Salah satu lukisan cat minyak karya maestro lukis Indonesia, AFFANDI (1907 – 23 Mei 1990)  berukuran 58 cm x 44 cm itu adalah A BALINESE NUDE yang dibuat pada tahun 1942. Lukisan bersejarah itu termasuk yang bisa disaksikan ketika kita berkunjung ke MUSEUM PASIFIKA di Nusa Dua, Bali.

Awal pekan lalu, tepatnya Senin, 11 November 2013, saya beruntung bisa memandangi dan mengagumi karya lukis Affandi itu. Karya sang maestro, secara umum adalah abstrak. Akan tetapi, pada saat saya melihat secara langsung lukisan tersebut, sungguh terkesan menjadi ‘hidup’, terutama pada bagian (bulu) mata, hidung, dan bibir wanita yang menjadi obyek lukisan itu.

Museum Pasifika di Nusa Dua, Bali. (Foto: Dokpri)

Museum Pasifika di Nusa Dua, Bali. (Foto: Dokpri)

Museum Pasifika berlokasi di BTDC Area Blok P, Nusa Dua, Bali (seberang Bali Collection, sebuah pusat jajan dan belanja). Bagi pelancong yang menginap di Inna Putri Bali, Grand Hyatt, Melia Bali Resort, Laguna, Westin, dan Nusa Dua Beach Hotel, lokasi museum tidak terlalu jauh. Dari Westin Hotel, tempat saya menginap, jalan kaki ke museum cuma sekitar 10 menit saja. Kalau dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, dengan melintasi jalan tol Bali Mandara di atas laut, dan (langsung) keluar melalui pintu tol Nusa Dua, maka waktu yang dibutuhkan sekitar 10 menit saja.

Museum Pasifika berdiri di atas areal 12.000 m2, dan buka setiap hari mulai jam 10 pagi sampai 6 sore. Meski di tiket masuknya tertera nominal Rp 70.000, rupanya harga itu hanya berlaku bagi wisatawan mancanegara. “Untuk wisatawan domestik, bayarnya Rp 50.000 saja,” ujar salah seorang staf penjualan tiket sembari menyodorkan sobekan tiket.

Tertera di tiket, angka 23491 dengan tulisan dibawahnya: Thank you for visiting Museum Pasifika. Bisa jadi, mungkin saya adalah pengunjung ke-23491 di museum yang didirikan pada tahun 2006 oleh Moetaryanto dan Philippe Augier ini.

Di brosur museum, yang bergambar lukisan seorang wanita mengenakan busana tradisional yang sedang menari, tertulis Museum Pasifika adalah The Largest Asia Pacific Art Museum in the Heart of Bali. Penegasan ini kelihatannya tidak berlebihan, karena memang museum ini menawarkan visi dari dua wilayah besar dunia yakni Asia dan Pasifik. Tentu saja dengan titik pertemuannya adalah Bali itu sendiri. Koleksi seni utama dari kepulauan Pasifik yang ada di sini misalnya, lukisan, patung, tekstil, dan benda-benda antik lainnya. Terdapat sekitar 600 karya seni dari 200 artist (seniman) yang berasal dari Indonesia, Melanesia Pasifik dan Polinesia, Indochina Peninsula, dan beberapa negara lain di Asia.

Sejumlah karya lukisan yang turut dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. (Foto: Dokpri)

Sejumlah karya lukisan yang turut dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. (Foto: Dokpri)

Hebatnya, semua koleksi seni yang dipajang di museum ini termasuk yang paling lengkap di dunia. Jadinya, tidak salah kalau museum ini pernah meraih Wonderful Indonesia Award 2011 untuk kategori Museum. Penghargaan tersebut langsung diserahkan oleh MARI ELKA PANGESTU selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan menjadi modal sekaligus bukti nyata bahwa museum ini patut dilestarikan bahkan dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata favorit di kawasan Nusa Dua, Bali, selain berbagai obyek wisata nasional lainnya seperti yang termuat di http://indonesia.travel/ sebagai Indonesia’s Official Tourism Website.

