Makna “oase” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, tempat, pengalaman dan sebagainya, yang menyenangkan di tengah-tengah suasana yang serba kalut dan tidak menyenangkan. Seperti memaknai kata “oase” inilah, buku berjudul Oase Pendidikan Di Indonesia : Kisah Inspiratif Para Pendidik kemudian hadir ke ranah publik. Layaknya sebidang telaga, dengan air yang tenang dan jernih, meskipun dikelilingi tanah legam tandus kering kerontang, membaca buku ini memang terasa “menyegarkan”.

Sampul buku Oase Pendidikan Di Indonesia. Kisah Inspiratif Para Pendidik yang diterbitkan oleh Tanoto Foundation, dan Raih Asa Sukses (Penerbit Swadaya Grup). (Foto: dokpri)

Sampul buku Oase Pendidikan Di Indonesia. Kisah Inspiratif Para Pendidik yang diterbitkan oleh Tanoto Foundation, dan Raih Asa Sukses (Penerbit Swadaya Grup). (Foto: dokpri)

Citra penggambaran “oase” yang menyejukkan tadi, apabila direkatkan pada kondisi Pendidikan di Indonesia, sungguh terjadi perbedaan yang kontras, yaitu antara realitas pendidikan yang mainstream, seragam, dan kaku, dengan upaya melakoni pendidikan kreatif yang jelas anti-mainstream. Sebut saja misalnya, pendidikan anak-anak yang diselenggarakan oleh Sanggar Anak Alam (Salam) di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dan Sanggar Anak Akar di Kalimalang, Jakarta Timur. Kedua sanggar ini mengajarkan pendidikan budi pekerti kepada anak didik, melalui cinta dan kasih sayang sejati, serta berlandaskan moralitas kejujuran yang menekankan pada suri tauladan.

Dalam bahasa yang lebih pas, aktivitas belajar-mengajar di kedua sanggar yang turut mengemuka dalam materi buku ini, menerapkan pendidikan karakter yang tidak absurd, yang sesungguhnya. Anak-anak sejak dini belajar memaknai semua peristiwa secara aktif. Belajar menghadapi masalah yang nyata. Mereka juga belajar bagaimana bersikap secara jujur dan akhirnya menemukan kebijakan (wisdom). Anak-anak tidak harus menghapal text book yang tebal tentang pendidikan karakter. Mereka, justru belajar dari buku kehidupan! Inilah yang dikemukakan Tim Penulis dari Salam yakni Sri Wahyaningsih, Erna Iswati, Windarki Rahayu, dan Udin Setyawan.

Tak heran, ketika suatu hari gentong tanah liat di kamar mandi Salam pecah akibat ulah anak-anak yang sering nyemplung didalamnya, tidak patut ada guru yang marah, sekaligus pula tidak perlu ada anak-anak yang ketakutan dimarahi. Justru sebaliknya, terjadi dialog yang mengedepankan kejujuran anak-anak. Secara sportif dan penuh jenaka, mereka mengakui bahwa, memang beberapa kali mandi di sekolah sembari nyemplung ke dalam gentong. Alasannya? Khas anak-anak, sebagian menjawab, enak, asyik, seolah mandi di bathtube, hingga serasa mandi di hotel. Tapi, dengan bimbingan dialog yang terstruktur oleh guru mereka, Sri Wahyaningsing, anak-anak pun mengakui akibat dari seringnya mereka melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dengan mandi sambil nyemplung ke dalam gentong. Diantaranya, boros air, boros waktu, mandi jadi tidak bersih, sabun masih menempel di badan, hingga fatalnya lagi, membuat gentong lama-kelamaan retak, terus melebar, hingga akhirnya pecah.

