29339629_10211973929644374_2718659275541970944_n

Almarhum Hernomo Hasim. (Foto: twitter hernowo)

“Tulisan kita tak akan mati, bahkan bila kita mati.”

Benarlah apa yang pernah disampaikan penulis Helvy Tiana Rosa ini. Karya yang pernah dituliskan tidak akan ikutan mati, sekalipun penulisnya mati. Dan, wafatnya penulis produktif Hernowo Hasim pun membuktikannya.

Meski almarhum Hernowo telah berpulang, tapi kita yakin bahwa puluhan buku karyanya akan terus “hidup”, selalu dibaca, menjadi sumber pembelajaran dan semakin menginspirasi. Karena memang, buku-buku Hernowo begitu bergizi.

“Bacaan yang bergizi.” Kalimat ini sebenarnya juga mengacu pada ucapan yang seringkali disampaikan almarhum ketika menjadi pembicara kelas menulis maupun membaca.

Seperti yang bisa kita tonton dalam video YouTube yang diunggah yulef dian pada 29 Desember 2014. Judul video ini “Hernowo Hasim : Free Writing”. Dalam tayangan ini, almarhum Hernowo mengatakan:

“Mengartikan membaca bukan sekadar membaca, tapi juga kemampuan untuk memilih bacaan. Andaikan buku itu sepotong kertas, maka kertas itu sebenarnya sebuah konsep membaca yang memampukan seseorang untuk memilih bahan bacaan. Nah bacaan-bacaan yang harus dipilih tentu yang bergizi. Pizza mungkin tidak bergizi, tapi itu sebagai ajakan untuk meringankan bahwa membaca itu seperti makan Pizza, misalnya. Nah memilih bacaan yang bergizi itu kemampuan yang  jarang dimiliki oleh orang-orang yang suka membaca sekalipun.”

Terhenyak juga rasanya ya, manakala menyimak sekali lagi apa yang disampaikan almarhum Hernowo, bahwa memilih bacaan yang bergizi adalah merupakan kemampuan yang jarang dimiliki oleh orang banyak. Bahkan, termasuk kita yang suka merasa bangga untuk menuliskan “Membaca” sebagai isian kolom ketika diajukan pertanyaan: Hobi?

o o o O o o o

Hernowo Hasim lahir di Magelang, Jawa Tengah, 12 Juli 1957. Selain penulis, almarhum juga motivator untuk menulis dan membaca, serta Chief Editor di Penerbit Mizan. Ia memang bergabung di Mizan pada 1984 atau satu tahun sesudah Mizan berdiri. Dalam profil di buku Mengikat Makna Update disebutkan, Hernowo bergabung di Mizan setelah mendapat pengaruh dari sahabat dekatnya ketika berkuliah di Jurusan Teknik Industri ITB yang sekaligus pendiri Mizan, Haidar Bagir.

Tercatat, sejak 2008, almarhum Hernowo menjadi salah seorang anggota Dewan Komisaris Mizan Pustaka. Sebelum didapuk jadi anggota Dewan Komisaris, almarhum terlebih dahulu menjabat CEO Mizan Learning Center (MLC). Karier profesionalnya di Mizan dimulai dari bagian produksi, kemudian pindah ke redaksi. Karena kerja keras dan kepiawaiannya bekerja, pada 1997, almarhum dipilih untuk menduduki posisi General Manager Editorial Penerbit Mizan. Disinilah kemudian hidupnya drastis berubah, ketika pada 1999 ia menerima amanah tanggung-jawab untuk mengelola penerbit baru, Kaifa.

Oh ya, antara “2H” (Hernowo dan Haidar), pembaca bisa menemukan dengan mudah bahwa keduanya memang pernah saling melempar pujian. Haidar Bagir umpamanya, pernah menulis menyebut Hernowo dengan sebutan “sufi”. Memang bukan sufi dalam makna an sich, melainkan “sufi” baca-tulis. Begini selengkapnya, “Dari sebuah monumen kerja keras pengembangan diri, Hernowo telah bermetamorfosis menjadi seorang “sufi” baca-tulis.”

Sementara almarhum Hernowo tak mau kalah. Ia menyebut sahabatnya itu sebagai sosok yang sudah banyak membantu dalam membangun dirinya. “Haidar sesungguhnya juga bukan hanya sahabat saya; dia bagaikan penerang jiwa saya. Saya tidak akan menjadi seperti ini jika tidak diberi kesempatan bersentuhan dengan pikiran-pikiran dan juga canda-canda (guyonan)-nya.”

Produktivitas almarhum begitu luar biasa . Tercatat, hanya dalam tempo empat tahun (2001-2004), sebanyak 24 bukunya terbit. Diantaranya meraih prestise sebagai buku dengan penjualan terbaik yaitu Mengikat Makna (2001) – dicetak sebanyak tujuh kali -, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza (2003), Quantum Reading (2004), dan Quantum Writing (2004).

Sedangkan pada 2009, almarhum meluncurkan bukunya yang ke-35 yaitu Mengikat Makna Update. Terkait buku ini, dalam testimoninya di sampul belakang, A Malik Fadjar, mantan Mendiknas RI dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang menyebut, “Kehadiran buku ini semakin memperkuat dasa-dasar pedagogi dan sarat makna.”

Sedangkan Ratna Megawangi selaku pendiri Indonesia Heritage Foundation (Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter) menulis, “Buku ini adalah bukti betapa produktif dan kreatifnya Mas Hernowo. Tulisan-tulisannya enak sekali dinikmati dan senantiasa menghadirkan sesuatu yang baru.”

A Malik Fadjar dan Ratna Megawangi, tentu hanya segelintir pembaca yang membenarkan secara sungguh-sungguh apa yang pernah ditegaskan Kaifa ketika mengantar profil Hernowo dan Karya-karyanya, yaitu “Ciri buku-buku karya Hernowo: ditulis dalam bahasa obrolah dan dikemas dengan ringan.”

sad-crying-pencil-cartoon-character-isolated-white-background-eps-file-available-49657116

Ilustrasi pensil menangis. (Sumber: dreamstime.com)

Almarhum Hernowo pernah juga mendirikan “Sekolah Menulis Mengikat Makna via Email”. Ia juga mengelola “Klinik Baca Tulis” sejak 2004. Penghargaan yang pernah diraih almarhum, diantaranya adalah ketika pada 2006. Lantaran keaktifan dan produktivitas almarhum dalam menggalakkan budaya baca-tulis, Panitia World Book Day Indonesia I menahbiskan almarhum, sebagai penulis yang sukses menginspirasi dan membangkitkan gairah atau semangat para pembaca bukunya untuk menjalankan aktivitas membaca dan menulis yang memberdayakan.

Ya, semangat Hernowo Hasim adalah semangat berbagi. Semangat menularkan juga kebiasaan-kebiasaan baik dalam kegiatan baca-tulis. Terbukti dari apa yang pernah disampaikan almarhum Hernowo dalam tayangan video YouTube tadi. Almarhum berkata:

“Ketika kita membaca, kita sebenarnya sedang memasukkan sesuatu yang berharga ke dalam pikiran. Tapi bagi saya itu tidak cukup. Saya harus kemudian mengeluarkan atau mengolah lagi apa yang kita masukkan tadi itu menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Inilah yang kemudian saya jadikan sebagai konsep Mengikat Makna.”

Selanjutnya, sambil mengacu kepada penulis fiksi A.S. Laksana, yang dinilainya hebat, almarhum Hernowo mengajarkan tips praktis untuk menjadi penulis buku best seller. Tips praktis sekaligus berdalilkan pada logika sederhana. Begini petuah almarhum:

“Bagaimana Anda bisa menulis buku best seller kalau tidak pernah membaca buku best seller, misalnya. Ini logika yang sederhana saja. Jadi kegiatan membaca itu adalah sebuah cara belajar bagaimana kita bisa mengikuti, saya tidak ingin mengatakan meniru karena bisa dianggap sebagai copy paste. Jadi kita kalau tidak tahu buku yang best seller seperti apa, ya jadi bagaimana kita bisa menulis buku best seller. Atau, kalau kita ingin menulis suatu topik tertentu ya maka kita cari buku tersebut untuk membantu kita untuk memberikan pengetahuan.”

Apa yang disampaikan almarhum Hernowo konsisten dengan kalimat yang pernah disampaikannya juga dalam berbagai forum pembelajaran. Pesannya memang makjleb. Begini katanya: “Penulis yang baik, karena ia menjadi pembaca yang baik.”

Almarhum Hernowo menikah dengan gadis pujaan hatinya, Ana, dan dikaruniai empat buah hati: Fikri, Fifi, Luki, dan Dani. Kelima nama ini pernah disebut-sebut secara khusus oleh almarhum Hernowo sebagai orang-orang tercinta yang memberi bantuan dan kehangatan bagi dirinya dalam menuliskan banyak buku. Selain itu, almarhum Hernowo juga sering menujukan rasa terima kasihnya dalam prakata buku karyanya kepada rekan-rekan semasa studinya di Teknik Industri ITB 1976, SMA Negeri 1 Magelang, dan milis Klub Guru Indonesia (KGI).

o o o O o o o

Kepergian untuk selama-lamanya Hernowo Hasim yang saya baca melalui unggahan status Facebook Bambang Trim, tertanggal 25 Mei 2018, memang membawa kabar duka bagi dunia literasi Indonesia. Bambang Trim tak lain adalah  Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia, dan Pendiri Institut Penulis Indonesia. Sosok almarhum Hernowo dianggap sebagai teman sekaligus “suhu” oleh Bambang. Tak hanya itu, kepergian almarhum Hernowo di usia 61 tahun, sontak mengejutkan dan membawa duka lara bagi pelaku perbukuan dan lebih khusus lagi relawan literasi.

“Saya termasuk yang sangat kehilangan karena beliau menjadi “pendukung” saya dalam memperjuangkan daya literasi. Kami sepaham dan sehati. Mas Hernowo dengan kondisinya yang sudah mulai sakit, tetap bersemangat mengalirkan ilmu Mengikat Makna kepada para guru dan siswa di dua kampung, di pelosok Purwarkarta. Ia tetap bersemangat menempuh perjalanan jauh dari Jakarta,” tulis Bambang Trim di Kompasiana.

Rasa kehilangan Bambang sejatinya adalah cermin kehilangan kita semua terhadap sosok almarhum Hernowo yang memang patut “digugu dan ditiru” alias guru.

Berikut ini beberapa nasehat yang pernah ditulis almarhum Hernowo dalam bukunya Mangikat Makna Update. Begini tulis almarhum di halaman 25:

Yang perlu ditempuh agar potensi menulis mencuat:

  • Menulis untuk menyingkap diri.
  • Menulis untuk menjelajah diri.
  • Menulis untuk mengungkapkan diri.

Dari bahasa yang digunakan dalam ketiga langkah tersebut, jelas terlihat bahwa diri sangat dipentingkan dalam berproses menulis.

Syarat sukses menulis untuk orang lain:

  • Memadukan kegiatan membaca dan menulis. Dalam istilah saya, konsep ini bernama “mengikat makna”. Sekali lagi, menulis memerlukan membaca dan membaca memerlukan menulis.
  • Menemukan model atau teladan menulis. Stephen King dan J.K. Rowling saya manfaatkan sebagai model saya dalam menulis yang ditujukan untuk orang lain. Saya belajar banyak tentang cara dan sikap menulis dari dua penulis hebat tersebut.
  • Memiliki sikap dalam menulis. Sikap yang perlu dibangun dalam memilih adalah terbuka, jujur, dan bertujuan (senantiasa diarahkan untuk mendapatkan manfaat).

Terima kasih “suhu”, selamat jalan “Sang Pengikat Makna”. Doa kami menyertai almarhum Pak Hernowo Hasim …

Iklan
IMG_20180428_200930

BATIK TANGSEL. Tulisan OPINI ini sudah dimuat Koran TANGSEL POS edisi 28-29 April 2018. (Foto: Dokpri. Gapey Sandy)

       Dari sekian banyak atraksi yang ditampilkan pada Parade Budaya Tangsel, akhir April ini, tidak terlihat sama sekali informasi tentang batik khas Tangsel. Bukannya tidak menghargai kerja panitia atau mengecilkan nilai budaya dari setiap atraksi maupun penampilan yang ada. Tidak! Tapi, sudah saatnya batik Tangsel turut ambil bagian dan dipertunjukkan kepada dunia. Sesudah itu, menjadi pekerjaan rumah Pemkot dan kita semua untuk mengembangkan, menggunakan dan melestarikan.

Pertanyaannya, batik Tangsel itu apa benar sudah ada? Jawabannya, ada. Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie beserta staf seringkali kedapatan mengenakan busana batik Tangsel. Sewaktu acara Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) di Puspiptek, Serpong beberapa waktu lalu misalnya. Ketika itu, busana batik Tangsel yang dikenakan Walikota Airin Rachmi Diany merupakan karya dari salah seorang pembatik lokal Tangsel.

Busana batik Tangsel yang dikenakan itu, memiliki warna dasar hijau tosca dan merah hati. Lantas apa saja motif batik dan makna filosofis yang menyertainya? Ternyata, ada beberapa motif khas Tangsel yang tergambar dalam sehelai kain batik tersebut. Mulai dari motif kacang kulit sangrai, yang bermakna bahwa Tangsel merupakan salah satu produsen kacang kulit sangrai berkualitas. Para pengrajin kacang kulit sangrai ini terutama berada di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Ada juga motif yang menggambarkan permukaan perairan, dimana ini menunjukkan betapa Tangsel memiliki sejumlah area perairan dalam bentuk situ-situ yang harus dijaga kelestariannya. Tak ketinggalan, motif bunga Anggrek van Douglas yang terus diusahakan untuk menjadi ikon Kota Tangsel.

Selain Walikota Airin Rachmi Diany saja yang mengenakan seragam batik Tangsel dengan macam-macam motif khas tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Puan Maharani juga tampak mengenakan busana batik yang sama.

Sebagai catatan tambahan, batik Tangsel dengan motif senada juga pernah dijadikan seragam khusus bagi kafilah Tangsel ketika mengikuti Musabaqoh Tilawatil Quran tingkat Provinsi Banten pada 2017. Sementara itu, ketika membuka pelaksanaan Hari Keluarga Nasional ke-XXII pada 2015 di BSD City, Presiden Joko Widodo, Gubernur Banten Rano Karno beserta sejumlah menteri kabinet, tuan rumah dan panitia lain secara berseragam mengenakan busana batik Tangsel berwarna hijau tosca dengan motif dominan bunga Anggrek van Douglas.

Melihat fakta dan data tersebut, jelas bahwa batik Tangsel sudah mulai muncul. Katakanlah, seiring lahirnya Kota Tangsel yang pada 26 November 2018 nanti akan genap berusia sepuluh tahun.

Sejauh ini, pengrajin batik Tangsel boleh dianggap belum memiliki motif khasnya sendiri. Apalagi, bunga Anggrek van Douglas yang hendak dijadikan ikon kota juga belum secara formal ditetapkan, meskipun sosialisasi untuk itu sudah terus dilakukan. Percaya atau tidak, bahkan karpet yang menutupi lantai di ruang auditorium lantai 4 Gedung Kantor Walikota Tangsel pun sudah bermotif bunga Anggrek van Douglas, lengkap dengan warna khas hijau tosca. Makanya, tidak heran pengrajin batik Tangsel terus berusaha menggali dan mengeksplorasi motif-motif khas Tangsel untuk “dilukiskan”. Muncul kemudian motif Rumah Blandongan, Ondel-ondel, Letusan Gunung Krakatau, Badak bercula satu, Rerimbunan tanaman bambu, Ayam Wareng, Gerbang Tigaraksa, Ular Naga, Kipas Keraton Kesultanan Banten, Golok Jawara dan masih banyak lagi.

Ditilik dari nama-nama motifnya itu, semua pasti mahfum bahwa batik Tangsel masih belum bisa lepas kaitannya dengan seni budaya wilayah sekitar yang bertetanggaan. Dalam hal ini tentu saja Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Provinsi DKI Jakarta. Selain Provinsi Banten, tentu saja. Artinya, belum ada kesatuan pandang bahwa motif tertentu adalah menjadi motif khas batik Tangsel. Mungkin bisa menjadi kenyataan manakala kelak bunga Anggrek van Douglas sudah dinyatakan resmi sebagai ikon kota.

Dari segi motif khas saja, batik Tangsel sudah kalah selangkah dengan batik tetangga yaitu batik Kota Tangerang. Karena, di Kelurahan Larangan Selatan, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, sejak 2011 lalu sudah hadir yang namanya Kampoeng Batik Kembang Mayang. Disebut Kembang Mayang karena lokasi memang berada di Perumahan “Kembang” Larangan, tepatnya Jalan “Mayang”. Para ibu-ibu pengrajin batik di sana malah sudah banyak yang memperoleh sertifikasi membatik resmi. Tidak hanya itu, mereka sudah memperkenalkan satu motif khas yang menjadi acuan sekaligus panduan. Namanya, motif Kembang Mayang.

Motif ini berupa bunga dengan sembilan sulur. Bunganya setengah lingkaran dengan bulatan besar sebagai pusat tengahnya. Makna filosofis dari motif ini adalah kebersamaan dalam lingkungan yang beragam (unity in diversity). Adapun motif sulur-sulur dimaknai sebagai gambaran masyarakat yang selalu bergerak, beraktivitas menjalani kehidupan masing-masing tetapi tetap terhubung dalam kehidupan masyarakat yang rukun, guyub dan saling tolong-menolong (strengthening the relationship).

Hebatnya, kini semakin banyak pengunjung yang belajar membatik di Kampoeng Kembang Mayang. Perlahan tapi pasti, proses membatik yang tadinya hanya menjadi pengisi waktu senggang para ibu-ibu di perumahan tersebut, bergerak menjadi putaran roda ekonomi yang berdampak pada kesejahteraan bagi para anggotanya.

Jangan mau kalah. Batik Tangsel harus terus dimunculkan. Para pengrajin yang sudah menjadi pionir hendaknya diberi motivasi oleh Pemkot agar supaya merekatidak hanya melulu memproduksi karya kreatif wastra khas Tangsel, tapi juga mengajarkan dan menularkan keilmuan membatiknya. Lalu kemudian sama-sama membangun sentra industri batik di kota ini.

Untuk memulainya, musti ada komando tegas dan resmi dari Pemkot, bahwa Tangsel menetapkan motif batik khasnya sendiri, entah itu bunga Anggrek van Douglas, Kacang Kulit Sangrai atau lainnya. Adapun motif khas yang sudah ada dan masih terus dieksplorasi juga tetap harus diberi bantuan pembinaan juga kekuatan hukum dalam bentuk hak paten misalnya.

Kolaborasi Pemkot dengan pengrajin batik tentu sangat diharapkan. Sinergi yang apik, tekun dan sabar harus ditunaikan. Karena industri batik tidak bisa muncul dalam waktu singkat Ia perlu proses, tangan dingin pengrajin, dan pelukan hangat Pemkot dengan melakukan pembinaan. Tanpa itu, jangan harap ada batik Tangsel. Kalau ini yang terjadi, masyarakat Tangsel hanya akan terus-menerus belanja busana batik sesuai motif pesanan ke luar wilayah Tangsel, untuk kemudian digunakan manakala ada seremonial, dan dengan bangga ramai-ramai menganggap busana tersebut sebagai batik Tangsel. Padahal, itu jauh panggang dari api. (*)

[Penulis adalah anggota Komunitas Blogger Tangsel, Sekretaris RW 013 Pamulang Barat]

*) Tulisan OPINI ini dimuat Koran TANGSEL POS edisi 28-29 April 2018.

ZEN

Zen RS, editor Tirto.id. (Foto: panditfootball.com)

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 7 – 9 Februari 2018 di Padang, Sumatera Barat semakin meriah dengan pengumuman para penerima penghargaan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2017.

Ajang ini diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dengan tema yang bermuatan kepentingan orang banyak, humanis dan inspiratif. Selain itu, membangun pembentukan karakter bangsa dan merekat kembali jati diri NKRI.

Mereka yang meraih anugerah adalah:

1. Kategori Indepth Reporting “Dinamika dan Romantika di Sempadan Negeri (1-10)” karya Muhammad Amin yang dipublikasikan di Harian Riau Pos pada 18 Desember 2017.

2. Kategori foto jumalistik berjudul “Fase Kritis” karya Raka Denny yang dipublikasikan di Harian Jawa Pos pada 29 November 2017.

3. Kategori Jurnalistik Karikatur “Anti Pancasila” karya Budi Setyo Widodo yang dipublikasikan di harian Media Indonesia, 19 Juli 2017.