Selain itu, hingga tulisan ini ditayangkan pada bulan November 2013, Museum Pasifika juga berhasil memenangkan predikat sebagai Traveller’s Choice 2013, yaitu peringkat ke-2 dari 9 obyek wisata yang ada di kawasan Nusa Dua, Bali. Penghargaan ini diberikan oleh tripadvisor.co.id, sebuah situs web wisata terbesar di dunia.

Usai menyerahkan tiket, staf wanita di loket tiket masuk tadi pun memberian penjelasan singkat. “Di museum ini ada 8 paviliun dan 11 ruangan yang memamerkan hasil-hasil seni. Semua koleksi seni dilarang untuk di-foto. Kecuali, kalau sudah berada di ruangan ke-6 dan ke-9, baru boleh mengambil foto,” tuturnya seraya menunjukkan denah museum yang tertempel di dinding dekat loket tiket masuk.

Kiri: Lukisan cat minyak Theo Meier berjudul Segara Mas (1959). Kanan: Diorama lukisan di Ruang 6 Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. (Foto-foto: Dokpri)

Kiri: Lukisan cat minyak Theo Meier berjudul Segara Mas (1959). Kanan: Diorama lukisan di Ruang 6 Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. (Foto-foto: Dokpri)

Yup! Museum Pasifika ini berbentuk empat persegi panjang. Terdiri dari 8 paviliun (termasuk café) dan 11 ruangan secara berurutan, yakni Ruang Indonesian Artist; Italian Artists in Indonesia; Dutch Artists in Indonesia; French Artists in Indonesia; Indo-European Artists in Indonesia; Temporary Exhibition; Artist on Indochina Peninsula, Laos, Vietnam, Cambodia; Asia – Several Artworks On Japan, China, Thailand, Malaysia, India, Myanmar, and the Philippines; Premier art of Vanuatu and Pacific Islands, Paintings of Aloi Pilioko and Nikolai Michoutouchkine; Artists in Polynesia; dan Ruang Textiles from Indonesia or Tapa from The Pacific.

Hanya di dua ruang, yakni Temporary Exhibition, dan Premier art of Vanuatu and Pacific Islands, Paintings of Aloi Pilioko and Nikolai Michoutouchkine saja pengunjung diizinkan men-jepret-kan kameranya. Kebijakan ‘No Camera’ ini membuat saya sedikit kesal, lantaran saat memasuki lokasi pameran pertama, yakni Ruang Indonesian Artists, seluruh karya lukisan yang terpajang di dinding, dalam berbagai ukuran dan berbingkai rapi, adalah karya para maestro lukis kebanggaan bangsa Indonesia.

Lukisan cat minyak berjudul Cockfight karya pelukis Sudjana Kerton. (Foto: artvalue.com)

Lukisan cat minyak berjudul Cockfight karya pelukis Sudjana Kerton. (Foto: artvalue.com)

Karena dilarang memotret, saya berusaha mencatat penjelasan lukisan-lukisan tersebut. Sebut saja misalnya:

