Edisi online harian pagi Inggris, The Independent, pernah menurunkan hasil reportase mengenai perilaku dan kebiasaan kawin kontrak (mut’ah) di Mesir. Diantara narasumbernya adalah Dr Hora Badran, seorang aktivis LSM Aliansi Untuk Perempuan Arab. Menurut Dr Badran, ikatan perkawinan yang dilakukan hanya untuk jangka pendek, atau kawin kontrak di Negeri Firaun ini sudah menjadi kebiasaan antara lain dikarenakan oleh kesejahteraan rakyat dan keterpurukan ekonomi.

Terutama, terjadi di kawasan yang penduduknya miskin dan kesejahteraan hidup yang tidak layak, seperti di Kota Hawamdiyya yang terletak di sebelah selatan Kairo, juga di desa-desa sekitar provinsi Giza, tak jauh dari Kairo. Giza, terkenal di dunia sebagai tempat ditemukannya piramid-piramid berukuran raksasa, peninggalan zaman Mesir Kuno sekitar 5.000 tahun silam.

Di Mesir, kawin kontrak biasanya ramai dilakukan pada saat musim panas (summer). Tak aneh, kalau kebiasaan kawin kontrak pada musim panas itu disebut juga sebagai ‘pernikahan/perkawinan musim panas’. Sementara bagi mempelainya, dinamakan sebagai ‘pengantin musim panas’ (summer bride), atau ‘istri musim panas’.

Kenapa musim panas? Karena pada saat itu, Kawasan Teluk memang tengah sebegitu panas hawanya, sehingga banyak orang bepergian ke berbagai wilayah demi menghindari hawa panas tersebut.

Di salah satu desa di Giza tersebut, Dr Badran sempat menemui sejumlah wanita muda yang pernah terikat dalam kawin kontrak, atau para mantan ‘istri musim panas’. Salah satunya, panggil saja Leila (bukan nama sebenarnya), yang pada usia 17 tahun sudah dikawinkan oleh keluarganya dengan pria berusia 45 tahun, asal Arab Saudi. Banyak materi uang yang didapat dari pria Arab Saudi itu kepada Leila dan keluarganya. Selain dibelikan gaun pengantin dan pesta resepsi perkawinan alakadarnya yang berlangsung di restoran mahal, ayah Leila juga diberikan uang sejumlah 2.120 poundsterling atau sekitar Rp 30 juta lebih. Sebuah nilai yang fantastis bagi keluarga Leila, dan keluarga-keluarga lainnya yang miskin papa di Mesir.

Lantas apa yang terjadi? Kawin kontrak Leila hanya berumur satu bulan. Sesudah itu, ‘suami musim panas’ asal Arab Saudi ini kembali ke negaranya. Keduanya pun berpisah (‘bercerai’ atau habis masa kawin kontraknya). Ironisnya, sang suami terlanjur membual janji bahwa dirinya akan segera kembali ke Mesir dan menemui Leila lagi. Janji lainnya adalah akan mencarikan pekerjaan bagi kakak Leila yang berniat merantau ke Kawasan Teluk.

Disinilah kawasan Hawamdiyya, di sebelah selatan Kairo, yang terkenal sebagai salah satu kota pemasok perempuan-perempuan Mesir untuk dijadikan sebagai istri musim panas (kawin kontrak) oleh para lelaki kaya asal Kawasan Teluk dan Arab Saudi. (Foto: COPYRIGHT www.ullakimmig.de)

Disinilah kawasan Hawamdiyya, di sebelah selatan Kairo, yang terkenal sebagai salah satu kota pemasok perempuan-perempuan Mesir untuk dijadikan sebagai istri musim panas (kawin kontrak) oleh para lelaki kaya asal Kawasan Teluk dan Arab Saudi. (Foto: COPYRIGHT http://www.ullakimmig.de)

Manisnya janji berbuah pengingkaran. Semua janji manis ‘suami musim panas’ Leila, tak pernah ditepati. Berbulan-bulan Leila menanti ‘suami kawin kontrak’-nya itu kembali ke Mesir, tapi tak pernah ada kabar berita. Sementara perut Leila semakin membesar karena kehamilannya. Kini, Leila terus memperjuangkan hak dan status bapak kandung bagi si jabang bayi dalam kandungannya melalui Kedutaan Besar Arab Saudi di Mesir. Tapi apa boleh buat? Kawin kontrak adalah sebuah ikatan status perkawinan suami-istri yang tidak terdaftar secara resmi (di pencatatan sipil) sehingga dinyatakan ilegal oleh negara. Perjuangan Leila demi hak dan klaim status perwalian anaknya pun menjadi mudah ditepis, karena memang ikatan perkawinannya tidak memiliki pijakan hukum yang legal. Terpaksa, hari-hari Leila pun kemudian hidup sebagai single parent bagi anaknya tercinta.