4. Kategori Jurnalistik Televisi “Berdamai dengan Maut di Kaseralau” karya Rivo Pahlevi Akbarsyah yang dipublikasikan di Trans 7 pada 10 Oktober 2017.

5. Kategori Jurnalistik Radio adalah “Saya Indonesia” karya Surya S.Thalib S.AP yang dipublikasikan di Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Nunukan, Kalimantan Utara pada 16 Desember 2017.

6. Kategori Jurnalistik Siber “Janji untuk Papua” karya A.Haryo Damardono yang dipublikasikan di Kompas.ID pada 1 Maret 2017.

7. Tirto.id berhasil meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2017 sebagai Media Siber Terinovatif.

Terpilihnya Tirto.id jelas sangat membanggakan. Karena faktanya, media siber ini baru running pada 2016.

Dewan juri – terdiri dari Nukman Lutfie, Manuel Irwanputera dan Merdi Sofansyah – menilai, Tirto.id punya konten yang konsisten mengusung prinsip komprehensif 5W+1H dan sesuai kaidah jurnalistik, kelengkapan berita dengan tampilan info-info grafis yang memudahkan pembaca memahami konteks sebuah berita, serta independen dalam kebijakan redaksinya.

Keren ya! Selamat buat Tirto.id sudah menerima hadiah uang cash Rp 10 juta, trophy dan piagam.

Zen RS selaku editor Tirto.id pagi tadi saya wawancarai. “Boleh wawancara, 5 menit aja ya Mas. Saya masih meeting, ini kebetulan keluar ruangan sebentar nge-rokok,” suara si empunya nama lengkap Zen Rachmat Sugito ini di speaker telepon.

Begini wawancara pendek saya dengan pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat pada 18 April 1981 ini:

o o o O o o o

ZEN 2

Zen RS, editor Tirto.id. (Foto: panditfootball.com)

Bagaimana menanggapi terpilihnya Tirto.id sebagai media siber terinovatif di Hari Pers Nasional 2018 ini?

Kalau dikatakan sebagai yang terinovatif, saya sendiri sebenarnya enggak tahu bagaimana kriterianya. Tapi dari semua penilaian itu, secara pribadi, saya paling senang dengan penilaian bahwa kami menjaga independensi.

Saya kira itu yang paling penting dan jauh lebih mendasar. Meskipun, untuk penilaian sesuai kaidah jurnalistik, dan kelengkapan berita melalui infografis yang mudah dipahami pembaca juga penting. Penilaian dewan juri bahwa Tirto.id itu independen dalam kebijakan redaksinya, buat saya bikin jauh lebih happy.

Kenapa malah independensi Tirto.id yang membuat Anda happy?

Ya karena independensi itu prinsip dasar jurnalisme. Kalau media kita sudah tidak independen lagi, maka apapun yang kita buat, entah itu infografis maupun laporan indepth maka semua itu tidak akan dipuji orang, tidak akan dianggap serius orang. Apalagi di tengah polarisasi masyarakat sekarang, tampaknya kalau kita bikin content bagus tapi dituduh macem-macem, itu juga membuat tingkat keterbacaan artikel juga jadi rendah.

Buat saya, independensi adalah hal paling penting. Adapun hal-hal lain yang disebutkan oleh dewan juri itu anggap saja bonus.

Kok bisa tetap independen, bukankah sekarang eranya makin sulit untuk menegakkan sikap itu?

Sikap independen itu bukan berarti tidak boleh mengeritik, juga tidak boleh memuji. Independensi itu artinya adalah ketika sebuah media menulis A, B, C atau D, semua dilakukan bukan karena ada pretensi mendukung maupun menyerang. Independensi adalah suatu sikap dimana sikap itu didasarkan pada kemerdekaan si pembuat content-nya.

Misalnya, kalau kami mengeritik Anies Baswedan bukan berarti Tirto.id pro pada pihak lawan sebelahnya. Sebaliknya, kalau Tirto.id memuji Anies bukan berarti kami pro, melainkan karena memang begitulah faktanya. Saya kira itu bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Cukup banyak kok media-media yang independen. Tirto.id bukan satu-satunya, malah mungkin juga karena Tirto.id dianggap media siber baru jadi layak untuk diapresiasi.

Bahwa ini genre Jurnalisme Data dan memperoleh apresiasi yang membanggakan, bagaimana komentarnya?

Tirto.id sebenarnya masih banyak perlu belajar. Sebenarnya, soal Jurnalisme Data itu bukan hal yang baru-baru amat. Mungkin saja karena sekarang ini semuanya menjadi lain, karena ada teknologi dan internet sehingga data itu dimengerti dengan menjadi lain bila dibandingkan sebelum era digital. Data itu berlimpah ruah sekarang, sehingga muncul istilah Big Data dan lainnya.

Saya kira, setiap media juga menggunakan data. Saya kira, kalaupun Tirto.id dinilai sedikit banyak mempraktikkan Jurnalisme Data, karena memang sejak awal berdiri kami memang ingin mewujudkan itu. Kami mendesain adanya Tim Riset dan Data sejak awal. Karena memang tujuan kami adalah banyak memberi tempat buat data kualitatif maupun kuantitatif. Jurnalisme Data memang salah satu core yang memang ingin kami perkuat, terus-menerus kami perkuat, dan ini masih jauh kok dari ideal.

Bagaimana dengan profit bisnisnya nih?

Pada tahun pertama, kami memang belum perlu menerima iklan karena merasa masih banyak hal yang perlu diberesin, mulai dari tampilan website, mobile site dan lainnya. Pada tahun kedua kami juga masih membereskan tampilan website, mobile site, dan sekarang mengarah ke finalisasi tampilan desktop juga apps.

Barulah sejak Agustus 2017, kami mulai mencoba potensi dengan menggali revenue melalui iklan. Tidak luar biasa banyak iklannya tetapi trennya sudah sangat positif. Pilihan kami juga bukan iklan yang dipasang kiri-kanan, atas-bawah dengan banner yang menutupi halaman tampilan. Konsep iklan kita lain. Teman-teman bisa lihat sendiri bagaimana kami mempresentasikan iklan.

Mas Zen, saya minta fotonya dong?

Wah, cari aja di Google banyak, Mas. Foto apa aja yang ada ambil aja, enggak apa-apa.

o o o O o o o

ZEN 4

Tampilan Tirto.id. (Sumber: Screenshot Tirto.id)

Pada Mei tahun lalu, Zen RS pernah menjadi pembicara di Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa (PJM) yang digagas Lembaga Pers Mahasiswa ASPIRASI UPN Veteran Jakarta. Waktu itu, pendiri panditfootball.com ini menyampaikan materi tentang Jurnalisme Data. Seperti kita tahu, jurnalisme model ini juga yang “dimainkan” Tirto.id.

Dalam makalahnya, Zen mengutip sejumlah pendapat para pakar tentang Apa itu Jurnalisme Data?

* Jurnalisme data adalah mendapatkan, melaporkan, mencengkeramdan mempublikasikandata untuk kepentingan umum.” [Jonathan Stray]

* Jurnalisme data yaitu konvergensi sejumlah bidang dari penelitian investigasi dan statistik hingga desain dan pemrograman.” [Paul Bradshaw]

* Jurnalisme berbasis data terdiri dari unsur-unsur berikut: menggali jauhke dalam data dengan mengumpulkan, membersihkandan menyusunnya, memfilter untuk mendapat informasi spesifik, memvisualisasikannya dan membuat cerita.” [Mirko Lorenz]

Lalu mengapa Tirto.id mempraktikkan Jurnalisme Data, menurut Zen karena beberapa hal:

* Perkembangan cepat teknologi = Digitalisasi data makin besar.
* Menjelaskan cerita yang kompleks.
* Digabungkan dengan teknik reportase tradisional, cerita akan bisa disajikan lebih inovatif dan menarik.
* Zaman “open data”.
* Mengisi ceruk karena hanya sedikit wartawan profesional melakukan Jurnalisme Data
* Meningkatnya apresiasi terhadap konten bermutu, dan berpotensi menjadi konten berbayar atau berlangganan.

Apa yang dirintis awak Tirto.id mulai berbuah manis. “Padahal waktu mengawalinya dulu, kita cuma bertiga saja. Sekarang, bisa dilihat sendiri di informasi tentang Redaksi yang ada di website Tirto.id, jumlah personil Tim Riset saja ada 10 orang,” ujar Zen yang pernah ngidam ingin jadi pemain sepakbola profesional.

Tinggal penyempurnaan dan konsistensi yang masih harus ditunggu dari Tirto.id. Karena beberapa orang percaya, bahwa masa kritis tahap pertama keberlangsungan sebuah media adalah pada perjalanan 5 tahun pertamanya.

Sekali lagi, selamat buat Tirto.id …

= = = = =
CATATAN : Tulisan ini juga menjadi HEADLINE di Kompasiana edisi Jumat, 9 Februari 2018 (bersamaan dengan HARI PERS NASIONAL).

552851826ea834e0598b456d

Najwa Shihab ketika MataNajwa tayang di MetroTV. (Foto: metrotv)

Tanggal 10 Januari ini, MataNajwa kembali hadir. Tapi di “rumah baru”, Trans7.

Meninggalkan MetroTV setelah tayangan terakhir Wawancara Eksklusif dengan Novel Baswedan di sebuah tempat rahasia di Singapura, alasan lengsernya acara MataNajwa memang banyak dipertanyakan orang.

Mulai dari isu tidak betahnya Najwa Shihab (dan tim) dalam bekerjasama dengan pucuk-pucuk pimpinan MetroTV, sampai kepada gosip bahwa Najwa Shihab mundur karena bakal didapuk jadi anggota kabinet Pemerintahan Jokowi — Jusuf Kalla.

Rumor lain masih banyak, tetapi Najwa Shihab justru pilih puasa bicara. Kalaupun ditanya orang, ia akan menjawa secara diplomatis, bahwa dirinya sedang pergi untuk merantau.

Siang ini (8/12), Trans7 menggelar konferensi pers MataNajwa. Saya tonton melalui live streaming di akun facebook Trans7.

Dalam konferensi pers tersebut, saya menyimak bagaimana Najwa Shihab menjawab sejumlah pertanyaan sesama jurnalis. Semuanya berkisar isu dan alasan “bedol desa”-nya program talkshow terfavorit ini dari MetroTV ke stasiun televisi milik taipan atau konglomerat Chairul “Anak Singkong” Tanjung.

Setidaknya, ada beberapa catatan yang bisa disampaikan sebagai intisari konferensi pers tersebut.

Pertama, alasan kepindahan MataNajwa dari “Kedoya, Jakarta Barat” ke “Kapten Tendean, Jakarta Selatan”. Putri kandung ulama Prof Quraish Shihab ini menuturkan, kembalinya tayangan MataNajwa bukan karena diniatkan untuk jadi “kutu loncat” dari satu stasiun televisi ke stasiun lainnya.

“Semuanya mengalir saja. Ketika, MataNajwa dalam masa jeda, memang ada banyak tawaran untuk berkolaborasi. Salah satunya dari Trans7. Tawaran ini kemudian kami jajaki, dan akhirnya MataNajwa berjodoh dengan Trans7,” ujar Nana, sapaan akrabnya.

Jawaban Nana jelas belum membongkar rasa penasaran publik, mengapa ia “tega” meninggalkan MetroTV yang sudah berjasa turut membesarkan namanya (dan tayangan MataNajwa).

Entahlah, mungkin pada awal konferensi pers berlangsung, mungkin Nana sudah menjelaskan faktor utama alasan “minggat”-nya ia dari MetroTV. Who knows? Karena, maklum saja, live streaming di facebook Trans7 itu saya tonton sampai durasi 9 menit 13 detik saja.

Pun begitu, kita mahfum, sebagai profesional, Nana pasti tetap tidak akan sudi membongkar semua tentang apa yang sesungguhnya terjadi antara dirinya, tim MataNajwa bersama pihak MetroTV.

ok-6-56d03ba481afbd345ccf6f1a

MataNajwa yang diasuh Najwa Shihab ketika masih mengudara di MetroTV. (Foto: metrotv)

Kedua, sepanjang masa jeda (5 bulan), sejak episode terakhir Wawancara Eksklusif dengan Novel Baswedan di MetroTV pada 8 Agustus 2017, Nana sebenarnya terus berkarya. Ia tidak pernah meninggalkan “job”-nya sebagai host. Hanya saja, Nana dan tim MataNajwa mencoba channel baru yaitu “televisi” digital YouTube.

Ketika ada jurnalis bertanya, mengapa pilih berlabuh di Trans7 yang notabene bukan televisi berita seperti MetroTV? Lantas, bagaimana dengan nasib televisi digital MataNajwa (atau Catatan Najwa Shihab) di Yotube, Nana menjawab dengan secara diplomatis. Lagi-lagi tanpa mau menyinggung MetroTV tentunya.

“Televisi dan media digital tidak bertolak belakang, tapi saling melengkapi. Bukan harus memilih salah satu, tapi kesempatan berkarya memang ada di dua medium (penyiaran) tersebut. Maka, inilah yang MataNajwa upayakan untuk optimalkan dan maksimalkan. Kami akan terus melakukan kedua-duanya,” kata Nana.

Perempuan dengan mata yang indah ini menambahkan, survei membuktikan, bahwa 90% penduduk Indonesia yang berusia di atas 12 tahun, masih sestia menonton televisi untuk mencari informasi.

“Sedemikian kuat, powerful-nya media televisi, sekaligus menjadikan ini sebagai beban dan tanggung jawab kami untuk menghasilkan konten berkualitas. Menjadi penyampai informasi tidak mengaburkan fakta, dan melatih orang memilih serta memilah keputusan yang tepat,” kata perempuan yang lahir di Makassar, 16 September 1977 ini.

Hmmmm .., setidaknya kita senang untuk memegang pernyataan Nana nih, bahwa ia tidak akan meninggalkan medium channel digitalnya di YouTube. Apalagi, per Januari 2018, subscriber-nya sudah mencapai 213 ribu, termasuk saya dong.

Ketiga, sebelum MataNajwa tayang perdana di Trans7, kita masih belum tahu, bakal seperti apa tampilan program talkshow kenamaan yang sudah banyak menyabet berbagai prestasi prestisius ini. Tapi, jebolan Melbourne Law School (2000) ini menjanjikan, MataNajwa “reborn” akan memiliki tim kerja yang apik bersama punggawa dan awak Trans7.

Selain, ini yang paling penting, MataNajwa tidak akan meninggalkan karakter lama. Apa sajakah itu? Ini yang diucapkan Nana:

  • Melihat dan menayangkan isu-isu yang penting.
  • Menelisik politisi.
  • Menyandingkan ambisi dengan rekam jejak narasumber.
  • Mengangkat isu anti korupsi.
  • Mengangkat isu toleransi.
  • Kritis membedah persoalan.
  • Tetap mengedepankan independensi.
  • Dan, non partisan.

Delapan karakter lama MataNajwa di MetroTV ini sudah dijanjikan Nana bersama tim kerjanya untuk tidak di-delete pada tampilan-tampilan talkshow di Trans7.

Kita belum bisa menilai, apakah semuanya akan diterapkan, atau sebaliknya. Tidak elok rasanya menilai, sebelum “mencicipi” tayangan demi tayangan MataNajwa di saluran televisi milik “Anak Singkong” tersebut.

Meskipun, kita yakin dan berharap, lontaran-lontaran pertanyaan nakal, maupun pernyataan “nyinyir” Nana yang selalu makjleb tidak akan hilang. Pengalaman jualah yang akan membuktikan, karena total 511 tayangan MataNajwa selama berkarir di MetroTV pasti bukan jumlah yang “kacangan”. Sosok pewawancara “nakal” sudah melekat dalam setiap penampilan Nana, bukan?

Untitled-1 copy

Konferensi Pers MataNajwa di Trans7. (Foto: Akun FB Trans7)

Keempat, apa yang jadi pemacu kerja Nana dalam come back-nya sebagai tuan rumah MataNajwa di Trans7? Dalam konferensi pers terungkap, pengalamannya sebagai wartawan politik selama 17 tahun yang akan menjadi modal bagi dirinya untuk senantiasa menyajikan tayangan yang mengangkat isu-isu penting menjadi menarik.

“Kalau hanya isu-isu yang populer, atau isu-isu yang gampang dicerna, tidak ada tantangannya,” ujar Nana yang pernah menjalani program diet ketat ini.

Begitulah. Akhirnya, Najwa Shihab bicara juga. Meski belum menjawa semua rasa kepo para penggemar dan penikmat tayangannya, tetapi kerja MataNajwa untuk kembali hadir dan mengudara sangat patut ditunggu setiap Rabu malam jam 20.00 wib. Hari dan jam yang sama dengan tayangan MataNajwa semasa masih di MetroTV.

Setidaknya, kita akan kembali rame-rame duduk dan khusyu menyimak tayangan MataNajwa. Sesudah itu, seperti biasa, akan ada banyak status dari para penggiat media sosial yang mengomentari tayangan tersebut, entah di facebook, twitter dan sebagainya. Termasuk, cuplikan tayangan yang kemudian beredar di YouTube.

Memang, Indonesia ini butuh Najwa Shihab, butuh MataNajwa, untuk melepaskan penat politik, lelah nurani atas ketidakadilan dan korupsi. Tayangan talkshow ini memang masih belum ada tandingannya, kecuali acara sejenis yaitu program talkshow “Perspektif” dengan host Wimar Witoelar.

Perantauan Nana

Oh ya, kalau sempat saya sebut bahwa Nana pernah menjawab dirinya pergi meninggalkan MetroTV untuk merantau, ini memang sempat diutarakannya ketika menjawab pertanyaan Glenn Fredly yang ditimpali Tompi dalam satu kesempatan dialog pada September 2017 atau sebulan sejak ia resmi resign dari MetroTV.

“Saya sudah 17 tahun di Metro TV dan angka 17, orang yang usia 17 itu sudah dewasa. Sudah … kalau sekolah itu sudah lulus SMA, dan biasanya orang yang sudah lulus SMA itu ingin merantau. Merantau untuk mencari pengalaman, untuk mencari tempat menimba ilmu yang baru
jadi itu alasannya kenapa saya memutuskan merantau,” ungkap Nana ketika itu.

Yup, kini perantauan Nana berhenti. Ia berlabuh di Trans7. Kembali menjadi tuan rumah MataNajwa yang selalu dirindukan show-nya, termasuk ketika ia membacakan Catatan MataNajwa pada setiap episode tayangannya. Sebuah Catatan yang selalu tulus, meluruskan kewarasan, netral tapi memihak pada keadilan.

Selain itu, berjodohnya MataNajwa dengan Trans7 kembali menyiratkan bahwa memang Nana ingin menjadi seperti host talkshow dunia yang dikaguminya. Siapa lagi, kalau bukan Oprah Winfrey!

“Saya terobsesi ingin menjadi Oprah Winfrey. Saya kagum dengan Oprah karena berasal dari kelas kecil dan termarjinalkan. Semua orang yang kerja di televisi, apalagi yang punya acara bincang-bincang, pasti ingin seperti Oprah. Ia jadi orang berpengaruh di Amerika. Sampai-sampai Presiden saja ingin datang ke acara talkshow-nya. Beda umur saya dengan Oprah kan 18 tahun. OK, jadi saya masih punya waktu 18 tahun buat jadi Oprah … hahaha,” ujar Nana sepeti dimuat dalam buku Berguru News Anchor Pada NajwaShihab karya Kompasianer Brilianto K. Jaya.

Ya, ketika MataNajwa berhenti tayang dari MetroTV, saya sudah jauh-jauh hari punya keyakinan bahwa Nana pasti akan come back suatu hari nanti. Sebagai orang yang pernah juga menjadi host talkshow di radio, saya bisa merasakan kok, betapa keinginan untuk siaran lagi itu seperti “candu”. Apalagi dengan kekisruhan sana-sini dan ini-itu yang terpapar gamblang setiap hari. Keyakinan saya terbukti.

1421374531920374184

MataNajwa ketika masih MetroTV. (Foto: metrotv)

Selamat mengudara kembali MataNajwa.

Wujudkan obsesi menjadi Oprah Winfrey.

Perantauan sudah berakhir. Setidaknya untuk sementara ini dengan berlabuh di Trans7.

Masalahnya, kalau memakai diksi “merantau” maka suatu saat pasti akan kembali. Entah kembali lagi ke “Kedoya, Jakarta Barat”, atau maksudnya kembali untuk mengudara seperti sediakala lagi.

