Archives for the month of: Januari, 2015

Seorang komunikator pasti dituntut pandai berkomunikasi secara lisan. Tapi menurut buku ini, pandai secara lisan belum cukup. Komunikator andal harus pula ‘berbicara’ melalui tindakan dan sifat. Setelah berhasil menjadi komunikator andal sekalipun, jangan dulu beranggapan sebagai suatu pencapaian istimewa. Karena menurut buku ini, komunikator andal masih harus meningkatkan kapasitas dirinya lagi sebagai seorang inspirator.

Muchlis Anwar ketika menjadi pembicara pada satu sessi pelatihan public speaking. (Foto: muchlisanwar.blogspot.com)

Muchlis Anwar ketika menjadi pembicara pada satu sessi pelatihan public speaking. (Foto: muchlisanwar.blogspot.com)

Begitulah, buku The Art Communication – Menjadi Pribadi yang Hebat dengan Kemampuan Komunikasi karya Muchlis Anwar ini sarat motivasi bagi setiap pembaca, karena mengingatkan kembali pentingnya komunikasi, sekaligus rujukan untuk menjadi komunikator andal. Selain itu, buku yang diterbitkan oleh Penerbit Bestari pada November 2014 ini juga mewanti-wanti pembaca yang serius ingin berprofesi sebagai komunikator handal agar tidak menganggap predikat communicator sebagai puncak pencapaian. Lho?

Menurut Ulish (sapaan akrab penulis buku ini), menjadi komunikator yang bisa memukau audiens dengan kemampuan retorika yang baik, analisa yang tajam, serta wawasan yang luas memang menjadi impian banyak orang. Tapi lebih dari itu, saya ingin mengajak kita semua untuk menjadi komunikator yang menginspirasi. Efek dari komunikasi yang menginspirasi adalah tindakan untuk melakukan perubahan, tindakan untuk membuktikan apa yang sudah dipelajari. Inspirator merupakan pencapaian istimewa dari seorang komunikator. Karena tidak semua komunikator dapat mendapai level ini. (hal. 70)

Jangan merasa cepat puas dengan pencapaian yang telah direngkuh, sebelum memberi perubahan positif kepada banyak orang. Kiranya, inilah intisari pembelajaran dari Bab 6 buku ini yang diberi judul Menjadi Inspirator. Mengapa Ulish menitikberatkan pada pencapaian inspirator daripada sekadar komunikator? Penulis buku kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 14 Desember 1971 ini menuturkan, para inspirator berkomunikasi lewat bicara dan terlebih lagi lewat tindakan nyat. Ada prestasi, ada pencapaian tertentu yang tidak dimiliki orang bayak. Prestasi ini hanyalah stimulus untuk berbuat sesuatu. Yang terpenting adalah cerita panjang di balik pencapaian tersebut. Seorang inspirator adalah mereka yang telah berjuang membangun prestasi yang panjang untuk ditiru. (hal. 71)

Buku ini juga menitikberatkan pada tujuan agar pembaca lebih termotivasi menjadi seorang inspirator daripada komunikator. (Foto/Desain: Gapey Sandy)

Buku ini juga menitikberatkan pada tujuan agar pembaca lebih termotivasi menjadi seorang inspirator daripada komunikator. (Foto/Desain: Gapey Sandy)

Mengapa Ulish sedemikian tega ‘meracuni’ pembaca untuk jangan hanya sekadar menjadi komunikator? Jawabannya, karena waktu jualah yang membuktikan. Perjalanan karir Ulish yang bermula sebagai ‘tukang cuap-cuap’ alias penyiar radio di Surabaya, kemudian watawan majalah dan televisi swasta di Jakarta—sembari menamatkan studinya di bidang PR, public relation—, berhasil memupuk dan menahbiskan sosoknya sebagai motivator public speaking sejak 2003. Sekian lama berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam kaitan komunikasi, berpindah dari satu panggung eksistensi ke panggung berikutnya, membuat Ulish menampik berpuas diri pada maqam komunikator. Sebaliknya, bapak dua anak ini semakin berjuang menempatkan posisi diri pada terminal paling puncak yakni inspirator.

Berbekal teori dunia PR dan terasah pada berbagai praktik sebagai instruktur public speaking di lapangan, Ulish paham betul tentang hal-hal yang musti dilakukan untuk menjadi inspirator kawakan. Satu tips sederhana disodorkan Ulish dengan mengutip Robin Sharma. Menurut penulis asal Kanada itu dalam bukunya The Leader Who Had No Title, ada 17 tips yang dapat dilakukan demi menjadi inspirator. Mulai dari: Lakukan sesuatu, jangan hanya bicara; Hargai orang lain; Gunakan bahasa para pemimpin, bukan bahasa orang-orang kalah; Jangan mengharapkan pengakuan terhadap pekerjaan-pekerjaan yang telah diselesaikan; Jadilah bagian dari pemecahan masalah, bukan malah jadi sumber masalah; Selalu tampil fit dengan menjaga kesehatan; dan, Berkomitmen untuk menjadi yang terbaik di bidang yang ditekuni.

Masih ada lagi tips simple untuk mejadi inspirator, yaitu: Belajar paling tidak satu jam dalam sehari dan tingkatkan terus kualitas serta kuantitasnya; Bertanggung-jawab terhadap diri sendiri; Berani melakukan hal-hal kecil kendati memiliki risiko; Jadilah pemimpin bagi diri sendiri; Berfokus pada kekuatan/kelebihan orang lain, jangan hanya melihat kekurangan mereka; Selalu tunjukkan kinerja terbaik; Lebih banyak tersenyum; Lebih banyak mendengar (speak less, listen more); Ucapkan “tolong” dan “terima kasih”; dan, Lakukan pekerjaan-pekerjaan yang penting juga berguna.

Buku The Art of Communication.

Buku The Art of Communication.

Dalam buku setebal 144 halaman yang terdiri dari sembilan bab ini, Ulish menggunakan bahasa tutur, sebuah gaya bahasa penulisan yang sudah ia pahami betul apa dan bagaimana teknisnya, sekaligus ‘A sampai Z’ praktiknya. Maklum, pengalamannya berkarir sebagai announcer radio (dan wartawan televisi), menjadikannya tak harus berkutat pada teks bahasa formal yang kaku. Menggunakan bahasa tutur sama artinya dengan kemudahan membangun ‘keakraban’ dengan pendengar, pemirsa, dan tentu saja kali ini, dengan para pembaca bukunya. Salah satu ciri positif yang nampak dari gaya bahasa Ulish yang bertutur dalam bukunya ini adalah, nyaris tidak ditemukannya ada kata yang sulit dimengerti, atau kalimat yang harus dibaca ulang sebelum pembaca memahami maksudnya. Inilah kekhasan bahasa tutur, gaya bahasa yang menyederhanakan atau mengubah istilah-istilah rumit menjadi mudah dipahami. Aturan paling terkenal yang menyatakan hal ini adalah ‘KISS!’ alias Keep It Simple, Stupid!

Sebagai peresensi buku yang latarbelakang profesinya tak jauh beda dengan Ulish, patut diyakini bahwa Ulish menimba ilmu bahasa tutur yang enak dibaca ini, sejak berprofesi sebagai penyiar radio, tambah lagi ketika ia menjadi wartawan televisi, dan semakin mendalami teorinya ketika menimba ilmu bidang public relation. Lebih dari itu, peresensi percaya, sosok Andy Rustam, pakar komunikasi media yang juga mentor dunia radio, kiranya sedikit-banyak telah mempengaruhi Ulish dengan kepandaiannya berkomunikasi, atau menjadi komunikator. Asal tahu saja, Andy Rustam—yang sebenarnya memiliki nama panjang Munaf—, tak lain adalah kakak kandung dari musisi jazz Fariz Rustam Munaf. Banyak awak-awak media radio yang menjadi lebih sukses setelah berguru dengan Andy Rustam.

Kedekatan dan ‘penghormatan’ Ulish terhadap sosok Andy Rustam bahkan membuatnya mempublikasikan resensi singkat bukunya yang ditulis Andy Rustam, lengkap dengan kombinasi foto. Begini kalimat resensi singkat Andy Rustam, yang diunggah Ulish ke akun Facebook miliknya, Ulish Anwar: Pemegang rekor dunia lari 100 m Usain Bolt dari Jamaika mengatakan bahwa lari bukanlah hanya kerja dari kaki, melainkan juga tanganmu, tubuhmu, kepalamu. Pendek kata keseluruhan dirinya yang membuatnya menjadi juara dunia. Dalam buku ini, Ulish membukakan pikiran kita bahwa berkomunikasi bukanlah soal berkata-kata saja, melainkan wajah kita, tubuh kita, bahkan jiwa kita pun ikut bekerja demi suksesnya kita dalam berkomunikasi. Sehingga kalau saya boleh memberi judul lain pada buku ini maka pastilah judulnya: TOTAL COMMUNICATION.

Sebenarnya, apa yang dimaksudkan Andy Rustam, bahwa apa yang dikemukakan Ulish mengingatkan kembali kepada para pembaca, tentang berkomunikasi yang “bukanlah soal kata-kata saja”, termasuk merupakan salah satu buku keunggulan dari buku berukuran ‘mini’, 15 cm x 16 cm ini.

Resensi singkat dari Andy Rustam untuk buku The Art of Communication. (Foto: Akun FB Ulish Anwar)

Resensi singkat dari Andy Rustam untuk buku The Art of Communication. (Foto: Akun FB Ulish Anwar)

Sebagai contoh, dalam Bab 2 yang berjudul Menjadi Komunikator Andal, Ulish membeberkan empat unsur utama untuk menjadi komunikator andal tersebut, yaitu pertama, Karakter Positif. Seorang komunikator andal dituntut untuk selalu mengembangkan karakter yang positif. Mereka dipercaya karena integritas dan kejujuran, mereka dicintai karena selalu berempati, mereka dikagumi karena kesabaran dan ketulusannya.

Kedua, Wawasan. Akses untuk berbicara dengan lebih banyak orang terbuka lebar bagi komunikator yang berwawasan luas. Dia bisa menjangkau banyak orang dengan beragam minat. Wawasannya telah menjadi jembatan baginya untuk menyeberangi beragam hal yang tidak mampu dijangkau oleh orang lain. Untuk memperluas wawasan, harus melakukan secara kontinyu empat hal yaitu banyak baca, banyak lihat, banyak dengar, dan banyak gaul.

Ketiga, Teknik Komunikasi. Dengan menguasai teknik komunikasi, pesan kita akan mudah dimengerti sehingga akan mendapatkan feedback sesuai dengan yang kita inginkan. Tiga hal yang harus dikuasai untuk teknik komunikasi ini adalah: tahu apa yang akan disampaikan (Pesan); tahu bagaimana cara menyampaikannya (Cara); dan, tahu kepada siapa akan menyampaikan pesan tersebut (Audiens).

Keempat, Penampilan. Ungkapan yang lebih tepat untuk menjelaskan hal ini adalah “Medium is the message”. Penampilan kita, meliputi busana yang dikenakan dan perawatan tubuh, membawa pesan tersendiri terhadap nilai pesan yang akan disampaikan.

Kutipan bijaksana dan melecutkan motivasi dari buku Muchlis Anwar. (Foto: muchlisanwar.blogspot.com)

Kutipan bijaksana dan melecutkan motivasi dari buku Muchlis Anwar. (Foto: muchlisanwar.blogspot.com)

Akhirnya, buku ini menjadi teramat patut dibaca dan diresapi isinya oleh mereka yang bercita-cita menjadi komunikator andal. Sesudah itu tercapai, hindari untuk berpuas diri. Karena, komunikator andal sekali pun akan belum termasuk sesuatu yang membanggakan, apabila belum memberikan inspirasi positif kepada banyak orang. Maka itu, lanjutkan untuk meng-upgrade posisi komunikator andal itu menjadi inspirator.

Selain gaya bahasa bertutur yang membuat pembaca tidak mengernyitkan dahi karena menemukan kata-kata maupun kalimat yang sulit dipahami maknanya, buku ini juga menarik karena didesain secara popular, mulai dari huruf atau font besar yang memanjakan mata, warna font yang (tidak hitam) melainkan terkadang hijau berpadu merah, juga lay out buku yang anti mainstream karena terkadang satu kolom, dua kolom, bahkan sesekali kombinasi dari keduanya. Buku ini semakin unggul dibandingkan dengan buku-buku ‘ber-genre” Komunikasi lainnya, karena memuat banyak sekali tips yang sederhana namun patut dipraktikkan. Termasuk 22 tips seni berkomunikasi yang disodorkan Ulish sebelum mengakhiri bukunya dengan Daftar Pustaka, Tentang Penulis, dan Galeri Foto yang berisi sejumlah foto-foto Ulish ketika tengah ‘manggung’ sebagai pembicara serta instruktur pada berbagai kesempatan.

Tak ada gading yang tak retak, sayangnya, ditemui dalam buku ini, ada halaman yang font-nya diberi warna oranye dengan warna dasar halaman coklat kehijauan, sehingga tulisannya menjadi tak terbaca dengan jelas, misalnya pada halaman 127. Juga pada Daftar Isi, dimana font-nya hijau dipadu dengan blok warna dasar hijau yang rada mengaburkan tulisan.

Last but not least, selamat membaca buku yang berkualitas ini, dan mereguk ilmu-ilmu berkomunikasi.

* * * * *

Info Buku

Sampul buku The Art of Communication

Sampul buku The Art of Communication

Judul buku : The Art of Communication – Menjadi Pribadi yang Hebat dengan Kemampuan Komunikasi.

Penulis : Muchlis Anwar.

Editor : Muhamad Ilyasa.

Halaman : 144 halaman.

Ukuran : 15 cm x 16 cm.

Penerbit : Penerbit Bestari, Jakarta.

Tahun, Cetakan : November 2014, I.

* Tulisan resensi buku ini menjadi HEADLINE di blog Kompasiana.com edisi hari Kamis, 22 Januari 2015. ( LINK:  http://media.kompasiana.com/buku/2015/01/22/jadilah-inspirator-jangan-hanya-komunikator-718617.html )

Iklan

Salah satu lukisan cat minyak karya maestro lukis Indonesia, AFFANDI (1907 – 23 Mei 1990)  berukuran 58 cm x 44 cm itu adalah A BALINESE NUDE yang dibuat pada tahun 1942. Lukisan bersejarah itu termasuk yang bisa disaksikan ketika kita berkunjung ke MUSEUM PASIFIKA di Nusa Dua, Bali.

Awal pekan lalu, tepatnya Senin, 11 November 2013, saya beruntung bisa memandangi dan mengagumi karya lukis Affandi itu. Karya sang maestro, secara umum adalah abstrak. Akan tetapi, pada saat saya melihat secara langsung lukisan tersebut, sungguh terkesan menjadi ‘hidup’, terutama pada bagian (bulu) mata, hidung, dan bibir wanita yang menjadi obyek lukisan itu.

Museum Pasifika di Nusa Dua, Bali. (Foto: Dokpri)

Museum Pasifika di Nusa Dua, Bali. (Foto: Dokpri)

Museum Pasifika berlokasi di BTDC Area Blok P, Nusa Dua, Bali (seberang Bali Collection, sebuah pusat jajan dan belanja). Bagi pelancong yang menginap di Inna Putri Bali, Grand Hyatt, Melia Bali Resort, Laguna, Westin, dan Nusa Dua Beach Hotel, lokasi museum tidak terlalu jauh. Dari Westin Hotel, tempat saya menginap, jalan kaki ke museum cuma sekitar 10 menit saja. Kalau dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, dengan melintasi jalan tol Bali Mandara di atas laut, dan (langsung) keluar melalui pintu tol Nusa Dua, maka waktu yang dibutuhkan sekitar 10 menit saja.

Museum Pasifika berdiri di atas areal 12.000 m2, dan buka setiap hari mulai jam 10 pagi sampai 6 sore. Meski di tiket masuknya tertera nominal Rp 70.000, rupanya harga itu hanya berlaku bagi wisatawan mancanegara. “Untuk wisatawan domestik, bayarnya Rp 50.000 saja,” ujar salah seorang staf penjualan tiket sembari menyodorkan sobekan tiket.

Tertera di tiket, angka 23491 dengan tulisan dibawahnya: Thank you for visiting Museum Pasifika. Bisa jadi, mungkin saya adalah pengunjung ke-23491 di museum yang didirikan pada tahun 2006 oleh Moetaryanto dan Philippe Augier ini.

Di brosur museum, yang bergambar lukisan seorang wanita mengenakan busana tradisional yang sedang menari, tertulis Museum Pasifika adalah The Largest Asia Pacific Art Museum in the Heart of Bali. Penegasan ini kelihatannya tidak berlebihan, karena memang museum ini menawarkan visi dari dua wilayah besar dunia yakni Asia dan Pasifik. Tentu saja dengan titik pertemuannya adalah Bali itu sendiri. Koleksi seni utama dari kepulauan Pasifik yang ada di sini misalnya, lukisan, patung, tekstil, dan benda-benda antik lainnya. Terdapat sekitar 600 karya seni dari 200 artist (seniman) yang berasal dari Indonesia, Melanesia Pasifik dan Polinesia, Indochina Peninsula, dan beberapa negara lain di Asia.

Sejumlah karya lukisan yang turut dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. (Foto: Dokpri)

Sejumlah karya lukisan yang turut dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. (Foto: Dokpri)

Hebatnya, semua koleksi seni yang dipajang di museum ini termasuk yang paling lengkap di dunia. Jadinya, tidak salah kalau museum ini pernah meraih Wonderful Indonesia Award 2011 untuk kategori Museum. Penghargaan tersebut langsung diserahkan oleh MARI ELKA PANGESTU selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan menjadi modal sekaligus bukti nyata bahwa museum ini patut dilestarikan bahkan dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata favorit di kawasan Nusa Dua, Bali, selain berbagai obyek wisata nasional lainnya seperti yang termuat di http://indonesia.travel/ sebagai Indonesia’s Official Tourism Website.

Selain itu, hingga tulisan ini ditayangkan pada bulan November 2013, Museum Pasifika juga berhasil memenangkan predikat sebagai Traveller’s Choice 2013, yaitu peringkat ke-2 dari 9 obyek wisata yang ada di kawasan Nusa Dua, Bali. Penghargaan ini diberikan oleh tripadvisor.co.id, sebuah situs web wisata terbesar di dunia.

