003 ok

Penulis berpose di depan Masjid Agung Nurul Bahar, Tidore Selatan. Masjid ini pernah menjadi saksi bisu konflik kemanusiaan di Maluku Utara. Foto diambil pada tahun 2000, ketika penulis bertugas meliput langsung ke lapangan konflik kemanusiaan tersebut. (Foto: Gapey Sandy)

Saya tertegun melihat lagi gambar-gambar yang dicetak di atas kertas foto itu. Semuanya foto yang dijepret pada tahun 2000. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tidore untuk kali pertama. Lawatan ke pulau rempah-rempah ini bukan sembarang kunjungan apalagi perjalanan wisata. Bukan. Ketika itu, saya menjadi salah seorang jurnalis yang diterjunkan langsung ke lokasi konflik kemanusiaan dimana ketika itu terjadi pertikaian horizontal di Maluku Utara. Oh ya, ketika datang di Tidore, saya melakukan penerbangan udara dari Jakarta menuju Manado (Sulawesi Utara) lalu menumpang pesawat kecil ke Ternate. Dari Ternate, barulah menumpang perahu bermotor ke Halmahera Utara juga ke Tidore.

Saya masih menjadi penyiar sekaligus jurnalis di Radio Republik Indonesia (RRI) Programa 2 Jakarta, ketika peristiwa kelam itu terjadi pada 17 tahun silam. Diantara foto yang menjadi saksi mata bersejarah itu adalah ketika saya tengah berdiri dengan latarbelakang Masjid Agung Nurul Bahar di Kelurahan Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.

Masjid Nurul Bahar ketika itu menjadi saksi atas hilir-mudiknya sekelompok warga yang terlibat konflik horizontal teramat memprihatinkan. Secara umum, saya menggambarkan Tidore cenderung sepi dan mencekam. Jejak-jejak pertikaian dan dampak kerusakan yang ditimbulkannya cukup terlihat di sejumlah titik. Tetapi boleh dibilang, tingkat destruktifnya tidak sehebat seperti yang sempat saya saksikan juga di Ternate dan Halmahera Utara.

005 ok

Sekelompok massa nampak melintas menuju pelabuhan terdekat, dekat Masjid Nurul Bahar, Tidore Selatan. Foto diambil pada tahun 2000, ketika penulis meliput konflik kemanusiaan di Maluku Utara. (Foto: Gapey Sandy)

Di Ternate misalnya, kerusakan cukup merata. Mulai dari bangunan Keraton Ternate, gedung kantor partai politik, sejumlah tempat ibadah, bangunan untuk pendidikan berbasis keagamaan, juga rumah-rumah penduduk. Pertikaian horizontal yang mencuatkan istilah ‘Acan dan Obet’ ini memang luar biasa dampaknya. Pada banyak lokasi, wilayahnya nyaris seolah tak berpenghuni. Rumah-rumah dibiarkan kosong begitu saja, entah kemana pemiliknya lari mengungsi dan menyelamatkan diri. Sedangkan rumah-rumah dan bangunan yang hancur porak-poranda dengan keadaan separuhnya bekas terbakar, seringkali pula dijumpai di situ tulisan-tulisan bernada amuk massa yang kental.

Sebagai jurnalis yang berasal dari Pulau Jawa, tentu saja saya sedikit memiliki perbedaan tampilan fisik dengan masyarakat setempat yang berkaitan erat dengan faktor keamanan. Makanya tak aneh pada beberapa kali kesempatan, saya banyak menerima nasehat dari sejumlah pemuka warga di sana.

Nasehat-nasehat itu misalnya berbunyi, “Jangan pergi sendirian untuk melakukan liputan. Harap meminta pendampingan rekan”. Hal ini dikarenakan mereka khawatir saya dianggap sebagai salah satu anggota kelompok dari seteru yang tengah dihadapi. Maklum, kedua mata saya agak sedikit lebih sipit, dan kulit lebih kuning langsat. Makanya, tak aneh kalau sempat ada juga yang menasehati agar saya mengenakan tutup kepala bila bepergian. “Kenakan peci atau tutup kepala kalau sedang menelusuri perjalanan”. Begitu antara lain pesan para tetua di sana.

007 ok

Menggunakan perahu dengan motor tempel ini saya dari Ternate sempat menjelajah hingga ke Halmahera Utara dan Tidore. Foto diambil pada tahun 2000. (Foto: Gapey Sandy)

Masih ada lagi. Ketika saya berkesempatan dapat melakukan perjalanan bersama salah satu kelompok di sana, ada diantaranya yang bertanya secara serius. “Datang ke sini dan berada bersama kami, lalu senjata apakah yang dibawa?” Sungguh, saya cukup ngenes mendengar pertanyaan ini. Maklum, sebagai jurnalis yang sekalipun berada di wilayah konflik, bukan senjata tajam apalagi senjata otomatis yang dibawa, melainkan hanya sekadar alat peliputan, kamera, pulpen, buku, dan juga alat rekam suara saja. Selebihnya, berpasrah pada Ilahi dengan tetap melakukan pekerjaan peliputan dengan semangat Jurnalisme Damai.

Sesungguhnya saya punya foto-foto yang menampakkan kerusakan dari sisa-sisa bangunan runtuh akibat amuk massa beruansa SARA. Tetapi, dalam kondisi aman dan damai yang sudah tercipta saat ini, tak elok rasanya kalau saya unggah foto-foto tersebut. Malah membuka luka lama menyakitkan yang tak patut diungkit kembali, bukan? Pertikaian kemanusiaan di Maluku dan Maluku Utara yang terjadi pada rentang waktu antara 1999 – 2002 ini sejatinya menjadi pembelajaran berharga untuk semakin merekatkan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemerintah Pusat sendiri mengupayakan penyelesaian konflik kemanusiaan dengan begitu serius. Meski eskalasi pertikaian dari hari ke hari terus semakin membesar. Hingga akhirnya, pada Juni 2000, di seluruh wilayah Maluku dinyatakan sebagai Darurat Sipil. Ribuan personil tentara dan kepolisian pun diterjunkan untuk menghentikan konflik.

008 ok

Tahun 2000, ketika penulis melakukan tugas jurnalistik meliput konflik kemanusiaan. Foto di pos pembantu syahbandar Sidangoli, Halmahera Utara. (Foto: Gapey Sandy)

Pada Februari 2002, melalui mediasi tak kenal lelah yang disponsori Menko Kesra HM Jusuf Kalla dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, semua pihak bertikai akhirnya sepakat melakukan dialog agama dan kemanusiaan bertajuk “Forum Baku Bae” yang kemudian berujung pada kesepakatan perjanjian damai Malino II.

Perjanjian damai atau islah ini memunculkan sejumlah sebutan yang sanggup menebalkan semangat persatuan dan kesatuan, seperti pendekatan adat istiadat setempat yakni Pella Gandong, juga istilah “Damai Itu Indah”, “Semua Katong Basudara” dan “Ale Rasa Beta Rasa”.

Sementara itu, menurut pengamat politik Tamrin Amal Tomagola, kalau mengenai konflik kemanusiaan yang terjadi di Maluku Utara, cenderung menurun secara cepat eskalasinya sebagai dampak positif dari lembaga adat yang masih kuat merekatkan masyarakat. Termasuk di Tidore, tentunya.

Tidore saat ini

Tidore saat ini, bukan Tidore yang bermuram dan tercekam ketika 17 tahun silam saya kunjungi. Saya yakin dan percaya, Kota Tidore Kepulauan yang berdasarkan data BPS (2015) terbagi menjadi delapan kecamatan, dan punya luas lahan 1.550,37 km2 serta penduduk berjumlah 96.979 jiwa, pasti kini semakin mempesona dengan segala daya tarik kepulauannya nan eksotis.

visit.tidoreisland 1

Indahnya Kota Tidore Kepulauan. (Foto: visit.tidoreisland)

Dari situs resmi pemerintah kota setempat, disebutkan ada banyak sekali obyek wisata yang dapat disusuri bila kita berkunjung ke Tidore. Potensi pariwisata ini mulai dari wisata pantai dan air terjun, seperti misalnya Pantai Pulau Maitara sesuai namanya pasti berlokasi di Pulau Maitara (berada diantara Pulau Tidore dan Pulau Ternate). Jarak tempuh dari Pelabuhan Rum, Tidore hanya 5 menit dengan menumpang perahu bermotor. Lantaran pulaunya yang memang menjanjikan pemandangan indah, membuatnya menjadi ikon untuk uang kertas Seribu Rupiah. Pemandangan seperti yang ada di uang kertas ini bisa dilihat kalau kita berada di Desa Fitu. Sebagian besar lingkar kawasan Pulau Maitara didominasi pantai berpasir putih, dan perairannya memiliki kekayaan alam bawah laut lengkap dengan jenis-jenis ikan beranekaragam serta bebatuan karang alami.

Pantai Ake Sahu (Air Panas) terletak di Kecamatan Tidore Timur (kurang lebih 15 menit dari pusat kota). Pantai ini punya sumber mata air panas yang mengalir dari celah bebatuan. Lokasinya yang indah juga sangat tepat untuk rekreasi air, dayung dan renang.

Pantai Cobo yang jaraknya sekitar 25 km dari pusat kota. Pantai ini punya panorama hamparan pasir yang sangat luas, cocok untuk rekreasi, berenang dan ski air.

Pantai Rum ada di Kecamatan Tidore Utara (19 km dari pusat kota). Memiliki karakteristik air laut yang bersih, bebatuan kecil, berpasir halus dengan luas keselurhan 8 hektar. Untuk mengunjungi Wisata Pantai Rum bisa menggunakan sarana transportasi umum yang tersedia di terminal Pelabuhan Rum dengan jarak tempuh hanya 5 menit saja.

visit.tidoreisland 2

Eksotisme Tidore menjanjikan keunggulan pariwisata yang tiada tanding. (Foto: visit.tidoreisland)

Air Terjun Luku Celeng dengan sumber mata air di dataran tinggi Kelurahan Kalaodi (jarak tempuh sekitar 1,5 km jalan kaki dari kantor kelurahan).

Air Terjun Goheba ada di Kelurahan Kalaodi Kecamatan Tidore Timur. Obyek wisata ini merupakan sebuah aliran sungai yang dikelilingi bebatuan indah dengan pepohonan menghijau.

Sedangkan Air Terjun Sigela berada di Desa Sigela Kecamatan Oba. Wisatawan yang hendak ke sini harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam dari Pelabuhan Sofifi. Dikelilingi pepohonan rimbun dan air yang mengalir ke beberapa sungai di Desa Sigela. Musti dicatat, lokasi air terjun ini berjarak sekitar 1 km dari jalan raya.

Bisa juga wisata ke Pulau Filonga atau Failonga, di timur laut Tidore. Menurut kabarpulau.com, pulau ini cuma punya luas 1,1 km2. Tapi, eksotismenya luar biasa sekali. Pantai pasir putih yang halus dan terlindung bebatuan karang raksasa alami dari deburan ombak. Cocok untuk panjat tebing, mandi sinar matahari, memancing, snorkeling, diving, dan kalau beruntung dapat bertemu blacktip shark, hiu dengan ujung sirip berwarna hitam. Adanya ikan hiu menandakan rantai makanan masih terjaga dan wajib terus dilestarikan.

visit.tidoreisland 3

Pulau Failonga yang menjanjikan kesempurnaan wisata, mulai dari memanjat tebing karang, memancing, pasir putih nan halus, snorkeling, diving hingga mandi sinar matahari dan memasak ikan laut segar bersama nelayan. (Foto: visit.tidoreisland)

Wisata Sejarah

Selain wisata pantai dan air terjun, Tidore juga menyimpan banyak kekayaan historis yang dapat disaksikan wisatawan melalui obyek-obyek wisata sejarah. Diantaranya, Kedaton Kesultanan Tidore yang merupakan tempat tinggal para sultan beserta keluarganya. Letaknya ada di Kelurahan Soasio Kecamatan Tidore. Kedaton-kedaton yang dibangun umumnya terbuat dari bambu dan beratap ilalang yang mudah hancur. Kedaton yang bisa bertahan cukup lama adalah Kedaton Kie yang dihancurkan pada tahun 1912 akibat konflik internal keluarga istana, tapi kini sudah direstorasi dan berdiri megah.

Masjid Kesultanan ada di Kelurahan Soasio Kecamatan Tidore. Didirikan pada 1700 M dan sudah mengalami beberapa kali renovasi.

Museum Sonyinge Malige merupakan museum yang didalamnya tersimpan aneka koleksi peninggalan Kesultanan Tidore, diantaranya Al Qur’an tulisan tangan Qalem Mansur pada 1657.

Monumen Peringatan Kedatangan Bangsa Spanyol. Adalah Juan Sebastian de Elcano beserta awak kapal Trinidad dan Viktoria yang merapat di Tidore pada 8 November 1521. Monumen dibuat oleh Kedutaan Besar Spanyol pada 30 Maret 1993 di Kelurahan Rum.

Dermaga Kesultanan pada zaman kejayaan Kesultanan Tidore, dermaga ini diperuntukan untuk armada kesultanan. Dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Syaifuddin (Jou Kota) setelah perpindahan ibukota kesultanan dari Toloa ke Limau Timore Soasio. Dermaga ini juga merupakan tempat untuk menerima tamu kesultanan dan digunakan sultan jika bepergian dengan Perahu Kora-Kora.

visit.tidoreisland 4

Salah satu obyek wisata sejarah, benteng bekas peninggalan penjajah. (Foto: Gapey Sandy)

Benteng Toreh terletak di Kelurahan Soasio Kecamatan Tidore. Dibangun oleh Portugis yang di ketinggian sekitar 50 meter dari permukaan laut, terbuat dari batu gunung yang direkat dengan campuran kapur dan pasir. Letaknya 50 meter dari Keraton Kesultanan Tidore.

Benteng Tahula adalah benteng peninggalan Bangsa Portugis. Terdapat pada Kelurahan Soasio dan berada jarak sekitar 100 meter dari Keraton Kesultanan Tidore. Benteng ini berada pada ketinggian 50 meter diatas permukaan laut.

Budaya Tidore

Budaya Tidore juga layak mendapat prioritas untuk disaksikan manakala wisatawan datang berkunjung. Sebut saja misalnya Lufu Kie yang merupakan perjalanan laut ritual adat “Hongi Taumoy se Malofo” Kesultanan Tidore. Ini menjadi bentuk rasa syukur Sri Sultan Se Bobato atas terciptanya keamanan, kedamaian, ketenteraman kehidupan warga masyarakat dengan cara mengelilingi Pulau Tidore sembari diikuti ritual ziarah ke makam para Waliyullah.

Tari Soya-Soya adalah tarian yang menceritakan kisah peperangan yang dilakoni para pria. Selalu diiringi Tifa dan Gong. Biasanya dilakukan ketika Upacara Adat saat melepas dan menyambut pasukan yang pergi maupun kembali dari medan tempur.

Taji Besi atau Ratib. Ini adalah semacam pengajian yang berisi puja-puji kepada para Nabi, Rasul, dan Imam. Diiringi tetabuhan Rebana, sebagai bentuk doa kepada yang Maha Kuasa.

visit.tidoreisland 7

Kekayaan laut dan perikanan Tidore begitu potensial untuk dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. (Foto: visit.tidoreisland)

Salai Jin merupakan ritual prosesi pengobatan tradisional dengan perantara jin, dan intinya menjadi ungkapan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa atas izinnya guna membantu penyembuhan atas suatu penyakit. Instrumen musik pada ritual ini menggunakan Rebabu dan Tifa.

Paji Dama Nyili-nyili atau Obor Negeri-negeri. Ini merupakan simbol semangat sejarah perjuangan Sultan Nuku bersama pasukannya yang bertempur pada 12 April 1797. Paji Dama Nyili-nyili selalu menjadi bahagian dari acara peringatan Hari Ulang Tahun Tidore.

Ada lagi yang begitu unik lagi mencengangkan, yaitu atraksi Bambu Gila “Baramasuwen” yang merupakan atraksi budaya dengan menggunakan bambu sepanjang kira-kira 4 ruas, sabut kelapa, kemenyan dan bara api. Pada zaman dulu kala, atraksi seperti ini lazim digunakan untuk mengangkat material berat yang ketika ada proses pembangunan.

Negeri Bertabur Kearifan dan Tradisi Leluhur

Selain terkenal sebagai pulau rempah-rempah, Tidore juga disebut sebagai “Negeri Seribu Kearifan”. Adalah Sultan Tidore H Husain Sjah yang menyatakan hal tersebut, ketika membuka secara resmi lomba blog bertajuk “Tidore Untuk Indonesia” yang dilaksanakan oleh Ngofa Tidore Tour & Travel Team di Fola Barakati Food and Art, Cibubur, 12 Februari lalu. Lomba blog ini sengaja didedikasikan untuk memperingati Hari Jadi Tidore ke-909 pada tahun ini.

visit.tidoreisland 5

Sultan Tidore Husain Syah. (Foto: visit.tidoreisland)

“Tidore adalah Negeri Seribu Kearifan. Kearifan dan pengalaman panjang Tidore yang sukses mengelola kesultanan, sebagai sebuah negara berdaulat pada masa lalu, di tengah percaturan global yang dinamis dan kompleks juga tekanan kolonial Eropa, menjadikan Tidore mampu menjaga martabat dan eksistensinya. Sejatinya, hal ini dapat menjadi inspirasi bangsa Indonesia dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi,” ujar Yang Mulia Sultan Tidore.

Menurut Husain Sjah lagi, masyarakat Tidore harus lebih eksis, tampil percaya diri dan berperan dalam kancah nasional maupun internasional. “Jika potensi SDM daerah dapat berkiprah seperti yang diharapkan maka bangsa Indonesia juga akan mampu tampil sebagai bangsa besar yang diperhitungkan dalam pergaulan antarbangsa serta percaturan global,” tutur Sultan.

Kuliner Khas Tidore

Jujur, saya sendiri ketika berada di Tidore, kurang mencicipi sajian kuliner lokal. Maklum, 17 tahun lalu, suasana belum kondusif untuk mengenal apalagi menjelajah lebih jauh Tidore beserta segenap pesona kebudayaan, kuliner, apalagi potensi kepariwisataannya. Kalau sekadar mencicipi panganan utama, sagu yang bentuknya dibuat semacam roti tawar kering, saya sempat menemukan bahkan menjadikannya buah tangan ketika kembali pulang ke Jakarta. Selain, sajian serba pisang yang banyak juga saya nikmati.

Kini, sagu berwujud “roti tawar kering” itu malah sudah memiliki beberapa varian, ada yang berwarna coklat, pink, dan kuning kecoklatan. Sungguh, inovasi panganan yang kreatif dan menggiurkan!

visit.tidoreisland 6

Tidore kaya akan rempah-rempah, hasil pertanian juga perkebunan. (Foto: visit.tidoreisland)

Dalam tulisannya, budayawan Maluku Utara, Sofyan Daud menjelaskan tentang sejumlah kuliner Tidore. Diantaranya disebutkan misalnya, Sagu Lempeng (Hula Keta) yang terbuat dari tepung Sagu (Hula Garo) atau dari Tepung Singkong (Hula Daso). Sagu lempeng yang baru selesai dipanggang selama beberapa hari biasanya masih bertekstur lembek sehingga disebut “Sagu Lombo”. Sagu Lombo paling tepat disantap dengan Gohu Ikan — mirip Sashimi tetapi disayat lebih kecil, dengan bumbu seperti bawang merah, cabe, jeruk sambal, ditambahi sedikit minyak goreng sehingga tak berbau anyir.

Agar Sagu Lempeng tahan lama, maka harus dijemur atau dipanggang demi mengurangi kadar air. Sagu Lempeng kering bisa bertahan lama. Dalam catatan Bangsa Inggris diceritakan, Sir Francis Drake saat kembali dari kunjungannya ke Ternate, diberikan Sagu kering oleh Sultan Babullah sebagai perbekalan selama pelayaran. Para pelaut Inggris tersebut mengakui sagu kering dapat bertahan paling sedikit 10 tahun. (Des Alwi, 2005:383).

Ada juga yang namanya, Popeda (ada yang menyebutnya Papeda). Inilah makanan yang diolah dari Tepung Sagu (Hula), makanan pokok orang Maluku dan Maluku Utara yang begitu kondang. Bahkan kini, restoran atau cafe di kota-kota besar di Indonesia banyak juga yang sudah menyajikannya.

TIDORE 2

Hasil estimasi Luas Tidore Kepulauan dan Jumlah Penduduk. (Sumber: BPS Kota Tidore Kepulauan)

Selain Popeda, ada juga Tela Gule (jagung giling) yang menjadi pengganti nasi. Tela Gule biasa disantap dengan lauk berkuah santan, seperti Sayur Lilin atau Terong yang dimasak menggunakan santan kelapa.

Sebagai kota penghasil rempah-rempah terutama cengkeh, pala dan lainnya, banyak kuliner Tidore memiliki citarasa rempah begitu kuat. Bumbu Asam Pidis dan Masa Kering Kayu adalah dua contoh menu dengan banyak bumbu rempahnya. Selain itu karena kota pulau ini dikelilingi lautan, maka aneka makanan laut (seafood) banyak tersedia dengan begitu segarnya.

Beberapa kuliner khas seperti Nasi Jaha (pulut yang dimasak di dalam bambu), Dalampa (mirip lemper), Andara, Kale-kale, Cucur, Kui Bilolo (Kue keong), Lapis Tidore, Roti Coe, Lapis Bendera dan lain-lain, menjadi pendamping yang pas untuk menyeruput teh maupun kopi pada pagi atau sore hari.

Ada lagi, Gule-gule Tamelo (bubur kacang hijau), Gule-gule tela (bubur jagung), Cingkarong (jagung muda yang dicincang halus, dicampuri dengan kelapa cukur atau parut dan gula), antara lain sarapan favorit. Gule-gule Tamelo bahkan menjadi menu utama dalam perjamuan adat.

TIDORE 6

Produksi Komoditas Pertanian dan Perkebunan Kota Tidore Kepulauan. (Sumber: BPS Kota Tidore Kepulauan)

Untuk minuman, Kofi Dabe, kopi dengan citarasa rempah, Ake Gura atau Aer Guraka (Air Jahe) pasti disukai banyak wisatawan. Kemudian Sarabati, minuman spesial yang lazim dijumpai dalam ritual Taji Besi (Debus) bisa juga untuk dinikmati.

Uuuppppsss, jangan lupakan juga Ikan Tore (Ikan Roa). Biasanya, proses penyajiannya dilakukan dengan cara diasap. Ada juga yang sudah dibuat menjadi abon kering, maupun Sambal Ikan Roa.

Ayo, Visit Tidore Island

Begitulah, dari sisi wisata, budaya dan kuliner, Tidore memiliki segalanya. Sehingga menjadi wajib rasanya bagi seluruh anak bangsa untuk segera berkunjung ke Tidore, Visit Tidore Island. Tak usah bingung mencari penyelenggara wisata terpercaya untuk membawa kita mengeksplorasi Tidore. Ngofa Tidore Tour and Travel Team adalah salah satunya yang sudah menyiapkan paket perjalanan wisata selama enam hari, dalam waktu dekat akan dilaksanakan pada 8 – 13 April 2017. Kemana saja wisatawan bakal diajak bertamasya dengan paket yang diberi label “Enjoy The Wonderful Tidore” ini?

Berikut, destinasi lengkapnya: Hari pertama: Gurabunga Highland, Ngosi Highland, Crazy Bamboo, Pasar Tradisional, dan Benteng Toreh. Hari kedua: Lufu Kie, Benteng Tahula, Kedaton, Traditional House, Masjid Sultan, dan Makam Sultan Nuku. Hari ketiga: Snorkeling di Pulau Failonga, Memancing, Snorkeling di SoaSio. Hari keempat: Pantai Cobo, Snorkeling di Tanjung Kondo, Hotspring di Akosahu, dan Paji Dama Nyili-nyili. Hari kelima: Kota Panji, Merayakan Hari Jadi Tidore ke-909, City Tour Ternate. Hari keenam: Kembali ke Jakarta.

visit.tidoreisland

Paket wisata Enjoy The Wonderful Tidore yang ditawarkan Ngofa Tidore Tour & Travel Team. (Sumber: visit.tidoreisland)

Tidore dan Semangat Kemandirian

Di usianya yang ke-909 tahun ini, Pemkot Tidore Kepulauan bertekad untuk semakin menajamkan visinya yakni “Terwujudnya Kemandirian Kota Tidore Kepulauan Sebagai Kota Jasa Berbasis Agro-Marine”. Semangat mewujudkan visi ini tentu berlandaskan semangat perjuangan penuh heroik seperti yang pernah dibuktikan Sultan Nuku ketika masa perjuangan dulu.