Ah .. Nana

(Tulisan ini juga sudah diunggah ke Kompasiana, edisi 8 Januari 2018)

* * *

Baca juga tulisan-tulisan saya tentang Najwa Shihab dan MataNajwa lainnya:

‘Mata Najwa’ Sukses Mainkan Emosi Megawati

Menjadi Seperti Najwa Shihab

Najwa Shihab ‘Keteteran’ Hadapi Ignasius Jonan

Najwa Shihab Kurang Greget Wawancarai Gibran “Biasa Aja”

Najwa Shihab Mengidolakan Orang Ini

Aguslina Angkasa - SU 8

Adit Pramudita, siswa kelas 7 SMPN 2 Donorojo, Pacitan, Jawa Timur mengaku termudahkan mengerjakan soal-soal dengan Metode Gasing. (Foto: Gapey Sandy)

“Dengan menggunakan Metode Gasing, saya merasa mengerjakan soal-soal Matematika itu jadi lebih mudah dan cepat. Misalnya, untuk soal penjumlahan. Tinggal melakukannya saja dari depan. Atau, dari satuan yang paling besar. Kalau puluhan ya dijumlahkan dengan puluhan. Sedangkan satuan ya dijumlahkan dengan satuan.”

Begitu yang disampaikan Adit Pramudita. Siswa kelas 7 SMPN 2 Donorejo, Pacitan, Jawa Timur ini adalah salah seorang peserta program Pelatihan Matematika dan Fisika Metode Gasing (Gampang, Asik dan Menyenangkan) batch 2 yang diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR), bekerjasama dengan Surya Institute pimpinan Prof Yohanes Surya PhD di Tangerang City, Tangerang, Banten.

Diikuti oleh 12 guru SMPN yang juga mengajak 12 siswa berprestasi pada bidang studi Fisika dan Matematika, program batch 2 ini berlangsung selama dua bulan (11 September – 1 November 2017). Mereka lolos seleksi yang telah dilaksanakan jauh sebelumnya di wilayah sekolah binaan YPA-MDR, seperti di Bogor, Gunung Kidul, Bantul, Kupang, Lampung Selatan dan Pacitan.

Sebelumnya, program yang sama untuk batch 1 sudah rampung. Tepatnya, program Pelatihan Matematika Metode Gasing yang diselenggarakan pada 6 Maret – 5 Mei 2017 di lokasi yang sama. Bedanya, batch 1 dikhususkan bagi guru dan siswa SDN.

Aguslina Angkasa - SU 4

Foto bersama usai melaksanakan pendidikan dan pelatihan Metode Gasing tingkat SMP dengan mata pelajaran Matematika dan Fisika. (Foto: Gapey Sandy)

Hari terakhir pelaksanaan program Pelatihan Matematika dan Fisika Metode Gasing, Rabu, 1 November 2017 kemarin, selain diisi dengan acara penutupan program, juga dilakukan serah terima perwakilan guru dan siswa peserta secara simbolis, dari Surya Institute kepada Ketua Pengurus YPA-MDR, Herawati Prasetyo.

“Harapan kami, para guru dan siswa mampu menerapkan dan mengimbaskan ilmu Metode Gasing ini di lingkungan sekolahnya sendiri, lalu kepada sekolah-sekolah lain yang masih tergabung dalam satu gugus di daerah masing-masing. Hal ini merupakan bagian atas kewajiban dari guru-guru utusan program Pelatihan untuk melakukan pengimbasan sebagai tindak lanjut dari program pelatihan ini. Dengan begitu, gerakan ini diharapkan dapat menciptakan generasi-generasi cerdas yang meningkat prestasi akademiknya di Indonesia,” tutur Herawati seraya menyebut hal demikian sebagai bentuk kepedulian bersama.

Selain itu, besar harapan agar kerja nyata YPA-MDR ini dapat memenuhi salah satu criteria sebagai Sekolah Unggul dan menciptakan generasi muda yang cerdas di Indonesia, sehingga cita-cita Astra yakni “Sejahtera bersama Bangsa” dapat terwujud.

Aguslina Angkasa - SU 12

Herawati Prasetyo, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR). (Foto: Gapey Sandy)

“Definisi Sekolah Unggul adalah misalnya sekolah yang sudah bisa berdiri sendiri, termasuk memiliki ISO, juga sekolah itu sudah menjadi ICT based. Ini yang memang kami harapkan dan targetkan, sesuai goal-nya Astra yakni “Pride of the Nation”, menjadi perusahaan yang membanggakan bangsa. Kami juga mempunyai cita-cita bahwa nantinya sekolah-sekolah binaan kami juga menjadi Pride of the Nation, menjadi sekolah kebanggaan bangsa ini,” optimis Herawati.

Bukan hanya Adit Pramudita, anak sulung dua bersaudara pasangan Supandi dan Sukartini saja yang sudah merasakan ampuhnya ‘jurus’Metode Gasing. Dea Oktavia pun begitu. Siswi kelas 7 SMPN 4 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat juga mengakui ‘kesaktian’ metode yang sama.

“Dengan pakai Metode Gasing, soal-soal Matematika misalnya, jadi jauh lebih mudah. Semua yang diajarkan pada pelatihan ini bikin kita jadi gampang menjawab soal-soal, sehingga kita juga makin asik dan senang. Contohnya, untuk soal-soal penjumlahan, pengurangan, perkalian dan persamaan linier. Misalnya penjumlahan 12 + 8. Awalnya, kita tulis 1, lalu 2 + 8 = 1 dan 0, kemudian 1 + 1 = 2. Maka, 2 dan 0 itu sama dengan 20. Begitu cara menjawab soal secara Gasing,” ujarnya sambil tersenyum bahagia.

Aguslina Angkasa - SU 9

Dea Oktavia, siswi kelas 7 SMPN 4 Leuwiliang, Kabupaten Bogor. (Foto: Gapey Sandy)

Bagaimana komentar para guru?

Adalah Imam Mutaqin, guru Matematika SMPN 2 Donorejo, Pacitan, Jawa Timur yang mengungkapkan keunggulan Metode Gasing. Menurutnya, metode ini memang berbeda dengan yang secara umum diajarkan untuk menjawab soal-soal pelik Matematika juga Fisika. Tetapi, justru disinilah letak keunikannya. Siswa malah jadi lebih mudah dan cepat menjawab pertanyaan soal.

“Memang, pada awalnya, Metode Gasing ini agak berbeda dengan apa yang sudah kami terima secara konvensional. Contohnya, kalau yang biasa itu, menghitung dari kanan terlebih dahulu. Nah, melalui Metode Gasing, kita menjumlahkannya malah dari kiri lebih dulu. Alasannya, karena kebiasaan kita membaca pun juga dari sebelah kiri,” terang guru kelahiran 14 April 1987 ini.

Bukan itu saja, materi pembelajaran yang seharusnya disampaikan selama tiga tahun di sekolah, ternyata hanya dalam tempo dua bulan selama pelatihan program ini, siswa sudah cakap dan menguasai seluruh materi.

Aguslina Angkasa - SU 11

Imam Mutaqin, guru mata pelajaran Matematika di SMPN 2 Donorojo, Pacitan, Jawa Timur. (Foto: Gapey Sandy)

“Ini luar biasa. Karena materi untuk kelas 8 dan 9 pun, seperti tentang Persamaan Garis Lurus, bisa dijawab oleh siswa kami yaitu Adit Pramudita yang notabene masih kelas 7. Artinya, Metode Gasing memang membuat siswa lebih cepat dan mudah dalam menangkap materi pembelajaran Matematika yang njlimet sekalipun,” tutur Imam bangga.

Pujian senada terhadap Metode Gasing diungkapkan Iis Sofia. Guru Matematika sekaligus Wali Kelas 7 di SMPN 4 Leuwiliang ini mengakui, selama dua bulan mengikuti program Pelatihan Matematika dan Fisika Metode Gasing batch 2, banyak sekali yang dapat dipelajari. Menarik semuanya. Mulai dari ilmu pengetahuan, pembentukan karakter dan utamanya mempelajari metode Gasing untuk menyelesaikan soal-soal Matematika.

“Metode Gasing sangat bermanfaat, karena dapat mengubah persepsi, bahwa pelajaran Matematika itu susah. Membuat anak-anak tertekan, stress, tapi ternyata, setelah mempelajari Metode Gasing, Matematika justru menjadi lebih gampang dan asik. Sehingga buat anak-anak, kalau sudah gampang dan asik, maka jadinya menyenangkan,” ujarnya kepada penulis.

Aguslina Angkasa - SU 10

Iis Sofia, guru mata pelajaran Matematika di SMPN 4 Leuwilian, Kabupaten Bogor. (Foto: Gapey Sandy)

Bukan hanya para siswa saja yang merasakan betapa mudahnya menyelesaikan soal-soal Matematika dan Fisika. Bahkan, para guru pun mengalami keasikan yang sama.

“Kalau sebelumnya, kami mengajari anak-anak untuk menggunakan rumus-rumus Matematika, tapi dengan metode Gasing ini, kami mengajarkan siswa untuk memakai nalar. Ternyata hasilnya, terbukti positif, karena untuk mengerjakan soal-soal Matematika misalnya, tidak harus tergantung pada rumus-rumus tadi,” tambah Iis lagi.

Dicontohkannya, untuk soal-soal Matematika sub perkalian. Kalau biasanya, perkalian itu diselesaikan dengan melakukan cara bersusun banyak ke bawah, tapi dengan Metode Gasing cukup dengan satu baris saja maka soal-soal perkaliannya bisa diselesaikan.

Tidak cuma itu, Iis juga bertekad untuk melakukan pengimbasan Metode Gasing ke siswa lain di kelas dan sekolahnya. “Pengimbasan Metode Gasing ini akan kami lakukan. Terutama di sekolah kami terlebih dahulu. Setelah semua siswa kami sudah menguasainya, maka pengimbasan Metode Gasing akan dilakukan juga ke sekolah lain yang masih dalam satu gugus,” tekadnya kuat.

Aguslina Angkasa - SU 3

Herawati Prasetyo, Ketua Pengurus YPA-MDR ketika memberi sambutan pada penutupan Diklat Metode Program Gasing. (Foto: Gapey Sandy)

Tak berlebihan apabila Iis juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya, karena sudah lolos seleksi dan diberi amanah untuk mengenal Metode Gasing yang dilanjutkan dengan program pengimbasannya.

“Terima kasih kepada Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim, yang sudah memberikan kesempatan kepada kami, untuk mempelajari Metode Gasing yang sangat membuat Matematika menjadi gampang, asik dan menyenangkan. Juga, terima kasih kepada Surya Institute yang sudah mengajarkan Metode Gasing kepada kami semua dengan penuh dedikasi,” ungkapnya menahan haru.

Sementara itu, Rahmat Mulyana yang mewakili Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Jawa Barat tak kuasa meluapkan kegembiraannya manakala menyaksikan keberhasilan para guru dan siswa menguasai Metode Gasing untuk menjawab soal-soal Fisika dan Matematika.

Rahmat Mulyana

Rahmat Mulyana dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: Gapey Sandy)

“Saya sangat senang melihat pembelajaran Metoda Gasing selama dua bulan ini, berikut hasil-hasil yang sudah dicapai, terutama untuk pelajaran Fisika dan Matematika. Apalagi, biasanya dua pelajaran ini menjadi momok dalam setiap pelaksanaan Ujian Nasional, dimana para siswa meraih nilai yang agak rendah. Terima kasih kepada Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim dan Surya Institute, sehingga dapat memperkenalkan dan mengajarkan metode yang terbukti gampang, asik dan menyenangkan ini,” tuturnya tulus.

Rahmat mencontohkan, dalam menjawab soal Matematika tentang Persamaan Garis Lurus misalnya. Ternyata, dalam menjawabnya tidak perlu menggunakan rumus Matematika. Caranya, cukup singkat yaitu dengan menggunakan nalar. “Kalau anak-anak zaman sekarang menghitung jawabannya dengan mengandalkan rumus, malah kadang-kadang suka lupa rumusnya. Jadi, mudah-mudahan setelah menguasai Metode Gasing ini, para guru dan siswa bisa menyampaikan atau menularkan ilmunya, terutama kepada Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di wilayah gugus masing-masing,” ajak mantan kepala sekolah ini dengan penuh semangat.

Rahmat juga berharap, agar pengetahuan dan pengayaan materi pembelajaran semakin ditingkatkan. Apalagi sebelumnya, para guru sudah juga mempelajari metode lain seperti Matematika Nalaria Realistik (MNR). “Tolong dipadu-padankan saja, antara ilmu MNR tersebut dengan Metode Gasing ini. Terus ditularkan. Lanjutkan dengan di-posting, sehingga ilmu kita semua juga semakin bertambah,” harapnya.

Aguslina Angkasa - SU 6

Suasana jelang penutupan Diklat Program Metode Gasing. (Foto: Gapey Sandy)

Kepada para siswa, Rahmat juga mengungkapkan perasaan bangganya, karena mereka mampu menunjukkan character building yang baik. “Anak-anak kita semua ini juga sudah bagus, mereka percaya diri, mandiri, disiplin dan siap untuk menjadi tutor sebaya. Karena pengalaman membuktikan, apabila anak-anak ada yang harus remedial ujiannya, maka mereka akan bertanya lebih dahulu kepada anak-anak yang lebih cerdas. Disinilah, para siswa yang mengikuti program pelatihan ini dapat menjadi tutor sebaya yang amat penting,” jelasnya.

Rahmat menyaksikan sendiri, betapa para siswa peserta pelatihan yang masih duduk di kelas 7 sudah mampu mengajarkan materi tentang Persamaan Garis Lurus, kepada siswa lain yang duduk di kelas 8 dan 9. “Hasil dari pendidikan tidak pernah instan. Baru bisa dilihat hasilnya pada 15 tahun yang akan datang. Tetapi, para siswa yang berlatih selama dua bulan di program ini, semoga kelak bisa terus berprestasi dan banyak meraih juara, termasuk Olimpiade Nasional hingga mancanegara. Jadi, belajarlah yang serius, disiplin. Jangan juga sombong, meski sudah menguasai Metode Gasing. Pakailah ilmu padi, yang semakin berisi justru semakin menunduk,” pesannya secara welas asih.

Jurus Sakti Metode Gasing

Bikin penasaran ya, Metode Gasing tuh yang kayak gimana?

Ini adalah metode pembelajaran Matematika, dengan langkah demi langkah yang membuat anak menguasai Matematika secara gampang, asik dan menyenangkan. Kunci metode ini adalah proses langkah demi langkah yang disusun sebegitu rupa sehingga penguasaan materi dibangun dari pemahaman materi sebelumnya. Pentingnya proses step by step dalam metode ini tercermin sewaktu anak-anak belajar suatu topik karena ada titik kritis yang harus mereka lalui. Setelah mencapai titik kritis ini, mereka tak akan sulit lagi mengerjakan soal dalam topik tersebut.

Aguslina Angkasa - SU 13

Aguslina Angkasa, Chief Program Officer Surya Institute. (Foto: Gapey Sandy)

Sepeti diterangkan Aguslina Angkasa selaku Chief Program Officer Surya Institue, Metode Gasing menghindari penggunaan rumus sedari awal siswa mengerjakan soal.

“Kami menghindari penyelesaian soal Matematika dengan menggunakan rumus. Rumus, baru akan ditemukan oleh anak-anak, sesudah mereka mencari penyelesaiannya sendiri terlebih dahulu. Contoh, untuk mencari Luas Lingkaran. Kalau dulu, kita di sekolah, guru akan langsung memberi tahu bahwa rumus Luas Lingkaran adalah Pi x radius x radius. Nah, kalau di Metode Gasing kita tidak akan memberikan rumus tersebut. Kita justru akan memberikan anak-anak percobaan terlebih dahulu, untuk memahami bahwa Pi itu apa maknanya. Sehingga, anak-anak akan menemukan sendiri jawabannya, bahwa ternyata Pi adalah keliling lingkaran dibagi diameter. Tentu, kami mempergunakan alat peraga lingkaran dengan berbagai ukuran dari kecil, sedang sampai besar. Dan ternyata, setelah keliling lingkaran dibagi dengan diameter, itu hasilnya selalu konstanta, atau selalu nilainya 22/7,” urai Aguslina berapi-api dalam wawancara khusus dengan penulis.

Pada akhirnya, sesudah melalui eksplorasi, anak-anak barulah kemudian memahami sendiri jawabannya tentang Pi tersebut. “Lalu anak-anak akan bertanya lagi, kenapa harus R2 atau radius x radius. Untuk menjelaskannya, juga perlu alat peraga. Kemudian mereka melakukan eksplorasi lagi. Hasilnya, ternyata ditemukan kesimpulan bahwa juring-juring dari lingkaran, apabila disusun akan membentuk persegi panjang. Akhirnya, mereka menemukan sendiri lagi jawabannya bahwa, Luas Lingkaran itu diperoleh dari hasil akhir yakni Pi x radius x radius. Ini anak-anak loh yang menemukan sendiri hasil akhirnya. Jadi tidak kita kasih tahu rumusnya lebih dahulu. Justru, mereka yang mengeksplorasi sendiri jawabannya,” jelas Aguslina.

Ciri khas lain dari Metode Gasing adalah, anak-anak mampu melakukan perhitungan di luar kepala atau mencongak secara cepat. “Contoh, anak-anak dapat melakukan perkalian 121 x 212 dengan cara mencongak. Anak-anak juga menyelesaikan soal cerita dengan pendekatan logika dan eksplorasi, tanpa perlu menghapal rumus yang kadang-kadang mengaburkan apa yang menjadi esensi suatu permasalahan,” katanya lagi.

Aguslina Angkasa - SU 5

Para guru dan siswa peserta Diklat Program Metode Gasing Tingkat SMP Mata Pelajaran Matematika dan Fisika berfoto bersama sertifikat masing-masing. (Foto: Gapey Sandy)

Pembelajaran Matematika Gasing pun, lanjut Aguslina, disampaikan dengan cara yang fun atau menyenangkan. Selain bermain dengan alat peraga, anak-anak menyanyikan lagu untuk menghapal misalnya perkalian. Atau, melakukan game berhitung yang seru.

“Dengan begitu anak-anak terdorong untuk belajar terus-menerus tanpa paksaan. Maka, inilah yang dimaksud dengan asik dan menyenangkan. Dengan pembelajaran Metode Gasing yang efektif dan menyenangkan, maka anak-anak dapat menyelesaikan seluruh materi Matematika tingkat SD selama 6 tahun, hanya dalam kurun waktu 6 bulan saja,” jelasnya.

Inilah 12 Keistimewaan Metode Gasing:

  1. Menembus segala dimensi umur, Metode Gasing tidak hanya cocok dipelajari anak-anak, tapi juga orang dewasa. “Pelatihan metode ini juga sudah diikuti oleh kakek-nenek usia 80-an tahun, dan hasilnya menggembirakan,” tukas Aguslina.
  2. Selalu diawali dengan konkret – bukan abstrak -, sehingga mudah dipahami.
  3. Menghitung cepat (tambah, kali, kurang, bagi) tanpa alat.
  4. Menghitung dengan mencongak, sehingga anak-anak harus membayangkan hasil-hasil yang telah dihitung. Hal ini memacu kerja otak kanan karena banyaknya imajinasi, sehingga anak-anak juga lebih kreatif.
  5. Meningkatkan IQ, mengerjakan soal-soal Matematika Gasing terbukti kecerdasan intelektualnya semakin meningkat.
  6. Meningkatkan EQ, anak-anak akan lebih mandiri, disiplin, bertanggungjawab dan jujur.
  7. Meningkatkan AQ, punya daya juang yang tinggi.
  8. Psikomotorik meningkat, karena mengerjakan soal-soal Matematika memacu keterampilan tangan.
  9. Seluruh materi Matematika Gasing sesuai kurikulum sekolah.
  10. Efisiensi waktu, hanya butuh 6 bulan menyelesaikan seluruh materi SD 6 tahun.
  11. Mengurangi kepikunan, dan membuat tambah awet muda.
  12. Meningkatkan kesehatan karena membakar kolesterol.
IMG-20171101-WA0031

Laporan perkembangan para siswa peserta Diklat Program Metode Gasing Tingkat SMP mata pelajaran Matematika. (Sumber: Surya Institute)

IMG-20171101-WA0033

Laporan perkembangan para siswa peserta Diklat Program Metode Gasing Tingkat SMP mata pelajaran Fisika. (Sumber: Surya Institute)

Selama program Pelatihan Matematika dan Fisika Metode Gasing (Gampang, Asik dan Menyenangkan) batch 2 berlangsung, Aguslina melakukan pemantauan kemajuan yang dicapai guru maupun siswa. Progress ini seperti nilai rapor untuk Matematika dan Fisika. Pemantauan ini dituangkan dalam penilaian, mulai dari pre-test, post-test, test per topik dan prosentase peningkatan.

