Para pembicara talkshow Kuldesak Tambora. Dari kiri ke kanan Dr Indyo Pratomo, Dr Surono, Drs Sonny Wibisono, Drs I Made Geria, Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin. (Foto: Gapey Sandy)

Para pembicara talkshow Kuldesak Tambora. Dari kiri ke kanan Dr Indyo Pratomo, Dr Surono, Drs Sonny Wibisono, Drs I Made Geria, Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin. (Foto: Gapey Sandy)

Kapan persisnya peristiwa meletusnya Gunung Tambora, berhasil terungkap lantaran naskah-naskah kuno yang hingga kini masih tersimpan rapi. Rincian kronologis letusan Tambora yang memiliki skala 7 secara Volcanic Explosivity Index (VEI) ini tertulis dalam Syair Kerajaan Bima. Ditulis dalam bahasa Melayu, tapi syair tersebut bertuliskan Arab. Intinya, antara lain menyebutkan, letusan Tambora yang banyak memakan korban jiwa, terjadi terus-menerus selama tiga hari dua malam, tepatnya pada April 1815.

Paparan sejarah yang sangat penting ini disampaikan Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin SH, salah seorang keturunan Raja Bima terakhir, dan memiliki sekaligus merawat naskah-naskah kuno tersebut. “Saya menyimpan naskah-naskah kuno yang terbit pada abad ke-17 sampai 19. Diantara isi naskah tersebut, ada yang menuliskan letusan Gunung Tambora. Informasi tentang Tambora ini, sebenarnya saya sudah baca sejak 1992. Tapi, hanya sekadar sebagai berita saja. Artinya, saya tidak tahu seberapa besar dampak dan jumlah korban akibat letusan Tambora. Catatan dalam naskah tersebut berisi tentang kejadian letusan Tambora, yang sesuai penanggalan Arab, terjadi pada Rabiul Awal 1230 Hijriyah. Kalau kita konversi ke tahun masehi, maka jatuh pada tahun 1815 Masehi,” tuturnya.

Maryam menyampaikan isi naskah kuno tersebut ketika menjadi pembicara dalam talkshow bertajuk “Tambora dari Perspektif Mitologi, Arkeologi dan Kesejarahan, Geologi dan Mitigasi Kegunungan” yang diselenggarakan KOMPAS Gramedia di Bentara Budaya Jakarta, pada Jumat, 17 April 2015.

Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin, salah seorang keturunan Raja Bima. (Foto: Gapey Sandy)

Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin, salah seorang keturunan Raja Bima. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut Maryam lagi, dalam naskah kuno tersebut dapat diilustrasikan apa yang disaksikan dan dirasakan masyarakat kala itu. “Dalam naskah tercantum bahwa, ketika Subuh, langit kembali gelap gulita, lebih-lebih pada malam hari. Tiba-tiba, terdengar letusan-letusan seperti bunyi meriam, bagaikan ada orang berperang. Lalu kemudian dilanjutkan dengan jatuhnya debu, abu, dan batu kerikil, seperti dituang dari langit. Kejadian itu berlangsung selama tiga hari dua malam, terus menerus. Sehingga masyarakat bingung, takdir Allah apakah ini? Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Setelah terang hari, barulah terlihat rumah dan pekarangan hancur semua. Rupanya, inilah pecahnya Gunung Tambora, yang mengakibatkan habis mati orang [Kerajaan] Tambora, dan orang [Kerajaan] Pekat,” tutur Maryam.

Letusan Tambora memang membuat dunia tersentak. Tidak saja Indonesia yang mengalami dampaknya, tapi juga dunia global pun terimbas perubahan iklim, yang terkenal dengan ‘Tahun Tanpa Musim Panas’ atau A Year Without Summer. Hal ini terutama melanda benua Eropa dan Amerika. Sampai akhirnya, fokus untuk mengeksplorasi serba-serbi letusan Tambora semakin banyak dicari para peneliti. Salah satunya dilakukan oleh Haraldur Sigurdsson, volcanologist dari University of Rhode Island, Amerika Serikat.