Kini, Tidore tetap berjuang guna menciptakan kehidupan masyarakat yang adil makmur juga sejahtera. Untuk menggapainya, segenap potensi kewilayahan tentu harus dimaksimalkan. Potensi ekonomi misalnya, Tidore terkenal memiliki sektor pertanian dan perkebunan yang cukup andal bahkan menjadi mata pencaharian terbesar penduduknya.

Selain itu, potensi sektor peternakan, juga kelautan dan perikanan, terbukti cukup mampu menggerakkan roda perekonomian. Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Tidore Kepulauan menunjukkan bahwa, sumber daya kelautan dan perikanan sangat melimpah sehingga diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

TIDORE 8

Gedung Pusat Pemerintahan Kota Tidore Kepulauan. (Foto: Situs resmi Pemkot Tidore Kepulauan)

Sumber daya kelautan yang ada antara lain terumbu karang yang tersebar di wilayah pesisir, utamanya pulau-pulau kecil seperti Pulau Filongan, Pulau Mare, Pulau Raja dan masih banyak lagi. Tipe terumbu karang yang ada terdiri dari tipe terumbu karang tepi (fringing reef), terumbu karang penghalang (barrier reef) dan terumbu karang cacing (atol). Ada juga komunitas ikan karang yang dikelompokan ke dalam kelompok ikan indikator, ikan target dan ikan mayor. Sumber daya kelautan lainnya adalah hutan mangrove yang tersebar di seluruh kecamatan.

Usaha perikanan di Kota Tidore Kepulauan terdiri dari perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Berdasarkan data Diretorat Jendral Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dirilis dalam profil Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Tidore Kepulauan  menujukan bahwa, produk ikan yang terdapat di Tidore dan sekitarnya antara lain Ikan Cakalang,  Ikan Layang, Ikan Madidihang,  Ikan Teri, Ikan Tongkol, Ikan Selar dan masih banyak lagi.

Tidore juga memiliki kekayaan lain yang dapat dimanfaatkan seluas-luasnya demi kesejahteraan masyarakat, yaitu kehutanan yang memiliki banyak pohon dengan jenis kayu berkualitas dan memiliki nilai ekonomi tinggi seperti rotan, damar, kulit lawang dan lainnya.

media indonesia com

Pesona Tidore di lembar uang kertas seribu rupiah. (Foto: mediaindonesia.com)

Jangan lupa, wilayah Maluku Utara terkenal dengan batu-batu mulia yang begitu mahal harganya. Makanya, sektor berikut yang mampu menjadikan Tidore semakin maju pesat adalah sektor pertambangan dan energi. Potensi bahan galian mineral bergitu menjanjikan, seperti mineral non logam (pasir pantai, tanah urug (timbunan), batu apung, pasir batu, dan pasir gali yang tersebar di Kecamatan Tidore Timur, Kecamatan Tidore, Kecamatan Oba Utara, Kecamatan Oba Tengah dan Kecamatan Oba Selatan); juga mineral batuan yang penyebarannya terdapat di Kecamatan Tidore, Kecamatan Tidore Utara, Kecamatan Tidore Selatan, Kecamatan Oba Utara, Kecamatan Oba Tengah, Keca­matan Oba dan Kecamatan Oba Selatan. Ada juga kandungan emas yang dikategorikan sebagai logam — data Badan Geologi Departemen ESDM yang pernah melaksana­kan survei pemetaan wilayah menunjukan bahwa, potensi bahan galian emas berada di sekitar wilayah Kecamatan Oba Tengah karena memiliki kadar yang tinggi dan potensi cadangan yang cukup besar.

Dua sektor terakhir adalah industri dan perdagangan. Untuk sektor industri, didominasi oleh industri kecil dengan tenaga kerja antara 5 sampai 9 pekerja, dan industri rumah tangga dengan tenaga kerja sekitar 1 sampai dengan 4 pekerja. Pada 2011, jumlah unit usaha industri kecil adalah 772 orang dengan total tenaga kerja 2.728 orang, sedangkan pada 2012 mengalami peningkatan unit usaha industri kecil menjadi 804 orang namun tenaga kerja mengalami penurunan menjadi 2.335 orang. Sementara perdagangan, entah itu barang maupun jasa, merupakan sektor penting bagi perkembangan kota, sehingga diharapkan dapat lebih ditingkatkan peranannya.

Akhirnya, Tidore dengan segala pesona eksotisnya memang harus menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Utamanya saya pribadi, sangat berharap bisa melakukan napak tilas perjalanan blusukan ke sana pada 17 tahun silam. Apalagi ini menyambut Hari Jadi Tidore, maka rasanya harapan untuk bisa kembali lagi ke sana dan menemukan Tidore yang penuh semangat kedamaian amat membuncah.

Aku cinta Tidore!

banner

TK 020

Tomyam Kelapa, kuliner ala Thailand yang menggugah selera. (Foto: Gapey Sandy)

Rasa pedas dan asamnya begitu dominan. Kuah Tomyam yang disajikan dalam batok kelapa berwarna oranye kemerahan, pertanda pasta “sayur asam” ala Thailand ini memang menggoyang lidah. Rempah-rempah yang jadi bumbu sajian Tomyam Kelapa, seperti daun jeruk, bawang bombai, dan daun ketumbar pun timbul tenggelam bersama potongan seafood.

Di House of Tomyam yang berlokasi di Jalan Sulawesi Raya No.19 atau di area parkir lapangan tenis Kompleks Villa Bintaro Indah, Jombang, Ciputat, Kota Tangsel ini, selain menu Tomyam Kelapa Seafood, pembeli juga dapat memilih varian lain. Misalnya, Tomyam Kelapa Daging, Ekor, Iga, Campur, Ikan, Udang, Cumi, Ayam, dan Sayur.

Oh iya, selain disajikan dalam wadah batok kelapa, pelanggan juga dapat memesan Tomyam Mangkok. Sesuai namanya, wadahnya ya pakai mangkok, tidak lagi batok kelapa. Varian menunya tetap sama seperti Tomyam Kelapa.

“Selain menu Tomyam dengan berbagai varian, sajian andalan kami lainnya adalah Kwetiau Kungpao. Pelanggan kami suka dengan Kwetiau ini karena tidak seperti yang lainnya, disini Kwetiaunya digoreng lebih dulu. Varian menunya pun macam-macam, ada Kwetiau Kungpao Spesial, Daging, Seafood, Udang, Cumi, Ayam, Bakso, Sosis, dan Kwetiau Kungpao Sayur,” tutur Bahaudin (34), pemilik House of Tomyam.

TK 023

Tomyam Kelapa, sekali coba pasti ketagihan. (Foto: Gapey Sandy)

Nah, Kwetiau Goreng biasa pun tersedia juga di kedai yang persis berada di dekat gerbang perumahan Villa Bintaro Indah ini. Varian Kwetiau Gorengnya sama dengan Kwetiau Kungpao. Ada juga menu Nasi Goreng dengan macam-macam pilihan, mulai dari Spesial, Seafood, Udang, Cumi, Daging, Sosis, Ayam, Bakso, dan Nasi Goreng Telur.

Bukan cuma Tomyam saja yang disajikan dalam batok kelapa, bahkan menu andalan lain seperti Bakso dan Mie Ayam pun bisa disantap pengunjung menggunakan batok kelapa. Unik, tapi tak mengurangi kelezatannya sama sekali. Malah, ada sensasi tambahan dari sekadar makan di mangkok biasa. “Pengunjung juga menikmati sensasi mengerok daging kelapa yang masih menebal di batok kelapanya. Jadi, selain air kelapanya dijadikan bahan baku masakan, batok kelapa plus daging kelapanya juga siap disantap. Ini sensasi tambahannya,” kata pengusaha muda yang masih lajang ini.

Berguru ke Negeri Jiran

Perkenalan Baha — sapaan akrab Bahaudin — dengan Tomyam, bermula ketika ia bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ia menjadi staf perusahaan ekspedisi atau jasa kurir pengiriman barang.

“Waktu bekerja di luar negeri itu, kami para karyawan, setiap hari Jumat selalu memperoleh jatah makan gratis di rumah makan Thailand. Nah, kebetulan menunya adalah Tomyam Kelapa. Waktu itu, menu ini begitu unik dan memikat hati saya. Apalagi memang, Tomyam Kelapa boleh dibilang masih jarang dan sulit sekali ditemukan. Itulah awal kisah saya kenal Tomyam Kelapa,” ujar Baha yang asli dari Cilacap, Jawa Tengah dan kini menetap di Tangsel.

TK 003

House of Tomyam di Villa Bintaro Indah, Jombang, Ciputat, Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Pendek kata, Baha benar-benar kepincut sajian kuliner Tomyam Kelapa. Bahkan sesudah ia kembali ke tanah air dan bekerja di perusahaan ekspedisi juga, pikirannya masih menerawang jauh ke Malaysia. Ia ingin sekali menguasai cara pembuatan Tomyam Kelapa.

Ketika ada kesempatan untuk balik ke Malaysia lagi, Baha pun tidak sia-siakan waktu. Ia “berguru” pada chef di rumah makan ala Thailand itu. Ia secara khusus mendalami segala hal mengenai Tomyam Kelapa, mulai dari bumbu, resep rahasia, sampai ke cara pembuatannya. “Semua hal yang ingin saya ketahui selalu diberitahu oleh chef di sana. Mereka tidak pelit berbagi ilmu memasak Tomyam Kelapa. Karena toh mereka pikir, saya bukan calon pesaing mereka. Apalagi, saya berkewarganegaraan Indonesia. Jadinya, saya senang bisa diajarkan cara membuat Tomyam Kelapa sampai sedetil-detilnya,” urai Baha seraya menyebut bahwa pada 18 Maret 2017 nanti, House of Tomyam akan genap berusia dua tahun.

Sekembalinya ke tanah air lagi, Baha mulai menekuni usaha kulinernya. Melalui bantuan permodalan dari pemilik perusahaan ekspedisi tempatnya bekerja, Baha mulai membuka House of Tomyam. Ia menjajakan Tomyam Kelapa, kuliner yang semaking nge-hits di Kota Tangsel dan sekitarnya.

“Tapi, tentu saja ada sedikit perubahan yang saya lakukan terhadap olahan masakan Tomyam Kelapa ini. Kalau di restoran ala Thailand itu, dua rasa yang sangat dominan, sudah pasti adalah pedas dan asam. Nah, di House of Tomyam ini, saya agak sedikit saja mengurangi dominasi rasa keduanya. Tetapi jangan khawatir, cita rasanya secara umum tetap lezat tak terkira,” ujar pria ramah senyum ini.

TK 022

Pengunjung menikmati suasana di House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

Rempah-rempah yang dipergunakan tetap sama, mulai dari daun jeruk, bawang bombai, daun ketumbar dan sebagainya. Bahkan, Baha pun mengimpor secara khusus pasta Tomyam yang dipergunakannya.

“Mengapa saya impor? Saya mencari pasta Tomyam di Indonesia, yang bisa sejenis dan secita rasa seperti yang ada di restoran ala Thailand di Malaysia sana, hampir tidak ada. Kalaupun ada, harganya begitu mahal padahal ukurannya hanya sedikit saja. Harga pasta Tomyam impor ini, Rp 1,5 juta per tiga kilogram. Inilah juga yang menjadi alasan bahwa menu Tomyam di sini, begitu amat sangat bercitarasa tinggi,” tegasnya berani jamin.

Menurut Baha, secara bisnis, House of Tomyam belum berhasil balik modal, Break Even Point (BEP). Semua masih berjalan sesuai standar dan biasa-biasa saja. “Saya pikir, secara global para pengusaha, termasuk teman-teman saya yang juga berkecimpung didunia usaha pun mengalami nasib yang sama. Bisnis kami fluktuatif, naik dan turun. Itu biasa ‘toh,” jelasnya.

Meski demikian Baha bersyukur, ada aplikasi ojek online yang dapat melayani pelanggan Tomyam Kelapa. “Kami sudah ada di layanan GoFood dan GrabFood. Jujur saja, pelanggan yang memesan pembelian secara online, lebih banyak dibandingkan dengan yang datang langsung ke sini. Saya bersyukur sekali. Bahkan, ada pelanggan yang memesan dari kawasan sekitar kampus UI Depok sana, dan frekwensi pesanannya sampai sembilan kali,” tukas Baha penuh syukur.

TK 018

Bahaudin (34) sang pemilik House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

Karena melayani pesanan melalui ojek aplikasi online inilah, Baha dengan begitu tangkas menyediakan layanan pengantaran secara begitu rapi dan cermat. Pelanggan yang memesan Tomyam Kelapa, maka batok kelapanya akan dibungkus dengan plastik secara wrapping, atau mirip seperti kita me-wrapping koper atau tas di bandara.

“Layanan pengemasan ini begitu cermat kami lakukan, sehingga Tomyam Kelapa pernah dibuktikan sendiri bisa tahan sehari semalam. Pelanggan kami ada yang membawa ke Bandung, tanpa dibekukan, dan ternyata dalam sehari semalam masih baik untuk dikonsumsi. Hal ini karena Tomyam Kelapa hanya menggunakan air kelapa, tapi tidak sama sekali menggunakan santan kelapa. Selain itu, ada yang bilang, batok kelapanya ini juga yang membuat jadi awet. Karena toh, kami juga tidak sama sekali memakai bahan pengawet apapun,” ujarnya.

Berharap Bantuan Pembinaan Wirausaha

Siapa sangka, dibalik sosok Bahaudin yang sederhana dan santun, ia pekerja keras dan selalu punya hasrat menggebu untuk mereguk berbagai pelatihan wirausaha. Belakangan ini misalnya, ia kerap tak bisa diganggu bila sudah hari Minggu. “Saya lagi ada kesibukan workshop, Mas. Temanya, Smart Business Map. Jadi, kalau teman-teman blogger dan Kompasianer mau ke House of Tomyam, bisa hari Sabtunya saja ya,” ujar Baha suatu hari di penghujung Februari kemarin.

Di restorannya, Baha memang selalu welcome bila blogger datang berkunjung. “Buat saya, kalau mereka mau menulis review tentang Tomyam Kelapa, saya sangat berterimakasih dan saya anggap itu sebagai bonus,” tukasnya seraya menyebut nama sejumlah blogger papan atas yang pernah berkunjung di House of Tomyam.

TK 015

House of Tomyam siap menerima pesanan ONLINE juga OFFLINE. (Foto: Gapey Sandy)

TK 007

Menu best seller lainnya, Kwetiau Kungpao. (Foto: Gapey Sandy)

Keakraban Baha dengan dunia blogging memang begitu melekat. Baha ini seorang blogger. Ia rajin mengunggah tulisan-tulisan bernasnya di blog pribadi yang ia kelola sendiri. Ini dia link blog milik Baha:  http://www.omsober.wordpress.com

Melalui blognya itu pula, Baha rajin bertukar pandangan mengenai bisnis! Salah satunya, ia menulis tentang Playing Field sebagai ilmu dasar bisnis di Smart Business Map. “Dulu ketika masih jadi karyawan di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang, bisnis menurut saya ‘tuh mudah saja. Eh enggak tahunya setelah keluar dari perusahaan pengiriman barang dan menjalani bisnis itu sendiri, ternyata susah sekali. Kenapa susah? Jawabannya jelas karena belum tahu caranya,” tulis Baha dalam blognya.

Karena terdorong rasa ingin tahu bagaimana caranya menjalankan bisnis itulah, lanjut Baha, dirinya semangat sekali untuk mengikuti satu workshop di Yogyakarta, 18 – 19 Februari 2017. “Setelah mengikuti workshop itu, saya benar-benar terbuka arah dan tujuan, kemana dan dimana saya harus menjalankan bisnis yang saya tengah tekuni ini. Untuk mengenal bisnis yang saya tekuni ini, saya harus tahu dulu fundamental dalam berbisnis. Fundamental dari bisnis itu yaitu Playing field, Market landscape dan Operational profitability.,” jelasnya.

Baha pun menjelaskan salah satunya, yaitu tentang Playing Field yang gampangannya adalah merupakan medan bisnis atau tempat bisnis atau area bisnis yang tengah dikelola. Dalam Playing Field ada lima point yang harus diketahui dan dijawab, sehingga permasalahan bisnis yang dihadapi dapat dicarikan solusinya sesuai harapan.

TK 009

Proses pembuatan Tomyam Kelapa. (Foto: Gapey Sandy)

Kelima point tersebut adalah, pertama, What’s the problem? (Apa masalahnya?). “Kita itu harus tahu masalah apa yang akan coba kita kasih solusinya. Misal, lapar, haus, ngantuk dan lain-lain. Ini adalah masalah atau kebutuhan yang harus terpenuhi, jika tidak terpenuhi makan jadilah masalah. Di sinilah dibutuhkan solusi. Solusi lapar ya makan, solusi haus yang minum, solusi ngantuk ya ngopi atau tidur saja sekalian, pasti akan hilang masalahnya. Tetapi apakah solusi yang kita berikan itu sesuai dan pas dengan yang mempunyai masalah tersebut? Misalnya lagi nih, Tomyam Kelapa adalah solusi orang lapar tapi belum tentu orang mau diberi atau membeli Tomyam Kelapa karena berbagai alasan,” ujarnya.

Kedua, Who has the problem? (Siapa yang punya masalah), “Artinya kita bisa kaji yang punya masalah itu siapa, umurnya berapa, tinggalnya dimana, minatnya yang gimana, perilakunya gimana dan aspek-aspek lain dari yang punya masalah tersebut. Misal jualan Tomyam Kelapa di desa yang tertinggal (maaf). Ini jelas tidak pas, yang ada malah jadi tontonan saja,” tuturnya.

Ketiga, What’s Is Solution artinya solusi apa yang akan diberikan. “Misal, masih Tomyam Kelapa biar gambarannya mudah dengan  satu kasus. Tomyam Kelapa adalah solusi buat orang yang lapar. Tapi tidak semua orang yang lapar dikasih solusi Tomyam Kelapa, karena menu ini pas untuk orang yang di perkotaan, usianya antara 23 – 45, penyuka makanan asal Thailand, makanan asam, pedas dan unsur-unsur lainnya,” terangnya.

Keempat, How Big The Market. “Di point ini, berkaitan dengan pangsa pasar kita, yang artinya potensi pasar produk yang kita miliki. Misal pasar yang akan kita geluti sudah ada kompetitor yang bermain apa belum?. jika sudah ada berapa besar persentase peluang market kita di area tersebut,” urainya.

TK 014

Menu baru di House of Tomyam. (Foto: Gapey Sandy)

TK 021

Sensasi lain yang ditawarkan Tomyam Kelapa adalah mengerok daging kelapanya juga. (Foto: Gapey Sandy)

Kelima, Whats Factor Will Impact The Business. “Faktor-faktor yang akan berdampak pada bisnis atau usaha kita juga harus diperhatikan. Jangan sampai bisnis atau usaha yang sudah kita tekuni bertahun-tahun dan sudah mulai maju terus ada faktor-faktor yang tidak diperhatikan dan menghancurkan bisnis kita dalam sekejap. Misalnya, di bisnis makanan seperti Tomyam Kelapa, izin halal, izin SIUP, brand, supplier kelapanya, lauk pauknya, teknologi atau peralatan yang mendukung biar tidak kalah dengan kompetitor dan berbagai faktor lainnya,” kata Baha lagi.

Menurutnya lagi, lima point yang ada di Playing Field ini harus dijawab dan diperhatikan sebelum menjalankan bisnis. “Atau kita yang sudah menjalankan bisnis atau bidang usaha tetapi ternyata belum memperhatikan faktor-faktor dasar dalam suatu bisnis. Maka kita harus bener-bener setting ulang bisnis kita agar bisnis atau usaha kita sesuai harapan,” tuturnya.

Akhirnya, sebagai wirausaha muda  yang tengah menggeluti bisnis kuliner, Baha juga berharap Pemkot Tangsel bersedia memberikan bantuan pembinaan, perizinan, permodalan dan lainnya. “Sebagai contoh, saya mengalami sendiri, bagaimana perjuangan selama sepuluh bulan demi mengurus sertifikat halal dari LPPOM MUI Provinsi Banten. Saya ambil sendiri sertifikatnya ke Serang sana. Harapannya, segala hal terkait administrasi dan perizinan dapat mudah juga cepat,” asa Baha.

Jadi, kapan kamu mau mampir ke Tomyam Kelapa?

2016_12_20_-_banner_blog_peserta

Blog Writing Competition Gamatechno

Bentuknya hanya seperti tiang biasa. Tingginya sekitar tiga meter. Paling atas adalah lampu sirene berwarna merah yang bisa menyala otomatis. Pada tiang tersebut ada tulisan besar-besar: EMERGENCY. Pada penampang tiang yang warnanya merah ini, ada satu tombol. Di bawah tombol berukuran sebesar biji karambol itu ada tulisan ‘Tombol Darurat : Untuk Meminta Bantuan’. Paling bawah lagi, ada panel yang juga dilengkapi tombol dengan ukuran lebih kecil, dan terdapat tulisan ‘Tombol Komunikasi : Hanya Untuk Berbicara’.

Ya, itulah layanan PANIC BUTTON yang disediakan pengembang properti Alam Sutera di kawasan Serpong, Tangerang. Tombol Darurat ini tersedia tidak hanya satu tiang, tapi ada banyak sekali jumlahnya, tersebar di banyak titik lahan residensial dan komersial. Siapa saja yang membutuhkan bantuan dapat menuju ke tiang emergency tersebut, lalu menekan tombol darurat, dan setelah itu tekan tombol komunikasi untuk berbicara melalui microphone yang tersedia di panel intercom tersebut.

Mau tahu berapa lama petugas akan datang sesudah kita menekan panic button tersebut? Mereka akan segera datang dan sigap memberi bantuan, antara lima sampai 10 menit saja sesudah kita menekan tombol darurat. Sungguh, sebuah layanan reaksi cepat yang cerdas. Maklum, Alam Sutera ini punya lahan seluas lebih dari 800 hektar. Bisa dibayangkan betapa luas wilayahnya, sehingga terasa urgent sekali bukan, layanan panic button yang dipasang pada setiap jarak 500 meter ini.

gt-ok8

Salah satu Panic Button ada di sebelah halte shuttle bus Sutera Loop di Mall Alam Sutera. (Foto: Gapey Sandy)

Eh, enggak cuma panic button, loch. Perumahan ini juga melengkapi fasilitas layanannya dengan memasang ratusan CCTV (Closed Circuit Television), kamera pengintai yang dapat merekam gambar dan suara. Jumlah persisnya “baru” ada 126 CCTV. Semuanya selalu dalam kondisi ‘on’ setiap saat, 7 x 24 jam secara real time tanpa henti. Dengan sebegitu banyak CCTV, jangan harap siapa saja yang membuang sampah, melakukan tindak kriminal, berlaku ugal-ugalan maupun kebut-kebutan mengemudi kendaraan di Alam Sutera bisa lolos. Semua terpantau!

Lha terus siapa yang memantau sebegitu banyak CCTV? Dimana pemantauannya? Bagaimana pemantauannya?

Pihak pengembang mempunyai satu unit kerja yang diberi nama Command Center, sebuah ruangan pengendali yang tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Di sini, seluruh jaringan PANIC BUTTON dan CCTV terkoneksi menjadi satu. Para petugas keamanan duduk menghadap ratusan layar monitor yang tersambung dengan CCTV di lapangan. Jadi, semua yang ada di area kawasan Alam Sutera dan termonitor CCTV, dapat langsung disaksikan sendiri oleh petugas secara “live” atau langsung.

Begitu juga ketika ada siapa saja yang menekan Panic Button di salah satu titik misalnya, maka dengan serta merta, layar monitor akan memberitahu secara langsung dan otomatis, pada titik lokasi mana ‘Tombol Darurat’ ditekan. Dengan begitu, staf di Command Center akan langsung menindaklanjuti panggilan emergency tersebut kepada seluruh petugas terdekat, agar segera datang ke “tekape”.

gt-ok7

Ada Tombol Darurat dan Tombol Komunikasi di panel Panic Button. (Foto: Gapey Sandy)

Begitulah layanan keamanan modern yang memadukan antara kerja manusia dengan piranti teknologi yang smart. Jangan tanya bagaimana semua itu bisa disediakan sampai sebegitu canggih, karena di seluruh area Alam Sutera, toh kita juga tidak bisa menemukan kabel-kabel CCTV maupun kabel yang sambung-menyambung antar Panic Button dengan Command Center terpasang awut-awutan. Pemasangannya begitu rapi, bahkan tak kelihatan sama sekali sambungan kabel-kabel yang malang melintang di atas kepala. Semua terpasang di bawah tanah.