Sekapur Sirih dari Tanoto Foundation. (Foto: dokpri)

Sekapur Sirih dari Tanoto Foundation. (Foto: dokpri)

Klimaksnya, insiden gentong pecah ini tidak berhenti hanya pada pengakuan jujur, rasa bersalah, dan introspeksi anak-anak saja. Mereka kemudian menunjukkan kekompakan yang simpatik dengan memanggul seluruh tanggung-jawab demi mengganti gentong yang pecah. Caranya? Bukan dengan meminta uang kepada orang tua mereka masing-masing. Melainkan, dengan cara terus mengumpulkan beraneka barang-barang bekas yang dapat diuangkan. Hasilnya, kurang dari satu minggu, uang untuk membeli gentong baru sudah terkumpul.

Salam berdiri pada tahun 2000 di Kampung Nitiprayan, Kelurahan Ngestiharjo, Kabupaten Banten, Yogyakarta. Proses kelahirannya melalui perenungan panjang dan bermuara pada keinginan untuk membuat sekolah yang memberi ruang merdeka lahir batin kepada anak-anak. Sekaligus, meletakkan dasar pendidikan yang bermoral dan berkarakter. Mata pelajaran untuk pendidikan dasar tidak perlu terlalu banyak.

Bahkan, dengan segala resiko, Salam mendesain kurikulum sendiri, menggunakan perspektif pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya. Untuk kelas satu hingga kelas tiga, lebih difokuskan pada kemampuan mengenal huruf dan angka sebagai dasar membaca, menulis, dan berhitung. Kelas empat sampai enam, dengan penguasaan membaca, menulis dan berhitung, media yang digunakan serta seluruh metode diabdikan untuk penguasaan anak terhadap berbagai pengetahuan, penguasaan keterampilan serta membangun sikap terhadap kehidupan nyata. Guru, hanya berfungsi sebagai fasilitator yang memberi motivasi dan penguatan bila diperlukan.

Buku karya Tim Penulis Mitra Forum Pelita Pendidikan yang diterbitkan oleh Tanoto Foundation dan Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Grup) ini memang “pandai” menempatkan kisah penuh hikmah dari insiden gentong pecah dan celengan hilang di Salam sebagai preambule Bab 1 yang mengambil judul besar Pembelajaran yang Memerdekakan. Setidaknya, perhatian pembaca menjadi tercuri dengan tutur true story tersebut. Sehingga untuk selanjutnya, pembaca kian penasaran untuk melahap lembar demi lembar isi buku setebal 260 halaman ini tanpa ada kejenuhan. Selain itu, kalimat-kalimat bijak mengenai pendidikan yang dituliskan oleh ke-18 penulis, begitu mudah dicerna karena disampaikan tanpa bersifat menggurui, juga tidak dengan ego hanya membenarkan aktivitas penyelenggaraan pendidikan pilihan yang dilakoni.

Buku yang bermuatan banyak kisah inspiratif para pendidik dalam berjuang dengan penuh kasih sayang demi anak didiknya. (Foto: dokpri)

Buku yang bermuatan banyak kisah inspiratif para pendidik dalam berjuang dengan penuh kasih sayang demi anak didiknya. (Foto: dokpri)

Menariknya lagi, Guru Karakter dan Perubahan yang juga mantan CEO Balai Pustaka (2007-2012), DR Zaim Uchrowi, memberikan Pengantar untuk buku ini. Cermatan kolomnis yang karyanya selalu bijak ini, diantaranya mengajak semua pihak untuk kembali mengangkat soal aspek ‘jiwa’ agar sama berharga dengan ‘raga’, dan ‘rasa’ didudukkan kembali sama tinggi dengan ‘raga’. Masalahnya, tulis Zaim, ajakan ini tidak dapat dilakukan melalui pendekatan umum pendidikan yang lebih menitikberatkan pada aspek kognitif, dan mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik. Disinilah, pendidikan alternatif menjadi langkah untuk menyeimbangkan ketiga aspek tersebut sekaligus, dengan nyata-nyata mempraktikkan kegiatan belajar mengajar dua arah yang tak menjemukan, belajar dari peristiwa kehidupan, termasuk mengaduk-aduk perasaan siswa untuk mengajarkan prinsip keberagaman atau pluralitas.

