Peta Pulau Sumbawa dimana Gunung Tambora berada. (Foto: Google Earth)

Peta Pulau Sumbawa dimana Gunung Tambora berada. (Foto: Google Earth)

Jumat, 10 April 2015 ini, tepat dua abad meletusnya Gunung Tambora. Letusan gunung api setinggi 2.730 meter dari permukaan laut (mdpl) yang berada di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini, memiliki banyak catatan luar biasa sekaligus mengerikan. Sebut saja misalnya, pertama, dari segi kedahsyatan letusan. Gunung Tambora yang meletus pada April 1815 menyalip letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883. Meskipun, letusan Gunung Tambora masih belum seberapa, bila dibandingkan letusan maha dahsyat Gunung Toba di Sumatera Utara, pada sekitar 75 ribu tahun lampau.

Di Indonesia, setidaknya ada 127 gunung api aktif tersebar dari ujung Barat sampai Timur. Seperti disampaikan dalam tayangan youtube Ekspedisi Cincin Api yang diunggah KompasTVNews, potensi letusan gunung-gunung ini amat dahsyat. Tak salah, kalau tiga ledakan gunung terbesar di planet bumi, berasal dari gunung yang ada di Indonesia, yaitu Gunung Toba, Tambora, dan Krakatau.

Masing-masing gunung memiliki indeks teratas dari ukuran vulkanologi, yang disebut Volcanic Explosivity Index (VEI). Gunung Toba yang meletus sekitar 75 ribu tahun lalu memiliki angka VEI 8, dan merupakan indeks tertinggi letusan gunung yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia. Sementara Gunung Tambora memiliki indeks angka letusan atau VEI 7. Sedangkan letusan Gunung Krakatau, konon setara dengan 30.000 kali kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. Gunung Krakatau dengan ketinggian 813 mdpl ini memiliki angka VEI 6.

Gunung Tambora kehilangan separuh ketinggiannya pasca letusan. Kaldera luas yang terbentuk pasca letusan Gunung Tambora pada April 1815 silam. (Foto: indonesiaarchipelago.com)

Gunung Tambora kehilangan separuh ketinggiannya pasca letusan. Kaldera luas yang terbentuk pasca letusan Gunung Tambora pada April 1815 silam. (Foto: indonesiaarchipelago.com)

Bandingkan dengan letusan Gunung Agung di Karangasem, Bali pada Agustus 1963 yang tercatat memiliki VEI 4, sama dengan letusan Gunung Awu di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Maret 1966, dan letusan Gunung Kelud di Jawa Timur, pada April 1966 juga.

Kedua, dari korban jiwa yang ditimbulkan. Jumlahnya, menurut perkiraan buku Tambora Mengguncang Dunia (2015) terbitan Penerbit Buku Kompas, sekitar 79.000 jiwa melayang. Tidak saja akibat terkena dampak lontaran benda-benda vulkanik Gunung Tambora—yang sebelum meletus tingginya mencapai 4.200 mdpl—, tapi juga terjangan wedus gembel alias awan panas. Berapa panasnya? Suhunya mencapai 1.000 derajat Celsius! Kecepatan pergerakannya pun sangat tinggi, hingga 700 km/jam.

Ketiga, letusan Gunung Tambora pada 200 tahun lalu itu, tercatat langsung melenyapkan dua kerajaan sekaligus, yaitu Tambora dan Pekat. Dua kerajaan ini memang berada pada posisi Gunung Tambora berada. Sedangkan Kerajaan Sanggar, meski menderita sedemikian parah akibat dampak letusan, tetapi masih dapat terselamatkan.

Selain itu, masih di dalam negeri, dari kronologi letusan dapat diketahui, sebenarnya sejak 1812 letusan-letusan kecil Gunung Tambora sudah terjadi. Kemudian, pada 5 April 1815, suara letusan terdengar bahkan sampai ke Makassar, Sulawesi, Batavia (kini Jakarta), dan Ternate di Maluku Utara. Barulah pada 10-11 April 2015, letusan Gunung Tambora mencapai puncaknya. Bunyi letusannya terdengar sampai ke Bangka dan Bengkulu (Sumatera). Gempa vulkaniknya terasa sampai ke Surabaya, Madura, dan Banyuwangi. Bahkan, Pulau Madura lumpuh tertutup abu selama tiga hari. Tak hanya Madura, abu vulkanik juga mencapai Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan, merusak tanaman dan memicu gagal panen di banyak daerah.