Mengetahui bagaimana layanan Panic Button dan CCTV ini terpasang, tak berlebihan bila pihak pengelola menyebut bahwa, konsep pembangunan properti yang bersebelahan dengan jalan tol Jakarta-Merak ini sejak awal sudah menerapkan konsep Kota Cerdas, bahkan jauh sebelum istilah Smart City Indonesia makin “naik daun”. Maklum, Alam Sutera dikembangkan sejak 1994.

Nyata benar bagaimana pemanfaatan Teknologi Informasi yang diterapkan pihak pengelola properti, mampu menjadikan proyek yang dikembangkannya menjadi berkonsep Smart City.

Contoh lain atas pemanfaatan Teknologi Informasi pada Smart City adalah seperti yang dilakukan Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel). Melalui aplikasi online yang dinamakan “Smart Tangsel”, warga berkesempatan untuk menyampaikan langsung segala hal mengenai kejadian, peristiwa dan serba-serbi kewilayahan termasuk permasalahan kota.

gt-ok5

Tes menekan Tombol Darurat dan Tombol Komunikasi untuk mengetahui seberapa petugas keamanan akan segera datang. (Foto: Gapey Sandy)

Siapa saja, khususnya warga Tangsel dapat mengunduh aplikasi “Smart Tangsel” melalui telepon pintar. Kemudian, untuk pelaporan informasi dari warga, bisa dilakukan melalui tiga langkah mudah, pertama, capture yakni foto dan adukan temuan warga kota tentang kerusakan fasilitas, kemacetan dan penyakit masyarakat lainnya secara mudah. Kedua, submit atau ketik langsung keluhan warga kota untuk Pemkot Tangsel. Ketiga, share yaitu bagikan keluhan warga kota ke berbagai media sosial yang dimiliki.

Aplikasi ini terbukti menjadi penerapan teknologi informasi paling kekinian bagi warga kota untuk melaporkan segala hal kepada Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany (beserta jajarannya). Mari kita lihat beberapa contoh laporan warga tersebut.Warga kota dengan username irna irna umpamanya menulis dan mengunggah foto tentang genangan air di bunderan Pamulang. “Genangan air setiap kali hujan agak besar sehingga hanya tersisa satu jalur dan tidak pernah ada penanganan selama bertahun-tahun, tidak ada rasa care dari pihak terkait untuk mengatasinya,” tulisnya dengan nada kesal. Adapun foto yang diunggah irna irna sudah tentu kondisi genangan air tersebut.

Sementara itu, username dengan nama Imron Masfuri mengunggah foto tumpukan sampah yang berserakan di Jalan Swadaya, Kampung Parakan RT 4 RW 8 Pondok Benda, Pamulang, padahal di situ terpampang tulisan ‘Dilarang Buang Sampah Di Sini’. Ia menambahkan keterangan pada foto tersebut: “Sampah menumpuk sangat banyak, menyebabkan banyak lalat, nyamuk, bau tak sedap, dan berbagai penyakir. Mohon instansi terkait menangani sampah tersebut dan memberi sosialisasi tentang pembuangan sampah dan penangannya. Terima kasih. Sifat sangat urgent.”

gt-ok6

Hanya dalam tempo kurang dari 10 menit, petugas sudah berdatangan di lokasi warga yang melakukan tes menekan Tombol Darurat dan Tombol Komunikasi. (Foto: Gapey Sandy)

Beda lagi dengan pemilik akun bernama Budi Ariefin. Ia meng-upload foto kemacetan di perempatan Japos, Jurangmangu Barat. “Hal yang sungguh sudah biasa terjadi di Jurangmangu Barat, Pondok Aren adalah kemacetan di daerah yang dinamakan Prapatan, terutama pada pagi dan sore hari.”

Contoh lain, warga Tangsel bernama Ina Tanaya yang melaporkan banyaknya sampah dibuang sembarangan di sepanjang sungai yang ada di Jalan Parkit Raya sektor 2 Bintaro, Ciputat Timur. “Sungai sepanjang Parkit Raya sektor 2 Bintaro penuh tanaman liar dan sampah, potensi banjir jika tak dibersihkan,” tulisnya seraya mengunggah foto kondisi sebagian area sungai yang dimaksud.

Sedangkan Teguh Priyatno melaporkan topik Pelayanan Masyarakat, dalam hal ini menyangkut ancaman banjir. “Gorong-gorong jalan raya yang dialirkan ke arah Kompleks Pondok Benda Indah yang datarannya lebih rendah, sementara saluran air di bawah tidak mencukupi, jadi bisa menyebabkan banjir,” pesannya.

gt-ok2

Seluruh keberadaan kamera CCTV dan Panic Button yang ada di seantero Alam Sutera terhubung secara sentral dengan Command Center ini. (Foto: Gapey Sandy)

Segala hal yang disampaikan warga Tangsel melalui aplikasi ini menjadi sarana efektif dalam rangka memperpendek jalur birokrasi, mempercepat informasi, dan memudahkan komunikasi, antara warga dengan Ibu Walikotanya.

Bayangkan, bila tidak ada aplikasi Smart Tangsel yang cerdas seperti ini. Akan bagaimana cara warga Tangsel melaporkan segala hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya kepada jajaran Pemkot? Menurut pengelola aplikasi, Smart Tangsel adalah singkatan dari Selektif Mencermati Realita Tangerang Selatan.

Alhasil, Smart Tangsel—yang terkoneksi dengan web portal resmi Pemkot Tangsel, tangerangselatankota.go.id—menjadi sebuah bukti pemanfaatan teknologi terkini yang sarat manfaat. Dalam hal ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang penerapan dan aksesibilitasnya begitu memudahkan proses pembangunan kota. Hal ini disebebkan karena mampu memunculkan dan mengidentifikasi segala permasalahan di seantero kota, sehingga dapat cepat ditangani aparat dan instansi terkait. Dengan begitu, pada perkembangan selanjutnya mampu menjadikan wilayah Tangsel sebagai kota layak huni. Hal ini amat disadari Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, yang dalam banyak kesempatan, senantiasa mengingatkan pentingnya memanfaatkan teknologi. Bahkan, menurutnya, salah satu indikasi Kota Cerdas atau Smart City ialah keberhasilan pemangku kebijakan menerapkan teknologi dalam pengelolaan wilayahnya. Pun demikian, mantan Putri Pariwisata dan Putri Favorit pada Pemilihan Putri Indonesia 1996 ini menegaskan, teknologi bukan segala-galanya dalam konsep Smart City.

gt-ok3

Seluruh kejadian apa saja yang ada di Alam Sutera dapat dipantau langsung dari monitor pemantau kamera CCTV dan terkoneksi juga dengan Panic Button. (Foto: Gapey Sandy)

“Teknologi bukan segala-galanya dalam konsep Kota Cerdas. Teknologi hanya membantu para pemangku kepentingan pada level pemerintahan untuk mewujudkan konsep Kota Cerdas, khususnya mewujudkan kota yang layak huni. Kota Cerdas adalah konsep kota yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengidentifikasi masalah-masalah perkotaan dengan cepat. Paling penting dari itu semua adalah, bagaimana teknologi mampu memperpendek jalur komunikasi antara Pemerintah dan masyarakat. Kota Tangsel, kini tengah berupaya ekstra keras mewujudkan konsep Kota Cerdas itu melalui berbagai penerapan kemajuan teknologi,” ujar Walikota Airin.

Selain Smart Tangsel, saat ini Pemkot Tangsel melalui Dinas Kawasan Permukiman dan Pertanahannya tengah mengembangkan aplikasi online lain yang dapat memudahkan pengontrolan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU). Dengan aplikasi ini, apabila ada PJU yang rusak atau padam, maka warga tinggal melaporkannya melalui aplikasi yang harus diunduh terlebih dahulu. Mantap ‘to?

Oh ya, jauh hari sebelumnya Pemkot telah melakukan koordinasi untuk menerapkan pemanfaatan teknologi demi melayani publik. Berbagai terobosan dan inovasi layanan publik sudah diluncurkan. Misalnya, sistem anggaran elektronik (e-Budgeting) SIMRAL atau Sistem Informasi Manajemen Perencanaan, Penganggaran, dan Pelaporan Keuangan Daerah Terpadu yang dikembangkan bersama PTIK BPPT. Seperti dikutip bppt.go.id, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material, Hammam Riza menjelaskan, SIMRAL merupakan wujud inovasi Teknologi dan Informasi untuk membangun tertib administrasi dan terjaganya konsistensi data pembangunan daerah.

gt-ok4

Seperti inilah kondisi di Alam Sutera Command Center. Semua terpantau melalui layar monitor secara langsung selama 7 x 24 jam tanpa henti. (Foto: Gapey Sandy)

Dengan SIMRAL, pengelolaan program dan kegiatan pembangunan serta pengelolaan keuangan daerah dapat dipertanggungjawabkan juga transparan, sehingga tidak ada usulan rencana program dan kegiatan pembangunan daerah yang tidak diketahui asal-usulnya, maupun tidak diketahui siapa yang bertanggung-jawab terhadap usulan program kegiatan pembangunan daerah tersebut.

SIMRAL sangat praktis dan modern, terutama untuk mencatat dan mengolah hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), baik tingkat Kelurahan maupun Kecamatan. Dengan begitu, seluruh data perencanaan pembangunan yang berupa usulan kegiatan pembangunan dari hasil Musrenbang ini, dapat diakses masyarakat luas dengan menggunakan sistem e-Musrenbang.

SIMRAL juga telah digunakan Pemkot Tangsel untuk mencatat dan mengolah data anggaran pembangunan sejak Tahun Anggaran 2015 lalu, berikut penatausahaan keuangannya. Pengolahan data anggaran pembangunan atau RKA (Rencana Kerja dan Anggaran) ini acapkali dikenal dengan sebutan e-Budgeting, yang merupakan salah satu modul dari SIMRAL.

gtokok

Inilah aplikasi online Smart Tangsel yang dapat menjadi sarana informasi dan komunikasi dari warga kepada Pemkot Tangsel. (Foto: screenshot Smart Tangsel)

Begitu komprehensif manfaat SIMRAL yang mengintegrasikan antara data perencanaan pembangunan yang terdiri dari pencatatan dan pengolahan data Musrenbang Kelurahan/Desa, Musrenbang Kecamatan, forum SKPD, Musrenbang Kota, serta data RKPD, Renja SKPD, dengan penganggaran PPAS, RKA, DPA dan Anggaran Kas, serta penatausahaan atau pengelolaan keuangan sampai akuntansi dan pelaporan pertanggungjawaban.

Gebrakan Walikota Airin agar jajarannya mencari terobosan dan inovasi TIK terus bergulir. Bahkan sejak dua tahun belakangan, penerapan TIK sudah dilakukan untuk melayani sejumlah perizinan. Contohnya, Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Terpadu (Sisyandu), Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Terpadu Satu Atap (SIM PTSA), digitalisasi arsip, dashboard system, Sistem Pengawasan dan Pengendalian (Siwaspada), serta yang baru digulirkan yaitu Sistem Informasi Manajemen Perizinan Online (Simponie). Sebagai gambaran saja, dengan sistem Simponie, waktu penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dapat selesai hanya dalam satu hari. Sebelumnya, mau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan? Dua minggu!

Pemkot Tangsel juga sudah meluncurkan program aplikasi e-SPTPD, sebuah sistem online untuk memudahkan para pembayar pajak mengurus pajak daerah non Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), yakni berupa pajak Restoran, Hotel, Parkir, Reklame dan Air Tanah. Jelas, e-SPTPD merupakan upaya peningkatan pelayanan terhadap wajib pajak berbasis web, sekaligus merealisasikan Tangsel sebagai Smart City.

gtokok1

Contoh-contoh laporan yang diunggah warga melalui aplikasi online Smart Tangsel. (Foto: screenshot Smart Tangsel)

Apa yang disampaikan dan dibuktikan Walikota Airin untuk menjadikan Tangsel sebagai kota yang layak huni, senada dengan paparan praktisi telekomunikasi Indra Utoyo. Menurutnya, makna Smart City adalah satu, kota yang aman dari segala ancaman criminal dan potensi bencana. Dua, kota yang menyenangkan untuk hidup, bekerja dan dikunjungi. Tiga, kota yang berkelanjutan yakni tidak hanya untuk menarik orang luar, tetapi juga mempertahankan warganya untuk waktu yang lama. Empat, menjadi tempat bekerja yang efisien, mudah disinggahi, dan luwes untuk dikembangkan.

Guna merealisasikan makna tersebut, pengelola Smart City harus mampu menciptakan delapan komponen yakni Smart Citizen, Smart Healthcare, Smart Mobility, Smart Energy, Smart Building, Smart Security, Smart Government, dan Smart Infrastructure. (InfoKomputer, Mei 2015) Delapan komponen ini kesannya menjadi terlalu sempurna untuk diwujudkan. Apalagi, tidak ada alasan untuk menafikkan salah satu komponen, karena semua saling melengkapi alias tak terpisahkan.

Lagi-lagi, apa yang diutarakan Indra Utoyo senafas dengan hasil penelitian yang dikerjakan bersama antara Kompas dengan ITB Maturity Model bertajuk konsep Smart City. Penelitian tersebut diantaranya menyimpulkan, bahwa ada tiga alat atau tools perangkingan guna mewujudkan Smart City. Seluruhnya bermuara pada kemampuan untuk menerapkan Information and Communication Technologies (ICT) sebagai payung besar teknologi dimana mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi.

smart-city-001

Alat atau Tools perangkingan Smart City. (Sumber: Kompas – ITB Maturity Model)

Dari muara ICT inilah Smart City dikembangkan melalui tiga konsep, pertama: Smart Economy yang didalamnya meliputi urusan pusat bisnis, pendidikan, industri, dan sumber daya. Kedua: Smart Environment dimana mencakup energi, lingkungan, dan tata ruang. Sedangkan konsep ketiga adalah Smart Society yang meliputi masalah keamanan, kesehatan, layanan publik atau pemerintahan, transportasi, juga interaksi sosial digital.

Selain apa yang sudah dilakukan Tangsel, contoh model aplikasi Smart City Indonesia juga dapat kita sebut seperti misalnya, kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang telah lama melengkapi armada bus-bus TransJakarta dengan tracking system. Sistem ini mampu mendeteksi pergerakan bus demi bus, yang kemudian ditampilkan pada situs Smart City Jakarta, smartcity.jakarta.go.id. Tampilan ini dapat diakses oleh setiap pengguna TransJakarta, sehingga mempermudah untuk membaca posisi bus yang dinanti-nantinya. Selain posisi, tracking system juga dapat menjadi indikasi kecepatan bus yang artinya menjabarkan pula kondisi kemacetan arus lalu-lintas di ibukota.

Memang sih, soal moda trasnportasi ini belum secanggih seperti yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Paris di Perancis. Karena di sana, pada 23 Januari kemarin, bahkan sudah diujicobakan dua unit bus angkutan umum tanpa pengemudi (driverless). Sama seperti angkutan umum lainnya, bus ini membawa penumpang tapi tanpa ada supir, apalagi kondektur. Bus ini melaju di jalur khusus sekitar jembatan yang menghubungkan dua stasiun kereta di Lyon dan Austerlitz, timur pusat kota.

gt 003.jpg

Melakukan tapping ongkos bus TransJakarta. Salah satu wujud nyata dari Smart City adalah semakin sedikit menggunakan uang tunai, melainkan menggunakan uang plastik atau less cash. (Foto: transjakarta.co.id)

Biarpun tanpa pengemudi, tapi bus yang swakemudi ini memanfaatkan penggunaan teknologi canggih, seperti kombinasi laser dan kamera untuk mendeteksi benda-benda maupun orang-orang di sekitar kendaraan. Keren banget!

Yang juga menarik untuk disimak adalah kebijakan Pemkot Surabaya dalam menerapkan konsep Smart City. Tak hanya sukses menerapkan teknologi ICT demi melayani publik secara bertanggung-jawab dan transparan, tapi juga sudah banyak layanan yang memudahkan hajat publik karena ketepatan mengaplikasikan teknologi informasi. Tak tanggung-tanggung, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini bahkan berani menegaskan bahwa pihaknya selangkah lebih maju dalam menerapkan konsep Smart City.

“Sementara di Jakarta masih ribut e-budgeting, Surabay sudah menggunakannya sejak tahun 2002. Waktu e-procurement di Indonesia belum ada yang pakai, di Surabaya sudah dipakai juga sejak 2002,” jelasnya seperti dikutip InfoKomputer edisi Mei 2015.

gt-004

Tampilan laman milik Disdukcapil Pemkot Surabaya. (Sumber: lampid.surabaya.go.id)

Memang, seperti dikutip laman Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, e-government Pemkot Surabaya dikelompokkan menjadi dua, yakni pengelolaan keuangan daerah, dan pelayanan masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah meliputi e-budgeting, e-procurement, e-delivery, e-controlling, dan e-performance.

Sedangkan yang bertalian dengan pelayanan masyarakat atau e-sapawarga, antara lain mencakup e-perizinan, e-musrenbang, e-health, dan pengaduan elektronik melalui Media Center.

Cukup bangga rasanya melihat bagaimana kota demi kota di Indonesia saling mengujicoba dan mengalihkan program layanan konvensional yang sudah ketinggalan zaman menjadi layanan berbasis digital elektronik berbasis ICT. Semua demi mewujudkan Kota Cerdas. Ya, Smart City Indonesia. Bisa dibayangkan bila semua sudah menerapkan konsep Smart City, lalu dilakukan koneksi yang apik antar wilayah sehingga menjadi kesatuan yang utuh, dan berwujud menjadi Indonesia yang Smart Country.

gt-001

PT Gamatechno Indonesia ketika menerima sertifikat Manajemen Mutu ISO 9001:2015 di Yogyakarta, 30 Agustus 2016. (Foto: gamatechno.com)

Untuk menuju ke arah Smart Country jelas perlu perjuangan dan komitmen bersama. Utamanya, seperti yang pernah disampaikan Kepala UPT Jakarta Smart City, Alberto Ali, bahwa untuk mewujudkan Smart City dibutuhkan tiga pilar yang harus berkolaborasi, yaitu Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat.

Kalau sedari tadi kita sudah membahas bagaimana pilar Pemerintah dan Masyarakat saling mendukung guna mewujudkan Kota Cerdas di wilayahnya masing-masing, maka pilar berikut yakni Swasta, juga tidak boleh dilupakan.

Salah satu perusahaan swasta yang pionir dan dapat diandalkan guna mengembangkan produk maupun solusi teknologi informasi itu adalah PT Gamatechno Indonesia. Perusahaan ini berfokus pada pengembangan produk dan solusi teknologi informasi untuk segmen perguruan tinggi, lembaga pemerintah, perusahaan penyedia jasa transportasi dan logistik, serta industri lifestyle.

gt-002

Sertifikat Manajemen Mutu 9001:2015 yang diterima PT Gamatechno Indonesia. (Foto: gamatechno.com)

Layanan yang berfokus pada empat segmen utama tersebut selanjutnya didefinisikan sebagai gtSmartCity Solution, yaitu solusi berbasis sistem dan teknologi informasi guna mewujudkan sebuah Kota Cerdas dengan ciri less paper, less time, less cash dan less complexity untuk meningkatkan tatanan hidup masyarakat.

Untuk segmen perguruan tinggi, produk unggulan Gamatechno adalah gtCampus Suite yaitu sistem informasi terintegrasi untuk perguruan tinggi yang terdiri atas berbagai software modular yang dirancang sesuai dengan proses bisnis perguruan tinggi mulai dari pengelolaan penerimaan calon mahasiswa, pengelolaan perkuliahan mahasiswa hingga lulus, pengelolaan aset kampus yang meliputi aset sumber daya manusia, keuangan dan aset barang, perpustakaan, penelitian dan beasiswa hingga dashboard sistem untuk pimpinan kampus.

Untuk segmen lembaga pemerintah, beberapa produk unggulan Gamatechno antara lain: gtPerizinan (sistem pengelolaan pelayanan perizinan terpadu), gtAspirasi (sistem pengelolaan aspirasi masyarakat), serta aplikasi gtGroupware (sistem kolaborasi dan arsip perkantoran). Selain produk-produk tersebut, Gamatechno juga melayani pengembangan portal website lembaga dengan konsep citizen centric, serta pengembangan berbagai aplikasi berbasis web lainnya sesuai dengan kebutuhan lembaga.

ugm-1

Ilustrasi Smart City. (Sumber: ugm.ac.id)

ugm-2

Ilustrasi Smart City. (Sumber: ugm.ac.id)

Untuk segmen transportasi dan logistik, Gamatechno mengembangkan sejumlah produk unggulan bagi perusahaan atau organisasi yang bergerak dibidang layanan transportasi dan logistik, yaitu gtFleets (sistem informasi pengelolaan armada), gtSmartTicket System (sistem tiket elektronik berbasis smartcard), serta aplikasi mTransport (aplikasi mobile untuk informasi dan layanan transportasi publik).

Pada segmen lifestyle, Gamatechno mengembangkan produk-produk aplikasi back-end dan front-end untuk beberapa sub industri diantaranya taman hiburan dan wisata, pusat belanja dan entertainment, microfinance, dan industri kesehatan. Beberapa portofolio produk untuk segmen lifestyle ini antara lain eoviz.com (small & medium enterprises resource planning system on cloud), mEvent (aplikasi mobile informasi event), serta mCatalog (aplikasi mobile informasi katalog produk).

Akhirnya, banyak jalan untuk mewujudkan Smart City. Merengkuh status Kota Cerdas harus dimulai sejak dini. Karena kalau tidak, maka daya saing kota dan seisinya akan ketinggalan dan tergilas persaingan. (*)

Pertengahan Januari kemarin, saya mendampingi Ibu untuk mengurus penutupan rekening milik almarhum ayah di Bank BTN Cabang Panglima Polim, Jakarta Selatan. Ayah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya, persis di penghujung tahun 2016. Berbekal Surat Keterangan Kematian, Surat Pernyataan Ahli Waris, dan persyaratan administrasi lainnya, rekening milik Ayah resmi ditutup.

Apakah setelah itu keluarga kami putus hubungan dengan Bank BTN? Jawabannya, tidak!

Ibu saya, sebagai ahli waris yang dikuasakan, malah berpikiran untuk meneruskan tradisi dan kebiasaan almarhum Ayah menabung di Bank BTN. Sebuah pilihan yang wajar dan saya pikir penuh rasa emosional. Kecintaan Ibu pada almarhum Ayah bahkan melebihi segalanya, termasuk menuruti kebiasaan untuk menabung di Bank BTN.

btn-kartu-suka-suka-4

Ketika Ibu diterima Customer Service Bank BTN Cabang Panglima Polim, Jakarta, yang ramah dan cekatan bekerja. (Foto: Gapey Sandy)

Saya masih ingat raut wajah Ibu yang belum sanggup menghapus kedukaan, manakala menyimak penjelasan petugas customer service Bank BTN bahwa almarhum Ayah hanya menabung dan terus menambah saldo tabungannya di Bank BTN, tanpa pernah melakukan penarikan saldo. Sesekali penarikan saldo itu ada, tetapi hanya dalam jumlah minim saja. Penjelasan tersebut disampaikan seraya mengucapkan turut berduka cita yang mendalam kepada keluarga kami. Alhasil bibir Ibu terlihat bergetar menahan isak tangis.

Akhirnya resmi sudah, Ibu membuka rekening atas namanya sendiri Bank BTN, di cabang tempat almarhum Ayah juga menabung semasa hayat dikandung badan.

Oh iya, ketika tengah menghadap customer service yang ramah dan cekatan itu, saya sendiri menerima penjelasan mengenai berbagai informasi aktual seputar Bank BTN. Mulai dari program #SerbaUntung atau disingkat SERBU BTN yang merupakan sebuah langkah mudah untuk meraih untung dengan hadiah yang semakin melambung bagi pemilik rekening Tabungan BTN Batara, berbagai layanan produk tabungan Bank BTN, dan masih banyak lagi.

Awalnya, saya sekadar tertarik dengan program SERBU BTN. Maklum, hadiahnya ciamik banget. Ada 32 sepeda motor, 30 mobil dengan berbagai varian, dan yang paling membuat jantung hampir copot itu adalah karena hadiah utamanya itu loh, satu rumah mewah! Ketertarikan ini yang pada akhirnya membuat saya menegaskan untuk membuka rekening Tabungan BTN Batara. Pokoknya, saya tidak mau kalah set dari Ibu yang sudah lebih dulu menyelesaikan pembukaan rekening tabungan Bank BTN-nya, heheheheeee

Jadilah saya memiliki rekening Tabungan BTN Batara. Buku tabungan berikut Kartu ATM, resmi saya miliki. Ooohhh … senangnya!