Visual Auditori Kinestetik Taktil

Selain teori penyelenggaraan pendidikan yang bernas itu, buku ini juga kaya dengan pengetahuan sekaligus langkah implementasinya, agar pendidikan berjalan secara total welas asih terhadap anak-anak plus memanusiawikan mereka. Contohnya, seperti yang ditulis Diyar Ginanjar, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, yang juga pengajar di Sekolah Semesta Hati, Cimahi, Jawa Barat.

Tulisan berjudul Gios Tetap Peringkat Satu yang muncul di halaman 57 ini, menukil kisah tentang Gios, anak lelaki usia delapan tahun, yang terpaksa dipindahkan oleh orang-tuanya dari salah satu Sekolah Dasar Negeri ke Sekolah Semesta Hati. Kenapa? Besar kemungkinan karena Gios yang terkesan “liar” ini dianggap kurang berprestasi. Gios juga tak pernah betah berlama-lama belajar di dalam kelas. Ia mengalami kesulitan membaca, menulis, dan berhitung. Belum lagi, dua lembar hasil tes psikologis Gios, yang seolah memvonis peringkat IQ-nya, sehingga guru kelas sebelumnya pun, takut tidak bisa menangani dan memahami Gios diantara puluhan siswa yang lain.

Sebagai pendidik yang bertanggung-jawab, Diyar tak cepat putus asa menangani Gios. Anak didik yang gemar melontarkan dua perbendaharaan kata yang cukup memerahkan telinga dan mendidihkan hati, yaitu kata ‘anjing’ dan ‘goblok’ bila digoda oleh teman-temannya ini, justru mendapat observasi serius. “Bagiku kasus anak dengan kesulitan membaca dan menulis ini menjadi pekerjaan rumah baru,” tulis Diyar. (hal. 66)

Bab 2 isi buku yang mengetengahkan judul utama Anak dan Komunitas Belajarnya. (Foto: dokpri)

Bab 2 isi buku yang mengetengahkan judul utama Anak dan Komunitas Belajarnya. (Foto: dokpri)

Suatu kali, ketika Diyar menemani Gios belajar di kantin, anak didiknya ini bercerita bahwa huruf-huruf dalam kalimat yang ada di buku sering goyang-goyang dan jungkir balik. Sampai-sampai ia bingung membedakan huruf yang sekilas terlihat mirip, misalnya huruf ‘b’ dan ‘d’, huruf ‘n’ dan ‘u’, serta huruf ‘k’ dan ‘h’. Setelah melakukan riset, Diyar berkesimpulan, penyebab masalah Gios adalah faktor internal, kemungkinan adanya disfungsi saraf. Disfungsi ini menyebabkan kesulitan belajar, tunagrahita dan gangguan emosional. Bak seorang “tabib”, Diyar pun menemukan “ramuan ampuh”, yakni dengan menerapkan teori Fernald yakni mengembangkan metode pengajaran membaca multisensori, atau Visual Auditori Kinestetik Taktil (VAKT).

Ada empat tahapan yang musti dilakukan sesuai metode Fernald. Pertama, Diyar menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayonnya. Gios kemudian menelusuri tulisan tersebut, melihat tulisan (visual), dan mengucapkannya dengan keras (auditori). Kedua, Gios tidak terlalu lama diminat menelusuri tulisan-tulisan dengan jari, tetapi mempelajari tulisan Diyar dengan melihat Diyar menulis, sambil mengucapkannya. Ketiga, Gios mempelajari kata-kata baru. Gios melihat tulisan di papan tulis atau tulisan cetak, dengan mengucapkan kata tersebut terlebih dahulu sebelum menulis. Pada tahap ini, Gios mulai membaca tulisan dari buku. Keempat, Gios mampu mengingat kata-kata yang dicetak, atau bagian-bagian dari kata yang telah dipelajari.