Apa yang terjadi di Mesir ini, sebenarnya tak jauh beda dengan yang terjadi di Puncak, Jawa Barat. Tepatnya di Kampung Warung Kaleng, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kawin kontrak sudah lazim dikenal di sini. Banyak lelaki asal Kawasan Teluk, terutama Arab Saudi yang ‘bermukim’ untuk sementara di vila-vila yang ada di kawasan Cisarua, bersama ‘istri kawin kontrak’-nya.

Harian Merdeka versi online pernah mengangkat kisah Sarah, seorang wanita muda berusia 21 tahun. Di usianya yang masih ranum, ternyata ia sudah lima kali melakukan kawin kontrak, atau sering diistilahkan atau ditawarkan dengan kata ‘jawas’. Kalau ditawari untuk ‘jawas’, dan kita bersedia, menurut Sarah, maka pihak biyong/makelar atau mak comblang akan menindak-lanjuti dengan menghubungi pelanggan, atau calon ‘mempelai lelaki’ untuk segera diurus dan dilaksanakan kawin kontraknya. Di Mesir, perantara atau broker kawin kontrak ini dinamakan simsar, dan umumnya tak lain adalah seorang mucikari.

Prosesinya? Sesuai “etika”, karena menghadirkan saksi perkawinan, juga ada penghulunya. Selain itu, dituangkan dalam perjanjian kontrak tersebut, perkawinannya dilaksanakan selama berapa lama, dan berapa nilai uang maharnya. Apakah dibayarkan tunai di muka, atau di belakang alias “setelah kawin kontrak habis masa berlakunya”. Hitung punya hitung, dalam sehari, Sarah menerima uang (‘mahar’) Rp 500.000 per hari, atau Rp 15 juta dalam satu bulan. Belum lagi, bila ditambah pemberian hadiah beraneka-ragam dari ‘suami kawin kontraknya’ ini. Adapun urusan pembagian upah uang buat biyong, Sarah sudah tidak ikut campur tangan lagi.

Menurut Sarah, acapkali melayani ‘urusan ranjang’ dengan ‘suami sementara’-nya, ia selalu mengenakan alat kontrasepsi, kondom. Keduanya memahami resiko yang bakal terjadi apabila berhubungan intim tanpa mengenakan ‘sarung pengaman’.

Meski banyak yang melakukan secara terang-terangan—termasuk ada juga suami di Cisarua yang mengizinkan istrinya melakukan kawin kontrak dengan lelaki ‘Arab’—, tapi Sarah mengaku, bahwa keluarganya sama sekali tidak mengetahui tindak-tanduknya yang sudah piawai dalam melakoni kawin kontrak ini.

Di Mesir, upaya untuk menekan jumlah ‘perkawinan musim panas’ kerapkali digaungkan oleh para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  yang peduli dengan nasib, harkat dan martabat kaum perempuan. Sementara Pemerintah setempat mengupayakannya melalui sejumlah rambu-rambu hukum. Diantaranya, pada tahun 2008 lalu, Pemerintah berhasil mengamandemen UU Mesir tentang Anak, yang antara lain menegaskan bahwa usia sah pernikahan baik laki-laki maupun perempuan adalah menjadi 18 tahun. Hal ini dipicu dengan banyaknya perempuan-perempuan yang melakukan ‘perkawinan musim panas’ atau kawin kontrak, justru masih berusia dibawah 16 tahun. (Oyoun Center for Studies and Development, Modern Slavery : Tourist Marriages in Egypt).

Sementara di Indonesia, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, kawin kontrak tidak bisa terkena jerat hukuman pidana. “Permasalahannya, mereka itu melakukannya secara sadar. Jadi, yang buat kontraknya mereka sendiri. Nikah beneran, ada saksi, ada penghulu,” jelasnya seperti dikutip merdeka.com.

Kembali ke Mesir. Selain seks yang diperjual-belikan dengan pola kawin kontrak atau ‘perkawinan musim panas’, ada pula praktik prostitusi yang ironisnya justru mewabah tak jauh dari lingkungan Masjid Besar Al Azhar di Kairo.

