyaksikan sendiri, lokasi PAB memang cukup luas. Kompleksnya dikelilingi pagar besi, sehingga tidak sembarang orang (maupun hewan) dapat masuk dan keluar secara leluasa. Sebelum memasuki pintu gerbang PAB, ada Pos Keamanan yang bersiaga 24 jam.

PAB milik Puspiptek menyedot air dari Sungai Cisadane. Sedotannya mencapai 90 hingga 100 liter per detik, yang kemudian dialirkan ke dalam bak pengendapan. Kotoran kasar, termasuk lumpurnya akan mengendap ke dasar bak pengendapan, sedangkan airnya akan terus mengalir ke bak pengaduk air. Pada saat airnya mengalir itulah, dibubuhkan tawas yang kadarnya disesuaikan dengan hasil pantauan para peneliti di ruang kendali PAB.

Pada bak pengaduk air, terdapat 12 mesin pengaduk yang bekerja sesuai instruksi masing-masing. Ada yang putaran adukan airnya kencang, sedang, hingga perlahan. Putaran adukan kencang atau kecepatan tinggi, membuat kotoran yang terkandung dalam air daoat cepat mengendap. Sedangkan putaran adukan air yang semakin perlahan, membuat kotoran-kotoran yang halus pun akan segera ikut mengendap dan tidak muncul kembali ke permukaan air.

Selesai melakukan treatment pada bak pengaduk, air kemudian dialirkan menuju ke bak sedimentasi untuk semakin mengendapkan kotoran-kotoran halus ke dasar bak. Secara kasat mata, di bak sedimentasi kotoran halus ini saja sudah terlihat, warna air yang bersumber dari Sungai Cisadane yang semula coklat keruh mulai berubah menjadi bening.

Bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa. (Foto: Gapey Sandy)

Bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa. (Foto: Gapey Sandy)

Air yang mulai berubah bening kemudian dialirkan lagi ke menuju proses treatment berikutnya, yaitu bak filterisasi. Ada enam bak filterisasi yang ada di PAB Puspiptek. Dari sini, air di’steril’kan dengan pemberian Kaporit dan Soda Ash di bak penampungan. Takaran kedua zat kimia ini disesuaikan dengan hasil pantauan yang dilakukan para peneliti. Lokasi bak penampungan sekaligus tempat pemberian kaporit dan soda ash cukup “tersembunyi”. Untuk menuju ke bak penampungan ini, harus menuruni anak tangga, dan di “basement” itulah bak penampungan berada. Jernihnya air berikut “wangi” akibat water treatment melalui pemberian kaporit dan soda ash cukup tercium segar “menyergap” hidung. Mencium aromanya, sekilas teringat wangi air yang biasa tercium di kolam renang.

Di bak penampungan akhir tadi — dimana air yang sudah jernih itu diberikan kaporit dan soda ash sesuai takaran yang terkontrol — air bersih sudah siap didistribusikan. Kontras sekali, air Sungai Cisadane yang semula keruh dan kotor telah berubah menjadi jernih dan wanginya “segar”. Dari sini, air hasil proses treatment yang masih menggunakan pola konvensional ditampung terlebih dahulu di bak penampungan dalam tanah. Ada dua bak penampungan yang nampak menyembul dari rerumputan. Ukuran dua bak penampungan dalam tanah itu, kira-kira luasnya seukuran lapangan bulutangkis.

Bermula dari bak penampungan dalam tanah inilah, air kemudian disalurkan menuju ke bak penampungan yang bentuknya tower atau menara yang menjulang tinggi, dan berada di tengah-tengah kawasan Puspiptek. Tower ini mirip dengan senter batere raksasa yang bulat di ujungnya. Menara bak penampungan air ini memiliki sistem sensor otomatis, artinya, kalau air di menara bak penampungan sudah penuh, maka secara otomatis, suplai distribusi air dari pompa di PAB berhenti bekerja. Begitu pun apabila debit air di menara bak penampungan berkurang isinya, maka secara otomatis pula, pompa “penembak” suplai air dari PAB akan bekerja maksimal untuk segera mengisinya.

Setelah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Dari atas tower penampungan air inilah, berdasarkan gaya gravitasi bumi, maka air didistribusikan ke seluruh kawasan yang ada di Puspiptek, mulai dari perkantoran, laboratorium, hingga ke perumahan Puspiptek. Asal tahu saja, ada sekitar 700 rumah yang ada di kawasan perumahan Puspiptek. Andai saja di setiap rumah terdapat empat anggota keluarga, maka total terdapat 2.800 jiwa di perumahan tersebut yang kebutuhan airnya disuplai dari hasil PAB Puspiptek. Jumlah ini, belum termasuk SDM yang berkantor di kawasan Puspiptek, yang jumlahnya mencapai sekitar 8.000 karyawan. Air yang didistribusikan tentu saja harus dimasak terlebih dahulu, sebelum dapat dikonsumsi.

