Ini pengalaman langka, unik, dan membuat terperangah. Sekaligus, kejadian sebenarnya yang menjadi bukti nyata atas ekspresi kekayaan adat, budaya, agama, kepercayaan, dan keharmonisan umat beragama di Indonesia.

Ceritanya begini, ketika menunggu masuknya waktu shalat Dzuhur di sebuah masjid, saya terperangah dengan suasana sekitar yang terjadi. Saat jarum jam nyaris menandakan masuk waktu Dzuhur (jam 12.05), dan pengurus masjid bersiap-siap untuk mengumandangkan adzan, ternyata bukan bedug dari kulit lembu yang dipukul bertalu-talu, tapi justru suara lonceng gereja yang berdentang hingga puluhan kali.

Pusat Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, semakin berkibar menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. (Foto: Gapey Sandy)

Pusat Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, semakin berkibar menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. (Foto: Gapey Sandy)

Sambil menunggu kumandang adzan, dan masih mendengarkan lonceng gereja yang berdentang, saya menyempatkan diri untuk berpindah ke teras luar masjid, memusatkan pendengaran terhadap sumber suara berdentang itu, dan ternyata memang berasal dari menara gereja.

Barulah ketika bunyi berdentang lonceng dari menara gereja makin melemah, dan terus melemah, hingga akhirnya berhenti sama sekali, petugas muadzin yang berseragam hijau-hijau mengenakan kopiah hitam di sisi mimbar masjid pun mulai mengaktifkan microphone untuk segera mengumandangkan adzan. Gema adzan nyaring terdengar, berkat pancaran pengeras suara yang terpasang di masjid.

Setengah tak percaya, tapi begitulah kenyataan sebenarnya yang terjadi pada siang hari itu, Selasa, 12 November 2013 kemarin.

Apa yang saya ceritakan barusan, bukan terjadi di Jakarta. Akan tetapi, di Nusa Dua, Bali! Tepatnya di Kawasan Kompleks Puja Mandala, sebuah pusat peribadatan yang ada di Jalan Kurusetra, Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Untuk bisa sampai ke sini, kalau dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, melintasi jalan tol Bali Mandara yang melingkar di atas laut itu, cuma butuh waktu sekitar 15 menit. Atau, kalau dari Westin Resort, Nusa Dua, tempat saya menginap, perlu waktu kira-kira 10 menit, dengan menyusuri Jalan Raya By Pass Ngurah Rai, dan tepat di perempatan Siligita berbelok ke kiri, menanjak menuju ke arah Uluwatu.

Masjid Agung Ibnu Batutah. (Foto: Gapey Sandy)

Masjid Agung Ibnu Batutah. (Foto: Gapey Sandy)

Berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar, proyek pembangunan fisik kompleks ini dimulai pada tahun 1994. Hingga kini, Pusat Peribadatan Puja Mandala semakin mencatatkan diri sebagai destinasi wisata religi favorit di Nusa Dua, Bali. Karena memang, di sini berdiri kokoh 5 bangunan tempat sembahyang, yang saling bersebelahan dalam satu barisan memanjang. Masing-masing bangunan menempati kavling lahan yang sama luas, yakni 0,5 hektar.

Sesuai namanya, Puja Mandala (dari bahasa Sansekerta) yang berarti Tempat Pemujaan. Dan, ke-5 sembahyang itu, mulai dari sisi sebelah kiri barisan adalah sebagai berikut:

Sejarah Puja Mandala

Pembangunan proyek Kompleks Puja Mandala, dimulai pada tahun 1994, dan tak lepas kaitannya dengan bantuan serta fasilitasi dari pihak PT Pengembangan Pariwisata Bali (Persero), satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang biasa dikenal dengan Bali Tourism Development Corporation (BTDC).

Dalam situsnya, btdc.co.id, disebutkan bahwa, pada saat Nusa Dua Beach Hotel dibeli oleh Sultan Brunei Darussalam, Hasanal Bolkiah, sempat muncul wacana  untuk membangun sebuah masjid berukuran kecil di area Nusa Dua Beach Hotel.

Berlatar-belakang wacana itulah, Joop Ave selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ke-7 (1993-1998) di era Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, kemudian justru meminta agar supaya dipikirkan pembangunan tempat-tempat peribadatan. Alasannya, kebutuhan para wisatawan domestik maupun mancanegara selama di Bali, selain makan, minum, rekreasi dan istirahat, adalah juga beribadah sesuai kepercayaan masing-masing.

Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa. (Foto: Gapey Sandy)

Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa. (Foto: Gapey Sandy)

Vihara Buddha Guna. (Foto: Gapey Sandy)

Vihara Buddha Guna. (Foto: Gapey Sandy)

Gayung pun bersambut. Rencana itu kemudian ditindaklanjuti dengan mencari alternatif lokasi pembangunan tempat peribadatan itu, oleh Ir Mandra dan Ketut Wirya, selaku bagian Perencanaan BTDC. Waktu itu, usulan lokasi antara lain di ujung Selatan (lapangan golf), di ujung Utara dekat lagoon, termasuk lokasi yang kebetulan ditemukan di peta yaitu lahan tanah seluas 2,5 hektar milik BTDC yang terpencil di Jalan Kurusetra, Kuta Selatan, Badung. Lokasi-lokasi bakal calon pembangunan tempat-tempat peribadatan ini kemudian diusulkan kepada Sunetja, Direktur Utama BTDC kala itu, untuk kemudian diteruskan kepada Joop Ave.

Joop Ave akhirnya menyetujui lahan tanah terpencil seluas 2,5 hektar, dan langsung mengarahkan agar di lokasi itu segera dibangun semua tempat ibadah umat beragama yang mencerminkan semboyan Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika, dan keharmonisan dalam perbedaan. Di lapangan, lahan tanah seluas 2,5 hektar itu kemudian dibagi menjadi 5 kavling sebagai tempat pembangunan 5 tempat ibadah tersebut. Pembangunannya dibiayai secara swadaya oleh masing-masing umat beragama, kecuali tempat parkir dan taman yang didanai BTDC.

Akhirnya, pada tanggal 20 Desember 1997, Menteri Agama kala itu, Tarmizi Taher, meresmikan Pusat Peribadatan Puja Mandala. Waktu itu, bangunan ibadah yang sudah selesai terlebih dahulu adalah Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, dan Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa.

Di ruang utama Masjid Agung Ibnu Batutah, terdapat prasasti yang menyatakan, bahwa pembangunan masjid ini merupakan sumbangan dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, lengkap dengan tanda-tangan Presiden Soeharto.

Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa. (Foto: Gapey Sandy)

Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa. (Foto: Gapey Sandy)

Adapun peresmian Vihara Buddha Guna dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 2000, melalui Upacara Pemberkahan yang dikenal dengan Abhiseka Buddha Rupang. Sedangkan Pura Jagat Natha, berdasarkan batu prasasti yang terletak di halaman luar, tertera tanggal peresmiannya yaitu pada tanggal 30 Agustus 2004, oleh Gubernur Bali saat itu, Dewa Beratha.

Ekspresi Kekayaan Adat, Budaya, Agama dan Kerukunan Umat Beragama

Keberadaan Pusat Peribadatan Puja Mandala, niscaya telah menjadi ekspresi nyata tentang beragamnya agama, sekaligus kerukunan antar umatnya di Indonesia. Meski gema kumandang adzan di Masjid Agung Ibnu Batutah nyaris berbarengan dengan bunyi lonceng Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa yang kencang berdentang hingga berkali-kali, akan tetapi kondusifitas peribadatan sama sekali tak terganggu. Termasuk, pengalaman yang sudah-sudah, dimana terdengar suara kumandang adzan dari masjid, pada saat misa di gereja tengah berlangsung. Di sini, semua pihak sudah sama-sama mahfum, saling menghormati, menghargai, dan benar-benar mengekspresikan jiwa persatuan dan kesatuan Indonesia Raya!

Pura Jagat Natha. (Foto: Gapey Sandy)

Pura Jagat Natha. (Foto: Gapey Sandy)

“Tiap-tiap pengurus rumah peribadatan yang ada di sini selalu kompak. Semangatnya sama dan selalu satu, yakni bagaimana mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. Para pengurus dari lima rumah ibadah yang ada di sini, setiap bulan selalu mengadakan pertemuan. Bernaung dibawah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, tuan rumah penyelenggara pertemuan antar pengurus itu selalu berpindah-pindah tempat, misalnya bulan ini di masjid, bulan berikutnya di gereja, vihara, dan pura. Dalam pertemuan bulanan antar pengurus tempat sembahyang itu, selalu disampaikan berbagai informasi dan komunikasi yang patut diketahui, berikut penyampaian agenda acara kegiatan masing-masing. Sehingga, semua perkembangan dan dinamika yang terjadi di Puja Mandala ini saling dikomunikasikan sehingga membuat keharmonisan kerukunan antar pengurus dan umat beragama di sini semakin erat,” tutur Agus Ismet Noor, salah seorang ta’mir Masjid Agung Ibnu Batutah saat berbincang dengan penulis.

