Seorang komunikator pasti dituntut pandai berkomunikasi secara lisan. Tapi menurut buku ini, pandai secara lisan belum cukup. Komunikator andal harus pula ‘berbicara’ melalui tindakan dan sifat. Setelah berhasil menjadi komunikator andal sekalipun, jangan dulu beranggapan sebagai suatu pencapaian istimewa. Karena menurut buku ini, komunikator andal masih harus meningkatkan kapasitas dirinya lagi sebagai seorang inspirator.

Muchlis Anwar ketika menjadi pembicara pada satu sessi pelatihan public speaking. (Foto: muchlisanwar.blogspot.com)

Muchlis Anwar ketika menjadi pembicara pada satu sessi pelatihan public speaking. (Foto: muchlisanwar.blogspot.com)

Begitulah, buku The Art Communication – Menjadi Pribadi yang Hebat dengan Kemampuan Komunikasi karya Muchlis Anwar ini sarat motivasi bagi setiap pembaca, karena mengingatkan kembali pentingnya komunikasi, sekaligus rujukan untuk menjadi komunikator andal. Selain itu, buku yang diterbitkan oleh Penerbit Bestari pada November 2014 ini juga mewanti-wanti pembaca yang serius ingin berprofesi sebagai komunikator handal agar tidak menganggap predikat communicator sebagai puncak pencapaian. Lho?

Menurut Ulish (sapaan akrab penulis buku ini), menjadi komunikator yang bisa memukau audiens dengan kemampuan retorika yang baik, analisa yang tajam, serta wawasan yang luas memang menjadi impian banyak orang. Tapi lebih dari itu, saya ingin mengajak kita semua untuk menjadi komunikator yang menginspirasi. Efek dari komunikasi yang menginspirasi adalah tindakan untuk melakukan perubahan, tindakan untuk membuktikan apa yang sudah dipelajari. Inspirator merupakan pencapaian istimewa dari seorang komunikator. Karena tidak semua komunikator dapat mendapai level ini. (hal. 70)

Jangan merasa cepat puas dengan pencapaian yang telah direngkuh, sebelum memberi perubahan positif kepada banyak orang. Kiranya, inilah intisari pembelajaran dari Bab 6 buku ini yang diberi judul Menjadi Inspirator. Mengapa Ulish menitikberatkan pada pencapaian inspirator daripada sekadar komunikator? Penulis buku kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 14 Desember 1971 ini menuturkan, para inspirator berkomunikasi lewat bicara dan terlebih lagi lewat tindakan nyat. Ada prestasi, ada pencapaian tertentu yang tidak dimiliki orang bayak. Prestasi ini hanyalah stimulus untuk berbuat sesuatu. Yang terpenting adalah cerita panjang di balik pencapaian tersebut. Seorang inspirator adalah mereka yang telah berjuang membangun prestasi yang panjang untuk ditiru. (hal. 71)

Buku ini juga menitikberatkan pada tujuan agar pembaca lebih termotivasi menjadi seorang inspirator daripada komunikator. (Foto/Desain: Gapey Sandy)

Buku ini juga menitikberatkan pada tujuan agar pembaca lebih termotivasi menjadi seorang inspirator daripada komunikator. (Foto/Desain: Gapey Sandy)

Mengapa Ulish sedemikian tega ‘meracuni’ pembaca untuk jangan hanya sekadar menjadi komunikator? Jawabannya, karena waktu jualah yang membuktikan. Perjalanan karir Ulish yang bermula sebagai ‘tukang cuap-cuap’ alias penyiar radio di Surabaya, kemudian watawan majalah dan televisi swasta di Jakarta—sembari menamatkan studinya di bidang PR, public relation—, berhasil memupuk dan menahbiskan sosoknya sebagai motivator public speaking sejak 2003. Sekian lama berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam kaitan komunikasi, berpindah dari satu panggung eksistensi ke panggung berikutnya, membuat Ulish menampik berpuas diri pada maqam komunikator. Sebaliknya, bapak dua anak ini semakin berjuang menempatkan posisi diri pada terminal paling puncak yakni inspirator.

Berbekal teori dunia PR dan terasah pada berbagai praktik sebagai instruktur public speaking di lapangan, Ulish paham betul tentang hal-hal yang musti dilakukan untuk menjadi inspirator kawakan. Satu tips sederhana disodorkan Ulish dengan mengutip Robin Sharma. Menurut penulis asal Kanada itu dalam bukunya The Leader Who Had No Title, ada 17 tips yang dapat dilakukan demi menjadi inspirator. Mulai dari: Lakukan sesuatu, jangan hanya bicara; Hargai orang lain; Gunakan bahasa para pemimpin, bukan bahasa orang-orang kalah; Jangan mengharapkan pengakuan terhadap pekerjaan-pekerjaan yang telah diselesaikan; Jadilah bagian dari pemecahan masalah, bukan malah jadi sumber masalah; Selalu tampil fit dengan menjaga kesehatan; dan, Berkomitmen untuk menjadi yang terbaik di bidang yang ditekuni.

