Archives for the month of: Mei, 2015

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Itulah kalimat yang ditulis Novelis yang juga Esais, Pramoedya Ananta Toer (1925 – 2006) dalam novelnya, Rumah Kaca. Tak sulit untuk mencerna apa yang dimaksudkan oleh Pram. Seseorang atau suatu kaum boleh saja mati dan tergantikan zaman, tapi apa-apa saja yang ditulisnya akan tetap abadi. Hampir senada, sastrawan Helvy Tiana Rosa pernah menyatakan, “Tulisan kita tak akan mati, bahkan bila kita mati”.

Kekuatan dahsyat dari menulis ini juga yang coba disadarkan Much. Khoiri dalam lembar-lembar awal bukunya yang berjudul Rahasia TOP Menulis. Penulis dan dosen Sastra Inggris, Creative Writing, dan Kajian Budaya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini menggantungkan asa tinggi-tinggi, agar nantinya setelah para pembaca tuntas meresapi kandungan buku—yang diterbitkan PT Elex Media Komputindo (2014)—ini, maka kobaran api semangat menulis kian menjilat-jilat. Kobaran api itu menyala-nyala dalam bentuk karya-karya tulis yang bermutu, entah itu tulisan ilmiah, atawa tulisan kreatif.

Ketika peresensi tengah menuntaskan resensi buku setebal xiv + 202 halaman ini, Khoiri justru makin sibuk beranjangsana guna mempromosikan bukunya. Salah satunya, dengan menjadi narasumber talkshow di Radio Suara Akbar Surabaya (SAS) FM, Jawa Timur. Inilah jua yang membedakan antara penulis buku-buku praktis ber“modus” Belajar Menulis, yang berlatar-belakang writer murni dan tumbuh besar di ranah media massa, dengan Khoiri yang merupakan writer dengan embel-embel seorang lecturer, dosen. Bila penulis yang malang-melintang di media-media, “modus” Belajar Menulis yang disampaikan dalam bukunya, kira-kira hanya bersifat (bimbingan) teknis sekaligus menyodorkan beberapa contoh karya tulis yang pernah dimuat penulisnya. Beda dengan Khoiri, melalui buku Rahasia TOP Menulis yang merupakan kumpulan sebanyak 42 tulisan pendeknya ini, bukan semata mengedepankan tentang apa dan bagaimana menulis. Lebih dari itu, penulis buku yang juga blogger sejati dengan produktif menulis di blog sosial Kompasiana ini menyuguhkan tiga bab dalam bukunya dengan pengayaan berbagai pengalaman dan ilmu pengetahuan.

Buku Rahasia TOP Menulis karya Much. Khoiri. (Foto: Akun Facebook Syaf Anton)

Buku Rahasia TOP Menulis karya Much. Khoiri. (Foto: Akun Facebook Syaf Anton)

Untuk menemukan pengayaan yang dimaksud dalam buku ini mudah saja. Cukuplah pembaca melakukan teknik membaca skipping, meloncat-loncat, dan cermati kutipan kalimat yang didesain dengan tipe font lebih besar, serta warna font yang lebih muda, alias abu-abu (grey). Contoh, pengayaan yang dibuat Khoiri dengan mengutip secara khusus kalimat: “Alasan mengapa orang menulis bukannya fakta bahwa dia ingin mengatakan sesuatu. Dia menulis karena memiliki sesuatu untuk dikatakan”. (hal. 5) Juga, kutipan kalimat tanya berikut jawabannya. “Mengapa menulis itu membangun kebudayaan? Menulis memiliki kekuatan keabadian yang jauh lebih kokoh daripada pikiran, ucapan, dan tindakan”. (hal. 8) Inilah bentuk pengayaan yang dilakukan Khoiri dalam bukunya, dan peresensi menilai, itu sangat positif dan berhasil menggiring pembaca untuk fokus mendalami makna atas kutipan kalimat tersebut. Dan, bukan Khoiri namanya, kalau tidak cerdas memilih kalimat mana yang patut dibesarkan ukuran font sekaligus diberi warna font yang lebih muda.

Upaya Khoiri melakukan pengayaan dalam bukunya ini, sekaligus membuatnya berhasil memenuhi janjinya dalam mukadimah Selamat Datang di Buku Ini. Diantaranya, Khoiri secara jujur menulis: Isi buku ini barangkali bukan sama sekali baru bagi Anda. Akan tetapi, ada keunikan-keunikan tertentu yang telah saya coba sisipkan ke dalamnya agar lebih ia menggelitik dan mencerahkan. (hal. xiv) Alhasil, tak hanya menggelitik dan mencerahkan, buku ini juga berhasil memantik niat menebalkan motivasi. Tentu, niat dan motivasi menulis serta melahirkan karya-karya tulis yang cerdas plus bernas.

Secara sederhana, Khoiri membagi bukunya dalam tiga bab, pertama: Tegaskan Alasan Menulis. Kedua, Ayo Tulis yang Kita Tahu. Dan ketiga, Rahasia TOP Menulis. Apa harus membaca secara berurutan, tulisan demi tulisan yang berjumlah total 42 itu? Peresensi menyarankan ya, bacalah secara berurutan. Kenapa? Karena, pada setiap lembar dan tulisan yang terkumpul itu, Khoiri sekaligus membangun perkenalan atas sosok dirinya, sekaligus berbagi pengalaman akan karir dan pekerjaan yang (pernah) digelutinya. Ambil contoh, cerita tentang keikutsertaan Khoiri dalam International Writing Program (IWP) di University of Iowa, pada 1993 silam. Juga, hadirnya Khoiri dalam tradisi bedah buku di Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya, yang membuat adrenalinnya untuk meretas jejaring laskar literasi makin terlecut. Nah, andai pembaca melewatkan true story ini, rasanya sosok Khoiri yang “memotivasi dengan cara membimbing tanpa menggurui” ini tak akan sempurna terimajinasi.

Salah satu rahasia Khoiri tampil tanpa menggurui dalam bukunya ini adalah, karena pria kelahiran Madiun, 24 Maret 1965 ini menulis dengan hati yang penuh respek, tidak saja kepada (calon) penulis pemula, tapi juga mereka yang sudah kenyang asam-garam dunia tulis-menulis. Praktiknya, Khoiri menulis dengan gaya bahasa tutur yang santun. Bukan bahasa text book yang kaku, formal, dan justru berpotensi membuat jurang pemisah antara pembaca, dengan dirinya yang berprofesi sebagai dosen sekaligus penulis. Ini pula yang menjadi salah satu kekuatan lain dari buku Rahasia TOP Menulis, bahasa tutur yang jauh dari kesan menggurui.

Tak heran, Manajer Kompasiana, Pepih Nugraha dalam Sambutan pada buku ini menyatakan, “Tidak sekadar bagaimana melahirkan ide yang merupakan kekayaan terbesar dari keterampilan menulis, penulis buku ini bahkan membimbing bagaimana (calon) penulis memulai langkah-langkah menulis. Bukan sekadar menulis opini atau artikel, bahkan lebih jauh puisi pun diajarkan. Tidak sekadar menulis fakta, bahkan lebih jauh menangkap alam fiksi pun dipaparkan. Hanya diperlukan kemauan membaca buku ini sampai tuntas agar lebih memahami alifbata-nya menulis. Dan yang lebih penting lagi, mempraktikkan “credo” atau “dogma” subjektif apa yang dianjurkan penulis buku yang berpotensi sebagai pegangan para penulis ini dalam kehidupan sehari-hari”. (hal. viii)

Sedangkan Lies Amin Lestari dalam Kata Pengantar bertajuk Menebar Virus Menulis menuturkan, “Sering terdengar seseorang berkata, “Sebenarnya saya ingin menuliskan pengalaman saya. Ada banyak ide yang berseliweran di benak saya. Tetapi saya tidak tahu bagaimana memulainya.” Untuk mereka yang mengalami masalah seperti ini, Bab 2 buku ini membeberkan tip-tip untuk mengatasinya. Bahkan, dalam artikel “Menulis Pengalaman, Si Kecil Pun Bisa” dipaparkan bagaimana si Budi dapat menghasilkan sebuah tulisan singkat tentang dirinya melalui bantuan beberapa pertanyaan terstruktur (dalam pembelajaran Menulis disebut dengan istilah leading questions) yang diajukan mentornya.” (Sayangnya, Khoiri sepertinya lupa menuliskan identitas lengkap, siapa sesungguhnya Lies Amin Lestari ini?)

Much. Khoiri penulis buku Rahasia TOP Menulis. (Foto: Akun Facebook Much. Khoiri)

Much. Khoiri penulis buku Rahasia TOP Menulis. (Foto: Akun Facebook Much. Khoiri)

Artikel yang memaparkan teknik Leading Questions tersaji pada tulisan ke-11, halaman 53 berjudul Menulis Dari Nol. Jujur saja, membaca tulisan Khoiri yang memandu anak bernama Budi (nama samaran) untuk menulis tanpa merasa terbebani dengan kesulitannya dalam menulis, membuat peresensi mengacungkan dua jempol! Dalam artikel ini, Khoiri layak dianggap menembus batas predikat yang hanya sekadar “penulis”, untuk merengkuh mahkota sebagai “bidan”-nya penulis.

Aneka Kiat Menulis

Pada bab yang mengusung tema besar Rahasia TOP Menulis, Khoiri memukau pembaca lantaran banyak sekali tip dan kiat yang penting untuk dibaca, dipahami, bahkan dijadikan sebagai panduan menulis. Sebut saja misalnya, enam syarat menjadi penulis (hal. 91). Pertama, Teknik Menulis, yaitu bagaimana menuangkan ide seseorang ke dalam sebuah tulisan, sehingga tulisan itu komunikatif dan mengesankan kualitas pemikirannya. Di sini tertlihat penguasaan seseorang tentang pengolahan ide, pengorganisasian ide, dan penggunaan bahasa. Kedua, Strategi Menerbitkan Tulisan. Menurut Khoiri, kata kunci dalam penerbitan tulisan adalah branding. Penulis harus mem-branding dirinya terlebih dahulu agar dikenal oleh pembaca sebelum mengambil langkah besar semisal menerbitkan tulisan dengan self-publishing, apalagi lewat penerbitan mayor. Media efektif untuk mem-branding diri adalah media cetak dan media online (blog, website). Ketiga, Reading Habit, karena penulis yang baik, yang berarti memiliki kebiasaan membaca yang baik pula. Keempat, Note Taking Habit, berkebiasaan membuat catatan-catatan. Selain itu, mencatat hal-hal penting dari yang dibaca, juga menuliskan poin-poin penting tentang apa yang didengar, dilihat, disentuh, dirasakan, dan dipikirkan. Kelima, Practice. Penulis sejati selalu berlatih dan berinovasi dalam ide dan teknik menulisnya. Keenam, Perseverance. Kebiasaan membaca, mencatat, dan latihan tanpa lelah ternyata belum cukup. Semua ini perlu dilengkapi lagi dengan ketekunan, keteguhan hati.

Berbekal pengalaman di dunia kepenulisan yang sudah melintas babakan waktu, Khoiri semakin menampakkan ‘kelas’-nya sebagai “bidan penulis’ dengan menganalogikan falsafah olahraga Sumo dalam berlatih menulis. Ada sepuluh karakter Sumo yang dapat diterapkan oleh para penulis, mulai dari konsentrasi, keseriusan, latihan, dinamika, usaha keras, ketahanan, kesabaran, kesopanan (courtesy), ketulusan, dan budaya. Ulasan mengenai hal ini secara apik ditulis Khoiri dalam tulisan ke-28 dengan judul Menulis dengan Spirit Sumo. (hal. 135)

Diantara kiat yang rasanya banyak ditunggu-tunggu para pembaca buku ini adalah, bagaimana Khoiri mengulas tentang upaya mengatasi kemacetan menulis (writer’s block). Dalam tulisan ke-32 pada halaman 151 yang diberi judul Jurus Mengatasi Kemacetan Menulis, Khoiri membeberkan jurus-jurus rahasia yang ampuh dengan menukil pendapat Ginny Wiedhardt dalam karyanya, 10 Tips for Overcoming the Writer’s Block. Apa sajakah itu? Satu, terapkan jadwal menulis. Dua, jangan terlalu kejam pada diri. Tiga, anggap menulis sebagai pekerjaan rutin. Empat, Istirahatlah setelah mengerjakan proyek. Lima, tentukan deadline dan jalankan. Enam, periksa apa yang terjadi di balik kemandekan menulis. Tujuh, melakukan beberapa proyek sekaligus. Delapan, cobalah latihan menulis. Sembilan, pertimbangkan ruang menulis. Sepuluh, coba ingatlah mengapa kita mulai menulis.

Much. Khoiri dengan senyum dan batik merah lengan pendek kebesarannya, ketika menjadi narasumber talkshow di Radio SAS FM Surabaya, Jawa Timur, yang mengulas buku Rahasia TOP Menulis. (Foto: Akun Facebook Much. Khoiri)

Much. Khoiri dengan senyum dan batik merah lengan pendek kebesarannya, ketika menjadi narasumber talkshow di Radio SAS FM Surabaya, Jawa Timur, yang mengulas buku Rahasia TOP Menulis. (Foto: Akun Facebook Much. Khoiri)

Akhirnya, buku yang juga memuat kutipan Kompasianer Thamrin Sonata di sampul belakang ini terbukti, memberikan konsep dan bimbingan menulis yang lain dari biasanya. Khoiri dengan “gaya”-nya sangat ngemong bagi (calon) penulis pemula, tetapi juga memberi acuan dan target semakin tinggi bagi penulis yang boleh jadi sudah kawakan. Lebih dari itu, Khoiri dalam bukunya tak berhenti pada “ke-bisa-an” menulis saja, tapi juga “ke-bisa-an” si penulis untuk menerbitkan karya-karyanya, termasuk dalam bentuk buku.

Tidak banyak ditemukan kelemahan dalam buku ini, hanya saja mungkin, saran dan masukan agar tata letak lebih diharmoniskan dengan batas atas maupun bawah halaman kertas. Karena, melihat batas bawah kertas halaman, rasa-rasanya ‘kok buku ini terkesan menjadi kelewat memaksakan jumlah baris dalam satu halaman, sehingga terkesan “sesak”. Selain itu, lay out yang standar dan kaku, membuat buku ini cenderung terkesan sebagai “buku yang berasal dari terbitan pihak kampus”, padahal materi isi dan suguhannya sangat populer, sehingga seharusnya bisa di-tata-letak-kan, di-desain grafis-kan secara lebih young and trendy.

Last but not least, buku ini patut dibaca oleh para calon penulis, penulis pemula, hingga yang sudah kawakan sekalipun. Bagi penulis newbie, buku ini dapat menjadi pemantik motivasi menulis, sedangkan bagi penulis kawakan, buku ini tak bisa dipandang remeh, karena mampu menjadi pengingat akan makna sejati menulis dan profesi penulis itu sendiri.