Diantara penjelasan demi penjelasan yang saya serap dari customer service tadi adalah adanya dua layanan aplikasi Bank BTN menggunakan telepon pintar, smartphone. Yaitu, BTN Mobile Banking dan BTN Digital Solution. Terus-terang kedua layanan ini menarik minat saya untuk segera mengunduh, melakukan koneksi, menjajal akses dan menikmati fitur-fiturnya.

Sama seperti ketika melakukan download aplikasi-aplikasi lainnya pada telepon pintar, aplikasi BTN Mobile Banking dan BTN Digital Solution tidak sulit untuk ditemukan. Tinggal search di menu Play Store maka keduanya pun muncul.

btn-kartu-suka-suka-5

Di Bank BTN Cabang Panglima Polim, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Tak mau menunggu lama, saya pun langsung mengunduhnya. Jreng! Kini ikon kedua aplikasinya sudah mejeng di wallpaper gadget saya. Gradasi warna dari biru muda ke biru tua yang menarik, dengan huruf pada tulisan yang berwarna kuning. Sungguh paduan warna yang sempurna, dan tidak membuat sepasang mata yang mulai menua ini harus makin memicing untuk membacanya.

BTN Mobile Banking

Untuk BTN Mobile Banking, sebagai user pertama-tama saya wajib mengisi terlebih dahulu Personal Identification Number (PIN). Terdiri dari angka dan huruf, jumlahnya ada delapan. Gampang kok, prosedurnya.

Sesudah punya PIN, ketika saya meng-click Bank BTN Mobile Banking, muncul dua pilihan: Login dan Pengaturan. Kalau pilih Login, maka perselancaran saya akan langsung diminta untuk mengisi PIN. Setelah itu, muncul tujuh menu yang bisa dipilih sesuai kebutuhan, yaitu Informasi Rekening, QR Pay, Transfer, Pembayaran, Pembelian, Layanan Nasabah, serta Suku Bunga dan Kurs.

BTN 11.jpg

Tampilan Bank BTN Mobile Banking dalam genggaman. (Sumber: Screenshot BTN Mobile Banking)

BTN 12.jpg

Fitur-fitur yang dapat menjawab kebutuhan transaksi perbankan nasabah. (SumberL Screenshot BTN Mobile Banking)

Saya mencoba klik Informasi Rekening. Rupanya yang langsung muncul adalah Nomor Rekening dan posisi saldo terakhir. Wah, ini jelas memudahkan sekali buat saya maupun kita semua yang menjalankan bisnis secara online, sebab apabila ada pelanggan yang bertanya apakah dana transfernya sudah diterima, maka tinggal gunakan Bank BTB Mobile Banking, maka jawaban pasti dapat diperoleh dengan segera.

Untuk fitur Transfer, saya melihat tampilannya ada tiga opsi: Transfer BTN, Transfer Ke Bank Lain, dan Daftar Tujuan Transfer yang menjadi catatan arsip tujuan transfer yang pernah dilakukan. Tapi, Daftar Tujuan Transfer ini tidak otomatis terpampang, karena user bisa kok menihilkan tujuan transfer yang sudah dilakukan untuk dimasukkan dalam daftar tersebut.

Lantas bagaimana dengan fitur Pembayaran? Ada tujuh pilihan yang tersedia, mulai dari Pembayaran Telepon/HP, Pembayaran Pinjaman, Listrik, TV Berlangganan, Kartu Kredit, dan (lagi-lagi) Daftar Pembayaran.

Fitur lain yang juga saya coba dalam menu adalah Pembelian. Bagi saya ini penting, karena zaman sekarang gitu loh, mau beli ini-itu tentu saya ingin yang selalu dengan cara praktis, hemat waktu, tapi jangan ribet. Pada fitur Pembelian ini, sementara baru ada tiga opsi yang bisa dipilih, yaitu Isi Ulang Pulsa, Top Up GO-PAY, dan Daftar Pembelian. Bagi saya pribadi, fitur Pembelian begitu kaya manfaat. Maklum, saya termasuk pengguna prabayar untuk urusan isi ulang pulsa handphone. Sedangkan GO-PAY, sangat bertalian dengan aktivitas keseharian saya yang seringkali harus mobile di lapangan dengan cepat, sehingga fasilitas layanan Ojek Online pun menjadi semakin akrab digunakan.

Saya coba lakukan PembelianIsi Ulang Pulsa. Tidak banyak yang harus diisi dalam format kolom yang sudah disediakan. Nomor rekening Tabungan BTN Batara saya secara otomatis muncul pada kolom paling atas. Selanjutnya, tinggal mengisi nomor telepon yang akan diisi ulang pulsa, pilih tipe voucher, kemudian pilih lagi jumlah voucher yang nominalnya terdiri dari Rp 25.000, Rp 50.000, Rp. 100.000, dan Rp 150.000. Lalu tinggal klik, Kirim. Maka, taraaaaaaa … pulsa isi ulang pun dengan cepat berhasil ditambahkan. Eits, jangan khawatir, informasi sukses-tidaknya tahap demi tahap pembelian ini tampil (pula) di layar gadget. Malah kalau pembeliannya berhasil, transaksi juga muncul sebagai pesan pendek di layanan SMS.

btn-9

Tampilan fitur Isi Ulang Pulsa pada aplikasi Bank BTN Mobile Banking. (Sumber: Screenshot BTN Mobile Banking)

 

Satu lagi yang saya coba klik adalah fitur Suku Bunga dan Kurs. Wah, waahhh … layanan ini memudahkan user termasuk saya untuk dapat meng-update berapa harga jual mata uang asing secara real time. Jadi, enggak perlu lagi telepon atau datang langsung ke kantor cabang bank. Semua informasi tentang berapa nilai suku bunga dan kurs mata uang asing, bisa diperoleh secepat kilat.

Jujur ya, untuk membantu usaha dan rutinitas “lalu-lintas” dana di rekening tabungan bank, maka aplikasi dan layanan Bank BTN Mobile Banking, buat saya pribadi, sudah sangat lebih dari cukup. Semua urusan terselesaikan hanya cukup melalui “jemari dan genggaman”.

Okey, itu sekilas keunggulan layanan aplikasi Bank BTN Mobile Banking. Lantas bagaimana dengan layanan aplikasi Bank BTN Digital Solution?

BTN Digital Solution

Ikon Bank BTN Digital Solution tidak berbentuk kotak bujur sangkar, melainkan bundar. Ini jadi pembeda yang sangat kentara dengan aplikasi lainnya yaitu Bank BTN Mobile Banking, juga Bank BTN Internet Banking.

btn-1

Ikon Bank BTN Digital Solution. (Sumber: Screenshot BTN Digital Solution)

btn-8

Tampilan menu utama Bank BTN Digitan Solution. (Sumber: Screenshot BTN Digital Solution)

Bagi saya, menanamkan aplikasi BTN Digital Solution di gadget, seperti ibarat mempunyai “asisten pribadi” dalam genggaman. Betapa tidak, begitu saya meng-klik ikonnya, langsung muncul tampilan menu utama, yang sekaligus “menyapa” saya dengan mencantumkan user name: Selamat Datang R . Fadli. Keren kan?

Tampilan menu utama ini terbagi empat kolom. Paling atas adalah header yang bertuliskan BTN Digital Solution, lalu ada kolom yang menjadi semacam running advertisement dengan memampangkan berbagai produk dan jasa dengan suguhan promo menguntungkan.

Pada kolom berikutnya tak lain adalah menu utama itu sendiri dengan berbagai fitur pilihan yang bisa saya pilih. Tepat di tengah-tengah menu ada tulisan e-Banking yang kalau saya klik akan muncul tiga layanan bank berbasis elektronik yang dikembangkan Bank BTN, yaitu SMS Banking (USSD), Mobile Banking, dan Internet Banking.

BTN 13.jpg

Tampilan fitur Promo pada Bank BTN Digital Solution. (Sumber: Screenshot BTN Digital Solution)

Di sekeliling ikon e-Banking, ada delapan fitur pilihan yang mengitari yaitu e-Commerce, BTN Properti, Promo, Kartu Suka-suka, Pengaturan, Lokasi, Hubungi Kami, dan Pembukaan Rekening.

Pada bahagian halaman bawah tampilan menu utama, ada tiga opsi ikon yang bisa dipergunakan. Paling kiri, yang berlambang gagang telepon sudah tentu adalah fasilitas untuk membuat sambungan telepon langsung ke nomor 1500286 atau Contact Center Bank BTN. Di bagian tengah, yang berlogo seperti rumah yaitu fasilitas untuk kembali ke Home. Sedangkan paling kanan adalah Pengaturan yang bisa difungsikan untuk memperbaharui Profil maupun Tema.

Sekarang yuk saya coba buka beberapa fitur yang disuguhkan. Pada fitur e-Commerce, begitu di-klik, maka muncul 14 nama pelaku e-Commerce terkemuka. Sesuai urutan saya sebutkan saja yaitu Blanja.com, JD.ID, Tokopedia.com, Lazada.co.id, Bukalapak, OLX.co.id, ZALORA Indonesia, elevenia, JakartaNotebook.com, Bhinneka.com, MatahariMall.com, PerkakasKu – QR Pay, instanTicket – QR Pay, dan JualElektronik – QR Pay.

btn-7

Tampilan fitur e-Commerce pada Bank BTN Digital Solution. (Sumber: Screenshot BTN Digital Solution)

Sudah tentu, manakala saya meng-klik salah satu, misalnya Lazada.co.id, saya akan langsung terhubung ke halaman utama milik Lazada. Ketika menuliskan tulisan untuk lomba blog #btndigitalsolution ini saya sambil asyik melihat-lihat penawaran produk power bank yang sedang ditawarkan dengan harga promo bahkan setengah harga plus gratis biaya pengiriman. Heheheee … bukan promosi loh, tapi ini sekadar praktik bagaimana pengalaman berselancar dengan layanan aplikasi Bank BTN Digital Solution untuk fitur e-Commerce. Uuuppsss, pilihan warna power bank-nya pun cukup banyak.

Selanjutnya, saya coba klik fitur BTN Properti. Sesuai namanya, segala informasi seputar properti ada di sini. Misalnya, layanan untuk menemukan properti impian dengan cara memilih opsi yang disediakan, mulai dari rumah (yang) Dijual pada kisaran harga yang bisa saya pilih sendiri nominal harganya, dan juga rumah Agunan BTN. Ada juga Simulasi yang bisa saya manfaatkan untuk penghitungan rinci (pengajuan) kredit Properti, dan Harga Pasar.

 

btn-5

Tampilan fitur BTN Properti pada aplikasi Bank BTN Digital Solution. (Sumber: Screenshot BTN Digital Solution)

Bukan cuma itu, ada juga layanan untuk melihat Perumahan Terbaru lengkap dengan foto, lokasi dan nama pengembang, lalu Perumahan Terpopuler, Perumahan Bersubsidi, Blog yang berisi tulisan-tulisan menarik seputar properti, serta daftar nama-nama Developer. Wuuiihhh … lengkap banget yak panduan tentang propertinya.

Ada lagi fitur yang kece punya. Tidak lain adalah Kartu Suka-suka. Ini adalah fitur untuk membuat desain Kartu Bank BTN dan Kartu Bank BTN Syariah sesuka saya. Contoh desain yang tersedia keren-keren, bisa dipilih sesuai selera, namanya juga suka-suka. Hebatnya lagi, Kartu Suka-suka ini bisa dibuat desainnya sesuai keinginan masing-masing individu maupun komunitas. Jadi, jangan heran kalau komunitas pecinta sepeda fixie misalnya, bisa punya desain Kartu BTN sendiri. Wah, wah, wah … pingin juga segera buat Kartu Suka-suka nih buat Komunitas Blogger.

btn-kartu-suka-suka-0

Proses pembuatan Kartu Suka-suka. (Sumber: btn.co.id)

btn-kartu-suka-suka-1

Kartu Suka-suka bisa dimanfaatkan untuk Individu maupun Komunitas. (Sumber: btn.co.id)

Terus-terang saja, saya begitu termanjakan dengan menggunakan aplikasi BTN Digital Solution. Semua transaksi perbankan jadi begitu mudah, selain menjadi solusi bagi saya untuk memperoleh informasi seputar Bank BTN. Ibarat kata, BTN Digital Solution menjadi pintu masuk ke segala macam transaksi perbankan secara mudah, dengan interaksi koneksi yang cepat dan sudah tentu, terpercaya. Semua keandalan dan keunggulan ini memang menjadi bukti bahwa Bank BTN tidak salah apabila memperoleh Anugerah Perbankan Indonesia 2016. Karena, diantara kategori yang menjadi penilaian adalah Teknologi Informasi (TI) yang terus-menerus dikembangkan BTN sesuai perkembangan masa. Selain TI, kategori yang dinilai yaitu Finance Value Creation, Efficiency, Profit, Good Corporate Governance (GCF), Risk Management, Human Capital, Marketing, Corporate Communication, dan Corporate Social Responsibility (CSR). Wow … selamat ya Bank BTN atas pencapaian prestasi yang semakin moncer.

Sekali lagi, tak bisa dipungkiri, aplikasi Bank BTN Digital Solution menjadi fakta betapa pengembangan TI di bank berslogan Sahabat Keluarga Indonesia ini tak bisa dipandang sebelah mata. Apa yang disuguhkan melalui aplikasi ini sekaligus menjadi wujud keseriusan Bank BTN dalam melakukan transformasi digital guna terus meningkatkan layanan perbankan yang terbaik bagi seluruh nasabahnya, termasuk saya lohheheheheee.

Lebih dari itu semua, transformasi digital yang dilakukan Bank BTN sekaligus membuktikan komitmennya untuk mendukung Pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai Negara dengan digital ekonomi terbesar di Asia. Sungguh, sebuah komitmen yang begitu heroik. Karenanya, tak berlebihan apabila pada 2017 ini, Bank BTN juga telah menekankan prioritas untuk melakukan transformasi bisnis perseroan berbasis digital banking. Khususnya, untuk mendukung core business-nya dalam mendorong pemenuhan program sejuta rumah.

btn-3

Tampilan fitur Kartu Suka-suka pada Bank BTN Digital Solution. (Sumber: Screenshot BTN Digital Solution)

BTN 2.jpg

Tampilan fitur Kartu Suka-suka untuk BTN Syariah. (Sumber: Screenshot BTN Digital Solution)

Seperti disampaikan Direktur Utama Bank BTN, Pak Maryono, pada Januari kemarin, transformasi BTN berbasis digital menjadi prioritas BTN di tahun 2017. Hal ini disebabkan semakin nyatanya dominasi dari kekuatan digital pada aspek bisnis di segala sektor dan lini masyarakat. Saat ini, penduduk Indonesia rata-rata usianya antara 20 – 30 tahun, serta dominasi generasi millenial menjadi pertimbangan BTN untuk menyelaraskan perkembangan arah bisnis ke arah pemakaian teknologi digital pada tahun ini.

“Pemahaman BTN terhadap generasi millenial serta pengembangan SDM generasi millenial di BTN menjadi perhatian manajemen, untuk mengantisipasi persaingan dan memiliki kehandalan bersaing di pasar. Bank BTN akan terus mengembangkan penggunaan teknologi digital terkini yang khusus maupun bersifat umum untuk mendukung layanan dan jaringannya,” tutur Pak Maryono seperti saya kutip dari situs resmi, btn.co.id.

Kebijakan Bank BTN untuk melakukan transformasi perseroan berbasis digital pada 2017 ini semakin meneguhkan kepatuhan untuk senantiasa mendukung target dan sasaran Pemerintah. Seperti kita tahu, pada 2016 kemarin, peta jalan (roadmap) yang menjadi panduan dan arah tujuan industri e-Commerce nasional mulai digaungkan. Setidaknya, ada  tujuh hal yang diatur dalam peta jalan tersebut, yaitu terkait masalah logistik, pendanaan, perlindungan konsumen, infrastruktur komunikasi, pajak, pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM), serta cyber security.

btn-10

Aplikasi BTN Digital Solution dan BTN Mobile Banking sudah tertanam di gadget. Narsis di wallpaper. (Screenshot: Gapey Sandy)

Roadmap ini penting, karena pada tataran negara-negara se-Asia Tenggara saja, Indonesia sudah semakin menempati posisi pamuncak dalam kaitan laju perkembangan e-Commerce. Nah, kalau merujuk pada populasi jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar, tentu saja potensi perkembangan e-Commerce juga akan sama besar. Harapan untuk menjadikan Indonesia sebagai pelaku ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara dengan proyeksi nilai transaksi 130 miliar dolar Amerika Serikat per tahun, yakinlah pasti bukan hal mustahil. Apalagi, penetrasi pengguna internet bertumbuh semakin signifikan. Hal ini jadi salah satu faktor percepatan perkembangan e-Commerce secara nasional. Begitu juga dengan tarif sambungan internet yang makin terjangkau dengan jaringan pita lebar yang semakin luas, membuat antusiasme masyarakat untuk menggunakan internet semakin ‘menggila’ dalam berbagai aspek kehidupannya.

Akhirnya, saya berharap banyak kepada Bank BTN untuk mengaktualisasikan terus layanan aplikasi perbankan berbasis digitalnya. Last but not least, pengumuman lomba blog ini rencananya akan disampaikan pada Kamis, 9 Februari 2017. Bertepatan pada tanggal ini pula, Bank BTN merayakan hari jadinya yang ke-67 tahun. Sungguh sebuah perjalanan waktu yang tidak singkat. Cermin usia yang menggambarkan kearifan plus kebijaksanaan, bukan hanya sekadar sarat pengalaman dari tahun demi tahun yang penuh suka maupun duka, tapi juga ujian, tantangan, dan persaingan bisnis perbankan yang kian kompetitif.

btn-liputan6-com

Selamat ulang tahun ke-67 Bank BTN pada 9 Februari 2017 ini. Sukses selalu. (Foto: liputan6.com)

Selamat ulang tahun ke-67 Bank BTN.

Sukses selalu!

telkom-lomba-ok-1-410-1147

Email dari customer care Telkom Indonesia. (Screenshot foto: Dokpri)

“Ayaaahhhh, telepon rumah kita ‘kok enggak ada suaranya. Aku enggak bisa nelepon niiih ..,” heboh Dida, putri bungsuku.

Gimana dong, Ayah? Aku ‘kan mau bahas PR Matematika sama Tante Dien,” kembali Dida berseru kepadaku seraya terlihat jemarinya terus mencoba menekan-nekan saklar telepon.

Oh ya, Tante Dien adalah adikku. Ia guru SMA. Dida biasa bertanya soal pelajaran sekolah kepadanya.

Ya sudah, coba ‘Dek kamu telepon saja pakai handphone Ayah yang warnanya putih. Kartunya ‘kan Telkomsel kartuHalo juga, sama dengan kartunya Tante Dien,” jawabku memberi solusi.

Tak lama kemudian ku lihat Dida sudah sibuk mencatat. Ia tampak mendiskusikan rumus Matematika bersama tantenya di ujung telepon. Tangan kirinya memegang handphone, sementara tangan kanannya sibuk menulis.

Dalam hati aku bergumam, untunglah dari dulu aku dan adikku punya kartu handphone yang sama. Pilihan kami yakni kartuHalo dari Telkomsel karena memang sudah teruji di lapangan berikut fakta keandalannya.

Untuk istri dan kedua anakku, hal yang sama berlaku juga. Kami pengguna kartuHalo. Khusus untuk istriku—yang notabene pekerja di sektor minyak dan gas (oil and gas)—, ia seringkali harus bolak-balik lapangan, persisnya ke sebuah pulau di dekat Pulau Madura untuk keperluan dinas. Komunikasi dengan istriku selama menggunakan kartuHalo tak pernah alami kendala. Kapan saja. istriku tetap bisa dikontak, sekalipun sedang berada di pulau kecil yang kaya gas bumi itu. Komunikasi tak pernah putus. Rekatan hubungan keluarga semakin kuat. Terbukti benar apa kata tagline-nya, ‘Telkomsel, Telepon Selular yang Menyatukan Bangsa’.

Sambil memperhatikan Dida mengerjakan tugas Matematikanya, aku memeriksa telepon rumah. Benar, tiada suara sama sekali. Kabelnya? Aku mengurutkan dari jaringan luar rumah yang tiangnya persis ada di seberang rumah. Aaahhh … tiada yang putus.

Solusi terbaik, pikirku, menelepon layanan gangguan Telkom 147. Aku pun coba menghubungi dengan segera. Semoga di jam sibuk, hampir tengah hari seperti ini, petugas layanam 147 cepat memberi respon, benakku.

Melalui handphone ku satu lagi yang menggunakan Telkomsel simPATI, aku menyentuh angka pada touchscreen: 1 – 4 – 7. Wow, rupanya langsung terhubung dengan petugas. Cepat sekali!

Setelah menanyakan identitas dan pertanyaan standar lainnya, akhirnya ku sampaikan adanya gangguan pada telepon rumahku dengan nomor, 02174***23. Petugasnya bersuara lembut. Ramah, santun dan sabar. Tapi terkesan petugas ini cekatan. Aku senang dengan penerimaan layanan ini. Keluhanku ditanggapi dan sudah tentu aku diberikan memperoleh nomor resgistrasi untuk layanan gangguan. Nomornya: IN884**73.

Setelah merasa cukup mengadukan telepon rumah yang mati. Pembicaraan pun aku akhiri dengan ucapan terima kasih dan menunggu layanan petugas atau teknisi lapangan Telkom untuk lakukan pengecekan sekaligus perbaikan.

telkom-lomba-ok-2-410-1205

Email kedua dari Customer Care Telkom Indonesia. (Screenshot foto: Dokpri)

Usai melapor ke Telkom 147, aku segera berangkat ke tempat beraktivitas. Tempatku beraktivitas enggak jauh dari rumah, paling-paling cuma butuh 10 menit dengan naik sepeda motor. Kebetulan siang itu pekerjaan agak padat. Ada buku yang harus segera terbit alias kejar deadline. Seperti biasa, usai tiba di tempat beraktivitas, aku mengecek sambungan WiFi di handphone. Welldone! Semua terhubung dengan sinyal yang mentok sampai ke seluruh strip menyala. Oh ya, di tempatku beraktivitas, menggunakan layanan Telkom IndiHome.

Lagi-lagi, ini pilihan kami loch. IndiHome adalah produk internet broadband dari Telkom. Sssssttttt … aku bisikin ya, di bulan September kemarin, IndiHome berhasil meraih penghargaan Indonesia Best Brand Award 2016 yang diselenggarakan SWA, MetroTV dan lembaga riset MARS untuk kategori internet broadband. Raihan prestasi kinclong IndiHome banyak deh, mulai dari brand value, top of mind advertising, top of mind brand, brand share dan tingkat kepuasan konsumen yang mencapai 84.8 dari 100.

Berlangganan Telkom IndiHome Fiber, buat aku dan teman-teman sekantor seperti menikmati layanan tanpa batas. Ini layanan Triple Play dari Telkom, mulai dari High Speed Internet, Usee TV dan Telepon Rumah. Ya, karena menggunakan akses FIBER optik dari Telkom Indonesia, maka internet yang kami nikmati benar-benar cepat, stabil, handal dan canggih. Kalau boleh ditambahkan lagi keunggulannya, aku sih lebih suka menyebut, tiada lawan. Hahahahaaaciyus!

Pokoknya, IndiHome menjadikan usaha kecil kami menjadi digital minded. Aku dan kawan-kawan sekantor menikmati benar layanan internet broadband ini karena dapat selalu uptodate alias tidak ketinggalan informasi maupun hiburan terkini. Berselancar di dunia maya dan menembus rimba online, maupun menyaksikan tayangan berita-berita, informasi dan entertainment nasional dan mancanegara menjadi tiada sulit. Pun, tiada berbatas.

Selagi asyik bekerja, tiba-tiba notifikasi handphone ku berbunyi. Ting tong! Pertanda ada surat elektronik masuk. Aku sigap membukanya. Ternyata pengirimnya adalah 147@telkom.co.id. Aaiihhh … apa pula ini, pikirku. Bukankah baru sekitar 20 menit yang lalu, jelang siang tadi di rumah aku melapor gangguan telepon rumah via Telkom 147, email apaan sih?