Ilustrasi Gunung Tambora sebelum dan sesudah letusan pada dua abad lampau. (Foto: Litbang Kompas)

Ilustrasi Gunung Tambora sebelum dan sesudah letusan pada dua abad lampau. (Foto: Litbang Kompas)

Keempat, tak salah apabila disebut ‘Letusan Tambora Mengguncang Dunia’. Karena dampak letusannya bahkan terasa sampai ke daratan Benua Eropa dan Amerika. Aerosol sulfat yang diembuskan gunung ini ketika meletus sanggup menutupi langit Eropa. Akibatnya, sinar matahari menjadi terhalang, dan sepanjang tahun itu, Eropa tidak merasakan musim panas sama sekali. Buntutnya, kelaparan dan kematian melanda, akibat pertanian dan perkebunan gagal panen. Letusan Tambora telah memicu krisis kemanusiaan terbesar di Eropa pada era modern. Ketika itu pula, lahir novel horor ilmiah yang melegenda karya Mary Godwin yaitu Frankenstein, yang menceritakan tentang penciptaan manusia.

‘Kelahiran’ Frankenstein bermula pada musim panas 1816, ketika Mary yang berusia 18 tahun berlibur bersama pasangannya Percy Bysshe Shelley ke Danau Geneva di Swiss. Tapi, bukan keceriaan suasana musim panas yang keduanya nikmati. Sebaliknya, justru suasana muram. “Segalanya basah, musim panas tak bersahabat, dan hujan yang tiada henti membuat kami hanya meringkuk di dalam rumah,” kenang Mary. Di pinggir danau Geneva, pada tahun suram itu, Mary mendapatkan inspirasi atas novel horor ilmiah Frankenstein itu. Mary selesai menulisnya pada Mei 1817, dan terbit perdana pada 1 Januari 1818.

Tahun 1816 itu, tak ada sama sekali musim panas di Swiss. Salju turun nyaris sepanjang tahun. Udara lebih dingin dari biasanya. Sinar matahari hilang entah ke mana. Kelaparan merajalela membunuh banyak warga. Di Kota Appenzeller, jumlah orang tewas pada tahun itu mencapai 10.000 jiwa, atau dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pemerintah Swiss mengumumkan situasi darurat nasional. (Tambora Mengguncang Dunia, hal. 26)

Kelima, sejak letusan Gunung Tambora pada April 1815, terjadi perubahan iklim di dunia. Penyebabnya, aerosol sulfat yang ’ditiupkan’ Gunung Tambora. Dampaknya, ternyata tidak sebentar. Karena sepanjang 1816, dunia menyebutnya sebagai tahun tanpa musim panas. Selain mengakibatkan gagal panen di Benua Eropa dan Amerika, ternyata efeknya juga membuat arah Angin Muson berubah. Apa imbasnya? Terjadi banjir di saat musim kemarau. Terutama ini melanda India, Pakistan, dan Bangladesh. Wabah penyakit kolera pun menyebar dari India sampai ke Rusia. Amazing!

Hujan deras mendera sebuah pemukiman di pinggang Tambora sesaat sebelum gunung api itu bererupsi dahsyat. Lalu, hujan abu dan gemuruh mulai meneror warga untuk lekas mengungsi. Malangnya, luncuran awan panas telah menerjang pemukiman sebelum semua warga meninggalkan desa. (Lukisan Sandy Solihin yang menjadi cover depan Majalah National Geographic, edisi April 2015)

Hujan deras mendera sebuah pemukiman di pinggang Tambora sesaat sebelum gunung api itu bererupsi dahsyat. Lalu, hujan abu dan gemuruh mulai meneror warga untuk lekas mengungsi. Malangnya, luncuran awan panas telah menerjang pemukiman sebelum semua warga meninggalkan desa. (Lukisan Sandy Solihin yang menjadi cover depan Majalah National Geographic, edisi April 2015)

* * * * *

Catatan miris di atas, tak pelak membuat momentum 200 tahun meletusnya Gunung Tambora menjadi sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, dilakukan sejumlah penggalian di lokasi sekitar Gunung Tambora. Penggalian dilakukan masyarakat guna mencari dan menemukan berbagai artefak dan benda-benda berharga, dari dua kerajaan yang hilang terkubur letusan Gunung Tambora. Hasilnya memang terbukti. Masyarakat banyak menemukan berbagai benda-benda kuno dari peradaban masa lampau. Sayangnya, penemuan ini tidak disimpan rapi, melainkan dijual ketika ada kolektor benda antik yang menawar dengan harga pantas. Maka, beralih tanganlah artefak berharga tersebut.