Selamat membaca

* * * * * *

Info Buku

w1

Judul buku: Rahasia TOP Menulis

Penulis: Much. Khoiri

Tebal: xiv + 202 halaman

Sambutan: Manajer Kompasiana, Pepih Nugraha

Kata Pengantar: Lies Amin Lestari

Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia

Cetakan/Tahun: I, 2014

Iklan
Pemanfaatan air sungai di Sungai Ciliwung, Jakarta. (Foto: grebegairindo.blogspot.com)

Pemanfaatan air sungai di Sungai Ciliwung, Jakarta. (Foto: grebegairindo.blogspot.com)

Terima kasih, air!

Kamu yang selama ini membuat tenggorokanku tidak haus.

Kamu juga yang menjadi sumber kehidupan tanaman.

Tanpamu dunia ini tiada artinya.

Manfaatmu banyak sekali.

Karena kamu aku bisa membuat teh hangat.

Karena kamu juga aku bisa menyantap makanan berkuah.

Karena itu, kamu perlu dijaga dan dilestarikan.

Itulah petikan puisi yang ditulis Farel Aranta, siswa kelas 2 SDN SetiaDarma 01, Bekasi, Jawa Barat, yang dimuat Media Indonesia edisi Minggu, 26 April 2015. Luar biasa bukan? Menggunakan gaya bahasa berpuisinya sendiri, Farel sudah menyadari betapa pentingnya menjaga dan melestarikan air.

Selain mengajak untuk melestarikan air, Farel — yang menuliskan pusinya dengan judul Terima kasih, Air! — juga meluapkan kegalauan hatinya. Terbaca pada bait puisi berikutnya.

Tapi apa?

Manusia kini mengotori sungai dengan sampah.

Dan pabrik mengotorimu dengan limbah,

Tak hanya di sungai dan selokan, tempat lainnya pun menjadi korban.

Kuingin, kamu terus bersih dan lestari.

Bila Farel yang masih kelas 2 SD saja sudah sadar akan pentingnya air untuk kehidupan, dan urgensi menjaga kelestariannya, lantas bagaimana dengan kita? Upaya menjaga kelestarian air musti menjadi kesadaran bersama. Maklum, krisis air sudah bukan isapan jempol belaka. Jangankan di daerah-daerah, bahkan di Jakarta saja tanpa disadari banyak pihak, krisis air semakin hari makin terasa. Salah satu indikasinya, mudah saja. Apa yang disampaikan Farel tentang sampah yang memenuhi sungai, hingga pabrik yang membuang limbah ke sungai, sudah bukan cerita baru. Semua itu mengancam kelestarian air sebagai bagian dari ekosistem yang penting.

Menurut Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Mohammad Hasan, kebutuhan air di Jakarta sampai dengan 2030, diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan domestik. Kebutuhan domestik ini mencakup kebutuhan rumah tangga dan air minum. Saat ini, sebanyak 80 persen dari air baku yang ada, banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan irigasi. Seiring berjalannya waktu dan ledakan jumlah penduduk, ketersediaan air baku terus menyusut. Belum lagi pencemaran sungai dan limbah polutan yang mencemari sungai sangat beresiko tinggi, bila dikonsumsi manusia. Faktanya, karena keterbatasan pasokan air baku yang bersih, warga di sekitar bantaran sungai masih banyak yang memanfaatkan air tersebut untuk air baku termasuk untuk dikonsumsi.

Penggalian dan pengurukan/penimbunan lahan perairan di batas paling Selatan wilayah Situ Cileduk atau Situ Tujuh Muara di Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan oleh developer swasta. Foto diambil Jumat sore, 12 Desember 2014. (Foto: Gapey Sandy)

Penggalian dan pengurukan/penimbunan lahan perairan di batas paling Selatan wilayah Situ Cileduk atau Situ Tujuh Muara di Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan oleh developer swasta. Foto diambil Jumat sore, 12 Desember 2014. (Foto: Gapey Sandy)

Sementara itu, data dari Bappenas menyatakan, terdapat 12 kabupaten/kota yang mengalami defisit air bahkan sejak 2003 lalu. Jumlah ini diyakini bakal meningkat bila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Di Pulau Jawa, pada 2003 ada sekitar 77 persen kabupaten/kota yang mengalami defisit air, dan diperkirakan terus meningkat jadi 78,4 persen pada 2025. Ini artinya, Jawa akan mengalami defisit air sepanjang tahun.

Kondisi yang nyaris sama terjadi di Pulau Dewata. Krisis air yang dialami Bali, salah satunya diakibatkan eksploitasi SDA. Menurut Koordinator Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, Wayan Gendo Suardana, penggunaan air di Bali saat ini telah melampaui kapasitas siklus hidrologi. Akibatnya, secara kuantitas volume dan kualitas air, Bali telah mengalami krisis air. Mengutip data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat, ada 200 lebih atau 60 persen Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengering, dan itu menjadi potensi kelestarian air permukaan. Bahkan, di Kuta dan Suwung, telah terjadi intrusi, satu kilometer di daerah Sanur sampai ke Suwung, dan delapan meter di daerah Kuta, intrusi tersebut terjadi. Dengan kata lain, terjadi penggunaan air bawah tanah yang sifatnya eksploitatif. (KIPRAH Vol. 55, Kementerian PU)

Apa yang terjadi di Bali, sebenarnya sudah diprediksi jauh-jauh hari. Penelitian Kementerian Lingkungan Hidup pada 1997 menyebutkan, Bali akan mengalami krisis air pada 2013, sebanyak 27 miliar liter. Sedangkan ahli hidrologi lingkungan Univesitas Udayana, Wayan Sunartha memperkuat prediksi tersebut dengan menyatakan bahwa, pada 2015 ini Bali mengalami defisit air sebesar 26,7 miliar meter kubik.

Sungai dan Situ Tercemar

Bagaimana contoh penelusuran kondisi pencemaran yang terjadi pada sejumlah sungai? Mari bergeser sedikit dari Jakarta, menuju Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Data terbaru dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) yang disampaikan Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian, Budi Hermanto menunjukkan, tiga sungai yang melintas di Tangsel — yakni Sungai Cisadane, Sungai Angke dan Sungai Pesanggrahan — sudah dalam kondisi tercemar berat!

Pada 2014 kemarin, tiga sungai yang melintas di Kota Tangsel yaitu Sungai Cisadane, Sungai Angke, dan Sungai Pesanggrahan dalam kondisi tercemar berat. (Sumber: BLHD Tangsel)

Pada 2014 kemarin, tiga sungai yang melintas di Kota Tangsel yaitu Sungai Cisadane, Sungai Angke, dan Sungai Pesanggrahan dalam kondisi tercemar berat. (Sumber: BLHD Tangsel)

Data pemantauan yang diambil pada masing-masing empat titik pantau, menunjukkan peningkatan pencemaran pada 2014 dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk analisis air sungai, dilakukan perhitungan dengan metode STORET yang berdasarkan baku mutu kelas II sesuai PP No.82 tahun 2001. Hasil analisis STORET kelas II menghasilkan kesimpulan bahwa, seluruh sungai dalam kondisi tercemar berat dengan skor STORET lebih besar dari sama dengan minus 30 dengan titik cemar tertinggi yaitu di Sungai Cisadane bagian (lokasi pantau) Cisauk, dengan skor mencapai minus 116.

Kenyataan miris juga terjadi pada situ-situ yang ada di Tangsel. Hasil banding pemantauan pencemaran pada 2013 dan 2014 menunjukkan, sembilan situ yang ada sudah tercemar! Situ Parigi, Situ Sasak Tinggi, Situ Rawa Kutuk, Situ Bungur, Situ Rompong dan Situ Kuru sudah tercemar berat untuk lokasi inlet maupun outlet (aliran air masuk ke situ, dan keluar dari situ). Sedangkan Situ Ciledug tercemar berat untuk inlet, dan outlet-nya tercemar sedang. Hanya Situ atau Bendungan Gintung saja yang inlet dan outlet-nya tercemar sedang. Analisis air situ ini dilakukan perhitungan dengan metode STORET berdasarkan baku mutu kelas III sesuai PP No. 82 tahun 2001. Secara umum dapat pula dijelaskan bahwa, kondisi situ yang ada di Tangsel semakin kehilangan empat fungsinya, yaitu fungsi lahan, resapan, daya serap, dan fungsinya yang berubah jadi permukiman.

Kenyataan fungsi situ yang berubah menjadi permukiman memang tak dapat disangkal. Hingga detik ini, silang sengketa mengenai penguasaan lahan situ berlanjut pada pengurukan. Akibatnya, lahan situ menjadi semakin menciut. Ini terjadi pada Situ Ciledug di Pamulang, Tangsel, dimana terjadi pengurukan lahan situ oleh pengembang yang bernafsu membangun perumahan. [Baca telusuran penulis di Situ Ciledug atau Situ Tujuh Muara, di sini dan di sini]. Kejadiannya berlangsung sejak tahun lalu, dan kini menurut Kepala BLHD Tangsel, Rahmat Salam, pihak Pemkot Tangsel telah melimpahkan kasusnya kepada pihak Pengacara Negara untuk memperjuangkan dugaan pengurukan dan pengrusakan situ tersebut.

Memang, tidak tanggung-tanggung, pihak pengembang yang berdalih memiliki sertifikat kepemilikan lahan kini telah menguruk rata dengan tanah merah sebagian lokasi situ pada sisi paling ujung di kawasan Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Tangsel. Atas pengurukan tersebut, sanksi pidana bisa saja diberlakukan dengan mengacu pada Pasal 52 UU No.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang berbunyi, “Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air juncto Pasal 94 ayat (1)”.

Belum selesai dugaan kasus pengurukan lahan situ oleh pengembang ini, berlangsung pula pengurukan pada lokasi yang lain, masih pada situ yang sama, Situ Ciledug. Menurut Ganespa, forum aktivis peduli lingkungan setempat, pengurukan dilakukan untuk dipergunakan membangun sebuah pusat perbelanjaan khusus material bangunan berikut pernak-perniknya.

Pada 2014 kemarin, sembilan situ yang ada di Kota Tangsel dalam kondisi tercemar sedang sampai berat. (Sumber: BLHD Tangsel)

Pada 2014 kemarin, sembilan situ yang ada di Kota Tangsel dalam kondisi tercemar sedang sampai berat. (Sumber: BLHD Tangsel)

Kondisi memprihatinkan terjadi juga di Situ Kuru atau Situ Legoso, yang berlokasi tak jauh dari Universitas Islam Negeri ‘Syarif Hidayatullah’, di Ciputat, Tangsel. [Baca telusuran penulis mengenai kondisi Situ Kuru atau Situ Legoso, di sini]. Di situ ini, lahannya sudah nyaris tak berbentuk situ lagi. Hanya ada tanah urukan, dan pencaplokan lahan situ oleh warga masyarakat. Termasuk, adanya rumah yang dibangun menjorok ke atas permukaan air Situ Kuru atau Situ Legoso. Tak ada lagi garis batas sempadan situ. Sebagian besar sudah menjadi hunian dan lokasi pembuangan sampah warga sekitar.

Selain pencemaran sungai dan situ yang ada di seantero Tangsel, kini kondisi kota yang baru berusia enam tahun dan merupakan hasil pemekaran Kabupaten Tangerang ini semakin parah karena ancaman limbah industri. Menurut BLHD Tangsel, telah terjadi pergeseran isu-isu seputar lingkungan dalam skala nasional. Mulai dari isu lama yakni pencemaran air, pencemaran udara, loss of biodiversity, kerusakan hutan, kerusakan pantai dan lautan, urbanisasi yang terkait sampah juga air limbah, serta bencana lingkungan, menjadi ke isu anyar yaitu e-waste atau limbah elektrik dan elektronik, limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang didalamnya termasuk medical waste, dan isu global dalam hal ini perubahan iklim.

“Parahnya, limbah di Kota Tangsel, mayoritas adalah limbah B3. Rinciannya, 90 persen adalah limbah rumah tangga, dan 10 persen itu limbah industri, mulai dari rumah sakit, klinik, sarana pelayanan kesehatan dan sebagainya. Meski hanya 10 persen, tapi potensi kerusakan limbah industri itu jauh lebih besar bila dibandingkan dengan yang 90 persen limbah dari rumah tangga,” ujar Budi Hermanto ketika berbicara pada Pelatihan Pengawasan Pengendalian Pencemaran Berbasis Masyarakat di BSD City, 27 April kemarin.

Upaya Melestarikan Air

Meski banyak cerita tak sedap mengenai pencemaran air di Tangsel, tetapi bukan berarti tidak ada hal-hal positif dan inspiratif yang dilakukan masyarakat untuk melestarikan air. Misalnya saja, seperti yang dilakukan di Pengolahan Air Besih (PAB) atau Water Treatment Facility milik Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Jalan Raya Puspiptek, Serpong, Tangsel. Lokasi PAB agak jauh dari akses pintu masuk Puspiptek, termasuk harus melintasi jalan beraspal yang kanan-kirinya masih berupa ‘hutan’ menghijau. Disebut ‘hutan’ karena memang, 60 persen dari total lahan kawasan Puspiptek Serpong adalah lahan terbuka hijau.

Berawal dari penyedotan air Sungai Cisadane yang dialirkan ke bak pengendapan kotoran kasar, termasuk lumpur. (Foto: Gapey Sandy)

Berawal dari penyedotan air Sungai Cisadane yang dialirkan ke bak pengendapan kotoran kasar, termasuk lumpur. (Foto: Gapey Sandy)

Penulis menyaksikan sendiri, lokasi PAB memang cukup luas. Kompleksnya dikelilingi pagar besi, sehingga tidak sembarang orang (maupun hewan) dapat masuk dan keluar secara leluasa. Sebelum memasuki pintu gerbang PAB, ada Pos Keamanan yang bersiaga 24 jam.

PAB milik Puspiptek menyedot air dari Sungai Cisadane. Sedotannya mencapai 90 hingga 100 liter per detik, yang kemudian dialirkan ke dalam bak pengendapan. Kotoran kasar, termasuk lumpurnya akan mengendap ke dasar bak pengendapan, sedangkan airnya akan terus mengalir ke bak pengaduk air. Pada saat airnya mengalir itulah, dibubuhkan tawas yang kadarnya disesuaikan dengan hasil pantauan para peneliti di ruang kendali PAB.

Pada bak pengaduk air, terdapat 12 mesin pengaduk yang bekerja sesuai instruksi masing-masing. Ada yang putaran adukan airnya kencang, sedang, hingga perlahan. Putaran adukan kencang atau kecepatan tinggi, membuat kotoran yang terkandung dalam air daoat cepat mengendap. Sedangkan putaran adukan air yang semakin perlahan, membuat kotoran-kotoran yang halus pun akan segera ikut mengendap dan tidak muncul kembali ke permukaan air.

Selesai melakukan treatment pada bak pengaduk, air kemudian dialirkan menuju ke bak sedimentasi untuk semakin mengendapkan kotoran-kotoran halus ke dasar bak. Secara kasat mata, di bak sedimentasi kotoran halus ini saja sudah terlihat, warna air yang bersumber dari Sungai Cisadane yang semula coklat keruh mulai berubah menjadi bening.

Bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa. (Foto: Gapey Sandy)

Bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa. (Foto: Gapey Sandy)

Air yang mulai berubah bening kemudian dialirkan lagi ke menuju proses treatment berikutnya, yaitu bak filterisasi. Ada enam bak filterisasi yang ada di PAB Puspiptek. Dari sini, air di’steril’kan dengan pemberian Kaporit dan Soda Ash di bak penampungan. Takaran kedua zat kimia ini disesuaikan dengan hasil pantauan yang dilakukan para peneliti. Lokasi bak penampungan sekaligus tempat pemberian kaporit dan soda ash cukup “tersembunyi”. Untuk menuju ke bak penampungan ini, harus menuruni anak tangga, dan di “basement” itulah bak penampungan berada. Jernihnya air berikut “wangi” akibat water treatment melalui pemberian kaporit dan soda ash cukup tercium segar “menyergap” hidung. Mencium aromanya, sekilas teringat wangi air yang biasa tercium di kolam renang.

Di bak penampungan akhir tadi — dimana air yang sudah jernih itu diberikan kaporit dan soda ash sesuai takaran yang terkontrol — air bersih sudah siap didistribusikan. Kontras sekali, air Sungai Cisadane yang semula keruh dan kotor telah berubah menjadi jernih dan wanginya “segar”. Dari sini, air hasil proses treatment yang masih menggunakan pola konvensional ditampung terlebih dahulu di bak penampungan dalam tanah. Ada dua bak penampungan yang nampak menyembul dari rerumputan. Ukuran dua bak penampungan dalam tanah itu, kira-kira luasnya seukuran lapangan bulutangkis.

Bermula dari bak penampungan dalam tanah inilah, air kemudian disalurkan menuju ke bak penampungan yang bentuknya tower atau menara yang menjulang tinggi, dan berada di tengah-tengah kawasan Puspiptek. Tower ini mirip dengan senter batere raksasa yang bulat di ujungnya. Menara bak penampungan air ini memiliki sistem sensor otomatis, artinya, kalau air di menara bak penampungan sudah penuh, maka secara otomatis, suplai distribusi air dari pompa di PAB berhenti bekerja. Begitu pun apabila debit air di menara bak penampungan berkurang isinya, maka secara otomatis pula, pompa “penembak” suplai air dari PAB akan bekerja maksimal untuk segera mengisinya.

Setelah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Dari atas tower penampungan air inilah, berdasarkan gaya gravitasi bumi, maka air didistribusikan ke seluruh kawasan yang ada di Puspiptek, mulai dari perkantoran, laboratorium, hingga ke perumahan Puspiptek. Asal tahu saja, ada sekitar 700 rumah yang ada di kawasan perumahan Puspiptek. Andai saja di setiap rumah terdapat empat anggota keluarga, maka total terdapat 2.800 jiwa di perumahan tersebut yang kebutuhan airnya disuplai dari hasil PAB Puspiptek. Jumlah ini, belum termasuk SDM yang berkantor di kawasan Puspiptek, yang jumlahnya mencapai sekitar 8.000 karyawan. Air yang didistribusikan tentu saja harus dimasak terlebih dahulu, sebelum dapat dikonsumsi.

Luar biasa bukan?

Setelah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Penulis juga menyimak secara langsung upaya melestarikan air yang dilakukan oleh pengelola Gedung New Media Tower (NMT) milik Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Scientia Garde, Jalan Boulevard Gading Serpong, Tangerang, Banten. Ada yang unik dari NMT ini, sebab dari kejauhan, gedungnya berbeda dengan gedung-gedung lainnya. NMT berbentuk seperti batu koral yang oval, berwarna abu-abu, dan mirip kepompong. Diresmikan oleh Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama, pada September 2012 lalu, setahun kemudian gedung ini meraih juara pertama Gedung Hemat Energi pada Penghargaan Efisiensi Energi Nasional pada 2013. Lalu, pada September 2014, Gedung NMT kembali meraih penghargaan sebagai Energy Efficient Building kategori Tropical Building yang dilombakan pada ASEAN Energy Award 2014 di Vientiane, Laos.

Terkait pelestarian air, upaya yang dilakukan pengelola Gedung NMT adalah mendaur ulang limbah air yang biasanya justru dibuang percuma. Building Manager Kampus UMN, Sudarman Sutanto mengemukakan, limbah air yang berasal dari seluruh area gedung yang ada, baik itu limbah air hujan maupun air buangan dari urinoar toilet, tidak asal dibuang begitu saja. Tetapi, UMN menyediakan sebuah wadah khusus untuk melakukan proses daur ulang limbah air. Hasil akhir daur ulang limbah air ini kemudian dipergunakan untuk beberapa keperluan, seperti menyiram tanaman, pembilasan toilet, juga untuk memfungsikan sistem pendingin ruangan.

Di basement ini terdapat unit pengolahan limbah air yang didaur ulang untuk kemudian dipergunakan kembali seperti misalnya untuk menyiram tanaman, dan membilas toilet. (Foto: Gapey Sandy)

Di basement ini terdapat unit pengolahan limbah air yang didaur ulang untuk kemudian dipergunakan kembali seperti misalnya untuk menyiram tanaman, dan membilas toilet. (Foto: Gapey Sandy)

“Seluruh limbah air dari gedung ini, baik itu air hujan, maupun air dari limbah toilet, kami lakukan proses daur ulang di basement gedung, dan dipergunakan untuk penyiraman taman, dan pembilasan toilet. Air hasil daur ulang juga difungsikan untuk sistem pendingin ruangan,” jelasnya sembari menyatakan, air untuk mencuci tangan, keperluan urinoar dan berwudhu, murni menggunakan air PAM.

Pengelola Gedung UMN juga melakukan ‘penampungan’ air hujan. Caranya, untuk limbah air hujan, dibuat sumur-sumur resapan atau semacam lubang biopori tapi berukuran lebar, yakni 1,2 meter dengan kedalaman antara enam sampai delapan meter. “Sumur-sumur resapan ini ada sekitar 20-an unit, dan sengaja kami buat di sekeliling lokasi gedung. Selain itu, limbah air hujan juga kami alirkan melalui kanal yang kami bangun, dan untuk selanjutnya, limbah air hujan ini akan dikembalikan meresap lagi ke dalam tanah,” jelas Sudarman kepada penulis.

Air hasil daur ulang dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman rerumputan dan pepohonan yang ada di lantai 3. (Foto: Gapey Sandy)

Air hasil daur ulang dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman rerumputan dan pepohonan yang ada di lantai 3. (Foto: Gapey Sandy)

Tentu, masih banyak lagi upaya pelestarian air yang dilakukan banyak pihak di berbagai tempat

Eksploitasi AMDK

Salah satu isu yang selalu menguat terkait ‘Nasib Air’ masa kini adalah eksploitasi SDA melalui pemanfaatannya sebagai air minum dalam kemasan (AMDK). Konsultan ahli sosial ekonomi lingkungan pada Proyek Penguatan Pengelolaan Hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Berbasis Masyarakat, Fauzi Sutopo, empat tahun lalu pernah memaparkan bahwa analisis pemanfaatan SDA di DAS Cisadane Hulu yang bernilai ekonomis relatif tinggi adalah produk AMDK. Lebih spesifik lagi, kemasan botol dan gelas, yang ternyata secara keseluruhan cukup banyak, yaitu mencapai 3.933.460 meter kubik per tahun. Jumlah ini mengindikasikan bahwa air yang berasal dari air baku dari hulu Gunung Gede-Pangrango dan hulu Gunung Salak — yang termasuk DAS Cisadane — memang bak mutiara mengkilap atau barang komersial bernilai tinggi.

Tidak hanya DAS Cisadane, di beberapa daerah di Jawa Timur, seperti Malang, Pasuruan, dan Batu, yang berlokasi di lereng Gunung Arjuno dan Gunung Semeru, ribuan warga masyarakat setiap tahunnya mengalami paceklik air bersih. Di Umbulan, Pasuruan misalnya, masyarakat secara berkala menderita akibat krisis air bersih, sementara ironisnya, sumber air yang ada di sumber itu dijual oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Surabaya dan Sidoarjo. Ditambah lagi, ratusan perusahaan AMDK mengeksploitasi air bawah tanah di wilayah setempat atas nama kepentingan bisnis. Akibatnya, sejumlah akademisi di Malang, Jawa Timur, sempat mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk menghentikan izin eksploitasi air untuk kepentingan bisnis. Termasuk diantaranya Dekan FE UIN Malang, Muhtadi Ridwan, yang berujar bahwa, air seharusnya menjadi milik bersama, dan dikelola negara sesuai UUD ’45 Pasal 33. Dengan begitu, sumber mata air dan air tanah tidak dapat lagi dijadikan komoditas dalam mencari keuntungan guna mencegah krisis air bersih.

Kondisi perairan di Bendungan Gintung yang sempat jebol dan menimbulkan korban jiwa maupun harta benda, pada 2009 lalu. (Foto: Gapey Sandy)

Kondisi perairan di Bendungan Gintung yang sempat jebol dan menimbulkan korban jiwa maupun harta benda, pada 2009 lalu. (Foto: Gapey Sandy)

Peringatan terhadap eksploitasi air untuk AMDK sah-sah saja disuarakan. Meski sebenarnya, semua pasti sudah ada aturan main dan norma hukumnya. Sebut saja misalnya, para pelaku usaha AMDK diwajibkan untuk tak kenal lelah melakukan program konservasi lahan, baik penanaman pohon atau tidak melakukan pembukaan lahan hutan yang masih ada saat ini. Apalagi, untuk program semacam ini terdapat payung hukum yang menaungi, seperti UU No.28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; dan, UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Seperti termuat dalam Pasal 67 UU No.32 Tahun 2009 yang berbunyi: “Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran da/atau kerusakan lingkungan hidup”. Sedangkan Pasal 68 lebih menjelaskan detil, “Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban: (a) memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu. (b) menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup, dan. (c) menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.

AQUA Lestari

Terkait hal ini, Danone Group — sebagai induk perusahaan AQUA Group — yang salah satunya memproduksi AMDK bermerek AQUA, teramat sangat menyadari akan pentingnya program pengelolaan dan konservasi baku mutu lingkungan hidup.

Bahkan, sejak 1972, Danone Group telah memiliki Dual Commitment yang artinya seiring sejalan melakukan pencapaian kinerja ekonomi sambil tetap memperhatikan aspek sosial. Inilah pendekatan bisnis yang mengkombinasikan tujuan ekonomi dengan tujuan sosial dan lingkungan, melalui empat pilar prioritas strategis yakni pertama, Kesehatan (Health), dimana AQUA Group antara lain, berupaya untuk memenuhi komitmennya dengan memastikan produk yang dihasilkan sehat dan berkualitas. Bahkan, upaya tersebut dilakukan sejak pengambilan air baku dari sumbernya, sampai proses produksi dan pengemasan. Kedua, Lingkungan Hidup (Nature). Dalam kaitan ini, AQUA Group diantaranya berkontribusi terhadap pengelolaan DAS di lokasi pabriknya. Melalui program AQUA Lestari diharapkan kualitas dan kuantitas air tanah dapat terus terjaga sehingga semua pihak dapat memanfaatkannya secara optimal. Ketiga, Manusia (People), dimana dalam pilar ini, AQUA Group melakukan dua inisiatif sekaligus yakni pemberdayaan karyawan sebagai asset perusahaan, dan inisiatif sosial yang dilakukan karyawan bersama pemangku kepentingan lain. Dan pilar keempat, Untuk Semua (For All), yang menjadi strategi Danone Group untuk menjangkau konsumen dari berbagai kalangan.

Papan besi yang memberikan informasi tentang Situ Cileduk. Meski tak terawat dan penuh corat-coret, tapi masih tergambar peta area Situ Cileduk, dan luas yang dikerjakan yaitu 13 hektar. Pemkot Tangsel perlu membuat papan informasi baru untuk ini. (Foto: Gapey Sandy)

Papan besi yang memberikan informasi tentang Situ Cileduk. Meski tak terawat dan penuh corat-coret, tapi masih tergambar peta area Situ Cileduk, dan luas yang dikerjakan yaitu 13 hektar. Pemkot Tangsel perlu membuat papan informasi baru untuk ini. (Foto: Gapey Sandy)

Khusus mengenai Program AQUA Lestari, adalah merupakan praktik Corporate Social Responsibility (CSR) dari AQUA Group yang berakar pada komitmen pimpinan DANONE, Antoine Riboud, tentang Dual Commitment perusahaan. Pemikiran ini sepaham dengan pemikiran pendiri AQUA, Bapak Tirto Utomo yang senantiasa teguh memegang prinsip bahwa bisnis harus memberikan kontribusi sosial bagi masyarakat luas. Klop!

Kedua pemikiran ini kemudian diartikulasikan dalam Program AQUA Lestari yang dikembangkan sejak 2006 lalu sebagai payung inisistif keberlanjutan dengan menggunakan DANONE WAY dan ISO 26000 sebagai referensi. AQUA Lestari direalisasikan dengan melaksanakan berbagai inisiatif sosial dan lingkungan yang mencakup wilayah sub DAS secara terintegrasi dari wilayah hulu, tengah, dan hilir di lokasi AQUA Group beroperasi. Berbagai inisiatif tersebut berada di bawah empat pilar, yaitu Pelestarian Air dan Lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk, juga, Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Wujud nyata dari empat pilar tersebut, misalnya adalah kesadaran tinggi AQUA Group untuk gemar melakukan penanaman konservasi pohon, di lokasi pabrik operasional AQUA. Tercatat, sejak 2003 hingga 2009, AQUA Group telah menanam 314.600 pohon, lalu pada 2010 menanam 370.077 pohon, dan 2013 lalu menanam 368.972 pohon.

Baru-baru ini, tepatnya Sabtu, 25 April 2015, AQUA Group mengajak sejumlah blogger dari Kompasiana — bahagian dari Kompas Group — untuk berkunjung langsung ke salah satu Pabrik AQUA Group yang ada di Ciherang, Sukabumi, Jawa Barat.

Kegiatan distribusi di Pabrik AQUA Ciherang, Sukabumi. (Foto: fjb.kaskus.co.id)

Kegiatan distribusi di Pabrik AQUA Ciherang, Sukabumi. (Foto: fjb.kaskus.co.id)

Berbagai fakta dan data menarik disampaikan kepada para penulis blog tersebut, utamanya menyangkut Program AQUA Lestari yang tentu saja berkaitan dengan program CSR dimana berkaitan erat dengan hajat hidup masyarakat sekitar. Misalnya, melatih masyarakat sekitar untuk mengolah tanah lahan menjadi produktif; mengolah limbah sampah organik menjadi kaya manfaat dan dapat digunakan sebagai pupuk organik; melibatkan masyarakat melestarikan air yang melimpah dengan cara sederhana, misalnya membuat Lubang Resapan Biopori; membina masyarakat mengelola Bank Sampah; membuat peternakan kecil sekaligus membuat kompos pupuk organik dari kotoran hewan; membina masyarakat mengolah hasil pertanian yang melimpah agar nilai jual dapat tinggi; memberi pemahaman kecintaan lingkungan terhadap anak-anak usia sekolah di wilayah sekitar; program pengumpulan botol AQUA bekas; dan, membina para pemulung untuk bermitra sebagai pendaur ulang wadah AQUA bekas.