Sedikit penasaran aku membuka dan membacanya. Ternyata, isinya surat resmi berlogo Telkom Indonesia dengan subyek mengenai Informasi Laporan Gangguan Telepon yang tadi di rumah aku sampaikan melalui layanan Telkom 147. Wah, pastilah aku sangat surprise menerima email masuk ini. Alasannya? Belum pernah aku merasakan menerima jawaban dari petugas customer care intansi mana pun yang begitu peduli dengan layanan pelanggan seperti ini. Keluhan didata, lalu dilaporkan balik melalui email dengan begitu cepat. Bayangkan, aku melapor pada 11:29 wib. Kemudian langsung menerima email tentang informasi laporan gangguan telepon pada 11:47 wib. Bukankah ini sebuah manajemen kerja Telkom Indonesia yang luar biasa? Aku bukan bermaksud menyampaikan pujian terlampau berlebihan, tapi ini merupakan sebuah bukti betapa upaya manajemen dalam menghargai dan melayani pelanggan patut diapresiasi bahkan diberi hadiah dua jempol, two thumbs up!

Layanan pelanggan secara digital menggunakan surel ini menebalkan benang merah bahwa bersama Telkom, aku dan kita semua sudah semakin digital. Faktanya, laporan gangguan telepon aku sampaikan melalui percakapan telepon selular, di-record dalam database Telkom untuk kemudian pelanggan mendapat nomor registrasi secara real time. Masih belum cukup, customer care dari Telkom Care-nya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk juga mengirimkan informasi kepada pelanggan melalui teknologi surat elektronik. Sungguh, kerja nyata yang komprehensif dan digitalized dalam memparipurnakan layanan bagi pelanggan.

Okelah, sesudah jam 11:47 wib aku menerima email masuk dari 147@telkom.co.id dan membaca isinya, kemudian pekerjaan aku lanjutkan kembali. Aktivitas kantor pun berjalan seperti biasa. Kecuali, yang tidak seperti biasanya adalah aku menerima kiriman email lagi dari 147@telkom.co.id yang isinya memberitahukan bahwa proses perbaikan gangguan telepon sedang dilakukan oleh teknisi Telkom. Email ini masuk pada 12:05 wib dan bertajuk Informasi Progress Penanganan Gangguan Telepon. Sungguh, rentetan surel ini memberi runutan kronologis pekerjaan melayani keluhan pelanggan yang sangat apik, transparan, online and digitalized.

Hingga akhirnya pada jam 15:00 wib aku menyempatkan diri untuk pulang kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu catatan berkas yang tertinggal. Tak dinyana, ketika berada di rumah, petugas lapangan Telkom yang mengenakan kemeja putih lengan pendek yang diantaranya tertempel logo IndiHome datang ke rumah.

Sesudah memperkenalkan diri dan menanyakan perihal laporan gangguan telepon rumah, aku pun mempersilakan petugas untuk masuk ke dalam rumah, dan melakukan serangkaian pemeriksaan. Mulai dari pengecekan piranti telepon, line atau jalur telepon dalam rumah, hingga line outdoor.

“Semua nampaknya bagus, Pak. Tidak ada gangguan dari area rumah,” kata sang petugas Telkom seraya memegang peralatan mirip remote yang mampu mendeteksi kondisi ketidaknormalan sambungan telepon.

“Syukurlah, Pak, kalau gangguannya bukan berasal dari line indoor,” jawabku lega.

Tak berapa lama, petugas tadi melakukan pengecekan pada line telepon di luar rumah lebih jauh lagi. Dari satu tiang telepon ke tiang berikutnya. Masih menggunakan alat mirip remote tadi. Sampai akhirnya, aku tak melihat lagi petugasnya karena berbelok ke gang lain tapi masih tetap di dekat rumah.

Hanya dalam tempo singkat sang petugas kembali ke rumah. Memeriksa kembali piranti telepon rumah ku.

“Kerusakannya terjadi agak jauh di sebelah sana, Pak. Agak jauh dari tiang listrik di sini. Nah, sekarang sudah normal kembali. Silakan Bapak ikut cek juga,” ujar petugas sambil mempersilakan aku mengecek bunyi di gagang telepon.

“Syukurlah sudah normal lagi nih, Pak,” tukasku seraya tak lupa menyatakan rasa terima kasih.

Usai menuntaskan pekerjaannya, sang petugas mohon pamit.

telkom-lomba-ok-3-410-1557

Email pada jam 15:57 wib yang mengabarkan perbaikan gangguan telepon rumah sudah diselesaikan secara baik. (Screenshot foto: Dokpri)

Selang beberapa saat sesudah petugas pergi, handphone ku berbunyi. Ada notifikasi masuk. Ting tong! Aku membukanya dan … surpriseeeeeeee! Kaget ku setengah mati. Rupanya ada email masuk pada jam 15:57 wib, lagi-lagi dari pengirim yang sama yaitu 147@telkom.co.id. Isinya tentang Informasi Progress Penanganan Gangguan Telepon. Intinya berpesan bahwa pada 15:53 wib gangguan telepon di rumahku sudah dapat dilakukan perbaikan.

Benar-benar salut!

Tak sadar aku bergumam, Telkom membuat #IndonesiaMakinDigital. Betapa tidak? Pada 15.53 wib petugas atau teknisi di lapangan mengirimkan laporan penyelesaian perbaikan gangguan secara online, untuk kemudian pihak customer care Telkom meneruskan informasi ini kepada pelanggan, hanya dalam hitungan menit. Yakni, pada 15:57 wib, aku sudah menerima laporan perbaikan gangguan telepon tersebut.

Rasanya sepanjang hari ini aku benar-benar dibuat terpana dengan betapa gesitnya Telkom Care melayani pelanggan. Benar-benar memuaskan. Terus-terang, meneladani cara kerja customer care Telkom bekerja secara padu padan dengan teknisi di lapangan, membuat aku terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Apalagi, main business usaha kecil-kecilan aku dan beberapa rekan kerja adalah terkait produk dan jasa.

Kiranya, layanan komprehensif customer care seperti yang dipertunjukkan Telkom Indonesia sepanjang hari ini menjadi bukti nyata bahwa #IndonesiaMakinDigital dan mari kita manfaatkan teknologi digital, utamanya yang ditawarkan Telkom, untuk membantu kelancaran bisnis dan perkembangan usaha kita.

Menjadi Blogger Digital Mobile

Di bagian atas, sudah aku sebutkan bagaimana Telkomsel kartuHalo dan Telkomsel simPATI membantu “merekatkan” komunikasi antar keluarga kami. Selain itu, kedua kartu akses telekomunikasi ini sudah banyak berjasa dengan memudahkan kerja aku sebagai blogger dan vlogger (pelaku video blogging).

Lagipula yak, aku kasih tahu aja nih. Untuk pelanggan pascabayar, paket internet Telkomsel Flash kartuHalo misalnya, tersedia kok paket harian, mingguan juga bulanan. Baik kuota maupun tarifnya bisa dipilih sesuai isi kantong.

Ketika menghadiri liputan di lapangan yang menembus belantara hutan beton di Jakarta, maupun ke berbagai pelosok daerah, aku tak pernah kesulitan sinyal komunikasi. Alhasil, pekerjaan selalu lancar karena setiap pengiriman naskah dan foto untuk diunggah melalui blog maupun vlog, tidak pernah alami kendala berarti.

Bahkan dalam hal kecepatan pengiriman data, aku pernah merasa terbantu sekali manakala mengikuti meliput event yang diantaranya ada lomba live tweet. Cuitan melalui social media Twitter, maupun unggahan status Facebook dan upload foto melalui akun Instagram dengan tagar tertentu, yang biasanya menjadi kewajiban kami para peserta, begitu mudah aku selesaikan. Sampai suatu ketika aku beruntung karena bisa memenangkan lomba live tweet tersebut.

ok-telkom

Produk Telkomsel kartuHalo dan Telkomsel simPATI. (Foto: Dokpri)

Tak hanya itu, sebagai blogger dan vlogger, karya-karya kreatif ala citizen journalism tentu harus segera diunggah apabila sudah selesai peliputan atau reportase di lapangan. Selama ini, aku tak pernah kehabisan cara untuk mengunggah karya blog dan vlog, karena lagi-lagi terbantu dengan koneksi data dan internet melalui dua akses kartu telekomunikasi selular kartuHalo dan simPATI.

Sungguh, tak bisa dipungkiri, aku merasa betapa #IndonesiaMakinDigital berkat aneka produk layanan Telkom. Begitu juga, dengan hidupku.

bat-1

Busana modis dan gaul dengan sentuhan batik etnik Kota Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Pakai batik? Siapa takut!

Ya, sekarang ini memakai batik bukan lagi sesuatu yang dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Malah sebaliknya, berbusana batik itu kekinian dan membanggakan karena menjunjung tinggi kekayaan budaya Nusantara.

Sebagai karyawan, pastlilah kita bangga dengan kebijakan yang menerapkan seluruh pekerja mengenakan batik pada setiap Jumat. Tak terkecuali, anak-anak sekolah yang juga memiliki seragam batik dan umumnya dikenakan tiap Kamis.

Saya sendiri termasuk yang betahan pakai batik. Buat saya, batik tidak cuma menjadi dress code ketika kondangan atau menghadiri pesta pernikahan saja, tapi juga pada beberapa kesempatan lain. Misalnya, ketika melakukan tugas peliputan lapangan yang formal maupun semi formal, atau menghadiri pertemuan bersama orang-orang yang lebih dihormati.

Ingatan saya jadi melayang ketika menghadiri udangan makan siang bersama Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara. Ketika itu, Sabtu 12 Desember 2015, saya bersama 100 blogger lainnya menikmati sensasi makan sop buntut olahan dapur Istana Negara. Semua memakai batik. Warna-warni. Kita para pria, necis dengan batik lengan panjang. Sementara yang wanita, beragam desain busananya tetapi tetap menampilkan motif batik.

bat-3

Mengenakan batik. Ketika bertugas mengikuti kunjungan kerja Kepresidenan di Kupang, NTT. (Foto: Sekretariat Kepresidenan)

setkabcoid

Berbatik ria ketika dijamu makan siang oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta. (Foto: setkab.co.id)

Kesempatan berbatik ria bersama Presiden Jokowi pun sempat terulang lagi. Kala itu, Presiden mengundang saya bersama seorang rekan untuk meliput kunjungan kerja Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta rombongan ke Nusa Tenggara Timur. Ikut agenda blusukan selama dua hari (27 – 28 Desember 2015), saya tetap nyaman menggunakan kemeja batik kemana saja rombongan kepresidenan berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara cekatan.

Uniknya, pada dua kesempatan berfoto dan bertatap muka langsung dengan Presiden Joko Widodo, beliau senantiasa tampil dengan ‘baju kebesarannya’ yaitu kemeja putih, yang di bagian ujung lengan agak digulung sedikit. Ya mau bagaimana lagi, itu pilihan Pak Jokowi yang memang sosoknya begitu humble juga sederhana. ‘Baju kebesarannya’ itu justru menyiratkan bahwa sebagai seorang pemimpin negara, beliau  akan selalu dalam keadaan siap dan sigap bekerja.

Oh ya, koleksi kemeja batik saya tidak melulu berlengan panjang. Beberapa punya lengan pendek. Biasanya, ini menjadi andalan saya kalau terjun ke lapangan yang  risikonya butuh gerak mobile mengejar-ngejar narasumber maupun tokoh penting untuk diwawancarai.

Intinya, saya mau bilang, berbusana batik itu nyaman, menyenangkan dan membanggakan. Selain, bisa klop dan simple untuk acara formal maupun informal. Batik? Pokoknya, gue banget! Eh, lagipula kalau mau dipikirin serius, Batik Indonesia itu ‘kan sudah memperoleh pengesahan dari UNESCO yang memasukannya kedalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Istilahnya dalam bahasa Inggris: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pengakuan dunia internasional ini diinskripsikan pada 30 September 2009, dan dikukuhkan pada 2 Oktober 2009. Itulah alasan kenapa kita memperingati Hari Batik Nasional acapkali 2 Oktober.

bat-15

Presiden Joko Widodo berbusana batik di Kupang, NTT. (Foto: Gapey Sandy)

bat-4

Abdi dalem Keraton Yogyakarta yang jadi jurukunci Pesanggrahan Ambarrukmo mengenakan kain batik. (Foto: Gapey Sandy)

Sebagai pecinta batik, saya meyakini bahwa ada tiga kriteria batik yaitu tradisional, etnik kreatif, dan gaul. Mari kita sedikit ulas. Pertama, batik tradisional. Ini merupakan batik yang khas Nusantara dan umumnya menjadi kekayaan budaya yang sudah melintasi banyak generasi turun-temurun. Ambil contoh, seperti yang pernah saya jumpai ketika dipamerkan di Museum Ambarrukmo, Yogyakarta. Sejumlah motif batik klasik yang begitu melegenda di wilayah setempat tersedia semua. Mulai dari motif batik Udan Liris yang pada masa lalu hanya boleh dikenakan oleh raja beserta keluarganya saja.

Juga, motif batik Barong Seling Nitik yang mencerminkan keberagaman tetapi bersanding menjadi satu sehingga menampilkan kekuatan sekaligus keindahan. Sedangkan motif batik Parang Parikesit mengandung arti pari yang berarti padi, dan kesit yang artinya bersih atau suci.

Sementara motif batik Semen Sidomukti mempunyai makna sido yang artinya jadi, dan mukti yang tak lain bermakna mulia. Artinya, siapa saja yang mengenakan motif batik ini diharapkan bakal menjadi sosok yang mulia. Biasanya, motif ini dipakai pada saat ijab kabul dan panggih pasangan pengantin.

Yang menarik, ada motif batik klasik yang dinamakan Gringsing Sudara Werti. Maknanya cukup mendalam. Gringsing diambil dari kata gering (sakit) dan sing (tidak). Jadi, bagi pengguna motif batik ini ‘diminta-minta’ untuk tidak mengalami kondisi sakit. Bagas waras, sehat selalu. Sudara Werti sendiri adalah seorang prajurit wanita perkasa yang sanggup menundukkan setiap musuhnya pada legenda kisah Wayang Menak.

bat-6

Motif batik Gringsing Sudara Werti. (Foto: Gapey Sandy)

bat-5

Pola batik Semen Sidomukti. (Foto: Gapey Sandy)

Ada juga pattern batik yang diberi tajuk Semen Wahyu Tumurun. Motif ini melambangkan harapan turunnya wahyu (anugerah). Maknanya sudah pasti berarti siapa saja yang mengenakan batik motif ini akan senantiasa mendapat anugerah, atau kejatuhan wahyu (kedunungan wahyu), sehingga dijauhkan dari segala godaan, rintangan dan halangan hidup.

Nah, paparan pattern batik ini baru dari legenda wilayah Yogyakarta saja. Indonesia yang terdiri dari ribuan suku dan adat, pasti juga memiliki legenda motif batik yang sama. Minimal, motif yang dipertahankan secara turun temurun itu memiliki makna dan arti filosofis tersendiri. Setuju? Harus dong!

Kedua, batik etnik kreatif. Sebenarnya motif batik ini hampir mirip dengan batik tradisional atau klasik. Tapi, etnik yang menjunjung tinggi motif kedaerahan ini umumnya baru ditampilkan atau ditetapkan. Meskipun, motif batik yang ditampilkan dan ditetapkan itu berasal dari ikon budaya setempat, maupun kekayaan alam juga tradisi lokal kewilayahan.

Enggak pusing membayangkannya. Begini, saya beberapa kali meliput kegiatan para pengrajin batik etnik tersebut. Bisa saya tampilkan di sini, misalnya Batik Etnik Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Motif batik kota ini begitu unik karena memadukan tiga unsur budaya yang memang hidup dan kental di lapisan masyarakat, yaitu unsur budaya Sunda (Jawa Barat), Betawi, dan China. Maklum, Kota Tangsel adalah kota otonom yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Secara demografi, Tangsel berbatasan wilayah dengan Sawangan (Depok), Kabupaten Tangerang, juga Jakarta Selatan. [Tonton VLOG-nya di sini].

nelty-3-batik-syari

Batik etnik Tangsel dengan desain baju syar’i. (Foto: Gapey Sandy)

nelty-kacang-sangrai-copy

Motif batik etnik Tangsel dengan pattern Kacang Sangrai. (Foto: Gapey Sandy)

Tapi, bukan berarti para pengrajin batik etnik di Tangsel kurang inovatif. Mereka justru mengangkat sejumlah ikon lokal yang ada. Sebut saja misalnya, motif batik Bendungan Situ Gintung, bahkan motif Kacang Sangrai pun ada. Lho, kok Kacang Sangrai? Ya, karena di salah satu kecamatan (Kecamatan Setu) yang ada di Tangsel, menjadi penghasil Kacang Sangrai terbesar dan berkualitas terbaik.

Ada juga pattern batik yang menggambarkan bunga Anggrek van Douglas. Ini bertalian dengan rencana dan keinginan Kota Tangsel untuk menjadikan bunga berwarna ungu ini sebagai lambang kota. Maklum, di kota ini banyak ditemui lahan perkebunan Anggrek, yang produksinya cukup berlimpah bahkan masuk ke sejumlah pasar bunga di ibukota. Dijumpai juga motif Golok Jawara, yang maknanya mengindikasikan begitu kuatnya unsur kewilayah Tangsel yang memang termasuk Provinsi Banten. Bukankah provinsi ini terkenal dengan kedigjayaan para jawara berikut golok sebagai senjata utamanya?

Bagaimana  dengan Batik Etnik Banten sendiri?

Wah, ini menarik. Saya pernah mewawancarai sosok Uke Kurniawan, yang pernah didaulat sebagai Guru Batik Nusantara oleh pihak Swiss German University. Menurut Uke, motif batik Banten umumnya tidak menggambarkan hewan atau binatang. Karena dari sisi syariat agama, masih banyak warga Banten yang belum dapat menerima hal itu.

Uke sendiri sudah mematenkan ratusan motif batik Banten, hasil penelitian dan kajian yang begitu mendalam, termasuk dengan menggandeng arkeolog dan kalangan akademisi terkait. Beberapa motif tersebut adalah pattern Madhe Mundu yakni nama tempat tata kota bangunan ruang istana siang keraton. Motif Kapurban yang secara filosofis merupakan nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Purba dalam penyebaran Agama Islam. Motif Surasaji yang artinya kejayaan pemerintahan kesultanan Banten hingga Sultan memperoleh gelar yang gagah berani.

bat-7

Sejumlah filosofi Batik Banten karya Uke Kurniawan di Griya Batik Banten di Cipocok Jaya, Serang, Banten. (Foto: Gapey Sandy)

BAT 8.jpg

Motif Batik Banten diantaranya Kaibonan, Balekambang dan Pamaranggen. (Foto: Gapey Sandy)

Lalu, motif Pasulaman yang merupakan nama tempat dimana pengrajin sulaman berada di lingkungan Kesultanan Banten. Motif Kebalen yang bermakna nama tata ruang kota kesultanan Banten, tempat perkampungan masyarakat asal Bali. Ada juga pattern Tambakbaya yang secara filosofis berarti nama tata ruang istana bangunan ruang tempat penjagaan malam keraton. Motif Kawah Kawis yang artinya nama tempat vulkanisnya Gunung Krakatau membentuk lubang pada bebatuan karang menjadi kawah karang yang besar dan unik.

Pattern batik Paseban yang filosofinya berarti nama tata ruang kerja Kesultanan Banten tempat menghadap Sultan. Motif Pasepen yang bermakna nama tempat tata ruang istana tempat Sultan Maulana Hasanuddin melakukan meditasi di Kesultanan Banten. Atau, pattern Pasewakan yang secara filosofis bermakna nama tempat upacara sarasehan yang dilakukan oleh para raja atau sultan setiap Hari Senin di lingkungan istana.

bat-11

Batik etnik Rudi Habibie dan makna filosofisnya. (Foto: Gapey Sandy)

BAT 12.jpg

Batik etnik Rudi Habibie dengan filosofi maknanya. (Foto: Gapey Sandy)

Selain Uke, ada juga pengrajin batik etnik Banten lainnya. Sebut saja misalnya, seperti yang dikembangkan oleh pengelola Galeri Batik Keraton Banten. Galeri ini tentu mengeksplorasi motif keraton pada setiap pattern batiknya. Antara lain, motif Pilin Berganda. Ini merupakan ornamen yang diantaranya terdapat pada ukiran kayu untuk mimbar khutbah di Masjid Agung Banten. Ada juga motif Kipas yang dinukil dari ukiran masjid kuno yang ada di wilayah Caringin.

Eh, asal tahu saja, malah ada loch batik etnik yang diciptakan secara khusus untuk sosok seorang tokoh. Ini pernah saya jumpai ketika Pameran Habibie beberapa waktu lalu di Museum Nasional, Jakarta. Wastra Carita mempersembahkan sejumlah motif batik yang kemudian diberi nama Batik Rudy Habibie. Ada beberapa pattern didalamnya yang sarat filosofi. Mulai dari ‘Merengkuh Mega Mendung, Membiaskan Pelangi Inspirasi’ yang artinya begitu mendalam cinta Habibie pada Tuhan, dan negaranyalah yang mengilhami Rudy untuk menyuguhkan kinerja terbaik dan menginspirasi banyak orang. Filosofi lainnya yaitu ‘Parang Yang Pantang Untuk Karam’ sebagai perwakilan karakter Rudy yang tak pernah menyerah bagaikan ombak laut yang tak pernah berhenti beriak.

Jpeg

Ukiran di Mimbar Khutbah Masjid Agung Banten menjadi motif Batik Keraton Banten. (Foto: Gapey Sandy)

BAT 9.jpg

Motif Batik Keraton Banten yang dinukil dari ukiran pada mimbar khutbah yang ada di dalam Masjid Agung Banten. (Foto: Gapey Sandy)

Tak hanya itu, ada lagi filosofi batik ‘Manunggalnya cinta sejati dalam keabadian dan kesetiaan Sang Gurdho Angsa’, yang bermakna melambangkan kisah cinta Rudy dan Ainun yang bersatu dalam jiwa, cinta, mewujudkan hal yang terbaik untuk keluarga juga bangsa. Sedangkan batik berfilosofi ‘Bunga Wijayakusuma, Kemenangan Keluhuran Budi Pekerti’ berarti Wijayakusuma sebagai lambang wahyu, sesuatu yang langka yakni karunia Tuhan kepada Habibie.

Begitulah batik etnik kreatif. Hasil perancangan yang tidak sembarangan. Karya kreatif yang tetap mengacu pada kekayaan budaya bangsa. Sungguh luar biasa! Bangga dong, kita selalu berbatik ria.

Ketiga, batik gaul. Sesuai namanya, motif dan desain busana batik yang dikenakan mampu membuat sang user tampil kece, keren dan gaul abis. Saya sendiri sempat beberapa kali menjumpai beberapa kawan yang mengenakan batik dengan motif ukiran tradisional bersanding dengan motif kekinian. Apa misalnya? Ya, lihat saja, sekarang banyak kok dijumpai batik dengan embel-embel motif logo klub sepakbola internasional, mulai dari klub Barcelona, Real Madrid, Chelsea, Manchester United, Bayern Muenchen, Juventus dan masih banyak lagi. Batik-batik ini tentu saja digemari oleh mereka yang menjadi fans dari klub-klub sepakbola dunia yang tajir itu.

Itu cuma salah satu contoh kehadiran batik gaul yang biasanya membuat si pemakai begitu nyaman dengan gaya formal tapi casual. Santai juga gaul. Untuk melihat bagaimana batik gaul begitu kaya corak, motif, desain dan warna-warni yang menawan hati, silakan baca ulasan Inspirasi Batik Gaul, Kamu Tetap Bisa Berpenampilan Santai dan Gaul atau klik link ini: http://trivia.id/post/inspirasi-batik-gaul-kamu-tetap-bisa-berpenampilan-santai-dan-gaul

Saya pernah hadir dalam exhibition Batik Etnik Tangsel bertajuk The Everlasting Heritage belum lama ini di salah satu hotel yang ada di Bintaro. Ternyata, sejumlah busana batik etnik yang dipamerkan dan dikenakan para model, desainnya begitu gaul dan sangat chic! Meskipun memakai motif batik etnik Pesona Gunung Krakatau tetapi karena desain busananya young and trendy maka pemakainya terlihat modern, anggun lagi ciamik.

nelty-6

Batik etnik Tangsel dengan desain yang modis dan gaul. (Foto: Gapey Sandy)

BAT 14.jpg

Batik motif Pesona Krakatau bahagian dari Batik Etnik Tangsel dengan desain busana yang gaul. (Foto: Gapey Sandy)

nelty-10

Batik etnik Tangsel dengan tampilan desain busana modis muda dan bergaya. (Foto: Gapey Sandy)

Akhirnya, mari tetap dan terus mencintai batik. Kekayaan budaya bangsa yang satu ini tidak akan pernah kehabisan ide dan stock untuk dikenakan dengan padu padan tubuh juga aktivitas kita. Mencintai batik adalah mencintai prosesnya yang panjang, mulai dari mola, ngiseni (proses pemberian isian pada ornamen utama), mbatik, nembok (pemberian malam untuk warna) dan nglorod (menghilangkan lilin dengan air mendidih sebelum dijemur).