“Hasilnya menggembirakan. Rata-rata, nilainya terdapat peningkatan. Bagus,” tukas Aguslina dengan nada gembira.

Perkembangan kemajuan atau progress siswa Matematika misalnya. Ketika pre-test nilai mereka rata-rata 26,37, dan naik menjadi 63,33 pada post-test. Sedangkan nilai rata-rata untuk test per topik, nilainya rata-rata adalah 92,71. Artinya, terjadi peningkatan rata-rata sampai 140%. Luar biasa!

Hal yang sama terjadi pada progress siswa Fisika. Saat pre-test nilai mereka rata-rata 35,01, dan naik menjadi 80,39 pada post-test. Sedangkan nilai rata-rata untuk test per topik mengalami sedikit penurunan, menjadi 78,95. Meski begitu, ada peningkatan rata-rata hingga 130%.

IMG-20171101-WA0030

Laporan perkembangan para guru peserta Diklat Program Metode Gasing Tingkat SMP mata pelajaran Matematika. (Sumber: Surya Institute)

IMG-20171101-WA0032

Laporan perkembangan para guru peserta Diklat Program Metode Gasing Tingkat SMP mata pelajaran Fisika. (Sumber: Surya Institute)

Bagaimana dengan progress para guru?

Untuk bidang studi Matematika, manakala para guru menjalani pre-test nilai mereka rata-rata sudah cukup tinggi yaitu 81,68, dan semakin tinggi lagi ketika post-test menjadi 92,25. Sedangkan nilai rata-rata untuk test per topik mencapai 97,97. Dengan demikian terjadi peningkatan rata-rata 13%.

Progress pada bidang studi Fisika, para guru mengikuti pre-test dan nilai mereka rata-rata 59,07, kemudian melonjak ketika post-test menjadi 90,69. Sedangkan nilai rata-rata untuk test per topik adalah 90,43. Dengan demikian terjadi peningkatan rata-rata 54%.

Mencermati kemajuan nilai yang diperoleh para guru dan siswa, Aguslina bersyukur karena terbukti bahwa pelatihan Metode Gasing membawa progress yang membanggakan untuk semua. “Pokoknya, kami senang sekali bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim ini, karena semuanya tidak akan berhenti hanya sampai program pelatihannya saja, tapi juga berlanjut hingga program pengimbasan Metode Gasing disekolah dan gugus masing-masing,” tutur Aguslina.

Aguslina Angkasa - SU 7

Suasana ketika jelang penutupan Diklat Program Metode Gasing Tingkat SMP mata pelajaran Matematika dan Fisika. (Foto: Gapey Sandy)

Ditambahkannya, pada saat pengimbasan nanti, pihak Surya Institute akan datang ke lokasi guna  me-monitoring, termasuk melakukan tes secara langsung kepada para siswa, apakah benar mereka sudah memahami Metode Gasing ini. “Jadi, kerjasama dengan YPA-MDR ini programnya panjang. Imbas Gasing dan tes dari pihak kami di daerah-daerah itu juga yang nantinya akan membuktikan semua hasil dari pelatihan selama dua bulan di sini,” ujarnya.

YPA-MDR, Mercusuar Menuju Sekolah Unggul

Sesuai namanya YPA-MDR memang bentukan PT Astra International Tbk yang secara khusus menunaikan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) kepada masyarakat pada bidang pendidikan di daerah prasejahtera. Ya jelas hal ini penting sekali, karena bukankah pendidikan adalah hak setiap warga Negara.

Ketua Pengurus YPA-MDR, Herawati Prasetyo mengatakan, ada empat pilar pola pembinaan yang dilakukan. Pertama, akademis. Misalnya, memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pelatihan yang diberikan antara lain, Manajemen Sekolah, Pengembangan Kurikulum, Pendalaman Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan (PAKEM), dan pelatihan lain yang menunjang peningkatan SDM sekolah.

YPA MDR 12 pengimbasan

Pengimbasan Program Metode Gasing Tingkat SMP untuk mata pelajaran Matematika dan Fisika. (Foto: YPA-MDR)

Nah, kegiatan Pelatihan Metode Gasing batch 1 dan 2 yang baru saja usai terlaksana, adalah wujud nyata pilar akademis tersebut. Meningkatnya prestasi akademik siswa sudah tentu harapan besarnya, melalui pengimbasan Metode Gasing yang menjadi follow up pelatihan.

“Siswa-siswa ini sudah kita didik Matematika dan Fisika menggunakan Metode Gasing. Harapan kami, para siwa bersama gurunya mengimbaskan kepada sesama teman dan guru-guru lain. Supaya akhirnya, seluruh civitas sekolah itu sendiri, juga sekolah-sekolah binaan yang ada di gugus kami juga mendapatkan efeknya. Sehingga nantinya, secara keseluruhan akan meningkatkan prestasi akademik mereka. Jadi,, bukan hanya bagi mereka yang hadir di sini saja, tapi juga program pengimbasan menjadi tujuan dan kepedulian kita bersama,” urainya kepada penulis.

Sekurang-kurangnya, pengimbasan Metode Gasing sudah dilakukan di Pacitan dan Lampung. Misalnya, pada 19, 20, 23 September 2017 Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mengadakan pengimbasan Metode Gasing untuk mata pelajaran Matematika kepada guru-guru SD di wilayah kabupaten. Acara yang disambut antusias ini bertempat di Kantor Pemkab Pacitan dengan melibatkan guru dan siswa sekolah binaan YPA-MDR dari wilayah Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan yang telah mengikuti Diklat Gasing selama dua bulan di Tangerang sebagai narasumber.

YPA MDR 6 - kecakapan hidup

Para siswa SDN Karyasari 01 dan 02 di Leuwilian, Kabupaten Bogor mengikuti pilar pola pembinaan Kecakapan Hidup dengan materi Sains seputar Difusi. (Foto: YPA-MDR)

Untuk pengimbasan di Lampung, acaranya berlangsung dengan sekaligus memeriahkan Hari Guru Nasional, 25 November 2017. Para guru binaan YPA-MDR di SMPN 2 Merbau Mataram dan SMPN 1 Tanjungsari, Lampung, penuh semangat menggelar seminar pengimbasan mata pelajaran Matematika, IPS, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kepada guru-guru yang ada di Kabupaten Lampung Selatan, bekerjasama dengan MGMP.

Kedua, karakter. Disini, seluruh warga sekolah binaan diberikan pembinaan karakter agar supaya memiliki karakter yang didasarkan pada nilai luhur Bangsa Indonesia. Adapun karakter utama yang dikembangkan adalah: Kedisiplinan, Kebersihan, Respek dan Daya Juang.

Dalam konteks ini, penulis teringat kalimat bijak yang disampaikan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara. Menurutnya, “Pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir.”

Dengan demikian, tepat sekali pendidikan karakter menjadi satu dari empat pilar pola pembinaan YPA-MDR.

YPA MDR Enay 1

Enay Winarni, Kepala Sekolah SMPN 4 Leuwiliang, Kabupaten Bogor. (Foto: Dok. Enay Winarni)

Hasil membanggakan pun dipetik. SMPN 4 Leuwiliang, salah satu sekolah binaan PT Astra International melalui YPA-MDR di Leuwiliang, Kabupaten Bogor meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten.

Adiwiyata adalah salah satu program yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup guna mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Program ini bertujuan menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga kelak warga sekolah dapat turut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan.

SMPN 4 Leuwiliang sendiri sudah mempersiapkan untuk menjadi Sekolah Adiwiyata dengan menyusun berbagai program pelestarian lingkungan hidup. Diantaranya, penghijauan lingkungan sekolah, kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah setiap hari — sebelum dan sesudah memulai kegiatan pembelajaran, pemisahan sampah organik dan anorganik serta sampah berbahaya, pengolahan sampah jadi kompos, penghematan air juga listrik, dan pembuatan poster-poster kreatif bertemakan lingkungan.

YPA MDR 7 - smpn 4 leuwiliang

Seluruh civitas SMPN 4 Leuwiliang, Kabupaten Bogor terlibat kegiatan green community. (Foto: Dok. Enay Winarni)

“Kami belajar dari sekolah lain yang sudah memperoleh penghargaan Adiwiyata sebelumnya. Sejak 2015, kami memang mempersiapkan diri untuk juga dapat memperolehnya. Kerja keras kami dimulai dengan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup setempat guna memperoleh saran, masukan juga dukungan. Alhamdulillah, tahun ini SMPN 4 Leuwiliang berhasil meraih Adiwiyata untuk tingkat Kabupaten, dan tahun depan akan ikut berlomba untuk tingkat Provinsi,” jelas Enay Winarni, Kepala Sekolah SMPN 4 Leuwiliang ketika wawancara dengan penulis.

Di lingkungan sekolah, katanya lagi, semua civitas sekolah menerapkan hidup bersih, budaya sehat dan budi pekerti. Termasuk mengajak anak-anak, guru dan semua pihak untuk melakukan penanaman pohon dan melakukan penghijauan.

“Kami sering bepergian ke tempat-tempat siswa yang jaraknya cukup jauh. Nah, ketika jalan-jalan itu saya beberapa kali menemukan pohon-pohon yang mulai langka dan jarang dijual di tempat-tempat penjualan kembang. Misalnya, pohon yang saya peroleh itu adalah Pohon Gambir, Ganyong dan lainnya. Siswa-siswi kami pun juga tidak kalah aktif untuk membawa pohon dan ditanam di sekolah,” ujar Enay yang ketika diwawancarai rupanya tengah mengikuti Workshop Rencana Kerja Sekolah (RKS) Dalam Rangka Membangun Sekolah Cerdas dan Unggul yang diselenggarakan YPA-MDR di Yogyakarta pada 18-19 Desember 2017.

YPA MDR SMPN 4

Setiap tiga bulan sekali, Pataka Kelas Terbaik (warna Kuning) dalam bidang 3K atau Keindahan, Kebersihan dan Ketertiban, diserahkan kepada setiap perwakilan kelas. (Foto: Dok. Enay Winarni)

Di sekolah yang memiliki 5 guru ASN, 23 guru honorer dan 545 murid ini, Enay juga membentuk green community. “Wujudnya semacam ekstra kurikuler yang peduli pada masalah pertanian dengan praktik membuat pupuk kompos, lubang biopori dan sebagainya,” tukas Enay yang sudah menjabat Kepsek sekitar 2,5 tahun, dan memilih profesi mulia sebagai guru sejak 1984.

“Pastinya, dukungan YPA-MDR bagus sekali. Malah ketika kami berhasil meraih Sekolah Adiwiyata untuk tingkat Kabupaten, pihak Astra International melalui YPA-MDR memberikan reward dalam bentuk dana pembinaan juga penghargaan. Ini menandakan bahwa pembinaan yang dilakukan YPA-MDR memang luar biasa,” terang Enay yang juga mengajar bidang studi Bahasa Indonesia ini.

Dengan semangat green community, lanjutnya lagi, pihaknya fokus melakukan penghijauan sekolah. Pelaksanaan progamnya melibatkan seluruh warga sekolah, sehingga diharapkan SMPN 4 Leuwiliang dapat meraih prestasi ke tingkat yang lebih tinggi, seperti tingkat Provinsi, Nasional, bahkan menjadi Sekolah Adiwiyata mandiri. “Mohon doanya saja ya,” tukas Enay ramah.

Pataka Kelas Terburuk SMPN 4 Leuwilian - FB Enay Winarni

Setiap tiga bulan sekali, Pataka Kelas Terburuk (warna Hitam) dalam bidang 3K atau Keindahan, Kebersihan dan Ketertibam, selalu diserahkan kepada perwakilan kelas. (Foto: Dok. Enay Winarni)

Ketiga, seni dan budaya. Pembinaan ini sengaja menjadi salah satu sasaran agar seni budaya lokal dapat dilestarikan. Pilar ini ditegakkan dengan cara fokus pada Seni Musik dan Seni Tari Tradisional.

Keempat, kecakapan hidup. Pilar ini sekuat tenaga coba untuk membekali siswa dengan kecakapan hidup yang sesuai potensi daerahnya masing-masing. Harapannya sungguh mulia, yaitu meningkatkan kompetensi siswa sehingga nantinya selaras dengan meningkatnya juga perekonomian di daerahnya.

Pada 30 Oktober 2017 kemarin misalnya. Siswa-siswi SD Karyasari 01 dan 02 di Leuwiliang, Kabupaten Bogor beserta SD Hegarmanah mendapatkan pembinaan Kecakapan Hidup bertemakan Science dengan materi “Difusi”. Kegiatan ini mengajarkan segala hal mengenai perubahan warna yang terjadi dari warna-warna dasar yang ada. Aktifitas mewarnai, terutama mewarnai bidang kosong, merupakan cara bagi anak-anak untuk mengungkapkan perasaaan dirinya. Amat diyakini, melalui gambar dan warna yang dibuat, dapat terlihat apa yang sedang dirasakan oleh mereka.

cewek s

Andri Puri Ramadhona, siswi kelas 12 SMKN 2 Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta meraih Juara ke-2 Festival Jogja Kota Batik Dunia, (Foto: Dok. Andri Puri Ramadhona)

Salah satu contoh keberhasilan dalam mewujudkan pilar ini adalah prestasi membanggakan dari siswa-siswi SMKN 2 Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Adalah Andri Puri Ramadhona dan Irvan Maulana, keduanya sama-sama duduk di bangku kelas 12, yang berhasil menjadi juara Lomba Desain Fashion Batik Trend Internasional kategori Busana Kerja yang diselenggarakan Pemda DIY Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

“Lomba Batik Identity ini merupakan salah satu rangkaian mata acara Festival Jogja Kota Batik Dunia yang diselenggarakan pada 29 Oktober kemarin. Syukur alhamdulillah, desain batik untuk Busana Kerja karya saya berhasil meraih Juara ke-2, dan rekan saya Irvan Maulana juara ke-3 untuk kategori yang sama,” tutur Andri Puri dalam wawancara dengan penulis.

Motif Batik Gedangsari, katanya lagi, banyak mengambil inspirasi dari kekayaan alam lokal, seperti Daun Pisang, Buah Srikaya, Pisang dan lainnya. Motif ini mengekspresikan kekayaan alam di Gedangsari yang banyak sekali terdapat tumbuhan itu, sekaligus menjadi ikon Desa Gedangsari. “Inilah yang kami aplikasikan untuk menjadi motif batik andalan,” tukas Andri, sapaan akrabnya.

IMG-20171213-WA0011

Irvan Maulana, siswi kelas 12 SMKN 2 Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta meraih Juara ke-3 Festival Jogja Kota Batik Dunia. (Foto: Dok. Andri Puri Ramadhona)

Bagaimana peran YPA-MDR dalam membantu sekolah binaan SMKN 2 Gedangsari menekuni batik?

Menurut Andri, peran YPA-MDR teramat sangat membantu dalam proses membatik dengan memfasilitasi berbagai keperluan fisik dan non-fisik. Salah satunya, memberikan bantuan bahan praktik kepada SMKN 2 Gedangsari, berupa bahan katun untuk selanjutnya diproses menjadi batik oleh para murid.

“Begitu pula dengan alat membatiknya. Bahkan, YPA-MDR juga membangun laboratorium zat warna alam, sehingga kami semua dapat mencoba berbagai macam pewarnaan alam. Sedangkan dari sisi non-fisik, setiap tahunnya kami rutin memperoleh bimbingan melalui ‘dudi’ atau mentor berpengalaman dan sangat berkompeten dalam hal busana batik, sehingga kami mampu memperdalam ilmu membatik guna mengembangkan potensi batik di Gedangsari sebagai salah satu Desa Wisata, dimana penduduk menggantungkan kesejahteraan perekonomian, salah satunya dari usaha kerajinan membatik,” urai Andri penuh sukacita.

Mengangkat perekonomian daerah? Yeah, sure it is. Andri menjelaskan, saat ini pun pihak sekolah banyak membantu penjualan batik karya para siswa. Bahkan bukan hanya batik, tapi juga sulaman.

IMG-20171214-WA0015

Proses membatik dilakukan para siswi SMKN 2 Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: Dok. Andri Puri Ramadhona)

“Batik-batik karya siswa sudah banyak yang diikutsertakan dalam pameran maupun festival. Misalnya, ketika event Jogja Fashion Week dan lainnya. Hasilnya menggembirakan, karena banyak sekali peminat yang membeli. Biasanya, para pengunjung tertarik untuk membeli karena mereka mengakui bahwa batik karya para siswa adalah merupakan karya yang menarik,” ungkap Andri.

Apa yang disampaikan Andri sangat beralasan. YPA-MDR memang memegang teguh komitmen untuk berupaya untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia yang mampu menciptakan dan membangun perekonomian kreatif, dengan menjadikan Gedangsari sebagai daerah sentra industri sesuai potensi unggulan lokal. Termasuk misalnya, dengan menyertakan batik-batik karya murid SMKN 2 Gedangsari untuk memeriahkan pelaksanaan berbagai pameran berstrata nasional juga global. Sebut saja Inacraft 2017 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta pada beberapa medio April lalu. Ketika itu, mengusung tema “Dari Anak Bangsa Untuk Tanah Air”, seluruh karya siswa binaan YPA-MDR di Yogyakarta turut dipamerkan – termasuk Batik Gedangsari –, dengan produknya antara lain kain batik, baju batik, syal dan tas.

Pengunjung yang datang ke booth YPA-MDR rata-rata mengagumi kreativitas dan kepintaran siswa SD hingga SMK binaan yang dapat membuat motif batik yang indah, bagus, dan rapih. Apalagi, batik yang dibuat oleh siswa binaan menggunakan teknik batik tulis, tetes lilin dan jumputan.

YPA MDR SMK 2 - 3

Proses penjemuran kain-kain batik produksi siswa-siswi SMKN 2 Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: Dok. Andri Puri Ramadhona)

Tak hanya itu, bagi kita yang ingin melihat langsung apa dan bagaimana produk-produk maupun hasil karya Guru dan Siswa binaan, bisa mengunjungi Galeri Karya YPA-MDR yang beralamat di Gedung Amdi B lantai 6 – PT Astra International, Jalan Gaya Motor No.8 Sunter, Jakarta Utara. Waktunya, Senin – Jumat (jam kerja), dan kita bisa melihat sendiri sekaligus mengapresiasi hasil karya anak bangsa. Jangan lupa, miliki produk mereka dan banggalah menggunakannya.

Begitulah empat pilar yang berlandaskan pada visi YPA-MDR dibangun. Yakni, Menjadi lembaga yang kredibel dan terkemuka dalam mewujudkan Sekolah Unggul di daerah prasejahtera yang mampu mencetak SDM berkualitas sebagai agent of change menuju masyarakat sejahtera.

Empat Pilar Pembinaan juga satu dari tiga misi YPA-MDR, yakni melalui model “Sekolah Eskalator”. Selain, membangun sinergitas antara sekolah binaan dengan stakeholders untuk terciptanya Sekolah Unggul. Terwujudnya Sekolah Unggul yang berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat menuju ‘Pride of the Nation’.

SMKN 222222

Siswi-siswi SMKN 2 Gedangsari nampak serius belajar menjahit. (Foto: Dok. SMKN 2 Gedangsari)

“Defisini Sekolah Unggul adalah sekolah yang sudah bisa berdiri sendiri, termasuk memiliki ISO. Juga, sekolah itu sudah menerapkan ICT based. Ini yang kami harapkan dan targetkan, sesuai goal-nya Astra yakni ‘Pride of the Nation’, menjadi perusahaan yang membanggakan bangsa. Kami juga mempunyai cita-cita, bahwa nantinya sekolah-sekolah binaan kami juga menjadi ‘Pride of the Nation’, menjadi sekolah kebanggaan bangsa ini,” urai Herawati seraya menambahkan bahwa, empat pilar yang sudah tercapai akan menjadikan Sekolah Swapraja menuju Sekolah Unggul.

Selain bentuk pelatihan dan pembinaan yang dilakukan YPA-MDR, donasi lain yang disalurkan adalah sarana prasarana sekolah sekolah yang disesuaikan terhadap kebutuhan dan disesuaikan dengan pembinaan. Seperti misalnya, renovasi atau pembangunan gedung sekolah yang tentu saja disesuaikan dengan kondisi sekolah bersangkutan, meubel sekolah, buku pelajaran, buku perpustakaan, alat peraga pembelajaran, mesin praktik (khusus bagi SMK), dan perlengkapan multimedia, perpustakaan, UKS, penunjang pembinaan seni budaya, juga perlengkapan sekolah.