Di Pabrik AQUA Ciherang, tidak hanya dilakukan konservasi pembibitan dan penanaman pohon saja, AQUA Group juga bekerjasama dengan Yayasan Gamelina mengembangkan juga berbagai produk perkebunan dan pertanian organik yang bernilai tinggi dan membawa imbas kesejahteraan ekonomi kepada masyarakat sekitar. Rumah Usaha Pancawati yang digagas secara bersama juga memproduksi aneka panganan olahan dalam kemasan — seperti Keripik Pepaya yang alami tanpa bahan pemanis dan pengawet —, yang merupakan produk turunan dari hasil para petani binaan AQUA Group. Bahkan dengan brand ‘Tani Maju’, para petani binaan AQUA Group berhasil memproduksi Pupuk Organik Cair yang menggunakan bahan baku urine dan kotoran hewan, dalam hal ini domba.

Tak heran, lantaran geliat Program AQUA Lestari yang sedemikian komprehensif dan berdayaguna bagi masyarakat sekitar itulah, maka Pabrik AQUA Ciherang bersama tiga pabrik lainnya — Pabrik AQUA Subang, Wonosobo, dan Mambal —, pada tahun 2014 kemarin berhasil meraih penghargaan The La Tofi School of CSR karena dinilai telah memberikan kontribusi bagi pengurangan perubahan iklim. Penghargaan disampaikan langsung Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Irman Gusman, di Jakarta.

Kegiatan pembibitan pohon di Rumah Usaha Pancawati. Salah satu program petani binaan dari Program CSR dari AQUA Group melalui Program AQUA Lestari. (Foto: Ngesti Setyo Moerni)

Kegiatan pembibitan pohon di Rumah Usaha Pancawati. Salah satu program petani binaan dari Program CSR dari AQUA Group melalui Program AQUA Lestari. (Foto: Ngesti Setyo Moerni)

Secara tematik, keempat Pabrik AQUA ini berhasil melakukan upaya konservasi SDA terpadu melalui sejumlah program yang aplikatif untuk masyarakat setempat. Pabrik AQUA Subang menggelar Program bertajuk Konservasi Berbasis Masyarakat di Hutan Banceuy, dan Pabrik AQUA Ciherang dengan Program Kampung Sehat. Sedangkan inisiatif pengelolaan sampah terpadu dilaksanakan Pabrik AQUA Mambal melalui Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Tanah Lot, sedangkan Pabrik AQUA Wonosobo sukses mewujudkan Program Kejiwan Berkarya.

Melalui Sustainability Report 2012 yang dipublikasikan melalui situs resminya, AQUA Group menyatakan kepeduliannya yang tinggi akan perlindungan air tanah dalam. Sebagai pemimpin pasar dalam industri AMDK, merupakan kewajiban bagi AQUA Group untuk memastikan pengelolaan dan pendayagunaan Sumber Daya Alam yang dimanfaatkannya secara berkesinambungan. Sedangkan untuk kebijakan perlindungan SDA AQUA didasarkan pada empat hal yakni: Menjamin kemurnian dan kualitas sumber air dalam rangka menjamin kualitas dan keamanan produk demi kepuasan pelanggan; Menjaga kelestarian SDA; Berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di wilayah operasi; dan, Melindungi serta turut mempromosikan adat dan cagar budaya di sekitar wilayah operasi.

Salah satu contoh konkret AQUA Group melindungi sumber air adalah dengan membangun Water Conservation Master Plan (WCMP), yang sekaligus menjadi panduan perusahaan dalam mengadakan berbagai program kegiatan dan pelestarian air dan lingkungan. Sebagai proyek percontohan, WCMP telah diterapkan di empat lokasi sub-DAS di Mekarsari, Klaten, Pandaan, dan Keboncandi, yang fokus pada pengelolaan hutan di sekitar keempat WCMP tersebut.

Kepedulian AQUA Group terhadap pelestarian air sebagai bagian dari ekosistem ini memang membanggakan, sekaligus patut menjadi teladan!

Danone AQUA, merek yang selalu peduli kelestarian air. (Foto: ceritayuni.blogdetik.com)

Danone AQUA, merek yang selalu peduli kelestarian air. (Foto: ceritayuni.blogdetik.com)

Alhasil, menutup artikel mengenai pelestarian air ini, penulis menukil program PBB yang telah mencanangkan, bahwa sepanjang kurun 2005 – 2015 sebagai ‘International Decade for Action : Water for Life’. Artinya, dalam dasawarsa tersebut segala kegiatan difokuskan pada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya air untuk kehidupan. Tentu saja, caranya melalui berbagai upaya yang bertujuan menyelamatkan fungsi dan ketersediaan air. Hal ini sangat bermanfaat sekali, mengingat air merupakan kebutuhan hidup yang sanga vital bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Tanpa ada air, tidak akan ada kehidupan. Meski di sisi lain, SDA global dewasa ini semakin mengalami kondisi yang kritis menuju genting.

Termenung lagi kita, menghayati bait puisi Farel Aranta,

Karena itu, kamu perlu dijaga dan dilestarikan

Kuingin, kamu terus bersih dan lestari

ooooo O ooooo

Catatan:

AQUA

AQUA 2

Tulisan ini menjadi juara pertama KOMPASIANA blog competition, 8 – 30 April 2015, dengan tema “Mari Lestarikan Air Bersama AQUA”. Alhamdulillah …

Para pembicara talkshow Kuldesak Tambora. Dari kiri ke kanan Dr Indyo Pratomo, Dr Surono, Drs Sonny Wibisono, Drs I Made Geria, Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin. (Foto: Gapey Sandy)

Para pembicara talkshow Kuldesak Tambora. Dari kiri ke kanan Dr Indyo Pratomo, Dr Surono, Drs Sonny Wibisono, Drs I Made Geria, Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin. (Foto: Gapey Sandy)

Kapan persisnya peristiwa meletusnya Gunung Tambora, berhasil terungkap lantaran naskah-naskah kuno yang hingga kini masih tersimpan rapi. Rincian kronologis letusan Tambora yang memiliki skala 7 secara Volcanic Explosivity Index (VEI) ini tertulis dalam Syair Kerajaan Bima. Ditulis dalam bahasa Melayu, tapi syair tersebut bertuliskan Arab. Intinya, antara lain menyebutkan, letusan Tambora yang banyak memakan korban jiwa, terjadi terus-menerus selama tiga hari dua malam, tepatnya pada April 1815.

Paparan sejarah yang sangat penting ini disampaikan Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin SH, salah seorang keturunan Raja Bima terakhir, dan memiliki sekaligus merawat naskah-naskah kuno tersebut. “Saya menyimpan naskah-naskah kuno yang terbit pada abad ke-17 sampai 19. Diantara isi naskah tersebut, ada yang menuliskan letusan Gunung Tambora. Informasi tentang Tambora ini, sebenarnya saya sudah baca sejak 1992. Tapi, hanya sekadar sebagai berita saja. Artinya, saya tidak tahu seberapa besar dampak dan jumlah korban akibat letusan Tambora. Catatan dalam naskah tersebut berisi tentang kejadian letusan Tambora, yang sesuai penanggalan Arab, terjadi pada Rabiul Awal 1230 Hijriyah. Kalau kita konversi ke tahun masehi, maka jatuh pada tahun 1815 Masehi,” tuturnya.

Maryam menyampaikan isi naskah kuno tersebut ketika menjadi pembicara dalam talkshow bertajuk “Tambora dari Perspektif Mitologi, Arkeologi dan Kesejarahan, Geologi dan Mitigasi Kegunungan” yang diselenggarakan KOMPAS Gramedia di Bentara Budaya Jakarta, pada Jumat, 17 April 2015.

Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin, salah seorang keturunan Raja Bima. (Foto: Gapey Sandy)

Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin, salah seorang keturunan Raja Bima. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut Maryam lagi, dalam naskah kuno tersebut dapat diilustrasikan apa yang disaksikan dan dirasakan masyarakat kala itu. “Dalam naskah tercantum bahwa, ketika Subuh, langit kembali gelap gulita, lebih-lebih pada malam hari. Tiba-tiba, terdengar letusan-letusan seperti bunyi meriam, bagaikan ada orang berperang. Lalu kemudian dilanjutkan dengan jatuhnya debu, abu, dan batu kerikil, seperti dituang dari langit. Kejadian itu berlangsung selama tiga hari dua malam, terus menerus. Sehingga masyarakat bingung, takdir Allah apakah ini? Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Setelah terang hari, barulah terlihat rumah dan pekarangan hancur semua. Rupanya, inilah pecahnya Gunung Tambora, yang mengakibatkan habis mati orang [Kerajaan] Tambora, dan orang [Kerajaan] Pekat,” tutur Maryam.

Letusan Tambora memang membuat dunia tersentak. Tidak saja Indonesia yang mengalami dampaknya, tapi juga dunia global pun terimbas perubahan iklim, yang terkenal dengan ‘Tahun Tanpa Musim Panas’ atau A Year Without Summer. Hal ini terutama melanda benua Eropa dan Amerika. Sampai akhirnya, fokus untuk mengeksplorasi serba-serbi letusan Tambora semakin banyak dicari para peneliti. Salah satunya dilakukan oleh Haraldur Sigurdsson, volcanologist dari University of Rhode Island, Amerika Serikat.

“Pada 2004, saya didatangi oleh Profesor Sigurdsson, waktu itu saya masih tugas di Mataram, beliau datang khusus mencari saya. Katanya, dunia ini penasaran mengenai letusan Tambora. Dunia ingin tahu, apa yang ada sebelum meletusnya Gunung Tambora itu. Dari situ, saya mulai tahu, bahwa letusan Tambora ternyata begitu hebat,” kisah Maryam lagi.

Dari pertanyaan Sigurdsson itulah, Maryam kemudian menelisik kembali isi naskah kuno Syair Kerajaan Bima. “Dari naskah itu terdapat penjelasan bahwa sebelum Tambora meletus, di sekitar itu ada dua kerajaan yang lokasinya paling dekat dengan gunung. Yaitu, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Jumlah penduduknya ada ribuan orang dengan berbagai usia. Nah, sewaktu Tambora meletus, rupanya dua kerajaan ini terhapus sama sekali, sampai tidak ada satu orang pun rakyatnya yang ketinggalan [terselamatkan]. Selain dua kerajaan itu, ada lagi Kerajaan Sanggar yang tidak terlalu terkena dampak letusan Tambora. Tadinya, rakyat dua kerajaan [Tambora dan Pekat] ingin lari ke Sanggar, tapi tidak sempat [atau gagal], sehingga dalam perjalanan mereka meninggal akibat kelaparan. Ada juga yang menyebutkan, akibat peristiwa ini, masyarakat Tambora tinggal tersisa empat orang. Namun, keempatnya tidak diketahui kemana larinya dan bagaimana pula nasibnya,” tutur Maryam yang banyak menerima tamu peneliti Gunung Tambora, tidak saja dari lokal tapi juga mancanegara.

Drs I Made Geria (kiri) ketika menyampaikan paparannya dalam talkshow Kuldesak Tambora. Sementara sebelah kanan adalah Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin SH, salah seorang keturunan dari Raja Bima. (Foto: Gapey Sandy)

Drs I Made Geria (kiri) ketika menyampaikan paparannya dalam talkshow Kuldesak Tambora. Sementara sebelah kanan adalah Dr Hj Siti Maryam R Salahuddin SH, salah seorang keturunan dari Raja Bima. (Foto: Gapey Sandy)

Kisah Penemuan Artefak

Sementara itu, I Made Geria selaku Kepala Puslit Arkenas menceritakan pengalaman perdananya ketika memimpin ekscavasi Situs Tambora. “Awal mula melakukan ekscavasi di Tambora, saya meminta petunjuk terlebih dahulu dengan Ibu Siti Maryam. Waktu itu, kami bertemu di Mataram. Kemudian, ketika terjun ke lokasi penggalian, waktu itu tahun 2006. Turut bersama saya, Pak Indyo Pratomo. Di lokasi, kami menyaksikan sendiri betapa tutupan galian itu sangat tinggi sekali. Kata Pak Indyo, melakukan 25 meter baru menemukan artefak yang terkubur. Akhirnya, karena tinggi sekali tutupan tanahnya, maka kami memutuskan untuk melakukan penggalian yang bekas diporak-porandai Haraldur Sigurdsson, dan kebetulan yang kita gali itu juga bekas dilindas oleh alat berat proyek swasta yang dipergunakan untuk membuat jalan. Jadi semua sudah dalam kondisi terbuka. Waktu itu, kami menemukan artefak rumah masyarakat. Kita bersyukur menemukan ikatan atap rumah seperti yang ada di rumah-rumah adat Bali,” ujar Made Geria memberi kesaksian.

Dikatakannya lagi, tim ekscavasi Situs Tambora yang melanjutkan penggalian pada tahun berikutnya, menemukan kerangka manusia. Menariknya, kerangka ini menunjukkan ciri-ciri ‘orang dalam’ kerajaan, karena ditemukan pula beberapa atribut yang biasa dipergunakan oleh raja-raja Tambora.

“Tahun berikutnya, dengan peneliti yang lebih banyak, kita menemukan kerangka manusia, yang lengkap dengan atribut seperti misalnya membawa keris. Penemuan keris ini seperti yang dipergunakan oleh raja-raja Bima. Tapi, ketika penggalian terus dilakukan, kami tidak menemukan rumah istana. Sebab, rumah istana di Bima harus memiliki atap bersusun tiga. Jadi, apabila itu adalah seorang anggota kerajaan, kenapa orang tersebut ada di rumah warga, bukan di istana? Saya berkesimpulan bahwa, pada masa letusan Tambora itu, Kerajaan Tambora sudah melakukan mitigasi bencana, dengan mengirim seorang utusan raja ke wilayah pemukiman rakyat itu,” ujar Made Geria sembari menemukan juga artefak berupa rumah panggung sekitar enam unit. “Uniknya, meski bentuknya seperti rumah panggung, tapi kunci-kunci di daun pintunya sudah menggunakan kunci rumah modern. Mungkin, ini pengaruh dari pedagang asal Eropa yang berniaga di Tambora. Temuan ini juga membuat saya berkesimpulan, bahwa masyarakat Tambora bukan hanya masyarakat agraris saja, tapi juga masyarakat pedagang yang menghidupkan home industry-nya. Ini diperkuat dengan temuan artefak berupa alat-alat tenun. Setiap unit rumah, ditemukan dua alat tenun. Kalau kita terus gali, tentu akan banyak lebih banyak menemukan artefak. Sengaja dihentikan dulu agar tidak rusak lokasi situsnya”.