“Pada 2004, saya didatangi oleh Profesor Sigurdsson, waktu itu saya masih tugas di Mataram, beliau datang khusus mencari saya. Katanya, dunia ini penasaran mengenai letusan Tambora. Dunia ingin tahu, apa yang ada sebelum meletusnya Gunung Tambora itu. Dari situ, saya mulai tahu, bahwa letusan Tambora ternyata begitu hebat,” kisah Maryam lagi.

Dari pertanyaan Sigurdsson itulah, Maryam kemudian menelisik kembali isi naskah kuno Syair Kerajaan Bima. “Dari naskah itu terdapat penjelasan bahwa sebelum Tambora meletus, di sekitar itu ada dua kerajaan yang lokasinya paling dekat dengan gunung. Yaitu, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Jumlah penduduknya ada ribuan orang dengan berbagai usia. Nah, sewaktu Tambora meletus, rupanya dua kerajaan ini terhapus sama sekali, sampai tidak ada satu orang pun rakyatnya yang ketinggalan [terselamatkan]. Selain dua kerajaan itu, ada lagi Kerajaan Sanggar yang tidak terlalu terkena dampak letusan Tambora. Tadinya, rakyat dua kerajaan [Tambora dan Pekat] ingin lari ke Sanggar, tapi tidak sempat [atau gagal], sehingga dalam perjalanan mereka meninggal akibat kelaparan. Ada juga yang menyebutkan, akibat peristiwa ini, masyarakat Tambora tinggal tersisa empat orang. Namun, keempatnya tidak diketahui kemana larinya dan bagaimana pula nasibnya,” tutur Maryam yang banyak menerima tamu peneliti Gunung Tambora, tidak saja dari lokal tapi juga mancanegara.

Drs I Made Geria (kiri) ketika menyampaikan paparannya dalam talkshow Kuldesak Tambora. Sementara sebelah kanan adalah Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin SH, salah seorang keturunan dari Raja Bima. (Foto: Gapey Sandy)

Drs I Made Geria (kiri) ketika menyampaikan paparannya dalam talkshow Kuldesak Tambora. Sementara sebelah kanan adalah Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin SH, salah seorang keturunan dari Raja Bima. (Foto: Gapey Sandy)

Kisah Penemuan Artefak

Sementara itu, I Made Geria selaku Kepala Puslit Arkenas menceritakan pengalaman perdananya ketika memimpin ekscavasi Situs Tambora. “Awal mula melakukan ekscavasi di Tambora, saya meminta petunjuk terlebih dahulu dengan Ibu Siti Maryam. Waktu itu, kami bertemu di Mataram. Kemudian, ketika terjun ke lokasi penggalian, waktu itu tahun 2006. Turut bersama saya, Pak Indyo Pratomo. Di lokasi, kami menyaksikan sendiri betapa tutupan galian itu sangat tinggi sekali. Kata Pak Indyo, melakukan 25 meter baru menemukan artefak yang terkubur. Akhirnya, karena tinggi sekali tutupan tanahnya, maka kami memutuskan untuk melakukan penggalian yang bekas diporak-porandai Haraldur Sigurdsson, dan kebetulan yang kita gali itu juga bekas dilindas oleh alat berat proyek swasta yang dipergunakan untuk membuat jalan. Jadi semua sudah dalam kondisi terbuka. Waktu itu, kami menemukan artefak rumah masyarakat. Kita bersyukur menemukan ikatan atap rumah seperti yang ada di rumah-rumah adat Bali,” ujar Made Geria memberi kesaksian.

Dikatakannya lagi, tim ekscavasi Situs Tambora yang melanjutkan penggalian pada tahun berikutnya, menemukan kerangka manusia. Menariknya, kerangka ini menunjukkan ciri-ciri ‘orang dalam’ kerajaan, karena ditemukan pula beberapa atribut yang biasa dipergunakan oleh raja-raja Tambora.