Usai menyerahkan tiket, staf wanita di loket tiket masuk tadi pun memberian penjelasan singkat. “Di museum ini ada 8 paviliun dan 11 ruangan yang memamerkan hasil-hasil seni. Semua koleksi seni dilarang untuk di-foto. Kecuali, kalau sudah berada di ruangan ke-6 dan ke-9, baru boleh mengambil foto,” tuturnya seraya menunjukkan denah museum yang tertempel di dinding dekat loket tiket masuk.

Kiri: Lukisan cat minyak Theo Meier berjudul Segara Mas (1959). Kanan: Diorama lukisan di Ruang 6 Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. (Foto-foto: Dokpri)

Kiri: Lukisan cat minyak Theo Meier berjudul Segara Mas (1959). Kanan: Diorama lukisan di Ruang 6 Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. (Foto-foto: Dokpri)

Yup! Museum Pasifika ini berbentuk empat persegi panjang. Terdiri dari 8 paviliun (termasuk café) dan 11 ruangan secara berurutan, yakni Ruang Indonesian Artist; Italian Artists in Indonesia; Dutch Artists in Indonesia; French Artists in Indonesia; Indo-European Artists in Indonesia; Temporary Exhibition; Artist on Indochina Peninsula, Laos, Vietnam, Cambodia; Asia – Several Artworks On Japan, China, Thailand, Malaysia, India, Myanmar, and the Philippines; Premier art of Vanuatu and Pacific Islands, Paintings of Aloi Pilioko and Nikolai Michoutouchkine; Artists in Polynesia; dan Ruang Textiles from Indonesia or Tapa from The Pacific.

Hanya di dua ruang, yakni Temporary Exhibition, dan Premier art of Vanuatu and Pacific Islands, Paintings of Aloi Pilioko and Nikolai Michoutouchkine saja pengunjung diizinkan men-jepret-kan kameranya. Kebijakan ‘No Camera’ ini membuat saya sedikit kesal, lantaran saat memasuki lokasi pameran pertama, yakni Ruang Indonesian Artists, seluruh karya lukisan yang terpajang di dinding, dalam berbagai ukuran dan berbingkai rapi, adalah karya para maestro lukis kebanggaan bangsa Indonesia.

Lukisan cat minyak berjudul Cockfight karya pelukis Sudjana Kerton. (Foto: artvalue.com)

Lukisan cat minyak berjudul Cockfight karya pelukis Sudjana Kerton. (Foto: artvalue.com)

Karena dilarang memotret, saya berusaha mencatat penjelasan lukisan-lukisan tersebut. Sebut saja misalnya:

  1. Karya pelukis NYOMAN GUNARSA yang diberi judul Legong Dancers with Red Cloth (dilukis tahun 1944) dengan ukuran 75 cm x 25 cm (watercolor on paper). Lukisan ini bertipikal abstrak menggambarkan seorang wanita penari Legong mengenakan busana tradisonal kemerahan, dengan mata melirik ke kanan.
  2. Karya pelukis IDA BAGUS NYOMAN RAI (1920-1999) yang berjudul Joget Bumbung (dilukis pada tahun 1940), dengan ukuran 47 cm x 63 cm (ink on paper). Lukisan ini menampakkan dua sejoli yang tengah menari dengan sejumlah penonton wanita yang terlukis bertelanjang dada.
  3. Karya pelukis DEWA PUTU BEDIL (1921-1999) yang diberi judul The Harvest (1985), dengan ukuran 135 c x 100 cm (conte on paper). Lukisan ini menggambarkan panen padi yang dilaksanakan oleh pria dan wanita.
  4. Karya pelukis N WIDAYAT (1928-2002) yang bertitel Eruption of the volcano Merapi (1989), ukurannya cukup besar 150 cm x 150 cm. Lukisan di atas canvas ini menampakkan letusan Gunung Merapi yang memuntahkan lahar dan meluncurkan awan panas, lengkap dengan pepohonan yang mengering.
  5. Karya pelukis SUDJANA KERTON (1922-1994) yang diberi judul Cockfight. Lukisan oil on canvas ini berukuran 64 cm x 92 cm, dan di kanan bawah tertulis nama S. Kerton dengan huruf oranye kemerahan.
  6. Karya pelukis I KETUT TOMBLOS (1917) dengan judul Village Scene Circa yang dilukisnya pada tahun 1940, dengan ukuran 59 cm x 84 cm (watercolor on paper). Karya lukis ini menggambarkan keramaian suasana pertunjukkan wayang kulit, lengkap dengan para pemain tetabuhan gending/alat musik tradisional, dengan para penonton pria, wanita (bertelanjang dada), tua, muda, juga para pedagang kaki lima.
  7. Karya pelukis AFFANDI (1907-1990) yang diberi judul Boats in Cirebon (1965). Lukisan ini secara abstrak menggambarkan perahu nelayan dengan ombak dan awan yang artistik khas sang maestro. Ukuran lukisan ini 93 cm x 129 cm (oil on canvas). Terdapat tulisan ‘A 1965’ sebagai inisial nama Affandi dan tahun lukisan itu dibuat.
  8. Karya pelukis RADEN SALEH SJARIF BOESTAMAN (1811-1880) yang bertitel A Tiger Hunt yang dilukis pada tahun 1845, dan menggambarkan perburuan harimau loreng Jawa yang dilakukan oleh tiga orang berkuda. Para pemburu menunggang kuda putih, hitam, dan coklat, dengan menghunuskan pedang.
  9. Karya pelukis DULLAH (1919-1996) yang berjudul Cremation in Bali (1936). Lukisan ini menggambarkan suasana kremasi jenazah dengan patung dua ekor lembu, rumah adat, Barong, ada pula dua wanita membawa sesaji di atas kepalanya. Terdapat coretan nama ‘Dullah’ pada kiri bawah lukisan.
  10. Karya pelukis PAN SEKEN (1900-1980) yang berjudul The Death of Abimanyu. Lukisan ini merupakan Trandition Balinese Painting, Kamasan-Klungkung, Bali yang dibuat sekitar tahun 1940 (natural pigment on canvas) dengan ukuran 85 cmx80 cm. Menggambarkan suasana perang anak panah, para korban perang, dan suasana kremasi jenazah.
Dari kiri ke kanan: Tiga lukisan karya Theo Meier, berjudul Offering To The Gods (1968); Portrait of Made Pulungan (1937); dan, Three Bali Girls of The Beach (1978). (Foto-foto: Dokpri)

Dari kiri ke kanan: Tiga lukisan karya Theo Meier, berjudul Offering To The Gods (1968); Portrait of Made Pulungan (1937); dan, Three Bali Girls of The Beach (1978). (Foto-foto: Dokpri)

Tentu saja, masih banyak lagi lukisan hasil karya para maestro Indonesia di ruangan ini. Seperti, ANTON HUANG (1935-1985) yang lukisannya diberi judul Balinese Offering; SARAOCHIM SALIM (1908-2008) dengan lukisannya Two Indonesian Women; dan SUDARSO (1914-2006) yang karya lukisannya terpampang dengan judul Sitting Girl.

Sedangkan untuk pelukis-pelukis ternama mancanegara, tersebar berdasarkan ruangan. Misalnya, di Ruang 2, sejak bulan Oktober 2013 hingga Januari 2014 akan terus memamerkan secara khusus karya-karya seniman sekaligus antropolog asal Meksiko, Miguel Covarrubias (1904-1957). Kreasi guratan tangan Covarrubias (yang biasa disapa “El Chamaco” atau Si Anak Kecil) ini sangat detil, warna-warninya menakjubkan, dan penuh penghayatan atas obyek yang dilukisnya. Indonesia, kelihatannya patut berterima-kasih kepada pelukis yang pada tahun 1930 silam datang ke Bali, serta turut memperkenalkan Pulau Dewata kepada dunia melalui bukunya Island of Bali yang terbit pada tahun 1937.

Ruangan lainnya berisi karya-karya lukisan warga Italia yang pernah mengeksplorasi seni di Bali, seperti Renato Chsritiano, Gilda Ambron, dan Piero Antonio Garriazo. Lalu, ruang yang penuh diorama pelukis Belanda yang sempat tinggal di Bali yakni Wilem Gerard Hofker, Isac Israel, Hendrik Paulides dan lainnya.

Sementara di ruang pelukis Eropa, terdapat foto-foto dan karya pelukis berkebangsaan Belgia, Adrien Jean Le Mayeur de Merpres (1880-1958). Termasuk, sebuah bingkai yang memamerkan surat bersejarah tulisan tangan Presiden RI kala itu, Ir Soekarno, ditujukan kepada Le Mayeur beserta istrinya, perempuan Bali dan penari Legong yang cantik, Ni Nyoman Pollok. Inti surat Bung Karno itu adalah meminta kesediaan Le Mayeur mengajarkan teknik melukis kepada Dullah, pelukis beraliran realisme dan merupakan kepercayaan di lingkungan Istana Kepresidenan RI.

Ada lagi, Ruang Indo-China yang memajang diorama lukisan karya seniman dari Vietnam, Thailand, Kamboja, Hongkong. Sedangkan Ruang Asia, didominasi oleh lukisan khas Tiongkok pada abad pertengahan. Ruang Tahiti juga ada, yang menampilkan semua lukisan karya seniman Tahiti.

Dua lukisan karya Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. (Foto-foto: tuberosesandtea.files.wordpress.com)

Dua lukisan karya Miguel Covarrubias dalam bukunya Island of Bali. (Foto-foto: tuberosesandtea.files.wordpress.com)

Khusus pada ruang 6, dimana pengunjung boleh menjepretkan kameranya, diisi oleh berbagai pernak-pernik tradisional Bali, seperti lukisan Bali, dan sepuluh topeng Barong yang berbeda-beda sosok, yaitu Rangda, Barong Putih, Barong Hitam, Rarung, Kala Srenggi, Burisrawa, Kala Hitam, Kala Putih, Celuluk Hitam, dan Celuluk Putih. Yang berwajah dan berpostur paling ‘aeng’ (seram), sudah pasti Rangda (artinya: janda). Maklum, dialah ratu-nya para Leak yang mewakili sosok batil, bersama dengan Rarung yang menjadi jelmaannya, dan Celuluk sebagai anak buahnya. Sedangkan Barong, mewakili sosok kebaikan yang justru menumpas kebatilan. Mitologi tradisi yang sakral dan mistik ini biasa disendratarikan lewat Tari Barong (Melawan Randa).

Selain menampilkan sepuluh topeng sosok dalam mitologi Bali itu, masih di ruang VI, terdapat banyak sekali lukisan karya Theo Meier (1908-1982), seniman asal Swiss yang pada tahun 1936 jatuh cinta dengan Bali, untuk kemudian memilih tinggal di Sanur, dan mempersunting gadis Pulau Dewata, Made Pulungan. Theo juga menjadi ikon pembukaan pameran museum saat pertama kali mulai dibuka untuk umum.

Di sini, sekali lagi, pengunjung boleh mengambil foto, termasuk memotret lukisan-lukisan karya Theo Meier, yang salah satunya adalah lukisan wajah setengah badan istrinya, Made Pulungan. Lukisan ini dibuat tahun 1937.

Bila sampai di ruang 6, pengunjung mulai kelelahan dan kaki merasa pegal, saya sarankan, keluarlah dulu untuk menikmati suasana outdoor di tengah-tengah bangunan museum, yang dibentuk menyerupai taman batu pancang lengkap dengan rerimbunan pepohonan. Begitu terbuka dan asri, karena memang di taman ini biasa digelar berbagai pergelaran seperti sendratari dan lainnya, dalam rangka menyambut para delegasi (tamu negara), atau pengunjung lainnya pada event tertentu. Ada juga café yang menyediakan makanan dan minuman ringan yang bisa dipesan sembari melepas penat di area taman terbuka.

Selain di ruang 6, pengunjung juga diizinkan mengambil foto di ruang 9 yang merupakan ruang pameran koleksi museum terdiri dari berbagai patung-patung artefak (mirip totem) berbagai ukuran, bekas perahu kayu, pakaian perang, peralatan berburu, dan beraneka bahagian tulang binatang, asesoris dari batu, kerang, tulang, dan masih banyak lagi. Selain berasal dari Republik Vanuatu dan Kepulauan Solomon, dua negara kepulauan yang terletak di Samudera Pasifik bagian Selatan, ada juga yang dari Papua Nugini.

Adapun di ruang 10 adalah merupakan pameran karya lukis dari Polynesia. Dan ruang 11, atau ruang terakhir, merupakan tempat museum memamerkan koleksi tekstilnya dari berbagai negara di Asia Pasifik, termasuk kain Ulos (ikon ciri khas Batak dalam melaksanakan Upacara Adat di Sumatera Utara). Uniknya, kain Ulos ini panjangnya hampir 20 meter dengan lebar 2 meter. Hebatnya, kain Ulos ini tidak memiliki jahitan sambungan sama sekali. Kain ini terpajang rapi dalam kaca berpigura, dan diletakkan memanjang di dinding yang bercat putih. So beautiful, indah sekali!

Lestarikan dan Kembangkan Museum Pasifika

Dari reportase di atas, jelas bahwa Museum Pasifika memiliki arti yang vital dalam menjelaskan kepada dunia bahwa Bali memiliki magnet luar biasa dalam menarik hati para seniman (domestik dan mancanegara) menimba ilmu, mengeksplorasi keindahan alam, budaya dan pesona ramah-tamah masyarakatnya. Hal ini sudah dibuktikan, misalnya oleh Theo Meier, Antonio Blanco, Le Mayeur, Miguel Covarrubias dan lainnya, yang sudah melanglang-buana ke berbagai negara tapi akhirnya menjatuhkan tambatan hatinya hanya kepada Bali.

Karena itu, keberadaan Museum Pasifika sebagai salah satu destinasi wisata edukasi harus lebih dikedepankan dan dimasyarakatkan. Sumbang saran saya untuk turut melestarikan museum ini adalah melakukan langkah internal dan terobosan eksternal.

Secara internal, pengelola Museum Pasifika harus membenahi sejumlah pelayanan dan fasilitas yang membuat nyaman pengunjung. Misalnya saja, penyediaan loker penitipan barang, memaksimalkan penyejuk ruangan, staf pemandu yang selalu siap dan sigap, melengkapi fasilitas audiovisual dan multimedia bagi pengunjung terkait aktivitas museum, hingga penyediaan brosur atau katalog agar dapat lebih memberikan informasi komprehensif tentang profil maupun koleksi-koleksi karya seni yang dimiliki museum. Kalaupun terdapat pelarangan untuk memotret, hendaknya di katalog dan multimedia tadi disediakan gambar reproduksi atas karya-karya lukisan para maestro seni tersebut.

Selain itu, pengelola museum juga diharapkan pro-aktif untuk menggelar berbagai event di taman terbuka yang ada di tengah-tengah museum. Entah itu dialog, diskusi, pelatihan yang terkait dengan seni melukis, mengukir, musik, tari, hingga pergelaran seni-budaya lainnya. Hal ini penting, karena hotel, resort, dan obyek-obyek wisata di Nusa Dua, selalu ramai dan tak pernah sepi pengunjung. Maklum, Nusa Dua terkenal sebagai salah satu lokasi paling favorit untuk menyelenggarakan Meeting Incentive Convention Exhibition (MICE), dengan peserta yang mengglobal dan masif.

Di dekat pintu masuk, depan loket tiket, saya sempat memandangi sejumlah lukisan karya para pelajar di Bali. Lukisannya, jelas bercirikan tradisi dan ikon-ikon kedaerahan. Jujur, saya menilainya, lukisan-lukisan mereka itu bagus-bagus sekali. Dua lukisan sempat saya abadikan menggunakan kamera seperti terlihat di bawah ini.

Tiga sosok dalam mitologi Bali yang melambangkan kebatilan dalam dunia mistis Leak yakni Rangda, Celuluk Hitam, dan Rarung. (Foto: Dokpri)

Tiga sosok dalam mitologi Bali yang melambangkan kebatilan dalam dunia mistis Leak yakni Rangda, Celuluk Hitam, dan Rarung. (Foto: Dokpri)

Mencermati lukisan para siswa di Bali yang begitu indah ini, tentu dapat menjadi alasan untuk semakin melibatkan kreatifitas pelajar (tak harus dari Bali saja) guna menuangkan tulisannya, sehingga dapat turut dipamerkan, atau mengadakan kegiatan pameran lukisan bersama, khusus para pelajar. Tujuannya, selain ‘mendekatkan’ para pelajar kepada museum sebagai tempat edukasi, juga untuk memupuk dan memperdalam bakat serta kemampuan mereka di bidang seni, terutama melukis. Hasil karya terbaik, tentu layak dipromosikan untuk dijual dengan harga pantas, sehingga dapat berdaya-guna sebagai penunjang dana pendidikan maupun peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Adapun terobosan secara eksternal dalam rangka melestarikan dan mengembangkan Museum Pasifika, saya pikir bisa dilakukan melalui kerjasama dengan pihak museum ternama di negara-negara se-Asia Pasifik. Kerjasama ini dalam rangka saling meminjamkan koleksi karya seni dan melakukan pameran bersama secara bergiliran. Tentu, tidak hanya lukisan, melainkan juga karya seni dalam bentuk lainnya sepert ukiran, patung, tekstil, seni tari, musik dan lainnya. Dengan demikian, penyelenggaraan event di Museum Pasifika dapat selalu full and busy setiap tahunnya. Brosur dan katalog serta informasi mengenai event tersebut dapat disebarluaskan secara free sejak di airport international Ngurah Rai, hingga ke hotel-hotel dan resort yang ada di wilayah Nusa Dua dan sekitarnya, serta Bali pada umumnya.

Apalagi, sejauh ini antusiasme turis mancanegara terhadap Museum Pasifika sangat baik sekali. Simak saja penuturan Nataliya Brezhneva asal Moskow, Rusia, yang mengaku berkunjung pada Oktober 2012. Di situs tripadvisor.co.id, ia menuturkan: “There are a lot of really beautiful portraits of really beautiful asian women. My friends and I enjoyed the collection. I was surprised to find there a work of russian artist Yuriy Gorbachev. The managers of Pasifika believe that the artist is a nephew of Russian ex-president Mikhail Gorbachev 🙂 If you don’t want to go far from the beaches to Ubud museums, Pasifika – is a best place to visit. No. you must see both. Pasifika is something absolutely different, with it’s own concept and a very pleasant atmosphere. We spent three hours among great paintings and I’m still keeping very good memories of that time”.