Ketika melakukan penggalian, Made Geria juga selalu bertindak penuh kehati-hatian. Misalnya, ini dilakukan ketika tim ekscavasi berhasil menemukan cincin. “Supaya tidak menimbulkan kehebohan, dan justru mengundang masyarakat untuk juga melakukan penggalian, sehingga khawatir membuat rusak alam lingkungan, ketika kami menemukan cincin, sengaja saya memerintahkan kepada sejumlah masyarakat yang berada di lokasi penggalian, untuk mencari daun yang dapat mengobati (sakit) perut. Sengaja saya perintahkan seperti itu, padahal sebenarnya hanya karena kami menemukan cincin, dan hal ini jangan sampai diketahui secara luas oleh masyarakat demi menjaga hal-hal tak diinginkan, seperti penggalian liar oleh masyarakat. Selain itu, kami juga menemukan tali tambang yang biasa dipergunakan untuk mengikat kuda. Semua ini menjadi indikasi kehidupan masyarakat Tambora,” jelas penulis buku Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora ini.

Aneka artefak hasil penggalian di situs Tambora sepanjang 2007 sampai 2013. Artefak ini tersimpan di Balai Arkeologi Denpasar, Bali. (Foto: Gapey Sandy)

Aneka artefak hasil penggalian di situs Tambora sepanjang 2007 sampai 2013. Artefak ini tersimpan di Balai Arkeologi Denpasar, Bali. (Foto: Gapey Sandy)

Dari berbagai temuan artefak itu, menurut Made Geria, pihaknya memperkirakan, lokasi pusat Kerajaan atau Kesultanan Tambora kemungkinan berada di rumah Belanda di wilayah kebun kopi yang ada saat ini. “Karena di rumah Belanda itu tempatnya tinggi, sehingga dengan posisi seperti ini strategis kalau kita melihat ke Pelabuhan Kenanga. Jadi, kalau orang berdiri di rumah Belanda itu, dapat mudah melihat kapal-kapal yang akan menuju ke pelabuhan. Arealnya juga luas. Selain itu, kita temukan juga benteng yang tradisional di Pelabuhan Kenanga. Dan saya tanya ke Prof Sigurdsson, dia juga menyetujui itu, walaupun setelah dites nampaknya menurut beliau, tanahnya itu sudah pernah ‘terganggu’. Yang menjadi pertanyaan juga, kenapa sejak zaman dulu, Belanda selalu mengincar tanah Tambora yang ada di lokasi itu. Mulai dari 1897 setelah berakhirnya efek letusan Tambora, mereka membuat kebun kopi di sana, lalu berlanjut 1902, dan 1930,” urai mantan Kepala Balai Arkeologi Denpasar ini.

Turut berbicara pada talkshow ini Drs Sonny Wibisono MA DEA (Arkeolog Puslit Arkenas, dan kini mengepalai penggalian ekscavasi Tambora), Dr Indyo Pratomo (peneliti dari Museum Geologi Bandung), dan Dr Surono selaku Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Talkshow dipandu Ahmad Arif, wartawan Kompas yang juga editor dan tim penulis buku Tambora Mengguncang Dunia.

Agenda Acara Kuldesak Tambora

Selain talkshow—yang menjadi bahagian dari acara KULDESAK TAMBORA Memperingati Dua Abad Letusan Tambora, dan berlangsung hingga 26 April 2015 di Bentara Budaya Jakarta—, sejumlah event lain juga digelar. Seperti, talkshow bertajuk Anak Gunung Bercerita tentang Gunung Mereka, yang akan dilaksanakan Kamis, 23 April (14.00 wib). Akan tampil para pembicara seperti As’ad (Desa Sanggar, Tambora), Bambang Kriwil dan Sriyanto (Merapi), Tanto Mendut dan Sujono (Komunitas 5 Gunung), dan Samudi (Liyangan, Sindoro).

Sedangkan pada Jumat, 24 April (14.00 wib) digelar bedah buku Tambora Mengguncang Dunia, dan Workshop Geotrek Perjalanan Menafsir Bumi. Akan berbicara pada sessi ini, Ahmad Arif (editor dan tim penulis buku Tambora Mengguncang Dunia), Dr Indyo Pratomo (peneliti dari Museum Geologi Bandung), dan T. Bachtiar (pakar Geografi dan penulis buku Geotrek Perjalanan Menafsir Bumi).

Secara keseluruhan, acara Pameran, Pergelaran dan Talkshow Kuldesak Tambora – Memperingati Dua Abad Letusan Tambora ini (sesuai tema) menempatkan Gunung Tambora sebagai fokus hajatan. Tetapi, pameran dan pergelaran kesenian yang terkait dengan tradisi gunung juga dilengkapi denan paparan beberapa gunung api lain yang dianggap fenomenal untuk skala regional maupun global. Sebut saja misalnya, Gunung Samalas (Lombok), Gunung Agung (Bali), Gunung Merapi (Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta), Gunung Ijen (Jawa Timur), Gunung Krakatau (Selat Sunda) dan Gunung Toba (Sumatera Utara).

Peninggalan masa lalu. Dari kiri ke kanan: Tali perangkap menjangan, tanduk rusa, keris, dan naskah kuno. (Foto: Gapey Sandy)

Peninggalan masa lalu. Dari kiri ke kanan: Tali perangkap menjangan, tanduk rusa, keris, dan naskah kuno. (Foto: Gapey Sandy)

Khusus untuk Pameran ‘Kuldesak Tambora’, pengunjung dapat menyaksikan delapan aspek yang ditampilkan, yaitu pertama, teks-teks lama dan literatur Gunung Tambora, Babad Bima, Syair Kerajaan Bima, dan berbagai publikasi kuno dalam bahasa daerah Bima. Semua ini adalah koleksi milik ilmuwan Dr Hj Siti Maryam M. Salahuddin SH, salah seorang pewaris Kerajaan Bima. Kedua, tentang proses letusan yang dipamerkan dalam bentuk infografik dan foto. Ketiga, mengenai dampak letusan terhadap tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Tambora, Pekat, dan Sanggar. Keempat, dampak letusan berdasarkan kajian vulkanologi dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang disampaikan dalam bentuk foto maupun infografik kepada pengunjung.

Dalam infografik Dampak Letusan Tambora di Indonesia, dipaparkan tentang kondisi sebagian besar kepulauan di Indonesia yang menjadi gelap karena abu yang dikeluarkan Tambora. Diantaranya disebutkan, Bali, Lombok dan pulau-pulau di sebelah barat Sumbawa, juga Sulawesi Selatan, tertutup abu dengan ketebalan mencapai 20 – 30 cm. Hal ini karena angin membawa abu ke arah barat laut. Banyaknya abu yang jatuh di Bali dan Lombok mengakibatkan gagal panen. Bali dan Lombok menjadi tergantung pada Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan beras. Jumlah korban letusan Tambora di Bali dan Lombok diperkirakan mencapai 200.000 jiwa.

Selimut debu juga menghancurkan tanaman dan sumber air. Penyakit diare dan demam mewabah dimana-mana. Air bersih sulit didapat, begitu juga makanan. Untuk menyelamatkan diri, penduduk keluar pulau secara besar-besaran. Sekitar 37.000 orang pergi meninggalkan Sumbawa menuju Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, Makassar, Laut Seram, dan tempat lain. Penduduk Sumbawa pun berkurang sekitar 84.000 orang dari 170.000 orang.

Selain itu, tsunami berskala sedang melanda pantai di sejumlah kepulauan Indonesia pada 10 April dengan ketinggian hingga 4 meter di Sanggar. Tsunami setinggi 1 – 2 meter dilaporkan terjadi juga di Besuki, Jawa Timur, sebelum tengah malam. Di Kepulauan Maluku, tinggi gelombang mencapai 2 meter.

Adapun infografik Dampak Global Letusan Tambora antara lain menyebutkan, di Amerika dan Eropa, tahun 1816, tidak mengalami musim panas. Kondisi suhu sangat dingin, yakni lebih rendah 2,5 derajat Celsius dari kondisi normal. Tanaman mati dan gagal panen. Harga pangan melambung tinggi, dan kelaparan terjadi dimana-mana. Di Connecticut, Amerika Serikat, pada 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan terjadi, dan pada hari-hari berikutnya hampir seluruh New England dilanda dingin. Banyak ternak mati sepanjang 1816-1817 di New England.

Kutipan Syair Kerajaan Bima tentang awal dan terjadinya letusan Tambora. (Foto: Gapey Sandy)

Kutipan Syair Kerajaan Bima tentang awal dan terjadinya letusan Tambora. (Foto: Gapey Sandy)

Di Jerman, krisis terjadi. Harga makanan melonjak tajam. Demonstrasi terjadi di depan pasar dan toko roti, diikuti kerusuhan, pembakaran, perampokan di kota-kota Eropa. Itulah kelaparan terburuk pada abad 19. Termasuk di Irlandia Utara, kelaparan terjadi setelah kegagalan panen gandum, oat, dan kentang. Penyimpangan iklim menjadi penyebab wabah typhus di tenggara Eropa dan Laut Tengah bagian timur antara 1816 hingga 1819.

Aspek kelima yang ditampilkan dalam Pameran ‘Kuldesak Tambora’ adalah ulasan mengenai pengaruh letusan ke wilayah lain terutama benua Eropa. Keenam, mengenai Kerajaan Sanggar dengan bukti-bukti petilasan sejarah dan artefak-artefaknya. Ketujuh, keindahan alam dan mitigasi. Sedangkan kedelapan, menampilkan potret enam gunung dalam bentuk infografis dan artefak.

Dalam pameran, para seniman dari Gunung Agung (Bali), Samalas (Lombok), Tambora (Sumbawa), dan Gunung Merapi (Jateng – DIY) mempertontonkan berbagai atraksi kesenian menarik.

o o o O o o o

Peta Pulau Sumbawa dimana Gunung Tambora berada. (Foto: Google Earth)

Peta Pulau Sumbawa dimana Gunung Tambora berada. (Foto: Google Earth)

Jumat, 10 April 2015 ini, tepat dua abad meletusnya Gunung Tambora. Letusan gunung api setinggi 2.730 meter dari permukaan laut (mdpl) yang berada di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini, memiliki banyak catatan luar biasa sekaligus mengerikan. Sebut saja misalnya, pertama, dari segi kedahsyatan letusan. Gunung Tambora yang meletus pada April 1815 menyalip letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883. Meskipun, letusan Gunung Tambora masih belum seberapa, bila dibandingkan letusan maha dahsyat Gunung Toba di Sumatera Utara, pada sekitar 75 ribu tahun lampau.

Di Indonesia, setidaknya ada 127 gunung api aktif tersebar dari ujung Barat sampai Timur. Seperti disampaikan dalam tayangan youtube Ekspedisi Cincin Api yang diunggah KompasTVNews, potensi letusan gunung-gunung ini amat dahsyat. Tak salah, kalau tiga ledakan gunung terbesar di planet bumi, berasal dari gunung yang ada di Indonesia, yaitu Gunung Toba, Tambora, dan Krakatau.

Masing-masing gunung memiliki indeks teratas dari ukuran vulkanologi, yang disebut Volcanic Explosivity Index (VEI). Gunung Toba yang meletus sekitar 75 ribu tahun lalu memiliki angka VEI 8, dan merupakan indeks tertinggi letusan gunung yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia. Sementara Gunung Tambora memiliki indeks angka letusan atau VEI 7. Sedangkan letusan Gunung Krakatau, konon setara dengan 30.000 kali kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. Gunung Krakatau dengan ketinggian 813 mdpl ini memiliki angka VEI 6.

Gunung Tambora kehilangan separuh ketinggiannya pasca letusan. Kaldera luas yang terbentuk pasca letusan Gunung Tambora pada April 1815 silam. (Foto: indonesiaarchipelago.com)

Gunung Tambora kehilangan separuh ketinggiannya pasca letusan. Kaldera luas yang terbentuk pasca letusan Gunung Tambora pada April 1815 silam. (Foto: indonesiaarchipelago.com)

Bandingkan dengan letusan Gunung Agung di Karangasem, Bali pada Agustus 1963 yang tercatat memiliki VEI 4, sama dengan letusan Gunung Awu di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Maret 1966, dan letusan Gunung Kelud di Jawa Timur, pada April 1966 juga.

Kedua, dari korban jiwa yang ditimbulkan. Jumlahnya, menurut perkiraan buku Tambora Mengguncang Dunia (2015) terbitan Penerbit Buku Kompas, sekitar 79.000 jiwa melayang. Tidak saja akibat terkena dampak lontaran benda-benda vulkanik Gunung Tambora—yang sebelum meletus tingginya mencapai 4.200 mdpl—, tapi juga terjangan wedus gembel alias awan panas. Berapa panasnya? Suhunya mencapai 1.000 derajat Celsius! Kecepatan pergerakannya pun sangat tinggi, hingga 700 km/jam.

Ketiga, letusan Gunung Tambora pada 200 tahun lalu itu, tercatat langsung melenyapkan dua kerajaan sekaligus, yaitu Tambora dan Pekat. Dua kerajaan ini memang berada pada posisi Gunung Tambora berada. Sedangkan Kerajaan Sanggar, meski menderita sedemikian parah akibat dampak letusan, tetapi masih dapat terselamatkan.

Selain itu, masih di dalam negeri, dari kronologi letusan dapat diketahui, sebenarnya sejak 1812 letusan-letusan kecil Gunung Tambora sudah terjadi. Kemudian, pada 5 April 1815, suara letusan terdengar bahkan sampai ke Makassar, Sulawesi, Batavia (kini Jakarta), dan Ternate di Maluku Utara. Barulah pada 10-11 April 2015, letusan Gunung Tambora mencapai puncaknya. Bunyi letusannya terdengar sampai ke Bangka dan Bengkulu (Sumatera). Gempa vulkaniknya terasa sampai ke Surabaya, Madura, dan Banyuwangi. Bahkan, Pulau Madura lumpuh tertutup abu selama tiga hari. Tak hanya Madura, abu vulkanik juga mencapai Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan, merusak tanaman dan memicu gagal panen di banyak daerah.

Ilustrasi Gunung Tambora sebelum dan sesudah letusan pada dua abad lampau. (Foto: Litbang Kompas)

Ilustrasi Gunung Tambora sebelum dan sesudah letusan pada dua abad lampau. (Foto: Litbang Kompas)

Keempat, tak salah apabila disebut ‘Letusan Tambora Mengguncang Dunia’. Karena dampak letusannya bahkan terasa sampai ke daratan Benua Eropa dan Amerika. Aerosol sulfat yang diembuskan gunung ini ketika meletus sanggup menutupi langit Eropa. Akibatnya, sinar matahari menjadi terhalang, dan sepanjang tahun itu, Eropa tidak merasakan musim panas sama sekali. Buntutnya, kelaparan dan kematian melanda, akibat pertanian dan perkebunan gagal panen. Letusan Tambora telah memicu krisis kemanusiaan terbesar di Eropa pada era modern. Ketika itu pula, lahir novel horor ilmiah yang melegenda karya Mary Godwin yaitu Frankenstein, yang menceritakan tentang penciptaan manusia.

