Foto Jokowi dan Iriana didampingi kedua orangtua Jokowi, ditampilkan pada halaman 132 buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden. (Sumber foto: Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden)

Foto Jokowi dan Iriana didampingi kedua orangtua Jokowi, ditampilkan pada halaman 132 buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden. (Sumber foto: Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden)

Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi, memang fenomenal. Muncul di era krisis kepercayaan, Jokowi justru hadir membawa semangat, kepedulian, dan asa. Asa yang penuh cita dan cinta yang hampir pudar itu pun lantas kembali bersinar. Tidak saja penampilan Jokowi yang penuh kesederhanaan dan bersahaja, atau tutur lisan yang santun tanpa menyebabkan hati terluka, Jokowi yang ndeso, Jokowi yang cungkring lagi ceking, Jokowi yang gemar menggulung lengan panjang kemeja putihnya, benar-benar mampu menyulap kondisi, habis muram terbitlah senang. Merujuk pada “habis gelap terbitlah terang” yang lebih dahulu lekat kepada sosok pahlawan nasional, Raden Ajeng Kartini.

Apa yang selama ini dikerjakan Jokowi, bukan semata teori. Bagi pria kelahiran Solo, 21 Juni 1961 ini, menjadi pejabat yang hanya teori melulu, bukan style khasnya. Malah, hadirnya Jokowi, mengunggah satu kata kerja dari bahasa local, yakni blusukan, menjadi punya pamor internasional. Bahkan, triliuner muda sekelas Mark Zuckerberg kepincut, penasaran ingin mengetahui lebih detil apa dan bagaimana blusukan ala Jokowi. Bermandi keringat, berdesak-desakan, berpanas ria, bermacet-macetan, bertemu langsung, dan menyimak keluhan serta harapan wong cilik, adalah content ‘mata kuliah’ blusukan yang akhirnya bakal dibawa juragan Facebook yang baru berusia 30 tahun ini, ketika kembali pulang ke negara asalnya.

Tak ayal, pesona dan karisma Jokowi memang sedang kinclong kemilau. Semangatnya untuk melakukan aksi nyata sembari meneriakkan semboyan “kerja, kerja, dan kerja”, telah berhasil membuahkan keteladanan. Bahkan, langkah politiknya yang selalu berusaha merangkul basis-basis massa dan rakyat secara keseluruhan, akhirnya juga menuai kegemilangan. Tepat, 20 Oktober 2014, Joko Widodo bersanding dengan Jusuf Kalla, menjalani prosesi pelantikan sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014 – 2019.

Begitulah gambaran sosok Jokowi, suami dari Iriana, yang kini menjadi pemimpin dari 245 juta jiwa penduduk Indonesia, yang 11,25 persen diantaranya, masih termasuk belum sejahtera alias masyarakat miskin.

Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden karya Arimbi Bimoseno, 2014.

Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden karya Arimbi Bimoseno, 2014.

Buku ini berusaha mengulik Jokowi secara lengkap, melalui tujuh judul besar yang ditawarkan oleh penyusun buku ini. Mulai dari: Magnet Jokowi – Ahok; Cuti Paling Heroik; Lolos Dari Arena Tersengit Pemilu Indonesia; Ahok Mendadak Gubernur; Hidup Adalah Perjalanan; Gemini Yang Tidak Romantis; dan, Aku Rapopo. Secara menyeluruh, buku yang banyak menyisipkan foto-foto penunjang naskah ini memang bermaksud menyampaikan benang merah tentang Jokowi yang sangat inspiratif.

Melalui bab Prakata, penyusun buku ini dengan cerdas menuangkan sejatinya Jokowi melalui syair-syair yang puitis, seperti terbaca pada ilustrasi foto Arimbi Bimoseno, sang penyusun buku yang belasan tahun memiliki karier moncer sebagai jurnalis, dengan jabatan mentereng yang pernah disandangnya yakni Managing Editor Tabloid Wanita Indonesia. Selain melalui puisi yang penuh makna, penyusun buku ini juga mengungkapkan sanjung puji terhadap Jokowi. Menurutnya, Jokowi telah membukakan mata, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Wong ndeso, tidak ngganteng, tidak gagah, tidak kaya, bukan darah biru, jauh dari ciri-ciri yang biasa dilekatkan pada sosok seorang idola.