Luar biasa bukan?

Setelah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Penulis juga menyimak secara langsung upaya melestarikan air yang dilakukan oleh pengelola Gedung New Media Tower (NMT) milik Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Scientia Garde, Jalan Boulevard Gading Serpong, Tangerang, Banten. Ada yang unik dari NMT ini, sebab dari kejauhan, gedungnya berbeda dengan gedung-gedung lainnya. NMT berbentuk seperti batu koral yang oval, berwarna abu-abu, dan mirip kepompong. Diresmikan oleh Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama, pada September 2012 lalu, setahun kemudian gedung ini meraih juara pertama Gedung Hemat Energi pada Penghargaan Efisiensi Energi Nasional pada 2013. Lalu, pada September 2014, Gedung NMT kembali meraih penghargaan sebagai Energy Efficient Building kategori Tropical Building yang dilombakan pada ASEAN Energy Award 2014 di Vientiane, Laos.

Terkait pelestarian air, upaya yang dilakukan pengelola Gedung NMT adalah mendaur ulang limbah air yang biasanya justru dibuang percuma. Building Manager Kampus UMN, Sudarman Sutanto mengemukakan, limbah air yang berasal dari seluruh area gedung yang ada, baik itu limbah air hujan maupun air buangan dari urinoar toilet, tidak asal dibuang begitu saja. Tetapi, UMN menyediakan sebuah wadah khusus untuk melakukan proses daur ulang limbah air. Hasil akhir daur ulang limbah air ini kemudian dipergunakan untuk beberapa keperluan, seperti menyiram tanaman, pembilasan toilet, juga untuk memfungsikan sistem pendingin ruangan.

Di basement ini terdapat unit pengolahan limbah air yang didaur ulang untuk kemudian dipergunakan kembali seperti misalnya untuk menyiram tanaman, dan membilas toilet. (Foto: Gapey Sandy)

Di basement ini terdapat unit pengolahan limbah air yang didaur ulang untuk kemudian dipergunakan kembali seperti misalnya untuk menyiram tanaman, dan membilas toilet. (Foto: Gapey Sandy)

“Seluruh limbah air dari gedung ini, baik itu air hujan, maupun air dari limbah toilet, kami lakukan proses daur ulang di basement gedung, dan dipergunakan untuk penyiraman taman, dan pembilasan toilet. Air hasil daur ulang juga difungsikan untuk sistem pendingin ruangan,” jelasnya sembari menyatakan, air untuk mencuci tangan, keperluan urinoar dan berwudhu, murni menggunakan air PAM.

Pengelola Gedung UMN juga melakukan ‘penampungan’ air hujan. Caranya, untuk limbah air hujan, dibuat sumur-sumur resapan atau semacam lubang biopori tapi berukuran lebar, yakni 1,2 meter dengan kedalaman antara enam sampai delapan meter. “Sumur-sumur resapan ini ada sekitar 20-an unit, dan sengaja kami buat di sekeliling lokasi gedung. Selain itu, limbah air hujan juga kami alirkan melalui kanal yang kami bangun, dan untuk selanjutnya, limbah air hujan ini akan dikembalikan meresap lagi ke dalam tanah,” jelas Sudarman kepada penulis.

Air hasil daur ulang dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman rerumputan dan pepohonan yang ada di lantai 3. (Foto: Gapey Sandy)

Air hasil daur ulang dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman rerumputan dan pepohonan yang ada di lantai 3. (Foto: Gapey Sandy)

Tentu, masih banyak lagi upaya pelestarian air yang dilakukan banyak pihak di berbagai tempat

Eksploitasi AMDK

Salah satu isu yang selalu menguat terkait ‘Nasib Air’ masa kini adalah eksploitasi SDA melalui pemanfaatannya sebagai air minum dalam kemasan (AMDK). Konsultan ahli sosial ekonomi lingkungan pada Proyek Penguatan Pengelolaan Hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Berbasis Masyarakat, Fauzi Sutopo, empat tahun lalu pernah memaparkan bahwa analisis pemanfaatan SDA di DAS Cisadane Hulu yang bernilai ekonomis relatif tinggi adalah produk AMDK. Lebih spesifik lagi, kemasan botol dan gelas, yang ternyata secara keseluruhan cukup banyak, yaitu mencapai 3.933.460 meter kubik per tahun. Jumlah ini mengindikasikan bahwa air yang berasal dari air baku dari hulu Gunung Gede-Pangrango dan hulu Gunung Salak — yang termasuk DAS Cisadane — memang bak mutiara mengkilap atau barang komersial bernilai tinggi.