Juga, opini Drew Jones dari Brisbane, Australia di tripadvisor.co.id yang pada Agustus 2013 berkunjung dan langsung menyatakan kekagumannya sekaligus ingin mengajak rekan-rekannya mengunjungi Museum Pasifika: “We were passing by on a scooter ride and went in. We were glad we did. A great place to spend some time and view some local art work. Worth the visit and I will be sending friends here in future”.

Akhirnya, pernyataan Philippe Augier selaku founder of the Pasifika Museum patut kita renungkan. Menurutnya, “A collection is not just a group of beautiful paintings, but it is an ensemble of artwork with a common thread binding it all together”. (Koleksi bukanlah hanya sekumpulan lukisan-lukisan yang indah saja, tapi itu adalah merupakan sebuah ensemble karya seni dengan benang merah yang mengikat semuanya secara bersama-sama).

Ya, menjadi tugas kita bersama untuk turut melestarikan dan mengembangkan salah satu destinasi wisata di Nusa Dua, yakni Museum Pasifika demi kemajuan anak-cucu, kini dan nanti. Sekaligus, kemaslahatan tersendiri bagi Bali dalam percaturan di fora internasional.

Ini pengalaman langka, unik, dan membuat terperangah. Sekaligus, kejadian sebenarnya yang menjadi bukti nyata atas ekspresi kekayaan adat, budaya, agama, kepercayaan, dan keharmonisan umat beragama di Indonesia.

Ceritanya begini, ketika menunggu masuknya waktu shalat Dzuhur di sebuah masjid, saya terperangah dengan suasana sekitar yang terjadi. Saat jarum jam nyaris menandakan masuk waktu Dzuhur (jam 12.05), dan pengurus masjid bersiap-siap untuk mengumandangkan adzan, ternyata bukan bedug dari kulit lembu yang dipukul bertalu-talu, tapi justru suara lonceng gereja yang berdentang hingga puluhan kali.

Pusat Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, semakin berkibar menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. (Foto: Gapey Sandy)

Pusat Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, semakin berkibar menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. (Foto: Gapey Sandy)

Sambil menunggu kumandang adzan, dan masih mendengarkan lonceng gereja yang berdentang, saya menyempatkan diri untuk berpindah ke teras luar masjid, memusatkan pendengaran terhadap sumber suara berdentang itu, dan ternyata memang berasal dari menara gereja.

Barulah ketika bunyi berdentang lonceng dari menara gereja makin melemah, dan terus melemah, hingga akhirnya berhenti sama sekali, petugas muadzin yang berseragam hijau-hijau mengenakan kopiah hitam di sisi mimbar masjid pun mulai mengaktifkan microphone untuk segera mengumandangkan adzan. Gema adzan nyaring terdengar, berkat pancaran pengeras suara yang terpasang di masjid.

Setengah tak percaya, tapi begitulah kenyataan sebenarnya yang terjadi pada siang hari itu, Selasa, 12 November 2013 kemarin.

Apa yang saya ceritakan barusan, bukan terjadi di Jakarta. Akan tetapi, di Nusa Dua, Bali! Tepatnya di Kawasan Kompleks Puja Mandala, sebuah pusat peribadatan yang ada di Jalan Kurusetra, Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Untuk bisa sampai ke sini, kalau dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, melintasi jalan tol Bali Mandara yang melingkar di atas laut itu, cuma butuh waktu sekitar 15 menit. Atau, kalau dari Westin Resort, Nusa Dua, tempat saya menginap, perlu waktu kira-kira 10 menit, dengan menyusuri Jalan Raya By Pass Ngurah Rai, dan tepat di perempatan Siligita berbelok ke kiri, menanjak menuju ke arah Uluwatu.

Masjid Agung Ibnu Batutah. (Foto: Gapey Sandy)

Masjid Agung Ibnu Batutah. (Foto: Gapey Sandy)

Berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar, proyek pembangunan fisik kompleks ini dimulai pada tahun 1994. Hingga kini, Pusat Peribadatan Puja Mandala semakin mencatatkan diri sebagai destinasi wisata religi favorit di Nusa Dua, Bali. Karena memang, di sini berdiri kokoh 5 bangunan tempat sembahyang, yang saling bersebelahan dalam satu barisan memanjang. Masing-masing bangunan menempati kavling lahan yang sama luas, yakni 0,5 hektar.

Sesuai namanya, Puja Mandala (dari bahasa Sansekerta) yang berarti Tempat Pemujaan. Dan, ke-5 sembahyang itu, mulai dari sisi sebelah kiri barisan adalah sebagai berikut:

Sejarah Puja Mandala

Pembangunan proyek Kompleks Puja Mandala, dimulai pada tahun 1994, dan tak lepas kaitannya dengan bantuan serta fasilitasi dari pihak PT Pengembangan Pariwisata Bali (Persero), satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang biasa dikenal dengan Bali Tourism Development Corporation (BTDC).

Dalam situsnya, btdc.co.id, disebutkan bahwa, pada saat Nusa Dua Beach Hotel dibeli oleh Sultan Brunei Darussalam, Hasanal Bolkiah, sempat muncul wacana  untuk membangun sebuah masjid berukuran kecil di area Nusa Dua Beach Hotel.

Berlatar-belakang wacana itulah, Joop Ave selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ke-7 (1993-1998) di era Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, kemudian justru meminta agar supaya dipikirkan pembangunan tempat-tempat peribadatan. Alasannya, kebutuhan para wisatawan domestik maupun mancanegara selama di Bali, selain makan, minum, rekreasi dan istirahat, adalah juga beribadah sesuai kepercayaan masing-masing.

Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa. (Foto: Gapey Sandy)

Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa. (Foto: Gapey Sandy)

Vihara Buddha Guna. (Foto: Gapey Sandy)

Vihara Buddha Guna. (Foto: Gapey Sandy)

Gayung pun bersambut. Rencana itu kemudian ditindaklanjuti dengan mencari alternatif lokasi pembangunan tempat peribadatan itu, oleh Ir Mandra dan Ketut Wirya, selaku bagian Perencanaan BTDC. Waktu itu, usulan lokasi antara lain di ujung Selatan (lapangan golf), di ujung Utara dekat lagoon, termasuk lokasi yang kebetulan ditemukan di peta yaitu lahan tanah seluas 2,5 hektar milik BTDC yang terpencil di Jalan Kurusetra, Kuta Selatan, Badung. Lokasi-lokasi bakal calon pembangunan tempat-tempat peribadatan ini kemudian diusulkan kepada Sunetja, Direktur Utama BTDC kala itu, untuk kemudian diteruskan kepada Joop Ave.

Joop Ave akhirnya menyetujui lahan tanah terpencil seluas 2,5 hektar, dan langsung mengarahkan agar di lokasi itu segera dibangun semua tempat ibadah umat beragama yang mencerminkan semboyan Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika, dan keharmonisan dalam perbedaan. Di lapangan, lahan tanah seluas 2,5 hektar itu kemudian dibagi menjadi 5 kavling sebagai tempat pembangunan 5 tempat ibadah tersebut. Pembangunannya dibiayai secara swadaya oleh masing-masing umat beragama, kecuali tempat parkir dan taman yang didanai BTDC.

Akhirnya, pada tanggal 20 Desember 1997, Menteri Agama kala itu, Tarmizi Taher, meresmikan Pusat Peribadatan Puja Mandala. Waktu itu, bangunan ibadah yang sudah selesai terlebih dahulu adalah Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, dan Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa.

Di ruang utama Masjid Agung Ibnu Batutah, terdapat prasasti yang menyatakan, bahwa pembangunan masjid ini merupakan sumbangan dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, lengkap dengan tanda-tangan Presiden Soeharto.

Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa. (Foto: Gapey Sandy)

Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa. (Foto: Gapey Sandy)

Adapun peresmian Vihara Buddha Guna dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 2000, melalui Upacara Pemberkahan yang dikenal dengan Abhiseka Buddha Rupang. Sedangkan Pura Jagat Natha, berdasarkan batu prasasti yang terletak di halaman luar, tertera tanggal peresmiannya yaitu pada tanggal 30 Agustus 2004, oleh Gubernur Bali saat itu, Dewa Beratha.

Ekspresi Kekayaan Adat, Budaya, Agama dan Kerukunan Umat Beragama

Keberadaan Pusat Peribadatan Puja Mandala, niscaya telah menjadi ekspresi nyata tentang beragamnya agama, sekaligus kerukunan antar umatnya di Indonesia. Meski gema kumandang adzan di Masjid Agung Ibnu Batutah nyaris berbarengan dengan bunyi lonceng Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa yang kencang berdentang hingga berkali-kali, akan tetapi kondusifitas peribadatan sama sekali tak terganggu. Termasuk, pengalaman yang sudah-sudah, dimana terdengar suara kumandang adzan dari masjid, pada saat misa di gereja tengah berlangsung. Di sini, semua pihak sudah sama-sama mahfum, saling menghormati, menghargai, dan benar-benar mengekspresikan jiwa persatuan dan kesatuan Indonesia Raya!

Pura Jagat Natha. (Foto: Gapey Sandy)

Pura Jagat Natha. (Foto: Gapey Sandy)

“Tiap-tiap pengurus rumah peribadatan yang ada di sini selalu kompak. Semangatnya sama dan selalu satu, yakni bagaimana mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. Para pengurus dari lima rumah ibadah yang ada di sini, setiap bulan selalu mengadakan pertemuan. Bernaung dibawah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, tuan rumah penyelenggara pertemuan antar pengurus itu selalu berpindah-pindah tempat, misalnya bulan ini di masjid, bulan berikutnya di gereja, vihara, dan pura. Dalam pertemuan bulanan antar pengurus tempat sembahyang itu, selalu disampaikan berbagai informasi dan komunikasi yang patut diketahui, berikut penyampaian agenda acara kegiatan masing-masing. Sehingga, semua perkembangan dan dinamika yang terjadi di Puja Mandala ini saling dikomunikasikan sehingga membuat keharmonisan kerukunan antar pengurus dan umat beragama di sini semakin erat,” tutur Agus Ismet Noor, salah seorang ta’mir Masjid Agung Ibnu Batutah saat berbincang dengan penulis.

Kegiatan keagamaan di masjid yang sanggup menampung 3.000 jamaah ini, imbuh Agus, berhasil menghadirkan banyak jamaah yang tak hanya berasal dari wilayah sekitar Nusa Dua saja. “Apalagi, kalau sedang dilaksanakan sejumlah kajian, seperti misalnya Kajian Umum Tafsir Al Qur’an setiap Rabu dan Ahad selepas Maghrib, Kajian Jumat malam sesudah Maghrib, dan Kajian Kuliah Subuh setiap Ahad,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Eni Sri Wahyuni, Kepala Sekolah Raudhatul Athfal/Taman Kanak-Kanak “Baitul Amin” yang bersebelahan dengan masjid, keberadaan Kompleks Puja Mandala membuat para anak didik cepat menyerap pembelajaran tentang kerukunan dan keharmonisan umat beragama, serta tempat peribadatan masing-masing.

Vihara Buddha Guna (sebelah kiri) berdampingan dengan Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa (sebelah kanan) di Pusat Peribadatan Puja Mandala, Nusa Dua, Bali. (Foto: Gapey Sandy)

Vihara Buddha Guna (sebelah kiri) berdampingan dengan Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa (sebelah kanan) di Pusat Peribadatan Puja Mandala, Nusa Dua, Bali. (Foto: Gapey Sandy)

“Sebagai pendidik, kami memperkenalkan toleransi beragama kepada anak-anak sejak dini, misalnya dengan memperkenalkan tempat-tempat ibadah yang ada di Puja Mandala. Kami juga mengajak anak-anak berkunjung ke Banjar, semacam desa, untuk mengetahui aktivitas adat, kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat Bali yang ada di sana. Sekaligus bertemu langsung dengan Keliyan atau pamong desa,” ujarnya saat ditemui penulis di kantor RA/TK “Baitul Amin” yang pada Oktober kemarin menyabet Juara Umum Lomba Manasik Haji antar RA/TK se-Kabupaten Badung.

Pada perkembangannya, ekspresi nyata atas ke-Bhinneka Tunggal Ika-an yang ada di Puja Mandala telah beberapa kali menjadi obyek pembelajaran oleh berbagai pihak. Misalnya, delegasi FKUB Provinsi Kalimantan Selatan, yang pada 2010 lalu melakukan studi banding, dengan meninjau langsung Kompleks Puja Mandala, sekaligus menggelar pertemuan dengan FKUB Provinsi Bali.

Sedangkan dari mancanegara, anggota parlemen dari 17 negara peserta Parliamentary Event on Interfaith Dialog, pada tahun lalu, juga menyempatkan diri untuk berkunjung sambil mengeksplorasi fakta dan data seputar Puja Mandala. Hasilnya? Mereka menyampaikan apresiasi yang tinggi, demi melihat suasana rukun dan harmonis yang ada di Pusat Peribadatan sekaligus destinasi wisata religi, Puja Mandala.

Eni Sri Wahyuni dan Agus Ismet Noor. Bersyukur dengan adanya Kompleks Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, berikut kerukunan dan keharmonisan umat beragamanya. (Foto: Gapey Sandy)

Eni Sri Wahyuni dan Agus Ismet Noor. Bersyukur dengan adanya Kompleks Puja Mandala di Nusa Dua, Bali, berikut kerukunan dan keharmonisan umat beragamanya. (Foto: Gapey Sandy)

Yup! Puja Mandala kini telah menjadi salah satu ikon perlambang kekayaan budaya, adat istiadat, dan keragaman agama di Indonesia. Sekaligus, mengekspresikan secara nyata, bahwa meskipun bangsa Indonesia terdiri dari beraneka suku, agama, ras, dan golongan, tapi semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA telah terpatri, dan menjadi dasar atas persatuan-kesatuan Republik Indonesia tercinta. Inilah bentuk nyata kekayaan negeri ini yang patut kita syukuri.

Edisi online harian pagi Inggris, The Independent, pernah menurunkan hasil reportase mengenai perilaku dan kebiasaan kawin kontrak (mut’ah) di Mesir. Diantara narasumbernya adalah Dr Hora Badran, seorang aktivis LSM Aliansi Untuk Perempuan Arab. Menurut Dr Badran, ikatan perkawinan yang dilakukan hanya untuk jangka pendek, atau kawin kontrak di Negeri Firaun ini sudah menjadi kebiasaan antara lain dikarenakan oleh kesejahteraan rakyat dan keterpurukan ekonomi.

Terutama, terjadi di kawasan yang penduduknya miskin dan kesejahteraan hidup yang tidak layak, seperti di Kota Hawamdiyya yang terletak di sebelah selatan Kairo, juga di desa-desa sekitar provinsi Giza, tak jauh dari Kairo. Giza, terkenal di dunia sebagai tempat ditemukannya piramid-piramid berukuran raksasa, peninggalan zaman Mesir Kuno sekitar 5.000 tahun silam.

Di Mesir, kawin kontrak biasanya ramai dilakukan pada saat musim panas (summer). Tak aneh, kalau kebiasaan kawin kontrak pada musim panas itu disebut juga sebagai ‘pernikahan/perkawinan musim panas’. Sementara bagi mempelainya, dinamakan sebagai ‘pengantin musim panas’ (summer bride), atau ‘istri musim panas’.

Kenapa musim panas? Karena pada saat itu, Kawasan Teluk memang tengah sebegitu panas hawanya, sehingga banyak orang bepergian ke berbagai wilayah demi menghindari hawa panas tersebut.

Di salah satu desa di Giza tersebut, Dr Badran sempat menemui sejumlah wanita muda yang pernah terikat dalam kawin kontrak, atau para mantan ‘istri musim panas’. Salah satunya, panggil saja Leila (bukan nama sebenarnya), yang pada usia 17 tahun sudah dikawinkan oleh keluarganya dengan pria berusia 45 tahun, asal Arab Saudi. Banyak materi uang yang didapat dari pria Arab Saudi itu kepada Leila dan keluarganya. Selain dibelikan gaun pengantin dan pesta resepsi perkawinan alakadarnya yang berlangsung di restoran mahal, ayah Leila juga diberikan uang sejumlah 2.120 poundsterling atau sekitar Rp 30 juta lebih. Sebuah nilai yang fantastis bagi keluarga Leila, dan keluarga-keluarga lainnya yang miskin papa di Mesir.

Lantas apa yang terjadi? Kawin kontrak Leila hanya berumur satu bulan. Sesudah itu, ‘suami musim panas’ asal Arab Saudi ini kembali ke negaranya. Keduanya pun berpisah (‘bercerai’ atau habis masa kawin kontraknya). Ironisnya, sang suami terlanjur membual janji bahwa dirinya akan segera kembali ke Mesir dan menemui Leila lagi. Janji lainnya adalah akan mencarikan pekerjaan bagi kakak Leila yang berniat merantau ke Kawasan Teluk.

Disinilah kawasan Hawamdiyya, di sebelah selatan Kairo, yang terkenal sebagai salah satu kota pemasok perempuan-perempuan Mesir untuk dijadikan sebagai istri musim panas (kawin kontrak) oleh para lelaki kaya asal Kawasan Teluk dan Arab Saudi. (Foto: COPYRIGHT www.ullakimmig.de)

Disinilah kawasan Hawamdiyya, di sebelah selatan Kairo, yang terkenal sebagai salah satu kota pemasok perempuan-perempuan Mesir untuk dijadikan sebagai istri musim panas (kawin kontrak) oleh para lelaki kaya asal Kawasan Teluk dan Arab Saudi. (Foto: COPYRIGHT http://www.ullakimmig.de)

Manisnya janji berbuah pengingkaran. Semua janji manis ‘suami musim panas’ Leila, tak pernah ditepati. Berbulan-bulan Leila menanti ‘suami kawin kontrak’-nya itu kembali ke Mesir, tapi tak pernah ada kabar berita. Sementara perut Leila semakin membesar karena kehamilannya. Kini, Leila terus memperjuangkan hak dan status bapak kandung bagi si jabang bayi dalam kandungannya melalui Kedutaan Besar Arab Saudi di Mesir. Tapi apa boleh buat? Kawin kontrak adalah sebuah ikatan status perkawinan suami-istri yang tidak terdaftar secara resmi (di pencatatan sipil) sehingga dinyatakan ilegal oleh negara. Perjuangan Leila demi hak dan klaim status perwalian anaknya pun menjadi mudah ditepis, karena memang ikatan perkawinannya tidak memiliki pijakan hukum yang legal. Terpaksa, hari-hari Leila pun kemudian hidup sebagai single parent bagi anaknya tercinta.