  1. Karya pelukis NYOMAN GUNARSA yang diberi judul Legong Dancers with Red Cloth (dilukis tahun 1944) dengan ukuran 75 cm x 25 cm (watercolor on paper). Lukisan ini bertipikal abstrak menggambarkan seorang wanita penari Legong mengenakan busana tradisonal kemerahan, dengan mata melirik ke kanan.
  2. Karya pelukis IDA BAGUS NYOMAN RAI (1920-1999) yang berjudul Joget Bumbung (dilukis pada tahun 1940), dengan ukuran 47 cm x 63 cm (ink on paper). Lukisan ini menampakkan dua sejoli yang tengah menari dengan sejumlah penonton wanita yang terlukis bertelanjang dada.
  3. Karya pelukis DEWA PUTU BEDIL (1921-1999) yang diberi judul The Harvest (1985), dengan ukuran 135 c x 100 cm (conte on paper). Lukisan ini menggambarkan panen padi yang dilaksanakan oleh pria dan wanita.
  4. Karya pelukis N WIDAYAT (1928-2002) yang bertitel Eruption of the volcano Merapi (1989), ukurannya cukup besar 150 cm x 150 cm. Lukisan di atas canvas ini menampakkan letusan Gunung Merapi yang memuntahkan lahar dan meluncurkan awan panas, lengkap dengan pepohonan yang mengering.
  5. Karya pelukis SUDJANA KERTON (1922-1994) yang diberi judul Cockfight. Lukisan oil on canvas ini berukuran 64 cm x 92 cm, dan di kanan bawah tertulis nama S. Kerton dengan huruf oranye kemerahan.
  6. Karya pelukis I KETUT TOMBLOS (1917) dengan judul Village Scene Circa yang dilukisnya pada tahun 1940, dengan ukuran 59 cm x 84 cm (watercolor on paper). Karya lukis ini menggambarkan keramaian suasana pertunjukkan wayang kulit, lengkap dengan para pemain tetabuhan gending/alat musik tradisional, dengan para penonton pria, wanita (bertelanjang dada), tua, muda, juga para pedagang kaki lima.
  7. Karya pelukis AFFANDI (1907-1990) yang diberi judul Boats in Cirebon (1965). Lukisan ini secara abstrak menggambarkan perahu nelayan dengan ombak dan awan yang artistik khas sang maestro. Ukuran lukisan ini 93 cm x 129 cm (oil on canvas). Terdapat tulisan ‘A 1965’ sebagai inisial nama Affandi dan tahun lukisan itu dibuat.
  8. Karya pelukis RADEN SALEH SJARIF BOESTAMAN (1811-1880) yang bertitel A Tiger Hunt yang dilukis pada tahun 1845, dan menggambarkan perburuan harimau loreng Jawa yang dilakukan oleh tiga orang berkuda. Para pemburu menunggang kuda putih, hitam, dan coklat, dengan menghunuskan pedang.
  9. Karya pelukis DULLAH (1919-1996) yang berjudul Cremation in Bali (1936). Lukisan ini menggambarkan suasana kremasi jenazah dengan patung dua ekor lembu, rumah adat, Barong, ada pula dua wanita membawa sesaji di atas kepalanya. Terdapat coretan nama ‘Dullah’ pada kiri bawah lukisan.
  10. Karya pelukis PAN SEKEN (1900-1980) yang berjudul The Death of Abimanyu. Lukisan ini merupakan Trandition Balinese Painting, Kamasan-Klungkung, Bali yang dibuat sekitar tahun 1940 (natural pigment on canvas) dengan ukuran 85 cmx80 cm. Menggambarkan suasana perang anak panah, para korban perang, dan suasana kremasi jenazah.
Dari kiri ke kanan: Tiga lukisan karya Theo Meier, berjudul Offering To The Gods (1968); Portrait of Made Pulungan (1937); dan, Three Bali Girls of The Beach (1978). (Foto-foto: Dokpri)

Dari kiri ke kanan: Tiga lukisan karya Theo Meier, berjudul Offering To The Gods (1968); Portrait of Made Pulungan (1937); dan, Three Bali Girls of The Beach (1978). (Foto-foto: Dokpri)

Tentu saja, masih banyak lagi lukisan hasil karya para maestro Indonesia di ruangan ini. Seperti, ANTON HUANG (1935-1985) yang lukisannya diberi judul Balinese Offering; SARAOCHIM SALIM (1908-2008) dengan lukisannya Two Indonesian Women; dan SUDARSO (1914-2006) yang karya lukisannya terpampang dengan judul Sitting Girl.

Sedangkan untuk pelukis-pelukis ternama mancanegara, tersebar berdasarkan ruangan. Misalnya, di Ruang 2, sejak bulan Oktober 2013 hingga Januari 2014 akan terus memamerkan secara khusus karya-karya seniman sekaligus antropolog asal Meksiko, Miguel Covarrubias (1904-1957). Kreasi guratan tangan Covarrubias (yang biasa disapa “El Chamaco” atau Si Anak Kecil) ini sangat detil, warna-warninya menakjubkan, dan penuh penghayatan atas obyek yang dilukisnya. Indonesia, kelihatannya patut berterima-kasih kepada pelukis yang pada tahun 1930 silam datang ke Bali, serta turut memperkenalkan Pulau Dewata kepada dunia melalui bukunya Island of Bali yang terbit pada tahun 1937.