Misalnya seperti yang sudah dilakukan pada 8 November 2017 kemarin. PT Astra International Tbk melalui YPA-MDR melaksanakan prosesi peletakan batu pertama di SMKN 2 Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Dr Saiful Rachman MM, MPd dan Bupati Pacitan Drs Indartato MM.

YPA MDR 4

Penandatanganan nota kesepahaman peletakan batu pertama pembangunan Gedung SMKN 2 Donorojo bantuan PT Astra International Tbk melalui YPA-MDR. (Foto: YPA-MDR)

Dengan luas bangunan 2.142 m2, pembangunan SMKN 2 Donorojo ini meliputi fasilitas sekolah seperti 3 Ruang Workshop, 3 Ruang Kelas, Mushola, Ruang Tamu, Ruang Tata Usaha, Ruang Kepala Sekolah, Ruang Guru, Ruang UKS, Ruang BK, Toilet dan Menara Air.

Ini merupakan bentuk komitmen untuk tingkatkan mutu pendidikan di Indonesia, dimana YPA-MDR berperan aktif sebagai agent of change and agent of development dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah, dengan membantu pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, pengembangan kurikulum dan manajemen sekolah serta penyediaan sarana prasarana sekolah, sesuai Standar Mutu Pendidikan Nasional yang ditetapkan Pemerintah.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pengurus YPA-MDR Herawati Prasetyo menjelaskan, khusus di Kabupaten Pacitan, sejak 2012, pihaknya merintis dan membina SDN Kalak 01, SDN Kalak 02, SDN Sendang 01, SDN Sendang 03 dan SDN Widoro 02. “Berawal dari 5 SDN, setelah itu, kami melanjutkan pembinaan di SMPN 2 Donorojo dan SMKN 2 Donorojo pada 2016,” ujarnya.

YPA MDR 3

Peletakan batu pertama pembangunan Gedung SMKN 2 Donorojo bantuan PT Astra International Tbk melalui YPA-MDR. (Foto: YPA-MDR)

Dalam fokus pembinaannya, SMKN 2 Donorojo diterapkan untuk melakukan perintisan kejuruan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP). Jurusan ini sesuai dengan kecakapan hidup di Kecamatan Donorojo, yaitu pertanian. Tujuan perintisan adalah supaya jenjang pendidikan siswa binaan YPA-MDR terpenuhi, dan dapat menghasilkan siswa yang dapat mengharumkan nama daerahnya, serta turut berperan aktif dalam pembangunan ekonomi daerah.

Oh ya, patut juga disampaikan, belum lama ini, SMPN 2 Donorojo meraih prestasi luar biasa. Karena, Imam Mutaqin, guru Matematika sekolah ini berhasil menyabet juara I Lomba Olimpiade Guru Nasional (OGN) bidang Matematika di Jakarta. Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Imam, karena baru satu tahun bermukim di Pacitan, dirinya sudah mampu menorehkan prestasi nasional. Wajar bila Imam senang dengan apa yang ia raih, sebab capaian ini terwujud sebagai hasil kerja kerasnya mendalami Ilmu Matematika selama ini.

Secara kewilayahan, hingga kini, YPA-MDR sudah memiliki sekolah binaan yang tersebar di Bogor (Provinsi Jawa Barat), Gunung Kidul dan Bantul (Daerah Istimewa Yogyakarta), Lampung Selatan (Lampung), Pacitan (Jawa Timur), Kutai Barat (Kalimantan Timur), Serang (Banten) dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).

YPA MDR 13 Juara olimpiade guru nasional

Imam Mutaqin, nomor dua dari kanan ketika menerima piala Juara I Lomba Olimpiade Guru Nasional  bidang Matematika di Jakarta. (Foto: YPA-MDR)

Dari semua sebaran wilayah tersebut, ada 54 SD, 9 SMP dan 4 SMK. Tercatat, total guru keseluruhannya berjumlah 905 orang, sedangkan siswa 16.058 orang.

Last but not least, kiprah YPA-MDR memang sarat inspirasi. Bahkan menjadi mercusuar dalam ikut membangun pendidikan nasional melalui empat pilar pembinaannya. Tak salah kalau saya memberi judul tulisan ini: Inspirasi Astra Wujudkan Sekolah Unggul. Karena memang “unggulan” adalah resume akhir dari derai peluh perjuangan PT Astra International melalui YPA-MDR, sekaligus lembar awal bagi pembinaan yang baru lagi.

Yakinlah, Astra akan tetap terus melangkah guna merealisasikan empat pilar tanggung jawab sosial Perusahaannya, yaitu Astra Untuk Indonesia Sehat, Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra Untuk Indonesia Hijau, dan Astra Untuk Indonesia Kreatif.

PANGAL

Tabel Sebaran Sekolah Binaan YPA – MDR. (Sumber: YPA-MDR || Foto: Gapey Sandy)

Tetap semangat. Bravo!

Selain ada Yayasan Batik Indonesia (YBI) yang peduli dengan kemajuan dan pelestarian batik, kini ada satu lagi nama baru terlahir, yaitu Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI).

Berlokasi di Museum Tekstil – Jalan Aipda KS Tubun Raya, Jakarta Barat, pada 20 Desember 2017 kemarin, APPBI resmi berdiri. Motto asosiasi ini enggak main-main loh: “Mengawal Batik Indonesia sebagai Jatidiri Bangsa untuk Dunia”.

Sebenarnya, APPBI sudah terbentuk sejak 29 Juli 2017 di Pekalongan. Dasar pembentukannya waktu itu, semangat luhur para pecinta, pemerhati, peneliti, pelestari sekaligus berprofesi sebagai perajin asli batik Indonesia yang sudah cukup lama dalam memproduksi dan melestarikan wastra batik Indonesia.

Komarudin Kudiya selaku Ketua Umum APPBI periode 2017 — 2020, dalam sambutannya mengatakan, tak dapat dipungkiri bahwa laju globalisasi turut mewarnai perubahan dan menjadi ancaman sangat serius terhadap batik di Indonesia. Secara langsung, imbas tersebut adalah merosotnya nilai-nilai seni budaya yang diakibatkan oleh semakin maraknya kontribusi tekstil tiruan batik yang lambat laun dapat melibas kelestarian batik-batik tradisional yang sarat keadilihungan karya seni yang melahirkannya.

Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya. (Foto: Gapey Sandy)

Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya. (Foto: Gapey Sandy)

Katanya lagi, setelah 8 tahun berjalan – 2 Oktober 2009 – UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar Representative Budaya Tak Benda Warisan Manusia kemudian memperingati setiap 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, tetapi secara khusus para perajin dan pengusaha batik Indonesia belum merasa terwadahi untuk menyampaikan segala macam permasalahan yang ditemui dan membelit seputar industri batik.

“Masih banyak PR yang belum bisa kita kerjakan, baik oleh institusi Pemerintah, paguyuban batik, organisasi-organisasi batik, bahkan YBI sekali pun. Sebab masalah batik ini cukup pelik dan membutuhkan peran dari para praktisi perajin batik yang dalam keseharian menyatu dalam denyut nadi batik itu sendiri,” ujar empunya brand‘Batik Komar’ di Bandung, Jawa Barat ini.

Komarudin menjelaskan alasan mengapa APPBI dideklarasikan, diantaranya banyak permasalahan batik yang bisa ditinjau dari berbagai aspek. Pertama, aspek budaya. Saat ini, sudah terlalu jauh adanya pergeseran nilai-nilai yang diampu batik dalam kehidupan budaya batik di Indonesia. Batik sudah tercabut dan terlepas dari akar budaya yang sesungguhnya.

“Batik sudah berpindah posisi dan berwujud sekadar nilai ekonomi dan telah dikomersialisasi oleh beberapa kepentingan,” ujarnya.

Batik Paksinagaliman koleksi Komarudin Kudiya dari Batik Komar, Bandung. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Paksinagaliman koleksi Komarudin Kudiya dari Batik Komar, Bandung. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Parang Seling Kembang koleksi Ahmad Failasuf dari Batik Pesisir, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Parang Seling Kembang koleksi Ahmad Failasuf dari Batik Pesisir, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Kedua, aspek ekonomi. Kini, sudah begitu maraknya industrialisasi kain-kain bercorak batik yang dikerjakan dengan mesin-mesin modern dengan labelisasi batik tulis, batik sutra halus dan lainnya.

“Hal-hal seperti ini, menurut kami adalah sebuah kebohongan dan pembodohan publik. Untuk itu, kami berharap kepada Pemerintah untuk segera melakukan semacam penertiban, dikuatkan law enforcement yang ada sehingga hal-hal seperti ini jangan terjadi lagi. Semua itu, agar jangan sampai mengganggu dan mengebiri seluruh perajin batik di Indonesia,” harap Komarudin.

Selain itu, Komarudin mengeluhkan kecenderungan semakin lesunya penjualan batik dalam beberapa tahun terakhir. “Kami sering mengikuti pameran dan terbukti daya beli masyarakat terhadap batik belakangan semakin merosot. Hal demikian menjadi catatan penting untuk bagaimana kedepannya para perajin dan pengusaha batik ini mengatasi kelesuan penjualan. Juga, bagaimana sebaiknya mengikuti tata kelola pameran, dan sosialisasi yang tepat terhadap batik dan pameran batik itu sendiri,” tandas pria yang pernah meraih Archipelago Award pada 2011 ini.

Masih dalam aspek ekonomi, industri batik dalam negeri ternyata juga menghadapi dominasi kekuatan ekonomi asing yang menguasai dan mengendalikan bahan-bahan baku dan produksi. Akibatnya, banyak perajin batik yang kesulitan mendapatkan bahan baku dan produksi.

Batik Pancasila Sakti koleksi Putu Sulistiani dari Batik Dewi Saraswati, Surabaya. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Pancasila Sakti koleksi Putu Sulistiani dari Batik Dewi Saraswati, Surabaya. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Pancasila Sakti koleksi Putu Sulistiani dari Batik Dewi Saraswati, Surabaya. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Pancasila Sakti koleksi Putu Sulistiani dari Batik Dewi Saraswati, Surabaya. (Foto: Gapey Sandy)

“Contohnya, beberapa bulan terakhir ini saja, kami kesulitan memperoleh kain sutera tenun. Terlebih lagi, benangnya. Biasanya kami mudah mendapatkannya di pasaran, tapi kini sudah semakin susah. Apakah ini menandakan bakal terjadi perubahan atau kenaikan harga? Biasanya sih begitu,” jelas Komarudin yang menamatkan S3 Program Doktor Seni Rupa di ITB ini.

Ketiga, aspek pendidikan. Tidak adanya kepedulian dari institusi pendidikan dasar, menengah maupun atas untuk meluruskan kesalahpahaman, kebingungan, kebodohan sebagian besar masyarakat yang belum mengerti tentang batik.

“Hingga kini, belum ada upaya yang jelas untuk mengembalikan kepada fakta batik yang sesungguhnya. Juga, belum ada kurikulum batik yang lengkap dan terintegrasi dengan dunia industry dan kerajinan batik tradisional. Seringkali kita jumpai ada guru yang menyebutkan bahwa seragam sekolah anak didiknya adalah batik, padahal itu bukan batik melainkan tiruan batik. Seperti diketahui, berdasark Standar Nasional Indonesia (SNI) ada yang disebut sebagai tiruan batik, paduan tiruan batik, dan batik itu sendiri. Sayangnya, masih banyak yang belum bisa memahami untuk membedakan ketiganya itu,” prihatin Komar, sapaan akrabnya.

Seorang pengunjung melihat batik-batik yang dipamerkan oleh APPBI. Pameran batik ini berlangsung hingga 7 Januari 2018 di Museum Tekstil, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Seorang pengunjung melihat batik-batik yang dipamerkan oleh APPBI. Pameran batik ini berlangsung hingga 7 Januari 2018 di Museum Tekstil, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Motif Naga Wayang Nitik koleksi Mayasari Sekarlaranti dari Galeri Batik Jawa, Yogyakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Motif Naga Wayang Nitik koleksi Mayasari Sekarlaranti dari Galeri Batik Jawa, Yogyakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut Komar lagi, APPBI tidak akan mengambil posisi tertinggi dari organisasi atau yayasan batik di berbagai daerah yang sudah ada. Tetapi, asosiasi ini akan mensinergikan dan membantu mewujudkan program-program atau agenda-agenda yang hingga kini masih belum berjalan dengan baik. “Kami akan coba membuka simpul-simpul tersebut agar semua bisa berjalan dengan baik sesuai motto APPBI,” janji suami dari Nuryanti Widya ini.

Sesuai namanya, APPBI merupakan wadah berhimpun perajin dan pengusaha batik. Para pendirinya antara lain Sania Sari (Batik Hasan – Bandung) selaku Sekretaris, Erwin Ibrahim (Batik Rajjas – Cirebon) menjadi Wakil Sekretaris, Ahmat Failasuf (Batik Pesisir – Pekalongan) sebagai Bendahara, dan Sri Hartatik (Batik Tatik Sri Harta – Sragen) selaku Wakil Bendahara.

Untuk Bidang Kehumasan, ada Dudung M Romadhon (Batik Dudung – Pekalongan) selaku Ketua, dan anggotanya adalah: Mayasari Sekarlaranti yang merupakan Founder & CEO  Galeri Batik Jawa – Yogya, Veldy R Umbas (Batik Minahasa – Manado), Budi Darmawan (Rumah Batik Palbatu – Jakarta).

Pada Bidang Pengkajian dan Pelestarian, yang menjadi Ketua adalah Afif Syakur (Batik Afif – Yogya), dan beranggotakan Putu Sulistiani (Batik Dewi Saraswati — Surabaya), Nur Cahyo (Batik Cahyo – Pekalongan), Abdul Syukur (Batik Taman Lumbini – Yogya).

Batik Karno Tanding koleksi Dudung M Romadhon dari Batik Dudung, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Karno Tanding koleksi Dudung M Romadhon dari Batik Dudung, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Karno Tanding koleksi Dudung M Romadhon dari Batik Dudung, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Karno Tanding koleksi Dudung M Romadhon dari Batik Dudung, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Sedangkan di Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan, Ketuanya Zahir Widadi (Batik Zahir – Pekalongan), dan memiliki anggota Sapuan (Batik Sapuan – Pekalongan), Siti ZumaiyahBudiarty (Batik – Gresik) juga Haryani Winotosastro (Batik Winotosastro – Yogya).

Adapun Bidang Usaha dan Pamerandikomandani Romi Oktabirawa (Batik Wirokuto – Pekalongan), dengan anggota Wirasno (Batik Canting Wira – Surabaya), Dimas Andre (Batik Andress – Makassar), H M Pribadi (Batik Mahadewi – Solo).

Masih ada lagi Bidang Keanggotaan yang diketuai Eko Suprihono (Batik Brotoseno – Sragen), dan anggotanya Yuli Astuti (Batik Muria – Kudus), Siti Maimona (Batik Canting Madura – Madura), Santosa Hartono (Batik Pusaka Beruang – Lasem) dan Waritri Mumpuni (Batik Sanggar Seni Pendopo – Medan).

Turut hadir dalam deklarasi APPBI ini antara lain Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta yang diwakili Kepala Unit Pengelola Museum Tekstil Esti Utami, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharam, Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara Hendardji Soepandji, Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia (YBI) Justin Ginandjar Kartasasmita, Ketua Yayasan Batik di Jawa Barat Sendy Dede Yusuf, mantan Menperindag Rahardi Ramelan, para perajin, pengusaha, kolektor, pecinta batik dan masih banyak lagi.

Selain deklarasi APPBI, diselenggarakan pula seminar. Adapun pameran batik diselenggarakan di lokasi yang sama hingga 7 Januari 2018.

Sejumlah batik yang dipamerkan APPBI hingga 7 Januari 2018 di Museum Tekstil, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Sejumlah batik yang dipamerkan APPBI hingga 7 Januari 2018 di Museum Tekstil, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Besurek (Lagu Padamu Negeri) koleksi Dudung M Romadhon dari Batik Dudung, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Besurek (Lagu Padamu Negeri) koleksi Dudung M Romadhon dari Batik Dudung, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Sekali lagi, ada beberapa tujuan terkait berdirinya APPBI. Tiga terpentingnya adalah:

Satu, menggalang persatuan dan kesatuan para perajin dan pengusaha batik Indonesia agar memiliki visi dan misi yang sama untuk memiliki kekuatan strategis, memiliki daya tawar, meningkatkan posisi tawar yang lebih tinggi dan sederajat dalam kancah industri kreatif berbasis budaya khususnya bidang tekstil Indonesia secara luas.

Dua, meningkatkan kesejahteraan perajin batik, meningkatkan potensi sumber daya manusia serta melahirkan temuan-temuan teknologi baru dalam bidang kerajinan batik Indonesia.

Tiga, melengkapi dan mensinergikan dengan program-program kegiatan Yayasan Batik Indonesia, program-program Pemerintah, Kementerian dan Dinas-dinas terkait, institusi pendidikan serta institusi lain yang berhubungan dengan kegiatan dan dukungan terhadap kerajinan batik Indonesia pada umumnya.

2017, Nilai Ekspor Batik Indonesia US$ 51,15 juta

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih yang turut menyampaikan sambutan mengatakan, pada 2017 nilai ekspor batik dan produk batik mencapai US$ 51,15 juta, dengan pasar utama adalah Jepang, Amerika Serikat dan Eropa.

Sedangkan perdagangan produk pakaian jadi dunia mencapai US$ 442 miliar. Artinya, ini menjadi peluang besar bagi industri batik Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di dunia. Karena, batik merupakan salah satu bahan baku dari produk pakaian jadi. Industri batik nasional memiliki daya saing koperatif dan kompetitif di pasar internasional.

Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih bersama Ketua Umum APPBI Komarudin Kudiya. (Foto: Gapey Sandy)

Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih bersama Ketua Umum APPBI Komarudin Kudiya. (Foto: Gapey Sandy)

“Indonesia menjadi market leader yang menguasai pasar batik di dunia. Batik menjadi entitas bangsa yang semakin populer dan mendunia. Batik itu digemari oleh orang-orang asing. Bahkan Nelson Mandela setiap hari pakai batik, juga Barrack Obama dan Bill Gates. Sehingga kita sebagai rakyat Indonesia juga harus bangga mengenakan batik. Kita harus turut serta dan terus-menerus melestarikan budaya batik seperti yang dilakukan APPBI yang mewadahi perajin juga pengusaha batik Indonesia,” tutur Gati.

Dirjen IKM Kementerian Perindustrian ini juga mengatakan, saat ini Pemerintah membutuhkan data untuk memetakan dan menemukan solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi industri batik domestik.

“Kita perlu data (industri batik nasional – red). Karena seperti kita tahu, yang namanya impor borongan itu sudah ditutup. Sedangkan kebutuhan bahan baku untuk teman-teman perajin batik masih banyak sekali. Misalnya untuk bahan baku Kain Mori juga Kain Sutra Halus. Dengan ditutupnya impor borongan, maka Pemerintah berencana untuk membuat Material Center, karena IKM jelas tidak akan bisa membeli bahan baku dalam jumlah partai besar. Untuk membangun Material Center, kami perlu data, misalnya kebutuhan kain untuk memenuhi industri batik nasional, zat warna dan lainnya. Kami punya gedung di Semarang untuk bisa dijadikan Material Center. Mengapa di Semarang? Karena strategis lokasinya. Dekat menuju ke Pekalongan, Pemalang, Solo, Yogyakarta dan lainnya. Nah, yang sekarang sedang dicari adalah siapa pengelola Material Center tersebut. Kalau APPBI mau mengelola, ya silakan saja. Tapi jangan lupa, butuh duit,” urai Gati disambut tepuk tangan hadirin.

Batik Ipon koleksi Waritri Mumpuni dari Batik Batak Melayu. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Ipon koleksi Waritri Mumpuni dari Batik Batak Melayu. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Pinar Asi Asi koleksi Waritri Mumpuni dari Batik Batak Melayu. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Pinar Asi Asi koleksi Waritri Mumpuni dari Batik Batak Melayu. (Foto: Gapey Sandy)

Sedangkan menyinggung soal lesunya penjualan dan semakin sulitnya mengembangkan pangsa pasar batik, Gati menjelaskan bahwa Pemerintah sudah membangun e-Smart IKM dengan menggandeng 5 besar marketplace online. Yaitu: Bukalapak, Shopee, Bli-Bli, Tokopedia dan Belanja[dot]com.