Apa yang terjadi di Mesir ini, sebenarnya tak jauh beda dengan yang terjadi di Puncak, Jawa Barat. Tepatnya di Kampung Warung Kaleng, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kawin kontrak sudah lazim dikenal di sini. Banyak lelaki asal Kawasan Teluk, terutama Arab Saudi yang ‘bermukim’ untuk sementara di vila-vila yang ada di kawasan Cisarua, bersama ‘istri kawin kontrak’-nya.

Harian Merdeka versi online pernah mengangkat kisah Sarah, seorang wanita muda berusia 21 tahun. Di usianya yang masih ranum, ternyata ia sudah lima kali melakukan kawin kontrak, atau sering diistilahkan atau ditawarkan dengan kata ‘jawas’. Kalau ditawari untuk ‘jawas’, dan kita bersedia, menurut Sarah, maka pihak biyong/makelar atau mak comblang akan menindak-lanjuti dengan menghubungi pelanggan, atau calon ‘mempelai lelaki’ untuk segera diurus dan dilaksanakan kawin kontraknya. Di Mesir, perantara atau broker kawin kontrak ini dinamakan simsar, dan umumnya tak lain adalah seorang mucikari.

Prosesinya? Sesuai “etika”, karena menghadirkan saksi perkawinan, juga ada penghulunya. Selain itu, dituangkan dalam perjanjian kontrak tersebut, perkawinannya dilaksanakan selama berapa lama, dan berapa nilai uang maharnya. Apakah dibayarkan tunai di muka, atau di belakang alias “setelah kawin kontrak habis masa berlakunya”. Hitung punya hitung, dalam sehari, Sarah menerima uang (‘mahar’) Rp 500.000 per hari, atau Rp 15 juta dalam satu bulan. Belum lagi, bila ditambah pemberian hadiah beraneka-ragam dari ‘suami kawin kontraknya’ ini. Adapun urusan pembagian upah uang buat biyong, Sarah sudah tidak ikut campur tangan lagi.

Menurut Sarah, acapkali melayani ‘urusan ranjang’ dengan ‘suami sementara’-nya, ia selalu mengenakan alat kontrasepsi, kondom. Keduanya memahami resiko yang bakal terjadi apabila berhubungan intim tanpa mengenakan ‘sarung pengaman’.

Meski banyak yang melakukan secara terang-terangan—termasuk ada juga suami di Cisarua yang mengizinkan istrinya melakukan kawin kontrak dengan lelaki ‘Arab’—, tapi Sarah mengaku, bahwa keluarganya sama sekali tidak mengetahui tindak-tanduknya yang sudah piawai dalam melakoni kawin kontrak ini.

Di Mesir, upaya untuk menekan jumlah ‘perkawinan musim panas’ kerapkali digaungkan oleh para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  yang peduli dengan nasib, harkat dan martabat kaum perempuan. Sementara Pemerintah setempat mengupayakannya melalui sejumlah rambu-rambu hukum. Diantaranya, pada tahun 2008 lalu, Pemerintah berhasil mengamandemen UU Mesir tentang Anak, yang antara lain menegaskan bahwa usia sah pernikahan baik laki-laki maupun perempuan adalah menjadi 18 tahun. Hal ini dipicu dengan banyaknya perempuan-perempuan yang melakukan ‘perkawinan musim panas’ atau kawin kontrak, justru masih berusia dibawah 16 tahun. (Oyoun Center for Studies and Development, Modern Slavery : Tourist Marriages in Egypt).

Sementara di Indonesia, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, kawin kontrak tidak bisa terkena jerat hukuman pidana. “Permasalahannya, mereka itu melakukannya secara sadar. Jadi, yang buat kontraknya mereka sendiri. Nikah beneran, ada saksi, ada penghulu,” jelasnya seperti dikutip merdeka.com.

Kembali ke Mesir. Selain seks yang diperjual-belikan dengan pola kawin kontrak atau ‘perkawinan musim panas’, ada pula praktik prostitusi yang ironisnya justru mewabah tak jauh dari lingkungan Masjid Besar Al Azhar di Kairo.

Seorang mantan jurnalis harian The Economist dan stasiun televisi terkemuka Al Jazeera, yang kemudian pada periode 2010 – 2012 menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Global PBB Bidang HIV dan Hukum, Shereen El Feki, dalam bukunya Sex and the Citadel : Intimate Life in a Changing Arab World menulis, prostitusi di dekat lingkungan Masjid Besar Al Azhar di Kairo itu, persisnya terletak di Al-Batniyya, yang memiliki lorong-lorong gelap dan terkenal dengan beraneka macam keburukan sosial. Keburukan itu termasuk pelacuran (prostitusi), yang dalam bahasa Mesir sehari-hari disebut da’ara, atau bagha’ dalam bahasa Arab klasik.

Praktik prostitusi di Mesir yang berlangsung di depan kelab malam El-Gondell, tepatnya di Jalan Raya Piramida, Kairo, yang memang terkenal dengan kerlap-kerlip kelab-kelab malamnya. (Foto: COPYRIGHT www.ullakimmig.de)

Praktik prostitusi di Mesir yang berlangsung di depan kelab malam El-Gondell, tepatnya di Jalan Raya Piramida, Kairo, yang memang terkenal dengan kerlap-kerlip kelab-kelab malamnya. (Foto: COPYRIGHT http://www.ullakimmig.de)

Di Indonesia, buku Shereen El Feki sudah diterbitkan pada Oktober 2013 oleh Alvabet dengan judul Sex & Hijab : Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah. Dalam buku setebal 423 halaman ini disebutkan bahwa di kawasan Al-Batniyya, para pelacur yang dalam bahasa Arab Mesir dijuluki sebagai sharamiit, ‘menjajakan’ (kemolekan) tubuhnya untuk melayani kebutuhan para pelanggan, lelaki hidung belang. Dalam setiap memulai transaksinya, para sharamiit akan mengucapkan kepada pelanggan mereka, “Mallaktuka nafsi”, yang artinya “Aku memberimu hak untuk memilikiku”.

Tak hanya di tempat-tempat prostitusi yang tersembunyi dan kesannya berada di relung-relung kamar lorong-lorong gelap, kini jual-beli seks di Mesir makin menyasar ke tempat-tempat terbuka milik publik, termasuk yang private dan prestisius. Mengutip situs pariwisata seks terbesar di internet, International Sex Guide, Sheeren mengungkapkan, bahwa kini praktik prostitusi yang dilakukan oleh perempuan Mesir bahkan telah merambah ke jalanan, bahkan mereka bisa dipesan melalui ponsel di sebuah taman bermain yang membentang dari bar-bar dan kelab-kelab malam terkenal di jalanan utama hingga piramida, serta apartemen sewaan di Mohandeseen hingga panti pijat di tempat singgah yang rindang khusus untuk kalangan ekspatriat di Maadi.

Bahkan, Shereen mengamati pula, sejumlah hotel berbintang lima di Sungai Nil, yang merupakan tempat biasa mangkalnya para Pekerja Seks Komersial (PSK), baik itu laki-laki maupun perempuan, justru malah ditolerir keberadaannya oleh manajemen hotel untuk ditawarkan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi kepada para tamu sebagai ‘menu plus-plus’ dalam layanan kamar.

Belakangan, prostitusi di Mesir semakin menjadi-jadi, modus dan polanya pun makin beragam. Seperti misalnya, pertukaran seks demi memperoleh obat-obatan narkotika, layanan prostitusi tersembunyi untuk seks sesama jenis, hingga fakta yang mencengangkan, bahwa semenjak tahun 2005, lelaki Mesir yang menikah dengan perempuan-perempuan asing jumlahnya bertambah hingga empat kali lipat. Menurut penelusuran Sheeren, para wanita-wanita asing yang ingin menikahi atau membeli seorang suami, lelaki Mesir, harus menyediakan uang sebesar 60.000 pound Mesir (EGP) atau sekitar Rp 96 juta. Tentu, dana tersebut antara lain dialokasikan oleh para pengacara untuk pengurusan paspor, sehingga pernikahannya dapat terlaksana secara resmi dan terdaftar oleh Pemerintah Mesir.

Begitulah, bagaimana kondisi masyarakat Mesir terkini, dilihat dari satu sisi. Republik yang berpenduduk hampir 85 juta jiwa ini semakin mengalami dekadensi moral seiring dengan stabilitas politik dan ekonomi yang masih gonjang-ganjing.

Mengisi liburan sekolah kemarin, beriwisata ke Thailand menjadi pilihan destinasi kami sekeluarga. Singkat cerita, kami mendarat di bandara tertua di Bangkok, Don Mueang International Airport. Arloji menunjukkan hampir jam 21.00 malam. Tak ada perbedaan waktu, antara Bangkok dengan Indonesia Bagian Barat. Sama, tak perlu menggeser jarum jam!

TRANSPORTASI KOTA VIA KANAL. Keberadaan kanal Saen Saep dimanfaatkan untuk menjadi jalur moda tranportasi air yang efektif bagi warga Kota Bangkok, Thailand. (Foto: Gapey Sandy)

TRANSPORTASI KOTA VIA KANAL. Keberadaan kanal Saen Saep dimanfaatkan untuk menjadi jalur moda tranportasi air yang efektif bagi warga Kota Bangkok, Thailand. (Foto: Gapey Sandy)

Malam itu, Rabu (25 Juni 2014), ibukota Thailand usai diguyur hujan. Jalan raya masih menampakkan sisa-sisa genangan air. “Sekarang ini, hampir setiap sore dan malam hari selalu hujan,” kata Weerawut, tour guide dari salah satu biro wisata. Tak berapa lama, Weerawut berkata lagi, “Panggil nama saya dengan Anum saja, supaya mudah diucapkan”. Begitulah Anum, lelaki muda yang masih single dan berpenampilan bak personil boyband ini. “Kira-kira, sudah satu tahun saya belajar Bahasa Indonesia,” tukasnya tanpa nyaris terbata-bata.

Setelah sekitar 30 menit perjalanan dari bandara, sampailah di hotel tempat kami menginap, yaitu di kawasan Ramkhamhaeng 35 Alley, Huamark, Bangkapi, Bangkok. Atau, persis di seberang Universitas Ramkhamhaeng.

Sampai di kamar hotel, lelah dan kantuk melanda. Maklum, terbayang perjalanan panjang itu, mulai dari menembus kemacetan menuju Bandara Soekarno-Hatta, delay penerbangan selama 45 menit, hingga penerbangan ke Bangkok yang memakan waktu 3 jam 22 menit, cukup menguras kebugaran fisik. Sebelum tidur, saya sempat membuka sedikit tirai gordyn jendela kamar. Terlihat sebagian kawasan Ramkhamhaeng yang mulai berselimut gelapnya malam, serta kerlap-kerlip lampu rumah, apartemen, dan gedung-gedung bertingkat lainnya. Sorot lampu kendaraan juga masih sibuk melintas di kejauhan. Kamar kami menginap berada di lantai 11, sehingga amat leluasa untuk menyaksikan itu semua.

MELINTASI KOLONG JEMBATAN. Laju ekspress boat ini tetap kencang, bahkan pada saat melintasi kolong jembatan Jalan Ramkhamhaeng 39 di Bangkok, Thailand. (Foto: Gapey Sandy)

MELINTASI KOLONG JEMBATAN. Laju ekspress boat ini tetap kencang, bahkan pada saat melintasi kolong jembatan Jalan Ramkhamhaeng 39 di Bangkok, Thailand. (Foto: Gapey Sandy)

Pagi hari, usai shalat Subuh, keheningan masih menyelimuti Ramkhamhaeng. Sambil asyik menonton televisi — yang kebanyakan isinya tayangan mirip-mirip sinetron, dan serangkaian pengumuman dari pihak militer Thailand –, tak lama kerap terdengar suara mesin bermotor yang berlalu-lalang di luar kamar hotel. Suara apakah gerangan? Apakah bengkel-bengkel motor dan mobil di sekitar sini sudah mulai melayani pelanggannya? Padahal, ini baru jam 05.30 pagi.

Karena penasaran, saya membuka tirai jendela kamar. Sinar mentari nampak mulai hendak menerangi kota. Awan putih berarak di birunya langit. Lampu-lampu kota masih banyak yang menyala. Dan, begitu saya melihat ke bawah jendela? Ternyata, sumber suara mesin bermotor yang hilir mudik dan menderu-deru tadi berasal dari perahu boat yang besar dan panjang, serta terbuat dari kayu, lengkap dengan mesin bermotor di belakangnya. Inilah salah satu moda transportasi yang melayani warga Bangkok, dengan melintasi aliran air di kanal Saen Saep. Dalam Bahasa Thailand kanal disebut khlong. Jadi, lengkapnya adalah Khlong Saen Saep.

Dari jendela hotel di lantai 11, terlihat dengan jelas laju perahu boat yang kecepatannya cukup ngebut juga. Bisa jadi, lajunya antara 30 hingga 40 km per jam. Adapun kanal Saen Saep itu sendiri, saya perkirakan lebarnya sekitar 20 hingga 30 meter. Airnya benar-benar menghitam, tidak ada beningnya sama sekali. Baunya? Begitu saya buka jendela kamar hotel, … hmmmmm .., bau tak sedap khas sungai yang kotor, semerbak merasuki kamar. Buru-buru saya tutup lagi jendela, sebelum seisi kamar melancarkan protes karena terpaksa ikut mencium bau tak sedap aroma dari air kanal Saen Saep.

TURUN NAIK PENUMPANG. Layanan transportasi umum Khlong Saen Saep Express Boat selalu berhenti pada dermaga-dermaga (pier) yang telah ditentukan, seperti dermaga Ramkhamhaeng 29 ini. (Foto: Gapey Sandy)

TURUN NAIK PENUMPANG. Layanan transportasi umum Khlong Saen Saep Express Boat selalu berhenti pada dermaga-dermaga (pier) yang telah ditentukan, seperti dermaga Ramkhamhaeng 29 ini. (Foto: Gapey Sandy)

“Khlong Saen Saep Express Boat itu memang dipergunakan sebagai angkutan warga kota. Perahu boat ini akan berhenti di sejumlah dermaga yang sudah ditentukan, untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Untuk satu kali perjalanan, tarifnya tergantung jarak tempuh. Rute paling jauh, tarifnya bisa mencapai 20 baht (1 baht setara dengan sekitar Rp 333), atau sekitar Rp 6.500 hingga Rp 7.000 per penumpang. Sementara rute terpendek, ongkosnya hanya 8 baht saja. Rute perahu boat ini sampai mengarah ke pusat kota Bangkok. Hanya saja, sayang sekali, air kanal Saen Saep ini kotor, hitam, dan berbau tidak sedap,” jelas Anum ketika menjemput kami di hotel.

* * *

SAKSIKAN VIDEO tentang KHLONG SAEN SAEP EXPRESS BOAT! Click link berikut ini:

http://www.youtube.com/watch?v=T5wj4dziJKw&feature=youtu.be

* * *

Memang, terlihat jelas sekali, betapa sebagian warga Ramkhamhaeng misalnya, begitu memanfaatkan layanan perahu boat sebagai sarana angkutan dan transportasi umum. Apalagi, perahu-perahu boat ini beroperasi pada jam-jam sibuk, terutama pagi dan sore hari. Pada pagi hari, perahu boat dengan seorang nakhoda, dan dua orang anak buah kapal merangkap kondektur ini mengantar sebagian warga kota yang hendak beraktivitas. Sementara sore harinya, perjalanan difokuskan untuk mengantar kembali para warga usai menjalani rutinitas di tempatnya beraktivitas. Pada siang hari, saya perhatikan, lintasan kanal Saen Saep ini sepi dari hilir mudik perahu boat. Benar-benar sebuah angkutan air di tengah kota yang praktis, murah, dan cepat!

Menurut Jetena-Jet, seorang pemuda warga asli Bangkok yang bekerja sebagai Bell Captain di hotel tempat saya menginap, Saen Saep bukanlah sebuah sungai, melainkan kanal buatan yang sudah dibangun sejak lama. “Kini fungsinya untuk mengatasi bencana banjir di Bangkok, dan dimanfaatkan juga untuk jalur moda transportasi warga kota. Angkutan air menggunakan perahu boat ini tidak dimaksudkan untuk berkeliling kota. Saya perkirakan, jarak perjalanannya hanya sekitar 30 sampai 35 kilometer saja, yaitu dari wilayah PhanFah menuju Sri Bunruang pulang-pergi (pp). Dari rute sejauh itu, perahu boat akan berhenti di dermaga (pier) yang telah ditentukan,” ujar Jetena kepada saya dalam Bahasa Inggris.

DERMAGA. salah satu dermaga pemberhentian Khlong Saen Saep Express Boat di dermaga Ramkhamhaeng 29. (Foto: Gapey Sandy)

DERMAGA. salah satu dermaga pemberhentian Khlong Saen Saep Express Boat di dermaga Ramkhamhaeng 29. (Foto: Gapey Sandy)

Yang menarik, dalam kesibukan bongkar muat penumpang di dermaga 29 Ramkhamhaeng, tak pernah kelihatan ada penumpang anak-anak atau yang masih berpakaian sekolah dan naik-turun di dermaga. Rupanya, seperti semacam ada “pelarangan” bagi anak-anak untuk menaiki perahu boat ini. “Untuk anak-anak sekolah, memang jarang terlihat ada yang menumpang pada perahu boat tersebut. Karena anak-anak kecil itu sangat tidak disarankan untuk menaikinya, lantaran kecepatan perahu yang sangat cepat, dan berpotensi membahayakan bila anak-anak kecil naik dan turun perahu boat, serta saat berada di atas perahu boat, tanpa ada yang mengawasi atau menjaga mereka. Pokoknya, express boat yang mampu memuat sekitar 100 penumpang ini cukup berbahaya buat melayani anak-anak kecil,” kata Jetena sembari memperkirakan bahwa kedalaman kanal adalah sekitar 3 hingga 4 meter.