Hasilnya? Memang membutuhkan kesabaran dan waktu. Tapi, secercah harapan dikemukakan oleh kedua orangtua Gios. Menurut cerita sang ibunda, pada saat Gios tengah diajak berjalan-jalan, tiba-tiba saja Gios membaca suatu tulisan. Ia mengeja tulisan yang tertera di papan nama milik pedagang bakso. “Saya kaget Pak, saat Gios bilang, ‘Mami itu Bakso Pak Kumis’ sambil menunjuk sebuah papan nama,” ujar ibunda Gios. (hal. 70)

Bab 3 isi buku yang mengetengahkan judul utama Membangun Profesionalisme Guru. (Foto: dokpri)

Bab 3 isi buku yang mengetengahkan judul utama Membangun Profesionalisme Guru. (Foto: dokpri)

Dalam buku yang terdiri dari tiga bab ini, tulisan Diyar tentang kisahnya mendampingi Gios, begitu enak dibaca. Maklum, ia menuliskannya dalam bahasa lisan, bahasa tutur yang menggunakan kata ‘aku’ untuk mewakili dirinya selaku pengajar. Begitu pula dengan teori pendidikan yang biasanya mengawang-awang, praktik ideal terhadap metode pendidikan yang umumnya menjemukan, justru dikemas Diyar secara apik dan runut dalam tulisan ini. Alhasil, muncul perasaan terpana, keharuan, keterpesonaan, dan kebangaan yang menyeruak dari ‘kita’, sidang pembaca yang menyelami kisah Gios. Beginilah sejatinya Oase Pendidikan, yang sungguh ingin ditularkan kisah inspirasinya melalui buku yang cukup banyak disisipi gambar-gambar kartun atau ilustrasi sesuai tema tulisan ini.

Lantas bagaimana dengan pendidikan di Sanggar Anak Akar? Cerita ini tersaji melalui tulisan Ibe Karyanto, pendiri dan Koordinator Sanggar Anak Akar yang berlokasi di Kalimalang, Jakarta Timur. Tulisan yang diberi judul Ketika Anak Memaknai Kebebasan ini, benar-benar mampu menyegarkan kembali cara pandang kita terhadap pendidikan yang dilakukan di sebuah sanggar, yang diantaranya menampung anak-anak jalanan, serta kebanyakan lagi anak-anak yang orangtuanya memiliki masalah rumah tangga. Tetap dengan gaya bahasa bertutur yang serius tapi santai, tulisan tersebut termuat di Bab 2 yang mengetengahkan judul utama Anak dan Komunitas Belajarnya.

Sanggar Anak Akar berdiri pada tahun 1994. Menurut refleksi Putri, salah seorang anak didik yang masih sempat mengenyam bangku sekolah hingga kelas III SMP, belajar di sanggar ini tidak seperti di sekolah formal. “Di sini aku bebas menentukan belajar apa saja yang aku suka. Aku bisa belajar kapan pun aku mau. Di sini aku bisa dekat dengan moderatornya (sebutan untuk guru), bisa ngobrol seperti teman. Cara belajar bersamanya di kelas juga menyenangkan,” tulis Putri. (hal. 151)

Terbukti, pada saat pelajaran Sastra, Putri termasuk yang paling siap pada saat anak-anak sanggar menceritakan ulang novel yang baru selesai mereka baca, diantaranya Anak Bajang Menggiring Angin, Sengsara Membawa Nikmat, Perempuan di Titik Nol, dan Siti Nurbaya. Putri tidak hanya memaparkan ulang isi novelnya, tetapi menambahkan beberapa hal yang menarik, termasuk pemahamannya tentang tema utama novel-novel tersebut. Diantaranya, tentang perempuan yang ditindas oleh kaum lelaki, terutama antara novel Siti Nurbaya dan Perempuan di Titik Nol.