Seorang mantan jurnalis harian The Economist dan stasiun televisi terkemuka Al Jazeera, yang kemudian pada periode 2010 – 2012 menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Global PBB Bidang HIV dan Hukum, Shereen El Feki, dalam bukunya Sex and the Citadel : Intimate Life in a Changing Arab World menulis, prostitusi di dekat lingkungan Masjid Besar Al Azhar di Kairo itu, persisnya terletak di Al-Batniyya, yang memiliki lorong-lorong gelap dan terkenal dengan beraneka macam keburukan sosial. Keburukan itu termasuk pelacuran (prostitusi), yang dalam bahasa Mesir sehari-hari disebut da’ara, atau bagha’ dalam bahasa Arab klasik.

Praktik prostitusi di Mesir yang berlangsung di depan kelab malam El-Gondell, tepatnya di Jalan Raya Piramida, Kairo, yang memang terkenal dengan kerlap-kerlip kelab-kelab malamnya. (Foto: COPYRIGHT www.ullakimmig.de)

Praktik prostitusi di Mesir yang berlangsung di depan kelab malam El-Gondell, tepatnya di Jalan Raya Piramida, Kairo, yang memang terkenal dengan kerlap-kerlip kelab-kelab malamnya. (Foto: COPYRIGHT http://www.ullakimmig.de)

Di Indonesia, buku Shereen El Feki sudah diterbitkan pada Oktober 2013 oleh Alvabet dengan judul Sex & Hijab : Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah. Dalam buku setebal 423 halaman ini disebutkan bahwa di kawasan Al-Batniyya, para pelacur yang dalam bahasa Arab Mesir dijuluki sebagai sharamiit, ‘menjajakan’ (kemolekan) tubuhnya untuk melayani kebutuhan para pelanggan, lelaki hidung belang. Dalam setiap memulai transaksinya, para sharamiit akan mengucapkan kepada pelanggan mereka, “Mallaktuka nafsi”, yang artinya “Aku memberimu hak untuk memilikiku”.

Tak hanya di tempat-tempat prostitusi yang tersembunyi dan kesannya berada di relung-relung kamar lorong-lorong gelap, kini jual-beli seks di Mesir makin menyasar ke tempat-tempat terbuka milik publik, termasuk yang private dan prestisius. Mengutip situs pariwisata seks terbesar di internet, International Sex Guide, Sheeren mengungkapkan, bahwa kini praktik prostitusi yang dilakukan oleh perempuan Mesir bahkan telah merambah ke jalanan, bahkan mereka bisa dipesan melalui ponsel di sebuah taman bermain yang membentang dari bar-bar dan kelab-kelab malam terkenal di jalanan utama hingga piramida, serta apartemen sewaan di Mohandeseen hingga panti pijat di tempat singgah yang rindang khusus untuk kalangan ekspatriat di Maadi.

Bahkan, Shereen mengamati pula, sejumlah hotel berbintang lima di Sungai Nil, yang merupakan tempat biasa mangkalnya para Pekerja Seks Komersial (PSK), baik itu laki-laki maupun perempuan, justru malah ditolerir keberadaannya oleh manajemen hotel untuk ditawarkan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi kepada para tamu sebagai ‘menu plus-plus’ dalam layanan kamar.

Belakangan, prostitusi di Mesir semakin menjadi-jadi, modus dan polanya pun makin beragam. Seperti misalnya, pertukaran seks demi memperoleh obat-obatan narkotika, layanan prostitusi tersembunyi untuk seks sesama jenis, hingga fakta yang mencengangkan, bahwa semenjak tahun 2005, lelaki Mesir yang menikah dengan perempuan-perempuan asing jumlahnya bertambah hingga empat kali lipat. Menurut penelusuran Sheeren, para wanita-wanita asing yang ingin menikahi atau membeli seorang suami, lelaki Mesir, harus menyediakan uang sebesar 60.000 pound Mesir (EGP) atau sekitar Rp 96 juta. Tentu, dana tersebut antara lain dialokasikan oleh para pengacara untuk pengurusan paspor, sehingga pernikahannya dapat terlaksana secara resmi dan terdaftar oleh Pemerintah Mesir.

Begitulah, bagaimana kondisi masyarakat Mesir terkini, dilihat dari satu sisi. Republik yang berpenduduk hampir 85 juta jiwa ini semakin mengalami dekadensi moral seiring dengan stabilitas politik dan ekonomi yang masih gonjang-ganjing.

Iklan