Selain faktor keamanan seperti yang disampaikan Jetena, mungkin alasan lain adalah masalah kesehatan. Maklum, air kotor yang menghitam dan bau tidak sedap ini, antara lain berasal dari limbah warga perkotaan yang sengaja dibuang ke kanal Saen Saep. Setiap pagi, sekitar jam 08.00 pagi, di kolong jembatan Jalan Ramkhanghaeng 39, dari jendela kamar hotel saya terlihat jelas, derasnya aliran air buangan dari sebagian wilayah perkotaan yang meluncur dari pipa berukuran besar, dan sengaja dibuang ke kanal. Sementara di kolong jembatan itu pula, melintas perahu boat bolak-balik dengan kecepatan cukup tinggi.

Meskipun air kanal begitu keruh dan bau, tapi warga kota yang tinggal di sepanjang bibir kanal Saen Saep sangat peduli akan kebersihan lingkungan. Tempat-tempat sampah mudah ditemukan di sisi kiri dan kanan jalan yang ada di sempadan kanal. Pokoknya, tidak akan ada warga yang berani coba-coba membuang sampah rumah tangga ke kanal. Bahkan, warga juga memelihara dengan baik, tanaman-tanaman bunga hias berwarna-warni, yang berjajar dan sengaja ditanam di sepanjang pagar tembok beton kanal. Tak jauh dari dermaga 29 Ramkhamhaeng, ada perahu kecil yang dioperasikan menggunakan tali tambang, untuk melayani warga menyeberangi lebar sungai. “Tarif penyeberangan kanal dengan kapal kecil menggunakan tali tambang itu hanya 3 baht,” tukas Jetena.

LANGSUNG BERANGKAT. Tak menunggu lama, setelah menurunkan dan menaikkan penumpang, Express Boat kembali melaju menuju dermaga-dermaga berikutnya. (Foto: Gapey Sandy)

LANGSUNG BERANGKAT. Tak menunggu lama, setelah menurunkan dan menaikkan penumpang, Express Boat kembali melaju menuju dermaga-dermaga berikutnya. (Foto: Gapey Sandy)

Angkut 60 ribu penumpang per hari

Dalam situs khlongsaensaep.com disebutkan, layanan Khlong Saen Saep Express Boat ini setiap harinya mampu mengangkut sebanyak 60 ribu penumpang. Jam operasionalnya adalah mulai dari 05.30 pagi hingga 19.00 malam (saat akhir pekan malah hingga 20.30 malam). Khlong Saen Saep ini dikelola oleh perusahaan bernama The Family Transport, yang menjanjikan, bahwa perahu boat ini akan selalu tiba setiap 20 menit sekali, dan tanpa menunggu lama langsung berangkat lagi menuju dermaga berikutnya.

Terdapat dua rute utama yaitu The Golden Mount Line (dari dermaga Panfa Leelard dekat Monumen Demokrasi – Talad Bobae – Sapan Charoenpol – Baan Krua Nua – Sapan Hua Chang – dan berakhir di dermaga Pratunam dekat Pusat Bangkok).

Lalu, rute NIDA (dari dermaga Pratunam – Chidlom – Wireless – Nana Nua/Sukhumvit Soi 3 – Nana Chard/Sukhumvit Soi 15 – Asoke Petchaburi – Prasanmit – Italthai – Wat Mai Chonglom – Baan Don Mosque – Soi Thonglor – Vijit School – Sapan Khlongtun – The Mall Ram 3 – Wat Noi – Ramkhamhaeng 29 – Wat Thepleela – Ramkhamhaeng U – Mahadthai – Wat Klang – The Mall Bangkapi – Bangkapi – dan berakhir di dermaga Wat Sri Bunruang).

PERHATIKAN AIR LIMBAH BUANGAN DI SEBELAH KIRI. Air limbah buangan dari kawasan perkotaan langsung dibuang ke kanal Saen Saep, sementara lalu-lintas Express Boat terus saja hilir mudik beroperasi. (Foto: Gapey Sandy)

PERHATIKAN AIR LIMBAH BUANGAN DI SEBELAH KIRI. Air limbah buangan dari kawasan perkotaan langsung dibuang ke kanal Saen Saep, sementara lalu-lintas Express Boat terus saja hilir mudik beroperasi. (Foto: Gapey Sandy)

Khlong Saen Saep merupakan kanal paling terkenal di Thailand, dan menghubungkan antara Sungai Chao Phraya ke Prachinburi dengan Chachoengsao. Kanal ini dibangun atas perintah Raja Rama III Nang Klao (1824 – 1851), pada saat konflik antara Siam dan Annam tentang Kamboja. Pembangunan kanal ini, awalnya dimaksudkan untuk membangun transportasi air bagi tentara dan persenjataannya ke Kamboja. Konstruksi pembangunan kanal dimulai pada 1837, dan rampung pada tiga tahun berikutnya.

Layanan transportasi Khlong Saen Saep Express Boat memang tidak diposisikan sebagai obyek wisata andalan Thailand, mungkin dengan pertimbangan air kanal yang kotor, bau dan tercemar, meskipun pada kenyataannya, stasiun televisi milik pemerintah yakni National Broadcasting Television (NBT) menampilkan cuplikan gambar transportasi express boat sebagai salah satu video on air promo, sebelum dan sesudah mengiringi sajian berita-berita nasional di “Negeri Gajah Putih” ini.

Melihat air kanal yang kotor, menghitam dan baunya yang tak sedap, memang bukan menjadi sesuatu yang harus dicontoh oleh kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta. Apalagi, air kanal ini berpotensi telah tercemar, karena merupakan limbah buangan dari kawasan padat pemukiman, perhotelan, dan pusat-pusat perbelanjaan. Bukan! Tentu bukan sesuatu yang menarik untuk diteladani.

Tapi, bagaimana Bangkok berhasil memanfaatkan keberadaan kanal, sebagai jalur dan moda tranportasi umum bagi banyak warganya, lebih dari layak untuk dikaji, ditiru dan dipraktikkan secara lebih baik. Apalagi, Jakarta misalnya, bakal punya Banjir Kanal Timur (BKT) sepanjang 23,5 km, yang melintasi 13 kelurahan yang ada di Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Waaah, seru juga tuh membayangkan seandainya ada moda transportasi, BKT Express Boat di Jakarta.

PEMANDANGAN SORE. Suatu sore pada hari Jumat 27 Juni 2014, bertempat di sisi kanal Saen Saep, Ramkhamhaeng, Bangkok, Thailand. (Foto: Gapey Sandy)

PEMANDANGAN SORE. Suatu sore pada hari Jumat 27 Juni 2014, bertempat di sisi kanal Saen Saep, Ramkhamhaeng, Bangkok, Thailand. (Foto: Gapey Sandy)

Bagaimana Jakarta, bisa?!

Makna “oase” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, tempat, pengalaman dan sebagainya, yang menyenangkan di tengah-tengah suasana yang serba kalut dan tidak menyenangkan. Seperti memaknai kata “oase” inilah, buku berjudul Oase Pendidikan Di Indonesia : Kisah Inspiratif Para Pendidik kemudian hadir ke ranah publik. Layaknya sebidang telaga, dengan air yang tenang dan jernih, meskipun dikelilingi tanah legam tandus kering kerontang, membaca buku ini memang terasa “menyegarkan”.

Sampul buku Oase Pendidikan Di Indonesia. Kisah Inspiratif Para Pendidik yang diterbitkan oleh Tanoto Foundation, dan Raih Asa Sukses (Penerbit Swadaya Grup). (Foto: dokpri)

Sampul buku Oase Pendidikan Di Indonesia. Kisah Inspiratif Para Pendidik yang diterbitkan oleh Tanoto Foundation, dan Raih Asa Sukses (Penerbit Swadaya Grup). (Foto: dokpri)

Citra penggambaran “oase” yang menyejukkan tadi, apabila direkatkan pada kondisi Pendidikan di Indonesia, sungguh terjadi perbedaan yang kontras, yaitu antara realitas pendidikan yang mainstream, seragam, dan kaku, dengan upaya melakoni pendidikan kreatif yang jelas anti-mainstream. Sebut saja misalnya, pendidikan anak-anak yang diselenggarakan oleh Sanggar Anak Alam (Salam) di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dan Sanggar Anak Akar di Kalimalang, Jakarta Timur. Kedua sanggar ini mengajarkan pendidikan budi pekerti kepada anak didik, melalui cinta dan kasih sayang sejati, serta berlandaskan moralitas kejujuran yang menekankan pada suri tauladan.

Dalam bahasa yang lebih pas, aktivitas belajar-mengajar di kedua sanggar yang turut mengemuka dalam materi buku ini, menerapkan pendidikan karakter yang tidak absurd, yang sesungguhnya. Anak-anak sejak dini belajar memaknai semua peristiwa secara aktif. Belajar menghadapi masalah yang nyata. Mereka juga belajar bagaimana bersikap secara jujur dan akhirnya menemukan kebijakan (wisdom). Anak-anak tidak harus menghapal text book yang tebal tentang pendidikan karakter. Mereka, justru belajar dari buku kehidupan! Inilah yang dikemukakan Tim Penulis dari Salam yakni Sri Wahyaningsih, Erna Iswati, Windarki Rahayu, dan Udin Setyawan.

Tak heran, ketika suatu hari gentong tanah liat di kamar mandi Salam pecah akibat ulah anak-anak yang sering nyemplung didalamnya, tidak patut ada guru yang marah, sekaligus pula tidak perlu ada anak-anak yang ketakutan dimarahi. Justru sebaliknya, terjadi dialog yang mengedepankan kejujuran anak-anak. Secara sportif dan penuh jenaka, mereka mengakui bahwa, memang beberapa kali mandi di sekolah sembari nyemplung ke dalam gentong. Alasannya? Khas anak-anak, sebagian menjawab, enak, asyik, seolah mandi di bathtube, hingga serasa mandi di hotel. Tapi, dengan bimbingan dialog yang terstruktur oleh guru mereka, Sri Wahyaningsing, anak-anak pun mengakui akibat dari seringnya mereka melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dengan mandi sambil nyemplung ke dalam gentong. Diantaranya, boros air, boros waktu, mandi jadi tidak bersih, sabun masih menempel di badan, hingga fatalnya lagi, membuat gentong lama-kelamaan retak, terus melebar, hingga akhirnya pecah.

Sekapur Sirih dari Tanoto Foundation. (Foto: dokpri)

Sekapur Sirih dari Tanoto Foundation. (Foto: dokpri)

Klimaksnya, insiden gentong pecah ini tidak berhenti hanya pada pengakuan jujur, rasa bersalah, dan introspeksi anak-anak saja. Mereka kemudian menunjukkan kekompakan yang simpatik dengan memanggul seluruh tanggung-jawab demi mengganti gentong yang pecah. Caranya? Bukan dengan meminta uang kepada orang tua mereka masing-masing. Melainkan, dengan cara terus mengumpulkan beraneka barang-barang bekas yang dapat diuangkan. Hasilnya, kurang dari satu minggu, uang untuk membeli gentong baru sudah terkumpul.

Salam berdiri pada tahun 2000 di Kampung Nitiprayan, Kelurahan Ngestiharjo, Kabupaten Banten, Yogyakarta. Proses kelahirannya melalui perenungan panjang dan bermuara pada keinginan untuk membuat sekolah yang memberi ruang merdeka lahir batin kepada anak-anak. Sekaligus, meletakkan dasar pendidikan yang bermoral dan berkarakter. Mata pelajaran untuk pendidikan dasar tidak perlu terlalu banyak.

Bahkan, dengan segala resiko, Salam mendesain kurikulum sendiri, menggunakan perspektif pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya. Untuk kelas satu hingga kelas tiga, lebih difokuskan pada kemampuan mengenal huruf dan angka sebagai dasar membaca, menulis, dan berhitung. Kelas empat sampai enam, dengan penguasaan membaca, menulis dan berhitung, media yang digunakan serta seluruh metode diabdikan untuk penguasaan anak terhadap berbagai pengetahuan, penguasaan keterampilan serta membangun sikap terhadap kehidupan nyata. Guru, hanya berfungsi sebagai fasilitator yang memberi motivasi dan penguatan bila diperlukan.

Buku karya Tim Penulis Mitra Forum Pelita Pendidikan yang diterbitkan oleh Tanoto Foundation dan Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Grup) ini memang “pandai” menempatkan kisah penuh hikmah dari insiden gentong pecah dan celengan hilang di Salam sebagai preambule Bab 1 yang mengambil judul besar Pembelajaran yang Memerdekakan. Setidaknya, perhatian pembaca menjadi tercuri dengan tutur true story tersebut. Sehingga untuk selanjutnya, pembaca kian penasaran untuk melahap lembar demi lembar isi buku setebal 260 halaman ini tanpa ada kejenuhan. Selain itu, kalimat-kalimat bijak mengenai pendidikan yang dituliskan oleh ke-18 penulis, begitu mudah dicerna karena disampaikan tanpa bersifat menggurui, juga tidak dengan ego hanya membenarkan aktivitas penyelenggaraan pendidikan pilihan yang dilakoni.

Buku yang bermuatan banyak kisah inspiratif para pendidik dalam berjuang dengan penuh kasih sayang demi anak didiknya. (Foto: dokpri)

Buku yang bermuatan banyak kisah inspiratif para pendidik dalam berjuang dengan penuh kasih sayang demi anak didiknya. (Foto: dokpri)

Menariknya lagi, Guru Karakter dan Perubahan yang juga mantan CEO Balai Pustaka (2007-2012), DR Zaim Uchrowi, memberikan Pengantar untuk buku ini. Cermatan kolomnis yang karyanya selalu bijak ini, diantaranya mengajak semua pihak untuk kembali mengangkat soal aspek ‘jiwa’ agar sama berharga dengan ‘raga’, dan ‘rasa’ didudukkan kembali sama tinggi dengan ‘raga’. Masalahnya, tulis Zaim, ajakan ini tidak dapat dilakukan melalui pendekatan umum pendidikan yang lebih menitikberatkan pada aspek kognitif, dan mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik. Disinilah, pendidikan alternatif menjadi langkah untuk menyeimbangkan ketiga aspek tersebut sekaligus, dengan nyata-nyata mempraktikkan kegiatan belajar mengajar dua arah yang tak menjemukan, belajar dari peristiwa kehidupan, termasuk mengaduk-aduk perasaan siswa untuk mengajarkan prinsip keberagaman atau pluralitas.

Visual Auditori Kinestetik Taktil

Selain teori penyelenggaraan pendidikan yang bernas itu, buku ini juga kaya dengan pengetahuan sekaligus langkah implementasinya, agar pendidikan berjalan secara total welas asih terhadap anak-anak plus memanusiawikan mereka. Contohnya, seperti yang ditulis Diyar Ginanjar, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, yang juga pengajar di Sekolah Semesta Hati, Cimahi, Jawa Barat.

Tulisan berjudul Gios Tetap Peringkat Satu yang muncul di halaman 57 ini, menukil kisah tentang Gios, anak lelaki usia delapan tahun, yang terpaksa dipindahkan oleh orang-tuanya dari salah satu Sekolah Dasar Negeri ke Sekolah Semesta Hati. Kenapa? Besar kemungkinan karena Gios yang terkesan “liar” ini dianggap kurang berprestasi. Gios juga tak pernah betah berlama-lama belajar di dalam kelas. Ia mengalami kesulitan membaca, menulis, dan berhitung. Belum lagi, dua lembar hasil tes psikologis Gios, yang seolah memvonis peringkat IQ-nya, sehingga guru kelas sebelumnya pun, takut tidak bisa menangani dan memahami Gios diantara puluhan siswa yang lain.

Sebagai pendidik yang bertanggung-jawab, Diyar tak cepat putus asa menangani Gios. Anak didik yang gemar melontarkan dua perbendaharaan kata yang cukup memerahkan telinga dan mendidihkan hati, yaitu kata ‘anjing’ dan ‘goblok’ bila digoda oleh teman-temannya ini, justru mendapat observasi serius. “Bagiku kasus anak dengan kesulitan membaca dan menulis ini menjadi pekerjaan rumah baru,” tulis Diyar. (hal. 66)

Bab 2 isi buku yang mengetengahkan judul utama Anak dan Komunitas Belajarnya. (Foto: dokpri)

Bab 2 isi buku yang mengetengahkan judul utama Anak dan Komunitas Belajarnya. (Foto: dokpri)

Suatu kali, ketika Diyar menemani Gios belajar di kantin, anak didiknya ini bercerita bahwa huruf-huruf dalam kalimat yang ada di buku sering goyang-goyang dan jungkir balik. Sampai-sampai ia bingung membedakan huruf yang sekilas terlihat mirip, misalnya huruf ‘b’ dan ‘d’, huruf ‘n’ dan ‘u’, serta huruf ‘k’ dan ‘h’. Setelah melakukan riset, Diyar berkesimpulan, penyebab masalah Gios adalah faktor internal, kemungkinan adanya disfungsi saraf. Disfungsi ini menyebabkan kesulitan belajar, tunagrahita dan gangguan emosional. Bak seorang “tabib”, Diyar pun menemukan “ramuan ampuh”, yakni dengan menerapkan teori Fernald yakni mengembangkan metode pengajaran membaca multisensori, atau Visual Auditori Kinestetik Taktil (VAKT).

Ada empat tahapan yang musti dilakukan sesuai metode Fernald. Pertama, Diyar menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayonnya. Gios kemudian menelusuri tulisan tersebut, melihat tulisan (visual), dan mengucapkannya dengan keras (auditori). Kedua, Gios tidak terlalu lama diminat menelusuri tulisan-tulisan dengan jari, tetapi mempelajari tulisan Diyar dengan melihat Diyar menulis, sambil mengucapkannya. Ketiga, Gios mempelajari kata-kata baru. Gios melihat tulisan di papan tulis atau tulisan cetak, dengan mengucapkan kata tersebut terlebih dahulu sebelum menulis. Pada tahap ini, Gios mulai membaca tulisan dari buku. Keempat, Gios mampu mengingat kata-kata yang dicetak, atau bagian-bagian dari kata yang telah dipelajari.