Ruangan lainnya berisi karya-karya lukisan warga Italia yang pernah mengeksplorasi seni di Bali, seperti Renato Chsritiano, Gilda Ambron, dan Piero Antonio Garriazo. Lalu, ruang yang penuh diorama pelukis Belanda yang sempat tinggal di Bali yakni Wilem Gerard Hofker, Isac Israel, Hendrik Paulides dan lainnya.

Sementara di ruang pelukis Eropa, terdapat foto-foto dan karya pelukis berkebangsaan Belgia, Adrien Jean Le Mayeur de Merpres (1880-1958). Termasuk, sebuah bingkai yang memamerkan surat bersejarah tulisan tangan Presiden RI kala itu, Ir Soekarno, ditujukan kepada Le Mayeur beserta istrinya, perempuan Bali dan penari Legong yang cantik, Ni Nyoman Pollok. Inti surat Bung Karno itu adalah meminta kesediaan Le Mayeur mengajarkan teknik melukis kepada Dullah, pelukis beraliran realisme dan merupakan kepercayaan di lingkungan Istana Kepresidenan RI.

Ada lagi, Ruang Indo-China yang memajang diorama lukisan karya seniman dari Vietnam, Thailand, Kamboja, Hongkong. Sedangkan Ruang Asia, didominasi oleh lukisan khas Tiongkok pada abad pertengahan. Ruang Tahiti juga ada, yang menampilkan semua lukisan karya seniman Tahiti.

Dua lukisan karya Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. (Foto-foto: tuberosesandtea.files.wordpress.com)

Dua lukisan karya Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. (Foto-foto: tuberosesandtea.files.wordpress.com)

Khusus pada ruang 6, dimana pengunjung boleh menjepretkan kameranya, diisi oleh berbagai pernak-pernik tradisional Bali, seperti lukisan Bali, dan sepuluh topeng Barong yang berbeda-beda sosok, yaitu Rangda, Barong Putih, Barong Hitam, Rarung, Kala Srenggi, Burisrawa, Kala Hitam, Kala Putih, Celuluk Hitam, dan Celuluk Putih. Yang berwajah dan berpostur paling ‘aeng’ (seram), sudah pasti Rangda (artinya: janda). Maklum, dialah ratu-nya para Leak yang mewakili sosok batil, bersama dengan Rarung yang menjadi jelmaannya, dan Celuluk sebagai anak buahnya. Sedangkan Barong, mewakili sosok kebaikan yang justru menumpas kebatilan. Mitologi tradisi yang sakral dan mistik ini biasa disendratarikan lewat Tari Barong (Melawan Randa).

Selain menampilkan sepuluh topeng sosok dalam mitologi Bali itu, masih di ruang VI, terdapat banyak sekali lukisan karya Theo Meier (1908-1982), seniman asal Swiss yang pada tahun 1936 jatuh cinta dengan Bali, untuk kemudian memilih tinggal di Sanur, dan mempersunting gadis Pulau Dewata, Made Pulungan. Theo juga menjadi ikon pembukaan pameran museum saat pertama kali mulai dibuka untuk umum.

Di sini, sekali lagi, pengunjung boleh mengambil foto, termasuk memotret lukisan-lukisan karya Theo Meier, yang salah satunya adalah lukisan wajah setengah badan istrinya, Made Pulungan. Lukisan ini dibuat tahun 1937.

Bila sampai di ruang 6, pengunjung mulai kelelahan dan kaki merasa pegal, saya sarankan, keluarlah dulu untuk menikmati suasana outdoor di tengah-tengah bangunan museum, yang dibentuk menyerupai taman batu pancang lengkap dengan rerimbunan pepohonan. Begitu terbuka dan asri, karena memang di taman ini biasa digelar berbagai pergelaran seperti sendratari dan lainnya, dalam rangka menyambut para delegasi (tamu negara), atau pengunjung lainnya pada event tertentu. Ada juga café yang menyediakan makanan dan minuman ringan yang bisa dipesan sembari melepas penat di area taman terbuka.