Penggambaran yang detil tentang profil anak-anak sanggar, disertai dialog anak-anak yang begitu khas teramat memperkaya tulisan Ibe Karyanto. Kisah inspiratif para pendidik yang pada galibnya memuat hikmah atas peristiwa kehidupan, tidak harus disampaikan secara letterlijk. Tetapi, cukup dengan hanya menampilkan beragam permasalahan rutin sehari-hari, yang kemudian secara bersama-sama dicermati dan digali sisi positif maupun negatifnya guna dijadikan sebagai contoh faktual pembelajaran terbaik. “Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar hanyalah satu ruang di mana anak belajar untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan dan menemukan kebebasan untuk berusaha mewujudkan mimpi-mimpi terbaiknya,” demikian Ibe Karyanto mengakhiri paragraf tulisannya.

Salah satu gambar kartun atau ilustrasi dua halaman yang makin memperkaya Buku Oase Pendidikan di Indonesia. (Foto: dokpri)

Salah satu gambar kartun atau ilustrasi dua halaman yang makin memperkaya Buku Oase Pendidikan di Indonesia. (Foto: dokpri)

Buku yang baru dicetak untuk pertama kali pada tahun 2014 ini, sebenarnya tidak hanya mengedepankan kisah-kisah inspiratif dari lingkungan pendidikan alternatif saja, tapi juga dari lembaga pendidikan formal. Seperti misalnya, tulisan Tuti J Rismarini, Kepala SMP Negeri 2 Pagedangan di Kabupaten Tangerang, Banten, yang diberi judul Beasiswa dari Jepit Rambut. Berawal dari kisah Rizki yang merupakan anak dari keluarga kurang mampu, Tuti coba mengupayakan pengadaan sepeda untuk membantu aksesibilitas Rizki bersekolah. Caranya? Bukan dengan begitu saja membelikan sepeda, tapi dengan mengajak serta seluruh insan di sekolah terlibat dalam pembuatan kerajinan tangan yang berpotensi memiliki daya jual tinggi, yakni jepit rambut.

Awalnya, perjuangan Tuti menggelorakan keunggulan non-akademik dalam program ‘Pendidikan Kecakapan Hidup’ dengan membuat jepit rambut, menemui tantangan sekaligus penolakan terutama dari para orangtua murid. Bahkan, ada orangtua murid yang sampai menyatakan khawatir, apabila putra mereka bakal menjadi banci lantaran mempraktikkan pembuatan jepit rambut. Tapi dengan penjelasan yang elegan dan mendalam mengenai banyaknya anak didik yang membutuhkan pengadaan beasiswa sepeda untuk bersekolah, keadaan menjadi berbalik. Para orangtua justru trenyuh, dan mendukung sepenuhnya pembuatan jepit rambut oleh para siswa, yang kemudian diperjual-belikan kepada khalayak sehingga hasil keuntungannya dapat disubstitusi sebagai beasiswa sepeda bagi siswa-siswa yang utamanya berprestasi namun kurang mampu secara ekonomi, dan siswa-siswa yang yatim juga miskin meskipun kurang berprestasi.

Keberhasilan Tuti melaksanakan program beasiswa sepeda ini kontan saja membuahkan banyak sanjung puji. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang bahkan sempat menganugerahkan julukan SMP Negeri 2 Pagedangan ini sebagai pelopor life skill tingkat SMP. Selain itu, Tuti pun diganjar menjadi Kepala Sekolah berprestasi.

Salah satu kegiatan Tanoto Foundation dalam bidang pendidikan. (Foto: riauterkini.com)

Salah satu kegiatan Tanoto Foundation dalam bidang pendidikan. (Foto: riauterkini.com)