Hasilnya? Memang membutuhkan kesabaran dan waktu. Tapi, secercah harapan dikemukakan oleh kedua orangtua Gios. Menurut cerita sang ibunda, pada saat Gios tengah diajak berjalan-jalan, tiba-tiba saja Gios membaca suatu tulisan. Ia mengeja tulisan yang tertera di papan nama milik pedagang bakso. “Saya kaget Pak, saat Gios bilang, ‘Mami itu Bakso Pak Kumis’ sambil menunjuk sebuah papan nama,” ujar ibunda Gios. (hal. 70)

Bab 3 isi buku yang mengetengahkan judul utama Membangun Profesionalisme Guru. (Foto: dokpri)

Bab 3 isi buku yang mengetengahkan judul utama Membangun Profesionalisme Guru. (Foto: dokpri)

Dalam buku yang terdiri dari tiga bab ini, tulisan Diyar tentang kisahnya mendampingi Gios, begitu enak dibaca. Maklum, ia menuliskannya dalam bahasa lisan, bahasa tutur yang menggunakan kata ‘aku’ untuk mewakili dirinya selaku pengajar. Begitu pula dengan teori pendidikan yang biasanya mengawang-awang, praktik ideal terhadap metode pendidikan yang umumnya menjemukan, justru dikemas Diyar secara apik dan runut dalam tulisan ini. Alhasil, muncul perasaan terpana, keharuan, keterpesonaan, dan kebangaan yang menyeruak dari ‘kita’, sidang pembaca yang menyelami kisah Gios. Beginilah sejatinya Oase Pendidikan, yang sungguh ingin ditularkan kisah inspirasinya melalui buku yang cukup banyak disisipi gambar-gambar kartun atau ilustrasi sesuai tema tulisan ini.

Lantas bagaimana dengan pendidikan di Sanggar Anak Akar? Cerita ini tersaji melalui tulisan Ibe Karyanto, pendiri dan Koordinator Sanggar Anak Akar yang berlokasi di Kalimalang, Jakarta Timur. Tulisan yang diberi judul Ketika Anak Memaknai Kebebasan ini, benar-benar mampu menyegarkan kembali cara pandang kita terhadap pendidikan yang dilakukan di sebuah sanggar, yang diantaranya menampung anak-anak jalanan, serta kebanyakan lagi anak-anak yang orangtuanya memiliki masalah rumah tangga. Tetap dengan gaya bahasa bertutur yang serius tapi santai, tulisan tersebut termuat di Bab 2 yang mengetengahkan judul utama Anak dan Komunitas Belajarnya.

Sanggar Anak Akar berdiri pada tahun 1994. Menurut refleksi Putri, salah seorang anak didik yang masih sempat mengenyam bangku sekolah hingga kelas III SMP, belajar di sanggar ini tidak seperti di sekolah formal. “Di sini aku bebas menentukan belajar apa saja yang aku suka. Aku bisa belajar kapan pun aku mau. Di sini aku bisa dekat dengan moderatornya (sebutan untuk guru), bisa ngobrol seperti teman. Cara belajar bersamanya di kelas juga menyenangkan,” tulis Putri. (hal. 151)

Terbukti, pada saat pelajaran Sastra, Putri termasuk yang paling siap pada saat anak-anak sanggar menceritakan ulang novel yang baru selesai mereka baca, diantaranya Anak Bajang Menggiring Angin, Sengsara Membawa Nikmat, Perempuan di Titik Nol, dan Siti Nurbaya. Putri tidak hanya memaparkan ulang isi novelnya, tetapi menambahkan beberapa hal yang menarik, termasuk pemahamannya tentang tema utama novel-novel tersebut. Diantaranya, tentang perempuan yang ditindas oleh kaum lelaki, terutama antara novel Siti Nurbaya dan Perempuan di Titik Nol.

Penggambaran yang detil tentang profil anak-anak sanggar, disertai dialog anak-anak yang begitu khas teramat memperkaya tulisan Ibe Karyanto. Kisah inspiratif para pendidik yang pada galibnya memuat hikmah atas peristiwa kehidupan, tidak harus disampaikan secara letterlijk. Tetapi, cukup dengan hanya menampilkan beragam permasalahan rutin sehari-hari, yang kemudian secara bersama-sama dicermati dan digali sisi positif maupun negatifnya guna dijadikan sebagai contoh faktual pembelajaran terbaik. “Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar hanyalah satu ruang di mana anak belajar untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan dan menemukan kebebasan untuk berusaha mewujudkan mimpi-mimpi terbaiknya,” demikian Ibe Karyanto mengakhiri paragraf tulisannya.

Salah satu gambar kartun atau ilustrasi dua halaman yang makin memperkaya Buku Oase Pendidikan di Indonesia. (Foto: dokpri)

Salah satu gambar kartun atau ilustrasi dua halaman yang makin memperkaya Buku Oase Pendidikan di Indonesia. (Foto: dokpri)

Buku yang baru dicetak untuk pertama kali pada tahun 2014 ini, sebenarnya tidak hanya mengedepankan kisah-kisah inspiratif dari lingkungan pendidikan alternatif saja, tapi juga dari lembaga pendidikan formal. Seperti misalnya, tulisan Tuti J Rismarini, Kepala SMP Negeri 2 Pagedangan di Kabupaten Tangerang, Banten, yang diberi judul Beasiswa dari Jepit Rambut. Berawal dari kisah Rizki yang merupakan anak dari keluarga kurang mampu, Tuti coba mengupayakan pengadaan sepeda untuk membantu aksesibilitas Rizki bersekolah. Caranya? Bukan dengan begitu saja membelikan sepeda, tapi dengan mengajak serta seluruh insan di sekolah terlibat dalam pembuatan kerajinan tangan yang berpotensi memiliki daya jual tinggi, yakni jepit rambut.

Awalnya, perjuangan Tuti menggelorakan keunggulan non-akademik dalam program ‘Pendidikan Kecakapan Hidup’ dengan membuat jepit rambut, menemui tantangan sekaligus penolakan terutama dari para orangtua murid. Bahkan, ada orangtua murid yang sampai menyatakan khawatir, apabila putra mereka bakal menjadi banci lantaran mempraktikkan pembuatan jepit rambut. Tapi dengan penjelasan yang elegan dan mendalam mengenai banyaknya anak didik yang membutuhkan pengadaan beasiswa sepeda untuk bersekolah, keadaan menjadi berbalik. Para orangtua justru trenyuh, dan mendukung sepenuhnya pembuatan jepit rambut oleh para siswa, yang kemudian diperjual-belikan kepada khalayak sehingga hasil keuntungannya dapat disubstitusi sebagai beasiswa sepeda bagi siswa-siswa yang utamanya berprestasi namun kurang mampu secara ekonomi, dan siswa-siswa yang yatim juga miskin meskipun kurang berprestasi.

Keberhasilan Tuti melaksanakan program beasiswa sepeda ini kontan saja membuahkan banyak sanjung puji. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang bahkan sempat menganugerahkan julukan SMP Negeri 2 Pagedangan ini sebagai pelopor life skill tingkat SMP. Selain itu, Tuti pun diganjar menjadi Kepala Sekolah berprestasi.

Salah satu kegiatan Tanoto Foundation dalam bidang pendidikan. (Foto: riauterkini.com)

Salah satu kegiatan Tanoto Foundation dalam bidang pendidikan. (Foto: riauterkini.com)

Sementara itu, pada bab 3 yang diberi judul Membangun Profesionalisme Guru, terdapat enam tulisan yang seluruhnya coba untuk merefleksikan sosok guru, mulai dari aspek kepribadian, kesejahteraan, kompetensi, lingkungan komunitas sebagai tempat berinteraksi dan berekspresi para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Semuanya dipaparkan secara multi sudut pandang, bahkan berani menyuarakan kebenaran berdasarkan fakta dan data yang ada. Misalnya, keberanian Ginanjar Hambali, guru di SMA Negeri 7 Pandeglang dan aktivis Forum Guru Pandeglang, Banten, yang dalam tulisannya berjudul Sertifikasi Bukan Sihir mempersoalkan adanya ancaman bagi guru. Yaitu, kepada para guru yang hendak memilih dan nekat membentuk organisasi guru baru, atau di luar yang sudah lebih dahulu ada. Padahal, UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2006 sebenarnya mengatur bahwa, guru bisa membentuk organisasi profesi yang bersifat independen. Praktiknya sungguh ironis, di sejumlah daerah, guru bahkan diancam tidak akan diurus kenaikan pangkatnya, jika membangun organisasi guru baru. (hal. 189)

Buku ini ditutup dengan Epilog berjudul Rimpang-Rimpang Pendidikan Indonesia yang ditulis oleh Dewi Susanti, mantan Direktur Program Tanoto Foundation yang kini bekerja sebagai Kepala Spesialis Peneliti di Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Dewi mengutip pernyataan almarhum Mochtar Buchori (salah seorang pakar perencanaan pendidikan), sebagai pengantar epilognya. Bunyinya: “Belajar dari seorang guru yang banyak membaca dan berpengetahuan luas, bagaikan meminum air segar dari mata air yang tiada habisnya. Belajar dari seorang guru yang jarang membaca dan tidak bertambah pengetahuannya, bagaikan meminum air keruh yang sudah lama menggenang”.

Kiranya, buku ini menjadi wajib dibaca oleh seluruh guru dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Karena, seperti dikemukakan Tanoto Foundation, sebuah yayasan nirlaba yang didirikan oleh Bapak Sukanto Tanoto dan Ibu Tinah Bingei Tanoto, dalam Sekapur Sirih, terdapat semangat dari para penulis di buku ini, untuk mendidik dan memajukan pendidikan di Indonesia. Harapannya jelas, buku ini diharapkan menjadi oase-oase kecil dalam dunia pendidikan yang menyegarkan kembali tanah kering pendidikan Indonesia.

Tanah kering pendidikan? Itu pula yang membuat Prof Anita Lie Ed.D, dalam tulisan Prolog pada buku ini berpesan bahwa, guru yang baik menabur benih-benih baik dalam kehidupan peserta didik. Terkait dengan itu, terdapat delapan peran yang sebaiknya dijalankan seorang guru, yakni sebagai pengajar, fasilitator, manajer, pemimpin, pembimbing atau pelatih, motivator, inspirator, dan peserta didik. Guru, tulis Anita, perlu mempunyai kepedulian dan panggilan beyond the call of duty untuk mengantar anak didiknya pada perjalanan keberhasilan.

Akhirnya, hampir tidak ditemui kekurangan yang terdapat pada buku ini. Mungkin, sekedar saran saja, menjadi semakin lebih baik tampilannya, bila disisipkan juga foto diri dari para penulis, juga foto dari kegiatan di tempat mereka beraktivitas, yang membuahkan kisah-kisah inspiratif, dan benar-benar membanggakan serta patut menjadi suri teladan.

* * * * *

1e8Judul buku : Oase Pendidikan di Indonesia. Kisah Inspiratif Para Pendidik. Penyusun : Tim Penulis Mitra Forum Pelita Pendidikan. Pengantar : DR Zaim Uchrowi. Sekapur Sirih : Tanoto Foundation. Prolog : Prof Anita Lie Ed.D. Epilog : Dewi Susanti. Penerbit : Tanoto Foundation, dan Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Grup). Jumlah halaman : iv + 260 halaman. Cetakan : I. Jakarta. 2014

o o O o o

Catatan:

tan13Tulisan ini menjadi Juara 1 Lomba Blog Competition resensi buku yang diselenggarakan KOMPASIANA bekerjasama dengan Tanoto Foundation. Pengumuman dilaksanakan pada 3 September 2014.

Penulis berkesempatan mengunjungi Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) yang beralamat di Jalan Raya Puspiptek, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Kunjungan pada Rabu, 17 September 2014 kemarin itu, berbarengan dengan pelaksanaan Science Trip yang dilaksanakan oleh SMAN 1 Kota Tangsel. Terpilih, hanya dua kelas, atau sekitar 73 murid kelas X saja yang beruntung melakukan kunjungan ke Puspiptek ini, tentu saja dengan didampingi Kepala Sekolah Drs H Sujana M.Pd., para wali kelas, dan guru bidang studi terutama yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Kimia, Fisika, dan Sains.

Berawal dari penyedotan air Sungai Cisadane yang dialirkan ke bak pengendapan kotoran kasar, termasuk lumpur. (Foto: Gapey Sandy)

Berawal dari penyedotan air Sungai Cisadane yang dialirkan ke bak pengendapan kotoran kasar, termasuk lumpur. (Foto: Gapey Sandy)

Pagi itu, para siswa diterima di Gedung Graha Widya Bhakti, Puspiptek. Suasana semarak sekali. Maklum di lokasi yang sama, rupanya juga tengah diselenggarakan Festival UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) yang rencananya menghadirkan pucuk pimpinan Kota Tangsel yaitu Walikota Airin Rachmi Diany. Adapun kegiatan science trip siswa-siswi SMAN 1 Kota Tangsel digelar di ruang pertemuan yang berbeda.

Sesuai rencana, science trip antara lain diisi dengan perkenalan tentang Puspiptek itu sendiri, lalu dilanjutkan dengan kunjungan ke Laboratorium PTIPK – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pengolahan Air Bersih (PAB), Pengolahan Sampah, dan Penggemukan Sapi.

Paparan mengenai Puspiptek, berikut “isi dapur”, kinerja, dan prestasinya, disampaikan oleh Humas Puspiptek Ganang Sukoco. Menurutnya, Puspiptek adalah sebuah cluster ilmu pengetahuan dan teknologi terlengkap serta terbesar di Indonesia. Kawasan seluas 460 hektar ini dirancang untuk menjadi kawasan yang mensinergikan Sumber Daya Manusia (SDM) terdidik dan terlatih dengan dukungan peralatan penelitian dan pelayanan teknis yang paling lengkap, serta teknologi dan keahlian yang telah terakumulasikan selama lebih dari seperempat abad.

Sambil mengalirkan air dari bak pengendapan ke bak pengadukan, diberikan tawas sesuai takaran dan porsi yang dibutuhkan, dan dalam batas aman. (Foto: Gapey Sandy)

Sambil mengalirkan air dari bak pengendapan ke bak pengadukan, diberikan tawas sesuai takaran dan porsi yang dibutuhkan, dan dalam batas aman. (Foto: Gapey Sandy)

Puspiptek didirikan pada 1976 atas gagasan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang pertama yaitu Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo. Adapun pelaksanaannya direalisasikan oleh Menristek dan Ketua BPPT Prof Dr Ing B.J Habibie, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 43 tahun 1976.

Sejak berdiri hingga kini, Puspiptek telah memiliki 47 Pusat Balai Litbang dan Pengujian dibawah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), mulai dari BPPT dibawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta dua laboratorum dibawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Sementara itu, dalam film singkat—selama 13 menit—yang memperkenalkan Puspiptek disebutkan bahwa, laboratorium Puspiptek dilengkapi dengan fasilitas modern dengan jumlah investasi sebesar lebih dari US$ 500 juta, dan didukung lebih dari 5.000 SDM yang terdiri dari tenaga terlatih lulusan dalam maupun luar negeri.

Dipaparkan pula, tujuh program fokus Kementerian Ristek yaitu Pembangunan Ketahanan Pangan; Penciptaan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan; Pengembangan Teknologi Transportasi; Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi; Pengembangan Teknologi Kesehatan dan Obat; Pengembangan Teknologi Pertahanan; dan, Pengembangan Material Maju.

Bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa. (Foto: Gapey Sandy)

Bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa. (Foto: Gapey Sandy)

Sejalan dengan visi Puspiptek yaitu menjadi pusat iptek dan inovasi kelas dunia di tahun 2025, Puspiptek mencanangkan lima pilar program pengembangan, yaitu menjadi pusat penguasaan dan pengembangan iptek nasional; menjadi pusat pelayanan pengembangan produk-produk nasional; menjadi pusat alih teknologi dan pusat informasi iptek nasional; menjadi pusat pengembangan kewirausahaan dan inkubasi industri baru UKMK berbasis teknologi; dan menjadi pusat pendidikan dan latihan untuk SDM industri.

Pusat Informasi Iptek tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga berperan dalam advokasi teknologi, pelayanan teknologi, difusi, diseminasi, serta komersialisasi teknologi. Sebut saja misalnya, Pelayanan Teknologi Aerodinamika Bidang Keindustrian, seperti Rancangan Jembatan Penajam di Balikpapan dan Jembatan Teluk Belinyu; Rancangan Jembatan Inari dan Jembatan Holtekam di Papua; Rancangan Jembatan Kutai Kartanegara Baru Kalimantan Timur, dan Jembatan Teluk Kendari di Sulawesi Tenggara.

Pengolahan Air Bersih dari Sungai Cisadane

Selain menyimak paparan mengenai profil Puspiptek, para siswa peserta science trip memperoleh kesempatan untuk melihat secara langsung proses Pengolahan Air Bersih (PAB), atau lebih kerennya disebut Water Treatment Facility. Lokasi PAB, agak jauh dari akses pintu masuk Puspiptek, harus lebih dahulu melintasi jalan yang kanan-kirinya masih berupa “hutan”. Disebut hutan, karena memang, 60 persen dari total kawasan Puspiptek adalah masih lahan terbuka yang ditumbuhi beraneka macam tumbuh-tumbuhan langka. Semuanya dilestarikan, tidak boleh sembarangan ditebang. “Ibaratnya, memetik dahan pohon yang ada di lingkungan Puspiptek ini pun, memiliki tata tertib khusus. Tidak sembarang orang boleh memetik atau memotong pohon, kecuali oleh pihak yang memang memiliki kewenangan mengurus pepohonan dan tanam-tanaman di kawasan ini,” ujar Ganang Sukoco kepada penulis.

Seteah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Seteah melalui bak pengadukan dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat untuk mengendapkan kotoran kasar yang masih tersisa, kemudian air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran halus yang masih ada. (Foto: Gapey Sandy)

Lokasi PAB cukup luas. Kompleksnya dikelilingi pagar besi, sehingga tidak sembarang orang dapat memiliki akses masuk dan keluar secara leluasa. Sebelum memasuki pintu gerbang PAB pun, ada Pos Keamanan yang selalu stand by 24 jam.