Selain di ruang 6, pengunjung juga diizinkan mengambil foto di ruang 9 yang merupakan ruang pameran koleksi museum terdiri dari berbagai patung-patung artefak (mirip totem) berbagai ukuran, bekas perahu kayu, pakaian perang, peralatan berburu, dan beraneka bahagian tulang binatang, asesoris dari batu, kerang, tulang, dan masih banyak lagi. Selain berasal dari Republik Vanuatu dan Kepulauan Solomon, dua negara kepulauan yang terletak di Samudera Pasifik bagian Selatan, ada juga yang dari Papua Nugini.

Adapun di ruang 10 adalah merupakan pameran karya lukis dari Polynesia. Dan ruang 11, atau ruang terakhir, merupakan tempat museum memamerkan koleksi tekstilnya dari berbagai negara di Asia Pasifik, termasuk kain Ulos (ikon ciri khas Batak dalam melaksanakan Upacara Adat di Sumatera Utara). Uniknya, kain Ulos ini panjangnya hampir 20 meter dengan lebar 2 meter. Hebatnya, kain Ulos ini tidak memiliki jahitan sambungan sama sekali. Kain ini terpajang rapi dalam kaca berpigura, dan diletakkan memanjang di dinding yang bercat putih. So beautiful, indah sekali!

Lestarikan dan Kembangkan Museum Pasifika

Dari reportase di atas, jelas bahwa Museum Pasifika memiliki arti yang vital dalam menjelaskan kepada dunia bahwa Bali memiliki magnet luar biasa dalam menarik hati para seniman (domestik dan mancanegara) menimba ilmu, mengeksplorasi keindahan alam, budaya dan pesona ramah-tamah masyarakatnya. Hal ini sudah dibuktikan, misalnya oleh Theo Meier, Antonio Blanco, Le Mayeur, Miguel Covarrubias dan lainnya, yang sudah melanglang-buana ke berbagai negara tapi akhirnya menjatuhkan tambatan hatinya hanya kepada Bali.

Karena itu, keberadaan Museum Pasifika sebagai salah satu destinasi wisata edukasi harus lebih dikedepankan dan dimasyarakatkan. Sumbang saran saya untuk turut melestarikan museum ini adalah melakukan langkah internal dan terobosan eksternal.

Secara internal, pengelola Museum Pasifika harus membenahi sejumlah pelayanan dan fasilitas yang membuat nyaman pengunjung. Misalnya saja, penyediaan loker penitipan barang, memaksimalkan penyejuk ruangan, staf pemandu yang selalu siap dan sigap, melengkapi fasilitas audiovisual dan multimedia bagi pengunjung terkait aktivitas museum, hingga penyediaan brosur atau katalog agar dapat lebih memberikan informasi komprehensif tentang profil maupun koleksi-koleksi karya seni yang dimiliki museum. Kalaupun terdapat pelarangan untuk memotret, hendaknya di katalog dan multimedia tadi disediakan gambar reproduksi atas karya-karya lukisan para maestro seni tersebut.

Selain itu, pengelola museum juga diharapkan pro-aktif untuk menggelar berbagai event di taman terbuka yang ada di tengah-tengah museum. Entah itu dialog, diskusi, pelatihan yang terkait dengan seni melukis, mengukir, musik, tari, hingga pergelaran seni-budaya lainnya. Hal ini penting, karena hotel, resort, dan obyek-obyek wisata di Nusa Dua, selalu ramai dan tak pernah sepi pengunjung. Maklum, Nusa Dua terkenal sebagai salah satu lokasi paling favorit untuk menyelenggarakan Meeting Incentive Convention Exhibition (MICE), dengan peserta yang mengglobal dan masif.

Di dekat pintu masuk, depan loket tiket, saya sempat memandangi sejumlah lukisan karya para pelajar di Bali. Lukisannya, jelas bercirikan tradisi dan ikon-ikon kedaerahan. Jujur, saya menilainya, lukisan-lukisan mereka itu bagus-bagus sekali. Dua lukisan sempat saya abadikan menggunakan kamera seperti terlihat di bawah ini.