Uniknya, apa yang melekat pada imajinasi penyusun buku ini tentang Jokowi, pernah pula disampaikan oleh Jokowi sendiri. Pada bab 5 yang menyuguhkan tajuk “Hidup Adalah Perjalanan”, Jokowi dikutip pernyataannya yang mengatakan, “Dengan tubuh cungkring, rambut gondrong dan wajah pas-pasan, saya menempatkan diri sebagai remaja galau yang ingin menyuarakan kegelisahan”. Secara detil dan cermat sekali, penyusun buku ini kemudian menampilkan foto Jokowi ketika masih muda—yang tengah menyandarkan dagu pada tangannya—, sekaligus mengungkap bagaimana Jokowi, anak dari pasangan almarhum Wijiatno Notomihardjo dan Sujiatmi ini, mengekspresikan diri melalui musik beraliran Rock yang hingar-bingar.

Musik Rock, tulis Arimbi Bimoseno di halaman 139, ternyata berefek dahsyat pada si sulung dari tiga adik perempuan, Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati. Kepekaan Jokowi menjadi tajam. Kemiskinan dalam kehidupan masyarakat membuatnya berpikir kritis. Ketidakadilan yang jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari mengiris perasaan Jokowi. Sering ia berpikir, “Seharusnya tidak boleh seperti itu”.

Salah satu kekuatan buku yang tersusun dari sebaran referensi demi referensi di media massa ini boleh dibilang terletak pada bab 5 yang memaparkan kisah kesederhanaan hidup kedua orangtua Jokowi. Orangtua yang tidak ingin melihat keempat anaknya nestapa dalam kepapaan, sehingga harus banting tulang menjadi pedagang kayu yang ulet dan bersaing dengan para tetangga yang kebanyakan berprofesi sama. Menggambarkan masa-masa hidup susah itu, dengan pandainya penyusun buku ini mengutip pernyataan Jokowi, “Saya bisa melewati kehidupan yang cukup baik jika takarannya adalah bisa makan tiga kali sehari dan bersekolah. Orangtua saya adalah sosok luar biasa yang tahu bagaimana mengelola keluarga bahagia walau berada dalam kondisi serba terbatas,” tutur alumnus SDN 111 Tirtoyoso, SMPN 1 Surakarta, dan SMAN 6 Surakarta ini.

Lebih lanjut, Jokowi yang tercatat sebagai “tukang insinyur” jebolan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menambahkan, “Yang bisa saya simpulkan dari segala yang saya lihat, orang-orang kecil memiliki ketabahan dan hati kuat yang luar biasa. Sikap nrimo berpadu dengan semangat pantang menyerah untuk tidak kalah menghadapi hidup. Kesabaran menanti perbaikan nasib datang, ibarat doa yang diembuskan pada Yang Kuasa dan akan berbuah jawaban baik pada waktunya”.

Foto Jokowi di kala muda, ditampilkan pada halaman 139 buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden. (Sumber foto: Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden)

Foto Jokowi di kala muda, ditampilkan pada halaman 139 buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden. (Sumber foto: Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden)

Usai mengungkap ketabahan dan keikhlasan hati Jokowi dalam menjalani masa hidupnya yang jauh dari bermandikan harta kekayaan, penyusun buku ini kembali memperlihatkan kepiawaiannya dalam menggulirkan kalimat demi kalimat inspiratif yang menyentuh kalbu. Arimbi Bimoseno, Kompasianer kelahiran Tulungagung, 4 Desember 1975 ini misalnya, berhasil untuk menggaris-bawahi sebuah kesimpulan, bahwa pada satu momentum tertentu, Jokowi kemudian tak bisa pindah ke lain hati, tiada lain yaitu jatuh cinta pada kayu.

Termuat pada halaman 137, penyusun buku ini menulis, di depan rumah Jokowi juga bertumpuk-tumpuk kayu gergajian berukuran kecil dan sedang, serta ikatan-ikatan bambu. Jokowi tidak melihat kayu dan batu itu simbol kesengsaraan. Ia melihatnya sebagai semangat hidup yang meluap-luap dari orangtuanya. “Ibu ikut turun tangan membantu berjualan bambu dan dari wajahnya saya temukan semangat besar. Bapak cinta betul pada bisnis kecil yang ditekuninya. Kelihatan sekali ia menyerahkan seluruh hatinya pada pekerjaannya,” cerita Jokowi yang pada bagian lain buku ini menyebut dirinya sebagai pria yang tidak romantis.