Air dari Sungai Cisadane disedot 90 – 100 liter per detik, kemudian dialirkan ke dalam bak pengendapan. Kotoran kasar, termasuk lumpurnya akan mengendap ke dasar bak pengendapan, sedangkan airnya akan terus mengalir ke bak pengaduk air. Saat airnya mengalir inilah, diberi atau dibubuhkan tawas, yang kadar atau porsinya disesuaikan dengan hasil yang pantauan para peneliti di ruang kendali.

Di bak pengaduk air, terdapat 12 mesin pengaduk yang bekerjanya berbeda-beda, mulai dari yang putaran adukannya kencang, sedang, hingga perlahan. Putaran adukan yang kencang atau kecepatan tinggi, akan membuat kotoran yang terkandung di air dapat cepat mengendap. Sedangkan putaran adukan air yang semakin perlahan, membuat kotoran-kotoran yang halus pun akan segera mengendap, dan tidak muncul kembali, atau tidak naik lagi ke permukaan air.

Selesai dari bak pengaduk, air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran-kotoran halus ke dasar bak. Di bak sedimentasi kotoran halus ini saja sudah terlihat, warna air yang bersumber dari Sungai Cisadane yang semula coklat keruh, sudah berubah menjadi bening.

Dari bak sedimentasi yang mengendapkan bulir-bulir kotoran halus, air yang sebenarnya sudah bening ini dialirkan lagi ke menuju proses treatment berikutnya. Yaitu, bak filterisasi. Ada enam bak filter yang ada di PAB Puspiptek ini. Dari sini, air di”steril”kan dengan pemberian Kaporit dan Soda Ash di bak penampungan. Takaran kedua zat kimia ini, sudah barang tentu disesuaikan lagi dengan hasil pantauan yang dilakukan oleh para peneliti di PAB ini. Lokasi bak penampungan sekaligus tempat pemberian kaporit dan soda ash cukup “tersembunyi”. Untuk menuju ke bak penampungan ini, harus menuruni anak tangga, dan di “basement” itulah bak penampungan berada. Jernihnya air berikut “wangi” akibat water treatment melalui pemberian kaporit dan soda ash cukup tercium segar “menyergap” hidung. Mencium aromanya, sekilas terbayang wangi yang biasa tercium di kolam renang.

Dari bak sedimentasi pengendapan kotoran halus, air dialirkan ke enam bak filter, untuk kemudian dicampurkan kaporit dan soda ash sesuai takaran dan riset para peneliti. (Foto: Gapey Sandy)

Dari bak sedimentasi pengendapan kotoran halus, air dialirkan ke enam bak filter, untuk kemudian dicampurkan kaporit dan soda ash sesuai takaran dan riset para peneliti. (Foto: Gapey Sandy)

Boleh dibilang, di bak penampungan akhir tadi, dimana air yang sudah jernih itu diberikan kaporit dan soda ash sesuai takaran yang terkontrol, air bersih sudah siap didistribusikan. Sangat kontras sekali, air Sungai Cisadane yang semula keruh dan kotor telah berubah menjadi jernih dan berbau “segar”. Dari sini, air hasil proses treatment yang menggunakan pola konvensional ini ditampung terlebih dahulu di bak penampungan dalam tanah. Ada dua bak penampungan yang nampak menyembul dari rerumputan. Ukuran dua bak penampungan dalam tanah itu, kira-kira luasnya seukuran lapangan bulutangkis.

Dari bak penampungan dalam tanah ini, air kemudian “ditembakkan” menuju ke bak penampungan yang bentuknya berupa tower atau menara yang menjulang tinggi, dan berada di tengah-tengah kawasan Puspiptek. Bentuk tower ini mirip dengan senter batere raksasa yang bulat di ujungnya. Menara bak penampungan air ini memiliki sistem sensor otomatis, artinya, kalau air di menara bak penampungan sudah penuh, maka secara otomatis, suplai “tembakan” air dari pompa di PAB berhenti bekerja. Begitu pun apabila debit air di menara bak penampungan berkurang isinya, maka secara otomatis pula, pompa “penembak” suplai air dari PAB akan bekerja maksimal untuk segera mengisinya.

Nah, dari atas bak menara penampungan air inilah, berdasarkan gaya gravitasi bumi, maka air didistribusikan ke seluruh kawasan yang ada di Puspiptek, mulai dari perkantoran, laboratorium, hingga ke kawasan Perumahan Puspiptek. Asal tahu saja, ada sekitar 700 rumah yang ada di kawasan Perumahan Puspiptek. Andai saja di setiap rumah terdapat empat anggota keluarga, maka total terdapat 2.800 jiwa di perumahan tersebut yang kebutuhan airnya disuplai dari hasil PAB Puspiptek. Jumlah ini, belum termasuk SDM yang berkantor di kawasan Puspiptek, yang jumlahnya mencapai sekitar 8.000 karyawan.

Pemberian kaporit dan soda ash. (Foto: Gapey Sandy)

Pemberian kaporit dan soda ash. (Foto: Gapey Sandy)

Begitulah, pemenuhan kebutuhan air bersih di kawasan Puspiptek ini, sudah berhasil disediakan secara mandiri, dengan mengolah air sungai Cisadane menjadi air bersih, yang belum layak minum, atau masih harus dimasak terlebih dahulu. “Mengapa tidak didistribusikan juga ke sekitar perumahan atau kawasan lain di luar Puspiptek? Karena memang peruntukan PAB ini memang untuk seperti itu, memenuhi kebutuhan air bersih internal Puspiptek saja. Apalagi, rumah-rumah yang berada di kawasan Perumahan Puspiptek pun memang dilarang untuk mengebor tanah, membuat sumur bor, demi untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya,” ujar Ganang Sukoco yang memberikan kepada penulis cinderamata berupa buku berjudul 106 Inovasi Indonesia, edisi I, 2014, yang diterbitkan oleh Business Innovation Center (BIC), dan didukung sepenuhnya oleh Kementerian Riset dan Teknologi RI. – (Gapey Sandy) –

Saat pemasangan dua tabung reaktor bahan bakar air ke sepeda motor. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Saat pemasangan dua tabung reaktor bahan bakar air ke sepeda motor. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Pagi itu, saya sengaja menelepon si Bata. Sengaja saya telepon sebelum matahari meninggi, karena saya tahu, si Bata seperti biasanya pasti belum bangun, alias masih mendengkur di alas tidurnya. Percakapan jarak jauh Tangerang Selatan – Cibatu, Garut, Jawa Barat itu pun sesuai dugaan saya, si Bata mengaku baru bangun tidur. “Aduh aku kira telepon dari siapa pagi-pagi begini. Badan aku capek banget. Kurang tidur aku, kalau berkunjung dan melakukan pendampingan masyarakat di sini. Tapi, semua demi kemajuan dan kesejahteraan nasib para petani di sini, demi Nuswantara, jadi aku jalani saja semampu aku,” ujar si Bata dengan suara yang masih “bau” bantal dan belum cuci muka apalagi gosok gigi.

Siapa Bata? Nama lengkapnya Bambang Erbata Kalingga. Ia akrab disapa Bata. Pria berusia 44 tahun ini memproklamirkan dirinya sebagai pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kartika Persada yang beralamat di Kelurahan Buaran, Serpong, Tangerang Selatan. Di Buaran itu juga, Bata bersama sejumlah rekannya mengelola Sinar Abadi, sebuah bengkel alakadarnya yang menggagas dan coba mengejawantahkan berbagai proyek manufaktur serta teknologi alternatif.

Penulis pernah menyambangi bengkel Sinar Abadi itu. Lokasinya tak jauh dari kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), dan kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI) di Muncul, Serpong. Tapi, tak ada hubungan sama sekali, antara bengkel Sinar Abadi dengan Puspiptek maupun Kampus “oranye” ITI. Sinar Abadi, cuma bangunan rumah yang disulap jadi workshop “berantakan”, tempat Bata “membongkar” keilmuan di kepalanya demi mengolah dan mencipta karya.

Bambang Erbata Kalingga (mengenakan t-shirt merah) sedang mendemostrasikan sepeda motor berbahan bakar air dan bensin yang lebih ekonomis, lebih irit BBM, dan sangat ramah lingkungan. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Bambang Erbata Kalingga (mengenakan t-shirt merah) sedang mendemostrasikan sepeda motor berbahan bakar air dan bensin yang lebih ekonomis, lebih irit BBM, dan sangat ramah lingkungan. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Sejumlah karya-karya Bata yang masih ditekuni Bata sempat penulis saksikan sendiri di bengkel itu. Sebut saja misalnya, lampu air (Water Lamp), Tesla Turbine, Sterling Engine, Penduluman, Liquid Iston, Pembuatan es dari panas matahari, Micronidro, dan masih banyak lagi. Khusus untuk Water Lamp, Bata mengajak penulis masuk ke ruang demi ruang di bengkelnya, dan menyaksikan sendiri ada sejumlah genting atap rumah yang sengaja dicopot untuk kemudian digantikan posisinya dengan lampu air itu. “Water Lamp itu tanpa aliran listrik sama sekali, hanya menggunakan energi sinar matahari dan bias air itu sendiri. Tapi, ruangan yang gelap jadi lumayan terang ya,” kata alumni SMAN 70 Bulungan angkatan BASIS 1989 ini.

Dari sekian karya-karya tadi, saat berbincang-bincang dengan Bata di teras depan bengkelnya, ada satu yang paling menarik perhatian penulis. Di halaman parkir, terlihat satu unit sepeda motor jenis “bebek”, dengan dua tabung penuh cairan di bagian depan. Nyentrik sekali. Ada motor, memakai cairan, yang bukan bensin bersubsidi, apalagi bensin nonsubsidi. Lalu apa sebenarnya cairan itu? “Ya, itu cuma air. Air biasa yang dimasukkan ke dua tabung dengan ukuran panjangnya satu jengkal jari, dan berdiameter tabung sekitar 16 centimeter,” jelas Bata.

Lho, kok isinya air? Motor “bebek” bisa melaju dengan memakai air? Hahahahaaaa …. jangan-jangan ini “bebek” betulan.

Inilah sejumlah perlatan untuk membuat dua reaktor air sebagai tambahan bahan bakar minyak pada sepeda motor sebelum dirakit. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Inilah sejumlah perlatan untuk membuat dua reaktor air sebagai tambahan bahan bakar minyak pada sepeda motor sebelum dirakit. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Tapi memang begitulah adanya. Berdasarkan sumber-sumber literasi yang pernah didalaminya, Bata kemudian nekat membongkar sepeda motor “bebek” miliknya. Ia nekat mengutak-atik berbagai komponen yang berkaitan dengan pengapian dan pembuangan. Hasil elaborasi Bata ternyata berhasil. Eureka! Jadilah sepeda motor yang mengolaborasikan bahan bakarnya dengan menggunakan bensin dan air. Ajib bingit!

“Sebenarnya, teknologi bahan bakar menggunakan air, bukanlah temuan atau karya baru di Indonesia, apalagi di dunia. Sudah banyak ilmuwan yang melakukan dan memanfaatkan air, untuk menggerakkan berbagai mesin produksi dan lain sebagainya,” tutur Bata merendah.

Teknologi sepeda motor yang memadukan bahan bakar berupa bensin dan air ini, lanjut Bata, sudah mulai dijajal, diujicobakan pada Desember 2008. “Idenya berasal dari masukan seorang kawan sebangku di SMA dulu. Terus, aku coba praktikkan di bengkel sini,” ungkap alumnus PMS-ITB alias Politeknik Mekanik Swiss-Institut Teknologi Bandung, 1992 ini. Pada 1990, PMS-ITB berganti nama menjadi Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN-Bandung).

Inilah dua reaktor air sebagai tambahan bahan bakar minyak pada sepeda motor sesudah dirakit. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Inilah dua reaktor air sebagai tambahan bahan bakar minyak pada sepeda motor sesudah dirakit. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Di Indonesia, berdasarkan googling penulis, Prof Dr Ir Djoko Sungkono M.Eng.Sc., dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Jawa Timur, sudah juga mengembangkan bahan bakar air dan bensin untuk sepeda motor dan mobil. Bahkan disebut-sebut, biaya pembelian berbagai piranti teknologi untuk memanfaatkan air sebagai tambahan bahan bakar ini tidak terlalu mahal. Hanya sekitar Rp 400 ribu untuk sepeda motor, dan dua kali lipatnya lagi untuk mobil.

Tiga Skenario Motor Berbahan Bakar Air

Selama mengembangkan sepeda motor berbahan bakar air, Bata menyebutkan bahwa ia memiliki tiga skenario eksperimen kerja. “Aku sudah praktik dan bukan cuma teori. Skenario pertama, sepeda motor dinyalakan atau di-starter dengan menggunakan bahan bakar bensin, lalu setelah sudah jalan, bahan bakar diubah menjadi air dan bensin. Skenario kedua, motor tetap di-starter dengan menggunakan bensin, tapi setelah jalan, sepenuhnya menggunakan bahan bakar air. Untuk skenario ini, berarti harus lebih tinggi lagi produksi hidrogennya. Sedangkan untuk skenario ketiga, sepeda motor di-starter dan dijalankan atau dipacu dengan sepenuhnya menggunakan bahan bakar air,” urai Bata sengaja membocorkan rahasia eksperimentasi sepeda motor berbahan bakar airnya itu.

Menurut Bata lagi, untuk skenario ketiga, yakni men-starter dan menjalankan sepeda motor dengan menggunakan bahan bakar air, memiliki konsekwensi tersendiri yang diakuinya masih belum mampu ia wujudkan. “Skenario sepenuhnya menggunakan bahan bakar air ini sama saja artinya dengan menggunakan tabung tekanan. Tabung tekanan ini sangat berbahaya, dan jujur aku bilang, aku belum memiliki keahlian untuk menggunakan atau menguji-coba tabung bertekanan. Selain memang terlalu tinggi juga resiko ujicoba dan penggunaannya,” jujur Bata.

Sudah cukup banyak sepeda motor yang dipasang teknologi hydrogen oleh Bambang Erbata Kalingga hingga ke berbagai wilayah. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Sudah cukup banyak sepeda motor yang dipasang teknologi hydrogen oleh Bambang Erbata Kalingga hingga ke berbagai wilayah. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Dengan menggunakan campuran bahan bakar air dan juga bensin, apa tidak malah menjadikan mesin sepeda motor cepat terjadi korosi atau berkarat? Dengan enteng Bata menjawab, “Tidak akan korosi atau berkarat mesinnya. Karena yang masuk ke mesin adalah berupa gas, bukan berupa air atau H2O. Justru H2O-nya itu “dipecah” molekulnya menjadi H2 dan O2, lalu masuk ke dalam ruang pembakaran dan “dibakar”. Nah, saat di knalpot sepeda motor menjadi uap air. Itu sebabnya knalpot malah akan jadi dingin,” terang pengagum berat klub sepakbola asal Inggris, Liverpool ini.

Berdasarkan pengalaman melakukan eksperimen bahan bakar air dan bensin ini, Bata berani meyakinkan bahwa, sepeda motor yang menggunakan teknologi hydrogen ini dapat menghemat atau mengirit pemakaian bahan bakar minyak antara 40 sampai 60 persen. “Ambil contoh, kesaksian menggembirakan dari salah seorang peminat teknologi ini yang sepeda motornya sempat aku pasangkan dua tabung reaktor air. Karena katanya, dengan menggunakan bahan bakar air dan bensin pada sepeda motornya, saat ini ia hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp 15.000 per hari untuk membeli bensin. Terbukti, ketika sepeda motornya sempat tidak menggunakan teknologi hydrogen selama dua minggu karena sesuatu alasan, orang tadi mengaku harus mengeluarkan kocek antara Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per hari untuk membeli bensin. Jelas, bahan bakar air dan bensin, lebih irit konsumsi bahan bakar minyaknya, dan lebih irit juga di kantong,” cerita Bata penuh syukur.

Pengalaman Bata sendiri selama mengendarai sepeda motor jenis “bebek” dengan bahan bakar air dan bensin ini tidak jauh berbeda soal penghematan bahan bakar minyaknya. “Jarak tempuh sepeda motor aku ini setiap hari cukup jauh. Bayangkan, dari rumahku di kawasan Blok M (Jakarta Selatan), sampai bengkel aku di kawasan Buaran, Serpong (Tangerang Selatan), dan kembali lagi atau pulang pergi, aku cuma menghabiskan satu liter bensin atau bahan bakar minyak,” akunya ber-testimoni.

Penulis sempat membuka googlemaps dan melihat jarak lokasi antara Blok M menuju ke kawasan Buaran di Serpong. Hasilnya, rute terpendek adalah 24,4 kilometer, dan rute terjauh adalah sepanjang 30,2 kilometer. Ajib!

Berharap political will Pemerintah untuk mendukung pengembangan pemakaian teknologi dengan energi terbarukan sekaligus untuk penyelamatan lingkungan. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Berharap political will Pemerintah untuk mendukung pengembangan pemakaian teknologi dengan energi terbarukan sekaligus untuk penyelamatan lingkungan. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Kepada penulis, Bata mengaku lupa, sudah berapa jumlah sepeda motor yang pernah ia pasangkan teknologi berbahan bakar air dan bensin ini. “Wah, aku lupa jumlahnya. Yang pasti lebih dari sepuluh sepeda motor. Karena, aku pernah memasang teknologi bahan bakar air dan bensin ini hingga ke Pulau Kalimantan juga. Dari semua sepeda motor yang pernah saya pasangkan teknologi hydrogen, si empunya biasanya mempelajari terlebih dahulu teknologi ini, mulai dari konsep, cara pembuatan, perakitan, hingga maintenance, dan tetek-bengek lainnya. Jadi, kalau aku sudah pasang teknologi hydrogen itu ke sepeda motor milik seseorang, ya sudah, untuk selanjutnya segala sesuatu adalah terserah kepada si empunya sepeda motor. Meskipun, aku tetap terbuka untuk dihubungi kapan saja,” tutur Bata.

Mobil Berbahan Bakar Air dan Bensin

Tangan kreatif dan inovatif Bata tidak berhenti hanya pada pemasangan bahan bakar air dan bensin untuk sepeda motor saja. Lelaki yang kini gemar blusukan demi membantu petani dan pembudidaya garam untuk menggenjot produksi hasil panen di berbagai wilayah ini juga pernah melakukan eksperimen dengan memasangkan teknologi hydrogen di mobil.