‘Kelahiran’ Frankenstein bermula pada musim panas 1816, ketika Mary yang berusia 18 tahun berlibur bersama pasangannya Percy Bysshe Shelley ke Danau Geneva di Swiss. Tapi, bukan keceriaan suasana musim panas yang keduanya nikmati. Sebaliknya, justru suasana muram. “Segalanya basah, musim panas tak bersahabat, dan hujan yang tiada henti membuat kami hanya meringkuk di dalam rumah,” kenang Mary. Di pinggir danau Geneva, pada tahun suram itu, Mary mendapatkan inspirasi atas novel horor ilmiah Frankenstein itu. Mary selesai menulisnya pada Mei 1817, dan terbit perdana pada 1 Januari 1818.

Tahun 1816 itu, tak ada sama sekali musim panas di Swiss. Salju turun nyaris sepanjang tahun. Udara lebih dingin dari biasanya. Sinar matahari hilang entah ke mana. Kelaparan merajalela membunuh banyak warga. Di Kota Appenzeller, jumlah orang tewas pada tahun itu mencapai 10.000 jiwa, atau dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pemerintah Swiss mengumumkan situasi darurat nasional. (Tambora Mengguncang Dunia, hal. 26)

Kelima, sejak letusan Gunung Tambora pada April 1815, terjadi perubahan iklim di dunia. Penyebabnya, aerosol sulfat yang ’ditiupkan’ Gunung Tambora. Dampaknya, ternyata tidak sebentar. Karena sepanjang 1816, dunia menyebutnya sebagai tahun tanpa musim panas. Selain mengakibatkan gagal panen di Benua Eropa dan Amerika, ternyata efeknya juga membuat arah Angin Muson berubah. Apa imbasnya? Terjadi banjir di saat musim kemarau. Terutama ini melanda India, Pakistan, dan Bangladesh. Wabah penyakit kolera pun menyebar dari India sampai ke Rusia. Amazing!

Hujan deras mendera sebuah pemukiman di pinggang Tambora sesaat sebelum gunung api itu bererupsi dahsyat. Lalu, hujan abu dan gemuruh mulai meneror warga untuk lekas mengungsi. Malangnya, luncuran awan panas telah menerjang pemukiman sebelum semua warga meninggalkan desa. (Lukisan Sandy Solihin yang menjadi cover depan Majalah National Geographic, edisi April 2015)

Hujan deras mendera sebuah pemukiman di pinggang Tambora sesaat sebelum gunung api itu bererupsi dahsyat. Lalu, hujan abu dan gemuruh mulai meneror warga untuk lekas mengungsi. Malangnya, luncuran awan panas telah menerjang pemukiman sebelum semua warga meninggalkan desa. (Lukisan Sandy Solihin yang menjadi cover depan Majalah National Geographic, edisi April 2015)

* * * * *

Catatan miris di atas, tak pelak membuat momentum 200 tahun meletusnya Gunung Tambora menjadi sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, dilakukan sejumlah penggalian di lokasi sekitar Gunung Tambora. Penggalian dilakukan masyarakat guna mencari dan menemukan berbagai artefak dan benda-benda berharga, dari dua kerajaan yang hilang terkubur letusan Gunung Tambora. Hasilnya memang terbukti. Masyarakat banyak menemukan berbagai benda-benda kuno dari peradaban masa lampau. Sayangnya, penemuan ini tidak disimpan rapi, melainkan dijual ketika ada kolektor benda antik yang menawar dengan harga pantas. Maka, beralih tanganlah artefak berharga tersebut.

Beruntung ada Tim Ekskavasi Situs Tambora dari Balai Arkeologi Denpasar, Bali. Tim ini melakukan penggalian, dan menemukan artefak demi artefak peninggalan masyarakat Kerajaan Tambora, yang terkubur di kedalaman tanah setelah dilanda letusan Gunung Tambora dan terjangan awan panas. Hingga pertengahan 2014, tim diketuai oleh Drs I Made Geria M.Si. Pria kelahiran Denpasar, 1 Januari 1962 ini bekerja sepenuh hati, demi menemukan kembali peradaban yang hilang di sekitar Gunung Tambora. Hingga akhirnya, tepat 18 Juni 2014, Mendikbud kala itu, Muhammad Nuh, melantik I Made Geria sebagai Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Kemendikbud.

Pada Rabu siang, 8 April 2015 kemarin, pejabat eselon II di Kemendikbud ini menjawab pertanyaan penulis via telepon genggamnya. Dari nada bicaranya, I Made Geria memang selalu penuh semangat. Semakin ia berapi-api ketika menyampaikan rencananya, untuk meneruskan menggali dan menemukan peradaban masyarakat sekitar Gunung Tambora yang hilang. “Menarik, ada yang menyebut temuan tentang peradaban ini sebagai Pompeii Dari Timur,” ujarnya.

Drs I Made Geria, Kepala Pusat Arkeologi Nasional Kemendikbud. (Foto: KompasTVNews)

Drs I Made Geria, Kepala Pusat Arkeologi Nasional Kemendikbud. (Foto: KompasTVNews)

Berikut kutipan wawancaranya:

Kapan terakhir Anda melakukan penggalian, dan apa saja temuan terbaru serta terakhir?

Saya melakukan penggalian terakhir itu pada 2014, sebelum diangkat sebagai Kepala Pusat Arkeologi Nasional oleh Mendikbud waktu itu. Temuan-temuan terakhir yang diperoleh sama saja dengan penggalian sebelumnya, seperti misalnya bangunan kayu, rumah-rumah nusantara. Terakhir, masyarakat juga menemukan ada kerangka manusia, lengkap dengan tombak, keris, dan peralatan lainnya. Ini ditemukan oleh masyarakat dan diangkat. Nah, kita dilaporkan perihal temuan tersebut, yang kemudian oleh Balai Arkeologi Denpasar, Bali, yang memang berwenang pada wilayah tersebut, langsung melakukan pengecekan di lapangan.

Nah, tahun 2015 ini, mungkin kita akan menelusuri itu, misalnya untuk mengetahui dimana pemukiman masyarakat (yang terkubur akibat letusan Gunung Tambora – red). Sebelumnya, prediksi kita memperkirakan bahwa yang struktur bangunan yang ditemukan ini adalah sebuah kawasan pemukiman. Sedangkan kalau bisa kita prediksikan, lokasi yang sekarang menjadi tenpat berdirinya rumah Belanda, maka bisa saja, justru disitu juga terdapat bangunan istana pada masa lalu. Karena umumnya, pemukimannya berbentuk melingkar dan mengelilingi istana itu. Barangkali, begitu. Kita baru bisa memprediksi, karena belum menemukan lokasi letak istana pada masa lalu tersebut. Karena biasanya, rumah kolonial itu dibangun di atas lokasi bangunan yang telah ada sebelumnya. Hal seperti ini, sudah banyak contohnya.

Kapan tepatnya bakal mulai dilakukan penggalian lagi tahun ini?

Kalau semuanya lancar, maka rencana Pusat Arkeologi Nasional bersama pihak-pihak terkait akan mulai melakukan penelitian lagi pada 13 April 2015.

Penggalian ini memang menarik perhatian seluruh dunia. Apalagi ada dua kerajaan yang hilang terkubur akibat letusan Gunung Tambora. Bisa Anda jelaskan kerajaan itu?

Dari tiga kerajaan yang ada di sekitar Gunung Tambora, ada dua kerajaan yang hilang, yaitu Kerajaan Tambora, dan Kerajaan Pekat. Sedangkan Kerajaan Sanggar, selamat dari timbunan abu vulkanik, dan dahsyatnya serangan awan panas. Karena lokasinya cukup jauh dari Gunung Tambora, maka Kerajaan Sanggar hanya terdampak sangat keras. Meski ada juga yang meninggal dunia akibat dampak letusan gunung, tetapi sampai saat ini pun masih ada keluarga keturunan dari Kerajaan Sanggar yang masih hidup.

Sejumlah artefak peninggalan masyarakat Kerajaan Tambora yang terkubur dan hilang akibat letusan Gunung Tambora, pada April 1815 silam. (Foto: URI News Bureau)

Sejumlah artefak peninggalan masyarakat Kerajaan Tambora yang terkubur dan hilang akibat letusan Gunung Tambora, pada April 1815 silam. (Foto: URI News Bureau)

Soal bangunan istana yang terkubur akibat letusan Gunung Tambora tadi, menurut Anda, apa kepentingan paling utama untuk menemukan lokasi bangunan istana masa lalu tersebut?

Kalau ada orang yang menanyakan kepada saya, apa kepentingannya melakukan penggalian seperti ini, tentu jawaban saya adalah demi menemukan peradaban yang hilang. Meskipun untuk di wilayah Indonesia, peradaban yang dimaksud tidak seperti Kota Pompeii yang bangunannya megah. Tetapi ada juga ternyata yang menyebut bahwa penggalian di sekitar Gunung Tambora juga telah berhasil menemukan Pompeii Dari Timur.

Selain menemukan peradaban yang hilang, penggalian juga dilakukan untuk menemukan kembali warisan budaya Indonesia yang terkubur ini. Karena, dari warisan budaya ini, banyak menyimpan kearifan budaya lokal. Salah satu contoh adalah, di Kerajaan Tambora itu ternyata diketahui bukan saja sebagai kerajaan agraris di wilayah pegunungan. Karena dapat dipastikan, Kerajaan Tambora ini juga memiliki kemampuan perdagangan. Misalnya, mulai dengan melakukan perdagangan ke wilayah Bima, dan dari Bima kemudian produk-produk tersebut diekspor. Selain itu, Kerajaan Tambora juga mengembangkan perdagangan di wilayahnya sendiri. Apalagi, kerajaan ini istimewa karena strategis, terutama karena dua pelabuhannya yang selalu ramai, salah satunya Pelabuhan Kenanga.

Termasuk fakta temuan-temuan keramik asal Negeri Cina itu ya Pak?

Temuan-temuan penggalian berupa keramik asal Negeri Cina juga memiliki kaitan yang erat dengan perdagangan. Termasuk, kuda-kuda peliharaan yang sangat terkenal itu, dan kemudian diekspor melalui Bima. Kuda-kuda yang hebat itu kebanyakan bukan berasal dari Bima, tapi dari wilayah kerajaan di sekitar Gunung Tambora, yang kini terkubur akibat letusan gunung pada dua abad lampau.

Semua ini menandakan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) Kerajaan Tambora, sangat baik sekali. Termasuk, dapat bersaing dengan kerajaan-kerajaan lain yang berada di sekitarnya.

Pak Made Geria, dari artefak yang ditemukan, dan yang masih akan berusaha ditemukan, berapa perbandingan prosentase keduanya?

Benda-benda yang terkubur akibat letusan Gunung Tambora dan sudah berhasil ditemukan, bila dibandingkan dengan begitu luasnya Kerajaan Tambora, boleh dibilang masih sangat kecil sekali jumlahnya. Taruhlah, luas Kerajaan Tambora itu mencapai sekitar 500 hektar, dan penggalian yang kita lakukan baru sebagian kecil saja. Sebenarnya, (lokasi penggalian – red) ini ‘kan tanah negara. Maka sebaiknya, negara melakukan zoning terkait tanah ini. Sehingga nantinya, masyarakat tidak asal menggali dan mengangkat temuan-temuan yang terkubur dari dalam tanah. Ini penting, karena penggalian yang dilakukan dan akan dilakukan, dapat menemukan rumah peradaban Tambora. Sasarannya, bagaimana masyarakat saat ini dapat belajar dari kearifan lokal dan peradaban masyarakat Tambora masa lalu. Misalnya, belajar bagaimana beradaptasi antara manusia dengan alam. Apalagi, untuk saat ini, masyarakat sekitar sudah tidak lagi memanfaatkan pelabuhan untuk perdagangan demi memajukan kesejahteraan negeri, memanfaatkan wilayah agraris, dan sebagainya. Semuanya ini, sekarang justru sudah lost, hilang. Nah, kearifan-kearifan lokal seperti ini yang akan terus kita gali dan pelajari.

Penemuan kerangka manusia, dan struktur banguna rumah kayu khas Kerajaan Tambora. (Foto: Rik Stoetman)

Penemuan kerangka manusia, dan struktur banguna rumah kayu khas Kerajaan Tambora. (Foto: Rik Stoetman)

* * * * *

Ketika meletus, Gunung Tambora kehilangan separuh dari ketinggian dan volumenya. Kini, tingginya mencapai 2.730 mdpl. Kaldera yang terbentuk berdiameter 8 km. Sedangkan tinggi dasar kawah mencapai 1.300 mdpl.

Presiden Joko Widodo menetapkan kawasan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT). Deklarasi berlangsung meriah di lapangan Doro Ncanga, Desa Doro Peti, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (11 April 2015). Kegiatan Presiden ini termasuk rangkaian peringatan Dua Abad Letusan Tambora yang terjadi pada April 1815.

Bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Pariwisata, Gubernur NTB, dan Bupati Dompu, Presiden menandatangani surat resmi perihal peningkatan status TNGT tersebut. Tak cuma itu, di hadapan ribuan masyarakat yang hadir, Presiden yang juga didampingi Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, menginstruksikan kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Daerah Dompu serta Bima, untuk menjadikan momentum peringatan letusan Tambora sebagai agenda tahunan yang wajib dimeriahkan.

“Saya sudah bisikin ke Menteri Pariwisata, agar setiap tahun ada Festival Tambora. Akan dibiayai dari Pemerintah Pusat, biar semua tahu di mana itu Dompu, Bima, NTB, dan juga Indonesia,” urai Joko Widodo seraya berpesan agar TNGT dijaga dan dirawat, jangan sampai rusak.

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo ketika berada di Doro Peti, Sumbawa, NTB, mendeklarasikan Taman Nasional Gunung Tambora. (Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi)

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo ketika berada di Doro Peti, Sumbawa, NTB, mendeklarasikan Taman Nasional Gunung Tambora. (Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi)

Perhatian Pemerintah terhadap kawasan sekitar Gunung Tambora sebenarnya menambah daftar panjang keterlambatan terhadap upaya pelestarian warisan budaya Tambora. Logikanya, bagaimana mungkin setelah 200 tahun letusan Tambora, “negara” baru hadir dan mendeklarasikan TNGT? Padahal, “orang luar” sudah lebih dulu memberi perhatian bahkan terjun langsung melakukan penelitian di lapangan.