Mengutip apa yang dikatakan columnist Indy Hardono dalam salah satu buah penanya, batik itu adalah jiwa, dimana ada nafas doa pada setiap tarikan canting. Batik juga nation building yang harapannya mampu mengubah cara pandang, pikiran, karakter, sikap dan perilaku yang berorientasi pada keunggulan. Keunggulan manusia Indonesia sejati, tentu saja.

Semangat berbatik. Tabik!

nelty-kacang-sangrai-copy

Ikon Kacang Kulit Sangrai jadi salah satu motif Batik Etnik Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Ketika dimana-mana saya menyebut Batik Etnik Kota Tangerang Selatan (Tangsel), hampir semua yang mendengarnya rada terkejut. Mereka justru bertanya: “Memangnya ada Batik Tangsel?”

Pertanyaan seperti ini tidak aneh. Maklum, siapa mengira, Tangsel yang pada 26 November ini genap berusia delapan tahun, punya motif batik etniknya sendiri.

Okelah, batik dan motifnya bisa dikreasikan, tapi pertanyaannya kemudian, Tangsel yang secara geografis berbatasan langsung dengan ibukota Jakarta dan Kota Tangerang, punya motif khusus apa?

Rupanya, justru disinilah tantangannya. Sejumlah pengrajin batik di Tangsel perlahan tapi pasti, terus melahirkan kearifan lokal untuk didapuk sebagai motif batik etnik kota yang dinakhodai Walikota Airin Rachmi Diany.

Salah seorang pengrajin batik etnik Tangsel adalah Nelty Fariza Kusmilianti, empunya usaha batik etnik dengan brand “Sekar Purnama” di Villa Bintaro Regency, Pondok Aren, Tangsel. “Motif batik etnik yang saya ciptakan jumlahnya sudah lebih dari seratus macam. Sebut saja misalnya motif Pesona Krakatau, Debus Jawara Banten, Kekayaan Flora, Mahkota Kerajaan Banten dan masih banyak lagi,” ujar Nelty kepada penulis di sela acara Batik Fashion Lunch bertajuk Batik Tangsel The Everlasting Heritage yang diselenggarakan Kamis, 13 Oktober kemarin, di Hotel Santika Premiere Bintaro, Tangsel.

nelty-1

Nelty Fariza Kusmilianti, pengrajin Batik Etnik Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Semua motif batik etnik Tangsel yang disebutkan Nelty, termasuk yang dikenakan dan ditampilkan oleh para model pria dan wanita yang sebagiannya merupakan karyawan hotel. “Bersama Hotel Santika ini, saya dan teman-teman pengrajin busana batik etnik Tangsel, beserta pengrajin produk tas dan handycraft yang tentu saja menggunakan batik etnik Tangsel sebagai salah satu pilihan bahan bakunya, menyelenggarakan Batik Fashion Lunch ini untuk merayakan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober kemarin. Saya gemas, karena peringatan Hari Batik Nasional khususnya di Tangsel kurang semarak,” tutur Nelty.

Menurut Nelty, motif batik etnik Tangsel tidak memiliki motif secara khusus. Hanya saja memang, selalu diusahakan untuk mengangkat kearifan budaya lokal diantaranya dengan memilih ikon flora dan fauna. “Karena di Tangsel terkenal dengan budidaya Anggrek Ungu jenis Van Douglas yang harus sama-sama kita lestarikan,” ujar perempuan kelahiran Cianjur, 8 September 1962 ini.

Secara formal, motif batik etnik Tangsel belum ditetapkan melalui Peraturan Derah (Perda). Pun begitu, Nelty bersama pengrajin batik etnik Tangsel lainnya tak mau berpangku-tangan dan menunggu. “Kami coba untuk mengangat potensi dan kearifan budaya lokal seperti misalnya Stasiun Sudimara di Jombang – Tangsel yang ternyata apabila dituangkan menjadi motif batik memiliki karisma yang luar biasa. Bahkan, ada juga motif Kacang Kulit Sangrai Keranggan. Seperti kita tahu, wilayah Keranggan, Kecamatan Setu, Tangsel, menjadi sentra produksi kacang kulit sangrai yang sangat masyhur,” tutur Nelty yang mengawali usaha kerajinan membatik sejak awal 2004.

nelty-3-batik-syari

Batik Etnik Tangsel karya Nelty Fariza Kusmilianti yang didesain menjadi busana muslimah syar’i. (Foto: Gapey Sandy)

Motif batik kacang kulit sangrai yang terinspirasi dari para pengrajin kacang sangrai di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, termasuk yang ditampilkan dalam kain batik Sekar Jagat. “Namanya juga Sekar Jagat, maka seluruh ikon budaya yang mengangkat kearifan budaya lokal termuat juga didalamnya. Seperti misalnya, motif yang gambaran tanah-tanah subur di Tangsel, motif budidaya Anggrek, dan motif geometris Al Bantani yang terinspirasi dari tokoh Banten, Al Bantani. Selain itu, ada lagi motif khas peninggalan Kesultanan Banten, motif yang mencerminkan Bendungan Situ Gintung, dan kipas yang merupakan motif peninggalan Kesultanan Banten,” urai Nelty. “Semua motif batik etnik Tangsel ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga mudah melekat di telinga juga mata para pemakai dan pecinta batik.”

Lebih jauh, Nelty mengatakan, target pengrajin batik etnik Tangsel pada 2016 ini adalah memperkenalkan lebih luas lagi batik etnik Tangsel ke mancanegara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menampilkan motif Pesona Krakatau yang dipadukan dengan motif Anggrek. Mengapa dipadu-padankan? “Karena kami inginnya punya batik etnik yang memiliki ciri khas lokal. Letusan Gunung Krakatau itu ‘kan sudah menjadi fenomena dunia yang luar biasa, nah dari sinilah kami mengapresiasikannya menjadi motif batik etnik Tangsel yang ada di Provinsi Banten,” jelas Nelty yang pada 2005 – 2006 pernah meraup sukses ketika melakukan pameran batik etnik Tangerang – Banten di Jepang. “Lho, mengapa Tangerang? Ya, karena waktu itu, Kota Tangsel belum lahir.”

Kalau ada yang mengungkit-ungkit bahwa Krakatau tidak berlokasi di Tangsel? Nelty yang sudah belajar membatik sejak 2002, punya jawaban tersendiri. “Benar, Krakatau tidak berada di Tangsel. Tetapi, dari wilayah perairan di Anyer, kita bisa memandang pesona Krakatau yang begitu luar biasa indah dan fenomenal. Nah, jadi yang kami tampilkan secara motif adalah Pesona Krakatau yang ada di Banten dan menjadi kebanggaan Kota Tangsel yang juga bahagian dari Provinsi Banten. Jadi, cara pandangan Krakatau ini lebih kepada view-nya yang mempesona.”

nelty-6

Salah satu Batik Etnik Tangsel karya Nelty Fariza Kusmilianti dengan motif “Debus Jawara Banten”. (Foto: Gapey Sandy)

Dari sisi harga, Nelty tak sungkan membuka rahasia dapur. “Harga dari mulai Rp 75.000 sampai Rp 11 juta. Yang seharga Rp 11 juta ini memang cukup fantastis. Dan merupakan pesanan dari pelanggan loyal kami di salah satu perusahaan swasta besar di Cilegon, Banten, dan kabarnya batik tersebut dijadikan sebagai cinderamata bernuansa lokal tradisional untuk rekanan usaha mereka di Korea Selatan. Harga Rp 11 juta yang fantastis ini dikarenakan proses pembuatan dan penyelesaiannya yang memakan waktu selama hampir satu tahun, dengan desain dan motif pesanam yang khusus,” ujar Nelty seraya menyebut bahwa batik adalah mahakarya sekaligus kekayaan intelektual.

Sejauh ini, batik etnik Tangsel yang paling menjadi favorit adalah tiga motif yang saling berlainan, tetapi semuanya bisa dikombinasikan. Saling padu-padan, sesuai kreasi dan juga pesanan pelanggan.

“Yang paling favorit adalah motif Pesona Krakatau dan Sekar Jagat serta Anggrek. Kenapa? Karena, dari sisi background, batik ini bisa dipadu-padankan dengan motif lainnya. Batik ini mudah dan simple sehingga dapat dikenakan untuk segala tema acara, resmi atau formal, bahkan suasana santai pun bisa,” aku Nelty yang mengaku bisa mengirim pesanan batik etnik Tangsel ke luar negeri sebanyak 500 potong setiap dua bulan sekali.

nelty-kipas

Kipas sebagai simbol peninggalan Kesultanan Banten dalam motif Batik Etnik Banten. (Foto: Gapey Sandy)

Akhirnya Nelty berharap, Pemerintah mendukung pengrajin batik, karena roh-nya batik itu berasal dari Indonesia. “Saya berharap Pemerintah lebih memberi apresiasi dan membantu pengembangan usaha pengrajin batik lokal maupun pengrajin yang sudah mampu menembus pasar ekspor atau go international,” pintanya.

Maju terus Batik Etnik Tangsel!

pembicara

Kiri ke kanan: Andreas Aditya (Co Founder Nebengers.com), Gandhy Inderayana Sastrayana (Digital & Online Communication Marketing Head Danamon), Iskandar Zulkarnaen (Asisten Manajer Kompasiana.com), dengan moderator Liviana Cherlisa (anchor Kompas TV). (Foto: Gapey Sandy)

Salah satu karakter konsumen Indonesia, menurut survei Majalah Marketing, adalah gemar bersosialisasi. Kegemaran ini semakin dipicu dengan menggunakan aplikasi media sosial. Sederhananya begini, coba tengok di smartphone kita masing-masing, setidaknya pasti ada aplikasi Facebook, Twitter, Line, bahkan WhatsApp! Dari beberapa aplikasi itu, tidak sedikit dari kita yang tergabung dalam lebih dari satu grup. Sebut saja misalnya, tergabung sekaligus dalam grup WhatsApp! alumni SD, SMP dan SMA. Itu minimalnya. Belum lagi, grup alumni universitas, Family Group, dan rekan-rekan kerja. Sayangnya, enggak ada grup para mantan, hahahaaa

Masih juga belum cukup, kadang kita bergabung lagi dengan “sosialita” lain. Misalnya, dengan komunitas blogging bagi seorang blogger, kelompok fotografi bagi penyuka potret-memotret, grup traveling bagi traveler, komunitas vlogger bagi penggemar vlogging, pecinta kuliner, biker, hijaber, otomotif, fashion, beauty dan segambreng lagi komunitas lain. Intinya, karakter masyarakat kita itu hampir semuanya senang berkumpul. Berkerumun. Membentuk komunitas!

Tak pelak, keberadaan komunitas yang notabene terdapat “kerumunan didalamnya” menjadi pasar yang sexy bagi para pemasar. Persis! Karena dengan menjangkau komunitas maka secara otomatis pemasar sudah langsung berada ditengah-tengah kerumunan pangsa pasarnya. Efektif? Jelas! Karena menurut survei tadi juga, karakter khas lainnya dari konsumen Indonesia, like it or not, yaitu suka ikut-ikutan, menjadi follower yang senang mencari referensi dari orang lain. Maka itu, bila pemasar berhasil “menyusup” diantara kerumunan didalam komunitas, kemudian berhasil pula meng-influence “pentolan” atau “selebriti” komunitasnya, bisa dipastikan para member bakal mudah “mengekor”. Gotcha!

mu-teropongbisnis-com

Komunitas penggemar Manchester United sumringah diterbitkan Kartu Debit Mastercard oleh Bank Danamon. (Foto: teropongbisnis.com)

Beraneka ragam komunitas yang tumbuh pesat di Indonesia, jumlahnya semakin menjadi-jadi dengan perantara media sosial. Ya, bisa dipahami. Orang tak perlu keluar rumah dan terjebak kemacetan hanya untuk “bergosip” dengan sesama rekan grup atau komunitas. Cukup japri, atau saling bersahutan komentar melalui dunia chatting yang ada di ujung jari menggunakan smartphone.

Bisa dibilang, sejak 2009, jumlah komunitas semakin meraksasa sebagai imbas dari penggunaan perangkat komunikasi berbasis teknologi digital yang semakin membuat nyaman dan memudahkan penggunanya. Maksudnya, ya tentu saja media-media sosial tadi. Nyaris untuk saat ini, siapa saja yang tidak memiliki akun di media sosial, dipastikan bakal kudet atawa kurang update, dan jauh dari kekinian. Pokoknya, ketinggalan zaman.

Tidak cuma sebatas pertemuan melalui jalur online dan tanpa fisik, malah kongkow-kongkow, nongkrong bareng, maupun nangkring bareng (seperti istilah yang dipopulerkan Kompasiana) juga tetap dilakukan banyak orang. Ini menggarisbawahi temuan riset tadi bahwa karakter khas konsumen Indonesia memang senang bersosialisasi. Bukti lain yang membenarkannya adalah semisal layanan gerai 7-Eleven di Indonesia yang berbeda dengan service di negara asalnya, Amerika Serikat, sana. Gerai-gerai swalayan ini di Indonesia, menambahkan layanan dengan menyediakan meja dan kursi untuk pelanggannya ber-kongkow ria, nongki, nongkrong bareng menghabiskan waktu meski hanya bincang ngalor-ngidul kurang keruan.

d-10-apjii

Sumber: APJII.

d-1

Sumber: We Are Social.

Bukti lain, bahwa masyarakat Indonesia suka bersosialisasi, kurang suka ber-sendiri-an? Mobil jenis Multi Purpose Vehicle (MPV) lebih laris di Indonesia ketimbang di negara-negara tetangga. Kenapa? Karena fungsinya menguatkan karakter khas konsumen Indonesia yang suka bepergian rame-rame. Beda dengan di Thailand, dimana mobil jenis kabin ganda lebih laku sebagai pendukungan transportasi berbisnis masyarakat di Negeri Gajah Putih ini. Beda lagi dengan di Malaysia, karena justru mobil tipe city car yang tidak berkapasitas besar malah mendominasi penjualan di pasar mobil.

Nah, paham ya, begitulah betapa sexy pasar komunitas di Indonesia! Apalagi yang sebarannya ada di lingkar platform media-media sosial.

Gemuk-nya pasar komunitas di media sosial juga bisa dibeslah dari kalkulasi angka. Hasil sigi lembaga pemasaran dan digital public relation yakni We Are Social yang berkantor pusat di Singapura memaparkan, sepanjang Q4 (kuartal keempat) 2015 kemarin, pengguna internet di Indonesia mencapai tingkat 34 persen bila dibandingkan dengan jumlah total populasi penduduk yang mencapai 251 juta jiwa. Menariknya, pertumbuhan penggunaan telepon seluler di Indonesia mencapai 281 juta, atau justru melebihi jumlah total populasi penduduknya.

d-2

Sumber: We Are Social.

d-4

Sumber: We Are Social.

Masih menurut We Are Social, hingga November 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 255,5 juta jiwa, dimana terdapat user internet aktif sebanyak 88,1 juta jiwa, user aktif media sosial diperkirakan mencapai total 79 juta jiwa. Pengguna media sosial aktif yang mengoperasikannya secara mobile menggunakan telepon seluler mencapai 67 juta jiwa. Secara keseluruhan, jumlah user layanan mobile seluler di sini menyundul angka 318,5 juta jiwa.

Sementara itu, untuk penetrasi media sosial, Indonesia berada persis dibawah tingkat rata-rata atau 31 persen. Kalah bila dibandingkan dengan Vietnam (47 persen) dan Filipina (40 persen). Khusus menyigi aplikasi Facebook, lembaga ini menyebutkan, jumlah pengguna aplikasi yang dibangun oleh Mark Zuckerberg ini untuk seantero Asia Tenggara mencapai 230 juta jiwa, dengan 200 juta diantaranya mengakses melalui telepon seluler.

Memang, angka ini sekadar taksiran yang berlandaskan metode penelitian juga perhitungan seksama. Karena, kalau mengacu pada estimasi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) disebutkan, bahwa pada 2015, pengguna internet di negeri ini mencapai 139 juta jiwa. Atau, naik 32 juta jiwa kalau dibandingkan tahun 2014 yang sebanyak 107 juta jiwa. (lihat tabel)

d-9

Sumber: We Are Social.

d-6

Sumber: We Are Social.

Tak ayal, komunitas-komunitas di media sosial jelas menjadi pasar yang sangat potensial. Karena, yakin saja, kuantitasnya bakal terus menggelembung seiring penggunaan internet di Indonesia yang diyakini akan terus bertumbuh. Salah satu fakta yang dapat memperkuat sinyalemen ini adalah kenyataan bahwa, meskipun penetrasi media sosial di Indonesia masih kalah dibandingkan Vietnam dan Filipina, tetapi pengguna Facebook di Indonesia malah menempati peringkat ketiga di dunia, sesudah Amerika Serikat dan India. Wow … luar biasa, bukan?

Komunitas, Memudahkan Sosialisasi   

Menyadari betapa suburnya lahan komunitas ini, industri perbankan tak mau ketinggalan untuk “bercocok tanam didalamnya”. Kini, perbankan seakan berlomba meninggalkan cara-cara lama dan praktik kuno layanan perbankan yang kaku, formal dan cenderung satu arah — pola komunikasinya — yakni (hanya) dari pihak perbankan kepada nasabahnya saja. Bank-bank, seolah berlomba untuk tidak ketinggalan menangkap peluang melalui komunitas di banyak platform media sosial. Dan, PT Bank Danamon Tbk menjadi salah satu bank yang tanggap akan hal tersebut.

Di usianya yang tahun ini menginjak 60 tahun, Danamon cekatan melakukan reformasi, adaptasi maupun transformasi. Perubahan signifikan ini diselaraskan dengan perkembangan zaman yang diwarnai dengan begitu implementatifnya penggunaan teknologi digital juga media sosial. Wujudnya? Bank Danamon menggancang tekad untuk menjangkau komunitas melalui media sosial.

Menurut Toni Darusman, Chief Marketing Officer Danamon, keberadaan komunitas dapat dimanfaatkan bank untuk mensosialisasikan produk maupun layanan Danamon. “Karena buat kami, komunitas adalah salah satu wadah untuk bisa mensosialisasikan produk Danamon. Karena di komunitas banyak anggotanya, juga ada transaksi keuangan, sehingga bisa lebih cepat bagi Danamon memperkenalkan bank ini kepada khalayak,” ujarnya ketika membuka acara Kompasiana Nangkring Bareng Bank Danamon yang bertajuk Mantap Melaju Menjangkau Komunitas Melalui Media Sosial, yang diadakan di Gedung Menara Bank Danamon lantai 22, Jakarta, pada Sabtu, 1 Oktober.

toni-darusman

Toni Darusman, Chief Marketing Officer Bank Danamon. (Foto: Gapey Sandy)

Mengapa mengincar komunitas? Indonesia itu, jawab Toni, negara yang sangat sosial masyarakatnya dengan berkomunitas dan melakukan kegiatan bersama-sama. Berbagai macam komunitas ini pasti punya kesamaan, seperti hobi, bahkan gadget dan sebagainya. “Maka itu, kami ingin bisa menjadi salah satu tools bagi komunitas. Atau, dalam dunia perbankan, kami menargetkan Danamon menjadi bank yang bisa melayani komunitas, di mana saja berada dan kapan pun juga,” tutur pria berkacamata yang mengenakan t-shirt berkerah warna oranye ini.

Bagi Danamon, usia 60 tahun bukan berarti sudah berakhir masa pengabdian dan pelayanannya. “Malah justru sebaliknya, makin penuh semangat,” tukas Toni. “Apalagi sekarang ini, generasi muda sudah bertipe milenials. Karakteristik, kebutuhan dan  interaksinya sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka akrab menggunakan gadget, memanfaatkan media sosial dan adaptif dengan teknologi digital dan sebagainya. Nah, disinilah Danamon harus ada bersama mereka dan juga relevan. Apalagi, sebagai bank, Danamon  tentu harus credible, dapat dipercaya. Tetapi, bukan berarti juga bank itu harus berlaku secara kaku dan formal, melainkan musti relevan untuk pasar anak muda. Contohnya, kita sudah meluncurkan layanan aplikasi D-Mobile, sebuah layanan aplikasi mobile banking yang memudahkan nasabah melakukan aneka transaksi seperti transfer dana, pembelian dan pembayaran dari gawai. Karena itulah, sekali lagi, kami ingin Danamon menjadi pilihan utama dari pasar anak-anak muda sekarang ini.”

“Bermain” di pasar komunitas tidak selamanya menjanjikan. Karena, bisa saja, apabila terjadi sesuatu hal mengecewakan terkait layanan bank misalnya, maka pola informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut atau getok tular akan semakin memperparah nama baik dan image bank itu sendiri. Kekecewaan bisa saja muncul, misalnya karena sistem keamanan bank yang tidak aman sehingga mengakibatkan pembobolan dan merugikan konsumen.

toni-darusman-1

Toni Darusman, Chief Marketing Officer Bank Danamon. (Foto: Gapey Sandy)

“Dalam kaitan keamanan bank, kami menghimbau kepada para nasabah termasuk setiap anggota komunitas, untuk senantiasa menjaga informasi pribadi. Jangan men-share PIN, username dan lainnya. Juga harus terus melakukan kehati-hatian dalam bertransaksi dan melakukan akses di dunia digital. Sebenarnya, dunia digital perbankan sangat membantu dan memudahkan. Sistem keamanan perbankan itu sudah sangat ketat, dan kami selalu memberikan dan memastikan bahwa sistem di Danamon pun sudah aman,” jamin Toni.

Harus Mendengar dan Bangun Cerita Bersama

Sementara itu, Gandhy Inderayana Sastratenaya, Digital & Online Communication Marketing Head Danamon yang menjadi salah seorang pembicara menandaskan, teknologi digital dan menjamurnya penggunaan media sosial membawa banyak perubahan karakter, bahkan terhadap perbankan. Makanya, bank harus mengubah mindset-nya seirama dengan perkembangan multimedia tersebut. Tak bisa lagi, bank itu melayani nasabahnya dengan kaku dan formal.

“Persepsi yang terbentuk selama ini adalah dunia perbankan itu kaku dan formal, tetapi karena trend sudah berubah, maka kini persepsi tersebut harus diubah. Istilahnya, kalau dulu kita meyakini bahwa dunia itu bulat, maka kini tidak lagi, karena dunia saat ini sudah datar atau flat. Maknanya adalah, secara digital bila ada kejadian sesuatu di belahan bumi mana pun, maka seluruh orang akan dengan cepat mengetahuinya. Contoh, peristiwa penembakan warga sipil di Paris, Perancis, yang berubah menjadi isu dunia hanya dalam hitungan detik. Semua moment adalah milik dunia berkat perkembangan teknologi digital dan media sosial yang begitu cepat,” papar Gandhy.

gandhy-indrayana-sastratenaya

Gandhy Inderayana Sastratenaya, Digital & Online Communication Marketing Head. (Foto: Gapey Sandy)

Ia mengingatkan, Danamon jangan mau bernasib seperti dinosaurus yang tidak adaptif dengan perubahan zaman. Sehingga akibatnya punah dan tinggal cerita kenangan. “Industri perbankan dan Danamon terutama, harus melakukan transformasi dan adaptasi. Kalau dulu orang menyimpan uang di bank, maka kini sudah tidak lagi. Karena, pengelola aplikasi ojek online misalnya, juga bisa menerima penyimpanan uang, pembayaran uang dan sebagainya. Artinya, mereka sudah punya “dompet” sendiri-sendiri. Implikasinya, kini bank is not the only one yang punya kemampuan untuk mengelola keuangan. Kalau Danamon tidak mampu beradaptasi maka bisa saja bernasib memprihatinkan seperti dinosaurus yang tak mampu beradaptasi dengan segala perubahan,” tuturnya.

Diantara upaya melakukan perubahan konstruktif dan adaptif adalah bank harus banyak mendengar apa yang menjadi kebutuhan para (calon) nasabahnya. “Sekarang saatnya bank itu mendengar. Danamon masuk ke media sosialnya bertujuan untuk mendengar teman-teman semua sehingga kami bisa memahami lebih baik, apa yang diinginkan oleh teman-teman. Dulu, bank yang merasa paling tahu bahwa produk yang cocok untuk A adalah “ini”, dan tabungan yang tepat untuk si B adalah “itu”. Sehingga produk bank yang ada menjadi terbatas. Kini, semua itu harus diubah. Bank yang justru harus lebih banyak mendengar dan memenuhi kebutuhan sesuai harapan nasabahnya. Misalnya, akun media sosial @HelloDanamon yang merupakan layanan service dan product. Laporkan, semudah nge-tweet di Twitter, selama 24 jam seminggu penuh. Sehingga bank itu sekarang sudah tidak boleh “tidur”. Kami siap untuk mendampingi teman-teman semua. Selain itu, kami sadar bahwa masalah kecepatan layanan, begitu dibutuhkan untuk saat ini,” jelas Gandhy.