Kegiatan keagamaan di masjid yang sanggup menampung 3.000 jamaah ini, imbuh Agus, berhasil menghadirkan banyak jamaah yang tak hanya berasal dari wilayah sekitar Nusa Dua saja. “Apalagi, kalau sedang dilaksanakan sejumlah kajian, seperti misalnya Kajian Umum Tafsir Al Qur’an setiap Rabu dan Ahad selepas Maghrib, Kajian Jumat malam sesudah Maghrib, dan Kajian Kuliah Subuh setiap Ahad,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Eni Sri Wahyuni, Kepala Sekolah Raudhatul Athfal/Taman Kanak-Kanak “Baitul Amin” yang bersebelahan dengan masjid, keberadaan Kompleks Puja Mandala membuat para anak didik cepat menyerap pembelajaran tentang kerukunan dan keharmonisan umat beragama, serta tempat peribadatan masing-masing.

Vihara Buddha Guna (sebelah kiri) berdampingan dengan Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa (sebelah kanan) di Pusat Peribadatan Puja Mandala, Nusa Dua, Bali. (Foto: Gapey Sandy)

Vihara Buddha Guna (sebelah kiri) berdampingan dengan Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa (sebelah kanan) di Pusat Peribadatan Puja Mandala, Nusa Dua, Bali. (Foto: Gapey Sandy)

“Sebagai pendidik, kami memperkenalkan toleransi beragama kepada anak-anak sejak dini, misalnya dengan memperkenalkan tempat-tempat ibadah yang ada di Puja Mandala. Kami juga mengajak anak-anak berkunjung ke Banjar, semacam desa, untuk mengetahui aktivitas adat, kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat Bali yang ada di sana. Sekaligus bertemu langsung dengan Keliyan atau pamong desa,” ujarnya saat ditemui penulis di kantor RA/TK “Baitul Amin” yang pada Oktober kemarin menyabet Juara Umum Lomba Manasik Haji antar RA/TK se-Kabupaten Badung.

Pada perkembangannya, ekspresi nyata atas ke-Bhinneka Tunggal Ika-an yang ada di Puja Mandala telah beberapa kali menjadi obyek pembelajaran oleh berbagai pihak. Misalnya, delegasi FKUB Provinsi Kalimantan Selatan, yang pada 2010 lalu melakukan studi banding, dengan meninjau langsung Kompleks Puja Mandala, sekaligus menggelar pertemuan dengan FKUB Provinsi Bali.

Sedangkan dari mancanegara, anggota parlemen dari 17 negara peserta Parliamentary Event on Interfaith Dialog, pada tahun lalu, juga menyempatkan diri untuk berkunjung sambil mengeksplorasi fakta dan data seputar Puja Mandala. Hasilnya? Mereka menyampaikan apresiasi yang tinggi, demi melihat suasana rukun dan harmonis yang ada di Pusat Peribadatan sekaligus destinasi wisata religi, Puja Mandala.

Eni Sri Wahyuni dan Agus Ismet Noor. Bersyukur dengan adanya Kompleks Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, berikut kerukunan dan keharmonisan umat beragamanya. (Foto: Gapey Sandy)

Eni Sri Wahyuni dan Agus Ismet Noor. Bersyukur dengan adanya Kompleks Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, berikut kerukunan dan keharmonisan umat beragamanya. (Foto: Gapey Sandy)

Yup! Puja Mandala kini telah menjadi salah satu ikon perlambang kekayaan budaya, adat istiadat, dan keragaman agama di Indonesia. Sekaligus, mengekspresikan secara nyata, bahwa meskipun bangsa Indonesia terdiri dari beraneka suku, agama, ras, dan golongan, tapi semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA telah terpatri, dan menjadi dasar atas persatuan-kesatuan Republik Indonesia tercinta. Inilah bentuk nyata kekayaan negeri ini yang patut kita syukuri.

Iklan