Masih ada lagi tips simple untuk mejadi inspirator, yaitu: Belajar paling tidak satu jam dalam sehari dan tingkatkan terus kualitas serta kuantitasnya; Bertanggung-jawab terhadap diri sendiri; Berani melakukan hal-hal kecil kendati memiliki risiko; Jadilah pemimpin bagi diri sendiri; Berfokus pada kekuatan/kelebihan orang lain, jangan hanya melihat kekurangan mereka; Selalu tunjukkan kinerja terbaik; Lebih banyak tersenyum; Lebih banyak mendengar (speak less, listen more); Ucapkan “tolong” dan “terima kasih”; dan, Lakukan pekerjaan-pekerjaan yang penting juga berguna.

Buku The Art of Communication.

Buku The Art of Communication.

Dalam buku setebal 144 halaman yang terdiri dari sembilan bab ini, Ulish menggunakan bahasa tutur, sebuah gaya bahasa penulisan yang sudah ia pahami betul apa dan bagaimana teknisnya, sekaligus ‘A sampai Z’ praktiknya. Maklum, pengalamannya berkarir sebagai announcer radio (dan wartawan televisi), menjadikannya tak harus berkutat pada teks bahasa formal yang kaku. Menggunakan bahasa tutur sama artinya dengan kemudahan membangun ‘keakraban’ dengan pendengar, pemirsa, dan tentu saja kali ini, dengan para pembaca bukunya. Salah satu ciri positif yang nampak dari gaya bahasa Ulish yang bertutur dalam bukunya ini adalah, nyaris tidak ditemukannya ada kata yang sulit dimengerti, atau kalimat yang harus dibaca ulang sebelum pembaca memahami maksudnya. Inilah kekhasan bahasa tutur, gaya bahasa yang menyederhanakan atau mengubah istilah-istilah rumit menjadi mudah dipahami. Aturan paling terkenal yang menyatakan hal ini adalah ‘KISS!’ alias Keep It Simple, Stupid!

Sebagai peresensi buku yang latarbelakang profesinya tak jauh beda dengan Ulish, patut diyakini bahwa Ulish menimba ilmu bahasa tutur yang enak dibaca ini, sejak berprofesi sebagai penyiar radio, tambah lagi ketika ia menjadi wartawan televisi, dan semakin mendalami teorinya ketika menimba ilmu bidang public relation. Lebih dari itu, peresensi percaya, sosok Andy Rustam, pakar komunikasi media yang juga mentor dunia radio, kiranya sedikit-banyak telah mempengaruhi Ulish dengan kepandaiannya berkomunikasi, atau menjadi komunikator. Asal tahu saja, Andy Rustam—yang sebenarnya memiliki nama panjang Munaf—, tak lain adalah kakak kandung dari musisi jazz Fariz Rustam Munaf. Banyak awak-awak media radio yang menjadi lebih sukses setelah berguru dengan Andy Rustam.

Kedekatan dan ‘penghormatan’ Ulish terhadap sosok Andy Rustam bahkan membuatnya mempublikasikan resensi singkat bukunya yang ditulis Andy Rustam, lengkap dengan kombinasi foto. Begini kalimat resensi singkat Andy Rustam, yang diunggah Ulish ke akun Facebook miliknya, Ulish Anwar: Pemegang rekor dunia lari 100 m Usain Bolt dari Jamaika mengatakan bahwa lari bukanlah hanya kerja dari kaki, melainkan juga tanganmu, tubuhmu, kepalamu. Pendek kata keseluruhan dirinya yang membuatnya menjadi juara dunia. Dalam buku ini, Ulish membukakan pikiran kita bahwa berkomunikasi bukanlah soal berkata-kata saja, melainkan wajah kita, tubuh kita, bahkan jiwa kita pun ikut bekerja demi suksesnya kita dalam berkomunikasi. Sehingga kalau saya boleh memberi judul lain pada buku ini maka pastilah judulnya: TOTAL COMMUNICATION.

Sebenarnya, apa yang dimaksudkan Andy Rustam, bahwa apa yang dikemukakan Ulish mengingatkan kembali kepada para pembaca, tentang berkomunikasi yang “bukanlah soal kata-kata saja”, termasuk merupakan salah satu buku keunggulan dari buku berukuran ‘mini’, 15 cm x 16 cm ini.