Beruntung ada Tim Ekskavasi Situs Tambora dari Balai Arkeologi Denpasar, Bali. Tim ini melakukan penggalian, dan menemukan artefak demi artefak peninggalan masyarakat Kerajaan Tambora, yang terkubur di kedalaman tanah setelah dilanda letusan Gunung Tambora dan terjangan awan panas. Hingga pertengahan 2014, tim diketuai oleh Drs I Made Geria M.Si. Pria kelahiran Denpasar, 1 Januari 1962 ini bekerja sepenuh hati, demi menemukan kembali peradaban yang hilang di sekitar Gunung Tambora. Hingga akhirnya, tepat 18 Juni 2014, Mendikbud kala itu, Muhammad Nuh, melantik I Made Geria sebagai Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Kemendikbud.

Pada Rabu siang, 8 April 2015 kemarin, pejabat eselon II di Kemendikbud ini menjawab pertanyaan penulis via telepon genggamnya. Dari nada bicaranya, I Made Geria memang selalu penuh semangat. Semakin ia berapi-api ketika menyampaikan rencananya, untuk meneruskan menggali dan menemukan peradaban masyarakat sekitar Gunung Tambora yang hilang. “Menarik, ada yang menyebut temuan tentang peradaban ini sebagai Pompeii Dari Timur,” ujarnya.

Drs I Made Geria, Kepala Pusat Arkeologi Nasional Kemendikbud. (Foto: KompasTVNews)

Drs I Made Geria, Kepala Pusat Arkeologi Nasional Kemendikbud. (Foto: KompasTVNews)

Berikut kutipan wawancaranya:

Kapan terakhir Anda melakukan penggalian, dan apa saja temuan terbaru serta terakhir?

Saya melakukan penggalian terakhir itu pada 2014, sebelum diangkat sebagai Kepala Pusat Arkeologi Nasional oleh Mendikbud waktu itu. Temuan-temuan terakhir yang diperoleh sama saja dengan penggalian sebelumnya, seperti misalnya bangunan kayu, rumah-rumah nusantara. Terakhir, masyarakat juga menemukan ada kerangka manusia, lengkap dengan tombak, keris, dan peralatan lainnya. Ini ditemukan oleh masyarakat dan diangkat. Nah, kita dilaporkan perihal temuan tersebut, yang kemudian oleh Balai Arkeologi Denpasar, Bali, yang memang berwenang pada wilayah tersebut, langsung melakukan pengecekan di lapangan.

Nah, tahun 2015 ini, mungkin kita akan menelusuri itu, misalnya untuk mengetahui dimana pemukiman masyarakat (yang terkubur akibat letusan Gunung Tambora – red). Sebelumnya, prediksi kita memperkirakan bahwa yang struktur bangunan yang ditemukan ini adalah sebuah kawasan pemukiman. Sedangkan kalau bisa kita prediksikan, lokasi yang sekarang menjadi tenpat berdirinya rumah Belanda, maka bisa saja, justru disitu juga terdapat bangunan istana pada masa lalu. Karena umumnya, pemukimannya berbentuk melingkar dan mengelilingi istana itu. Barangkali, begitu. Kita baru bisa memprediksi, karena belum menemukan lokasi letak istana pada masa lalu tersebut. Karena biasanya, rumah kolonial itu dibangun di atas lokasi bangunan yang telah ada sebelumnya. Hal seperti ini, sudah banyak contohnya.

Kapan tepatnya bakal mulai dilakukan penggalian lagi tahun ini?

Kalau semuanya lancar, maka rencana Pusat Arkeologi Nasional bersama pihak-pihak terkait akan mulai melakukan penelitian lagi pada 13 April 2015.

Penggalian ini memang menarik perhatian seluruh dunia. Apalagi ada dua kerajaan yang hilang terkubur akibat letusan Gunung Tambora. Bisa Anda jelaskan kerajaan itu?

Dari tiga kerajaan yang ada di sekitar Gunung Tambora, ada dua kerajaan yang hilang, yaitu Kerajaan Tambora, dan Kerajaan Pekat. Sedangkan Kerajaan Sanggar, selamat dari timbunan abu vulkanik, dan dahsyatnya serangan awan panas. Karena lokasinya cukup jauh dari Gunung Tambora, maka Kerajaan Sanggar hanya terdampak sangat keras. Meski ada juga yang meninggal dunia akibat dampak letusan gunung, tetapi sampai saat ini pun masih ada keluarga keturunan dari Kerajaan Sanggar yang masih hidup.