“Apa sih masalah yang selama ini terjadi di marketplace online? Masalahnya yaitu, yang jualan didalamnya adalah hanya pedagang doang. Tetapi, kalau bergabung dengan kami melalui e-Smart IKM, maka yang akan berjualan adalah sudah pasti produsen, yang diantaranya saya harapkan merupakan para anggota APPBI,” harap Gati yang juga menunggu dengan segera, bila APPBI siap menyampaikan proposal kurikulum pendidikan batik untuk berbagai tingkatan sekolah.

Gati juga mengingatkan, antara YBI dan APPBI harus bersinergi. “Kalau saling kolaborasi, yang namanya pekerjaan pasti akan beres. Begitu juga apabila ada pameran batik, kalau bisa dilakukan bersama-sama saja. Jadi, jangan YBI bikin pameran, dan APPBI juga bikin pameran sendiri. ‘Sakit kepala’ nanti,” pesannya sembari menegaskan bahwa pada 2020 mendatang siap menjadikan Indonesia sebagai Moslem Fashion Center In The World.

“Saya percaya, kalau busana muslimnya dibuat dengan juga menggunakan kain batik, pasti hasilnya akan bisa lebih nendang lagi,” tukas Gati.

Batik Kompeni koleksi Romy Oktabirawa dari Batik Wirokuto, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Kompeni koleksi Romy Oktabirawa dari Batik Wirokuto, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Kompeni koleksi Romy Oktabirawa dari Batik Wirokuto, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Batik Kompeni koleksi Romy Oktabirawa dari Batik Wirokuto, Pekalongan. (Foto: Gapey Sandy)

Yayasan Batik Indonesia Sambut Baik APPBI

Sementara itu, Ketua Umum YBI, Justin Ginandjar Kartasasmita dalam sambutan tertulisnya menyatakan, pihaknya menyambut dengan senang hati dan mengucapkan selamat atas terbentuknya APPBI.

“YBI – yang sudah berdiri sejak 28 Oktober 1994 -, memiliki maksud dan tujuan terus meningkatkan dan mengembangkan serta melestarikan batik tentunya juga mendukung terbentuknya APPBI, sehingga upaya atau langkah yang belum atau tidak dapat dilakukan oleh YBI dapat bekerjasama dan bersinergi dengan APPBI, sehingga maksud dan tujuannya dapat terwujud,” ujarnya.

Menurut Justin lagi, terbentuknya APPBI diharapkan dapat mendorong semakin tumbuh dan berkembangnya batik bukan saja di Pulau Jawa, namun juga di seluruh wilayah Indonesia.

“Selain itu, para perajin dan pengusaha batik dapat berperan-serta dalam menyampaikan aspirasi dan harapannya agar tata kelola batik Indonesia bisa bertambah baik dan akan mendatangkan nilai-nilai positif yang baru demi berkelanjutan dan kesinambungan batik di masa mendatang,” katanya.

Batik dengan lafaz syahadat juga dipamerkan oleh APPBI di Museum Tekstil, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Batik dengan lafaz syahadat juga dipamerkan oleh APPBI di Museum Tekstil, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Oh ya, dalam susunan Pengurus Pusar APPBI 2017 — 2022, YBI termasuk dalam jajaran Pembina APPBI.

Kita tunggu sinergi rancak nan harmoni antaraYayasan Batik Indonesia (YBI) denganAsosiasi Perajin dan Busana Batik Indonesia (APPBI), demi kemajuan dan pelestarian Batik Indonesia.

 

o o O o o

* Tulisan ini juga sudah dimuat di Kompasiana edisi 22 Desember 2017.

alex sinaga 5

Menteri Pariwisata Arief Yahya. (Foto: IndoTelko)

“Pariwisata saya tetapkan sebagai leading sector. Pariwisata dijadikan sebagai leading sector ini adalah kabar gembira dan seluruh kementerian lainnya wajib mendukung dan itu saya tetapkan.”

Begitu disampaikan Presiden Joko Widodo dalam satu kesempatan Rapat Terbatas.

Yup, pariwisata memang tidak disebutkan secara saklek dalam Nawa Cita Joko Widodo – Jusuf Kalla. Tetapi, ia bisa merupakan penjabaran dari point ke 6 dan 7 Nawa Cita, yakni:

  • Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.
  • Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Pertanyaannya, ada di urutan berapa pariwisata dalam sektor prioritas pembangunan 2017?

Jawabannya, ada di urutan keempat, sesudah Pangan, Energi, dan Maritim. Barulah kemudian Pariwisata, disusul Kawasan Industri & KEK.

“Pada 2018 nanti, Pariwisata akan tetap termasuk dalam sektor prioritas pembangunan,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya ketika menjadi keynote speaker seminar bertajuk Digitalizing Wonderful Indonesia yang diselenggarakan IndoTelko – berkenaan dengan perayaan HUT keenamnya – di Balai Kartini, Jakarta, 14 Desember 2017.

Suasana seminar Digitalizing Wonderful Indonesia, 14 Desember 2017 di Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Suasana seminar Digitalizing Wonderful Indonesia, 14 Desember 2017 di Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Pertumbuhan pariwisata nasional dibandingkan negara-negara tetangga. (Sumber: Statistik Setiap Negara/Presentasi Menpar)

Pertumbuhan pariwisata nasional dibandingkan negara-negara tetangga. (Sumber: Statistik Setiap Negara/Presentasi Menpar)

Lalu, bagaimana gambaran perkembangan dunia pariwisata kita?

Well, sangat menggembirakan! Mengutip statistik dari sejumlah negara yang menjadi pesaing pariwisata Indonesia, ternyata pertumbuhan kedatangan wisatawan ke Indonesia, terbilang sangat tinggi dibandingkan beberapa negara jiran pesaingnya.

Sepanjang Januari – Oktober 2017, International Arrivals Growth ke Indonesia mencapai 24%. Sementara Malaysia, yang merupakan pesaing bebuyutan justru mengalami penurunan hingga 0,87% (Januari – Mei 2017). Thailand yang terus-menerus menjadi pemimpin pariwisata ASEAN, hanya tumbuh 6,69% (Januari – Oktober 2017). Nasib yang sama dialami Singapura, yang cuma mencatatkan pertumbuhan 3,83% (Januari – Juli 2017). Tapi, Indonesia hanya kalah sedikit dibandingkan Vietnam yang tumbuh apik dengan 25,2% sepanjang Januari – November 2017.

“Adapun pertumbuhan kedatangan internasional di kawasan ASEAN itu sendiri, tumbuh 7%. Sementara secara global, menurut UNWTO pertumbuhan terjadi hingga 6,4% saja,” ujar Menpar yang mengenakan kemeja batik ini.

Perolehan Devisa Indonesia Menurut Lapangan Usaha. (Sumber: Presentasi Menpar)

Perolehan Devisa Indonesia Menurut Lapangan Usaha. (Sumber: Presentasi Menpar)

Pariwisata Indonesia memang semakin kinclong di mata dunia. Baru-baru ini, Telegraph menulis bahwa Indonesia termasuk dalam jajaran 20 besar negara di dunia dengan pertumbuhan destinasi wisatanya. “Tak hanya itu, sepanjang 2016 kemarin, Indonesia meraih 46 penghargaan melalui berbagai event yang diselenggarakan di 22 negara. Hebatnya lagi, pada tahun ini, kampanye pariwisata nasional melalui video pemasaran berslogan Wonderful Indonesia berhasil menyabet dua kategori juara, yaitu sebagai People’s Choice Award dan Winner East Asia and Pacific Region di ajang UNWTO Video Competition 2017 yang berlangsung di Chengdu, China,” bangga Arief Yahya. UNWTO adalah Organisasi PBB untuk Pariwisata Dunia.

Pada September kemarin pun, Menpar juga menerima penghargaan berupa TTG Travel Awards 2017 di Bangkok, Thailand. TTG atau Travel Trade Gazette adalah media massa yang concern di bidang pariwisata sejak 1953. Dan, TTG Travel Award adalah penghargaan bergengsi di industri travel se-Asia Pasifik sejak 1989.

Ups, satu lagi!

November kemarin, lagi-lagi Menpar menerima penghargaan Dive Magazine’s Travel Award di Londok, Inggris. Ini untuk kategori Best Destination, dimana Indonesia meraih juara pertama selama dua tahun berturut-turut. Juga, kategori Best Resort & Spa, yang rinciannya adalah untuk destinasi Siladen – Bunaken (juara 1), dan Wakatobi (juara 3). Lalu, kategori Best Live Aboard untuk destinasi Pelagian di Sulawesi (juara 2).

Menteri Pariwisata Arief Yahya ketika berbicara dalam seminar Digitalizing Wonderful Indonesia, 14 Desember 2017 di Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Menteri Pariwisata Arief Yahya ketika berbicara dalam seminar Digitalizing Wonderful Indonesia, 14 Desember 2017 di Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Pariwisata Mendulang Devisa

Menpar juga memaparkan, pariwisata terbukti sukses mendulang perolehan devisa. Angkanya hanya takluk pada lapangan usaha Crude Palm Oil (CPO).

Pada 2014 misalnya, pariwisata (urutan 4) menyumbang devisa hanya 11166 juta dolar Amerika Serikat. Kemudian naik jadi 12225 juta dolar AS pada 2015, tetap sebagai ururan ke-4. Dan, pada 2016 melesat ke urutan dua menjadi 13568 juta dolar AS, atau dibawah CPO yang menyumbang devisa 15965 juta dolar AS. Adapun urutan ketiga dan seterusnya adalah Migas, Batubara, Pakaian jadi, Alat listrik, Perhiasan, dan Kertas (4032 juta dolar AS).

Apa kunci kesuksesan pariwisata nasional ini?

Menpar Arief Yahya tak sesumbar. Ia hanya menyebut kunci untuk merengkuh pertumbuhan hingga 24% ini adalah karena, kementerian yang dipimpinnya fokus untuk mengembangkan Go Digital.

Go Digital itu ternyata efektif, dimana secara lifestyle, ia mengubah mindset pariwisata menjadi personal, mobile dan interaktif. Hal ini terbukti karena sebanyak 70% dari pelaku wisata gemar untuk search and share dengan menggunakan teknologi digital. Dan memang, media digital itu empat kali lebih efektif dibandingkan dengan media konvensional,” ujar Menpar seraya memaparkan resep berikutnya yaitu 3T Revolution atau Telecommunication, Transportation dan Tourism.

Pariwisata nasional harus Go Digital, kata Menteri Pariwisata Arief Yahya. (Sumber: Presentasi Menpar)

Pariwisata nasional harus Go Digital, kata Menteri Pariwisata Arief Yahya. (Sumber: Presentasi Menpar)

Makanya, tegas Arief Yahya, ia meyakini benar kesimpulan yang menyatakan bahwa, digital tourism is revolution is natural revolution. Lantas apa sandarannya sampe bisa menegaskan hal demikian?

Menpar mengutip hasil sigi yang dilakukan TripAdvisor pada 2016. Survei ini menunjukkan, 63% dari seluruh travel saat ini adalah “travel online”, mulai dari researched, booked bought dan sold online. Contoh lain, ada lebih dari 200 ulasan per menit yang diunggah melalui TripAdvisor.

Berkaca dari generasi milenial yang tak bisa lepas dengan gadget dan layanan aplikasi media sosial, Menpar menekankan pentingnya setiap destinasi wisata untuk fokus pada Media Zaman Now. Apa itu?

Ada tiga yang harus diperhatikan, pertama, lakukan positioning sebagai esteem economy. Artinya, fokus pada customers. “Kids Zaman Now” itu 70%-nya eksis di dunia maya, dunia digital, bahkan media pun sebagai channel menuju ke sana. Makanya, pengelola destinasi wisata harus pandai mengakses dan mengelola fakta maupun data kekinian yang demikian.

Pariwisata harus fokus dan tanggap dengan Media Zaman Now. (Sumber: Presentasi Menpar)

Pariwisata harus fokus dan tanggap dengan Media Zaman Now. (Sumber: Presentasi Menpar)

Fokus menjadikan destinasi digital yang instagrammable dan targetkan viral. (Sumber: Presentasi Menpar)

Fokus menjadikan destinasi digital yang instagrammable dan targetkan viral. (Sumber: Presentasi Menpar)

Kedua, lakukan differentiating untuk destinasi digital. Ini tentu dimaksudkan untuk produk wisata. Alasannya sederhana, dunia pariwisata ini semakin kreatif, sehingga secara produk harus instagrammable, memikirkan obyek gambar, dan menciptakan serta mengolah destinasi digital. Sehingga, kalau turis-turis ini melakukan foto, layak untuk di-posting ke media sosial, dan banyak memperoleh like, comment, repost, juga share. Ini merupakan bentuk interaksi yang positif.

Ketiga, lakukan branding atau menuruti aliran “Kids Zaman Now”. Konteksnya adalah dari sisi promosi, dimana media harus berpromosi apabila ingin semakin kuat dan eksis di pasar anak muda ke masa depan.

“Destinasi digital itu adalah produk wisata yang kreatif, dan harus instagrammable sehingga dapat menjadi viral,” jelas Arief Yahya.

Ada sejumlah destinasi digital yang sudah intagrammable dan bisa menjadi contoh. Mereka adalah:

  • Pasar Pancingan di Lombok.
  • Pasar Mangrove di Batam — Kepri.
  • Pasar Karetan di Kendal — Semarang.
  • Pasar Siti Nurbaya di Padang.
  • Pasar Tahura di Lampung.
  • Pasar Kaki Langit di Yogyakarta.
  • Pasar Baba Boen Tjit di Palembang.
Pasar Mangrove di Batam yang instagrammable. (Sumber: Presentasi Menpar)

Pasar Mangrove di Batam yang instagrammable. (Sumber: Presentasi Menpar)

Pasar Tahura di Lampung yang instagrammable. (Sumber: Presentasi Menpar)

Pasar Tahura di Lampung yang instagrammable. (Sumber: Presentasi Menpar)

Turut menjadi pembicara dalam seminar ini adalah CEO PT Telkom Indonesia Alex J SInaga, Dirut Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, Direktur Digital Banking & Teknologi Informasi Bank BRI Indra Utoyo, CEO tiket[dot]com George Hendrata diwakili Gaery Undarsa, dan Prof Suhono Harso Supangkat selaku Ketua Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas.

o o O o o

* Tulisan ini juga sudah dimuat di Kompasiana, 14 Desember 2017.

KR 4

Hasil foto peserta lomba fotografi segera dipamerkan. (Foto: Gapey Sandy)

Siapa lagi yang mau memajukan Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kalau bukan warga masyarakatnya sendiri. Pikiran inilah yang salah satunya melandasi niat Panitia Festival Industri Kreatif Keranggan menyelenggarakan Lomba Fotografi.

Mengambil tema ‘Sungai Cisadane dan Local Pride’, panitia mencatat 50 peserta antusias mengikuti lomba pada Rabu, 6 Desember kemarin. Sedangkan festivalnya, berlangsung pada 5 — 7 Desember di lokasi Ecowisata Keranggan yang kini terus dikembangkan Pemkot Tangsel.

Keranggan adalah 1 dari 6 kelurahan yang ada di Kecamatan Setu, Tangsel. Lainnya adalah Kelurahan Setu, Muncul, Babakan, Bakti Jaya dan Kademangan. Dari 6 kelurahan ini, luas Keranggan termasuk yang paling kecil, 1,70 km2. Terluas, Kelurahan Setu dengan 3,64 km2.

Biarpun wilayahnya sempit tapi Keranggan justru jadi pionir untuk geliat membangun ekonomi kerakyatan. Usaha Kecil Menengah (UKM) menjamur bak cendawan di musim hujan. Mulai dari pengolahan Kacang Sangrai, Opak Singkong, Keripik Pisang, kue kering Kembang Goyang dan masih banyak lagi.

Tulisan soal bisnis Kacang Sangrai dan Keripik Pisang produksi UKM Keranggan, sudah pernah saya tulis di Kompasiana. Posisi Keranggan sendiri, kalau dari arah Pamulang, terus saja menuju ke Muncul, dan ketika sampai di perempatan Kampus ITI Serpong, masih lurus lagi ke Jalan Muncul lalu Jalan JLS menuju ke Cisauk – Tangerang.

Nah, kaitannya dengan lomba fotografi, sentra-sentra produksi UKM ini jualah yang menjadi target bidikan lensa-lensa kamera milik para peserta. Sesudah jam makan siang, para peserta yang berkumpul di Saung Cisadane — sisi kiri jembatan yang melintasi Sungai Cisadane dan menuju wilayah Cisauk, Tangerang — mulai bergerak menuju lokasi hunting foto.

Para peserta lomba fotografi membidik jepretan kreatif di bibir Sungai Cisadane, Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Para peserta lomba fotografi membidik jepretan kreatif di bibir Sungai Cisadane, Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Oh ya, by the way … saya menjadi 1 dari 3 juri lomba fotografi yang ditunjuk panitia. Dua rekan juri lainnya adalah Nico Freida, fotografer profesional yang juga traveler. Lalu, Kevin Gunadjaja, anak muda yang sudah menjalankan usaha studio foto.

Panitia rupanya sudah membuat plotting secara ketat. Dengan berjalan kaki sekitar 300 meter dari Saung Cisadane, rupanya peserta diarahkan untuk memotret kegiatan warga di sisi sebelah Utara jembatan yang melintasi Sungai Cisadane.

Obyek foto yang dijumpai adalah warga yang sedang mengayuh perahu getek bambu, sejumlah anak yang riang gembira mandi di sungai, juga warga yang terlihat sibuk menjala ikan.

Mengapa Sungai Cisadane?

Ya, karena daya tarik Keranggan, salah satunya adalah karena wilayahnya berbatasan langsung dengan sungai yang sumber airnya berasal dari Gunung Pangrango di Jawa Barat ini. Tak ayal, Sungai Cisadane menyatu dengan kehidupan masyarakat Kelurahan Keranggan. Selain terkenal dengan hasil perikanannya yang lumayan ada, daerah aliran sungai ini jua yang sekarang sedang nge-hits untuk ditampilkan sebagai bahagian dari pengembangan Ecowisata Keranggan.

Para peserta pun berjajar di sepanjang bibir sungai yang dipenuhi bebatuan koral aneka ukuran. Mereka seru-seruan menjepret apa saja yang menjadi daya tarik bidikan lensa kameranya.

Hasil karya peserta Lomba Fotografi disaksikan masyarakat Keranggan dan sekitarnya. (Foto: Gapey Sandy)

Hasil karya peserta Lomba Fotografi disaksikan masyarakat Keranggan dan sekitarnya. (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu karya bidikan kamera peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu karya bidikan kamera peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

Opak Singkong Keranggan

Puas menghabiskan durasi waktu yang disediakan panitia, para peserta kemudian diarahkan menuju lokasi hunting foto kedua. Enggak jauh-jauh amat sih, masih dalam satu area, yaitu pusat produksi Opak. Sudah tahu Opak ‘kan? Seperti kerupuk yang sangat tipis dan kaku. Terbuat dari bahan dasar singkong.

Di sini, ada 8 ibu rumah tangga yang sehari-harinya membuat Opak. Mereka bekerja sendiri-sendiri. Artinya, tempat tinggal mereka menjadi home industry. Yup, industri rumahan yang memproduksi Opak. Tetapi, karena ada 8 rumah yang memproduksi Opak, maka jadilah kawasan ini mirip jadi semacam sentra produksi Opak.

Dari hasil wawancara dengan salah seorang ibu yang sedang menjemur Opak, rupanya home industry Opak ini belum begitu lama berdirinya. Baru sekitar 3 – 5 tahun belakangan. Ya, mungkin saja, mereka membuat Opak sudak sejak puluhan tahun lalu, tapi untuk menjadi serius seperti sentra produksi, baru beberapa tahun belakangan saja.

“Kira-kira sejak sekitar 4 tahun lalu, kita mulai rame-rame buat Opak,” ujar Rasi’ah, nenek usia 75 tahun itu kepada saya.

Rasi'ah, nenek pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Rasi’ah, nenek pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Penyangrai kacang kulit di Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Penyangrai kacang kulit di Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut Rasi’ah, dalam sehari ia biasa mengolah 15 kg Singkong untuk dijadikan Opak. “Paling-paling, Opak yang bisa dihasilkan mencapai 400 sampai 500 lembar. Lembaran Opak mentah dari bahan baku Singkong ini kemudian dicetak sehingga ukurannya sama dan standar. Cetakannya cuma dari tutup toples plastik aja,” jelasnya sambil bilang bahwa cukup 2 jam saja proses penjemuran berlangsung.