Pertanyaan miris terkait peran negara ini tidak ‘asbun’, asal bunyi. Maklum, sejak tiga sampai empat dasawarsa terakhir, benda-benda berharga yang berasal dari dua kerajaan, Tambora dan Pekat, sudah berhasil ditemukan dan ramai-ramai dimiliki masyarakat. Dua kerajaan ini memang lenyap terkubur seketika, menyusul letusan dahsyat Gunung Tambora yang ukuran daya eksplosif secara vulkanologi atau Volcanic Explosivity Index (VEI) mencapai angka 7. Sebagai perbandingan, letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, hanya memiliki angka VEI 6. Padahal, letusan Krakatau kekuatannya sama dengan 30.000 kali ledakan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang.

Baca tulisan [Dua Abad Letusan Tambora] Menghimpun Peradaban Pompeii dari Timur, yang menjadi Headline Kompasiana edisi Jumat, 10 April 2015.

Fakta tentang maraknya penggalian liar yang dilakukan masyarakat di lereng Tambora, merupakan salah satu yang diungkap Buku Seri Ekspedisi Cincin Api Kompas – TAMBORA MENGGUNCANG DUNIA. Kehadiran buku yang baru diterbitkan 2015 ini oleh Penerbit Buku Kompas ini tak ayal menambah khasanah pengetahuan publik terhadap dua abad letusan Tambora. Buku setebal 80 halaman yang ditulis oleh Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, dan Khaerul Anwar ini terdiri dari enam tulisan feature pendek, yang dikemas secara populer, informatif, edukatif, dan reportase yang faktual.

Penerbitan buku ini momentumnya pas dengan peringatan dua abad letusan Tambora. (Foto: Gapey Sandy)

Penerbitan buku ini momentumnya pas dengan peringatan dua abad letusan Tambora. (Foto: Gapey Sandy)

Cerita tentang awal mula penemuan benda-benda berharga warisan masyarakat dan kerajaan yang terkubur di lereng Tambora misalnya, dapat dijumpai pada bab berjudul Pompeii dari Timur. Disitu disebutkan, jejak berharga penemuan artefak warisan budaya masyarakat sekitar Tambora ditemukan secara kebetulan oleh para pekerja perusahaan kayu PT Veneer Products Indonesia. Perusahaan kayu ini beroperasi di lereng Tambora sejak 1972 karena tegiur dengan Pohon Klanggo (Duabanga moluccana) yang tumbuh lebat.

Suatu sore di tahun 1979, buldoser perata jalan melindas keramik, gerabah, senjata, perhiasan emas dan permata, serta aneka barang berharga lainnya. Temuan ini segera menyedot warga untuk berburu harta di pinggir sungai itu. “Tiba-tiba ratusan orang datang dan menggali di sini,” kisah Suparno, Kepala Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Bima di Oi Bura. “Banyak yang menemukan barang-barang dari emas dan perak, bahkan ada yang menemukan tengkorak manusia.” Sebagian temuan itu disimpan warga hingga kini dan sebagian dijual kepada kolektor yang datang berbondong. (hal. 18)

Singkat cerita, kala itu, kehebohan aktivitas penggalian harta karun ini berhasil dikendalikan aparat keamanan setempat. Seiring kisah itu, dengan cerdik, buku ini menyisipkan kalimat: “Namun, pemerintah masih menutup mata. Tak ada tim arkeolog ataupun pejabat pemerintah yang datang ke Oi Bura untuk menelisik lebih jauh”.

Harta karun masyarakat Tambora memang menyilaukan mata. Ini juga yang membuat Haraldur Sigurdsson, ahli gunung api dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat tertarik menelitinya. Tahun 1986, ia menyimak tentang temuan bersejarah itu. Lalu pada 2004, ia kembali datang ke Tambora didampingi peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Igan S Sutawidjaya. Mereka melakukan penggalian, dan pada kedalaman 3 meter, melewati lapisan piroklastik, batuan apung, abu, dan tanah lempung, ditemukanlah jejak peradaban yang terkubur.

Bab tulisan berjudul Pompeii dari Timur dalam Buku Tambora Mengguncang Dunia. (Foto: Gapey Sandy)

Bab tulisan berjudul Pompeii dari Timur dalam Buku Tambora Mengguncang Dunia. (Foto: Gapey Sandy)

Temuannya antara lain balok kayu bekas rumah yang gosong terarangkan, tembikar, keramik, peralatan rumah tangga, gabah dan kopi yang nyari shangus, perhiasana dari perunggu, juga dua kerangka manusia. Satu kerangka ditemukan persis di depan rumah dalam posisi tertelungkup. “Dia seperti hendak berlari ke luar. Namun, tiba-tiba awan panas menyapu,” tulis Sigurdsson dalam laporannya pada 2007. (hal.19)

Temuan Sigurdsson inilah yang akhirnya semakin membuka mata para vulkanolog dan arkeolog, Tak hanya itu, jejak peradaban ini juga membelalakkan mata dunia. Sejumlah situs asing, pada kurun 2006 lalu, ramai memberitakan hal ini. Misalnya, media sekelas bbc.co.uk yang menulis judul artikel: ‘Pompeii of the East’ Discovered atau Pompeii dari Timur Telah Ditemukan. Begitu juga dengan situs abc.net.au yang menulis dengan judul ’Pompeii of The East’ Found in Indonesia. Situs nationalgeographic.com memuat tulisan berjudul ‘Lost Kingdom’ Discovered on Volcanic Island in Indonesia. Tak mau ketinggalan, jurnalis John Noble Wilford dalam situs The New York Times menulis Under an 1815 Volcano Eruption, Remains of a ‘Lost Kingdom’.

Mengapa dunia menyebut Pompeii dari Timur? Sebenarnya ini hanya mencerminkan perbandingan saja, antara letusan Tambora yang mengubur peradaban sejarah masyarakat dan istana dua kerajaan sekaligus di lereng Tambora, dengan letusan Vesuvius—pada 24 Agustus tahun 79—yang mengubur dua Kota Romawi yaitu Pompeii dan Herculaneum. Jejak peradaban Pompeii akhirnya baru ditemukan pada 1748, menyusul penemuan Herculaneum sepuluh tahun sebelumnya. Temuan hasil penggalian sedalam 4 sampai 6 meter ini kemudian menjadi gambaran Romawi dalam skala kecil, dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia (world heritage site).

Adapun temuan hasil ekskavasi situs Pompeii tersebut berupa puing bangunan majelis rakyat, pemandian umum, vila, jalanan batu, hotel, keramik bergambar, pasar, restoran dan sejumlah lukisan. Saat ini, bekas reruntuhan bangunan dan artefak korban letusan gunung berapi yang direkonstruksi menjadi salah satu lokasi wisata yang menyedot hingga 2,5 juta pengunjung per tahun. Di Pompeii, pengunjung bisa belajar tentang banyak hal, mulai dari soal geologi, arkeologi, hingga sejarah kehidupan masa lalu. (hal.61)

Perbandingan letusan Gunung Api. Tambora berada nomor dua dari kiri. Gunung Tambora nomor dua dari kiri. (Foto: supervolcano.com)

Perbandingan letusan Gunung Api. Tambora berada nomor dua dari kiri. Gunung Tambora nomor dua dari kiri. (Foto: supervolcano.com)

Buku Tambora Mengguncang Dunia juga menurunkan tulisan satu halaman berjudul Pelajaran dari Pompeii. Intinya, mengingatkan semua pihak, bahwa sebenarnya letusan Tambora yang berlipat ganda kekuatannya dibandingkan Gunung Vesuvius—termasuk dampak erupsinya yang mengglobal—, layak memahkotai Gunung Tambora di Sumbawa sebagai salah satu warisan dunia juga. Apalagi, penggalian arkeologi yang terus dilakukan semakin banyak menemukan temuan-temuan jejak peradaban bersejarah yang terkubur letusan gunung ini 200 tahun lampau.

Selain mengulas serba-serbi Gunung Tambora, mulai dari sebelum meletus, kronologi letusan, kekuatan letusan, efek mengglobal yang ditimbulkan, hal-hal yang mengiringi atau terdampak letusan, hingga tulisan penutup yang diberi judul Perjalanan – Menghilang di Tambora, Terlena di Satonda, buku ini juga menukil hikayat tentang kerakusan manusia ‘memangsa’ Pohon Sappan (Sepang) dan Klanggo. Kedua jenis pepohonan ini banyak tumbuh di Sumbawa. Tapi sayang, karena eksploitasi besar-besaran pada 300 tahun silam, kedua pohon ini semakin mengalami kepunahan. Tulisan terkait hal ini dapat ditemukan pada tulisan bernuansa sejarah bisnis pada masa kolonial, yakni Sappan Hancur oleh Manusia. (hal. 58)

Dari sisi pembelajaran sejarah, buku ini semakin kaya karena memuat tulisan berjudul Kesaksian Pribumib (hal. 22), yang isinya memuat legenda rakyat terkait letusan Tambora, mulai dari Kisah Sultan Durhaka, Syair Kerajaan Bima, dan Rekaman Kolonial. Diantara rekaman kolonial tersebut adalah tulisan mengenai kondisi di Makassar, menyusul letusan Gunung Tambora. Tertanggal 12-15 April 1815, rekaman atau catatan tersebut adalah seperti berikut:

“Tanggal 12-15 April udara masih tipis dan berdebu, sinar matahari pun masih terhalang. Dengan sedikit dan terkadang tidak ada angin sama sekali. Pagi hari tanggal 15 April, kami berlayar dari Makassar dengan sedikit angin. Di atas laut terapung batu-batu apung, dan air pun tertutup debu. Di sepanjang pantai, pasir terlihat bercampur dengan batu-batu berwarna hitam, pohon-pohon tumbang. Perahu sangat sulit menembus Teluk Bima karena laut benar-benar tertutup”.

Bagi para calon pendaki Gunung Tambora, meski ketinggian gunung api ini sudah hilang separuhnya (dari 4.200 mdpl menjadi 2.730 mdpl) akibat letusan tahun 1815, tetapi bukan berarti menjadi sepele untuk didaki. Apalagi, dengan kaldera yang terbentuk mencapai diameter 8 km, dengan tinggi dasar kawah mencapai 1.300 mdpl, Gunung Tambora masih sangat menantang nyali, skill dan adrenalin. Tulisan feature menarik tentang kisah perjalanan Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mendaki Gunung Tambora dari dua jalur pendakian yang berbeda—Doro Peti dan Desa Pancasila (Kebun Kopi)—, menjadi pamungkas buku ini dengan segala efek menegangkannya.

Artefak peninggalan bersejarah Pompeii dari Timur yang terkubur dan berhasil ditemukan dalam proses ekskavasi. (Foto: newswise.com)

Artefak peninggalan bersejarah Pompeii dari Timur yang terkubur dan berhasil ditemukan dalam proses ekskavasi. (Foto: newswise.com)

Kenapa tegang? Anda harus membacanya sendiri, bagaimana tim ekspedisi ini dalam pendakiannya harus berjuang menghadapi jelatang atau dalam bahasa lokalnya meladi, yaitu tanaman yang daun dan batangnya berbisa. Juga, terjalnya jalan mendaki dan kegalapan yang nyaris sempurna (demi mengejar sampai ke puncak, sebelum waktu matahari terbit), lengkap dengan udara menipis bercampur belerang serta debu, pada lokasi ketinggian tubir kaldera, sehingga membuat nafas semakin terasa sesak. Belum lagi, cerita tentang seorang anggota tim yang mengalami keseleo kaki namun tetap semangat mendaki hingga puncak. Temukan juga cerita tentang pengalaman tim ekspedisi ketika mulai mengalami krisis air minum, portir yang cukup rewel, dan ada juga yang mengalami tersesat ketika meniti jalur pulang. Pokoknya, buku yang menurut sang editornya, Ahmad Arif, dimaksudkan sebagai bagian dari laporan Ekspedisi Cincin Api Kompas yang dilakukan pada 2011-2012 ini benar-benar seru abis!

Buku dengan perwajahan sampul yang memuat foto pemandangan kaldera Tambora ini patut menjadi bacaan prioritas, bahkan rasanya wajib dimiliki oleh setiap perpustakaan sekolah. Bukan saja untuk semakin mengabarkan peringatan dua abad letusan Gunung Tambora saja, tapi juga, menyemai cinta warisan budaya negeri sendiri. Agar jangan sampai, “orang luar” terpesona dengan Situs Purbakala Tambora, sementara “anak bangsa sendiri”, sama sekali tidak memahaminya. Hendaknya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjembatani agar content buku ini bisa tune in dengan materi kurikulum sekolah, terutama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Toh, buku yang full color ini juga tidak membosankan untuk dibaca, karena memuat banyak foto-foto indah nan luar biasa sepanjang cerita Gunung Tambora dan sekitarnya, termasuk keindahan Danau Satonda yang memiliki air asin.

Untuk itu, akan lebih baik lagi, apabila Pemerintah tidak berhenti pada sekadar mendeklarasikan TNGT dan melaksanakan Festival Tambora sebagai pesta seremonial tahunan saja, tapi juga, menyelamatkan artefak yang sudah ditemukan, yang akan segera ditemukan seiring dilakukannya ekskavasi, dan menghimpun seluruh temuan jejak peradaban Pompeii dari Timur dalam satu museum kebanggaan. Jangan sampai ada lagi cerita, artefak-artefak bersejarah Tambora, apapun bentuknya, berpindah-kepemilikan ke tangan kolektor.

Sedikit masukan untuk buku ini adalah beberapa kalimat yang menjadi lead dan menumpuk di cover depan juga belakang, membuat tampilan desain menjadi kurang artistik. Padahal foto cover sudah teramat cantik dan maksimal. Selain itu, perpindahan dari tulisan pendek satu ke tulisan berikutnya, hendaknya dapat lebih di-lay-out secara apik, sehingga pembaca tidak bingung, tulisan yang tengah dibacanya berasal dari sambungan tulisan sebelumnya yang mana.

Laman situs luar negeri yang menurunkan artikel tentang penemuan peradaban Pompeii dari Timur. (Foto: bbc.co.uk)

Laman situs luar negeri yang menurunkan artikel tentang penemuan peradaban Pompeii dari Timur. (Foto: bbc.co.uk)

Satu lagi, bagus juga rasanya apabila kondisi perkembangan paling aktual terkait dua abad letusan Tambora semakin diaktualisasi dalam buku ini, mulai dari rencana pengembangan TNGT, pemanfaatan acara tahunan Festival Tambora yang dapat lebih menggaungkankan letusan Tambora ke fora internasional, hingga prospek wisata sejarah dan ekologi yang ditawarkan Tambora.

Presiden Joko Widodo menetapkan kawasan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT). Deklarasi berlangsung meriah di lapangan Doro Ncanga, Desa Doro Peti, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (11 April 2015). Kegiatan Presiden ini termasuk rangkaian peringatan Dua Abad Letusan Tambora yang terjadi pada April 1815.

Bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Pariwisata, Gubernur NTB, dan Bupati Dompu, Presiden menandatangani surat resmi perihal peningkatan status TNGT tersebut. Tak cuma itu, di hadapan ribuan masyarakat yang hadir, Presiden yang juga didampingi Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, menginstruksikan kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Daerah Dompu serta Bima, untuk menjadikan momentum peringatan letusan Tambora sebagai agenda tahunan yang wajib dimeriahkan.