Sejumlah artefak peninggalan masyarakat Kerajaan Tambora yang terkubur dan hilang akibat letusan Gunung Tambora, pada April 1815 silam. (Foto: URI News Bureau)

Sejumlah artefak peninggalan masyarakat Kerajaan Tambora yang terkubur dan hilang akibat letusan Gunung Tambora, pada April 1815 silam. (Foto: URI News Bureau)

Soal bangunan istana yang terkubur akibat letusan Gunung Tambora tadi, menurut Anda, apa kepentingan paling utama untuk menemukan lokasi bangunan istana masa lalu tersebut?

Kalau ada orang yang menanyakan kepada saya, apa kepentingannya melakukan penggalian seperti ini, tentu jawaban saya adalah demi menemukan peradaban yang hilang. Meskipun untuk di wilayah Indonesia, peradaban yang dimaksud tidak seperti Kota Pompeii yang bangunannya megah. Tetapi ada juga ternyata yang menyebut bahwa penggalian di sekitar Gunung Tambora juga telah berhasil menemukan Pompeii Dari Timur.

Selain menemukan peradaban yang hilang, penggalian juga dilakukan untuk menemukan kembali warisan budaya Indonesia yang terkubur ini. Karena, dari warisan budaya ini, banyak menyimpan kearifan budaya lokal. Salah satu contoh adalah, di Kerajaan Tambora itu ternyata diketahui bukan saja sebagai kerajaan agraris di wilayah pegunungan. Karena dapat dipastikan, Kerajaan Tambora ini juga memiliki kemampuan perdagangan. Misalnya, mulai dengan melakukan perdagangan ke wilayah Bima, dan dari Bima kemudian produk-produk tersebut diekspor. Selain itu, Kerajaan Tambora juga mengembangkan perdagangan di wilayahnya sendiri. Apalagi, kerajaan ini istimewa karena strategis, terutama karena dua pelabuhannya yang selalu ramai, salah satunya Pelabuhan Kenanga.

Termasuk fakta temuan-temuan keramik asal Negeri Cina itu ya Pak?

Temuan-temuan penggalian berupa keramik asal Negeri Cina juga memiliki kaitan yang erat dengan perdagangan. Termasuk, kuda-kuda peliharaan yang sangat terkenal itu, dan kemudian diekspor melalui Bima. Kuda-kuda yang hebat itu kebanyakan bukan berasal dari Bima, tapi dari wilayah kerajaan di sekitar Gunung Tambora, yang kini terkubur akibat letusan gunung pada dua abad lampau.

Semua ini menandakan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) Kerajaan Tambora, sangat baik sekali. Termasuk, dapat bersaing dengan kerajaan-kerajaan lain yang berada di sekitarnya.

Pak Made Geria, dari artefak yang ditemukan, dan yang masih akan berusaha ditemukan, berapa perbandingan prosentase keduanya?

Benda-benda yang terkubur akibat letusan Gunung Tambora dan sudah berhasil ditemukan, bila dibandingkan dengan begitu luasnya Kerajaan Tambora, boleh dibilang masih sangat kecil sekali jumlahnya. Taruhlah, luas Kerajaan Tambora itu mencapai sekitar 500 hektar, dan penggalian yang kita lakukan baru sebagian kecil saja. Sebenarnya, (lokasi penggalian – red) ini ‘kan tanah negara. Maka sebaiknya, negara melakukan zoning terkait tanah ini. Sehingga nantinya, masyarakat tidak asal menggali dan mengangkat temuan-temuan yang terkubur dari dalam tanah. Ini penting, karena penggalian yang dilakukan dan akan dilakukan, dapat menemukan rumah peradaban Tambora. Sasarannya, bagaimana masyarakat saat ini dapat belajar dari kearifan lokal dan peradaban masyarakat Tambora masa lalu. Misalnya, belajar bagaimana beradaptasi antara manusia dengan alam. Apalagi, untuk saat ini, masyarakat sekitar sudah tidak lagi memanfaatkan pelabuhan untuk perdagangan demi memajukan kesejahteraan negeri, memanfaatkan wilayah agraris, dan sebagainya. Semuanya ini, sekarang justru sudah lost, hilang. Nah, kearifan-kearifan lokal seperti ini yang akan terus kita gali dan pelajari.

Penemuan kerangka manusia, dan struktur banguna rumah kayu khas Kerajaan Tambora. (Foto: Rik Stoetman)

Penemuan kerangka manusia, dan struktur banguna rumah kayu khas Kerajaan Tambora. (Foto: Rik Stoetman)

* * * * *

Ketika meletus, Gunung Tambora kehilangan separuh dari ketinggian dan volumenya. Kini, tingginya mencapai 2.730 mdpl. Kaldera yang terbentuk berdiameter 8 km. Sedangkan tinggi dasar kawah mencapai 1.300 mdpl.

Iklan