Setelah wajib mendengar, imbuhnya lagi, bank juga harus bersama-sama membangun sebuah cerita bersama, dalam hal ini antara Bank Danamon dengan komunitas. “Netizen itu seperti layaknya citizen, pasti mereka akan berkumpul. Nah, bagaimana cara kami bisa masuk dan bersosialisasi lebih cepat adalah melalui komunitas. Strategi masuk ke komunitas adalah blueprint yang tengah saya bangun dengan divisi Digital & Online Communication. Yang menjadi sasaran adalah interest daripada komunitas tersebut. Karena, komunitas itu berkumpul akibat interest yang sama. Nah, untuk itu kami akan jajaki mana layanan dan produk yang bisa kami berikan sesuai dengan interest dari komunitas tersebut,” tutur Gandhy dalam wawancara eksklusif bersama penulis.

d-11

Sumber: Twitter @HelloDanamon.

Terus-terang saja, divisi Digital & Online Communication Danamon baru dibentuk pada 2016 ini. Pembentukannya demi menjawab bahwa Danamon serius ingin menjangkau komunitas melalui media sosial. “Di usia 60 tahun Bank Danamon, kami melakukan banyak transformasi. Salah satunya dengan membangun divisi Digital & Online Communication pada 2016 ini. Sebagai jawaban bahwa Danamon memang serius untuk mengelola digital communication-nya. Bagi kami, sosial media adalah aset yang harus dikelola dengan baik,” ungkap Gandhy seraya menuturkan enam akun media sosial resmi yang dikelola Danamon.

.

Enam akun media sosial Danamon yang sudah terstruktur itu adalah:

  • @Danamon yang difokuskan untuk masyarakat yang ingin mendapatkan kabar terbaru mengenai akses informasi seputar korporasi, edukasi perbankan, kegiatan sosial dan lowongan pekerjaan.
  • @myDanamon yang menyediakan layanan khusus bagi siapa saja yang ingin selalu up to date dengan memperoleh referensi tentang gaya hidup terkini bersama Danamon, juga kiat cerdas mengelola keuangan personal.
  • @HelloDanamon merupakan layanan customer service 24 jam untuk menyuguhkan informasi, solusi atas produk maupun layanan Danamon.
  • @KartuDanamon adalah untuk mereka yang membutuhkan informasi kartu debit dan kartu kredit Danamon Visa, Mastercard, dan Amex.
  • Adapun dua akun media sosial lagi yaitu business banking, yakni @DanamonBiz dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan solusi, informasi cerdas dan wawasan dunia bisnis.
  • Dan, @DanamonDSP yang dikelola secara profesional untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan inspirasi dan tips dalam memulai serta mengelola usaha mikro.

.

Menurut Ganhdy, berinteraksi dengan komunitas tidak saja dilakukan melalui enam akun Danamon di media sosial itu, tapi juga tetap perlu interaksi tatap muka dan temu secara fisik dengan segenap komunitas. “Ini ‘kan manusiawi. Misalnya, dengan cara melakukan gelar acara Nangkring Bareng seperti yang dilakukan bersama Kompasiana. Selain itu, kami tak perlu khawatir untuk melayani beragam komunitas dengan beraneka strata. Karena, Danamon sudah memiliki semua produk yang kiranya dapat memenuhi kebutuhan segenap komunitas,” terangnya.

D 13.jpg

Sumber: Twitter @DanamonBiz.

Masyarakat, ujar Gandhy, pasti punya strata berbeda-beda. Sama juga dengan komunitas. Nah, Danamon memiliki semua produk yang dapat memenuhi kebutuhan mereka semua, mulai dari produk mikro sampai korporasi. “Makanya, aneka ragam strata masyarakat ini tidak menjadi masalah bagi Danamon karena memang sudah memiliki produk sesuai dengan banyak strata, tinggal masalahnya kami melakukan komunikasi bersama komunitas,” tuturnya sambil menegaskan tekad untuk menjadikan Danamon sebagai the most preferred bank untuk nasabah. “Kami ingin terpilih bukan karena nasabah terpaksa, atau kondisi yang mengakibatkan pilihan itu, tetapi nasabah secara sadar memilih kami, dengan alasan ingin menjadikan Danamon sebagai bagian dari cerita sang nasabah.”

Jangan Pasang Target Terlalu “Sadis”

Mengomentari strategi pemasaran Danamon yang di usia 60 tahun mengincar pasar komunitas, Iskandar Zulkarnaen selaku Assistant Manager Kompasiana berpesan, jangan terlalu terburu-buru acapkali Danamon menjangkau komunitas melalui media sosial.

“Pilihan strategi marketing yang diambil Danamon dengan menjangkau komunitas merupakan pilihan yang berani bagi sebuah bank mendeklarasikan diri masuk ke komunitas. Meskipun pilihan ini sudah didahului dengan mengidentifikasi dunia komunitas sekaligus mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi, sehingga malah menganggap hal demikian sebagai tantangan. Jangan terlalu ingin cepat-cepat, harus pelan-pelan dan sabar ketika masuk di komunitas. Saya juga ingatkan agar jangan terlalu memasang target yang “sadis”, harus melihat dulu apa yang sebetulnya bisa dan tidak bisa dilakukan oleh komunitas. Karena, tidak semua komunitas bisa dimasuki oleh Danamon,” pesan Isjet, sapaan akrabnya.

iskandar-zulkarnaen

Iskandar Zulkarnaen, Asisten Manajer Kompasiana. (Foto: Gapey Sandy)

Apa sih keunggulan komunitas bagi pemasaran industri perbankan?

Keunggulannya, kata Isjet, komunitas mampu menjadi pembela dari bank yang bersangkutan apabila menghadapi keluhan, complain atau serangan nama baik dari pihak pesaing maupun dari nasabah yang kecewa. Para member komunitas ini akan membela nama baik bank tersebut dengan bahasa yang lebih personal dan sama sekali jauh dari istilah ataupun diksi perbankan yang kaku.

“Selain itu, keuntungan perbankan dengan menjangkau komunitas adalah menempatkan posisi perbankan tersebut pada track yang benar yakni pada para calon nasabahnya sendiri. Kalau masuk ke komunitas, tanpa harus jualan, perbankan ini sudah membuka diri pada seluruh anggota komunitas, dengan memperlihatkan keunggulan, keramahan, keamanan, produk serta layanan perbankannya,” tutur Isjet.

Jangan Jadikan Komunitas Sekadar Komoditi

Kesiapan segenap komunitas yang siapa tahu bakal “dipersunting” Danamon, jelas menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola atau admin komunitas tersebut. Ibarat gadis yang hendak dinikahi pria pujaannya, tentu ia harus lebih dahulu berbenah diri juga bersolek. Pengelola Kompasiana(dot)com dan komunitas Nebengers(dot)com, termasuk yang membuka tangan lebar-lebar bila Danamon mengincar kerjasama saling menguntungkan, win-win solution.

Disadari atau tidak, komunitas juga butuh semaian ide dan inspirasi untuk tetap terus bertumbuh. Maka dari itu, kata Andreas Aditya, Co-Founder Nebengers[dot]com, seandainya Danamon merangkul komunitas, maka ini dapat menjadi angin segar yang memang sejak lama ditunggu-tunggu. Tapi, harapannya adalah kerjasama ini harus terhindarkan untuk menjadi komunitas hanya sebagai komoditi belaka.

andreas-aditya

Andreas Aditya, Co Founder Nebengers.com. (Foto: Gapey Sandy)

“Komunitas butuh bertumbuh. Komunitas butuh partner yang tidak serta-merta hanya menjadikan komunitas sebagai “komoditi” tetapi juga mampu memberdayakan. Artinya, Danamon dapat berperan sebagai “ayah” atau “orangtua” yang men-support komunitas, bukan dalam bentuk pemberian uang atau materi belaka, melainkan support dari sisi inspirasi, ide dan lainnya. Hal ini dapat terlihat pada enam akun media sosial resmi yang dimiliki Danamon,” tandas Beng-Beng, panggilan akrabnya.

Ia melanjutkan, berkomunitas itu berkumpul sesuai dengan interest dan passion para anggota. Hal ini dapat menjadi jembatan bagi perbankan untuk masuk ke dalamnya, dan menjadi cara untuk men-support komunitas, bukan sebagai “komoditi” tapi justru mitra kerja untuk sama-sama berkembang. “Meskipun, tak bisa dipungkiri, bahwa komunitas juga kadangkala “naik dan turun” dinamika kelanggengannya,” kata Beng-Beng yang juga menjelaskan bahwa komunitas Nebengers berdiri sejak 2013. “Kini sudah ada sekitar 59.000 member yang tergabung dalam aplikasi online. Mereka semua ada di lima kota, Jakarta, Solo, Bandung, Jogjakarta dan Surabaya. Insya Allah, akan terus bertambah lagi jumlahnya di masa mendatang.”

Oh ya, sekilas saja, Danamon baru-baru ini berhasil menyabet penghargaan. Misalnya, penghargaan MarkPlus WOW Service Excellence Award 2015 kategori Conventional Bank (Buku III) untuk cabang Medan, Aceh, Pontianak, Makassar dan Jayapura. Juga, penghargaan dalam acara tahunan “US Dollar Payments – Straight Through Processing Excellence Award 2015” di Jakarta. Penghargaan diberikan oleh bank korespondensi Deutsche Bank, Citibank, dan Standard Chartered Bank sebagai apresiasi pada Danamon berkat pencapaian STP Rate untuk US Dollar Payments pada periode tahun sebelumnya.

So, begitulah. Jangankan industri perbankan, sekarang ini siapa sih yang tidak tergiur dengan pasar komunitas yang tambur di media sosial? Ini juga barangkali, alasan yang membuat tim sukses salah satu pasangan peserta Pilkada DKI Jakarta, konon siap mengguyur cuan senilai Rp 4 miliar untuk “membeli pengaruh” di media sosial.

* * * * *

Tonton Video Blogging (VLOG) reportase Kompasiana Nangkring Bareng Bank Danamon.

Tulisan ini sudah diunggah lebih dahulu ke Kompasiana.

11111

BIKUNS alias BIKE UNS, sepeda listrik pertama yang dibuat di Indonesia. (Foto: Gapey Sandy)

Naik sepeda enggak perlu gowes. Cukup putar gas atau tekan tuas di setang kanan. Lalu, nikmati sensasi lajunya. Kecepatan sepeda listrik ini maksimal 30 kilometer per jam. Lumayanlah, cepat juga kaaan …?

Sepeda listrik ini namanya BIKUNS. Akronim dari BIKE UNS. UNS sudah pasti Universitas Sebelas Maret yang berlokasi di Surakarta, Jawa Tengah.

BIKUNS mulai terwacana pada 2014. Ketika itu, Prof Dr Kuncoro Diharjo ST MT dari Fakultas Teknik memiliki ide untuk membuat sarana transportasi yang ramah lingkungan tetapi memiliki fungsi yang mumpuni. Gagasan brilian ini semakin menguat untuk diwujudkan bahkan memperoleh sambutan sekaligus dukungan aktif dari Miftahul Anwar, koleganya sesama staf pengajar di fakultas yang sama.

Bersama Miftahul Anwar yang menjabat Kepala Tim Peneliti Pusat Unggulan Strategi Nasional (PUSNAS) kemudian terbentuklah tim riset dan pengembangan sepeda listrik, dengan salah seorang anggotanya adalah Prof Kuncoro.

Sejarah awal kelahiran BIKUNS ini disampaikan Yohannes Daud, mahasiswa semester terakhir Pasca Sarjana Fakultas Teknik Mesin UNS kepada penulis. Ia menceritakan ide awal penciptaan BIKUNS ketika dijumpai di stand UNS dalam pameran Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) yang pekan kemarin usai terselenggara di Puspiptek – Serpong.

“Pada 2014 terbetik pertanyaan dari Prof Kuncoro, kenapa kita tidak memiliki sarana transportasi yang bagus? Sejak itu, muncul gagasan untuk membuat prototype sepeda listrik. Pada tahun yang sama kami mulai mencoba pembuatan sepeda listrik, dan berhasil membuat generasi pertamanya pada 2015.

Hasilnya? Sebenarnya sudah bagus, tapi pada body sepedanya masih terlalu kelihatan kaku. Akhirnya kita edit dan desain perbaikan lagi. Hingga selesai generasi kedua pada Januari 2016. Nah, ketika mulai dipamerkan kepada publik, responnya ternyata sangat bagus,” tutur Yohannes yang mengaku terlibat sebagai anggota tim research and development BIKUNS.

11112

Yohannes Daud (kanan), anggota tim periset BIKUNS. (Foto: Gapey Sandy)

BIKUNS generasi kedua ini tentu lebih baik bila dibandingkan dengan buatan sebelumnya. “Terutama pada desain body yang lebih dapat diterima pasar,” ujarnya. Melihat sendiri bagaimana tampilan BIKUNS memang ada kesan seperti sepeda biasa saja. Bedanya cuma karena ia mampu “melahap” arus listrik sehingga punya kekuatan elektrik. Tapi, kesan ini langsung ditepis Yohannes.

“Ini bukan sekadar sepeda biasa, karena rangka sepedanya kita buat sendiri, desain industrinya semua sudah dipatenkan. Kalau disebut sepeda biasa, ya enggak juga, karena kita sudah mengubah chassis sepedanya. Chassis adalah rangka yang fungsinya menopang berat dan beban kendaraan, mesin serta penumpang. Chassisnya kita buat sendiri. Tapi memang, untuk komponen-komponen lain sama dengan sepeda biasa semua. Artinya, untuk masalah pengereman, rem depan, rem belakang, ban, velg, jari-jari, baut segala macam, bisa dicari di pasaran,” katanya.

Kalau diangkat tangan, berat BIKUNS berkisar 60 sampai 65 kilogram. Sedangkan untuk pengecasan baterainya membutuhkan waktu colok ke listrik selama 3 sampai 4 jam. “Nanti akan full. Ada lampu indikator di kotak panel sebelah setang kiri, sama seperti indikator baterai kalau kita men-cas handphone. Kalau sambil nge-charge terus kita tinggal tidur ya enggak apa-apa, karena nantinya kalau sudah full akan mati dengan sendirinya. Dengan baterai yang full, sepeda listrik ini bisa mencapai jarak tempuh hingga 30 kilometer,” jelas Yohannes.

Terus, bagaimana kalau baterainya habis di tengah jalan? Ya … hahahaaa, tinggal di-gowes seperti sepeda biasa ajalah. Toh, ringan juga. “Andai baterainya habis, kita gowes juga enggak terlalu berat, asal jalanannya masih lurus dan permukaan jalannya stabil.

Artinya, hampir sama seperti beratnya sepeda biasa, hanya saja ditambah beban beberapa kilogram lantaran ada baterainya. Ketika baterainya masih tersedia, tapi kita tetap ingin menggowesnya, maka hal ini tidak akan menjadi masalah. Malah justru menggowesnya jadi lebih ringan, dan hemat baterai. Tetapi, kalau sambil menggowes kemudian berharap baterai dapat terisi secara otomatis, maka hal ini yang belum bisa terlaksana,” ujarnya lagi.

11113

Sepeda listrik BIKUNS. (Foto: Gapey Sandy)

BIKUNS kini terus dipasarkan. Karena dibuat berdasarkan pesanan, peminat BIKUNS harus siap beli secara indent. Untuk itu, butuh waktu proses pembuatan. “Kalau pesanan indent, untuk pembuatan satu sepeda, bisa mencapai 2 sampai 3 bulan karena produksi kita masih terbatas sekali. Proses pembuatan body yang berbahan baku fibre glass itu yang memakan waktu lama karena pengerjaan percetakannya.

Mungkin, beda lagi kalau kita sudah memproduksi massal dengan menggunakan teknologi bahan baku plastik ABS atau acrylonitrile butadiene styrenesepertiyang digunakan pabrikan sepeda motor. Pakai ABS bisa jadi lebih cepat waktu produksinya,” kata Yohannes.

BIKUNS yang disebut-sebut sebagai sepeda listrik pertama di Indonesia ini memiliki “nyawa” baterai lithium. “Baterainya 36 Voltdengan 10 Ampere, yang proses charging-nya menggunakan listrik rumah tangga. Tetapi, karena listrik rumah tangga adalah bersistem AC, sementara baterai sepeda listrik ini bersistem DC, maka kita harus menggunakan converter. Jadi, konsep listrik pada sepeda ini sederhana saja, Cuma baterai, rangkaian elektronik, dan penggerak motor listrik yang dipasang di ban depan,” tuturnya.

Kenapa diletakkan di ban depan? Alasannya, karena akselerasi BIKUNS bakal lebih bagus dan perawatan lebih mudah. Untuk pembersihan dan pemberian minyak pelumas pada rantai sepeda juga akan lebih aman, tidak terciprat atau menyelusup masuk ke penggerak motor listrik. Sehingga penggerak motor listriknya akan lebih bersih.

Tidak seperti motor konvensional yang meletakkan penggerak motor listriknya di belakang karena memfokuskan pada power atau daya, maka sepeda listrik Bikuns ini menempatkan penggerak motor listrik di ban depan karena mementingkan akselerasi. Karena memang, target pasar BIKUNS — yang mampu menahan beban maksimal 250 kilogram — adalah masyarakat perkotaan.

11114

Para Caraka di lingkungan Kampus UNS mengendarai BIKUNS. (Foto: uns.ac.id)

Yohannes menambahkan, pada sisi setang kiri ada panel yang memuat switch power ON/OFF, indikator daya baterai, switch kontrol pengaturan kecepatan LOW/MEDIUM/HIGH juga tuas rem belakang. Kalau di jalanan biasa, sebaiknya pilih kecepatan LOW, tapi nanti kalau sudah berada di jalan raya, bisa disesuaikan lebih cepat lagi MEDIUM juga HIGH, hingga maksimal 30 kilometer per jam. Ada juga kunci kontak yang memutus arus listrik, seperti kunci kontak pada sepeda motor konvensional.

Sedangkan di setang kanan, ada gas. Sistem gas pada setang ini ada dua macam, pertama yang dibuat seperti gas yang diputar pada sepeda motor, tapi ada juga yang seperti tuas dengan digerakkan naik atau turun dengan ibu jari saja. “Terserah kenyamanan konsumen saja, mau pilih yang gasnya seperti sepeda motor, atau pakai tuas,” tukasnya. Para Caraka, pengantar dokumen di UNS sudah menyingkirkan sepeda motor konvensional.

Meski nge-gas dengan memakai daya listrik, tetapi sistem pengereman BIKUNS masih mengandalkan rem karet. Bukan menggunakan sistem cakram yang lebih kekinian. “Justru dengan memakai rem karet harga produksi bisa ditekan.

Kalau pakai cakram, harga jual bisa lebih mahal lagi. Tetapi, meskipun pakai rem karet dijamin sudah mencukupi,” jawab Yohannes sembari mengtakan bahwa pengendara BIKUNS tidak perlu melengkapi diri dengan SIM maupun STNK. “Karena, kecepatan maksimal 30 kilometer per jam yang bisa dicapai BIKUNS, tidak membuatnya lantas masuk dalam moda transportasi jenis kendaraan bermotor.”

Masa Prakomersialisasi

Sementara itu, Prof Dr Kuncoro Diharjo ST MT ketika diwawancarai penulis via aplikasi WhatsApp mengatakan, saat ini BIKUNS sedang dalam tahap prakomersialisasi. Komersialisasi dilakukan dengan kerjamasa UNS bersama CV Intek Unsindo yang bertempat di Karanganyar, Solo Raya.

11115

Prof Dr Kuncoro Diharjo ST MT (tengah), menjajal BIKUNS di lingkungan kampus. (Foto: uns.ac.id)

“Saat ini, penggunaan BIKUNS semakin menjamur. Misalnya, BIKUNS sudah dipergunakan oleh para Caraka untuk mengantar dokumen di lingkungan kampus UNS, sebanyak 13 unit. Jelas, hal ini sekaligus mendukung komitmen untuk mewujudkan UNS sebagai Green Campus,” terangnya sambil menjelaskan kembali bahwa BIKUNS menggunakan baterai LiPo4/LiCo/Led Acid, motor listrik BLDC 250/500 W dan merupakan sepeda listrik pertama yang dibuat di Indonesia. BIKUNS didesain dengan dimensi 240 x 90 x 120 cm, dan cukup ringan manakala dikayuh.

Selain itu, oleh Kemenristekdikti, BIKUNS juga dihibahkan untuk lima universitas terkemuka nasional yakni Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Jember, Universitas Negeri Makassar.

Momentumnya adalah dalam rangka acara Malam Apresiasi Hari Teknologi Nasional (Harteknas) pada 10 Agustus 2016 kemarin. “Pengiriman BIKUNS sudah dilakukan untuk UI, sedangkan kepada empat universitas lainnya masih menunggu koordinasi dengan Direktur Inovasi Industri Kemenristekdikti,’ ujarnya.

Adapun pihak lain yang sudah akad pembelian BIKUNS dan terealisasi adalah Fakultas Teknik UI. Sementara PT Pembangunan Perumahan akan segera ter-delivery pesanan BIKUNS-nya pada November – Desember 2016 ini. “Pesanan juga kembali datang dari Rektor UNS yang akan menjadikan BIKUNS sebagai kendaraan para Dekan selama bekerja di area kampus,” jelasnya bangga.

Hingga kini, kata Prof Kuncoro, BIKUNS dikembangkan dan difokuskan untuk memenuhi ceruk pasar khusus. “Misalnya, kawasan Green Campus, zona Green Industry, kawasan rumah sakit, silentzone maupun green area lainnya,” terangnya sembari mengatakan bahwa harga Rp 8,5 juta per unit sudah sangat full of discount. “Karena pembeli memperoleh tambahan dua box bagasi kiri dan kanan pada sisi belakang sepeda listriknya.”

Sungguh, sebuah karya penerapan teknologi yang begitu “green” dengan memanfaatkan sumber energi alternatif dan “mengenyahkan” penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Langkah inovasi anak bangsa seperti ini, mari kita terus dukung. Bukankah jumlah BBM semakin menipis, dan kelak akan benar-benar habis.

* * * * *

Tulisan ini juga sudah dimuat di Kompasiana, dengan link: http://www.kompasiana.com/gapey-sandy/ayo-naik-bikuns-sepeda-listrik-asal-surakarta_57ea11923597737b0a68c468

1111

Suasana peluncuran buku Perubahan Tiada Henti. (Foto: Gapey Sandy)

QCC adalah kependekan dari Quality Control Circle. Sebagian kita mungkin sudah banyak yang tahu. Tapi, sebenarnya apa dan bagaimana QCC? Mengapa ‘tiga huruf’ ini bisa sampai bertahan pelaksanaannya di Toyota Indonesia, bahkan hingga seperempat abad, 25 tahun lamanya? Pastilah, QCC ini sesuatu yang hebat pun luar biasa!

Kamus daftar istilah mengartikan, QCC tak lain sebagai cara untuk mengimplementasikan semangat kaizen dengan efektif. Kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 7 hingga 10 orang itu selalu mencari masalah-masalah untuk dipecahkan, mencari inovasi-inovasi agar dapat memecahkan masalah dan memperbaiki keadaan.

Penjelasan tersebut dijabarkan pada halaman 144 buku “Perubahan Tiada Henti : 25 Tahun Perjalanan QCC Toyota Indonesia – Membangun manusia sebelum membuat produk”. Buku besutan Joice Tauris Santi, wartawati Kompas desk Multimedia ini diterbitkan penerbit buku Kompas. Secara formal, peluncuran buku berwarna sampul merah menyala ini dihelat di ruang Ruby, lantai 7 Gedung Kompas Gramedia Unit II, Palmerah Barat, Jakarta (Selasa, 16 Agustus 2016).

Pada peluncuran buku yang penggarapannya bekerjasama dengan 14 member maupun leader Toyota Indonesia ini sejumlah pimpinan manajemen Toyota Indonesia tampak hadir, seperti Warih Andang Tjahjono (Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia atau TMMIN), Henry Tanoto (Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor), Bob Azam (Direktur PT TMMIN), Abdul Mukti Suryo Hutomo (General Manager Press Production Sunter 2 Division) dan masih banyak lagi. Ada pula Sonny Irawan dari Productivity Quality Management (PQM) Consultants. Juga, Muhammad Zuhri Bahri selaku Direktur Standar Kompetensi dan Program Pelatihan mewakili Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Tenaga Kerja.