Tangan terampil Rasi’ah nampak asyik membolak-balik Opak yang sedang dijemur beralaskan mirip pagar bambu. Warna Opak mentah ini agak keputihan. Ya, maklum aja, ‘kan berbahan dasar Singkong. Diameter lingkarannya sekitar sejengkal. Ketipisannya? Wah, ukuran millimeter deh kayaknya.

“Untuk membuat Opak, enggak pake bumbu macem-macem. Cukup Singkong sama garam aja,” tukas Rasi’ah membeberkan resep sederhananya.

Eh, ngomong-ngomong berapa harga Opak yang dijual Rasi’ah?

Murah bingit. Untuk 100 Opak, harga yang dipatok “cuma” Rp 20 ribu. Jadi, kalau Rasi’ah bisa bikin 500 Opak, maka ia akan mengantongi duit Rp 100 ribu. Kalau dalam sebulan Rasi’ah terus produksi Opak, tentu saja tinggal mengalikan Rp 100 ribu dengan 30 hari, sehingga totalnya Rp 3 juta.

“Komunitas” ibu-ibu pembuat Opak Singkong ini boleh jadi enggak ada matinya, karena bahan dasar Singkong termasuk yang masih gampang dicari. Meskipun, kadang-kadang ya rada seret juga menemukan “si ketela pohon” ini.

Salah seorang peserta Lomba Fotografi diantara pepohonan mencari posisi bidikan tepat. (Foto: Gapey Sandy)

Salah seorang peserta Lomba Fotografi diantara pepohonan mencari posisi bidikan tepat. (Foto: Gapey Sandy)

Sebagian ibu-ibu pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Sebagian ibu-ibu pembuat Opak Singkong di Kel Keranggan, Kec Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Setelah memotret di Sungai Cisadane dan sentra produksi Opak Singkong, panitia meminta para peserta kembali ke pos semula, Saung Cisadane. Karena, ada 1 bus yang sudah menunggu untuk mengangkut semua peserta menuju ke plotting lokasi hunting foto berikutnya. Hmmm, apa itu?

Ya, tidak salah lagi. Inilah yang sekaligus menjadi primadona Keranggan, apalagi kalau bukan sentra produksi Kacang Sangrai!

Bus mulai bergerak. Di atas bus, para peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Summarecon, Serpong ini, mulai sibuk mempersiapkan kembali “senjata”-nya: kamera. Termasuk Shania, mahasiswi UMN Fakultas Teknik & Informatika semester I. Sungguh, melihat Shania, saya seperti melihat tampilan member AKB48, heheheheee … Mungil, unyu-unyu dengan rambutnya yang pirang dan diikat ekor kuda.

“Seru banget deh lomba fotografi ini. Selain membangkitkan minat, bakat dan passion kita-kita, juga melatih praktik hunting foto. Apalagi, aku sendiri punya tugas kuliah untuk menyerahkan hasil hunting foto berupa story telling yang harus di-upload ke Instagram. Jadinya, ya memang harus sering-sering pergi kemana ‘gitu, untuk hunting foto,” ujarnya didampingi Ricky Yantho, juga mahasiswa UMN.

Ricky dan Shania, peserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

eserta Lomba Fotografi. (Foto: Gapey Sandy)

Spanduk Lomba Fotografi di Ecowisata Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Spanduk Lomba Fotografi di Ecowisata Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Shania tak menampik bahwa lomba fotografi ini muatan untuk mengangkat potensi lokal kedaerahan begitu kental sekali. Artinya, memang sesuai tema yang digancang panitia. “Lomba fotografi ini bisa membantu mengembangkan potensi Kelurahan Keranggan. Bagus ‘kan. Positif untuk mengangkat Keranggan berikut potensinya yang ada,” kata Shania yang kepada saya juga mengaku bahwa baru-baru ini saja tertarik fotografi. “Palingan awalnya ya untuk foto Instagrammable.”

Kacang Sangrai Keranggan

Jarak lokasi sentra produksi Kacang Sangrai dengan Saung Cisadane tidak begitu jauh, ya sekitar 1 — 2 km. Di lokasi ini, para peserta langsung menuju “dapur” produksi penyangraian. Secara bergiliran mereka masuk ke “dapur” dan melihat sendiri ada seorang pekerja yang sedang menyangrai. Media sangrainya seperti wajan yang mirip kuali. Bahan bakarnya pakai kayu bakar lho. Jadi, ya bisa dibayangkan, para peserta langsung terpapar hawa cukup panas selama di area “dapur”.

Tapi, meski bercucuran keringat dan menahan hawa panas, kamera-kamera terus bekerja mengambil gambar. Maklum, berasa epic banget deh bisa melihat langsung proses penyangraian yang mungkin selama ini belum pernah mereka bayangkan gimana praktiknya. Wkwkwkkkk … maklum ‘kids jaman now’.

Salah satu foto terbaik karya peserta Lomba Fotografi. yang dijepret di daour penyangraian kacang. (Foto: Dok. Panitia Lomba Fotografi)

Salah satu foto terbaik karya peserta Lomba Fotografi. yang dijepret di daour penyangraian kacang. (Foto: Dok. Panitia Lomba Fotografi)

Peserta sibuk memotret di daour penyangraian kacang. (Foto: Gapey Sandy)

Peserta sibuk memotret di daour penyangraian kacang. (Foto: Gapey Sandy)

Di luar “dapur” penyangraian, para peserta masih bisa memfoto pasangan suami istri, Na’ih (65) dan Mamnu’ah (60) yang sedang memilah-milih kacang hasil penyangraian untuk siap dikemas.

Ketika saya tanya, berapa banyak kacang kulit yang biasa diproses, Na’ih menjawab dengan jawaban yang bikin saya kaget. “Biasanya, selama 1 sampai 2 minggu, kita proses 6 ton kacang kulit. Sekarang, kacang sudah makin sulit diperoleh dari lokasi di sekitar kawasan sini. Jadi, kita pesan kacang dari Cilegon, Jonggol, Sumedang dan lain-lain. Untuk setiap 6 ton kacang kulit ini, kita biasa beli seharga Rp 90 juta,” ujarnya.

Menurut Na’ih lagi, dari sebanyak 6 ton kacang kulit tadi, ia kemudian menjualnya dalam hitungan liter, bukan kilogram. “Untuk Kacang Sangrai kering, dijual Rp 8 ribu per liter. Sedangkan yang basah, Rp 9 ribu per liter. Ongkos lain yang harus dikeluarkan adalah untuk kayu bakar dan pekerja penyangraian. Harga kayu bakar untuk 1 bak mobil terbuka jenis Cary seharga Rp 300 — Rp 500 ribu. Sedangkan untuk ukuran angkut 1 truk, harga kayu bakarnya Rp 1.250.000,” jelas Na’ih sembari menyebut upah pekerja penyangrai adalah Rp 50 ribu untuk menyangrai sebanyak 1 kuintal kacang kulit dengan durasi sekitar 1 jam.

Na’ih dan Mamnu’ah kompak menjawab sekitar tahun 2005 sebagai start awal membuka usaha Kacang Sangrai ini. “Sekarang, anak saya yang mengendalikan usaha ini,” ujar Na’ih.

Shania, peserta Lomba Fotografi sibuk membidik. (Foto: Gapey Sandy)

Shania, peserta Lomba Fotografi sibuk membidik. (Foto: Gapey Sandy)

Karya terbaik peserta Lomba Fotografi di sentra produksi Kacang Sangrai. (Foto: Dok. Panitia Lomba)

Karya terbaik peserta Lomba Fotografi di sentra produksi Kacang Sangrai. (Foto: Dok. Panitia Lomba)

Lewat waktu Ashar, karya-karya foto dikumpulkan. Mereka masing-masing menyetorkan 3 foto terbaik. Sehingga total, ada 150 karya foto. Dari jumlah sebanyak ini, langsung diseleksi pakai sistem gugur dengan acuan kesesuaian tema, menjadi 50 karya foto saja. Setelah itu, tim juri menyeleksi 3 foto paling the best sebagai juara 1, 2 dan 3.

Empat Kawasan Industri Tangsel

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangsel, Maya Mardiana dalam sambutannya mengiringi lomba fotografi dan aneka lomba lainnya mengatakan, ada empat kawasan industri yang kini terus dikembangkan Pemkot Tangsel.

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany sempat hadir melihat-lihat pameran hasil lokal Keranggan di lokasi Festival Industri Kreatif Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Yudi/Indag)

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany sempat hadir melihat-lihat pameran hasil lokal Keranggan di lokasi Festival Industri Kreatif Keranggan, Setu, Tangsel. (Foto: Yudi/Indag)

Kadis Indag Tangsel, Maya Mardiana, nomor dua dari kiri. (Foto: Gapey Sandy)

Kadis Indag Tangsel, Maya Mardiana, nomor dua dari kiri. (Foto: Gapey Sandy)

“Empat kawasan industri di Tangsel adalah industri tempe di Kedaung — Ciputat, industri konveksi di Jurangmangu, industri kuliner – kreatif – ecowisata di Keranggan — Setu, dan industri kerajinan pernik di Ciputat Timur. Karena itu, perlu ada kolaborasi yang baik dari semua pihak, seperti akademisi, kalangan bisnis, community dan Pemerintah sebagai fasilitator. Sehingga kolaborasi ini akan membawa hasil dan berdampak positif bagi masyarakat. Kalau Keranggan ingin terus mengembangkan ecowisata, maka kawasan ini harus eye catching. Caranya, selalu kedepankan kreativitas dan karya produktif terbaik,” tutur Maya dari atas panggung utama.

Semoga Keranggan semakin terus maju. Keranggan semakin jadi teladan.

 

  • Tulisan ini juga sudah dimuat & menjadi HEADLINE di Kompasiana, 8 Desember 2017.
FC 12

Sebagian peserta FACT tengah berkarya. Mereka merupakan pasangan anak dan orangtuanya. Kegiatan ini menebalkan interaksi harmonis antar anggota keluarga. (Foto: Gapey Sandy)

“Sekarang era creative making. Tren marketing saat ini adalah orang berjualan produk sendiri di pasaran atau menjadi produsen. Tidak bisa lagi hanya creative thinking. Nah, Kita punya produk yang dapat memacu creative making ini. Namanya ConnectorPen. Bukan hanya bisa buat menggambar, tapi setelah itu bisa untuk membangun aneka model craft sesuai kreativitas. Caranya, dengan memadukan dengan kertas pola maupun ConnectorPen itu sendiri.”

Demikian penjelasan Yandramin Halim selaku Managing Director Faber-Castell International Indonesia dalam acara Family Art Competitions (FACT) di Emporium Pluit Mall, Jakarta Utara pada Sabtu, 18 November 2017.

Sekitar 500 pasangan anak dan orangtua mengikuti FACT yang juga digelar secara beruntun hingga April 2018 di 32 kota. Jakarta bersama Bekasi dilaksanakan berbarengan waktunya. Sedangkan Medan, Semarang dan Solo sudah digelar lebih awal. “Waktu di Medan, pesertanya sekitar 750 pasangan anak dan orangtua,” tukas Halim, sapaan akrabnya.

FACT memang menuntut kerjasama tim antara anak dan orangtua. Interaksi mereka diuji untuk menghasilkan karya kreatif terbaik. Bukan hanya sekadar mewarnai dengan menggunakan ConnectorPen Faber-Castell, tapi juga membangun craft atau model tertentu, pun dengan memanfaatkan perangkat ConnectorPen masing-masing.

FC 10

Yandramin Halim melihat langsung kreativitas salah seorang peserta ajang FACT. (Foto: Gapey Sandy)

Interaksi harmonis antara anak dan orangtua inilah yang juga dibidik Faber-Castell. Sebuah target dan sasaran event berhadiah yang begitu mulia.

“Kita mengharapkan melakukan creative making dengan menggunakan Connector Pen ini dilakukan dalam keluarga masing-masing secara bersama-sama antara anak-anak dengan orangtua juga anggota keluarga lain,” ujar Halim lagi.

Mengapa begitu?

Hal ini penting, lanjut pria berkacamata ini, karena sekarang banyak orangtua yang memberikan alat bantu pengasuhan kepada anak-anak dengan cara memberikan mereka gadget. “Padahal justru disitulah mulainya muncul persoalan. Begitu anak-anak sudah keranjingan gadget lalu diberhentikan maka muncul konflik. Meski ada sisi positif dan negatifnya, tapi gadget membuat ketagihan penggunanya. Semua terpulang dari bagaimana kita meminimalisir ekses negatifnya,” jelas Halim lagi.

Bercermin dari problem generasi milenial kekinian inilah, yang akhirnya membuat Faber Castell menyelenggarakan event interaktif, dimana anak-anak dan orangtua atau anggota keluarga yang lain dapat melakukan kegiatan kreatif bersama. “Sehingga tumbuhlah rasa kebersamaan antar sesama anggota keluarga,” terang Halim kepada awak media dan blogger.

FC 7

FACT menggelorakan semangat kerjasama tim antara anak dan orangtua. (Foto: Gapey Sandy)

Buat anak-anak, tutur Halim, kegiatan ini bisa melatih creative making sekaligus creative thinking. Sementara buat orangtua, melalui FACT diharapkan mampu menebalkan rasa kebersamaan dengan buah hatinya, selain menikmati momentum rileks.

“Antara orangtua dan anak-anaknya bekerjasama sebagai satu tim dan pasti ini akan jadi moment yang sangat memorable, membanggakan sekaligus mengesankan sepanjang masa,” harapnya.

Halim menandaskan, kegiatan seperti FACT ini memiliki nilai positif untuk semua dan sesuai dengan slogan yang terus disuarakan Faber-Castell. Apalagi kalau bukan: “Art For All, Seni Untuk Semua”.

Lantaran dilaksanakan secara masif hingga 32 kota, Halim berharap dapat menjaring total seluruh peserta sebanyak 16.000 pasangan anak dan orangtua. Nantinya, seluruh pemenang dari tiap kota akan dipertandingkan kembali karya-karya kreatifnya. Dewan juri yang sudah tentu memiliki kapabilitas dan profesional akan memilih 8 pasang juara. “Mereka inilah yang nantinya akan mendapat hadiah melakukan wisata city tour ke Thailand,” tukasnya.

FC 11

Semangat berkarya dan berkreasi dengan menggunakan ConnectorPen produksi Faber-Castell. (Foto: Gapey Sandy)

Faber-Castell Gelorakan ‘Art For All’

Pelukis kenamaan dunia, Vincent van Gogh, yang sempat mengakui keandalan pensil Faber-Castell pernah mengatakan, karya besar tidak dikerjakan oleh dorongan, tapi oleh rangkaian hal-hal kecil yang dibawa bersama-sama.

Pernyataan van Gogh rupanya diyakini dan dipahami benar oleh Faber-Castell. Bahkan tak hanya itu, diimplementasikan dengan menciptakan ConnectorPen yang ketika dilombakan sejak empat tahun lalu — dengan tajuk ConnectorPen Challenge —, benar-benar terbukti menciptakan kebersamaan antara anak-anak dan orangtua. Mereka saling berkolaborasi untuk menciptakan aneka craft dari ConnectorPen, karena memang tematik lombanya adalah Family Art Experience.

Kebersamaan dalam menghasilkan seni kreatif inilah yang juga menjadi misi kampanye ‘Art4All’. Hal ini pula yang disampaikan Andri Kurniawan selaku Public Relation Manager Faber-Castell ketika memaparkan program nan edukatif, ‘Art4All’ dalam satu kesempatan di pabrik Faber-Castell yang ada di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.

FC 6

Karya-karya kreatif membangun model menggunakan ConnectorPen turut dipajang. Keren-keren ya kan. (Foto: Gapey Sandy)

Mengutip ujaran Pablo Picaso, pelukis Spanyol yang hidup pada masa 1881 — 1973, Andri mengatakan, “Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up. (Setiap anak itu seniman; Masalahnya adalah bagaimana membuatnya tetap jadi seniman ketika mereka tumbuh dewasa).”

Menurut Andri, perkembangan di abad 21 membuktikan bahwa, semakin terasa kalau seni berguna sekali untuk menghadirkan pemikiran kritis, komunikatif dan kreatif. “Inilah yang dibutuhkan pada abad 21, tidak saja science dan sebagainya. Jadi, kita naik satu level yakni kepada wilayah seni. Seni sebagai salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Apalagi. faktor penentu berhasil atau tidaknya seseorang itu tidak hanya ditentukan dari keberhasilan akademis belaka. Tapi juga dibutuhkan Life Skills, 21st Century Content, Core Subjects, Learning & Thinking Skills, hingga ICT Literacy,” urainya.

Untuk memenuhi Life Skills, lanjut Andri, sejumlah faktor harus terpenuhi, misalnya:

  • Critical Thinking & Problem Solving.
  • Creativity & Innovation.
  • Communication & Information.
  • Collaboration.
FC 14

Interaksi anak dan orangtua dalam berkarya. Momentum yang akan senantiasa menjadi memorable. (Foto: Gapey Sandy)

Adapun Learning & Thinking Skill mensyaratkan kecakapan hal-hal berikut ini:

  • Bahasa | Membaca | Matematika.
  • Pengetahuan Alam | Bahasa Asing | PPKN.
  • Ekonomi | Seni | Sejarah | Geografi.

Pendidikan seni, ujar Andri, sangat dibutuhkan oleh orang-orang untuk perkembangan saat mereka bekerja, dan terkait dengan perkembangan ekonomi sebuah negara. Itulah mengapa di Indonesia ada Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf), sebagai sebuah institusi yang sangat challenging untuk masa depan Indonesia.

“Survei yang dilaksanakan IBM terhadap lebih dari 1.500 CEO dari 60 negara yang berasal dari 33 sektor industri menyimpulkan bahwa, kreativitas adalah kunci nomor satu untuk membawa seseorang mencapai tahap sukses dalam bisnis,” tegas Andri.

5 Teknik Mewarnai Pakai Connector Pen

Ada 5 teknik mewarnai menggunakan ConnectorPen yang bisa dikreasikan dalam satu bidang gambar kosong.

Pertama, teknik pointillism. Sesuai namanya, inilah teknik menggambar dan mewarnai dengan cara mengisi bidang-bidang dengan kumpulan titik-titik.

FC 1

Teknik Pointilsm. (Sumber: Faber-Castell)

Kedua, teknik contour. Caranya dengan mengikuti kontur bentuk sketsa yang hendak diwarnai.

FC 2

Teknik Contour. (Sumber: Faber-Castell)

Ketiga, teknik squiggling yang melakukan pewarnaan dengan cara membuat pola yang sama hingga penuh.

FC 3

Teknik Squiggling. (Sumber: Faber-Castell)

Keempat, teknik patterning adalah mengisi bidang-bidang dengan kumpulan motif/pola/bentuk yang berulang-ulang.

FC 4

Teknik Patterning. (Sumber: Faber-Castell)

Kelima, teknik doodling yakni membuat sketsa seperti membuat benang kusut.

FC 5

Teknik Doodling. (Sumber: Faber-Castell)

Teruslah berkreasi. Semangat creative thinking harus seiring sejalan dengan creative making. Ini tuntutan “Zaman Now”.

Bukan Semata Incar Kemenangan

Salah seorang ibu muda yang tampak asyik berinteraksi dengan buah hatinya adalah Airin Suwandi. Ketika penulis menanyakan tanggapannya atas kegiatan FACT ini, Airin menukas, seru sekali acaranya.

“Seru banget acaranya. Karena biasanya, jarang ada event yang bisa melibatkan kebersamaam antara orangtua dengan anaknya. Umumnya kan, event lainnya hanya memposisikan orangtua sebagai pendamping saja. Nah, FACT ini beda. Sejauh ini kami fun-fun saja. Sebagai orangtua, saya bisa memberi masukan kepada anak untuk lebih berkreasi dan kreatif lagi,” tuturnya.

Airin Suwandi, siswi kelas 3 SD Pah Tsung Cengkareng Timur, Jakarta Barat adalah putri Cindy Hudaya. Airin tampak asyik menggunakan ConnectorPen demi memenuhi ruang kosong pada bidang yang harus diwarnainya.

FC 13

Airin Suwandi bersama orangtuanya, Cindy Hudaya. (Foto: Gapey Sandy)

“Saya sudah bilang kepada anak saya bahwa lomba ini adalah untuk memupuk kebersamaan antara anak dan orangtua. Bukan semata mengincar kemenangan kemudian bisa pergi wisata city tour ke Thailand. Jadi, ya kami have fun. Ini juga sebagai bentuk quality time keluarga juga,” ujar Cindy senang.