“Pada tahun 2013 kemarin, aku pernah coba pasang teknologi bahan bakar air dan bensin ini di sebuah mobil. Sempat ada kendala karena suara mesin mobil menjadi agak ‘ngelitik’. Tapi setelah aku lakukan penyempurnaan, hasilnya menjadi lebih baik. Suara ‘ngelitik’ di mesin mobil tidak ada lagi, malah bias menjadi lebih halus lagi suara mesinnya. Begitu pula dengan gas buangan dari knalpot mobil, terasa menjadi lebih dingin,” ujar Bata meyakinkan.

Setelah pemasangan teknologi hydrogen selesai, mobil itu oleh Bata dan sejumlah rekannya kemudian coba untuk dikendarai, sambil tentu saja dihitung jarak tempuh kilometer dan konsumsi bahan bakar minyaknya. “Pada tanggal 10 Desember 2013, mobil berbahan bakar air dan bensin ini kita coba kendarai, dari Jakarta ke wilayah Sancang di Garut, Jawa Barat. Hasilnya, dengan jarak tempu sejauh 395,4 kilometer, mobil ini hanya menghabiskan bahan bakar minyak sebanyak 33,54 liter. Artinya, jarak tempuhnya menjadi 11,789 kilometer per liter bahan bakar minyak, padahal awalnya hanya kira-kira 8 kilometer saja per liternya. Terbukti, ada pengiritan pemakaian bahan bakar minyak sebesar 47,36 persen,” begitu kalkulasi Bata.

Tak berhenti sampai di situ, mobil berbahan bakar air dan bensin ini kembali “tancap gas” dengan diujicobakan pada 18 Desember 2013 lalu, dengan rute Serpong (Tangerang Selatan) – Majalengka (Jawa Barat) – Indramayu (Jawa Barat) – Lenteng Agung, Jagakarsa (Jakarta Selatan) – Pondok Labu (Jakarta Selatan) – Serpong – lalu ke Pondok Labu lagi. Jarak tempuhnya menjadi total 1.390 kilometer, dan menghabiskan pemakaian bahan bakar minyak sebanyak 124,32 liter. “Atau, dengan kata lain, mobil keluaran tahun 1995 yang kami pasangkan bahan bakar air dan bensin ini bias mencapai jarak 11,18 kilometer untuk satu liter bensinnya,” ujar Bata lagi.

Berharap Political Will Pemerintah

Meski sudah terbukti jauh lebih ekonomis dan lebih irit, bila menerapkan teknologi hydrogen pada sepeda motor maupun mobil, bahkan lebih akrab lingkungan karena tidak menghasilkan polusi udara dari knalpot kendaraan bermotor, nyatanya menurut Bata, temuan-temuan inovatif yang sederhana serta ramah lingkungan seperti ini justru belum banyak dipercaya oleh berbagai lapisan masyarakat.

“Tidak mudah untuk membuat masyarakat percaya untuk menggunakan kendaraan bermotor dengan bahan bakar air dan bensin, terutama dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh penjualan bensin, atau bahan bakar minyak. Padahal, gaung sumber energi terbarukan semakin kencang disuarakan. Penghematan energi harus dilaksanakan sejak dini, karena sumber-sumber bahan bakar minyak suatu saat pasti akan susut dan habis. Political will Pemerintah mustinya sejak dahulu berpihak pada penggunaan energi alternatif yang ramah lingkungan,” harap Bata.

Apa yang sudah dilakukan Bata tentu menginspirasi kita semua untuk melakukan penghematan energi bahan bakar minyak sambil mencoba terus menggunakan energi alternatif terbarukan yang akrab lingkungan.

Bambang Erbata Kalingga sedang memasangkan teknologi bahan bakar air di salah satu sepeda motor di Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Bambang Erbata Kalingga sedang memasangkan teknologi bahan bakar air di salah satu sepeda motor di Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: Akun Facebook Bambang Erbata Kalingga)

Oh iya, satu lagi apresiasi yang patut disematkan ke Bata adalah, keikhlasannya bekerja di bengkel bersama rekan-rekan yang berbeda latar-belakang dan keilmuan. Tapi Bata tak ambil pusing. “Di bengkel aku, berkumpul anak-anak muda dengan beragam cerita masa lalunya. Ada yang mantan anak jalanan, pembantu rumah tangga, sopir, kernet, bahkan ada yang mantan pengguna narkoba. Kami bekerja semaksimal mungkin tanpa pernah berpikir keuntungan materi yang diperoleh. Bahkan, kalau teknologi pemanfaatan air sebagai tambahan bahan bakar minyak ini ditiru atau dipelajari oleh orang banyak, aku tidak khawatir, malah justru merasa senang bisa berbagi dan turut aktif mengkampanyekan hentikan pemanasan global, stop global warming,” tulus Bata seraya menambahkan bahwa, kini ada dua orang dari wilayah Jawa Tengah yang sudah hampir tiga bulan “mondok’ di bengkelnya untuk menimba ilmu-ilmu praktis tanpa dipungut biaya sepeser pun.

“Bengkel aku banyak dikunjungi banyak orang yang memiliki minat dan ketertarikan yang sama, meski dari berbagai latarbelakang yang berbeda, termasuk ada juga yang dari kalangan perguruan tinggi. Aku sih welcome saja, silakan datang untuk berbagi ilmu dan pengetahuan, malah aku senang bisa dikunjungi dan bertemu mereka,” jelas Bata.

Terngiang salam cinta tanah air yang kerapkali diucapkan Bata, “SALAM NUSWANTARA!”

Dari kejauhan, gedung itu berwarna abu-abu. Bentuknya, paling beda sekaligus paling unik, bila dibandingkan dengan gedung-gedung jangkung lain yang ada di sekitarnya. Mirip seperti batu koral, seperti kepompong, berwarna abu-abu, dan melengkung cenderung oval. Ya, itulah Gedung New Media Tower milik Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang berlokasi di Scientia Garden, Jalan Boulevard Gading Serpong, Tangerang, Banten.

Gedung NMT ini diresmikan oleh Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama, pada September 2012 lalu. Mungkin sudah banyak yang tahu, setahun kemudian, gedung ini meraih penghargaan dengan menjadi juara pertama Gedung Hemat Energi pada Penghargaan Efisiensi Energi Nasional pada 2013. Nah, baru-baru ini, tepatnya September kemarin, Gedung NMT kembali meraih penghargaan yang lebih bergengsi lagi, yaitu sebagai Energy Efficient Building kategori Tropical Building yang dilombakan pada ASEAN Energy Award 2014 di Vientiane, Laos. Tahun sebelumnya, predikat ini diraih oleh Sukhotai Heritage Resort di Thailand.

Gedung New Media Tower (NMT) Universitas Multimedia Nusantara di Scientia Garden Jalan Boulevard Gading Serpong, Tangerang, Banten, yang berbentuk oval dan mirip kepompong. (Foto: Gapey Sandy)

Gedung New Media Tower (NMT) Universitas Multimedia Nusantara di Scientia Garden Jalan Boulevard Gading Serpong, Tangerang, Banten, yang berbentuk oval dan mirip kepompong. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut Sudarman Sutanto selaku Building Manager Kampus UMN, luas bangunan Gedung NMT ini sekitar 32 ribu meter persegi. Sedangkan luas total seluruh lahan yang dimiliki UMN adalah 8 hektar, dengan pemanfaatan 40 persen, atau 2,4 hektar terbangun.

“Jumlah lantai yang ada di Gedung NMT ini seluruhnya 13 lantai. Pada setiap satu lantai, rata-rata ada 14 ruang kelas. Jadi, totalnya ada sekitar 125 kelas, di mana per kelas dapat menampung 40 mahasiswa. Daya tampung gedung ini secara keseluruhan adalah sebanyak 5.000 mahasiswa. Paling bawah Gedung NMT ini mulai dari basement, khusus untuk parkir 2.000 motor, dan mushola. Lantai 1 dipergunakan untuk kantin. Lantai 2 ada kantin, sebagian kelas, dan ruang-ruang Unit Kegiatan Mahasiswa. Lantai 3, ada Theatre dan kelas, sementara lantai 4 tidak ada. Lantai 5, bahagian tengahnya merupakan sambungan dari Theatre, dan selebihnya ruang kelas. Lantai 6 sampai 11, pada umumnya adalah ruang kelas, termasuk ada juga untuk Laboratorium Desain Komunikasi Visual, dan Laboratorium Komputer. Sedangkan pada lantai 12, difungsikan untuk Business Incubator yang kami biasa kami sebut sebagai Skystar Ventures,” urai Sudarman kepada penulis, pada Kamis (30 Oktober 2014) di Kampus UMN.

Lantaran menerapkan konsep gedung terbuka, pada lahan parkir sepeda motor yang khusus dialokasikan di basement, kata Sudarman, pihaknya tidak terlalu banyak memasang lampu penerang. Termasuk, tidak juga mengoptimalkan exhaust fan untuk membuang asap knalpot sepeda motor di basement. Yang menarik, untuk pembuangan asap knalpot ini, pengelola Gedung NMT membuat delapan cerobong kaca yang menjulang hingga ke lantai 3, untuk membuang asap knalpot dari sepeda motor.

Beginilah suasana taman dan ruang kelas berbentuk setengah oval di lantai paling atas dari Gedung New Media Tower UMN, lengkap dengan taman terbuka yang tertata asri. Bahagian atas adalah penutup lapisan luar gedung yang terbuat dari aluminium dan diberi lubang-lubang. (Foto: Gapey Sandy)

Beginilah suasana taman dan ruang kelas berbentuk setengah oval di lantai paling atas dari Gedung New Media Tower UMN, lengkap dengan taman terbuka yang tertata asri. Bahagian atas adalah penutup lapisan luar gedung yang terbuat dari aluminium dan diberi lubang-lubang. (Foto: Gapey Sandy)

“Untuk yang di basement dan merupakan lahan parkir kendaraan bermotor roda dua, kami tidak banyak menggunakan lampu penerang, dan exhaust fan untuk pendorong asap knalpot motor. Tetapi, kami membangun ada semacam cerobong kaca yang panjang, dari mulai basement hingga ke atas, ke lantai 3. Total semuanya, ada delapan cerobong kaca, yang fungsinya adalah untuk membuang asap knalpot motor ke atas. Dan di lantai 3, ada taman rumput dan pepohonan yang sengaja dibangun, dengan maksud mempertahankan lahan hijau pada gedung ini,” jelas Sudarman yang sempat mendampingi Wakil Rektor UMN, Andrey Andoko ketika menerima piala penghargaan Energy Efficient Building kategori Tropical Building pada ajang ASEAN Energy Award 2014, pada September kemarin, di Laos.

Sudarman menambahkan, limbah air yang berasal dari seluruh gedung, baik itu limbah air hujan, dan air buangan dari urinoar toilet, tidak asal dibuang begitu saja. Tetapi, UMN menyediakan sebuah wadah khusus untuk melakukan proses daur ulang air limbah. Hasilnya, dapat dipergunakan untuk beberapa keperluan, seperti menyiram tanaman, pembilasan toilet, juga untuk memfungsikan sistem pendingin ruangan.

“Seluruh limbah air dari gedung ini, baik itu air hujan, maupun air dari limbah toilet, kami lakukan proses daur ulang di basement gedung ini, dan dipergunakan untuk penyiraman taman, dan pembilasan toilet. Air hasil daur ulang ini juga difungsikan untuk sistem pendingin ruangan. Kecuali, air yang digunakan untuk mencuci tangan, keperluan urinoar, dan air wudhu, menggunakan air Pam murni. Untuk limbah air hujan, kami buatkan juga sumur resapan, atau semacam biopori tapi berukuran agak besar, yakni 1,2 meter dengan kedalaman antara enam sampai delapan meter. Sumur resapan ini ada sekitar 20-an unit, dan sengaja kami buat di sekeliling lokasi gedung. Selain itu, limbah air hujan juga kami alirkan melalui kanal yang kami bangun, dan untuk selanjutnya, limbah air hujan ini akan dikembalikan meresap lagi ke dalam tanah,” tutur Sudarman sembari menyebut bahwa semua ruangan dilengkapi dengan lampu jenis T5 atau LED yang lebih hemat energi. “Tapi, karena kulit luar gedung adalah aluminium yang berlubang-lubang, maka cahaya sudah sangat optimal. Bahkan, ada sejumlah lampu yang meskipun terpasang, tapi jarang untuk dinyalakan”.

Seperti inilah kulit pelapis luar Gedung New Media Tower Kampus UMN, berupa aluminium yang diberi lubang-lubang sesuai fungsi dan peruntukannya. (Foto: Gapey Sandy)

Seperti inilah kulit pelapis luar Gedung New Media Tower Kampus UMN, berupa aluminium yang diberi lubang-lubang sesuai fungsi dan peruntukannya. (Foto: Gapey Sandy)

Memang, dengan gedung yang menggunakan lapis luar berupa aluminium yang diberi lubang-lubang, sudah pasti air hujan akan masuk sehingga membuat sisi pinggir koridor menjadi basah. Tetapi, ini adalah suatu hal yang normal, bahkan sudah dibuatkan saluran air untuk pembuangannya secara cermat.

“Karena gedung ini terbuka, dengan lapisan luar berupa aluminium yang berlubang-lubang dan terbuka, maka apabila hujan,  ya air akan masuk dan basah seperti biasa. Semua itu sudah kami prediksi. Tapi, semua itu normal, dan kami sudah buatkan saluran air untuk membuang air hujan yang masuk. Yang jelas, air hujan yang masuk tidak akan membahayakan, dalam arti air tidak akan masuk sampai ke ruang-ruang kelas, atau ke laboratorium. Begitu juga dengan terpaan angin, tidak akan membawa masalah, malah justru membawa kesejukan di setiap koridor ruangan,” jelas Sudarman sambil menyebutkan bahwa, perancang gedung ini adalah Budiman Hendropurnomo.

Meski demikian, justru di situ pula letak keunggulan dari Gedung NMT ini, penggunaan lapisan luar berupa aluminium yang diberi lubang-lubang justru membuat cahaya matahari dapat masuk dan menerangi internal gedung, tetapi tidak menyilaukan mata. Bahkan, sirkulasi udara menjadi sangat menyejukkan.

Jangan salah. Ini bukan di lantai dasar. Rerumputan dan pepohonan yang menghijau ini ada di lantai 3 Gedung New Media Tower Kampus UMN, Serpong, Tangerang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

Jangan salah. Ini bukan di lantai dasar. Rerumputan dan pepohonan yang menghijau ini ada di lantai 3 Gedung New Media Tower Kampus UMN, Serpong, Tangerang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

“Keunggulan lain, kita memakai sistem dinding dengan double skin. Artinya, meskipun ada kaca-kaca yang terpasang di dinding, tapi sebenarnya, ini hanya kaca biasa saja yang tebalnya 3 milimeter, bukan kaca khusus yang tebal. Tapi, pada sisi luar gedung ini, ada aluminum yang menutupi gedung ini. Dengan perhitungan yang matang, aluminium ini sengaja dilubang-lubangi, dengan jumlah yang berbeda. Tujuannya, untuk membuat cahaya matahari masuk ke dalam ruangan-ruangan yang ada tapi tidak menyilaukan. Begitu pula dengan sirkulasi udara, yang dapat berproses secara baik dan menyejukkan. Dengan begitu, praktis penggunaan lampu-lampu penerang dapat kita minimalisir, termasuk pemakaian AC-nya. Di ruang-ruang kelas pun, penggunaan AC dengan mudah dapat kita atur temperatur suhunya, bahkan kita matikan AC-nya kalau ruang kelas tidak difungsikan. Praktis, hanya di pagi hari saja, pendingin ruangan agak bekerja maksimal, tapi begitu lewat tengah hari, penurunan penggunaan AC akan terjadi secara drastis,” urai Sudarman.

Mengantisipasi tingkat polusi suara dan menjaga ketahanan suhu sejuk pada berbagai ruang-ruang yang ada—termasuk ruang kelas—, di gedung ini pun sangat diperhitungkan secara matang. Untuk itulah, teknologi bangunan untuk membuat dinding pada gedung ini menggunakan apa yang disebut sebagai M System.

Lingkaran yang ditumbuhi pepohonan di lantai 3 Gedung New Media Tower Kampus UMN ini sebenarnya adalah ujung paling atas cerobong asap yang terbuat dari cerobong kaca tebal dan bermula dari basement tempat parkir sepeda motor. Fungsinya untuk membuang asap buangan knalpot sepeda motor. (Foto: Gapey Sandy)

Lingkaran yang ditumbuhi pepohonan di lantai 3 Gedung New Media Tower Kampus UMN ini sebenarnya adalah ujung paling atas cerobong asap yang terbuat dari cerobong kaca tebal dan bermula dari basement tempat parkir sepeda motor. Fungsinya untuk membuang asap buangan knalpot sepeda motor. (Foto: Gapey Sandy)

“Dari sistem dindingnya, kita memakai bahan peredam suara. Dinding ini dibangun bukan memakai batu bata sebagai bahan dasar bangunannya, tapi menerapkan pemakaian M System yang berupa styrofoam lalu dipagari dengan ‘kawat ayam’ pada kedua sisinya, untuk kemudian di-aci dengan menggunakan semen. Fungsi dinding seperti ini adalah untuk meredam suara, dan menahan suhu dingin di ruangan tidak cepat terbuang. Soal kekuatan atau kekokohan dindingnya sama dengan tembok-tembok biasa yang dibangun dengan menggunakan bahan dasar batu bata. Hanya saja kalau di-bor, maka ketemunya di tengah-tengah dinding adalah styrofoam,” ungkap Sudarman seraya meninju-ninju pelan tembok di sisinya.

Begitulah, ternyata, di balik megah dan uniknya Gedung New Media Tower Universitas Multimedia Nusantara ini, ternyata mengandung pesan global yang sangat penting pada dekade ini. Pesan penuh arti itu tak lain adalah, seruan untuk bersama-sama menghemat energi. Sekaligus pula, mengoptimalkan limbah, dan tetaplah bersahabat dengan alam sekitar. Inilah satu contoh nyata Aksi Untuk Indonesia—dan telah diakui dunia internasional—, yang tercermin dari sebuah gedung perkuliahan yang memegang teguh konsep terbuka, tropical building, dan hemat energi.

Selamat & salut!