Kisah Jokowi yang berbintang Gemini, dan ternyata bertolak-belakang dengan kebanyakan empunya rasi bintang ini, juga mampu mencuri perhatian pembaca buku ini untuk semakin tak mau ketinggalan keseruannya. Dapat ditebak, pada bab 6 dengan judul “Gemini Yang Tidak Romantis” ini, tersaji kisah kasih awal mula panah asmara Jokowi menancap di hati Iriana, biasa disapa Ana.

Setelah membaca bab yang sarat romantika anak muda bercinta, Joko dan Ana ini, kiranya patut pula rasa terima kasih disampaikan kepada Iit Sriyantini, adik kandung Jokowi. Kenapa? Karena rupanya, Ana adalah teman akrab Iit, yang kerap diajak bermain dan belajar bersama di rumah. Bukan bermaksud menjadi mak comblang untuk sang kakak, Jokowi, tapi rupanya memang Jokowi sendiri yang semakin hari mulai kepincut dan naksir Ana. Prikitiuw! Tapi ya begitulah adanya. “Bersyukur Mas Joko mendapat Ana. Selain dia teman baik, saya mengenal Ana sudah seperti saudara,” aku Iit seperti termuat di halaman 157.

Sebaliknya, Ana jatuh hati pada Mas Joko lantaran memang ia adalah sosok jejaka pintar nan cerdas. “Meskipun rambutnya gondrong, Mas Joko sejak kecil sering menjadi juara kelas, bahkan diterima kuliah di UGM,” kenang Iriana yang memang ayu dengan pembawaan diri lembut bak Putri Solo.

Membaca buku ini, sama saja dengan mengakrabkan diri kita dengan sosok Jokowi yang from zero to hero, beserta cerita dan fakta seputar lompatan-lompatan linimasanya. Mulai dari kiprahnya berbisnis kayu, menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga terpilih sebagai Presiden RI ke-7. Presiden yang menggelorakan revolusi yang sama fenomenal seperti dirinya sendiri, yaitu revolusi mental. “Revolusi mental beda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun, usaha ini tetap memerlukan dukungan moril dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin,” tandas Jokowi.

Foto Jokowi dan Iriana bersama ketiga adik perempuan Jokowi, ditampilkan pada halaman 136 buku. (Sumber foto: Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden)

Foto Jokowi dan Iriana bersama ketiga adik perempuan Jokowi, ditampilkan pada halaman 136 buku. (Sumber foto: Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden)

Alhasil, penyusun buku ini telah berhasil membuat sebuah karya, yang kalau dibaca secara utuh, akan mampu membuat pembacanya mengenal lebih dalam sosok seorang Jokowi. Buku ini tidak saja mengulas profil Jokowi secara murni, tapi banyak human interest dan kisah inspiratif yang terkandung didalamnya. Salut untuk kerja Arimbi Bimoseno yang cermat dan smart dalam menyusun buku ini.

Sedikit kelemahan buku ini, terletak pada desain dalam yang terkadang satu atau dua halaman secara full di-block dengan menggunakan satu warna, sementara huruf-hurufnya diwarnai dengan putih. Mungkin, secara design, tampilannya menjadi trendy dan artistic. Tapi, percayalah, desain halaman seperti ini (terkadang) justru ‘menyiksa’ pembaca karena harus memicingkan mata untuk dapat membaca rangkaian kalimat demi kalimat secara lebih jelas. Apalagi, tipe font atau hurufnya juga tidak dibuat bold atau tebal.

Meski demikian, buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden ini tetap patut diacungi jempol, dan layak untuk dibaca. Karena memang, buku ini dapat menjadi modal inspirasi generasi muda Indonesia dalam menapaki prestasi dan berjuang meraih mimpi. Beruntung, saya telah memiliki buku ini. Lengkap dengan tulisan tangan asli, dan coretan kalimat pesan singkat namun mendalam dari Arimbi Bimoseno, sang penyusun buku, yakni “Semoga Bermanfaat”.

* * *

Judul Buku : Jokowi Rapopo Jadi Presiden. Penyusun : Arimbi Bimoseno. Penyunting : Ambar Pratiwi. Penerbit : Kata Media, grup Puspa Swara. Halaman : viii + 232 halaman, 25 cm. Tahun : Cetakan I – Jakarta, 2014. ISBN : 978 979 1478 63 2

Iklan