Salam ‘Art For All’.

MONA 14

Salah satu showroom jual beli mobil bekas di bilangan Kota Tangerang Selatan, Banten. [Foto: Gapey Sandy]

Presiden Joko Widodo berharap, Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara pada 2020.

= = = = = =

Harapan Presiden Jokowi bukan angin surga belaka. Tekad ini kembali diulangi ketika membuka Indonesia Digital Byte (IDByte) 2017 di Jakarta, baru-baru ini. Menurut Presiden, pemanfaatan teknologi mampu menjadikan Indonesia negara berdaya saing tinggi dan ekonomi besar. Perkembangan teknologi yang pesat tidak bisa dibendung atau ditolak. Perusahaan atau pelaku usaha harus melakukan inovasi dan kreatif memanfaatkan teknologi sehingga menjadi pemain besar.

“Dengan teknologi, membuat perusahaan jadi semakin mudah mengakses seluruh penjuru. Perusahaan yang terkoneksi dengan teknologi internet, lebih mudah dikenal dan mudah menjangkau masyarakat,” pesan Presiden Jokowi.

Ya, begitulah teknologi internet, era digital yang kini terus menggelinding. Bahkan zaman ini pun melahirkan Generasi Y atau Generasi Milenial. Penghuni lapis generasi ini adalah yang terlahir pada tahun 1980 – 2000.

MONA 15

Marketplace jual beli mobil bekas yang mudah, aman dan nyaman. [Sumber: momobil.id]

By the way, gimana sih karakter Generasi Milenial?

Yoris Sebastian, Dilla Amran & Youth Lab dalam bukunya “Generasi Langgas : Millennials Indonesia” menyebut ‘8C’ sebagai karakternya. Yaitu:

  • Collective, tidak berkegiatan sendiri-sendiri.
  • Customisation, mengadopsi sesuai karakter masing-masing.
  • Community, gemar berkomunal.
  • Close to Family, lebih dekat dengan keluarga.
  • Change Over Generation, lebih kritis dan berani menyampaikan opini.
  • Chasing Inspiration, suka mencari role model dan idola di Generasi X.
  • CONNECTED, membuka banyak koneksi baru dengan dunia luar, utamanya menggunakan internet.
  • Confidence, punya kepercayaan diri yang tinggi.

Kata CONNECTED sengaja saya kapitalkan, karena seutuhnya tulisan ini terkait dengan sektor industri kreatif yang memakai teknologi internet secara online. Menurut hasil survei We Are Social, Hootsuite, Jan 2017, jumlah penduduk Indonesia adalah 262 juta jiwa. Dari populasi sebanyak ini, pengguna internetnya mencapai lebih dari separuh, atau 132,7 juta. Adapun 106 juta diantaranya, diketahui sebagai pengguna aplikasi media sosial.

Screenshot_2017-09-19-08-06-40-294

Sumber: We Are Social, Hootsuite, January 2017.

Potret Pengguna Internet di Indonesia

Jangan ‘main-main’ dengan pengguna internet di bumi pertiwi, karena menurut internetworldstats[dot]com, Indonesia berada di urutan kelima dari 20 negara di dunia pengguna internet terbanyak. Data per 30 Juni 2017 ini menahbiskan China sebagai penghuni nomor wahid pengguna internetnya dengan 738,5 juta users, disusul India (462,1 juta), Amerika Serikat (286,9 juta), Brazil (139,1 juta), lalu Indonesia (132,7 juta). Posisi paling buncit atau ke-20 adalah Korea Selatan dengan hanya 47 juta pengguna internet.

Hebatnya lagi, diantara negara-negara ASEAN, jumlah pengguna internet di Indonesia tak tertandingi. Pesaing terdekat Bangladesh, hanya ada di urutan ke-10 dengan 73,3 juta internet users saja. Kemudian Vietnam posisi ke-12 (64 juta), Filipina urutan ke-14 (57,6 juta), Thailand posisi ke-15 dengan 57 juta internet users.

Sementara itu, bersumber dari hasil survei Masyarakat Telekomunikasi (Mastel) dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016, waktu yang dihabiskan pengguna internet di Indonesia adalah lebih dari 6 jam setiap harinya. Durasi ini menjadi yang terbanyak, dengan 55,39%. Sedangkan mereka yang mengaku mengakses internet antara 5 – 6 jam, berjumlah 14,31% saja.

MONA 12

Sumber: internetworldstats.

Sementara soal frekwensi yang dibutuhkan untuk mengakses internet, para pengguna di Indonesia menyebut sebanyak 3 kali bahkan lebih dalam 1 jam. Prosentasenya tinggi banget lho, mencapai 76,67% pengguna.

Dari durasi dan frekwensi terkoneksi akses internet ini, aplikasi apa sih yang banyak dimanfaatkan? Lagi-lagi, survei tersebut mengungkapkan, bahwa ternyata mayoritas pengguna (95,10%) memilih aplikasi Media Sosial. Disusul aplikasi Messenger (73,70%), Peta (64,80%), E-Commerce (61,10%), dan Pesan Tiket (43,40%).

Adapun Media Sosial yang terbanyak digunakan itu adalah Instagram, Facebook, dan Pinterest. Sementara Chat atau Messenger yang dominan dipergunakan yaitu Line, WhatsApp, dan Blackberry Messenger.

APJII 1

Sumber: Mastel dan APJII 2016.

Bercermin dari fakta dan data ini, bila kemudian Presiden Jokowi menegaskan asanya untuk jadikan Indonesia sebagai negara ekonomi digital tergemuk se-Asia Tenggara pada 2020, rasa-rasanya sih harapan ini mampu terwujud. Sekaligus pula, ini berarti Indonesia benar-benar telah menjadikan industri kreatif beserta industri kerajinan sebagai panglima ekonomi, masa depannya ekonomi Nasional.

Maka dari itu, tak berlebihan kalau jauh-jauh hari Kementerian Kominfo sudah pasang target melambung. Sampai dengan 2020, Kominfo menargetkan kehadiran 1000 gerakan start up, 1.000.000 petani dan nelayan go digital, dan 8.000.000 UKM go digital. Dasar pemikirannya karena, ekonomi digital menjadi ‘jalan tol’ untuk pertumbuhan industri kreatif dengan platform digital.

APJII 2

Sumber: Mastel dan APJII 2016.

Menurut Rhenald Kasali dalam bukunya Disruption (2017), teknologi digital menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru, lebih efisien, dan lebih bermanfaat, ketimbang teknologi lama yang serba fisik. Di era milenial, disruption atau perubahan menjadi begitu akrab dan dinamis dengan jargon ‘3S’ atau Speed, Surprise dan Sudden Shift.

Keseharian dan rutinitas secara daring berplatform teknologi digital memang selalu bergumul dengan perubahan yang begitu cepat (speed). Bagi incumbent yang tidak siap mengadaptasi teknologi terkini pasti akan merasa terkejut (surprise) dengan perubahan cepat yang berlangsung senyap. Pergeseran secara tiba-tiba (sudden shift) akan pola bekerja, berusaha, berbisnis yang cepat dan mengejutkan inilah yang sedang berlangsung kita semua alami saat ini.

Bagi incumbent yang kurang sigap menghadapi disruption, fatal akibatnya. Terakhir, kita membaca melalui media massa, beberapa peritel raksasa terpaksa menutup gerai. Silang pendapat pun mengomentari. Ada yang menganggap hal ini terjadi karena perubahan budaya masyarakat dalam metode berbelanja yang berlangsung secara online. Sebagian, justru menyangkal.

Tapi, menurut Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, salah satu penyebab ritel menutup gerai adalah karena pasar e-commerce. Data menyebutkan, memang baru sekitar 29% atau sekitar 26,3 juta jiwa masyarakat yang menjadi konsumen dalam pasar e-commerce, tapi antisipasi ke depan adalah keharusan.

Potret Industri Otomotif Nasional

Kondisi disruption yang sama, saya meyakini terjadi juga pada bisnis penjualan otomotif. Meskipun terjadi lonjakan penjualan mobil-mobil anyar pada setiap ajang pameran, tapi untuk jual-beli kendaraan bekas, ceritanya bisa lain lagi. Apalagi, masyarakat mulai memanfaatkan teknologi internet dengan platform aplikasi digital untuk memenuhi kebutuhannya akan mobil bekas.

Dashboard 1(2)

Sumber: Gaikindo.

Tapi, sebelum lebih jauh kita ulas salah satu aplikasi jual beli mobil bekas yang semakin mendapatkan tempat dalam sanubari masyarakat, mari tengok dulu gimana sih perkembangan industri otomotif Nasional.

Sepanjang kwartal pertama 2017 ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan bahwa, produksi otomotif dalam negeri mencapai 421.153 unit, sedangkan pasar otomotif domestik menyentuh angka 373.407 unit. Pencapaian ini menunjukkan kenaikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, dimana produksi mencapai 389.522 unit, sementara pasar domestik 352.072 unit. Komparasi data ini jelas menggembirakan, karena industri otomotif dalam negeri masih kokoh dan memperlihatkan trend positif.

Menggairahkannya industri otomotif Nasional yang ditandai produksi nan bertumbuh dan pasar otomotif domestik yang juga menggelembung, pasti membawa pengaruh juga terhadap bisnis ‘turunannya’. Yup, apalagi kalau bukan jual beli mobil bekas.

Dashboard 1

Sumber: Gaikindo.

Sejauh ini, angka penjualan mobil bekas dipastikan masih jauh lebih besar dibandingkan dengan mobil baru. Hal ini didukung dengan kemudahan orang untuk melakukan jual beli mobil bekas, yaitu cukup dengan memanfaatkan teknologi internet berupa aplikasi online. Kini, orang tidak lagi menjual mobil miliknya dengan cara diparkir di pinggir jalan, seraya ditempelkan besar-besar tulisan ‘DIJUAL’ agar orang yang lalu-lalang melihat dan tertarik membeli.

Memang, belum ada hasil survei yang menjadi rujukan, berapa besar pundi-pundi nilai jual beli mobil bekas secara online. Tapi bisa dibilang, transaksi jual beli mobil bekas dipengaruhi oleh hal-hal berikut ini, seperti misalnya:

  • Produksi mobil baru berbagai merek oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM).
  • Suku bunga acuan kredit Bank Indonesia.
  • Suku bunga kredit perbankan.
  • Pola konsumsi masyarakat.
  • Kemudahan interaksi dengan situs maupun aplikasi online jual beli otomotif.

Tentang MOMOBIL.ID

Terkait point kelima yaitu kemudahan melakukan interaksi dengan situs atau aplikasi online jual beli mobol, maka salah satu marketplace otomotif terbaik dengan layanan terlengkap dan kredit mobil terpercaya adalah momobil.id. Inilah situs “Jual Beli Mobil : Mudah, Aman dan Nyaman” secara online, yang membeli kendaraan dengan penawaran cepat, sekaligus menjadi cara termudah untuk membuka lapak penjualan kendaraan.

MONA 10

Sumber: momobil.id

Untuk urusan pembiayaan, momobil.id menjalin kerjasama erat dengan Adira Finance — yang sudah berpengalaman selama 26 tahun — guna membantu proses cepat perkreditan. Hal ini juga berarti bahwa ketika seseorang menjual mobilnya melalui momobil.id, maka sama saja dengan melakukan transaksi dengan pihak lain yang jujur, memiliki reputasi baik, berintegritas tinggi, dan terjamin penyelesaian pembayaran jual mobilnya.

Selain bekerjasama dengan Adira Finance, pihak OJK atau Otoritas Jasa Keuangan juga mengawasi setiap bentuk transaksi maupun pembiayaan yang berlangsung. Tak bisa ditampik, ini membawa perasaan aman dan nyaman.

Cukup dengan menggerakkan jemari, momobil.id siap menemukan aneka macam kualitas dan kebutuhan dari beragam tipe maupun merek mobil bekas. Mulai dari sedan sampai MPV, mulai dari produksi Jepang hingga Eropa juga Amerika.

MONA 11

Sumber: momobil.id

Bukan cuma itu, momobil.id juga menawarkan cicilan ringan — yang bisa dipilih sendiri waktu dan jumlahnya sesuai kemampuan finansial — dengan harga jujur dari seller terpercaya. Untuk itu, momobil.id menyediakan fitur simulasi kredit mobil second agar semua bisa merencanakan kredit. Keuntungan fitur ini adalah memudahkan untuk mengetahui jumlah uang muka, cicilan, dan waktu tenor.

Apakah ada jaminan kualitas untuk setiap mobil yang ditransaksikan via momobil.id? Tentu saja ada. Situs ini menyediakan garansi dan sertifikasi mobil yang akan dijual supaya kredit mobil bekas yang dibeli dari momobil.id benar-benar berkualitas dan terpercaya. Selain melengkapi dengan jaminan garansi mesin, momobil.id juga menyiapkan fitur kebijakan pengembalian bila mobil yang dibeli tidak tersertifikasi secara kelengkapan surat. Wow, ini pasti penting bukan? Siapa juga mau beli mobil bekas yang bodong, toh?

Pokoknya, momobil.id menyuguhkan layanan one-stop transaction yang membuat siapa saja dengan mudah melakukan transaksi sedari awal hingga akhir cukup lewat online. Sekali lagi coba tanyakan: Apakah cara begitu aman? Yup, tentu! Kok bisa? Karena, marketplace otomotif yang satu ini menjamin setiap transaksi kredit mobil bekas (cicilan ringan) dengan menyiapkan layanan expert gratis. Service dari sang ahli inilah yang siap mengecek setiap sertifikasi penjual mobil, mulai dari biodata hingga kualitas mobil yang siap dialihkan kepemilikannya. Tambahan lagi, pengguna juga bisa menggunakan kredit mobil bekas dari momobil.id untuk melakukan pembelian mobil di tempat lain.

MONA 9

Sumber: momobil.id

MONA 7

Sumber: momobil.id

Layanan Kekinian Media Sosial MOMOBIL.ID

Hal menarik lainnya dari layanan momobil.id adalah aplikasi kekinian yang memanjakan para member-nya melalui media sosial. Bukan sekadar punya jejarin media sosial, tapi Facebook momobil.id dan Instagram momobil.id selalu melakukan update. Ini yang penting! Selalu aktual. Karena memang, di era milenial siapa yang tidak cepat, kurang terkoneksi internet dan gagap melakukan disruption pasti bakal kalah bersaing.

Saya mengamati konten media sosial momobil.id. Ternyata, benar-benar sungguh membuat saya selalu ingin kembali berkunjung dan berkunjung lagi. Mengapa? Yup, jawabannya tepat: Karena, kontennya kaya manfaat! Sebut saja misalnya:

Pertama, Konten Etalase Showroom yang bermuatan foto berikut informasi mobil-mobil yang dijual. Selain foto yang jelas, tipe, harga dan lokasi juga tercantum di etalase showroom ini.

MONA 5

Sumber: momobil.id

Kedua, Program Promo. Selalu ada saja program penawaran khusus yang menguntungkan bagi pengguna momobil.id. Ini yang membuat seolah-olah pengguna akan rugi bila kudet atau kurang update akan konten media sosial momobil.id.

MONA 4

Sumber: momobil.id

Ketiga, bertaburan Tips Otomotif. Tidak perlu menjadi ahli mekanik otomotif untuk bisa memahami berbagai tips yang diunggah admin media sosial momobil.id. Bahkan yang awam tentang otomotif sekalipun dapat mudah memahami tips-tips bermanfaat tersebut. Malah kadang-kadang, tips tentang bagaimana mengoperasikan kendaraan sesekali membuat saya terangguk-angguk karena menjadi masukan baru sekaligus memperbaiki kesalahan pengoperasian kendaraan selama ini. Hehehehee … ini jujur.

MONA 1

Sumber: momobil.id

Salah satu tips yang diunggah di Instagram momobil.id adalah tips keuangan selama kita mengambil kredit mobil. Apa sajakah itu:

  • Hitung Pengeluaran. Catat dan hitung jumlah pengeluaran yang dilakukan setiap bulan. Hal ini akan membantu membatasi pengeluaran yang tidak begitu penting.
  • Tentukan Jumlah utang Maksimal. Jumlah utang termasuk cicilan dianjurkan tidak melebihi 30% dari jumlah total penghasilan yang dimiliki.
  • Tetap Menabung. Meskipun memiliki sejumlah cicilan dan utang, namun disarankan untuk selalu menabung. Besaran tabungan yang dianjurkan setidaknya 10% dari total penghasilan setiap bulannya.
  • Pisahkan Rekening. Buat dua rekening yang terpisah, yaitu rekening pengeluaran rutin (biaya hidup, cicilan dan sebagainya) serta rekening tabungan. Hal ini akan membantu untuk membatasi pengeluaran dan mengelola keuangan dengan lebih bijak serta teratur.

Keempat, konten media sosial momobil.id juga berisikan Informasi Aktual yang penting diketahui. publik, dan kalimat bijak penuh Motivasi.

MONA 13

Sumber: momobil.id

MONA 2

Sumber: momobil.id

Seperti misalnya, informasi aktual tentang pemberlakuan uang elektronik untuk pembayaran akses tol per 31 Oktober 2017. Juga, kalimat motivasi di atas ini. “Difficult road often lead to beautiful destinations.” Penafsirannya: Terkadang jalan tak selamanya mulus, tapi yakinlah bahwa keindahan sedang menanti di akhir perjalanan. Tetap semangat apapun kondisinya.

Kelima, tidak semua konten harus mengernyitkan dahi. Admin media sosial momobil.id juga mengunggah Informasi Hiburan yang tetap terkait dengan otomotif.

Salah satunya, informasi hiburan berjudul ‘Tom Cruise dan Mobil Supernya’. Pembaca jadi bisa tahu bahwa ternyata aktor berusia 54 tahun ini punya beberapa mobil berkelas, yang tidak hanya mewah tapi juga dilengkapi sistem keamanan mutakhir, mulai dari kaca mobil anti peluru sampai anti bom, wakwaooo! Mobil-mobil koleksi Mas Tom sering diumpamakan bagaikan truk berlapis baja yang dikemas tampilan maskulin mewah, seperti Porsche 911 Turbo, Bugatti Veyron, Ford Mustang Saleen S281, Ford Mustang Saleen, Chevrolet Corvette, Chevrolet Chevelle SS dan masih banyak lagi.

MONA 3

Sumber: momobil.id

Terhindar dari Penjual Mobil Bekas Nakal

Last but not least, pilihan menggunakan momobil.id bukan sekadar dapat menikmati beragam keuntungan seperti yang sudah dipaparkan di atas. Tapi, yang juga sangat penting adalah, pengguna dapat mengenyahkan perasaan labil apalagi khawatir bila harus berhadapan dengan penjual mobil bekas yang nakal.

Seperti dirangkum dari beberapa sumber, kenakalan penjual tersebut bisa berupa:

  • Mengutak-atik Odometer. Ada saja yang memundurkan odometer atau jarak tempuh mobil, sehingga dengan memiliki kilometer atau jarak tempuh rendah, membuat konsumen makin berminat.
  • Nomor Rangka Tak Sama. Nomor rangka dan nomor mesin kendaraan wajib sesuai dengan BPKB dan STNK. Kalau beda, boleh jadi mobil itu adalah mobil curian, atau surat-surat asli mobil jauh dari lengkap.
  • Penjualan Mobil di Lokasi yang Gelap. Karena sulit melihat kondisi mobil secara terang dan jelas, mungkin saja ada cacat kecil yang tidak kelihatan.
  • Penjualan Dibawah Harga Pasaran atau Butuh Uang. Jangan buru-buru Khawatirnya, terdapat kerusakan fatal atau cacat yang tak bisa diperbaiki lagi pada mobil. Atau, dokumen juga sudah tidak lengkap, tidak asli.
  • Penjualan Mobil Bekas Banjir. Cara melakukan pengecekan mobil bekas banjir adalah dengan melihat body samping mobil dengan seksama. Jika sedikit ada bekas garis kotor pada body mobil, sudah dipastikan mobil tersebut merupakan mobil yang sering melewati banjir.

Akhirnya, untuk urusan jual beli mobil yang enggak bikin rempong, pastikan memilih momobil.id yang sudah terpercaya. Ingat lho ya: “Seseorang yang tidak menghargai proses jual beli mobil, pasti tidak akan menghargai mobil itu sendiri.”

Bersama Momobil, Enyahkan Labil.

banner-momobil-blog-competition