Tidak hanya DAS Cisadane, di beberapa daerah di Jawa Timur, seperti Malang, Pasuruan, dan Batu, yang berlokasi di lereng Gunung Arjuno dan Gunung Semeru, ribuan warga masyarakat setiap tahunnya mengalami paceklik air bersih. Di Umbulan, Pasuruan misalnya, masyarakat secara berkala menderita akibat krisis air bersih, sementara ironisnya, sumber air yang ada di sumber itu dijual oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Surabaya dan Sidoarjo. Ditambah lagi, ratusan perusahaan AMDK mengeksploitasi air bawah tanah di wilayah setempat atas nama kepentingan bisnis. Akibatnya, sejumlah akademisi di Malang, Jawa Timur, sempat mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk menghentikan izin eksploitasi air untuk kepentingan bisnis. Termasuk diantaranya Dekan FE UIN Malang, Muhtadi Ridwan, yang berujar bahwa, air seharusnya menjadi milik bersama, dan dikelola negara sesuai UUD ’45 Pasal 33. Dengan begitu, sumber mata air dan air tanah tidak dapat lagi dijadikan komoditas dalam mencari keuntungan guna mencegah krisis air bersih.

Kondisi perairan di Bendungan Gintung yang sempat jebol dan menimbulkan korban jiwa maupun harta benda, pada 2009 lalu. (Foto: Gapey Sandy)

Kondisi perairan di Bendungan Gintung yang sempat jebol dan menimbulkan korban jiwa maupun harta benda, pada 2009 lalu. (Foto: Gapey Sandy)

Peringatan terhadap eksploitasi air untuk AMDK sah-sah saja disuarakan. Meski sebenarnya, semua pasti sudah ada aturan main dan norma hukumnya. Sebut saja misalnya, para pelaku usaha AMDK diwajibkan untuk tak kenal lelah melakukan program konservasi lahan, baik penanaman pohon atau tidak melakukan pembukaan lahan hutan yang masih ada saat ini. Apalagi, untuk program semacam ini terdapat payung hukum yang menaungi, seperti UU No.28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; dan, UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Seperti termuat dalam Pasal 67 UU No.32 Tahun 2009 yang berbunyi: “Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran da/atau kerusakan lingkungan hidup”. Sedangkan Pasal 68 lebih menjelaskan detil, “Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban: (a) memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu. (b) menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup, dan. (c) menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.

AQUA Lestari

Terkait hal ini, Danone Group — sebagai induk perusahaan AQUA Group — yang salah satunya memproduksi AMDK bermerek AQUA, teramat sangat menyadari akan pentingnya program pengelolaan dan konservasi baku mutu lingkungan hidup.

Bahkan, sejak 1972, Danone Group telah memiliki Dual Commitment yang artinya seiring sejalan melakukan pencapaian kinerja ekonomi sambil tetap memperhatikan aspek sosial. Inilah pendekatan bisnis yang mengkombinasikan tujuan ekonomi dengan tujuan sosial dan lingkungan, melalui empat pilar prioritas strategis yakni pertama, Kesehatan (Health), dimana AQUA Group antara lain, berupaya untuk memenuhi komitmennya dengan memastikan produk yang dihasilkan sehat dan berkualitas. Bahkan, upaya tersebut dilakukan sejak pengambilan air baku dari sumbernya, sampai proses produksi dan pengemasan. Kedua, Lingkungan Hidup (Nature). Dalam kaitan ini, AQUA Group diantaranya berkontribusi terhadap pengelolaan DAS di lokasi pabriknya. Melalui program AQUA Lestari diharapkan kualitas dan kuantitas air tanah dapat terus terjaga sehingga semua pihak dapat memanfaatkannya secara optimal. Ketiga, Manusia (People), dimana dalam pilar ini, AQUA Group melakukan dua inisiatif sekaligus yakni pemberdayaan karyawan sebagai asset perusahaan, dan inisiatif sosial yang dilakukan karyawan bersama pemangku kepentingan lain. Dan pilar keempat, Untuk Semua (For All), yang menjadi strategi Danone Group untuk menjangkau konsumen dari berbagai kalangan.