“Tahun berikutnya, dengan peneliti yang lebih banyak, kita menemukan kerangka manusia, yang lengkap dengan atribut seperti misalnya membawa keris. Penemuan keris ini seperti yang dipergunakan oleh raja-raja Bima. Tapi, ketika penggalian terus dilakukan, kami tidak menemukan rumah istana. Sebab, rumah istana di Bima harus memiliki atap bersusun tiga. Jadi, apabila itu adalah seorang anggota kerajaan, kenapa orang tersebut ada di rumah warga, bukan di istana? Saya berkesimpulan bahwa, pada masa letusan Tambora itu, Kerajaan Tambora sudah melakukan mitigasi bencana, dengan mengirim seorang utusan raja ke wilayah pemukiman rakyat itu,” ujar Made Geria sembari menemukan juga artefak berupa rumah panggung sekitar enam unit. “Uniknya, meski bentuknya seperti rumah panggung, tapi kunci-kunci di daun pintunya sudah menggunakan kunci rumah modern. Mungkin, ini pengaruh dari pedagang asal Eropa yang berniaga di Tambora. Temuan ini juga membuat saya berkesimpulan, bahwa masyarakat Tambora bukan hanya masyarakat agraris saja, tapi juga masyarakat pedagang yang menghidupkan home industry-nya. Ini diperkuat dengan temuan artefak berupa alat-alat tenun. Setiap unit rumah, ditemukan dua alat tenun. Kalau kita terus gali, tentu akan banyak lebih banyak menemukan artefak. Sengaja dihentikan dulu agar tidak rusak lokasi situsnya”.

Ketika melakukan penggalian, Made Geria juga selalu bertindak penuh kehati-hatian. Misalnya, ini dilakukan ketika tim ekscavasi berhasil menemukan cincin. “Supaya tidak menimbulkan kehebohan, dan justru mengundang masyarakat untuk juga melakukan penggalian, sehingga khawatir membuat rusak alam lingkungan, ketika kami menemukan cincin, sengaja saya memerintahkan kepada sejumlah masyarakat yang berada di lokasi penggalian, untuk mencari daun yang dapat mengobati (sakit) perut. Sengaja saya perintahkan seperti itu, padahal sebenarnya hanya karena kami menemukan cincin, dan hal ini jangan sampai diketahui secara luas oleh masyarakat demi menjaga hal-hal tak diinginkan, seperti penggalian liar oleh masyarakat. Selain itu, kami juga menemukan tali tambang yang biasa dipergunakan untuk mengikat kuda. Semua ini menjadi indikasi kehidupan masyarakat Tambora,” jelas penulis buku Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora ini.

Aneka artefak hasil penggalian di situs Tambora sepanjang 2007 sampai 2013. Artefak ini tersimpan di Balai Arkeologi Denpasar, Bali. (Foto: Gapey Sandy)

Aneka artefak hasil penggalian di situs Tambora sepanjang 2007 sampai 2013. Artefak ini tersimpan di Balai Arkeologi Denpasar, Bali. (Foto: Gapey Sandy)

Dari berbagai temuan artefak itu, menurut Made Geria, pihaknya memperkirakan, lokasi pusat Kerajaan atau Kesultanan Tambora kemungkinan berada di rumah Belanda di wilayah kebun kopi yang ada saat ini. “Karena di rumah Belanda itu tempatnya tinggi, sehingga dengan posisi seperti ini strategis kalau kita melihat ke Pelabuhan Kenanga. Jadi, kalau orang berdiri di rumah Belanda itu, dapat mudah melihat kapal-kapal yang akan menuju ke pelabuhan. Arealnya juga luas. Selain itu, kita temukan juga benteng yang tradisional di Pelabuhan Kenanga. Dan saya tanya ke Prof Sigurdsson, dia juga menyetujui itu, walaupun setelah dites nampaknya menurut beliau, tanahnya itu sudah pernah ‘terganggu’. Yang menjadi pertanyaan juga, kenapa sejak zaman dulu, Belanda selalu mengincar tanah Tambora yang ada di lokasi itu. Mulai dari 1897 setelah berakhirnya efek letusan Tambora, mereka membuat kebun kopi di sana, lalu berlanjut 1902, dan 1930,” urai mantan Kepala Balai Arkeologi Denpasar ini.