Sementara dari manajemen Kompas, nampak Pemimpin Redaksi Budiman Tanuredjo yang didaulat menyampaikan kata sambutan, Pepih Nugraha (jurnalis senior Kompas dan COO Kompasiana), dan sudah tentu Joice Tauris Santi sang penulis merangkap editor buku.

Dalam paparan singkatnya, Sonny Irawan mengungkapkan bahwa di kalangan manajemen dunia usaha, permintaan terhadap QCC tidak pernah surut bahkan cenderung meningkat drastis pada masa-masa belakangan ini.

“Fakta ini kami peroleh dari rutinitas sehari-hari. Lembaga kami, PQM Consultant yang selama ini sudah menambahkan berbagai layanan jasa yang terkait dengan peningkatan Produktivitas dan Kualitas, seperti Total Quality Management (TQM), Lean Manufacturing, Total Productive Maintenance, Six Sigma dan lainnya, tetap menemukan kenyataan bahwa permintaan untuk QCC tidak pernah surut. Bahkan, selama lima tahun terakhir terjadi peningkatan yang cukup berarti dibandingkan periode sebelumnya. Mungkin hal ini dikarenakan tekanan untuk meningkatkan produktivitas semakin tinggi,” ujar Commissioner and Senior Consultant of PQM Consultants ini.

Sementara itu, Warih Andang Tjahjono menegaskan bahwa QCC menjadi salah satu mindset yang berlaku di Toyota Indonesia. “Ini adalah buku pertama yang menulis tentang kegiatan QCC di Toyota Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih kepada penulis dan seluruh tim yang terlibat, juga kepada Kompas, Kompasiana bersama seluruh Kompasianer-nya,” ujar Warih ketika memulai sambutan.

Kegiatan QCC, kata Warih, merupakan salah satu mindset atau suatu value khusus berupa kegiatan dengan melibatkan semua member. “Ini sesuai dengan semangat kaizen yang ingin melibatkan secara langsung semua member untuk meningkatkan atau mencapai produksi sesuai yang telah dicanangkan. Kaizen yang baik dan benar merupakan ide atau perbaikan di area kerja masing-masing. Kaizen melibatkan banyak orang di area kerja sehingga ke depan kita semua akan merasa dengan berbagai perbaikan pekerjaan pun akan lebih baik. Disinilah sebenarnya Kaizen itu adalah melibatkan semua member,” urai Warih yang mulai bergabung dengan Toyota Indonesia sejak Juli 1989.

Sebenarnya, secara khusus, apa yang dikemukakan Warih terdapat pada halaman istimewa buku “Perubahan Tiada Henti” yang sengaja dialokasikan guna memuat pernyataan penting dari pria berjanggut putih kelahiran 11 Juni 1963 ini. “Dengan melibatkan semua orang, pergerakan langkah Plan-Do-Check-Act (PDCA) lebih cepat, diharapkan akumulasi ide semakin lama semakin tinggi sehingga terjadi perubahan di area kerja menjadi lebih baik, selanjutnya perubahan lebih baik pun terjadi dan dapat dirasakan di perusahaan. Apalagi memang, nilai respect to people adalah salah satu pilar Toyota Way juga,” sebutnya mantap.

Menurut alumnus Fakultas Teknik Kimia, Universitas Diponegoro- Semarang ini, ada dua pilar Toyota Way yaitu continuous improvement dan respect to people. Ini sejalan dengan slogan ‘We make people before we make product’ atau kita membangun manusia sebelum membuat produk. “Nilai itu menjadi salah satu dasar pemikiran kita bahwa dalam proses di sektor manufaktur, proses perakitan yang ada di Toyota tidak dapat terlepas dari manusia, Secanggih apapun perlengkapan mesin yang dimiliki, itu hanyalah mesin. Tetap diperlukan orang. Itulah mengapa kita bicara orang adalah the most important key success,” jelas Warih yang pada 1990 pernah dikirim menimba ilmu ke Jepang, dan bersama tiga rekan lainnya sempat tersesat serta tertinggal rombongan lantaran kelewat takjub mengagumi megapolitan Tokyo.

Karena pentingnya faktor manusia itu, lanjut Warih, sudah menjadi kewajiban para leader untuk memaksimalkan kemampuan setiap member-nya. “Setiap orang menjadi bagian penting dari produksi. Dengan meningkatkan kapabilitas setiap orang, kita pun akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Salah satu kegiatan penting ketika kita bekerja di Toyota adalah kemampuan untuk bersosialisasi. Ini adalah hal penting juga. Knowing your friends, knowing your people. Itu paling penting. Sehingga teamwork harus diartikan, jika ada kesulitan harus saling memberikan dukungan. Ownership dan teamwork menjadi satu kesatuan,” tegas Warih yang selalu tampil sederhana dan oleh Kompas.com pernah dijuluki sebagai “Wong Ndeso” yang sukses meriap karir sebagai boss TMMIN.

Sekilas Buku

Selain menyuguhkan paparan Warih Andang Tjahjono mengenai kaizen dan QCC, buku setebal 148 halaman ini memuat empat bab yang seluruhnya padu-padan berkesinambungan.

1112.jpg

Buku Perubahan Tiada Henti. (Foto: Gapey Sandy)

“Tradisi Menjaga Mutu” menjadi judul utama bab I, yang menuangkan materi umum mengenai Toyota Production System (TPS) yang selalu mengutamakan kepuasan pelanggan. TPS itu sendiri berdiri kokoh dengan dua konsep, jidoka (suatu alat atau sistem yang digunakan untuk mengetahui atau mendeteksi ketidaknormalan proses, sistem, atau orang yang diberi wewenang untuk menghentikan proses produksi jika terjadi sesuatu yang abnormal atau malfungsi), dan just in time (hanya membuat apa yang diperlukan, ketika produk itu dibutuhkan dalam jumlah yang dibutuhkan, atau dimaknai juga sebagai upaya memproduksi barang bermutu dengan efisien melalui proses penghilangan segala sesuatu yang berlebihan, tidak konsisten, tidak masuk akal dalam proses produksi).

Kaizen atau semangat perbaikan tanpa henti juga memperoleh pembahasan pada bab ini, berikut pelaksanaannya melalui QCC. Secara apik, penulis buku ini menutupnya dengan tulisan ringkas dengan judul “Meningkatkan Produktivitas” yang diantaranya mengungkap sejumlah sigi ilmiah tentang hubungan antara pelaksanaan Total Quality Management (TQM) melalui QCC dengan peningkatan produksi.

Jing Li dari Oregon University Master of Science dalam tesisnya (2011) meneliti kaitan antara QCC dengan produktivitas. Peneliti ini menghabiskan waktu risetnya di sebuah pabrik yang berlokasi di Fujian, Tiongkok dan menerapkan QCC. Hasilnya? Jing Li memastikan bahwa dukungan manajemen sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan pelaksanaan QCC.

Hal ini seirama dengan hasil penelitian yang dilakukan Dr S J Manjunath (associate professor pada MBA Department, BN Bahadur Institute of Management Science, India) dan G Arun Kumar (associate professor pada MBA Department, Vijanagara Sri Khrisnadevaraya University, India). Keduanya menyimpulkan, banyak perusahaan yang punya nilai tambah dan daya saing tinggi, meski sebenarnya tidak menggunakan istilah TQM melainkan justru memberlakukan inti dari konsep tersebut. Terungkap pula bahwa, ada korelasi positif antara implementasi TQM, termasuk kegiatan QCC, dengan peningkatan produktivitas dan kualitas.

Bab II buku ini menyodorkan topik “Turut Membangun Tradisi di Toyota Indonesia” yang dibuka dengan penjelasan mengenai bagaimana perusahaan memiliki slogan yang mencengangkan dunia: “We Make People Before We Make Product”. Slogan ini tidak ujug-ujug muncul, tidak asal lahir. Justru, slogan ini tercipta dari pemahaman bersama untuk konsisten menjaga mutu yang bukan saja tanggung-jawab manajemen tapi juga semua karyawan Toyota. Caranya? Membangun sumber daya manusia (SDM) terlebih dahulu agar memiliki semangat untuk tetap ikut memiliki tanggung-jawab demi terus memiliki semangat perbaikan.

Ini pula yang menjad dasar Toyota Way yang memiliki dua filosofi continuous improvement — kaizen — dan respect for people. Filosofi kedua, menghormati individu mengartikan bahwa kesuksesan bisnis tercipta dengan optimalisasi kemampuan individu dan kerjasama dalam tim yang baik. Disinilah Toyota selalu memberikan kesempatan bagi para karyawannya untuk bertumbuh, terus belajar dan mengembangkan diri. Pengembangan diri menjadi prioritas sebelum mengembangkan produk, maka lahirlah slogan “We Make People Before We Make Product”. Di negara asalnya, konsep ini dikenal dengan monozukuri wa hitozukuri atau melakukan monozukuri (membuat sesuatu) melalui hitozukuri yang intinya adalah mengembangkan karyawan.

Bagaimana perjalanan 25 tahun pelaksanaan QCC di Toyota Indonesia? Nah, bab ini juga mengulasnya dengan membagi pada beberapa tahapan krusial, mulai dari Tahap Pengenalan (1981 – 1992), Tahap Pengembangan (1992 – 2003), dan Tahap Penguatan (2014 – 2015). Setelah tiga tahapan rintisan ini, Toyota Indonesia tidak berhenti begitu saja. Justru, langkah berikutnya adalah berbagi aktivitas QCC secara aktif dengan menyebarkan budaya improvement kepada masyarakat Indonesia. Pada 2013 di sebuah SMK di Bekasi, Jawa Barat, mulailah “wabah virus QCC” diberlakukan. Program ciamik kaya manfaat ini dinamakan Kaizen Goes to School.

Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa memang pelaksanaan kaizen melalui QCC tidak hanya dapat digunakan oleh pelaku dunia industri saja, khususnya manufaktur, tetapi juga dapat digunakan oleh semua orang.

1115

Salah satu unit kerja di PT TMMIN Sunter 1. (Foto: Santo Rachmawan/Kompasiana)

“Budaya Bukan Hambatan” adalah judul dari bab III, yang mengajak pembaca melihat secara global bagaimana sukses QCC di banyak negara, antara lain Singapura, Burkina Faso, dan Botswana. Kesuksesan yang luar biasa ini memantik semangat perusahaan dengan penjualan otomotif terbesar di dunia ini untuk jangan menjadikan QCC laiknya ‘katak melompat di dalam tempurung’, tapi malah justru diserukan agar menjadi Gerakan Nasional. Luar biasa!

Pada bab IV, tim penulis buku ini mengetengahkan topik “QCC Sebagai Sarana Pengembangan Diri – Sebuah Panduan”. Inilah bab yang paling memukau bagi pembaca yang berhasrat meng-copy paste dan menerapkan QCC sebagai upaya meng-improve diri sendiri dan perusahaannya. Kenapa? Karena ada 25 tulisan ringkas yang bisa menjadi modul sekaligus menunjukkan step by step “jalan terang” secara teknis agar dapat sukses menerapkan QCC.

Ambil contoh misalnya, bagaimana menjalankan teknik QCC? Bab ini membeberkannya, mulai dari brainstorming, pendekatan why-why-why, penggunaan diagram affinity, menghilangkan 3M (muda/mubazir, muri/kelebihan beban, mura/ketidakseimbangan), mempertajam masalah dengan pendekatan 5W2H (what, when, who, where, why, how, how much), mencermati berbagai kemungkinan dengan 4M1E (man, machine, material, method, environment), hingga mengadakan pertemuan dan presentasi.

Buku yang cukup menampilkan ilustrasi, foto dan kutipan tokoh-tokoh dibalik suksesnya QCC di perusahaan Toyota ini memuat juga Daftar Istilah. Jadi, pembaca tidak perlu mengernyitkan dahi apabila menemukan istilah dalam Bahasa Jepang yang mungkin baru pertama kali ditemukan, seperti Genba, Genchi genbutsu, Heijunka, Hoshin Kanri, Kaihao, Kaimeim Nichijo Kanri dan lainnya. Yang menarik, ada istilah BLUSUKAN pada daftar. Apakah ini Bahasa Jepang? Hahahaaa … bukan tentunya. Ini adalah aktivitas yang biasa dilakukan oleh Presiden RI Joko Widodo guna menyambangi, melihat langsung, mendengar dan merasakan bagaimana situasi dan kondisi rakyatnya di lapangan. Tapi tahukah Anda, ternyata blusukan juga dimaknai sebagai hal yang sama seperti genchi genbutusu yang artinya pergi ke lapangan untuk mendengarkan aspirasi langsung dari mereka yang mengalami kejadian atau masalah. (hal. 141). Wow! Supeeerrrr … rupanya Pak Jokowi sepertinya sudah menerapkan semangat kaizen — perbaikan terus menerus — melalui aktivitas QCC.

Abdul Mukti: Tiga Manfaat QCC

Sementara itu, menurut Abdul Mukti Suryo Hutomo selaku General Manager Press Production Sunter 2 Division PT TMMIN, aktivitas QCC bisa diberlakukan panjang, bahkan sudah selama 25 tahun di Toyota Indonesia, karena memang sangat terasa manfaatnya. “Bahkan ketika saya level member di divisi produksi maupun engineering, QCC itu mampu membuat saya bekerja lebih baik, membuat improvement, mengeluarkan ide-ide cemerlang, dan kalau saya sejak kecil biasa dan gemar membuat prakarya maka dengan QCC kebiasaan itu bisa muncul lagi. Kini, ketika level member saya sudah meningkat General Manager semakin terbukti lagi bahwa QCC mampu membantu member saya berada pada jalur development, mereka menjadi lebih pandai, lebih kreatif dengan ide-ide cemerlang yang selalu muncul. Artinya, QCC tidak saja bermanfaat untuk perusahaan tapi juga buat saya sendiri secara pribadi, baik sebagai member, pimpinan kerja, atau seperti saat ini dimana saya sudah menjadi General Manager,” ujarnya kepada penulis dalam wawancara khusus di sela peluncuran buku.

1113

Abdul Mukti Suryo Hutomo, General Manager Press Production Sunter 2 Division PT TMMIN. (Foto: Gapey Sandy)

Ada tiga hal yang dirasakan paling bermanfaat dari pelaksanaan QCC. “Pertama, dengan QCC maka berlaku apa yang dinamakan ‘People Development’, makanya semboyan kita adalah ‘We Make People Before We Make Product’. Kedua, QCC mampu menciptakan komunikasi yang baik di perusahaan. Artinya, terjalin komunikasi yang selaras antar sesama member, maupun antara member dengan pimpinan kerjanya. Dengan QCC, komunikasi terjalin lancar dimana kita memang punya sarana komunikasi. Sebagai General Manager, dengan adanya QCC saya bisa datang ke line untuk bertemu staf member di sana, dan kita saling berinteraksi tentang segala hal terkait pekerjaan, misalnya sejauhmana progress yang sudah berjalan, apa kendala yang dihadapi, dan bantuan pekerjaan apa yang diharapkan. Jadi, ada juga bahan buat komunikasi. Dan ketiga, setelah semua itu berjalan secara otomatis sesuai yang diharapkan, maka mereka semua bisa melakukan perbaikan, improvement, atau problem solving. Inilah yang pada akhirnya membuat kualitas kerja menjadi lebih baik, produktivitas menjadi lebih baik, meskipun semua itu terlaksana secara sedikit demi sedikit, tapi lama kelamaan hasilnya terasa sampai saat ini,” urainya semangat.

Contoh konkret manfaat pelaksanaan QCC banyak sekali, lanjut Abdul Mukti, misalnya saja yang sederhana, saya kebetulan bekerja di press production yang kerjanya membuat body mobil. Pernah suatu ketika, member saya berkata kepada pimpinan kerjanya tentang sisa pelat hasil pembuatan body mobil yang masih besar dan kurang termanfaatkan. Hingga akhirnya pada suatu saat member tersebut mengajukan ide untuk membuat sisi bahagian bawah tempat biasa dongkrak diletakkan. Karena berkaitan dengan pabrik yang memproduksi dongkrak, akhirnya ide dari member tadi dilanjutkan ke pabrik pembuat dongkrak.

“Hasilnya? Pabrik pembuat dongkrak menyatakan bersedia memanfaatkan dan mempergunakan pelat sisa produksi body mobil yang sebelumnya dianggap limbah tak terpakai. Inilah satu bukti betapa seorang member yang biasa melakukan QCC, terus berpikir dan mencari ide kreatif termasuk dengan memanfaatkan pelat sisa produksi body mobil tadi,” ujarnya sumringah.

Kreatifitas memanfaatkan pelat sisa body mobil, tegas Abdul Mukti lagi, merupakan ide yang muncul dari member. “Ide seperti ini tidak akan menjadi sesuatu yang berharga atau tidak akan menjadi apa-apa kalau leader tidak merespon. Karena QCC itu di Toyota Indonesia dijadikan suatu sistem manajemen genba (perkara, masalah) yang menjadi target sekaligus Key Performance Indicator (KPI) dari pimpinan kerja, maka kita memang selalu menangkap ide yang merupakan hasil QCC dari para member. Bukankah ini juga akan menjadi prestasi dari leader, sang pimpinan kerja juga apabila ide member benar-benar bisa direalisasikan,” terang pria berkacamata yang sudah 20 tahun bergabung bersama Toyota Indonesia.

Kegiatan QCC tidak hanya dapat dilaksanakan pada divisi produksi saja. Ia bahkan bisa diterapkan untuk divisi administrasi perkantoran. “Contoh nyata manfaat QCC pada divisi administrasi ini misalnya, seperti yang pernah terjadi pada proses ekspor dan impor. Kejadian awalnya begini, administrasi proses ekspor impor pada redline (jalur merah) memerlukan waktu yang sangat panjang atau tujuh hari kerja. Padahal untuk jalur biasa, prosedur administrasi ekspor impor hanya bisa selesai dalam tiga hari kerja saja. Melihat kenyataan prosedur yang lama waktunya ini, divisi administrasi perkantoran kemudian melakukan QCC dan menemukan fakta bahwa ternyata, prosedur berlarut-larutnya proses ekspor impor redline ini adalah karena kegiatan tanda-tangan yang harus dibubuhkan pada lembaran-lembaran manifest. Kondisi demikian lalu dibicarakan bersama dengan instansi berwenang terkait ekspor impor, hasilnya dirancang suatu kebijakan prosedur untuk memperingkas lembaran-lembaran manifest yang harus ditandatangani. Artinya, dalam satu manifest sudah mencakup daftar barang-barang redline secara keseluruhan, sehingga dengan begitu proses penandatanganan tidak membutuhkan banyak lembaran kertas. Hasilnya sungguh luar biasa, karena akhirnya proses ekspor impor untuk redline bisa dipersingkat dari tujuh hari kerja menjadi hanya empat hari saja,” tuturnya.

Manfaat pelaksanaan QCC juga berdampak kepada kepuasan pelanggan. “Salah satu yang bisa saya sampaikan misalnya tentang durasi waktu pelanggan untuk menunggu pengerjaan mobil yang menjalani servis berkala. Dulu, pada tahun 2006 saya pernah survei ke lokasi servis mobil Toyota. Mereka menerapkan kebijakan Fast Service dengan durasi dua jam. Syukurlah, semua bisa tepat waktu. Nah, pada 2014 lalu saya kembali meninjau lokasi servis mobil yang sama, rupanya ada kemajuan. Karena, dengan QCC yang mereka terapkan, pihak servis mobil berkala sudah menerapkan kebijakan Fast Service dengan durasi hanya 56 menit saja! Semua bisa tercapai dengan berbagai improvement melalui QCC yang sedikit demi sedikit dan terus-menerus dilakukan,” ungkapnya bangga.

Apa kunci keberhasilan melakukan QCC?

“Menurut saya kuncinya adalah konsistensi. Sebagai contoh begini, saya pernah mencoba untuk membantu pihak supplier-nya Toyota untuk menjalankan QCC. Waktu itu, kadang-kadang kita juga berpikiran bahwa ekspektasi terhadap QCC terlalu tinggi, seperti misalnya, dengan hari ini perusahaan melakukan QCC lalu enam bulan kemudian produktivitas akan naik hingga 20 persen. Ekspektasi yang kelewat tinggi seperti ini bukan QCC. Sekali lagi saya sampaikan, rohnya QCC adalah kaizen atau improvement tanpa henti, sedikit demi sedikit. Fokusnya bukan kepada result tetapi process. Karena, QCC adalah people development dan membuat pekerja menjadi lebih baik dengan prinsip kaizen,” jawab Abdul Mukti yang mengenakan batik Nusantara berwarna dominan biru muda ini.

Joice Tauris Santi: Kunci Pas pun Terselamatkan

Hadirnya buku ini juga menjadi salah satu wujud dari Toyota Berbagi, dimana Berbagi berarti Bersama Membangun Indonesia. Ya, inilah simbol dari semangat yang dimiliki Toyota untuk mengambil bagian dalam mengembangkan Indonesia bersama dengan pihak terkait lainnya, termasuk Pemerintah dan masyarakat untuk Indonesia yang lebih baik.

1114

Joice Tauris Santi dan Buku Perubahan Tiada Henti. (Foto: Gapey Sandy)

“Buku ini mulai digarap sejak Januari, dan selesai empat bulan kemudian, April 2016. Dalam pengerjaannya saya banyak dibantu oleh teman-teman dari Toyota Indonesia. Buku ini pada intinya adalah bagaimana mereka mengembangkan QCC di perusahaan mereka. QCC ini sebenarnya bisa dikembangkan dimana saja, bukan hanya pada divisi manufaktur saja, tapi juga divisi office. Mereka melakukan rapat pada setiap satu minggu sekali, dan dengan melakukan QCC yang memiliki steps juga tools, mereka sudah bisa meningkatkan kemampuan mereka sendiri,” ujar Joice Tauris Santi, sang penulis buku dalam wawancara singkat eksklusif.

Dikatakan Joice, dengan melakukan QCC, terbukti bahwa mereka — para member Toyota Indonesia — mampu melakukan improvement dalam rutinitas pekerjaannya. “Ini sejalan dengan semboyan Toyota yang sudah sangat melekat yakni ‘We Make People Before We Make Product’, artinya mereka meng-improve orang-orangnya lebih dahulu supaya bisa menciptakan produk-produk berkualitas dan baik,” tutur jurnalis Kompas yang secara khusus mengisi halaman ekonomi epaper Kompas Update di kompasprint.com.

Kaizen atau perbaikan terus-menerus adalah salah satu core dari filosofi Toyota Way, selain respect to people atau saling menghormati satu sama lain. “Lantas dimana perbaikan terus-menerus ini dilakukan? Jawabannya adalah melakukan kegiatan QCC. Sebut saja, setiap kelompok karyawan yang terdiri dari masing-masing 10 orang, nah mereka ini harus terus memikirkan hal-hal apa yang bisa diperbaiki di tempat kerjanya. Misalnya, menaruh kunci pas di bengkel. Yang namanya bengkel, adakalanya terjadi ketika pagi hari pihak bengkel memiliki dua kunci pas, tapi pada sore harinya kunci pas tinggal satu karena diletakan tidak pada tempatnya. Untuk itulah muncul peraturan yang harus disepakati bersama bahwa meletakkan kunci pas harus pada tempat yang sudah ditentukan,” tutur Joice yang pada 2005 pernah mengikuti pelatihan Financial Journalism di Berlin, Jerman.

Perbaikan kerja secara kecil-kecil yang terus-menerus dilakukan, lanjut Joice, akhirnya lama kelamaan menjadi besar dan berdampak signifikan. Contohnya, penemuan ‘robot’ yang semakin membantu, memudahkan dan mempercepat proses produksi. “Penemuan-penemuan seperti ini tidak hanya berhenti di Toyota Indonesia saja, tapi juga dilaporkan ke Toyota Jepang untuk dilakukan perbaikan di sana, dan kemudian dikembalikan ke Toyota Indonesia dalam bentuk improvement mesinnya,” kata jurnalis yang pada 2015 memperoleh sertifikasi Certified Financial Planner (CFP) dari Financial Planning Standards Board (FPSB) Indonesia ini.

Mewujudkan semangat kaizen dengan melakukan QCC, memang terbukti joss!

* * * * *

Tulisan ini menjadi juara I lomba blog review Toyota Indonesia yang diselenggarakan Kompasiana, dan juga sudah dimuat di Kompasiana, dengan link: http://www.kompasiana.com/gapey-sandy/perubahan-tiada-henti-toyota-indonesia-dengan-qcc_57b903fe87afbd1226600104

Bisa juga klik ini: http://www.kompasiana.com/kompasiana/siapakah-pemenang-blog-review-toyota-indonesia-lihat-di-sini_57eb938e799773a111b0c428