Papan besi yang memberikan informasi tentang Situ Cileduk. Meski tak terawat dan penuh corat-coret, tapi masih tergambar peta area Situ Cileduk, dan luas yang dikerjakan yaitu 13 hektar. Pemkot Tangsel perlu membuat papan informasi baru untuk ini. (Foto: Gapey Sandy)

Papan besi yang memberikan informasi tentang Situ Cileduk. Meski tak terawat dan penuh corat-coret, tapi masih tergambar peta area Situ Cileduk, dan luas yang dikerjakan yaitu 13 hektar. Pemkot Tangsel perlu membuat papan informasi baru untuk ini. (Foto: Gapey Sandy)

Khusus mengenai Program AQUA Lestari, adalah merupakan praktik Corporate Social Responsibility (CSR) dari AQUA Group yang berakar pada komitmen pimpinan DANONE, Antoine Riboud, tentang Dual Commitment perusahaan. Pemikiran ini sepaham dengan pemikiran pendiri AQUA, Bapak Tirto Utomo yang senantiasa teguh memegang prinsip bahwa bisnis harus memberikan kontribusi sosial bagi masyarakat luas. Klop!

Kedua pemikiran ini kemudian diartikulasikan dalam Program AQUA Lestari yang dikembangkan sejak 2006 lalu sebagai payung inisistif keberlanjutan dengan menggunakan DANONE WAY dan ISO 26000 sebagai referensi. AQUA Lestari direalisasikan dengan melaksanakan berbagai inisiatif sosial dan lingkungan yang mencakup wilayah sub DAS secara terintegrasi dari wilayah hulu, tengah, dan hilir di lokasi AQUA Group beroperasi. Berbagai inisiatif tersebut berada di bawah empat pilar, yaitu Pelestarian Air dan Lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk, juga, Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Wujud nyata dari empat pilar tersebut, misalnya adalah kesadaran tinggi AQUA Group untuk gemar melakukan penanaman konservasi pohon, di lokasi pabrik operasional AQUA. Tercatat, sejak 2003 hingga 2009, AQUA Group telah menanam 314.600 pohon, lalu pada 2010 menanam 370.077 pohon, dan 2013 lalu menanam 368.972 pohon.

Baru-baru ini, tepatnya Sabtu, 25 April 2015, AQUA Group mengajak sejumlah blogger dari Kompasiana — bahagian dari Kompas Group — untuk berkunjung langsung ke salah satu Pabrik AQUA Group yang ada di Ciherang, Sukabumi, Jawa Barat.

Kegiatan distribusi di Pabrik AQUA Ciherang, Sukabumi. (Foto: fjb.kaskus.co.id)

Kegiatan distribusi di Pabrik AQUA Ciherang, Sukabumi. (Foto: fjb.kaskus.co.id)

Berbagai fakta dan data menarik disampaikan kepada para penulis blog tersebut, utamanya menyangkut Program AQUA Lestari yang tentu saja berkaitan dengan program CSR dimana berkaitan erat dengan hajat hidup masyarakat sekitar. Misalnya, melatih masyarakat sekitar untuk mengolah tanah lahan menjadi produktif; mengolah limbah sampah organik menjadi kaya manfaat dan dapat digunakan sebagai pupuk organik; melibatkan masyarakat melestarikan air yang melimpah dengan cara sederhana, misalnya membuat Lubang Resapan Biopori; membina masyarakat mengelola Bank Sampah; membuat peternakan kecil sekaligus membuat kompos pupuk organik dari kotoran hewan; membina masyarakat mengolah hasil pertanian yang melimpah agar nilai jual dapat tinggi; memberi pemahaman kecintaan lingkungan terhadap anak-anak usia sekolah di wilayah sekitar; program pengumpulan botol AQUA bekas; dan, membina para pemulung untuk bermitra sebagai pendaur ulang wadah AQUA bekas.

Di Pabrik AQUA Ciherang, tidak hanya dilakukan konservasi pembibitan dan penanaman pohon saja, AQUA Group juga bekerjasama dengan Yayasan Gamelina mengembangkan juga berbagai produk perkebunan dan pertanian organik yang bernilai tinggi dan membawa imbas kesejahteraan ekonomi kepada masyarakat sekitar. Rumah Usaha Pancawati yang digagas secara bersama juga memproduksi aneka panganan olahan dalam kemasan — seperti Keripik Pepaya yang alami tanpa bahan pemanis dan pengawet —, yang merupakan produk turunan dari hasil para petani binaan AQUA Group. Bahkan dengan brand ‘Tani Maju’, para petani binaan AQUA Group berhasil memproduksi Pupuk Organik Cair yang menggunakan bahan baku urine dan kotoran hewan, dalam hal ini domba.