Resensi singkat dari Andy Rustam untuk buku The Art of Communication. (Foto: Akun FB Ulish Anwar)

Resensi singkat dari Andy Rustam untuk buku The Art of Communication. (Foto: Akun FB Ulish Anwar)

Sebagai contoh, dalam Bab 2 yang berjudul Menjadi Komunikator Andal, Ulish membeberkan empat unsur utama untuk menjadi komunikator andal tersebut, yaitu pertama, Karakter Positif. Seorang komunikator andal dituntut untuk selalu mengembangkan karakter yang positif. Mereka dipercaya karena integritas dan kejujuran, mereka dicintai karena selalu berempati, mereka dikagumi karena kesabaran dan ketulusannya.

Kedua, Wawasan. Akses untuk berbicara dengan lebih banyak orang terbuka lebar bagi komunikator yang berwawasan luas. Dia bisa menjangkau banyak orang dengan beragam minat. Wawasannya telah menjadi jembatan baginya untuk menyeberangi beragam hal yang tidak mampu dijangkau oleh orang lain. Untuk memperluas wawasan, harus melakukan secara kontinyu empat hal yaitu banyak baca, banyak lihat, banyak dengar, dan banyak gaul.

Ketiga, Teknik Komunikasi. Dengan menguasai teknik komunikasi, pesan kita akan mudah dimengerti sehingga akan mendapatkan feedback sesuai dengan yang kita inginkan. Tiga hal yang harus dikuasai untuk teknik komunikasi ini adalah: tahu apa yang akan disampaikan (Pesan); tahu bagaimana cara menyampaikannya (Cara); dan, tahu kepada siapa akan menyampaikan pesan tersebut (Audiens).

Keempat, Penampilan. Ungkapan yang lebih tepat untuk menjelaskan hal ini adalah “Medium is the message”. Penampilan kita, meliputi busana yang dikenakan dan perawatan tubuh, membawa pesan tersendiri terhadap nilai pesan yang akan disampaikan.

Kutipan bijaksana dan melecutkan motivasi dari buku Muchlis Anwar. (Foto: muchlisanwar.blogspot.com)

Kutipan bijaksana dan melecutkan motivasi dari buku Muchlis Anwar. (Foto: muchlisanwar.blogspot.com)

Akhirnya, buku ini menjadi teramat patut dibaca dan diresapi isinya oleh mereka yang bercita-cita menjadi komunikator andal. Sesudah itu tercapai, hindari untuk berpuas diri. Karena, komunikator andal sekali pun akan belum termasuk sesuatu yang membanggakan, apabila belum memberikan inspirasi positif kepada banyak orang. Maka itu, lanjutkan untuk meng-upgrade posisi komunikator andal itu menjadi inspirator.

Selain gaya bahasa bertutur yang membuat pembaca tidak mengernyitkan dahi karena menemukan kata-kata maupun kalimat yang sulit dipahami maknanya, buku ini juga menarik karena didesain secara popular, mulai dari huruf atau font besar yang memanjakan mata, warna font yang (tidak hitam) melainkan terkadang hijau berpadu merah, juga lay out buku yang anti mainstream karena terkadang satu kolom, dua kolom, bahkan sesekali kombinasi dari keduanya. Buku ini semakin unggul dibandingkan dengan buku-buku ‘ber-genre” Komunikasi lainnya, karena memuat banyak sekali tips yang sederhana namun patut dipraktikkan. Termasuk 22 tips seni berkomunikasi yang disodorkan Ulish sebelum mengakhiri bukunya dengan Daftar Pustaka, Tentang Penulis, dan Galeri Foto yang berisi sejumlah foto-foto Ulish ketika tengah ‘manggung’ sebagai pembicara serta instruktur pada berbagai kesempatan.

Tak ada gading yang tak retak, sayangnya, ditemui dalam buku ini, ada halaman yang font-nya diberi warna oranye dengan warna dasar halaman coklat kehijauan, sehingga tulisannya menjadi tak terbaca dengan jelas, misalnya pada halaman 127. Juga pada Daftar Isi, dimana font-nya hijau dipadu dengan blok warna dasar hijau yang rada mengaburkan tulisan.

Last but not least, selamat membaca buku yang berkualitas ini, dan mereguk ilmu-ilmu berkomunikasi.

* * * * *

Info Buku

Sampul buku The Art of Communication

Sampul buku The Art of Communication

Judul buku : The Art of Communication – Menjadi Pribadi yang Hebat dengan Kemampuan Komunikasi.

Penulis : Muchlis Anwar.

Editor : Muhamad Ilyasa.

Halaman : 144 halaman.

Ukuran : 15 cm x 16 cm.

Penerbit : Penerbit Bestari, Jakarta.

Tahun, Cetakan : November 2014, I.

* Tulisan resensi buku ini menjadi HEADLINE di blog Kompasiana.com edisi hari Kamis, 22 Januari 2015. ( LINK:  http://media.kompasiana.com/buku/2015/01/22/jadilah-inspirator-jangan-hanya-komunikator-718617.html )

Iklan