Sementara itu, pada bab 3 yang diberi judul Membangun Profesionalisme Guru, terdapat enam tulisan yang seluruhnya coba untuk merefleksikan sosok guru, mulai dari aspek kepribadian, kesejahteraan, kompetensi, lingkungan komunitas sebagai tempat berinteraksi dan berekspresi para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Semuanya dipaparkan secara multi sudut pandang, bahkan berani menyuarakan kebenaran berdasarkan fakta dan data yang ada. Misalnya, keberanian Ginanjar Hambali, guru di SMA Negeri 7 Pandeglang dan aktivis Forum Guru Pandeglang, Banten, yang dalam tulisannya berjudul Sertifikasi Bukan Sihir mempersoalkan adanya ancaman bagi guru. Yaitu, kepada para guru yang hendak memilih dan nekat membentuk organisasi guru baru, atau di luar yang sudah lebih dahulu ada. Padahal, UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2006 sebenarnya mengatur bahwa, guru bisa membentuk organisasi profesi yang bersifat independen. Praktiknya sungguh ironis, di sejumlah daerah, guru bahkan diancam tidak akan diurus kenaikan pangkatnya, jika membangun organisasi guru baru. (hal. 189)

Buku ini ditutup dengan Epilog berjudul Rimpang-Rimpang Pendidikan Indonesia yang ditulis oleh Dewi Susanti, mantan Direktur Program Tanoto Foundation yang kini bekerja sebagai Kepala Spesialis Peneliti di Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Dewi mengutip pernyataan almarhum Mochtar Buchori (salah seorang pakar perencanaan pendidikan), sebagai pengantar epilognya. Bunyinya: “Belajar dari seorang guru yang banyak membaca dan berpengetahuan luas, bagaikan meminum air segar dari mata air yang tiada habisnya. Belajar dari seorang guru yang jarang membaca dan tidak bertambah pengetahuannya, bagaikan meminum air keruh yang sudah lama menggenang”.

Kiranya, buku ini menjadi wajib dibaca oleh seluruh guru dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Karena, seperti dikemukakan Tanoto Foundation, sebuah yayasan nirlaba yang didirikan oleh Bapak Sukanto Tanoto dan Ibu Tinah Bingei Tanoto, dalam Sekapur Sirih, terdapat semangat dari para penulis di buku ini, untuk mendidik dan memajukan pendidikan di Indonesia. Harapannya jelas, buku ini diharapkan menjadi oase-oase kecil dalam dunia pendidikan yang menyegarkan kembali tanah kering pendidikan Indonesia.

Tanah kering pendidikan? Itu pula yang membuat Prof Anita Lie Ed.D, dalam tulisan Prolog pada buku ini berpesan bahwa, guru yang baik menabur benih-benih baik dalam kehidupan peserta didik. Terkait dengan itu, terdapat delapan peran yang sebaiknya dijalankan seorang guru, yakni sebagai pengajar, fasilitator, manajer, pemimpin, pembimbing atau pelatih, motivator, inspirator, dan peserta didik. Guru, tulis Anita, perlu mempunyai kepedulian dan panggilan beyond the call of duty untuk mengantar anak didiknya pada perjalanan keberhasilan.

Akhirnya, hampir tidak ditemui kekurangan yang terdapat pada buku ini. Mungkin, sekedar saran saja, menjadi semakin lebih baik tampilannya, bila disisipkan juga foto diri dari para penulis, juga foto dari kegiatan di tempat mereka beraktivitas, yang membuahkan kisah-kisah inspiratif, dan benar-benar membanggakan serta patut menjadi suri teladan.

* * * * *

1e8Judul buku : Oase Pendidikan di Indonesia. Kisah Inspiratif Para Pendidik. Penyusun : Tim Penulis Mitra Forum Pelita Pendidikan. Pengantar : DR Zaim Uchrowi. Sekapur Sirih : Tanoto Foundation. Prolog : Prof Anita Lie Ed.D. Epilog : Dewi Susanti. Penerbit : Tanoto Foundation, dan Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Grup). Jumlah halaman : iv + 260 halaman. Cetakan : I. Jakarta. 2014

o o O o o

Catatan:

tan13Tulisan ini menjadi Juara 1 Lomba Blog Competition resensi buku yang diselenggarakan KOMPASIANA bekerjasama dengan Tanoto Foundation. Pengumuman dilaksanakan pada 3 September 2014.

Iklan