Tiga sosok dalam mitologi Bali yang melambangkan kebatilan dalam dunia mistis Leak yakni Rangda, Celuluk Hitam, dan Rarung. (Foto: Dokpri)

Tiga sosok dalam mitologi Bali yang melambangkan kebatilan dalam dunia mistis Leak yakni Rangda, Celuluk Hitam, dan Rarung. (Foto: Dokpri)

Mencermati lukisan para siswa di Bali yang begitu indah ini, tentu dapat menjadi alasan untuk semakin melibatkan kreatifitas pelajar (tak harus dari Bali saja) guna menuangkan tulisannya, sehingga dapat turut dipamerkan, atau mengadakan kegiatan pameran lukisan bersama, khusus para pelajar. Tujuannya, selain ‘mendekatkan’ para pelajar kepada museum sebagai tempat edukasi, juga untuk memupuk dan memperdalam bakat serta kemampuan mereka di bidang seni, terutama melukis. Hasil karya terbaik, tentu layak dipromosikan untuk dijual dengan harga pantas, sehingga dapat berdaya-guna sebagai penunjang dana pendidikan maupun peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Adapun terobosan secara eksternal dalam rangka melestarikan dan mengembangkan Museum Pasifika, saya pikir bisa dilakukan melalui kerjasama dengan pihak museum ternama di negara-negara se-Asia Pasifik. Kerjasama ini dalam rangka saling meminjamkan koleksi karya seni dan melakukan pameran bersama secara bergiliran. Tentu, tidak hanya lukisan, melainkan juga karya seni dalam bentuk lainnya sepert ukiran, patung, tekstil, seni tari, musik dan lainnya. Dengan demikian, penyelenggaraan event di Museum Pasifika dapat selalu full and busy setiap tahunnya. Brosur dan katalog serta informasi mengenai event tersebut dapat disebarluaskan secara free sejak di airport international Ngurah Rai, hingga ke hotel-hotel dan resort yang ada di wilayah Nusa Dua dan sekitarnya, serta Bali pada umumnya.

Apalagi, sejauh ini antusiasme turis mancanegara terhadap Museum Pasifika sangat baik sekali. Simak saja penuturan Nataliya Brezhneva asal Moskow, Rusia, yang mengaku berkunjung pada Oktober 2012. Di situs tripadvisor.co.id, ia menuturkan: “There are a lot of really beautiful portraits of really beautiful asian women. My friends and I enjoyed the collection. I was surprised to find there a work of russian artist Yuriy Gorbachev. The managers of Pasifika believe that the artist is a nephew of Russian ex-president Mikhail Gorbachev 🙂 If you don’t want to go far from the beaches to Ubud museums, Pasifika – is a best place to visit. No. you must see both. Pasifika is something absolutely different, with it’s own concept and a very pleasant atmosphere. We spent three hours among great paintings and I’m still keeping very good memories of that time”.

Juga, opini Drew Jones dari Brisbane, Australia di tripadvisor.co.id yang pada Agustus 2013 berkunjung dan langsung menyatakan kekagumannya sekaligus ingin mengajak rekan-rekannya mengunjungi Museum Pasifika: “We were passing by on a scooter ride and went in. We were glad we did. A great place to spend some time and view some local art work. Worth the visit and I will be sending friends here in future”.

Akhirnya, pernyataan Philippe Augier selaku founder of the Pasifika Museum patut kita renungkan. Menurutnya, “A collection is not just a group of beautiful paintings, but it is an ensemble of artwork with a common thread binding it all together”. (Koleksi bukanlah hanya sekumpulan lukisan-lukisan yang indah saja, tapi itu adalah merupakan sebuah ensemble karya seni dengan benang merah yang mengikat semuanya secara bersama-sama).

Ya, menjadi tugas kita bersama untuk turut melestarikan dan mengembangkan salah satu destinasi wisata di Nusa Dua, yakni Museum Pasifika demi kemajuan anak-cucu, kini dan nanti. Sekaligus, kemaslahatan tersendiri bagi Bali dalam percaturan di fora internasional.

Iklan