“Saya sudah bisikin ke Menteri Pariwisata, agar setiap tahun ada Festival Tambora. Akan dibiayai dari Pemerintah Pusat, biar semua tahu di mana itu Dompu, Bima, NTB, dan juga Indonesia,” urai Joko Widodo seraya berpesan agar TNGT dijaga dan dirawat, jangan sampai rusak.

Perhatian Pemerintah terhadap kawasan sekitar Gunung Tambora sebenarnya menambah daftar panjang keterlambatan terhadap upaya pelestarian warisan budaya Tambora. Logikanya, bagaimana mungkin setelah 200 tahun letusan Tambora, “negara” baru hadir dan mendeklarasikan TNGT? Padahal, “orang luar” sudah lebih dulu memberi perhatian bahkan terjun langsung melakukan penelitian di lapangan.

Kuda menjadi alat transportasi andalan masyarakat sekitar Gunung Tambora, Sumbawa, NTB. (Foto: Gapey Sandy)

Kuda menjadi alat transportasi andalan masyarakat sekitar Gunung Tambora, Sumbawa, NTB. (Foto: Gapey Sandy)

Pertanyaan miris terkait peran negara ini tidak ‘asbun’, asal bunyi. Maklum, sejak tiga sampai empat dasawarsa terakhir, benda-benda berharga yang berasal dari dua kerajaan, Tambora dan Pekat, sudah berhasil ditemukan dan ramai-ramai dimiliki masyarakat. Dua kerajaan ini memang lenyap terkubur seketika, menyusul letusan dahsyat Gunung Tambora yang ukuran daya eksplosif secara vulkanologi atau Volcanic Explosivity Index (VEI) mencapai angka 7. Sebagai perbandingan, letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, hanya memiliki angka VEI 6. Padahal, letusan Krakatau kekuatannya sama dengan 30.000 kali ledakan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang.

Baca tulisan [Dua Abad Letusan Tambora] Menghimpun Peradaban Pompeii dari Timur, yang menjadi Headline Kompasiana edisi Jumat, 10 April 2015.

Fakta tentang maraknya penggalian liar yang dilakukan masyarakat di lereng Tambora, merupakan salah satu yang diungkap Buku Seri Ekspedisi Cincin Api Kompas – TAMBORA MENGGUNCANG DUNIA. Kehadiran buku yang baru diterbitkan 2015 ini oleh Penerbit Buku Kompas ini tak ayal menambah khasanah pengetahuan publik terhadap dua abad letusan Tambora. Buku setebal 80 halaman yang ditulis oleh Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, dan Khaerul Anwar ini terdiri dari enam tulisan feature pendek, yang dikemas secara populer, informatif, edukatif, dan reportase yang faktual.

Cerita tentang awal mula penemuan benda-benda berharga warisan masyarakat dan kerajaan yang terkubur di lereng Tambora misalnya, dapat dijumpai pada bab berjudul Pompeii dari Timur. Disitu disebutkan, jejak berharga penemuan artefak warisan budaya masyarakat sekitar Tambora ditemukan secara kebetulan oleh para pekerja perusahaan kayu PT Veneer Products Indonesia. Perusahaan kayu ini beroperasi di lereng Tambora sejak 1972 karena tegiur dengan Pohon Klanggo (Duabanga moluccana) yang tumbuh lebat.

Suatu sore di tahun 1979, buldoser perata jalan melindas keramik, gerabah, senjata, perhiasan emas dan permata, serta aneka barang berharga lainnya. Temuan ini segera menyedot warga untuk berburu harta di pinggir sungai itu. “Tiba-tiba ratusan orang datang dan menggali di sini,” kisah Suparno, Kepala Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Bima di Oi Bura. “Banyak yang menemukan barang-barang dari emas dan perak, bahkan ada yang menemukan tengkorak manusia.” Sebagian temuan itu disimpan warga hingga kini dan sebagian dijual kepada kolektor yang datang berbondong. (hal. 18)

Singkat cerita, kala itu, kehebohan aktivitas penggalian harta karun ini berhasil dikendalikan aparat keamanan setempat. Seiring kisah itu, dengan cerdik, buku ini menyisipkan kalimat: “Namun, pemerintah masih menutup mata. Tak ada tim arkeolog ataupun pejabat pemerintah yang datang ke Oi Bura untuk menelisik lebih jauh”.

Harta karun masyarakat Tambora memang menyilaukan mata. Ini juga yang membuat Haraldur Sigurdsson, ahli gunung api dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat tertarik menelitinya. Tahun 1986, ia menyimak tentang temuan bersejarah itu. Lalu pada 2004, ia kembali datang ke Tambora didampingi peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Igan S Sutawidjaya. Mereka melakukan penggalian, dan pada kedalaman 3 meter, melewati lapisan piroklastik, batuan apung, abu, dan tanah lempung, ditemukanlah jejak peradaban yang terkubur.

Temuannya antara lain balok kayu bekas rumah yang gosong terarangkan, tembikar, keramik, peralatan rumah tangga, gabah dan kopi yang nyari shangus, perhiasana dari perunggu, juga dua kerangka manusia. Satu kerangka ditemukan persis di depan rumah dalam posisi tertelungkup. “Dia seperti hendak berlari ke luar. Namun, tiba-tiba awan panas menyapu,” tulis Sigurdsson dalam laporannya pada 2007. (hal.19)

Temuan Sigurdsson inilah yang akhirnya semakin membuka mata para vulkanolog dan arkeolog, Tak hanya itu, jejak peradaban ini juga membelalakkan mata dunia. Sejumlah situs asing, pada kurun 2006 lalu, ramai memberitakan hal ini. Misalnya, media sekelas bbc.co.uk yang menulis judul artikel: ‘Pompeii of the East’ Discovered atau Pompeii dari Timur Telah Ditemukan. Begitu juga dengan situs abc.net.au yang menulis dengan judul ’Pompeii of The East’ Found in Indonesia. Situs nationalgeographic.com memuat tulisan berjudul ‘Lost Kingdom’ Discovered on Volcanic Island in Indonesia. Tak mau ketinggalan, jurnalis John Noble Wilford dalam situs The New York Times menulis Under an 1815 Volcano Eruption, Remains of a ‘Lost Kingdom’.

Mengapa dunia menyebut Pompeii dari Timur? Sebenarnya ini hanya mencerminkan perbandingan saja, antara letusan Tambora yang mengubur peradaban sejarah masyarakat dan istana dua kerajaan sekaligus di lereng Tambora, dengan letusan Vesuvius—pada 24 Agustus tahun 79—yang mengubur dua Kota Romawi yaitu Pompeii dan Herculaneum. Jejak peradaban Pompeii akhirnya baru ditemukan pada 1748, menyusul penemuan Herculaneum sepuluh tahun sebelumnya. Temuan hasil penggalian sedalam 4 sampai 6 meter ini kemudian menjadi gambaran Romawi dalam skala kecil, dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia (world heritage site).

Adapun temuan hasil ekskavasi situs Pompeii tersebut berupa puing bangunan majelis rakyat, pemandian umum, vila, jalanan batu, hotel, keramik bergambar, pasar, restoran dan sejumlah lukisan. Saat ini, bekas reruntuhan bangunan dan artefak korban letusan gunung berapi yang direkonstruksi menjadi salah satu lokasi wisata yang menyedot hingga 2,5 juta pengunjung per tahun. Di Pompeii, pengunjung bisa belajar tentang banyak hal, mulai dari soal geologi, arkeologi, hingga sejarah kehidupan masa lalu. (hal.61)

Buku Tambora Mengguncang Dunia juga menurunkan tulisan satu halaman berjudul Pelajaran dari Pompeii. Intinya, mengingatkan semua pihak, bahwa sebenarnya letusan Tambora yang berlipat ganda kekuatannya dibandingkan Gunung Vesuvius—termasuk dampak erupsinya yang mengglobal—, layak memahkotai Gunung Tambora di Sumbawa sebagai salah satu warisan dunia juga. Apalagi, penggalian arkeologi yang terus dilakukan semakin banyak menemukan temuan-temuan jejak peradaban bersejarah yang terkubur letusan gunung ini 200 tahun lampau.

Selain mengulas serba-serbi Gunung Tambora, mulai dari sebelum meletus, kronologi letusan, kekuatan letusan, efek mengglobal yang ditimbulkan, hal-hal yang mengiringi atau terdampak letusan, hingga tulisan penutup yang diberi judul Perjalanan – Menghilang di Tambora, Terlena di Satonda, buku ini juga menukil hikayat tentang kerakusan manusia ‘memangsa’ Pohon Sappan (Sepang) dan Klanggo. Kedua jenis pepohonan ini banyak tumbuh di Sumbawa. Tapi sayang, karena eksploitasi besar-besaran pada 300 tahun silam, kedua pohon ini semakin mengalami kepunahan. Tulisan terkait hal ini dapat ditemukan pada tulisan bernuansa sejarah bisnis pada masa kolonial, yakni Sappan Hancur oleh Manusia. (hal. 58)

Bab tulisan berjudul Letusan Paling Mematikan. (Foto: Gapey Sandy)

Bab tulisan berjudul Letusan Paling Mematikan. (Foto: Gapey Sandy)

Dari sisi pembelajaran sejarah, buku ini semakin kaya karena memuat tulisan berjudul Kesaksian Pribumib (hal. 22), yang isinya memuat legenda rakyat terkait letusan Tambora, mulai dari Kisah Sultan Durhaka, Syair Kerajaan Bima, dan Rekaman Kolonial. Diantara rekaman kolonial tersebut adalah tulisan mengenai kondisi di Makassar, menyusul letusan Gunung Tambora. Tertanggal 12-15 April 1815, rekaman atau catatan tersebut adalah seperti berikut:

“Tanggal 12-15 April udara masih tipis dan berdebu, sinar matahari pun masih terhalang. Dengan sedikit dan terkadang tidak ada angin sama sekali. Pagi hari tanggal 15 April, kami berlayar dari Makassar dengan sedikit angin. Di atas laut terapung batu-batu apung, dan air pun tertutup debu. Di sepanjang pantai, pasir terlihat bercampur dengan batu-batu berwarna hitam, pohon-pohon tumbang. Perahu sangat sulit menembus Teluk Bima karena laut benar-benar tertutup”.

Bagi para calon pendaki Gunung Tambora, meski ketinggian gunung api ini sudah hilang separuhnya (dari 4.200 mdpl menjadi 2.730 mdpl) akibat letusan tahun 1815, tetapi bukan berarti menjadi sepele untuk didaki. Apalagi, dengan kaldera yang terbentuk mencapai diameter 8 km, dengan tinggi dasar kawah mencapai 1.300 mdpl, Gunung Tambora masih sangat menantang nyali, skill dan adrenalin. Tulisan feature menarik tentang kisah perjalanan Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mendaki Gunung Tambora dari dua jalur pendakian yang berbeda—Doro Peti dan Desa Pancasila (Kebun Kopi)—, menjadi pamungkas buku ini dengan segala efek menegangkannya.

Kenapa tegang? Anda harus membacanya sendiri, bagaimana tim ekspedisi ini dalam pendakiannya harus berjuang menghadapi jelatang atau dalam bahasa lokalnya meladi, yaitu tanaman yang daun dan batangnya berbisa. Juga, terjalnya jalan mendaki dan kegalapan yang nyaris sempurna (demi mengejar sampai ke puncak, sebelum waktu matahari terbit), lengkap dengan udara menipis bercampur belerang serta debu, pada lokasi ketinggian tubir kaldera, sehingga membuat nafas semakin terasa sesak. Belum lagi, cerita tentang seorang anggota tim yang mengalami keseleo kaki namun tetap semangat mendaki hingga puncak. Temukan juga cerita tentang pengalaman tim ekspedisi ketika mulai mengalami krisis air minum, portir yang cukup rewel, dan ada juga yang mengalami tersesat ketika meniti jalur pulang. Pokoknya, buku yang menurut sang editornya, Ahmad Arif, dimaksudkan sebagai bagian dari laporan Ekspedisi Cincin Api Kompas yang dilakukan pada 2011-2012 ini benar-benar seru abis!

Buku dengan perwajahan sampul yang memuat foto pemandangan kaldera Tambora ini patut menjadi bacaan prioritas, bahkan rasanya wajib dimiliki oleh setiap perpustakaan sekolah. Bukan saja untuk semakin mengabarkan peringatan dua abad letusan Gunung Tambora saja, tapi juga, menyemai cinta warisan budaya negeri sendiri. Agar jangan sampai, “orang luar” terpesona dengan Situs Purbakala Tambora, sementara “anak bangsa sendiri”, sama sekali tidak memahaminya. Hendaknya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjembatani agar content buku ini bisa tune in dengan materi kurikulum sekolah, terutama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Toh, buku yang full color ini juga tidak membosankan untuk dibaca, karena memuat banyak foto-foto indah nan luar biasa sepanjang cerita Gunung Tambora dan sekitarnya, termasuk keindahan Danau Satonda yang memiliki air asin.

Untuk itu, akan lebih baik lagi, apabila Pemerintah tidak berhenti pada sekadar mendeklarasikan TNGT dan melaksanakan Festival Tambora sebagai pesta seremonial tahunan saja, tapi juga, menyelamatkan artefak yang sudah ditemukan, yang akan segera ditemukan seiring dilakukannya ekskavasi, dan menghimpun seluruh temuan jejak peradaban Pompeii dari Timur dalam satu museum kebanggaan. Jangan sampai ada lagi cerita, artefak-artefak bersejarah Tambora, apapun bentuknya, berpindah-kepemilikan ke tangan kolektor.

Sedikit masukan untuk buku ini adalah beberapa kalimat yang menjadi lead dan menumpuk di cover depan juga belakang, membuat tampilan desain menjadi kurang artistik. Padahal foto cover sudah teramat cantik dan maksimal. Selain itu, perpindahan dari tulisan pendek satu ke tulisan berikutnya, hendaknya dapat lebih di-lay-out secara apik, sehingga pembaca tidak bingung, tulisan yang tengah dibacanya berasal dari sambungan tulisan sebelumnya yang mana.

Satu lagi, bagus juga rasanya apabila kondisi perkembangan paling aktual terkait dua abad letusan Tambora semakin diaktualisasi dalam buku ini, mulai dari rencana pengembangan TNGT, pemanfaatan acara tahunan Festival Tambora yang dapat lebih menggaungkankan letusan Tambora ke fora internasional, hingga prospek wisata sejarah dan ekologi yang ditawarkan Tambora.

* * * * *

Cover depan Buku Tambora Mengguncang Dunia

Cover depan Buku Tambora Mengguncang Dunia

Judul Buku: Tambora Mengguncang Dunia

Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, Khaerul Anwar

Editor: Ahmad Arif

Litbang: Rustiono

Grafis: Gunawan

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tahun: 2015

Halaman: 80 halaman

Ukuran: 17 cm x 24,8 cm

ISBN: 978-979-709-925-1