Turut berbicara pada talkshow ini Drs Sonny Wibisono MA DEA (Arkeolog Puslit Arkenas, dan kini mengepalai penggalian ekscavasi Tambora), Dr Indyo Pratomo (peneliti dari Museum Geologi Bandung), dan Dr Surono selaku Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Talkshow dipandu Ahmad Arif, wartawan Kompas yang juga editor dan tim penulis buku Tambora Mengguncang Dunia.

Agenda Acara Kuldesak Tambora

Selain talkshow—yang menjadi bahagian dari acara KULDESAK TAMBORA Memperingati Dua Abad Letusan Tambora, dan berlangsung hingga 26 April 2015 di Bentara Budaya Jakarta—, sejumlah event lain juga digelar. Seperti, talkshow bertajuk Anak Gunung Bercerita tentang Gunung Mereka, yang akan dilaksanakan Kamis, 23 April (14.00 wib). Akan tampil para pembicara seperti As’ad (Desa Sanggar, Tambora), Bambang Kriwil dan Sriyanto (Merapi), Tanto Mendut dan Sujono (Komunitas 5 Gunung), dan Samudi (Liyangan, Sindoro).

Sedangkan pada Jumat, 24 April (14.00 wib) digelar bedah buku Tambora Mengguncang Dunia, dan Workshop Geotrek Perjalanan Menafsir Bumi. Akan berbicara pada sessi ini, Ahmad Arif (editor dan tim penulis buku Tambora Mengguncang Dunia), Dr Indyo Pratomo (peneliti dari Museum Geologi Bandung), dan T. Bachtiar (pakar Geografi dan penulis buku Geotrek Perjalanan Menafsir Bumi).

Secara keseluruhan, acara Pameran, Pergelaran dan Talkshow Kuldesak Tambora – Memperingati Dua Abad Letusan Tambora ini (sesuai tema) menempatkan Gunung Tambora sebagai fokus hajatan. Tetapi, pameran dan pergelaran kesenian yang terkait dengan tradisi gunung juga dilengkapi denan paparan beberapa gunung api lain yang dianggap fenomenal untuk skala regional maupun global. Sebut saja misalnya, Gunung Samalas (Lombok), Gunung Agung (Bali), Gunung Merapi (Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta), Gunung Ijen (Jawa Timur), Gunung Krakatau (Selat Sunda) dan Gunung Toba (Sumatera Utara).

Peninggalan masa lalu. Dari kiri ke kanan: Tali perangkap menjangan, tanduk rusa, keris, dan naskah kuno. (Foto: Gapey Sandy)

Peninggalan masa lalu. Dari kiri ke kanan: Tali perangkap menjangan, tanduk rusa, keris, dan naskah kuno. (Foto: Gapey Sandy)

Khusus untuk Pameran ‘Kuldesak Tambora’, pengunjung dapat menyaksikan delapan aspek yang ditampilkan, yaitu pertama, teks-teks lama dan literatur Gunung Tambora, Babad Bima, Syair Kerajaan Bima, dan berbagai publikasi kuno dalam bahasa daerah Bima. Semua ini adalah koleksi milik ilmuwan Dr Hj Siti Maryam M. Salahuddin SH, salah seorang pewaris Kerajaan Bima. Kedua, tentang proses letusan yang dipamerkan dalam bentuk infografik dan foto. Ketiga, mengenai dampak letusan terhadap tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Tambora, Pekat, dan Sanggar. Keempat, dampak letusan berdasarkan kajian vulkanologi dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang disampaikan dalam bentuk foto maupun infografik kepada pengunjung.