Tak heran, lantaran geliat Program AQUA Lestari yang sedemikian komprehensif dan berdayaguna bagi masyarakat sekitar itulah, maka Pabrik AQUA Ciherang bersama tiga pabrik lainnya — Pabrik AQUA Subang, Wonosobo, dan Mambal —, pada tahun 2014 kemarin berhasil meraih penghargaan The La Tofi School of CSR karena dinilai telah memberikan kontribusi bagi pengurangan perubahan iklim. Penghargaan disampaikan langsung Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Irman Gusman, di Jakarta.

Kegiatan pembibitan pohon di Rumah Usaha Pancawati. Salah satu program petani binaan dari Program CSR dari AQUA Group melalui Program AQUA Lestari. (Foto: Ngesti Setyo Moerni)

Kegiatan pembibitan pohon di Rumah Usaha Pancawati. Salah satu program petani binaan dari Program CSR dari AQUA Group melalui Program AQUA Lestari. (Foto: Ngesti Setyo Moerni)

Secara tematik, keempat Pabrik AQUA ini berhasil melakukan upaya konservasi SDA terpadu melalui sejumlah program yang aplikatif untuk masyarakat setempat. Pabrik AQUA Subang menggelar Program bertajuk Konservasi Berbasis Masyarakat di Hutan Banceuy, dan Pabrik AQUA Ciherang dengan Program Kampung Sehat. Sedangkan inisiatif pengelolaan sampah terpadu dilaksanakan Pabrik AQUA Mambal melalui Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Tanah Lot, sedangkan Pabrik AQUA Wonosobo sukses mewujudkan Program Kejiwan Berkarya.

Melalui Sustainability Report 2012 yang dipublikasikan melalui situs resminya, AQUA Group menyatakan kepeduliannya yang tinggi akan perlindungan air tanah dalam. Sebagai pemimpin pasar dalam industri AMDK, merupakan kewajiban bagi AQUA Group untuk memastikan pengelolaan dan pendayagunaan Sumber Daya Alam yang dimanfaatkannya secara berkesinambungan. Sedangkan untuk kebijakan perlindungan SDA AQUA didasarkan pada empat hal yakni: Menjamin kemurnian dan kualitas sumber air dalam rangka menjamin kualitas dan keamanan produk demi kepuasan pelanggan; Menjaga kelestarian SDA; Berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di wilayah operasi; dan, Melindungi serta turut mempromosikan adat dan cagar budaya di sekitar wilayah operasi.

Salah satu contoh konkret AQUA Group melindungi sumber air adalah dengan membangun Water Conservation Master Plan (WCMP), yang sekaligus menjadi panduan perusahaan dalam mengadakan berbagai program kegiatan dan pelestarian air dan lingkungan. Sebagai proyek percontohan, WCMP telah diterapkan di empat lokasi sub-DAS di Mekarsari, Klaten, Pandaan, dan Keboncandi, yang fokus pada pengelolaan hutan di sekitar keempat WCMP tersebut.

Kepedulian AQUA Group terhadap pelestarian air sebagai bagian dari ekosistem ini memang membanggakan, sekaligus patut menjadi teladan!

Danone AQUA, merek yang selalu peduli kelestarian air. (Foto: ceritayuni.blogdetik.com)

Danone AQUA, merek yang selalu peduli kelestarian air. (Foto: ceritayuni.blogdetik.com)

Alhasil, menutup artikel mengenai pelestarian air ini, penulis menukil program PBB yang telah mencanangkan, bahwa sepanjang kurun 2005 – 2015 sebagai ‘International Decade for Action : Water for Life’. Artinya, dalam dasawarsa tersebut segala kegiatan difokuskan pada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya air untuk kehidupan. Tentu saja, caranya melalui berbagai upaya yang bertujuan menyelamatkan fungsi dan ketersediaan air. Hal ini sangat bermanfaat sekali, mengingat air merupakan kebutuhan hidup yang sanga vital bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Tanpa ada air, tidak akan ada kehidupan. Meski di sisi lain, SDA global dewasa ini semakin mengalami kondisi yang kritis menuju genting.

Termenung lagi kita, menghayati bait puisi Farel Aranta,

Karena itu, kamu perlu dijaga dan dilestarikan

Kuingin, kamu terus bersih dan lestari

ooooo O ooooo

Catatan:

AQUA

AQUA 2

Tulisan ini menjadi juara pertama KOMPASIANA blog competition, 8 – 30 April 2015, dengan tema “Mari Lestarikan Air Bersama AQUA”. Alhamdulillah …

Iklan