Dalam infografik Dampak Letusan Tambora di Indonesia, dipaparkan tentang kondisi sebagian besar kepulauan di Indonesia yang menjadi gelap karena abu yang dikeluarkan Tambora. Diantaranya disebutkan, Bali, Lombok dan pulau-pulau di sebelah barat Sumbawa, juga Sulawesi Selatan, tertutup abu dengan ketebalan mencapai 20 – 30 cm. Hal ini karena angin membawa abu ke arah barat laut. Banyaknya abu yang jatuh di Bali dan Lombok mengakibatkan gagal panen. Bali dan Lombok menjadi tergantung pada Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan beras. Jumlah korban letusan Tambora di Bali dan Lombok diperkirakan mencapai 200.000 jiwa.

Selimut debu juga menghancurkan tanaman dan sumber air. Penyakit diare dan demam mewabah dimana-mana. Air bersih sulit didapat, begitu juga makanan. Untuk menyelamatkan diri, penduduk keluar pulau secara besar-besaran. Sekitar 37.000 orang pergi meninggalkan Sumbawa menuju Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, Makassar, Laut Seram, dan tempat lain. Penduduk Sumbawa pun berkurang sekitar 84.000 orang dari 170.000 orang.

Selain itu, tsunami berskala sedang melanda pantai di sejumlah kepulauan Indonesia pada 10 April dengan ketinggian hingga 4 meter di Sanggar. Tsunami setinggi 1 – 2 meter dilaporkan terjadi juga di Besuki, Jawa Timur, sebelum tengah malam. Di Kepulauan Maluku, tinggi gelombang mencapai 2 meter.

Adapun infografik Dampak Global Letusan Tambora antara lain menyebutkan, di Amerika dan Eropa, tahun 1816, tidak mengalami musim panas. Kondisi suhu sangat dingin, yakni lebih rendah 2,5 derajat Celsius dari kondisi normal. Tanaman mati dan gagal panen. Harga pangan melambung tinggi, dan kelaparan terjadi dimana-mana. Di Connecticut, Amerika Serikat, pada 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan terjadi, dan pada hari-hari berikutnya hampir seluruh New England dilanda dingin. Banyak ternak mati sepanjang 1816-1817 di New England.

Kutipan Syair Kerajaan Bima tentang awal dan terjadinya letusan Tambora. (Foto: Gapey Sandy)

Kutipan Syair Kerajaan Bima tentang awal dan terjadinya letusan Tambora. (Foto: Gapey Sandy)

Di Jerman, krisis terjadi. Harga makanan melonjak tajam. Demonstrasi terjadi di depan pasar dan toko roti, diikuti kerusuhan, pembakaran, perampokan di kota-kota Eropa. Itulah kelaparan terburuk pada abad 19. Termasuk di Irlandia Utara, kelaparan terjadi setelah kegagalan panen gandum, oat, dan kentang. Penyimpangan iklim menjadi penyebab wabah typhus di tenggara Eropa dan Laut Tengah bagian timur antara 1816 hingga 1819.

Aspek kelima yang ditampilkan dalam Pameran ‘Kuldesak Tambora’ adalah ulasan mengenai pengaruh letusan ke wilayah lain terutama benua Eropa. Keenam, mengenai Kerajaan Sanggar dengan bukti-bukti petilasan sejarah dan artefak-artefaknya. Ketujuh, keindahan alam dan mitigasi. Sedangkan kedelapan, menampilkan potret enam gunung dalam bentuk infografis dan artefak.

Dalam pameran, para seniman dari Gunung Agung (Bali), Samalas (Lombok), Tambora (Sumbawa), dan Gunung Merapi (Jateng – DIY) mempertontonkan berbagai atraksi kesenian menarik.

o o o O o o o

Iklan